Beranda blog Halaman 273

Hibah Tanah untuk Bulog, Kubar Genjot Ketahanan Pangan

0
Bupati Kutai Barat Frederick Edwin bersama Direktur SDM dan Transformasi Perum Bulog Sudarsono Hardjosoekarto saat penandatanganan NPHD. (Ichal/MK)

SENDAWAR — Pemerintah Kabupaten Kutai Barat (Kubar) bersama Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) menandatangani Naskah Perjanjian Hibah Daerah (NPHD) sekaligus Berita Acara Serah Terima (BAST) di Gedung Auditorium Aji Tulur Jejangkat (ATJ), Sabtu (4/4/2026).

Penandatanganan ini menjadi langkah strategis dalam mendukung pembangunan infrastruktur pascapanen melalui penyediaan lahan untuk fasilitas logistik pangan di Kutai Barat.

Direktur SDM dan Transformasi Perum Bulog, Sudarsono Hardjosoekarto, menyampaikan apresiasi atas dukungan Pemerintah Kabupaten Kutai Barat terhadap pembangunan gudang Bulog di daerah tersebut.

“Dukungan ini menjadi bukti komitmen bersama antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat dalam memperkuat ketahanan pangan daerah sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional,” ujarnya.

Sementara itu, Bupati Kutai Barat, Frederick Edwin, menegaskan bahwa hibah tanah tersebut akan dimanfaatkan untuk pembangunan sarana penyimpanan dan pengelolaan hasil pertanian.

Menurutnya, kehadiran fasilitas ini akan meningkatkan efektivitas distribusi pangan, menjaga kualitas komoditas, serta memperkuat ketahanan pangan daerah secara berkelanjutan.

“Pemerintah berharap pembangunan infrastruktur logistik pangan ini dapat segera terealisasi dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” katanya.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Perum Bulog atas sinergi yang telah terjalin dalam mendukung penguatan sektor pangan di Kutai Barat.

Melalui momentum ini, Bupati mengajak seluruh pihak untuk terus memperkuat kolaborasi dan semangat gotong royong dalam mewujudkan ketahanan pangan yang mandiri dan berkelanjutan, sejalan dengan visi Kutai Barat yang “Sejahtera, Aman, Adil, Merata, dan Beradat”.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Bupati Kutai Barat Nanang Adriani, Pimpinan Wilayah Perum Bulog Kanwil Kaltimtara Musazdin Said, Pj Sekretaris Daerah Kamius Junaidi, Ketua TP-PKK Maria Christina Mosez Edwin, unsur Forkopimda, kepala perangkat daerah, serta para camat, kepala kampung, dan lurah.

Pewarta: Ichal
Editor: Agus S

Bantuan Pangan Masif di Kubar, 16 Kecamatan Jadi Sasaran

0
Bupati Kutai Barat, Frederick Edwin didampingi Ketua TP-PKK Kutai Barat, Maria Christina Mosez Edwin saat menyerahkan bantuan pangan kepada masyarakat. (Ichal/MK)

SENDAWAR — Pemerintah Kabupaten Kutai Barat (Kubar) menyalurkan bantuan pangan kepada 17.599 penerima manfaat yang tersebar di 16 kecamatan, mencakup 160 kampung dan 4 kelurahan. Penyaluran dilakukan secara simbolis oleh Bupati Kutai Barat, Frederick Edwin, di Gedung Auditorium Aji Tulur Jejangkat (ATJ), Sabtu (4/4/2026).

Setiap penerima mendapatkan bantuan berupa 20 kilogram beras dan 4 liter minyak goreng dalam satu kali penyaluran untuk dua alokasi sekaligus. Program ini menjadi bagian dari langkah pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan serta daya beli masyarakat di tengah fluktuasi harga komoditas.

Dalam sambutannya, Bupati Frederick Edwin menegaskan bahwa bantuan tersebut merupakan wujud perhatian pemerintah pusat melalui Badan Pangan Nasional bersama Perum Bulog kepada masyarakat, khususnya keluarga prasejahtera.

