Beranda blog Halaman 274

Layanan Cuci Darah di Kutim Gratis dan Masih Bisa Banyak Tampung Pasien

0
Ilustrasi cuci darah. (Istimewa)

SANGATTA – Layanan cuci darah (hemodialisis) di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) dipastikan aman dan sepenuhnya ditanggung BPJS Kesehatan. Bahkan, kapasitas pelayanan di daerah ini masih longgar dan siap menampung lebih banyak pasien.

Kepala BPJS Kesehatan Kutim, Herman Prayudi, menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu lagi berobat ke luar daerah untuk mendapatkan layanan tersebut. Sebab, fasilitas di Kutim sudah memadai dan terstandarisasi.

“Cuci darah ditanggung BPJS. Di Kutim sudah tersedia di dua rumah sakit, dan keduanya sudah memenuhi standar serta lolos kredensial untuk melayani pasien JKN,” ujarnya, Minggu (5/4/2026).

Pelayanan hemodialisis saat ini tersedia di RSUD Kudungga dan RSUD Meloy. Keduanya telah bekerja sama dengan BPJS Kesehatan dan rutin dievaluasi setiap tahun untuk memastikan kualitas layanan tetap terjaga.

Herman mengungkapkan, hingga saat ini jumlah pasien cuci darah di Kutim relatif stabil. Pada triwulan pertama 2026, jumlahnya tidak mengalami peningkatan signifikan dibanding akhir 2025.

Namun demikian, kapasitas layanan masih belum terisi penuh. Di RSUD Meloy, misalnya, masih tersedia sekitar enam slot pasien per hari. Sementara di RSUD Kudungga, kapasitas bahkan lebih besar setelah adanya penambahan alat, dengan potensi tambahan hingga sekitar 10 pasien.

“Kami melihat masih ada slot yang bisa dimanfaatkan. Jangan sampai masyarakat tidak terinformasi, padahal fasilitasnya ada,” katanya.

Karena itu, BPJS Kesehatan mendorong warga Kutim yang selama ini menjalani cuci darah di luar daerah agar dapat kembali berobat di Sangatta.

Untuk memudahkan pasien dari wilayah jauh, pemerintah juga menyiapkan fasilitas rumah singgah yang berada di kawasan Sangatta Utara, tepatnya di sekitar kantor BPJS Kesehatan.

Rumah singgah ini diperuntukkan bagi pasien yang harus menempuh perjalanan jauh, seperti dari kecamatan pedalaman. Pasien dapat menginap sehari sebelum tindakan, lalu beristirahat setelah cuci darah sebelum kembali ke daerah asal.

“Kalau pasien dari jauh, bisa memanfaatkan rumah singgah. Jadi tidak perlu bolak-balik dalam kondisi lelah,” jelas Herman.

Selain layanan hemodialisis di rumah sakit, BPJS Kesehatan juga menanggung metode lain, yakni CAPD (Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis). Metode ini memungkinkan pasien melakukan cuci darah secara mandiri di rumah.

Melalui metode tersebut, perlengkapan medis akan dikirim langsung dari rumah sakit ke rumah pasien. Dengan begitu, pasien tidak perlu rutin datang ke rumah sakit seperti pada hemodialisis.

“CAPD juga ditanggung BPJS. Pasien bisa melakukan cuci darah sendiri di rumah dengan pendampingan tenaga medis,” pungkasnya.

Penulis: Ramlah
Editor: Yusva Alam

Pemkab Kutim Realisasikan Pembayaran Rp 9 Miliar Iuran BPJS

0
Ilustrasi. (AI).

SANGATTA – Komitmen Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) dalam menjamin layanan kesehatan warganya terus dijaga. Pada triwulan pertama 2026, Pemda Kutim telah merealisasikan pembayaran iuran BPJS Kesehatan dengan nilai mencapai sekitar Rp9 miliar.

Kepala BPJS Kesehatan Kutai Timur (Kutim), Herman Prayudi, memastikan pembayaran tersebut berjalan lancar tanpa kendala. Bahkan, hingga saat ini tidak ditemukan adanya tunggakan dari pemerintah daerah.

