Beranda blog Halaman 272

Waspada! Penipuan Berkedok OSS Marak di Bontang, Korban Rugi Rp 3,2 Juta

0
Tangkapan layar bukti penipuan mengatasnamakan OSS dari DPMPTSP Bontang. (istimewa)

BONTANG – Terjadi penipuan yang mengatasnamakan layanan perizinan Online Single Submission (OSS). Hal ini diinformasikan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Bontang.

Kepala DPMPTSP Bontang, Aspianur mengatakan pelaku menggunakan berbagai macam modus. Ia juga telah menerima laporan tersebut sejak awal 2026, dan baru mendapatkan laporan langsung dari satu korban yang terkena penipuan.

“Modusnya dari pesan singkat, seperti WhatsApp, telepon, dan sosmed. Pelaku pura-pura jadi petugas perantara resmi dan menawarkan bantuan percepatan pengurusan izin dengan imbalan,” ujarnya.

Diketahui, korban, pada Kamis (2/4/2026) baru saja mengurus Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (PKKPR). Setelah itu, di hari Minggu (5/4/2026), korban menerima WhatsApp dari nomor dan mengatasnamakan layanan OSS.

“Pelaku kemudian mengirimkan data perusahaan korban jadi terlihat meyakinkan, korban langsung melakukan pembayaran,” jelasnya.

Ditambah, pelaku juga mengirim tangkapan layar berisi batas waktu pembayaran selama 30 menit serts kode pembayaran via transfer sebesar Rp 3,2 juta.

Seninnya (6/4/2026), korban mengkonfirmasi langsung ke kantor DPMPTSP memastikan pembayaran tersebut. Nahasnya, nomor yang digunakan pelaku dipastikan bukan nomor resmi OSS maupun DPMPTSP.

“Ada dugaan peretasan atau mengambil data korban dari sistem OSS untuk melancarkan aksinya. Masyarakat dimohon waspada terhadap modus penipuan yang sama,” tuturnya.

DPMPTSP mengimbau masyarakat, agar tidak mudah percaya terhadap pihak yang menawarkan jasa percepatan perizinan dengan meminta sejumlah uang. Adapun layanan perizinan hanya diakses melalui website resmi OSS serta tidak dipungut biaya.

“Lebih baik masyarakat memastikan langsung terlebih dahulu ke pihak DPMPTSP,” katanya.

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Harga Telur di Kutim Meroket, Tembus di Atas Nasional

0
Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi saat diwawancara awak media. (Ramlah/Radar Bontang)

SANGATTA – Laju inflasi di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) dipastikan masih dalam kondisi terkendali. Namun, di balik stabilitas tersebut, harga telur ayam menjadi catatan karena berada di atas rata-rata nasional.

Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi, menyampaikan bahwa secara month-to-month (mtm), inflasi daerah masih lebih rendah dibandingkan nasional. Jika inflasi nasional berada di kisaran 4 hingga hampir 5 persen, Kutim tercatat sekitar 0,9 persen.

“Selisihnya sekitar 0,4 persen dari nasional. Artinya kondisi kita masih relatif aman, meskipun tetap fluktuatif,” ujarnya usai rapat koordinasi pengendalian inflasi yang digelar di Kantor Diskominfo Kutim, Senin (6/4/2026).

Menurutnya, stabilitas inflasi sangat bergantung pada daya beli masyarakat. Selama daya beli tetap terjaga, tekanan harga masih bisa dikendalikan.

Meski demikian, Mahyunadi mengakui ada komoditas yang perlu mendapat perhatian, yakni telur ayam. Berdasarkan pemantauan di pasar, harga telur di Kutim cenderung lebih tinggi dibandingkan daerah lain.

“Kalau dibandingkan secara hitungan, selisihnya bisa sekitar Rp4.700 per kilogram. Tapi ini juga dipengaruhi perbedaan pengukuran, di sini dijual per butir, sementara nasional per kilogram,” jelasnya.

