BONTANG – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bontang mengambil sampel di sejumlah titik di kawasan Pulau Beras Basah, untuk menindaklanjuti dugaan pencemaran minyak yang terlihat di pesisir dan perairan sekitar pulau tersebut.
Sampel tersebut kini sedang diteliti di laboratorium, untuk memastikan jenis material yang ditemukan. Hingga Senin (12/10/2026), hasil pengujian belum keluar, sehingga sumber pencemaran belum dapat dipastikan.
Kepala DLH Bontang, Heru Triatmojo, mengatakan pihaknya telah menurunkan tim untuk melakukan pengambilan sampel.
“Memang ada beberapa di posisi pelabuhannya itu ada sedikit air campur minyak, kelihatan warnanya. Di sekitar mercusuarnya, di blok betonnya, ada bekas oli yang kelihatannya agak pekat,” ujarnya.
Pengambilan sampel dilakukan di sejumlah titik dengan radius sekitar 300 meter. DLH juga telah berkoordinasi dengan masyarakat setempat dan KSOP, untuk menghimpun informasi terkait temuan tersebut.
Berdasarkan informasi yang diterima, terdapat sejumlah kapal tanker yang melintas di perairan sekitar lokasi dalam beberapa hari terakhir. Namun, ia menegaskan informasi itu belum cukup untuk menyimpulkan asal material yang ditemukan.
“Kita kan praduga tak bersalah. Kita enggak tahu, ini masih diduga,” katanya.
Persoalan pencemaran di laut juga telah dikoordinasikan dengan pemerintah provinsi, karena kewenangan pengelolaan wilayah laut berada di tingkat provinsi. Dalam hal ini, DLH Bontang melakukan pengambilan sampel dan membantu penelusuran awal di lapangan.
Sementara itu, Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni mengatakan pemerintah telah mengambil langkah awal melalui pemeriksaan sampel oleh DLH. Ia menyebut hasil laboratorium diperkirakan keluar dalam beberapa hari, meski kepastian waktunya masih menunggu proses pengujian.
“Sudah ada yang dilakukan juga di laboratorium oleh DLH. Mungkin hasilnya beberapa hari lagi,” ujarnya.
Neni mengakui, pemerintah belum dapat memastikan jenis maupun sumber material yang mencemari kawasan tersebut. Karena itu, langkah mitigasi untuk mencegah penyebaran material minyak juga perlu mempertimbangkan kondisi di lapangan.
Menurutnya, pemasangan pembatas untuk menahan penyebaran minyak membutuhkan titik dan batas yang jelas. Sementara, sumber serta karakteristik material yang ditemukan di Beras Basah masih dalam proses pemeriksaan.
Meski pengelolaan kawasan wisata Beras Basah telah diserahkan kepada Pemerintah Kota Bontang, Neni menjelaskan bahwa apabila persoalan tersebut berkaitan dengan sumber daya alam di wilayah laut, penanganannya menyangkut kewenangan pemerintah provinsi.
Pewarta: Syakurah
Editor: Yusva Alam