“Pembayaran triwulan pertama kurang lebih Rp9 miliar. Semua sudah sesuai rencana kerja, baik PBPU Pemda maupun bantuan iuran. Data juga tidak ada permasalahan,” ujar Herman saat dikonfirmasi, Minggu (5/4/2026).

Ia menjelaskan, kepastian pembayaran itu tidak lepas dari proses rekonsiliasi rutin yang dilakukan bersama pemerintah daerah. Selain itu, evaluasi juga digelar setiap bulan bersama Dinas Kesehatan untuk memastikan kebutuhan iuran tetap terpenuhi.

“Setiap bulan kami review bersama Dinkes untuk analisa kebutuhan. Jadi tidak ada potensi kekurangan iuran,” tegasnya.

Memasuki triwulan kedua, BPJS Kesehatan bersama Pemda kembali akan melakukan pembaruan data kepesertaan, entitas, serta perhitungan iuran. Hal ini dilakukan guna menjaga akurasi data sekaligus memastikan keberlanjutan program jaminan kesehatan.

Dari sisi kepesertaan, jumlah warga yang ditanggung Pemda Kutim tercatat sekitar 88 ribu jiwa hingga Maret 2026. Selain itu, terdapat sekitar 33 ribu jiwa yang masuk dalam program Jamkesprov dengan pembiayaan penuh dari pemerintah provinsi.

Sementara itu, sekitar 117 ribu jiwa lainnya merupakan peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) Jaminan Kesehatan yang ditanggung pemerintah pusat melalui Kementerian Sosial.

“Jadi ada tiga skema bantuan, dari Pemda, provinsi, dan pusat. Semua saling mendukung untuk menjamin masyarakat tetap mendapatkan layanan kesehatan,” jelas Herman.

Tak hanya soal iuran, BPJS Kesehatan juga memastikan layanan medis tetap berjalan optimal. Termasuk layanan hemodialisis atau cuci darah yang sudah dijamin dalam program JKN.

Di Kutai Timur, layanan tersebut saat ini tersedia di dua fasilitas kesehatan, yakni RSUD Kudungga dan RSUD Meloy. Keduanya telah bekerja sama dengan BPJS Kesehatan dan memenuhi standar pelayanan yang ditetapkan.

“Layanan cuci darah sudah dijamin BPJS dan tersedia di dua rumah sakit tersebut,” pungkasnya.

Penulis: Ramlah
Editor: Yusva Alam

Disdikbud Intervensi Kasus Anak Putus Sekolah, Kini Siap Kembali ke Bangku SD

0
Kepala Disdikbud Bontang, Abdu Safa Muha. (Syakurah)

BONTANG – Upaya Pemerintah Kota Bontang dalam menangani anak putus sekolah membuahkan hasil. Seorang anak di Kelurahan Bontang Lestari yang sebelumnya tidak melanjutkan pendidikan, dipastikan kembali masuk sekolah dasar mulai pekan depan.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Bontang turun langsung melakukan penanganan melalui asesmen dan pendampingan keluarga. Hasilnya, anak tersebut akan mulai bersekolah di SD Negeri 007 Bontang Selatan pada Senin (6/4/2026).

Kepala Disdikbud Bontang, Abdu Safa Muha, menjelaskan bahwa proses pengembalian anak ke dunia pendidikan tidak dilakukan secara instan. Pemerintah terlebih dahulu menilai kesiapan anak, baik dari sisi akademik maupun psikologi

“Yang terpenting bukan hanya kembali sekolah, tapi bagaimana anak ini bisa mengikuti pelajaran dengan nyaman,” ujarnya

Dalam proses tersebut, Disdikbud memberikan dua pilihan kepada orang tua, yakni pendidikan formal atau nonformal. Setelah melalui pertimbangan, keluarga akhirnya memilih jalur sekolah formal.

Meski secara usia sudah seharusnya berada di tingkat lebih tinggi, anak tersebut akan ditempatkan di kelas III. Keputusan itu diambil berdasarkan hasil evaluasi kemampuan belajar anak.

Abdu Safa menegaskan, penyesuaian ini penting agar anak tidak mengalami tekanan saat kembali belajar.

