Beranda blog Halaman 271

Renovasi Rumah Jabatan Gubernur Picu Kritik, Transparansi Diminta

0
Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud. (Foto: Hanafi)

SAMARINDA – Rencana renovasi rumah jabatan serta ruang kerja Gubernur dan Wakil Gubernur Kalimantan Timur dengan anggaran mencapai Rp25 miliar terus menuai sorotan. Di tengah kondisi ekonomi dan beragam kebutuhan masyarakat, tuntutan transparansi dan efisiensi dalam penggunaan anggaran daerah semakin menguat.

Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud, menegaskan bahwa kebijakan renovasi tersebut dilandasi kebutuhan nyata. Ia menyebut rumah jabatan gubernur sudah puluhan tahun tidak ditempati, sehingga banyak bagian bangunan mengalami penurunan fungsi dan memerlukan perbaikan menyeluruh.

“Rumah jabatan ini puluhan tahun tidak ditempati. Tentu banyak hal yang harus dibenahi, baik dari sisi bangunan maupun fasilitas pendukungnya,” ujarnya.

Rudy juga memastikan bahwa proses penganggaran telah melalui tahapan sesuai aturan yang berlaku, mulai dari pembahasan internal hingga persetujuan lintas lembaga.

“Yang jelas semuanya prosesnya sesuai dengan SOP, sesuai prosedur. Itu dianggarkan, dibahas bersama tim TAPD, kemudian dengan DPRD, dan juga disetujui oleh Kementerian Dalam Negeri,” jelasnya.

Ia menekankan bahwa prinsip transparansi dan akuntabilitas menjadi landasan utama dalam proyek tersebut.

“Intinya semuanya transparan, akuntabel, dan bisa dipertanggungjawabkan,” tambahnya.

Meski demikian, sorotan publik tidak hanya berhenti pada aspek legalitas. Sejumlah pengamat dan elemen masyarakat menilai pemerintah daerah perlu membuka rincian anggaran secara lebih detail, termasuk spesifikasi pekerjaan, tahapan pelaksanaan, hingga dasar perhitungan biaya.

Selain itu, efisiensi menjadi perhatian utama. Publik berharap penggunaan anggaran tetap mempertimbangkan prioritas kebutuhan masyarakat, seperti sektor pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur dasar.

Terkait besaran anggaran, Rudy menyebut aspek teknis akan dijelaskan lebih lanjut oleh tim terkait.

“Nanti teknisnya bisa ditanyakan ke tim TAPD,” singkatnya. (MK)

Penulis: Hanafi
Editor: Agus S

Nusantara Park Jadi Magnet Libur Paskah di IKN

0
Kawasan IKN menawarkan sudut jujugan baru kunjungan KIPP. (Dok. Otorita)

NUSANTARA — Libur Paskah 2026 memberikan kesan tersendiri bagi para pengunjung Ibu Kota Nusantara (IKN). Kawasan ini tak hanya ramai dikunjungi, tetapi juga menghadirkan berbagai aktivitas yang memperkaya pengalaman masyarakat.

Salah satu pusat keramaian berada di Nusantara Park yang dikelola oleh Artha Graha Group. Beragam kegiatan digelar, mulai dari kuliner, lomba mewarnai telur untuk anak-anak, hingga kegiatan berburu telur di plaza seremoni.

Pengelola Nusantara Park, Agnes, menyebut antusiasme masyarakat terus meningkat sejak rangkaian libur panjang sebelumnya.

“Dari kemarin Imlek, Lebaran, sampai sekarang Paskah, antusias masyarakat semakin banyak. Setiap akhir pekan juga makin ramai,” ujarnya, Senin (6/4/2026).

Staf Khusus Kepala Otorita IKN Bidang Komunikasi Publik sekaligus juru bicara, Troy Pantouw, menyampaikan apresiasi kepada panitia dan masyarakat yang menjaga ketertiban selama kegiatan berlangsung.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh panitia yang telah bekerja dengan baik serta kepada masyarakat yang telah berkunjung dengan tertib. Momentum Paskah ini membawa semangat kebaruan dan harapan, yang sejalan dengan pembangunan IKN sebagai kota masa depan yang hijau, inklusif, dan berkelanjutan,” ujarnya.