Selain itu, tingginya harga telur dipicu biaya produksi, khususnya pakan ayam petelur yang sebagian besar masih didatangkan dari luar daerah, terutama Pulau Jawa. Kondisi ini membuat harga produksi menjadi lebih tinggi.

Kendati demikian, ia memastikan tidak ada indikasi penimbunan maupun permainan harga di pasaran. Secara umum, harga kebutuhan pokok masih relatif stabil.

“Tidak ada penimbunan. Harga juga masih stabil,” tegasnya.

Pemerintah daerah, lanjutnya, tetap menyiapkan langkah antisipatif jika sewaktu-waktu terjadi gejolak harga. Intervensi akan dilakukan melalui operasi pasar maupun pasar murah.

“Kalau harga tidak stabil, kita akan intervensi. Tapi saat ini belum perlu karena masih terkendali,” katanya.

Untuk jangka panjang, Pemkab Kutim didorong memperkuat ketahanan pangan daerah. Salah satunya melalui pemanfaatan pekarangan rumah untuk menanam kebutuhan pokok seperti cabai dan sayuran.

Selain itu, optimalisasi potensi lokal juga menjadi fokus, terutama komoditas jagung yang harganya di Kutim masih lebih tinggi dibanding daerah lain.

“Di luar daerah sekitar Rp6.000, di sini bisa Rp7.000 sampai Rp8.000. Artinya potensi kita ada, tinggal dimaksimalkan,” tandasnya.

Penulis: Ramlah
Editor: Yusva Alam

Wisata Edukatif, Pengunjung IKN Ikut Reboisasi Kawasan

0
Jadi kebiasaan positif, budaya tanam bibit pohon di KIPP juga menyentuh hingga ke pengunjung IKN. (Dok. Otorita)

NUSANTARA — Suasana libur panjang Paskah di Ibu Kota Nusantara (IKN) terasa berbeda. Di tengah kawasan yang terus dibangun, pengunjung tidak hanya datang melihat perkembangan, tetapi juga ikut menanam pohon dan beraktivitas bersama keluarga.

Selama 3–5 April 2026, jumlah kunjungan tercatat mencapai sekitar 59.676 orang dengan total 14.382 kendaraan yang masuk ke kawasan IKN.

Dalam periode tersebut, Otorita IKN membuka kunjungan masyarakat sekaligus mengajak pengunjung menanam pohon di Miniatur Hutan Hujan Tropis IKN.

Sedikitnya 500 lubang tanam disediakan dengan bibit pohon khas hutan tropis Kalimantan, antara lain balangeran, meranti, bodhi, randu, dan kemiri.

Upaya ini menjadi bagian dari rehabilitasi vegetasi di kawasan IKN, sekaligus memperkuat konsep kota hutan. Dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan, tanaman tersebut diharapkan tumbuh menjadi lapisan kanopi baru yang mendukung fungsi ekologis, termasuk penyerapan karbon dan pemulihan keanekaragaman hayati.

Direktur Perencanaan Makro Otorita IKN, Pungky Widiaryanto, mengatakan kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun budaya menanam di IKN.

“Yang menarik pada program pelayanan kepada masyarakat di liburan Paskah kali ini, kita mengajak pengunjung untuk melakukan penanaman di hutan di sekitar IKN atau di dalam KIPP. Kita ingin membudayakan menanam menjadi salah satu budaya IKN untuk mengembalikan hutan hujan tropis yang menjadi visi IKN sebagai kota hutan,” terangnya.

Sementara itu, komposisi tanaman terdiri 70 persen spesies asli Kalimantan dan 30 persen multi-trees purpose species untuk mendukung fungsi ekologis kawasan secara berkelanjutan.

Kegiatan ini juga dimanfaatkan masyarakat sebagai cara baru mengisi libur panjang. Sejumlah pengunjung datang bersama keluarga dan anak-anak untuk menanam pohon sambil menikmati suasana alam.

