Hilirisasi Perikanan Berau Siap Dorong Pendapatan Nelayan

BERAU – Pemerintah Kabupaten Berau mulai mendorong hilirisasi sektor perikanan melalui pengembangan industri pengolahan hasil laut. Salah satu program yang disiapkan adalah pembangunan industri ikan kaleng premium yang diproyeksikan mampu meningkatkan nilai ekonomi komoditas perikanan hingga 262 persen.

Program bertajuk Hilir Berau tersebut diinisiasi Dinas Perikanan (Diskan) Berau sebagai upaya meningkatkan nilai tambah hasil tangkapan nelayan yang selama ini masih didominasi penjualan ikan segar.

Kepala Dinas Perikanan Berau, Abdul Majid, mengatakan Berau memiliki potensi perikanan yang sangat besar. Namun, sebagian besar hasil tangkapan masih dipasarkan tanpa proses pengolahan sehingga nilai ekonominya belum optimal.

“Selama ini produk kita lebih banyak dijual dalam bentuk ikan segar. Melalui hilirisasi, kami ingin menghasilkan produk olahan yang memiliki nilai tambah lebih tinggi. Hilirisasi bukan lagi pilihan, tetapi sebuah keharusan,” ujarnya.

Data Diskan Berau menunjukkan potensi produksi perikanan daerah mencapai sekitar 104.915 ton per tahun. Namun kapasitas industri pengolahan saat ini baru sekitar 3.779 ton per tahun atau hanya 3,6 persen dari total potensi yang tersedia.

Baca Juga:  TGM Kaltara Merosot, DPK Dorong Perda Literasi

Menurut Abdul Majid, kondisi tersebut menjadi peluang besar bagi pengembangan industri pengolahan hasil perikanan di Berau.

Industri ikan kaleng premium dipilih karena memiliki prospek pasar yang luas, mampu memperpanjang masa simpan produk, sekaligus meningkatkan daya saing hasil perikanan Berau di pasar regional maupun nasional.

Berdasarkan kajian proyek perubahan yang disusun Diskan Berau, hilirisasi diperkirakan mampu meningkatkan nilai ekonomi hasil perikanan hingga 3,62 kali lipat atau sekitar 262 persen dibandingkan apabila ikan hanya dipasarkan dalam kondisi segar.

Program tersebut juga diproyeksikan meningkatkan kesejahteraan pelaku usaha pengolahan ikan. Saat ini rata-rata pendapatan pelaku UMKM pengolahan hasil perikanan berada di kisaran Rp8 juta per bulan. Setelah industri pengalengan berjalan optimal, pendapatan tersebut ditargetkan meningkat hingga sekitar Rp29 juta per bulan.

Selain meningkatkan pendapatan masyarakat, Program Hilir Berau diharapkan mampu menarik investasi baru di sektor industri pengolahan hasil laut, memperluas lapangan kerja, serta memperkuat rantai ekonomi mulai dari nelayan, pelaku UMKM, sektor logistik hingga perdagangan.

Baca Juga:  Pencarian Sehari, Warga Temukan Marselinus Meninggal Dunia

Program ini juga sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat dalam mendorong ekonomi biru (Blue Economy) melalui pengembangan industri berbasis sumber daya lokal yang berkelanjutan.

“Harapan kami, industri ini tidak hanya meningkatkan kesejahteraan nelayan dan pelaku UMKM, tetapi juga memperkuat daya saing produk perikanan Berau di pasar regional maupun nasional,” tutup Abdul Majid.

Reporter: Aril Syahrulsyah
Editor: Agus S.

Disclaimer

Redaksi Radarbontang.com tunduk pada Kode Etik Jurnalistik dan Undang-Undang Pers No. 40 Tahun 1999. Setiap berita yang dipublikasikan adalah hasil kerja jurnalistik. Hak jawab dan hak koreksi dapat diajukan melalui email: redaksi@radarbontang.com.