“Program ini bagian dari upaya nasional menjaga stabilitas ketahanan pangan melalui pemanfaatan cadangan pangan pemerintah yang dikelola Perum Bulog,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah pusat atas dukungan yang diberikan kepada masyarakat Kutai Barat melalui program tersebut. Menurutnya, bantuan ini diharapkan mampu meringankan beban pengeluaran warga sekaligus menjaga stabilitas harga pangan di daerah.

Lebih lanjut, Bupati menegaskan bahwa program ini sejalan dengan Peraturan Presiden Nomor 125 Tahun 2022 tentang Penyelenggaraan Cadangan Pangan Pemerintah, yang bertujuan mengatasi kerawanan pangan, mengendalikan inflasi, serta melindungi masyarakat sebagai konsumen dan produsen.

Dalam pelaksanaannya, ia mengimbau para camat, lurah, dan petinggi kampung untuk aktif memastikan distribusi bantuan berjalan lancar, tepat sasaran, dan efisien.

Selain itu, masyarakat penerima manfaat juga diharapkan dapat memanfaatkan bantuan tersebut secara optimal. Bupati mendorong warga untuk mulai mengembangkan kemandirian pangan keluarga melalui pemanfaatan lahan dan pekarangan.

“Bantuan ini bukan hanya untuk konsumsi, tetapi juga menjadi stimulus agar masyarakat lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangannya,” tegasnya.

Program ini diharapkan menjadi salah satu langkah konkret dalam menjaga stabilitas ekonomi masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan pangan di Kutai Barat.

Pewarta: Ichal
Editor: Agus S

DPRD Kukar Soroti Dampak Pembatasan Produksi Tambang

0
Anggota Komisi II DPRD Kukar, Hendra. (Istimewa)

TENGGARONG — Ketidakpastian kebijakan sektor pertambangan di tingkat pusat mulai berdampak ke daerah. DPRD Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menyoroti potensi ancaman Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akibat belum jelasnya arah pembatasan produksi melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).

Anggota Komisi II DPRD Kukar, Hendra, menyebut hingga saat ini belum ada kepastian final terkait kebijakan RKAB perusahaan tambang yang menjadi acuan utama aktivitas produksi.

“Sejauh ini kita masih menunggu kepastiannya seperti apa. Karena persoalan PHK ini berkaitan dengan adanya batasan RKAB,” ujarnya, Minggu (5/4/2026).

Menurutnya, kebijakan pembatasan produksi tidak bisa dilepaskan dari dinamika global, khususnya fluktuasi harga energi seperti minyak dan batu bara. Kondisi tersebut turut memengaruhi langkah pemerintah pusat dalam menentukan volume produksi nasional.

Di tengah ketidakpastian itu, Hendra berharap pemerintah dapat mengambil kebijakan yang lebih adaptif agar dampak terhadap tenaga kerja dapat diminimalkan.

“Sehingga mungkin masalah RKAB ini bisa menyelesaikan atau menyelamatkan karyawan teman-teman kita di tambang,” katanya.

Ia menegaskan bahwa pekerja menjadi pihak paling rentan jika perusahaan melakukan efisiensi sebagai respons atas pembatasan produksi. Karena itu, DPRD Kukar terus memantau langkah-langkah yang diambil perusahaan di lapangan.

Selain itu, Hendra juga menyoroti perbedaan sinyal kebijakan dari pemerintah pusat. Pernyataan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia terkait penurunan RKAB masih menjadi perhatian, sementara Presiden Prabowo Subianto disebut membuka peluang peningkatan produksi mengikuti tren harga energi global.

Menurutnya, perbedaan arah tersebut menunjukkan bahwa kebijakan di tingkat pusat masih sangat dinamis dan perlu dicermati secara hati-hati oleh pemerintah daerah.