Sepin, warga Samboja yang ikut menanam, menyebut kegiatan tersebut sebagai bentuk partisipasi dalam pembangunan IKN.

“Ini sebagai partisipasi untuk penanaman atau reboisasi dalam mengembangkan hutan tropisnya IKN. Jadi anak-anak kita nanti bisa lihat bahwa bukan bangunan saja yang dibangun, tapi hutannya juga,” katanya. (MK)

Pewarta: Atmaja Riski
Editor: Agus S

Digadang-gadang Jadi Solusi Konflik Buaya–Warga, Program Penangkaran Kutim Belum Juga Beroperasi

0
Ilustrasi. (AI)

SANGATTA – Konflik antara buaya dan warga di Kutai Timur (Kutim) kian meningkat. Namun, program penangkaran buaya yang digadang-gadang menjadi solusi jangka panjang hingga kini belum juga berjalan.

Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, mengakui terdapat kendala dalam merealisasikan program tersebut. Salah satunya karena kekeliruan awal terkait kewenangan kementerian yang menangani penangkaran buaya.

Awalnya, pemerintah daerah mengira program tersebut berada di bawah Kementerian Lingkungan Hidup. Namun belakangan diketahui bahwa kewenangan tersebut berada di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

“Saya kira di Lingkungan Hidup, ternyata di KKP. Ini yang kemarin sempat keliru,” ujarnya beberapa hari lalu.

Meski demikian, upaya tetap dilakukan. Dinas Perikanan Kutim telah menyusun kajian awal sebagai dasar perencanaan penangkaran, meski belum rampung sepenuhnya. Pemkab juga telah melayangkan surat kepada KKP, namun hingga kini belum mendapat respons.

“Sudah kami surati, tapi belum ada jawaban,” tambahnya.

Di sisi lain, kondisi di lapangan semakin mengkhawatirkan. Kemunculan buaya di sekitar permukiman warga terjadi berulang dan menimbulkan keresahan. Namun, langkah pemusnahan tidak bisa dilakukan sembarangan karena terbentur aturan perlindungan satwa.

“Kalau dimusnahkan, bertabrakan dengan kebijakan lingkungan. Tapi kalau dibiarkan, masyarakat resah,” tegasnya.

Selama ini, penanganan masih bersifat sementara. Tim pemadam kebakaran biasanya melakukan evakuasi saat ada laporan warga. Untuk buaya berukuran besar, sebagian dibawa ke lokasi penangkaran yang ada di Samarinda. Sementara buaya berukuran kecil umumnya dilepas kembali ke habitatnya.

Namun pola tersebut dinilai belum efektif. Buaya yang dilepas kerap kembali muncul di sekitar permukiman warga.

“Yang kecil dilepas lagi, tapi sering kembali. Ini yang jadi masalah,” jelas Ardiansyah.

Karena itu, keberadaan penangkaran buaya di Kutim dinilai mendesak. Fasilitas tersebut diharapkan mampu menjadi solusi jangka panjang untuk mengurangi konflik antara manusia dan satwa liar yang terus meningkat.

Penulis: Ramlah
Editor: Yusva Alam

Persiapan Haji Dimulai, Calhaj Balikpapan Ikuti Manasik

0
Para jemaah calon haji asal Balikpapan saat mengikuti latihan manasik haji. (Istimewa)

BALIKPAPAN — Menjelang musim haji 2026, sebanyak 683 calon jemaah haji (calhaj) asal Balikpapan mengikuti rangkaian manasik sebagai bekal sebelum keberangkatan ke Tanah Suci.

Kegiatan yang digelar oleh Kementerian Haji (Kemenhaj) Kota Balikpapan ini menjadi tahapan penting untuk memastikan para jemaah memahami seluruh rangkaian ibadah haji secara utuh.

Kepala Kemenhaj Kota Balikpapan, Suharto Baijuri, menjelaskan bahwa manasik bertujuan memberikan pembekalan menyeluruh, mulai dari rukun hingga wajib haji.