Data kunjungan menunjukkan, selama 3–5 April 2026 terdapat sekitar 59.676 orang yang datang ke kawasan IKN dengan total 14.382 kendaraan, baik roda dua, roda empat, maupun bus.

Kegiatan yang digelar turut memberikan pengalaman berbeda bagi pengunjung. Lusia, salah satu orang tua peserta lomba, mengaku senang anaknya bisa ikut berpartisipasi sekaligus meraih juara.

“Kami tidak menyangka anak kami bisa juara dan ikut memeriahkan Paskah di Nusantara Park ini,” katanya.

Sementara itu, Yanti, warga Kalimantan Selatan yang baru pertama kali berkunjung ke IKN, mengaku terkesan dengan suasana yang dihadirkan.

“Rupanya kalau libur banyak sekali event dan acara di IKN ini. Bukan hanya lihat pemandangan, jadi lebih seru,” ungkapnya.

Tingginya kunjungan dan aktivitas selama libur Paskah ini menunjukkan bahwa IKN mulai berkembang tidak hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi juga sebagai ruang publik yang menggabungkan unsur ekologis, edukatif, dan rekreatif bagi masyarakat. (MK)

Pewarta: Atmaja Riski
Editor: Agus S

Konsep SR Itu Sekolah Unggulan untuk Warga Miskin

0
Peninjauan lahan untuk sekolah rakyat di Kutim. (Ramlah/Radar Bontang)

SANGATTA – Isu rencana pembangunan sekolah rakyat di Kutai Timur (Kutim) menuai beragam komentar di masyarakat. Sebagian bahkan menyamakan program ini dengan konsep pendidikan lama yang dinilai sudah ketinggalan zaman.

Menanggapi hal itu, pemerintah menegaskan bahwa sekolah rakyat yang dimaksud saat ini memiliki konsep berbeda. Bukan sekadar sekolah biasa, melainkan sekolah unggulan yang diperuntukkan khusus bagi masyarakat kurang mampu.

“Banyak yang bilang, masak kembali ke zaman dulu? Ini beda. Namanya memang sekolah rakyat, tapi konsepnya sekolah unggulan,” tegas Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi.

Sekolah ini dirancang sebagai sekolah berasrama (boarding school) yang menyasar masyarakat marginal, khususnya dari wilayah pedesaan. Para siswa nantinya akan tinggal dan belajar di lingkungan yang terintegrasi.

Program ini juga secara khusus menyasar kelompok masyarakat miskin berdasarkan data desil, yakni desil 1, 2, dan 3, yang merupakan kategori masyarakat dengan tingkat kesejahteraan paling rendah.

Terkait jadwal pembangunan, pemerintah daerah masih menunggu kepastian berupa surat keputusan (SK) dari pemerintah pusat. Jika telah disetujui, proses pematangan lahan akan segera dilakukan.

“Kalau SK dari pusat sudah keluar, kita langsung lakukan pematangan lahan. Harapannya 2027 sudah bisa dibangun,” ujarnya.

Untuk pengelolaan, termasuk tenaga pengajar dan sistem asrama, sepenuhnya akan ditangani oleh pemerintah pusat. Sementara pemerintah daerah berperan dalam penyediaan lahan serta penyiapan penerima manfaat melalui kolaborasi Dinas Pendidikan dan Dinas Sosial.

Dengan konsep tersebut, sekolah rakyat diharapkan menjadi solusi konkret dalam memutus rantai kemiskinan melalui akses pendidikan berkualitas bagi masyarakat kurang mampu.

“Jadi kita ingin anak-anak dari desa punya kesempatan yang sama untuk maju,” pungkasnya.

Penulis : Ramlah
Editor: Yusva Alam

Lahan 8 Hektare untuk Sekolah Rakyat Sudah Disiapkan

0
Pusat Tinjau Lahan 8 Hektare di Kutim untuk sekolah rakyat. (Ramlah/Radar Bontang)

SANGATTA – Upaya menghadirkan sekolah rakyat di Kutai Timur (Kutim) mulai menunjukkan titik terang. Pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum (PU) turun langsung meninjau lokasi yang disiapkan pemerintah daerah.