DPRD Kukar, lanjutnya, akan terus mengawal perkembangan kebijakan tersebut sekaligus menyiapkan langkah antisipatif guna melindungi tenaga kerja jika skenario terburuk benar-benar terjadi.

“Penting bagi pemerintah menyiapkan langkah strategis untuk melindungi tenaga kerja jika situasi ini berkembang ke arah yang tidak diharapkan,” pungkasnya.

Pewarta: Ady Wahyudi
Editor: Agus S

Dugaan Pungutan di Pusban Semayang, Operasional Jadi Alasan

0
Puskesmas Pembantu Desa Semayang, Kecamatan Kenohan, Kutai Kartanegara. (Ady/MKN)

TENGGARONG — Polemik dugaan pungutan biaya pelayanan kesehatan di Puskesmas Pembantu (Pusban) Desa Semayang, Kecamatan Kenohan, Kutai Kartanegara (Kukar), memicu klarifikasi dari pihak internal. Kepala Pusban, Ferawati, menegaskan tidak semua praktik yang dikeluhkan masyarakat berada dalam kendalinya, sekaligus mengungkap adanya kebutuhan operasional yang belum sepenuhnya terakomodasi sistem.

Keluhan warga sebelumnya mencuat terkait dugaan pungutan, mulai dari pembuatan surat rujukan hingga biaya pendampingan pasien, dengan nominal yang disebut mencapai Rp200 ribu.

Menanggapi hal itu, Ferawati menyatakan dirinya tidak memiliki kewenangan langsung dalam proses rujukan pasien.
“Kalau masalah rujukan belum bisa saya tanggapi dikarenakan bukan saya yang pegang,” ujarnya.

Meski demikian, ia mengakui adanya praktik pembayaran tertentu yang digunakan untuk kebutuhan operasional Pusban. Biaya tersebut, menurutnya, biasanya bersifat sukarela dan dimanfaatkan untuk keperluan dasar pelayanan.

“Kalau sepengetahuan saya memang ada yang membayar, tapi itu biasanya untuk kas pusban, seperti beli air minum, tisu, dan kebutuhan kecil lainnya,” jelasnya.

Terkait isu biaya pendampingan pasien hingga Rp200 ribu, Ferawati menegaskan bahwa sejak awal dirinya tidak pernah menetapkan pungutan secara sepihak. Namun, dalam kondisi tertentu, biaya tersebut bisa muncul melalui komunikasi antara petugas dan keluarga pasien.

Ia menjelaskan bahwa layanan Pusban bersifat mandiri dan tidak seluruhnya tercover oleh BPJS, khususnya dalam proses rujukan.
“BPJS tidak bisa diklaim dari pusban. Yang bisa diklaim itu kalau pasien masuk ke puskesmas. Jadi pusban ini mandiri,” katanya.

Menurutnya, biaya pendampingan lebih kepada kompensasi bagi tenaga kesehatan yang harus mengantar pasien ke fasilitas rujukan.
“Kalau ada biaya pendamping, itu biasanya dikomunikasikan dengan keluarga pasien,” tambahnya.

Ferawati juga mengungkap bahwa persoalan ini telah dilaporkan hingga ke tingkat puskesmas dan pimpinan, setelah adanya pengaduan dari keluarga pasien.

Namun, untuk dugaan pungutan lain seperti biaya kecil dalam proses rujukan, ia mengaku tidak mengetahui secara pasti dan menyarankan konfirmasi langsung kepada pihak terkait.

Ia menegaskan, keberadaan Pusban yang tidak memiliki sumber pemasukan tetap menjadi tantangan tersendiri dalam operasional pelayanan di lapangan.

“Pusban ini memang tidak ada pemasukan. Jadi kadang ada kebutuhan operasional yang harus ditutupi,” tutupnya.