“Sebanyak 683 calon jemaah haji tercatat mengikuti manasik tersebut. Mereka mendapatkan pembekalan menyeluruh terkait tata cara pelaksanaan ibadah haji, agar dapat menjalankan ibadah dengan baik dan sesuai tuntunan,” ujarnya, Minggu (5/4/2026).

Ia menambahkan, jemaah tahun ini berasal dari berbagai kelompok usia. Jemaah tertua tercatat berusia 81 tahun, sementara yang termuda berusia 17 tahun. Perbedaan usia tersebut menjadi perhatian dalam pembinaan, khususnya terkait kesiapan fisik dan kesehatan.

“Perbedaan usia ini menjadi perhatian khusus dalam proses pembinaan, terutama terkait kesiapan fisik dan kesehatan,” jelasnya.

Hingga saat ini, persiapan penyelenggaraan ibadah haji di Balikpapan berjalan lancar tanpa kendala teknis yang berarti. Meski demikian, para jemaah diimbau untuk terus menjaga kondisi kesehatan.

Perbedaan cuaca antara Indonesia dan Arab Saudi, serta padatnya aktivitas selama puncak ibadah haji, menjadi faktor yang perlu diantisipasi sejak dini.

Selain itu, pihak Kemenhaj juga terus memantau perkembangan situasi di kawasan Timur Tengah untuk memastikan tidak ada gangguan terhadap pelaksanaan ibadah.

“Harapan kami, seluruh jemaah dapat berangkat dan menjalankan ibadah dengan aman, nyaman, serta kembali ke tanah air dalam keadaan sehat,” tutup Suharto.

Pewarta: Aprianto
Editor: Agus S

Speedboat Rescue Baru BPBD Samarinda Siap Hadapi Arus Mahakam

0
Kapal BPBD Samarinda speedboat khusus rescue. (Istimewa)

SAMARINDA — Pemerintah Kota Samarinda terus memperkuat kesiapsiagaan bencana di wilayah perairan. Terbaru, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda menghadirkan satu unit speedboat khusus penyelamatan (rescue) senilai Rp1,69 miliar untuk menunjang operasi di Sungai Mahakam.

Kepala BPBD Kota Samarinda, Warso, menegaskan bahwa pengadaan armada ini menjadi langkah strategis mengingat karakteristik Sungai Mahakam yang memiliki arus kuat serta aktivitas transportasi air yang cukup padat.

“Ini bukan speedboat penumpang. Dari awal memang dirancang untuk kebutuhan penyelamatan, termasuk dukungan alat navigasi khusus untuk operasi rescue,” ujarnya.

Kapal ini menggunakan jenis Rigid Hull Aluminium Boat, berbeda dari speedboat pada umumnya yang berbahan fiber. Material aluminium marine dipilih karena memiliki ketahanan lebih tinggi terhadap benturan, sehingga dinilai lebih aman untuk operasi di medan sungai yang dinamis.

Dari sisi performa, speedboat ini dilengkapi dua mesin berkekuatan 85 tenaga kuda (HP) yang memungkinkan manuver cepat saat menghadapi arus deras Sungai Mahakam. Kapasitas maksimal tujuh orang juga disesuaikan dengan kebutuhan tim penyelamat di lapangan.

Selain itu, kapal ini dibekali perangkat navigasi modern yang memungkinkan operasi pencarian dan penyelamatan tetap berjalan optimal, bahkan dalam kondisi cuaca buruk atau minim cahaya.

“Material aluminium marine dipilih karena lebih kuat, tahan benturan, dan lebih aman untuk operasi penyelamatan di sungai seperti Mahakam,” jelas Warso.

Kehadiran armada baru ini diharapkan mampu mempercepat waktu respons (response time) dalam berbagai kejadian darurat di perairan, mulai dari kecelakaan kapal hingga pencarian korban tenggelam.