Sebelumnya, Bupati telah lebih dulu mengirim surat ke kementerian terkait usulan pembangunan sekolah rakyat. Langkah itu diperkuat dengan pertemuan langsung bersama menteri, yang kemudian berujung pada tindak lanjut peninjauan lapangan.

“Hari ini pihak Kementerian PU dari pusat sudah meninjau lokasi. Ini membuktikan arahan menteri benar-benar ditindaklanjuti,” ungkap Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi usai lakukan peninjuan lokasi.

Lahan seluas 8 hektare telah disiapkan untuk proyek tersebut. Secara umum, lahan dinyatakan siap karena berstatus clear and clean. Namun, ada sejumlah catatan penting dari pihak kementerian yang harus segera dipenuhi.

Di antaranya ketersediaan listrik, air bersih, akses jalan masuk, hingga pematangan lahan. Pemerintah daerah diminta memastikan seluruh infrastruktur dasar tersebut tersedia sebelum pembangunan dimulai.

“Yang paling ditekankan adalah pematangan lahan. Jadi saat kementerian mulai pembangunan, lahannya sudah benar-benar siap,” jelasnya.

Selain itu, peruntukan lahan yang sebelumnya direncanakan untuk Korpri akan dialihkan menjadi kawasan sekolah rakyat. Penyesuaian juga akan dilakukan pada aspek legalitas, termasuk sertifikasi lahan.

Untuk kapasitas sekolah, pemerintah pusat belum memberikan angka pasti. Namun, sebagai gambaran, pembangunan sekolah rakyat di Samarinda menelan anggaran hingga Rp250 miliar.

Jika terealisasi, nilai pembangunan di Kutai Timur diperkirakan berada di kisaran Rp200–250 miliar.

“Ini sangat menguntungkan. Daerah hanya menyiapkan lahan dan fasilitas pendukung, sementara pembangunan ditanggung pusat,” tegasnya.

Program ini diharapkan menjadi solusi bagi masyarakat kurang mampu, terutama yang berada di wilayah pedalaman yang selama ini masih minim akses pendidikan.

Penulis: Ramlah
Editor: Yusva Alam

Lupa Handbrake, Mobil Kijang Meluncur ke Parit di Wilayah Satimpo

0
Petugas Disdamkartan saat mengevakuasi mobil yang terperosok di wilayah Kelurahan Satimpo. (Ist).

BONTANG – Tim Rescue Regu Alfa Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkartan) Bontang, bergerak cepat mengevakuasi sebuah mobil Toyota Kijang yang terperosok ke dalam parit, di Jalan Gunung Merapi, Kelurahan Satimpo, Kecamatan Bontang Selatan, Senin (6/4/2026).

Insiden tersebut dilaporkan langsung oleh warga setempat, dimana kendaraan ini tiba-tiba saja meluncur tanpa kendali. Diduga, mobil yang terperosok terjadi karena pengemudi lupa menarik rem tangan (handbrake), saat hendak memarkirkan kendaraannya.

Menindaklanjuti laporan itu, petugas damkar langsung bergerak cepat menuju lokasi kejadian sekitar pukul 09.45 Wita. Proses evakuasi berlangsung selama kurang lebih satu jam dan berhasil diselesaikan dengan lancar tanpa kendala.

“Berkat kesigapan tim di lapangan, kendaraan berhasil dievakuasi dan diamankan tanpa mengalami kerusakan yang lebih fatal. Tidak ada laporan korban jiwa dalam kejadian tersebut. Jadi selama proses evakuasi, semuanya berjalan dengan baik,” ucap Kepala Disdamkartan Bontang, Amiluddin.

Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bagi masyarakat, agar selalu memastikan kendaraan dalam kondisi aman sebelum ditinggalkan. Termasuk dengan memastikan rem tangan, telah terpasang dengan baik guna mencegah kejadian serupa.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Pemkot Bontang Uji Coba Parkir Non Tunai, Pembayaran Tunai Tetap berlaku Selama Masa Transisi

0

Pembaca Setia Radar Bontang!