Pewarta: Ady Wahyudi
Editor: Agus S

Mahulu Masih Terbatas Jaringan, DPRD Dorong Solusi Nyata

0
Ketua Komisi III DPRD Mahulu, Hendrikus Keling (tengah) bersama anggota DPRD, Diskominfostandi Mahulu, dan perwakilan Telkomsel Regional Kaltim usai pertemuan membahas jaringan internet wilayah perbatasan. (Istimewa)

UJOH BILANG — Komisi III DPRD Mahakam Ulu (Mahulu) bersama Dinas Komunikasi dan Informatika Persandian (Diskominfostandi) Mahulu melakukan kunjungan kerja ke Kantor Telkomsel Regional Kalimantan di Balikpapan, Rabu (1/4/2026). Kunjungan ini difokuskan untuk membahas kondisi jaringan telekomunikasi di wilayah perbatasan, khususnya Kecamatan Long Apari dan Long Pahangai.

Ketua Komisi III DPRD Mahulu, Hendrikus Keling, mengungkapkan bahwa saat ini terdapat 49 site BTS di wilayah Mahulu, terdiri dari 17 site reguler dan sisanya merupakan program Bakti di wilayah khusus (3T).

Namun, dari jumlah tersebut, baru sekitar 66 persen wilayah yang terjangkau jaringan. Sementara 34 persen lainnya masih mengalami keterbatasan bahkan blank spot.

“Keterbatasan jaringan ini berdampak langsung pada pelayanan dasar masyarakat, seperti kesehatan dan pendidikan,” ujarnya, Minggu (5/4/2026).

Ia menjelaskan, kendala utama jaringan di Mahulu adalah ketergantungan pada satelit yang menyebabkan koneksi tidak stabil. Selain itu, gangguan jaringan juga sering terjadi akibat putusnya kabel fiber optik serta pemanfaatan tower yang belum optimal.

Dalam pertemuan tersebut, Telkomsel menawarkan sejumlah solusi, di antaranya pemanfaatan internet desa serta penggunaan perangkat tambahan untuk memperkuat sinyal dengan kebutuhan daya listrik yang relatif rendah.

“Solusi ini diharapkan bisa diterapkan di wilayah yang sudah memiliki akses internet dasar,” jelasnya.

Hendrikus menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah, operator telekomunikasi, dan pihak terkait untuk mempercepat pemerataan jaringan.

“Harapannya ada perhatian serius dan langkah konkret dari Telkomsel untuk meningkatkan kualitas jaringan, khususnya di wilayah perbatasan Mahulu,” tegasnya.

Kunjungan kerja tersebut dipimpin langsung oleh Hendrikus Keling, didampingi Sekretaris Komisi III Martina Wau serta anggota Agustinus Tului dan Subhan Nor. Sementara dari pihak pemerintah daerah diwakili oleh jajaran Diskominfostandi Mahulu.

DPRD Mahulu berharap peningkatan akses komunikasi dapat segera terwujud agar masyarakat di wilayah perbatasan memperoleh layanan yang setara dengan daerah lainnya. (MK)

Pewarta: Ichal
Editor: Agus S

Kecelakaan Tunggal di Tanjung Laut, Korban Meninggal di Perjalanan Menuju Rumah Sakit

0
Kecelakaan Tunggal di Tanjung Laut, Korban Meninggal di Perjalanan Menuju Rumah Sakit
Kondisi motor korban setelah mengalami kecelakaan tunggal. (Ist).

BONTANG – Terjadi kecelakaan lalu lintas tunggal di Jalan Sultan Syahrir, Kelurahan Tanjung Laut, Kecamatan Bontang Selatan, Senin (6/4/2026) dini hari.

Dalam kecelakaan ini, seorang pria pengendara sepeda motor Honda mengalami luka cukup berat. Korban mengalami patah tulang lengan atas kiri (fraktur humerus), serta mengalami pendarahan hebat di bagian kepalanya.

“Untuk usianya sekitar umur 18-19 tahun,” ucap Hendra, salah satu relawan Tim TRC Indonesian Escorting Ambulance
(IEA) Bontang saat dikonfirmasi.