Tak hanya itu, speedboat ini juga akan dimanfaatkan untuk patroli rutin di kawasan rawan di sepanjang Sungai Mahakam, yang selama ini menjadi jalur aktivitas masyarakat sekaligus titik rawan insiden.

“Harapannya, ini bisa menjadi tulang punggung operasi penyelamatan di Samarinda, terutama di kawasan perairan yang selama ini cukup rawan,” pungkasnya.

Pewarta: Dimas
Editor: Agus S

Tragis, Warga Sepaku Ditemukan Tak Bernyawa Usai Diduga Diserang Buaya

0
Tim gabungan bersama warga saat membawa jasad Jikram dari perahu ke rumah duka. (Istimewa)

PENAJAM PASER UTARA — Pencarian terhadap warga Kelurahan Sepaku, Jikram (65), yang sebelumnya dilaporkan hilang, berakhir duka. Korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada Minggu (5/4/2026).

Informasi penemuan tersebut pertama kali disampaikan warga setempat. “Sudah ditemukan, kondisi MD (meninggal dunia),” ujar Alfian.

Jasad korban ditemukan mengapung di Sungai Sepaku, sekitar 150 meter dari lokasi awal dilaporkan hilang. Mendapat informasi tersebut, tim gabungan langsung menuju lokasi untuk melakukan evakuasi.

Kepala Pelaksana BPBD Penajam Paser Utara, Nurlaila, menjelaskan bahwa proses evakuasi dilakukan dengan cepat setelah laporan diterima.

“Tim langsung menuju ke lokasi untuk melakukan evakuasi dan korban langsung dibawa ke rumah duka,” ujarnya.

Jasad korban ditemukan sekitar pukul 08.45 Wita. Warga yang sejak pagi menunggu di sekitar jembatan besi bergegas menuju lokasi saat jasad dibawa menggunakan perahu oleh tim pencarian.

Dari hasil pengamatan di lapangan, terdapat sejumlah luka pada tubuh korban, terutama di bagian leher serta pergelangan dan lengan tangan kanan. Luka tersebut menguatkan dugaan bahwa korban diserang buaya saat beraktivitas di pinggir sungai.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, korban saat itu tengah mengambil air di sekitar kebun karet miliknya yang berada di tepi Sungai Sepaku.

Dengan ditemukannya korban, operasi pencarian resmi dihentikan. Tim gabungan yang terlibat terdiri dari BPBD PPU, DPKP Pos Sepaku, Basarnas, aparat kecamatan dan kelurahan, Polsek Sepaku, Bhabinkamtibmas, serta masyarakat setempat.

Peristiwa ini kembali menjadi pengingat akan potensi bahaya di kawasan perairan, khususnya di wilayah yang masih menjadi habitat satwa liar seperti buaya.

Pewarta: Atmaja Riski
Editor: Agus S

Pasar Pagi Samarinda Lesu, Pedagang Pilih “Meluber” Demi Bertahan

0
Suasana pasar pagi saat dilakukan penertiban Satpol PP Kota Samarinda beberapa waktu lalu. (Istimewa)

SAMARINDA — Upaya penertiban pedagang di Pasar Pagi Samarinda justru memunculkan dilema di kalangan pelaku usaha. Di satu sisi pemerintah ingin menata ketertiban, namun di sisi lain pedagang mengaku kesulitan bertahan akibat minimnya pembeli di dalam area pasar.

Pantauan di lapangan menunjukkan sebagian pedagang mulai menggeser barang dagangan ke luar kios. Langkah ini dilakukan sebagai strategi bertahan hidup, bukan semata untuk melanggar aturan, melainkan demi menarik perhatian pengunjung yang melintas di area luar.

Salah satu pedagang, H. Iyan Saputra, pemilik Toko Rizquna, mengungkapkan kondisi berjualan di dalam pasar yang semakin sepi. Ia bahkan mengaku dalam kurun waktu satu hingga dua bulan, tidak ada transaksi sama sekali jika hanya mengandalkan kios di dalam.

