Catatan: SB Silaban
“Berbaik sangka” sajalah. Mungkin arwah-arwah juga perlu belanja. Tak hanya yang hidup.
Itulah pikiran iseng yang muncul di benak saya ketika membaca berita tentang posisi Kopdes Merah Putih (MP) di sebuah gang di Jalan AW Sjahranie, Samarinda, yang terletak dekat area pemakaman.
Saya tahu posisi “rumah-rumah masa depan” itu. Di sana ada beberapa klaster dengan pengelola yang berbeda. Gang itu bisa dibilang buntu. Bukan gang yang rutin dilintasi oleh mereka yang tak berdiam atau berkegiatan di sekitarnya. Beda sekali misalnya dengan AWS 4, gang berukuran agak lebar yang menghubungkan Jalan AW Sjahranie dengan Jalan HM Ardans (Ring Road 3). Hampir pasti, trafik manusia ke arah Kopdes MP itu sangat minim.
Ketika Kopdes MP berlokasi di dekat kuburan, amat sangat wajar jika banyak yang heran. Kok di situ? Apa tak ada lokasi lain? Siapa yang akan belanja? Hantu? Arwah?
Nah, posisi Kopdes di lokasi amat sangat tak lazim itu bukan yang pertama. Publik sudah melihat informasi tentang sejumlah Kopdes yang lokasinya aneh, ganjil, janggal. Tapi nyata. Di berbagai kota di Indonesia. Ini: berhadapan dengan makam, tepi jurang, tepi sawah, bukit. Bahkan ada dua Kopdes bersebelahan.
Ada penjelasan kenapa Kopdes di Samarinda itu dekat makam. Datangnya dari seorang pejabat Pemprov. Tapi penjelasannya khas birokrat. Lebih terkesan sebagai alasan. Ngeles. Ini: lokasi itu sudah diverifikasi oleh Agrinas dan TNI. Anda tahu kan, Agrinas itu semacam holding company bikinan pemerintah. Urusan dan wewenangnya segerobak.
Lalu TNI? Anda jangan pura-pura tak tahulah. Tentara Indonesia sekarang tak hanya mengurusi pertahanan. Tapi juga pertanian, peternakan, jaga pengadilan, jaga (mantan) Jampidsus, de el el. Ngurus Kopdes juga. Pendirian Kopdes makan banyak duit. Ber-T-T.
Saya termasuk yang amat sangat pesimistis sekali Kopdes MP akan berhasil. Ini alasannya: koperasi mestinya dibentuk atas kesepakatan sejumlah orang yang kehidupan ekonominya dipengaruhi oleh kehadiran koperasi yang akan dibentuk. Misalnya koperasi peternak sapi/susu, koperasi yang menghimpun petani sawah, koperasi karyawan.
Di era (mantan) mertuanya Pak Subianto, yang paling populer adalah koperasi unit desa (KUD). Apa saja kegiatan dan bidang usahanya? Browsing sajalah ya.
Nah, Kopdes MP dibentuk murni atas keinginan satu orang: Presiden Subianto. Entahlah dapat ide dari mana dia. Bikin ribuan koperasi secara top-down. Atas perintah. Menghabiskan rupiah hingga 14 digit. Melibatkan tentara pula. Hal yang pasti akan bikin kening tentara Singapura, Jerman, China, dan tentara profesional di berbagai negara berkerut.
Melihat Kopdes di sejumlah daerah, tak heran jika banyak komentar begini: oh, ternyata minimarket. Betul sekali. Bahwa Presiden Subianto dan ordal-ordal-nya berencana Kopdes akan jadi penyalur ini itu, itu soal lain. Yang pasti: tak satu pun Kopdes dibangun atas kesepakatan sejumlah orang yang akan menjadi anggotanya. Sebagaimana seharusnya.
Ketika ada penjelasan bahwa lokasi Kopdes yang amat janggal itu sudah diverifikasi, nah, ingat ya. VERIFIKASI. Bukan survei pasar. Survei yang seharusnya amat sangat penting. Karena Kopdes adalah entitas bisnis. Untuk bisnis ritel seperti Kopdes, tiga faktor terpenting adalah: lokasi, lokasi, dan lokasi. Begitu pentingnya faktor lokasi, terkait dengan potensi pasar yang akan digarap. Saya pernah dapat “ilmu” itu dari HM Rusli alm., pendiri Mesra Indah, mal pertama di Samarinda.
Di berbagai daerah, muncul keluhan pemerintah desa dan kelurahan. Anggaran pembangunan fisik Kopdes yang mereka terima hanya Rp800 juta. Sedangkan pemerintah pusat mengucurkan Rp1,6 miliar.
Ke mana sisanya? Dimakan siapa? Ah, Anda jangan pura-pura tak bisa menebak.
Ketika Kopdes dibangun dekat kuburan dan lokasi-lokasi lain yang terasa merusak nalar dan akal sehat, kita pun tahu. Ini bukan soal koperasi. Bukan soal kepentingan masyarakat. Ini lebih sebagai proyek. Yang penting duit negara keluar. Terpakai. Soal manfaat: urusan nomor sekian. Bodo amat tak ada konsumennya.
Di pusaranya, salah satu pendiri bangsa yang juga Bapak Koperasi Indonesia, HM Hatta, bisa jadi menitikkan air mata melihat proses pendirian Kopdes MP. Juga lokasi sebagian di antaranya yang terasa nirnalar itu. (*)