Korban diketahui merupakan warga Tanjung Laut, yang beralamat di sekitar kawasan dekat Cafe Singapore. Adanya kejadian tersebut, pihak relawan segera mengevakuasi korban, menggunakan ambulans PSC 119 Bontang, menuju IGD Rumah Sakit (RS) Amalia untuk mendapatkan penanganan medis.

Selama proses evakuasi berlangsung, kondisi korban dilaporkan kritis. Korban sempat mengalami sesak napas hingga harus diberikan bantuan oksigen, saat berada di dalam ambulans.

“Bahkan korban juga sempat tidak sadarkan diri, sebanyak dua kali dalam perjalanan hendak menuju RS”.

Meskipun korban telah mendapatkan penanganan dan respon cepat, akan tetapi nyawa korban tidak dapat diselamatkan dan dinyatakan telah meninggal dunia.

“Motornya mengalami rusak parah tepat di bagian depan, sekarang posisi motor korban dibawa ke Polres,” tambahnya.

Hingga saat ini, belum diketahui secara pasti penyebab kecelakaan tunggal tersebut. Sehingga pihak terkait, masih melakukan penanganan lebih lanjut di Tempat Kejadian Perkara (TKP).

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Desa Berdaya Tanjung Seloka, TJSL PLN Dorong Ekonomi dan Lingkungan Berkelanjutan

0
Edukasi simulasi penanganan kepiting kepada masyarakat Desa Tanjung Seloka. Kegiatan ini merupakan bagian dari pelatihan teknis budidaya untuk meningkatkan nilai jual.

KOTA BARU – Di balik pesisir laut Desa Tanjung Seloka, Kecamatan Pulau Laut Selatan, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, tersimpan cerita perubahan. Dahulu, para nelayan menggantungkan hidup sepenuhnya pada hasil tangkapan kepiting bakau dari alam. Ukuran yang kecil dan harga jual yang rendah membuat pendapatan sulit meningkat dan tidak menentu.

Kini, perlahan kondisi tersebut berubah. Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Kalimantan Bagian Timur (PLN UIP KLT) mendorong lahirnya inovasi ekonomi berbasis pesisir yang mampu mengubah pola usaha masyarakat dari sekadar menangkap menjadi membudidayakan secara berkelanjutan.

PLN UIP KLT tidak hanya berfokus pada pembangunan sistem ketenagalistrikan di wilayah Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara, tetapi juga memastikan bahwa setiap kehadiran infrastruktur yang dibangun memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Transformasi ini dimulai sejak tahun 2024 melalui Program Desa Berdaya, dengan kegiatan pemanfaatan Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) untuk membentuk terumbu karang buatan serta rumah ikan (Bioreef Block). Upaya ini tidak hanya berfungsi menjaga ekosistem laut, tetapi juga memperkuat fondasi sumber daya perikanan yang menjadi tumpuan hidup masyarakat pesisir.

Kemudian pada tahun 2025, program berlanjut dengan fokus pada penguatan ekonomi melalui pengembangan demplot budidaya kepiting soka dan penggemukan kepiting menggunakan metode Recirculating Aquaculture System (RAS). Pendekatan ini menjadi solusi atas rendahnya nilai jual kepiting hasil tangkapan, sekaligus membuka peluang usaha baru yang lebih stabil dan bernilai tambah.

Ketua Kelompok Nelayan “Seloka Crabs”, Irhamsyah, merasakan langsung perubahan tersebut. “Dulu kami hanya menjual kepiting apa adanya, ukurannya kecil dan harganya rendah. Sekarang, setelah dibudidayakan dan digemukkan, nilainya jauh lebih tinggi dan hasilnya lebih pasti,” ungkapnya.