“Terpaksa kami jualan di luar karena di dalam tidak laku. Kadang sebulan sampai dua bulan tidak ada pembeli,” ujarnya, Sabtu (4/4/2026).

Menurutnya, berjualan di area terbuka atau di bawah tangga menjadi pilihan terakhir agar tetap mendapatkan pemasukan untuk kebutuhan harian. Ia menyebut, tanpa berjualan di luar, bahkan biaya operasional seperti bensin pun sulit terpenuhi.

“Kalau di dalam tidak dapat uang, buat bayar bensin saja susah. Jadi terpaksa kami keluar dulu supaya ada pemasukan,” keluhnya.

Selain persoalan minim pembeli, pedagang juga menyoroti aspek administrasi. Salah satunya terkait penerbitan Surat Keterangan Tempat Usaha Berbasis (SKTUB) yang disebut belum sepenuhnya tuntas bagi seluruh pedagang.

Meski dalam kondisi sulit, para pedagang mengaku tetap memenuhi kewajiban membayar retribusi harian berkisar Rp6.000 hingga Rp7.000. Namun, mereka meminta adanya keadilan dalam penerapan aturan, terutama dalam penertiban yang dinilai harus berlaku merata.

“Kalau memang mau ditertibkan, ya semua harus di dalam. Jangan ada yang di luar di samping-samping. Biar pasar rapi seperti di tempat lain,” tegasnya.

Fenomena pedagang yang mulai “meluber” ke luar kios ini terjadi secara bertahap. Awalnya hanya beberapa pedagang, namun kemudian diikuti lainnya setelah melihat adanya potensi pembeli di area luar.

Kondisi ini menunjukkan adanya persoalan mendasar yang belum terselesaikan, yakni menurunnya aktivitas ekonomi di dalam pasar. Pedagang berharap pemerintah tidak hanya fokus pada penertiban fisik, tetapi juga mampu menghidupkan kembali aktivitas jual beli di dalam pasar.

Tanpa solusi menyeluruh, mereka mengaku akan terus berada dalam posisi sulit—bertahan di dalam tanpa pembeli, atau berjualan di luar dengan risiko ditertibkan petugas.

Pewarta: Dimas
Editor: Agus S

Pesut Etam Pantang Remehkan Laskar Sape Kerrab

0
Pelatih Borneo FC Samarinda saat konferensi pers di ruang media. (Dimas/MKN)

SAMARINDA — Borneo FC Samarinda menatap serius laga tandang menghadapi Madura United dalam lanjutan Super League 2025/2026 di Stadion Gelora Madura Ratu Pamelingan, Pamekasan, Minggu (5/4/2026).

Meski lawan tengah terpuruk di zona degradasi, pelatih Borneo FC, Fabio Lefundes, justru mengingatkan skuadnya untuk tidak lengah. Menurutnya, posisi Madura United di peringkat 16 dengan 20 poin bukan berarti pertandingan akan berjalan mudah.

“Mereka memang tidak menang dalam beberapa laga dan mengganti pelatih. Mereka tidak punya pilihan lain, pasti akan berusaha keras meraih tiga poin,” ujarnya, Sabtu (4/4/2026).

Lefundes menilai tekanan besar untuk keluar dari zona merah justru menjadi motivasi tambahan bagi tuan rumah. Apalagi, perubahan di kursi kepelatihan bisa memunculkan pendekatan taktik baru yang perlu diwaspadai.

“Kami harus sadar, mereka akan sangat sulit karena berjuang keluar dari posisi saat ini,” tambahnya.

Untuk mengantisipasi potensi kejutan, tim pelatih Borneo FC telah melakukan analisis mendalam terhadap pola permainan lawan. Para pemain juga telah dibekali materi video serta strategi khusus guna meredam kekuatan Madura United.

