Beberapa waktu lalu saya menulis cerita Dokter Badi tentang meningkatnya kasus kehamilan anak yang ditemuinya dalam praktik sehari-hari.
Kamis (18/6/2026) sore, saya kembali menerima kiriman link video dari akun Instagramnya melalui WhatsApp.
Kali ini ia bercerita tentang seorang remaja perempuan yang datang bersama ibunya ke ruang praktik.
Awalnya Dokter Badi mengira perempuan tua yang datang itu adalah pasiennya. Namun ternyata bukan.
“Anak saya, Dok,” kata ibu tersebut.
Tak lama kemudian masuklah anak perempuannya ke ruang pemeriksaan.
Remaja itu langsung berbaring untuk menjalani USG.
Di balik stagen yang dililit sangat kencang di bagian perutnya, terlihat ukuran perut yang tidak biasa.
Pemeriksaan kemudian dilakukan.
Remaja tersebut ternyata sedang hamil.
Usia kehamilannya sudah 26 minggu atau lebih dari enam bulan.
Saat pemeriksaan berlangsung, sang ibu ikut melihat monitor USG.
Di layar terlihat janin yang bergerak-gerak di dalam kandungan.
Sang ibu tampak syok.
Ia hanya sempat berkata pelan.
“Ya Allah nak, kamu hamil.”
Tidak lama kemudian ia pingsan.
Pemeriksaan pun dihentikan sementara. Sang ibu dibawa ke IGD untuk mendapatkan pertolongan.
Dokter Badi meminta remaja tersebut kembali lagi bersama anggota keluarga lainnya.
Sekitar setengah jam kemudian ia datang bersama ayahnya.
Ayah itu sudah berusia lanjut. Rambutnya memutih. Matanya merah.
Dokter Badi mengaku semula mengira sang ayah akan marah besar setelah mengetahui kondisi anaknya.
Apalagi usia kehamilan sudah lebih dari enam bulan.
Tetapi yang terjadi justru sebaliknya.
Setelah mendengar penjelasan dokter, ayah itu berdiri dan mendekati anaknya.
Tidak ada bentakan.
Tidak ada makian.
Tidak ada amarah.
Ia hanya mengusap punggung anaknya perlahan.
Kemudian memeluknya erat.
Sambil menangis.
“Nak, bapak salah didik apa ke kamu?”
Kalimat itu diucapkannya berulang kali.
Anaknya menangis.
Orang-orang yang berada di ruangan ikut terdiam.
Bahkan Dokter Badi mengaku nyaris tidak mampu menahan air mata.
Seorang ibu yang pingsan karena syok.
Seorang ayah yang tidak sanggup memarahi anaknya.
Dan seorang anak yang mungkin baru menyadari betapa besar luka yang dirasakan kedua orang tuanya.
Di akhir videonya, Dokter Badi tidak hanya berpesan kepada para orang tua.
Ia juga menyampaikan pesan kepada anak-anak yang masih sekolah.
Menurutnya, kehamilan anak bukan hanya berdampak pada anak itu sendiri. Orang tua juga ikut menanggung akibatnya.
“Kalau kamu hamil, kamu bukan hanya merusak masa depanmu sendiri. Kamu juga menyakiti hati orang tuamu,” ujarnya.
Dokter Badi berharap kasus-kasus kehamilan anak yang masih sering ditemuinya bisa terus berkurang.
Karena tidak ada ayah yang ingin menangis seperti ayah dalam cerita tersebut.
Dan tidak ada ibu yang ingin mengetahui anaknya hamil dari layar USG. (*)
Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.