Ingin tahu kabar terkini Koran Digital Radar Bontang? Kunjungi link di bawah ini untuk membaca e-paper lengkapnya:

👉 E-Paper Lengkap
https://koran.radarbontang.com

👉 Versi Mobile
https://digital.radarbontang.com/rb6apr2026/mobile/

Kronologi Sengketa Lahan di RT.38 Tanjung Laut, Begini Cerita Warga

0
Pertemuan antara DPRD Bontang, pemerintah, hingga masyarakat. (Dwi S).

BONTANG – Kisruh sengketa lahan di RT 38, Kelurahan Tanjung Laut, Kecamatan Bontang Selatan kembali mencuat setelah warga memaparkan kronologi panjang yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Salah satu perwakilan warga, Erni, mengungkapkan bahwa dirinya mulai tinggal di kawasan tersebut dari 2001 lalu. Menurut Erni, saat pertama kali menempati lokasi tersebut, dirinya langsung membeli rumah yang masih berupa bangunan kayu, bukan rumah batu.

“Kami beli rumahnya, bukan tanahnya. Kondisinya juga masih rumah kayu, belum seperti sekarang,” ucapnya, Senin (6/4/2026).

Berlanjut sekitar tujuh bulan setelah menempati rumah tersebut, Erni mengaku sempat didatangi seseorang yang meminta pembayaran sewa lahan. Bahkan, warga sempat dipanggil ke kantor kelurahan. Namun, pihak yang mengaku sebagai pemilik lahan tidak kembali melanjutkan prosesnya.

Tepat di 2004, kembali muncul pihak lain yang mengaku berasal dari perusahaan dan mengklaim lahan tersebut. Namun, klaim tersebut juga tidak berlanjut karena pihak yang bersangkutan tidak kembali datang. Entah pihaknya masih kekurangan cukup bukti, atau sebagainya.

“Tahun berikutnya ada lagi dari PT Harum yang sempat mengakui lahan ini, tapi tidak datang lagi, mungkin karena bukti yang dibawa juga tidak cukup,” lanjutnya.

Situasi serupa kembali terjadi di 2017, ketika pihak dari perusahaan lain datang dan sempat bertemu warga di kantor kelurahan. Namun, klaim tersebut juga tidak berlanjut dan pihak tersebut sehingga mereka kembali ke Jakarta.

Kondisi berubah ketika seorang perwakilan bernama Andi Ansong datang, dan menyatakan bahwa lahan tersebut merupakan milik Muslifah. Warga pun sempat merasa terkejut, meski tidak langsung panik karena sebelumnya sudah beberapa kali dan banyak orang atau pihak lain yang telah mengklaim hal serupa.

Permasalahan semakin kompleks ketika warga dilaporkan atas dugaan penyerobotan lahan. Dalam proses hukum yang berjalan, pihak Muslifah dinyatakan menang.

Meski demikian, warga mengaku tetap mengikuti proses hukum yang difasilitasi oleh pihak kelurahan dan kecamatan, tanpa berpihak kepada salah satu pihak.

“Dari situ kami hanya mengikuti arahan saja sesuai dengan hukum, karena mediasinya telah difasilitasi pihak kelurahan dan kecamatan,” paparnya.

Dalam perkembangannya, konflik sempat berujung pada pergantian ketua RT, hingga terjadinya upaya eksekusi terhadap warga. Sengketa ini bahkan berlanjut ke ranah pengadilan, di mana warga melakukan perlawanan hukum terhadap Muslifah bersama pihak perusahaan, yakni PT Tirta Manggala.

Hingga kini, persoalan sengketa lahan tersebut masih menjadi perhatian berbagai pihak, dengan harapan adanya solusi yang adil bagi warga yang telah lama bermukim di kawasan tersebut.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Pemkot Bontang Uji Coba Sekolah Gratis di Empat Sekolah Swasta

0
Kepala Disdikbud, Abdu Safa Muha. (Syakurah)

BONTANG – Pemerintah Kota Bontang melakukan uji coba program sekolah gratis, yang kini mulai diterapkan di sejumlah sekolah swasta.

