BONTANG – Dua kasus keracunan dalam pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Bontang menjadi bahan evaluasi DPRD. Salah satu usulan yang muncul yakni membatasi jumlah penerima manfaat, dalam setiap dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Ketua DPRD Bontang, Andi Faizal Sofyan Hasdam mengatakan kapasitas dapur perlu diperhitungkan dalam pelaksanaan MBG. Menurutnya, jumlah penerima yang terlalu besar dapat membuat proses penyediaan makanan menjadi padat dan berpengaruh terhadap pengawasan.
“Kadang mungkin satu dapur itu baru bisa maksimal ketika melayani paling banyak 500 orang. Nah, ketika satu dapur sampai 1.000 orang, 2.000 orang, pastilah dia menjadi crowded,” ujarnya.
Ia mengusulkan jumlah penerima manfaat dalam satu dapur berada di kisaran 300 hingga 500 orang. Dengan pola tersebut, jumlah dapur dapat ditambah sehingga beban pelayanan di masing-masing SPPG tidak terlalu besar.
“Pendapat saya mungkin setiap dapur diperbanyak, tetapi jumlah penerima manfaatnya setiap dapur diperkecil. Jadi 300 satu dapur, sehingga pengawasan lebih tepat,” katanya.
Meski demikian, pembagian kuota penerima manfaat dan jumlah dapur bukan kewenangan pemerintah daerah. Pengaturan tersebut berada di bawah Badan Gizi Nasional (BGN).
DPRD juga menilai pengawasan tidak cukup hanya dilakukan oleh pengelola SPPG. Sekolah sebagai penerima makanan juga diminta melakukan pemeriksaan sebelum makanan dibagikan kepada siswa.
Apabila ditemukan kemasan atau kondisi makanan yang dianggap tidak layak, pihak sekolah dinilai dapat menghentikan distribusi dan melaporkannya untuk ditindaklanjuti.
“Kalau packaging-nya dianggap kurang tepat atau kurang baik, mungkin langsung diprotes sehingga bisa diantisipasi, deteksi dini. Kalau makanan sepertinya kurang layak, silakan protes, jangan didistribusikan,” jelasnya.
Menurutnya, proses penyediaan makanan berlangsung melalui beberapa tahapan, mulai dari persiapan bahan, pencucian, pengolahan hingga distribusi. Karena itu, pengawasan perlu dilakukan pada setiap tahapan dan tidak hanya setelah makanan sampai di sekolah.
Pewarta: Syakurah
Editor: Yusva Alam