Program ini dilaksanakan melalui pelatihan teknis, pendampingan intensif, serta penyediaan sarana budidaya. Masyarakat tidak hanya dikenalkan pada teknologi, tetapi juga dibekali kemampuan dalam pengelolaan usaha yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Hasilnya mulai terlihat, dengan total produksi mencapai sekitar 90 kilogram sepanjang tahun 2025, serta perkembangan produksi yang kini stabil di kisaran 30 kilogram per bulan.

Dampak program tidak berhenti pada peningkatan produksi. Kegiatan ini juga membuka peluang kerja, memperkuat kelembagaan kelompok nelayan, serta menumbuhkan minat masyarakat lain untuk ikut mengembangkan usaha serupa. Budidaya kepiting soka pun mulai menjadi salah satu alternatif sumber penghasilan yang menjanjikan di Desa Tanjung Seloka.

General Manager PLN UIP KLT, Basuki Widodo, menyampaikan bahwa melalui program TJSL, PLN tidak hanya berperan dalam menyediakan listrik, tetapi juga mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Potensi pesisir yang dimiliki Tanjung Seloka sangat besar, sehingga kami mengembangkan program yang mampu memberikan nilai ekonomi sekaligus tetap menjaga lingkungan,” ujarnya.

Ia menambahkan, keberhasilan program ini menunjukkan bahwa pemberdayaan yang tepat dapat mendorong kemandirian masyarakat secara berkelanjutan.

“Kami berharap inisiatif ini dapat terus berkembang, dimanfaatkan secara mandiri oleh masyarakat, dan menjadi penggerak ekonomi baru di wilayah pesisir,” tambahnya.

Selain berdampak pada ekonomi, program ini juga memberikan kontribusi terhadap pelestarian lingkungan. Penerapan metode RAS memungkinkan budidaya dilakukan secara lebih efisien tanpa menekan populasi kepiting di alam, sehingga keseimbangan ekosistem tetap terjaga.

Pada tahun 2026, PLN UIP KLT melanjutkan Program Desa Berdaya Tanjung Seloka dengan memperkuat pilar lingkungan dan ekonomi. Kegiatan yang dilaksanakan meliputi pelatihan dan penyuluhan lingkungan, penanaman pohon, serta dukungan alat produksi bagi UMKM untuk memperluas dampak ekonomi yang telah terbentuk.

Dari laut yang dulu penuh ketidakpastian, kini tumbuh harapan baru. Tanjung Seloka menjadi bukti bahwa ketika potensi lokal dikelola dengan pendekatan yang tepat, perubahan nyata dapat tercipta dan dirasakan langsung oleh masyarakat. (Bom)

Pemkot Bontang Uji Coba Parkir Non Tunai, Pembayaran Tunai Tetap Berlaku Selama Masa Transisi

0
Kepala DKUMPP Bontang, Eko Arisandi. (Syakurah)

BONTANG – Pemerintah Kota Bontang melakukan transformasi layanan parkir, yakni sistem parkir non tunai (e-money) di tiga pasar utama sejak 1 April 2026.

Kebijakan ini akan berlangsung hingga akhir Mei, sebagai bagian dari upaya digitalisasi layanan publik di sektor perdagangan, dan saat ini masih dalam tahap uji coba.

Selama masa uji coba, masyarakat tetap dapat menggunakan metode pembayaran tunai. Hal ini dilakukan untuk mengakomodasi pengunjung pasar yang belum terbiasa dengan sistem pembayaran digital.

Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian, dan Perdagangan (DKUMPP) Bontang, Eko Arisandi, menegaskan bahwa penerapan sistem non tunai dilakukan secara bertahap agar tidak membebani masyarakat.

“Pembayaran tunai tetap kami siapkan selama uji coba. Karena masyarakat masih ada yang belum familiar dengan sistem non tunai,” ujarnya, Jumat (3/4/2026).

Langkah bertahap ini bertujuan agar adanya adaptasi, terutama bagi kalangan yang belum terbiasa menggunakan teknologi digital dalam transaksi sehari-hari.

