Akses Murid Usia 15 Tahun Capai 90 Persen, Skor PISA Indonesia Tetap Menguat

JAKARTA – Hasil PISA 2025 mencatat dua perbaikan pada kemampuan murid Indonesia. Skor sains naik enam poin menjadi 389 dan membaca meningkat enam poin menjadi 365 dibandingkan PISA 2022. Kenaikan terjadi ketika akses pendidikan bagi anak usia 15 tahun juga telah meluas hampir dua kali lipat dalam dua dekade.

Skor sains Indonesia sebelumnya berada di angka 383 pada PISA 2022, sementara membaca 359. Adapun skor matematika pada PISA 2025 tercatat 364.

Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) Kemendikdasmen Prof. Dr. Toni Toharudin mengatakan hasil tersebut perlu dibaca bersama perkembangan akses pendidikan, bukan hanya berdasarkan perubahan skor.

“Di tengah tren skor sains, membaca, dan matematika negara-negara OECD yang menurun selama 25 tahun terakhir, performa pendidikan Indonesia relatif stabil, bahkan Indonesia naik di literasi dan sains,” ujar Toni dalam konferensi pers Perilisan dan Tindak Lanjut Hasil PISA 2025 di Gedung Kemendikdasmen, Jakarta, Selasa (8/9/2026).

Salah satu indikator yang menjadi perhatian adalah Coverage Index, yakni proporsi populasi murid usia 15 tahun yang tercakup dalam sistem pendidikan formal dan populasi sasaran PISA.

Baca Juga:  Survei LSI: 66,1 Persen Publik Menolak Pilkada Lewat DPRD, Gen Z Paling Kuat Menentang

Ketika Indonesia mengikuti PISA pada 2003, Coverage Index tercatat 0,46. Pada PISA 2025, angkanya telah mencapai 0,90.

Artinya, cakupan tersebut meningkat 0,44 poin dalam 22 tahun. Secara relatif, nilainya hampir dua kali lipat dibandingkan 2003.

Kemendikdasmen melihat kondisi itu penting karena semakin luas akses pendidikan, semakin beragam pula latar belakang sosial ekonomi, geografis dan kemampuan siswa yang masuk dalam populasi asesmen.

Namun, perluasan tersebut tidak disertai kemerosotan besar capaian Indonesia. Bahkan pada 2025, sains dan membaca menunjukkan kenaikan.

Direktur Pendidikan dan Keterampilan OECD Andreas Schleicher turut menyoroti kemampuan Indonesia memperluas akses pendidikan sambil menjaga capaian pembelajaran relatif stabil.

Di luar skor tiga kompetensi utama, PISA 2025 juga menangkap sejumlah karakteristik siswa Indonesia.

Tingkat curiosity atau rasa ingin tahu murid usia 15 tahun Indonesia tergolong tinggi. Temuan tersebut menjadi modal penting karena rasa ingin tahu berkaitan dengan keinginan mengeksplorasi, bertanya dan mencari pemahaman baru.

PISA juga menemukan siswa Indonesia memiliki performa relatif lebih baik dalam pemecahan masalah komputasional dibandingkan sejumlah mata pelajaran konvensional.

Baca Juga:  Setelah Dua Kali Tertunda, Nadiem Makarim Hadiri Sidang Perdana Perkara Chromebook

Temuan lain berkaitan dengan kecerdasan artifisial atau AI.

Siswa Indonesia disebut relatif lebih sering mendapatkan pembelajaran untuk menilai kredibilitas konten yang dihasilkan AI dibandingkan siswa di banyak negara lainnya.

Kemendikdasmen menilai perkembangan tersebut perlu diarahkan agar teknologi tidak sekadar digunakan untuk mendapatkan jawaban, tetapi membantu siswa meningkatkan kemampuan bernalar dan mengevaluasi informasi.

Hasil PISA 2025 kemudian akan ditindaklanjuti melalui empat pilar strategi.

Pilar pertama adalah penguatan kompetensi guru. Pemerintah mendorong pemenuhan kualifikasi akademik, Pendidikan Profesi Guru (PPG), serta peningkatan kompetensi pedagogik dan digital, termasuk kemampuan terkait koding dan kecerdasan artifisial.

Pilar kedua menyasar kualitas pembelajaran melalui pendekatan pembelajaran mendalam, digitalisasi, penguatan literasi-numerasi serta karakter murid.

Pilar ketiga adalah harmonisasi kerangka Asesmen Nasional (AN) dan Tes Kemampuan Akademik (TKA) dengan kompetensi bernalar yang digunakan dalam PISA.

Sementara pilar keempat menyasar lingkungan di luar sekolah dengan memperkuat keterlibatan keluarga melalui Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7KAIH) dan kemitraan orang tua dalam pembelajaran.

Baca Juga:  Mahkamah Konstitusi Tegaskan Status Ibu Kota Masih di Jakarta

Kemendikdasmen juga menyediakan perangkat pembelajaran dan asesmen yang dapat digunakan guru maupun murid secara mandiri, antara lain Perangkat Ajar Ruang GTK, Ruang Murid serta portal simulasi dan latihan asesmen Pusmendik.

Dengan demikian, kenaikan enam poin pada sains dan membaca tidak menjadi satu-satunya catatan PISA 2025. Perluasan akses dari Coverage Index 0,46 menjadi 0,90 menunjukkan jumlah anak usia 15 tahun yang terjangkau sistem pendidikan telah berkembang signifikan.

Tantangan berikutnya adalah memastikan perluasan akses tersebut diikuti peningkatan kualitas pembelajaran, kemampuan bernalar, literasi-numerasi dan kesiapan siswa menghadapi perubahan teknologi. (MK)

Pewarta/Editor: Nicha R

Disclaimer

Redaksi Radarbontang.com tunduk pada Kode Etik Jurnalistik dan Undang-Undang Pers No. 40 Tahun 1999. Setiap berita yang dipublikasikan adalah hasil kerja jurnalistik. Hak jawab dan hak koreksi dapat diajukan melalui email: redaksi@radarbontang.com.