“Kalau dipaksakan langsung ke kelas sesuai usia yakni kelas V, dikhawatirkan justru membuat anak tertinggal dan tidak percaya diri,” katanya.

Diketahui, anak tersebut sempat berhenti sekolah setelah tidak naik kelas selama dua tahun dan mengalami kesulitan membaca. Kondisi ini terungkap setelah Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, melakukan asesmen langsung terhadap kasus anak putus sekolah.

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Harga Plastik di Bontang Naik Signifikan Pasca Lebaran, Pedagang Kecil Mulai Tertekan

0
Ilustrasi. (Ist).

BONTANG – Harga berbagai jenis plastik di wilayah Kota Bontang mengalami kenaikan signifikan sejak awal April 2026, tepatnya pasca perayaan Lebaran.

Kenaikan ini mencapai kisaran Rp 5 ribu hingga Rp 10 ribu per pack untuk sejumlah produk seperti kantong plastik, gelas plastik, sedotan, hingga plastik sampah.

Kondisi tersebut tidak hanya pada lonjakan harga saja, akan tetapi juga memicu kelangkaan stok di tingkat agen dan distributor. Akibatnya, para pedagang kecil mulai merasakan tekanan, baik dari sisi ketersediaan barang maupun penurunan keuntungan.

Yani, salah satu pedagang plastik mengungkapkan bahwa harga plastik yang sebelumnya berada di kisaran Rp 10 ribu hingga Rp 15 ribu per pack, kini melonjak naik menjadi Rp 15 ribu sampai Rp 25 ribu per pack-nya.

Terlebih lagi, untuk jenis tertentu seperti plastik Polyethylene (PE) dengan jenis termoplastik serbaguna yang fleksibel, tahan air, dan tahan lama, yang terbuat dari polimerisasi etilena kenaikan terjadi cukup drastis yang awalnya hanya sekitar Rp 25 ribu, kini naik menjadi Rp 55 ribu per pack.

“Kalau untuk jenis thinwall juga ikut naik, sekitar Rp 5 ribu per pack-nya. Jadi, semua jenis plastik untuk saat ini mengalami kenaikan harga,” ucapnya, Minggu (5/4/2026).

Selain kenaikan harga, pembelian di tingkat agen juga mulai dibatasi. Pedagang hanya diperbolehkan membeli sekitar 2 hingga 3 dus saja, sehingga stok di tingkat pengecer menjadi sangat terbatas.

Hal ini memaksa pedagang untuk lebih selektif dalam menjual serta mengurangi jumlah persediaan. Bahkan dampak lanjutan dari kondisi ini adalah menipisnya keuntungan untuk pedagang kecil.

“Adanya kenaikan harga plastik, kami pun mulai membatasi kantongan bagi pembeli. Ada standarnya di setiap pembelian seperti diatas Rp 30 ribu, maka nantinya akan kami berikan kantongan plastik,” paparnya.

Para pelaku usaha berharap kondisi ini tidak berlangsung lama dan harga plastik dapat kembali stabil. Mereka khawatir, jika kenaikan terus berlanjut, akan semakin membebani usaha kecil yang bergantung pada penggunaan plastik dalam aktivitas sehari-hari.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Polres Bontang Amankan Pria Diduga Pengedar Sabu, Sita Barang Bukti Seberat 10,38 Gram

0
Barang bukti yang berhasil diamankan. (Ist).

BONTANG – Satresnarkoba Polres Bontang kembali mengungkap kasus dugaan peredaran narkotika, di wilayah Bontang Selatan. Seorang pria berinisial S (34), berhasil diamankan pihak kepolisian, Sabtu (4/4/2026), sekitar pukul 18.20 Wita. Pria tersebut diketahui salah satu warga di Kelurahan Berbas Pantai, Kecamatan Bontang Selatan.

Penangkapan pelaku berawal dari laporan masyarakat terkait maraknya aktivitas transaksi narkotika di kawasan Jalan Diponegoro, Berbas Pantai. Menindaklanjuti informasi tersebut, Unit II Satresnarkoba Polres Bontang langsung bergerak cepat, untuk melakukan penyelidikan dan pemantauan di lokasi tersebut.

