TENGGARONG – Kemarau mulai memukul sektor pertanian di Kutai Kartanegara (Kukar). Petani jagung di Desa Buana Jaya, Kecamatan Tenggarong Seberang, mengalami penurunan produksi hingga sekitar 45 persen akibat terbatasnya pasokan air untuk tanaman.
Ari, salah seorang petani di Buana Jaya, mengatakan tanaman jagung di lahan seluas dua hektare miliknya terdampak kondisi kering. Dalam kondisi normal, hasil panennya bisa mencapai sekitar 200 karung. Kali ini, produksinya diperkirakan hanya sekitar 110 karung.
“Biasanya bisa panen sekitar 200 karung, sekarang hanya bisa sekitar 110 karung saja,” kata Ari.
Dengan perbandingan tersebut, hasil panen Ari turun sekitar 90 karung atau 45 persen dibandingkan kondisi normal.
Menurutnya, persoalan utama selama kemarau adalah ketersediaan air. Tanaman membutuhkan pasokan air yang cukup hingga memasuki masa panen, sementara sumber air di sekitar lahan semakin terbatas.
Untuk mempertahankan tanaman yang masih bisa diselamatkan, Ari terpaksa mengeluarkan biaya tambahan membeli mesin dompeng. Peralatan tersebut digunakan untuk menyedot air dari sungai kemudian mengalirkannya ke lahan.
“Sudah tidak ada pilihan lagi dan saat ini hanya mengandalkan air yang berada di sungai,” ujarnya.
Biaya tambahan untuk mendapatkan air menjadi beban tersendiri bagi petani. Di satu sisi, mereka harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk menjaga tanaman tetap hidup. Di sisi lain, hasil panen justru menurun.
Dampak kekeringan juga dirasakan Ari di rumah. Dia mengaku pasokan air PDAM dalam beberapa hari terakhir tidak berjalan normal.
Air disebut hanya mengalir pada sore hingga malam dengan debit relatif kecil. Kondisi tersebut membuat kebutuhan air rumah tangga ikut terganggu.
“Untuk beberapa hari ini air PDAM sering mati nyala. Hanya menyala sore sampai malam hari, itu pun airnya mengalir kecil, tidak deras seperti biasanya,” ungkapnya.
Kondisi yang dialami Ari menunjukkan dampak kemarau mulai menyentuh dua kebutuhan sekaligus, yakni sumber penghasilan petani dan pasokan air untuk rumah tangga.
Namun, penurunan produksi sebesar 45 persen tersebut merupakan kondisi pada lahan milik Ari dan belum menggambarkan keseluruhan produksi jagung di Desa Buana Jaya maupun Kecamatan Tenggarong Seberang.
Ari berharap hujan segera turun agar sumber air kembali mencukupi. Jika kondisi kering berlangsung lebih lama, biaya untuk mempertahankan tanaman dikhawatirkan terus meningkat sementara hasil yang diperoleh petani semakin berkurang.
“Kami berharap hujan segera turun,” harapnya. (MK)
Pewarta: Shavira Ramadhanita
Editor: Agus S.