Untuk mendukung implementasi di lapangan, DKUMPP menyiagakan petugas di setiap lokasi pasar. Mereka bertugas membantu pengunjung sekaligus memberikan edukasi terkait penggunaan metode pembayaran non tunai.

Selain itu, pedagang yang telah melunasi retribusi lapak diberikan kartu akses parkir secara gratis guna menunjang aktivitas mereka di area pasar.

Dalam uji coba ini, tersedia berbagai pilihan pembayaran non tunai, seperti QRIS, kartu parkir berbasis tap, hingga dompet digital. Sistem ini diharapkan mampu meningkatkan transparansi dan efisiensi pengelolaan parkir.

Meski demikian, kebijakan tersebut mendapat beragam respons dari masyarakat. Sebagian pengunjung menyambut positif langkah digitalisasi ini, namun tetap berharap pembayaran tunai tidak dihapus sepenuhnya, terutama selama masa peralihan.

Pemkot memastikan akan melakukan evaluasi menyeluruh selama periode uji coba. Evaluasi ini mencakup efektivitas sistem, tingkat penerimaan masyarakat, hingga kendala teknis yang muncul di lapangan.

Hasil evaluasi tersebut nantinya akan menjadi dasar dalam menentukan kebijakan lanjutan terkait penerapan parkir non tunai secara permanen di Kota Bontang.

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Layanan Cuci Darah di Kutim Gratis dan Masih Bisa Banyak Tampung Pasien

0
Ilustrasi cuci darah. (Istimewa)

SANGATTA – Layanan cuci darah (hemodialisis) di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) dipastikan aman dan sepenuhnya ditanggung BPJS Kesehatan. Bahkan, kapasitas pelayanan di daerah ini masih longgar dan siap menampung lebih banyak pasien.

Kepala BPJS Kesehatan Kutim, Herman Prayudi, menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu lagi berobat ke luar daerah untuk mendapatkan layanan tersebut. Sebab, fasilitas di Kutim sudah memadai dan terstandarisasi.

“Cuci darah ditanggung BPJS. Di Kutim sudah tersedia di dua rumah sakit, dan keduanya sudah memenuhi standar serta lolos kredensial untuk melayani pasien JKN,” ujarnya, Minggu (5/4/2026).

Pelayanan hemodialisis saat ini tersedia di RSUD Kudungga dan RSUD Meloy. Keduanya telah bekerja sama dengan BPJS Kesehatan dan rutin dievaluasi setiap tahun untuk memastikan kualitas layanan tetap terjaga.

Herman mengungkapkan, hingga saat ini jumlah pasien cuci darah di Kutim relatif stabil. Pada triwulan pertama 2026, jumlahnya tidak mengalami peningkatan signifikan dibanding akhir 2025.

Namun demikian, kapasitas layanan masih belum terisi penuh. Di RSUD Meloy, misalnya, masih tersedia sekitar enam slot pasien per hari. Sementara di RSUD Kudungga, kapasitas bahkan lebih besar setelah adanya penambahan alat, dengan potensi tambahan hingga sekitar 10 pasien.

“Kami melihat masih ada slot yang bisa dimanfaatkan. Jangan sampai masyarakat tidak terinformasi, padahal fasilitasnya ada,” katanya.

Karena itu, BPJS Kesehatan mendorong warga Kutim yang selama ini menjalani cuci darah di luar daerah agar dapat kembali berobat di Sangatta.

Untuk memudahkan pasien dari wilayah jauh, pemerintah juga menyiapkan fasilitas rumah singgah yang berada di kawasan Sangatta Utara, tepatnya di sekitar kantor BPJS Kesehatan.

Rumah singgah ini diperuntukkan bagi pasien yang harus menempuh perjalanan jauh, seperti dari kecamatan pedalaman. Pasien dapat menginap sehari sebelum tindakan, lalu beristirahat setelah cuci darah sebelum kembali ke daerah asal.