Pada fase awal, pemerintah menetapkan empat lembaga pendidikan sebagai proyek percontohan. Keempatnya yakni Yayasan Pembinaan Pendidikan Islam (YPPI), Monamas, MTs Al Amin di Kelurahan Loktuan, dan satu sekolah yang berada di wilayah Guntung.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Bontang, Abdu Safa, menjelaskan kebijakan ini tidak langsung diberlakukan secara menyeluruh, melainkan dilakukan bertahap sambil melihat kesiapan sekolah.

“Ini masih tahap awal. Kita mulai dari empat sekolah dulu sebagai percontohan, selanjutnya akan dievaluasi sebelum diperluas,” katanya.

Pendanaan program bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) melalui skema Bantuan Operasional Sekolah Daerah (Bosda). Dalam implementasinya, sekolah swasta yang tergabung dalam program akan menerima dukungan anggaran, dengan nilai yang disetarakan dengan sekolah negeri.

Menurut Abdu, skema tersebut menjadi pembeda dibanding kebijakan sebelumnya, di mana sekolah swasta belum mendapatkan dukungan setara.

“Sekarang kita samakan. Sekolah swasta yang masuk program akan memperoleh Bosda dengan nilai yang setara dengan sekolah negeri,” terangnya.

Melalui program ini, pemerintah menargetkan penghapusan berbagai pungutan pendidikan yang selama ini menjadi beban orang tua, seperti SPP hingga biaya pembangunan atau uang gedung.

Kebijakan ini diharapkan tidak hanya membantu meringankan beban biaya pendidikan, tetapi juga menciptakan keseimbangan layanan antara sekolah negeri dan swasta.

“Tujuan utamanya agar tidak ada lagi anak yang terkendala biaya untuk sekolah,” pungkasnya.

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Utamakan Kepentingan Warga, DPRD Siapkan RDP Terkait Sengketa Lahan di RT.38 Kelurahan Tanjung Laut

0
Anggota Komisi C DPRD Bontang, Muhammad Sahib saat melakukan sidak. (Dwi S).

BONTANG – Hasil inspeksi mendadak (sidak) terhadap persoalan sengketa lahan di Jalan Selat Selayar, RT.38, Kelurahan Tanjung Laut, Kecamatan Bontang Selatan hingga saat ini masih belum menemukan titik terang, antara warga yang sudah menetap puluhan tahun dengan pihak perorangan, maupun perusahaan.

Bagi masyarakat yang sudah bermukim selama kurang lebih 30 tahun (de facto), menghadapi klaim legalitas kepemilikan oleh pihak lain (de jure), salah satunya disebutkan terkait PT Tirta Manggala dan pemilik lahan Munifah.

Sehingga Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bontang menegaskan, bahwa kepentingan masyarakat harus tetap menjadi prioritas yang paling utama, meskipun proses hukum tetap berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.

Anggota Komisi C DPRD Bontang, Muhammad Sahib menyatakan bahwa secara yuridis untuk kepemilikan lahan saat ini mengacu pada putusan Mahkamah Agung (MA), yang menetapkan lahan tersebut sah dimiliki oleh Munifah. Namun demikian, kondisi faktual di lapangan menunjukkan bahwa masyarakat yang telah lama bermukim di lokasi tersebut.

“Kami melihat bahwa secara hukum memang dimenangkan oleh Bu Munifah. Tetapi secara de facto, masyarakat juga sudah lama tinggal di sini. Maka perlu ada komunikasi yang baik antara kedua belah pihak,” ucapnya.

Sehingga kesimpulan dari kegiatan sidak tersebut, dewan menilai bahwa dialog menjadi langkah penting untuk mencari solusi terbaik tanpa merugikan masyarakat.

Pertemuan lanjutan antara pemilik lahan dan warga pun direncanakan akan segera digelar di waktu dekat, meskipun waktu pelaksanaannya masih menunggu penjadwalan lebih lanjut.

