TENGGARONG – Penerapan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) akibat kabut asap karhutla ikut berdampak pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMP Negeri 3 Tenggarong. Distribusi makanan untuk 979 siswa dihentikan sementara hingga 8 September 2026 untuk mencegah makanan terbuang karena siswa belajar dari rumah.
Keputusan tersebut diambil berdasarkan pengalaman sekolah saat kegiatan belajar mengajar diliburkan selama Ramadan. Ketika itu, distribusi MBG tetap berjalan dan siswa diperbolehkan datang ke sekolah untuk mengambil makanan.
Namun, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMP Negeri 3 Tenggarong Inawati mengatakan hanya sekitar 20–25 persen siswa yang datang mengambil jatah makanan.
“Dari pengalaman sebelumnya, mungkin hanya sekitar 20 sampai 25 persen siswa yang datang mengambil,” kata Inawati.
Dengan jumlah siswa mencapai 979 orang, rendahnya tingkat pengambilan membuat banyak porsi makanan yang sudah disiapkan tidak tersalurkan kepada penerima.
Menurut Inawati, persoalan utamanya adalah pola distribusi. Ketika kegiatan belajar dilakukan dari rumah, siswa cenderung enggan kembali ke sekolah hanya untuk mengambil MBG.
“Anak-anak kami biasanya kalau sudah berada di rumah, kemudian harus datang ke sekolah untuk mengambil MBG, mereka cenderung malas,” ujarnya.
Sekolah sebelumnya sempat menyiasati kondisi tersebut dengan meminta siswa yang datang mengambil porsi lebih banyak agar makanan tidak terbuang. Namun, cara itu dinilai tidak ideal apabila pembelajaran dari rumah berlangsung beberapa hari.
Berdasarkan pengalaman tersebut, pihak sekolah mengajukan permohonan kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) agar distribusi MBG dihentikan sementara selama PJJ.
Koordinator MBG SMP Negeri 3 Tenggarong Suprihatin mengatakan penghentian tersebut hanya berlaku untuk sekolah tersebut. Distribusi MBG ke sekolah lain tetap berjalan.
“Kalau dari pihak MBG, distribusi masih tetap dilakukan di tempat-tempat lain. Namun, khusus untuk SMP Negeri 3 Tenggarong, distribusinya diliburkan,” kata Suprihatin.
Penghentian sementara telah mendapat persetujuan hingga 8 September 2026, menyesuaikan periode PJJ yang diberlakukan di Kutai Kartanegara.
Jika PJJ diperpanjang, sekolah akan kembali berkoordinasi dengan SPPG untuk menentukan pola distribusi berikutnya.
“Nanti kepala sekolah dan pihak sekolah akan melakukan kesepakatan lagi. Yang pasti, sampai tanggal 8 sudah mendapat persetujuan,” tutur Suprihatin.
PJJ di Kukar diberlakukan pada 3–8 September 2026 sebagai langkah antisipasi terhadap kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan yang berdampak pada kualitas udara di sejumlah wilayah.
Pada hari pertama PJJ, Kamis (3/9/2026), lingkungan SMP Negeri 3 Tenggarong tampak sepi dari aktivitas siswa. Seluruh pelajar mengikuti pembelajaran dari rumah, sedangkan guru tetap datang dan mengajar secara daring dari sekolah.
“PJJ itu sebenarnya muridnya aja. Gurunya itu semua di sekolah. Karena ada Zoom, ada yang Google Meet, ada yang di sini, ada yang ke kelas,” ujar Inawati.
Guru menggunakan ruang kelas masing-masing untuk mengajar. Mereka tidak ditempatkan bersama-sama di aula agar suara dari sejumlah kegiatan pembelajaran daring tidak saling mengganggu.
“Kalau numpuk di sini, di aula terlalu bising. Jadi ke kelas-kelas teman-teman, itu seperti itu,” katanya.
Dari sisi perangkat, sekolah telah menyiapkan Chromebook untuk mendukung pembelajaran. Ruang kelas juga dilengkapi papan tulis digital, router dan jaringan WiFi.
SMP Negeri 3 Tenggarong berstatus Kandidat Sekolah Rujukan Google (KSRG) karena telah menerapkan ekosistem Google for Education. Sistem pembelajaran digital yang telah dibangun sebelumnya membuat sekolah tidak membutuhkan banyak penyesuaian saat kembali menerapkan PJJ.
Pada hari pertama, gangguan sempat terjadi ketika listrik padam. Namun, kondisi tersebut berlangsung singkat dan proses pembelajaran dapat dilanjutkan.
Meski pembelajaran daring berjalan, Inawati mengakui pembelajaran tatap muka tetap lebih efektif untuk membangun interaksi langsung antara guru dan siswa.
“Lebih enak di sekolah sebenarnya. Kita tidak begitu repot langsung ke kelas, bertatap muka langsung dengan anak, berinteraksi,” ungkapnya.
Selama PJJ, sekolah tetap melakukan pemantauan. Guru diminta mendokumentasikan kegiatan pembelajaran dan melaporkannya melalui grup komunikasi sekolah. Guru yang belum terbiasa menggunakan perangkat pembelajaran daring juga didampingi rekan yang lebih menguasai teknologi.
“Yang kurang teknologi biasanya dibantu teman-teman kami yang muda-muda itu. Kan ada juga angkatan tua,” jelas Inawati.
Untuk sementara, PJJ dan penghentian distribusi MBG di SMP Negeri 3 Tenggarong berlaku hingga 8 September. Kebijakan berikutnya akan menyesuaikan perkembangan kabut asap dan keputusan mengenai kelanjutan pembelajaran jarak jauh. (MK)
Pewarta: Ady Wahyudi
Editor: Agus S.