Sekitar pukul 17.40 Wita, petugas mencurigai gerak-gerik seseorang di kawasan tersebut. Setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, ternyata petugas tepat sasaran, dimana berhasil mengamankan orang yang bersangkutan.

“Dari hasil pemeriksaan awal, petugas menemukan percakapan di handphone miliknya, yang mengarah pada transaksi narkotika jenis sabu,” jelas Kasat Resnarkoba, Iptu Larto.

Adapun dari hasil interogasi, tersangka mengakui menyimpan barang bukti sabu di sebuah rumah yang berada di Jalan Raden Patah, RT.01, Kelurahan Berbas Pantai. Sehingga petugas langsung membawa tersangka, ke lokasi yang dimaksud oleh pelaku.

Saat dilakukan penggeledahan di sebuah gudang di depan rumah yang dimaksud, petugas menemukan satu plastik hitam yang dilakban cokelat. Setelah dibuka, ternyata di dalamnya terdapat tiga bungkus plastik bening berisi kristal putih yang diduga sabu, dengan berat bruto 10,38 gram, yang dibungkus tisu putih.

“Kami juga mengamankan barang bukti lainnya yang berupa satu unit handphone, serta beberapa perlengkapan pembungkus,” tambahnya.

Secara langsung tersangka mengakui bahwa seluruh barang bukti yang diamankan tersebut adalah miliknya. Selanjutnya, tersangka beserta barang bukti diamankan ke Mapolres Bontang, guna menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Kini pelaku akan dijerat Pasal 114 Ayat (2) Jo UURI Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP Jo UU RI Nomor 1 tahun 2026 Tentang Penyesuaian Pidana, Atau Pasal 609 Ayat (2) huruf a UU RI Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP Jo UU RI Nomor 1 tahun 2026 Tentang Penyesuaian Pidana.

“Saat ini kami juga masih melakukan pengembangan, untuk mengungkap kemungkinan jaringan peredaran narkotika yang lebih luas,” pungkasnya.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Kepergian Maming, dari Tambang ke Parlemen

0
Saya (kiri), Maming (paling kanan), dan Wakil Wali Kota (baju putih) saat diskusi di sela Rapat Paripurna, 25 Agustus 2025. Itu menjadi pertemuan terakhir saya bersama Maming. Foto: Istimewa

Minggu (5/4) subuh hari ini, saya baru membuka ponsel. Kabar itu sudah ada sejak malam tadi. Berita duka wafatnya Maming, Wakil Ketua II DPRD Bontang. Saya tertinggal informasi ini karena semalam tidur lebih cepat dari biasanya dan tidak melihat laporan wartawan di grup redaksi Mediakaltim.com. Padahal, berita tersebut sudah tayang di kanal Media Kaltim dan Radar Bontang.

Saya belum bisa langsung datang melayat pagi ini karena masih berada di Kota Malang, Jawa Timur. Namun ingatan saya langsung ke Bontang. Teringat interaksi yang pernah saya lakukan bersama almarhum.

Terakhir saya bertemu almarhum pada 25 Agustus 2025. Saat itu, rapat paripurna DPRD berlangsung di Gedung 3 Dimensi. Kondisinya terlihat sehat. Kami sempat berdiskusi ringan tentang banyak hal, mulai dari dinamika politik hingga kondisi daerah. Tidak ada tanda bahwa itu akan menjadi pertemuan terakhir.

Saya mengenal Maming jauh sebelum ia terjun ke dunia politik, saat masih bekerja di PT Indominco Mandiri. Ia memulai dari bawah, dari petugas keamanan, lalu naik menjadi kepala keamanan hingga akhirnya dipercaya di bagian eksternal sebagai Head of External Relations, yang banyak berhubungan langsung dengan masyarakat, pemerintah, hingga media. Semua dijalani bertahap.

Setelah keluar dari dunia tambang, ia masuk ke politik melalui Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Dari situ, ia membangun posisi hingga dipercaya memimpin PDIP Bontang, dan kemudian terpilih menjadi anggota DPRD.

Dalam banyak kesempatan, ia lebih sering berbicara soal penguatan SDM, pendidikan, dan tenaga kerja. Itu sejalan dengan latar belakangnya yang memulai dari bawah.