“Kalau pasien dari jauh, bisa memanfaatkan rumah singgah. Jadi tidak perlu bolak-balik dalam kondisi lelah,” jelas Herman.

Selain layanan hemodialisis di rumah sakit, BPJS Kesehatan juga menanggung metode lain, yakni CAPD (Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis). Metode ini memungkinkan pasien melakukan cuci darah secara mandiri di rumah.

Melalui metode tersebut, perlengkapan medis akan dikirim langsung dari rumah sakit ke rumah pasien. Dengan begitu, pasien tidak perlu rutin datang ke rumah sakit seperti pada hemodialisis.

“CAPD juga ditanggung BPJS. Pasien bisa melakukan cuci darah sendiri di rumah dengan pendampingan tenaga medis,” pungkasnya.

Penulis: Ramlah
Editor: Yusva Alam

Pemkab Kutim Realisasikan Pembayaran Rp 9 Miliar Iuran BPJS

0
Ilustrasi. (AI).

SANGATTA – Komitmen Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) dalam menjamin layanan kesehatan warganya terus dijaga. Pada triwulan pertama 2026, Pemda Kutim telah merealisasikan pembayaran iuran BPJS Kesehatan dengan nilai mencapai sekitar Rp9 miliar.

Kepala BPJS Kesehatan Kutai Timur (Kutim), Herman Prayudi, memastikan pembayaran tersebut berjalan lancar tanpa kendala. Bahkan, hingga saat ini tidak ditemukan adanya tunggakan dari pemerintah daerah.

“Pembayaran triwulan pertama kurang lebih Rp9 miliar. Semua sudah sesuai rencana kerja, baik PBPU Pemda maupun bantuan iuran. Data juga tidak ada permasalahan,” ujar Herman saat dikonfirmasi, Minggu (5/4/2026).

Ia menjelaskan, kepastian pembayaran itu tidak lepas dari proses rekonsiliasi rutin yang dilakukan bersama pemerintah daerah. Selain itu, evaluasi juga digelar setiap bulan bersama Dinas Kesehatan untuk memastikan kebutuhan iuran tetap terpenuhi.

“Setiap bulan kami review bersama Dinkes untuk analisa kebutuhan. Jadi tidak ada potensi kekurangan iuran,” tegasnya.

Memasuki triwulan kedua, BPJS Kesehatan bersama Pemda kembali akan melakukan pembaruan data kepesertaan, entitas, serta perhitungan iuran. Hal ini dilakukan guna menjaga akurasi data sekaligus memastikan keberlanjutan program jaminan kesehatan.

Dari sisi kepesertaan, jumlah warga yang ditanggung Pemda Kutim tercatat sekitar 88 ribu jiwa hingga Maret 2026. Selain itu, terdapat sekitar 33 ribu jiwa yang masuk dalam program Jamkesprov dengan pembiayaan penuh dari pemerintah provinsi.

Sementara itu, sekitar 117 ribu jiwa lainnya merupakan peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) Jaminan Kesehatan yang ditanggung pemerintah pusat melalui Kementerian Sosial.

“Jadi ada tiga skema bantuan, dari Pemda, provinsi, dan pusat. Semua saling mendukung untuk menjamin masyarakat tetap mendapatkan layanan kesehatan,” jelas Herman.

Tak hanya soal iuran, BPJS Kesehatan juga memastikan layanan medis tetap berjalan optimal. Termasuk layanan hemodialisis atau cuci darah yang sudah dijamin dalam program JKN.

Di Kutai Timur, layanan tersebut saat ini tersedia di dua fasilitas kesehatan, yakni RSUD Kudungga dan RSUD Meloy. Keduanya telah bekerja sama dengan BPJS Kesehatan dan memenuhi standar pelayanan yang ditetapkan.

“Layanan cuci darah sudah dijamin BPJS dan tersedia di dua rumah sakit tersebut,” pungkasnya.

Penulis: Ramlah
Editor: Yusva Alam