Selain itu, permasalahan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang terindikasi terjadi penagihan ganda juga menjadi perhatian. Pihak DPRD akan mengumpulkan bukti dari warga, maupun pihak pemilik lahan atau perusahaan, untuk kemudian dibawa ke Badan Pendapatan Daerah (Bapenda).

“PBB tidak boleh double. Jadi bukti-bukti akan kami kumpulkan dulu, dan di pertemuan berikutnya Bapenda harus hadir untuk memberikan penjelasan,” tegasnya.

Ke depan, DPRD memastikan akan menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) lanjutan, guna membahas persoalan ini secara menyeluruh. Namun sebelum itu, seluruh data pendukung harus dilengkapi, termasuk kehadiran pemilik lahan secara langsung.

“Saat ini, kehadiran pemilik lahan dalam pertemuan masih diwakili oleh Andi Ansong, sementara kepemilikan sah tercatat atas nama Munifah. Pemerintah berharap seluruh pihak dapat duduk bersama untuk mencapai solusi yang adil dan mengedepankan kepentingan masyarakat,” tutupnya.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

DPRD Kutim Dorong Gerakan Tanam Cabai untuk Tekan Inflasi

0
Ilustrasi ajakan gerakan tanam cabai. (AI)

SANGATTA – Lonjakan harga pangan, khususnya cabai dan telur, dinilai mulai berdampak pada daya beli masyarakat dan semangat konsumsi. Ketua DPRD Kutai Timur, Jimmi, menegaskan kondisi ini harus direspons dengan langkah konkret, bukan sekadar menunggu stabilisasi pasar.

Menurutnya, salah satu solusi jangka pendek yang bisa dilakukan adalah mendorong masyarakat memanfaatkan lahan pekarangan untuk menanam komoditas pangan seperti cabai, lombok, hingga sayuran lain. Langkah ini dinilai penting, apalagi menjelang momentum Idul Adha yang biasanya diikuti peningkatan permintaan bahan pangan.

“Kalau kita bisa prediksi harga akan naik, maka dari sekarang masyarakat harus mulai menanam. Masa tanam cabai sekitar dua sampai tiga bulan, jadi harus dipersiapkan sejak dini,” ujarnya usai mengikuti rakor inflasi di Kominfo, Senin (6/4/2026).

Ia mengakui, selama ini kesiapan produksi pangan lokal masih rendah, terutama karena masyarakat belum terbiasa melakukan penanaman secara terencana menjelang hari besar keagamaan. Akibatnya, pasokan terbatas dan harga mudah melonjak.

Selain cabai, Jimmi juga menyoroti komoditas telur yang harganya turut terdorong naik. Ia menjelaskan, faktor utama kenaikan harga telur berasal dari mahalnya pakan ternak yang masih bergantung dari luar daerah.

“Kalau pakan tidak sesuai formulasi, kualitas telur ikut turun. Kulitnya rapuh, warnanya kurang bagus, dan otomatis harga jualnya juga jatuh. Tapi kalau mau kualitas bagus, biaya produksi ikut naik,” jelasnya.

Ia membandingkan kondisi tersebut dengan daerah di Pulau Jawa yang sudah mampu memproduksi pakan secara mandiri karena ketersediaan bahan baku yang lebih lengkap. Sementara di Kutai Timur, ketergantungan terhadap pasokan pakan dari luar masih menjadi kendala utama.

Karena itu, DPRD mendorong pemerintah daerah untuk menghadirkan inovasi, terutama dalam pengembangan sektor pertanian dan peternakan berbasis kemandirian. Menurutnya, dengan jumlah penduduk yang relatif kecil, Kutai Timur memiliki peluang besar untuk menciptakan sistem pangan mandiri.

“Inflasi 2 sampai 4 persen memang masih dalam kategori normal. Tapi kalau kita bisa mandiri, itu akan jauh lebih baik untuk menjaga stabilitas harga dan ketahanan ekonomi daerah,” tegasnya.

Ia menambahkan, penguatan produksi lokal tidak hanya menekan inflasi, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat jika dilakukan secara kolektif dan berkelanjutan.

Penulis: Ramlah
Editor: Yusva Alam