Hasil Uji Lab Menu MBG SMP Vidatra Ditemukan Bakteri, Dinkes Masih Terus Cari Penyebabnya

BONTANG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bontang masih menelusuri sumber kontaminasi pada makanan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikonsumsi Murid dan Guru SMP YPVDP.

Penelusuran dilakukan setelah hasil pemeriksaan laboratorium menemukan bakteri Escherichia coli (E. coli) pada menu ayam suwir kemangi yang diproduksi SPPG Bontang Selatan 5.

Sampel tersebut merupakan makanan yang dibagikan kepada penerima manfaat pada Senin (10/8/2026). Selain ayam suwir kemangi, Dinkes juga memeriksa tiga menu lain, yakni nasi uduk, tahu goreng dan tumis wortel.

Dari empat sampel itu, hanya ayam suwir kemangi yang menunjukkan adanya bakteri patogen.

Kepala Dinkes Bontang, Toetoek Pribadi Ekowati, mengatakan hasil tersebut belum cukup untuk memastikan bahwa E. coli menjadi penyebab keluhan kesehatan yang dialami siswa.

Keberadaan E. coli perlu dilihat lebih lanjut, karena bakteri tersebut memiliki berbagai jenis. Sebagian dapat ditemukan secara normal pada saluran pencernaan manusia dan hewan, sementara jenis tertentu dapat memicu gangguan kesehatan.

Karena itu, pemeriksaan tidak berhenti pada sampel makanan. Dinkes akan melihat kembali tahapan pengolahan makanan di dapur SPPG.

Baca Juga:  Sempat Dilaporkan Hilang, Nelayan Berbas Pantai Kembali Sendirian

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Bontang, Sudirman, mengatakan terdapat sejumlah tahapan kini menjadi perhatian, termasuk proses pendinginan dan pemorsian.

Dalam pemeriksaan lapangan, petugas mendapati kedua proses tersebut dilakukan di ruangan yang sama.

“Kemungkinan ada saat proses memasak menggunakan kemangi mentah. Penggunaan air untuk mencuci sayuran juga akan kami pantau,” jelasnya

Selain itu, Dinkes akan berkoordinasi dengan DKP3 Bontang untuk mengevaluasi bahan pangan yang digunakan, termasuk ayam beku sebagai bahan baku.

“Kalau kami kan meninjau medisnya. Tapi terkait bahan pangan, itu tupoksi Dinas Ketahanan Pangan, yang harus mengevaluasi penggunaan ayam frozen,” tambah Toetoek.

Rangkaian distribusi makanan juga menjadi perhatian. Dinkes menilai jeda waktu yang panjang antara makanan selesai dimasak dan diterima siswa, dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keamanan pangan.

“Proses memasak sampai ke penerima manfaat membutuhkan waktu yang lama. Bahkan bisa sampai 10 jam. Ini juga mungkin menjadi faktor utamanya,” katanya.

Meski demikian, Dinkes belum menarik kesimpulan mengenai hubungan langsung antara temuan E. coli dan keluhan kesehatan penerima MBG.

Baca Juga:  Percantik Kota, Neni Gelar Pengecatan Median Jalan di Tugu Selamat Datang

Makanan yang terkontaminasi tidak selalu menimbulkan gejala yang sama pada setiap orang. Kondisi tubuh dan daya tahan masing-masing individu, turut memengaruhi respons terhadap paparan bakteri.

Saat ini, penelusuran diarahkan untuk mengetahui pada tahapan mana kontaminasi kemungkinan terjadi, mulai dari bahan baku, pencucian, proses memasak, pendinginan, pemorsian hingga distribusi makanan.

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Disclaimer

Redaksi Radarbontang.com tunduk pada Kode Etik Jurnalistik dan Undang-Undang Pers No. 40 Tahun 1999. Setiap berita yang dipublikasikan adalah hasil kerja jurnalistik. Hak jawab dan hak koreksi dapat diajukan melalui email: redaksi@radarbontang.com.