Hanya 1 dari 6 Siswa Indonesia Capai Kompetensi Minimum Matematika PISA

JAKARTA – Hanya 16,93 persen siswa Indonesia yang mencapai kompetensi minimum literasi matematika dalam PISA 2025. Artinya, sekitar 83,07 persen belum mencapai level minimum yang menjadi acuan asesmen internasional tersebut.

Namun, persoalan yang ditemukan bukan sekadar ketidakmampuan melakukan perhitungan. Kemendikdasmen melihat siswa Indonesia relatif mampu menyelesaikan soal ketika persamaan atau formula matematika sudah tersedia, tetapi menghadapi kesulitan ketika harus menerjemahkan persoalan kehidupan sehari-hari menjadi model matematika.

Data hasil PISA 2025 yang dipaparkan Kemendikdasmen dalam konferensi pers Perilisan dan Tindak Lanjut Hasil PISA 2025. (Nicha/Media Kaltim)

Kepala Pusat Asesmen Pendidikan (Pusmendik) Kemendikdasmen Dr. Rahmawati, S.T., M.Ed. mengatakan kompetensi minimum PISA menuntut kemampuan yang lebih luas daripada sekadar menguasai operasi hitung.

Siswa harus mampu membaca informasi dalam bentuk teks, tabel maupun grafik, memilah informasi yang relevan, memahami persoalan, kemudian menerjemahkannya menjadi representasi matematika sebelum mencari solusi.

“Pemecahan masalah sehari-hari itu ada informasi, baik dalam bentuk teks, grafik, maupun tabel. Informasinya bisa jadi ada yang relevan, ada yang tidak relevan. Kemudian kita diminta untuk memecahkan solusi. Tapi sebelum memecahkan solusi, kita harus bisa menerjemahkan apa formula matematika dari masalah tersebut,” jelas Rahmawati dalam konferensi pers Perilisan dan Tindak Lanjut Hasil PISA 2025 di Gedung Kemendikdasmen, Jakarta, Selasa (8/9/2026).

Baca Juga:  SP PLN Peringatkan Dampak Kebijakan Listrik, Bisa Bebani Rakyat

Salah satu contoh terlihat dari soal PISA yang menggunakan grafik penjualan.

Grafik tersebut menampilkan banyak titik data sekaligus garis linear atau best fitting line yang menggambarkan kecenderungan data. Siswa tidak cukup hanya membaca angka yang terlihat.

Mereka harus memahami posisi tahun, menemukan pola, memilah informasi yang diperlukan dan menerjemahkan hubungan tersebut ke dalam model matematika.

Di titik inilah kelemahan siswa Indonesia terlihat.

“Kita sangat unggul kalau sudah diketahui persamaan matematikanya, tinggal menghitung, tinggal mencari jawabannya. Tapi kalau ditanyakan seperti ini, diperlukan kemampuan yang lain, bukan sekadar mengomputasi,” kata Rahmawati.

Menurutnya, kemampuan yang perlu diperkuat adalah membahasakan persoalan kehidupan nyata ke dalam formula atau representasi matematika.

Temuan tersebut membuat tantangan pembelajaran matematika bergeser. Persoalannya tidak cukup dijawab dengan menambah latihan berhitung atau menghafalkan lebih banyak rumus.

Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) Kemendikdasmen Prof. Dr. Toni Toharudin mengatakan pembelajaran perlu lebih diarahkan pada pemahaman konsep, penerapan dan pemecahan masalah.

Baca Juga:  Pemerintah Siapkan Skema APBN untuk Jaga Keberlanjutan Proyek Kereta Cepat Whoosh

“Pembelajaran ini tentunya akan lebih diarahkan kepada pemahaman konsep, kemudian penerapan di dalam kehidupan yang nyata dan juga pemecahan masalah. Bukan sekadar menghafal rumus,” ujar Toni.

Penguatan kompetensi guru menjadi salah satu kunci. Guru diharapkan mampu membawa persoalan matematika lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga siswa terbiasa memahami konteks, membangun model dan menentukan strategi penyelesaian.

Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) juga akan dimanfaatkan sebagai instrumen diagnostik. Data tersebut dapat digunakan untuk memetakan kemampuan siswa sekaligus mengidentifikasi sekolah yang membutuhkan intervensi maupun pendampingan.

Kemendikdasmen menyiapkan dukungan melalui buku pembelajaran, peningkatan kompetensi guru, asesmen serta pendampingan sekolah.

Kurikulum nasional sebenarnya telah menyediakan ruang untuk penguatan literasi, numerasi dan kemampuan bernalar melalui pendekatan pembelajaran mendalam. Tantangannya adalah memastikan pendekatan tersebut benar-benar berjalan di ruang kelas.

Di tengah persoalan rendahnya kemampuan bernalar, penggunaan kecerdasan artifisial atau AI oleh siswa juga mendapat perhatian.

Kemendikdasmen tidak melihat AI sebagai teknologi yang harus dihindari. Namun, teknologi tersebut tidak boleh menjadi jalan pintas yang membuat siswa melewati proses berpikir dan langsung memperoleh jawaban.

Baca Juga:  Soal Dana Kurang Salur, Menkeu: Dalam Waktu Dekat Akan Kami Bahas

“AI ini harus sejalan dengan penguatan literasi, numerasi dan juga bernalar. Jadi bukan AI ini untuk melemahkan, tetapi memperkuat,” tegas Toni.

Pembelajaran coding dan kecerdasan artifisial yang mulai diperkenalkan dalam kurikulum juga diarahkan untuk membentuk siswa sebagai pengguna teknologi yang kritis, kreatif dan bertanggung jawab.

Hasil PISA 2025 dengan demikian memberikan alarm yang lebih spesifik. Tantangan matematika Indonesia bukan hanya meningkatkan kemampuan menghitung, tetapi membangun kemampuan memahami informasi, memilah data, memformulasikan masalah dan menggunakan matematika untuk mencari solusi terhadap persoalan nyata.

Dengan baru 16,93 persen siswa mencapai kompetensi minimum, perubahan pembelajaran dari hafalan rumus menuju pemahaman dan penalaran menjadi pekerjaan besar berikutnya. (MK)

Pewarta/Editor: Nicha R

Disclaimer

Redaksi Radarbontang.com tunduk pada Kode Etik Jurnalistik dan Undang-Undang Pers No. 40 Tahun 1999. Setiap berita yang dipublikasikan adalah hasil kerja jurnalistik. Hak jawab dan hak koreksi dapat diajukan melalui email: redaksi@radarbontang.com.