“Benar, kami sudah memikirkan pertandingan melawan Madura United dan memberikan informasi mendalam kepada pemain mengenai skema lawan,” jelas Lefundes.

Borneo FC sendiri tetap menargetkan kemenangan demi menjaga posisi di papan atas klasemen. Namun di sisi lain, laga ini diprediksi berlangsung sengit mengingat ambisi besar Madura United untuk bangkit dari tren negatif dan keluar dari ancaman degradasi.

Pewarta: Dimas
Editor: Agus S

Infrastruktur Pangan Digenjot, Gudang Bulog Akan Dibangun di Ngeyan Asa

0
Pj Sekda Kutai Barat Kamius Junaidi mendampingi Direktur SDM Transformasi Bulog saat meninjau lahan rencana gudang di Kampung Ngeyan Asa. (Istimewa)

SENDAWAR — Pemerintah Kabupaten Kutai Barat (Kubar) bersama Perum Bulog terus mematangkan rencana pembangunan gudang logistik pangan. Hal itu ditandai dengan peninjauan langsung lokasi pembangunan di Kampung Ngeyan Asa, Kecamatan Barong Tongkok, Sabtu (4/4/2026).

Peninjauan dilakukan oleh Pj Sekretaris Daerah Kutai Barat, Kamius Junaidi, bersama Direktur SDM dan Transformasi Perum Bulog, Sudarsono Hardjosoekarto.

Lokasi yang disiapkan seluas 1,3 hektare tersebut direncanakan menjadi kompleks pergudangan dengan kapasitas sekitar 1.000 ton pada 2026. Fasilitas ini akan dilengkapi gudang utama, kantor operasional, serta sarana pendukung lainnya sebagai bagian dari program nasional pembangunan infrastruktur pascapanen.

Sudarsono menyampaikan apresiasi atas dukungan Pemkab Kubar yang telah menghibahkan lahan untuk pembangunan gudang tersebut. Menurutnya, proyek ini menjadi bagian penting dalam memperkuat ketahanan pangan daerah sekaligus mendukung program nasional.

Ia menjelaskan, sebelum pembangunan gudang permanen dimulai, pemerintah daerah juga menyiapkan gudang sementara yang sebelumnya digunakan untuk penyimpanan beras raskin. Gudang tersebut akan direhabilitasi pada April 2026 dengan kapasitas tampung sekitar 200 ton beras.

“Gudang sementara ini tidak hanya untuk kebutuhan Kubar, tetapi juga bisa membantu stabilisasi pasokan di Mahakam Ulu,” jelasnya.

Lebih lanjut, Sudarsono menegaskan bahwa pembangunan gudang Bulog memiliki standar teknis tinggi, termasuk sistem pengendalian kelembaban dan ventilasi udara untuk menjaga kualitas beras dalam jangka panjang.

Selain itu, infrastruktur pendukung seperti akses jalan menuju lokasi juga menjadi perhatian. Bulog mengharapkan jalan dengan standar kelas I dan lebar minimal 8 meter guna menunjang kelancaran distribusi logistik.

Gudang tersebut nantinya tidak hanya digunakan untuk penyimpanan beras, tetapi juga minyak goreng sebagai bagian dari upaya stabilisasi harga dan pasokan kebutuhan pokok masyarakat.

Sementara itu, Pj Sekda Kubar, Kamius Junaidi, menegaskan peninjauan ini bertujuan memastikan kesiapan lahan, akses transportasi, serta potensi pengembangan kawasan ke depan.

Menurutnya, pembangunan gudang Bulog merupakan kebutuhan mendesak bagi daerah dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan, terutama saat terjadi lonjakan permintaan atau gangguan distribusi.

“Ini bentuk komitmen bersama antara pemerintah daerah dan pusat dalam memperkuat ketahanan pangan,” tegasnya.

Pemkab Kubar berharap pembangunan gudang Bulog di Kampung Ngeyan Asa dapat segera terealisasi dan memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat.

Pewarta: Ichal
Editor: Agus S