Almarhum lahir pada 8 Januari 1967 di Bone, Sulawesi Selatan, dan meninggal dunia dalam usia 59 tahun. Ia dikenal sebagai sosok yang tidak banyak membuka kehidupan pribadinya ke publik.

Beberapa tahun lalu, saya sempat mendengar kondisinya menurun karena masalah kesehatan. Namun ia kembali bangkit, kembali aktif, dan tetap bekerja. Itu yang saya lihat terakhir—masih kuat dan tetap menjalankan perannya.

Sabtu malam, kabar itu datang. Almarhum meninggal dunia sekitar pukul 22.15 Wita di RSUD Taman Husada. Ia memiliki riwayat penyakit jantung yang sudah lama diderita. Sempat dilakukan dua kali tindakan resusitasi, namun tidak tertolong.

Ketua DPRD Bontang, Andi Faizal Sofyan Hasdam, membenarkan hal tersebut.
“Iya benar,” ujarnya singkat.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Bontang, Siti Yara, menyebut almarhum memiliki riwayat penyakit jantung.
“Saya juga baru saja mendapatkan kabar. Meninggalnya karena sakit jantung. Sudah sempat pemasangan ring di jantungnya,” ujarnya.

Sejak malam hingga dini hari, rumah duka di Tanjung Laut dipadati pelayat. Rekan-rekan anggota DPRD, pejabat daerah, hingga masyarakat datang memberikan penghormatan terakhir.

Saya memahami satu hal. Maming tidak banyak membuka kehidupan pribadinya ke publik. Saya lebih mengenalnya dari kerja dan perannya sebagai wakil rakyat.

Yang ditinggalkan adalah perjalanan hidupnya. Dari dunia tambang, memulai dari bawah, hingga duduk di kursi pimpinan DPRD Bontang. Semua dijalani bertahap.

Kepergiannya tentu menjadi kehilangan, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi DPRD Bontang, PDIP, dan rekan-rekan yang pernah bekerja bersamanya.

Bagi saya pribadi, ini kehilangan sosok yang saya kenal cukup lama. Tidak selalu dekat, tetapi saya tahu bagaimana ia bekerja dan menjalani prosesnya.

Selamat jalan, Pak Maming.

Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.

160 Pokir Dipertahankan, DPRD Kaltim Kritik Arah Kebijakan Pemprov

0
Akhmed Reza Fachlevi, Wakil Ketua Komisi III DPRD Provinsi Kaltim saat diwawancarai di Gedung B, Komplek DPRD, Samarinda. (K. Irul Umam/Media Kaltim)

SAMARINDA — Polemik antara DPRD Kalimantan Timur (Kaltim) dan pemerintah provinsi terkait kamus usulan pokok-pokok pikiran (pokir) kian memanas. DPRD tetap bersikukuh mempertahankan 160 usulan hasil pembahasan Panitia Khusus, sementara Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) mengarah pada penyederhanaan hingga hanya sekitar 25 kegiatan.

Wakil Ketua Komisi III DPRD Kaltim, Akhmed Reza Fachlevi, menegaskan bahwa pokir merupakan representasi langsung aspirasi masyarakat yang dikumpulkan melalui reses, kunjungan daerah pemilihan, hingga rapat dengar pendapat.

“Ini pokir dewan. Aspirasi masyarakat yang kami kawal. Masa arahnya harus mengikuti program unggulan gubernur,” ujarnya, Sabtu (4/4/2026).

Menurut Reza, pendekatan yang dilakukan eksekutif berpotensi menempatkan DPRD sebagai pelaksana agenda politik kepala daerah. Padahal, pokir merupakan hasil kerja politik legislatif yang memiliki mandat berbeda.

Ia menegaskan bahwa program unggulan gubernur seharusnya dijalankan melalui jalur eksekutif, bukan dengan membatasi ruang aspirasi DPRD.

“Dalam hal ini gubernur tidak boleh mendiskreditkan dewan dan mencederai hak politik perjuangan dewan,” tegasnya.

Reza juga mengingatkan bahwa secara regulasi, posisi DPRD dalam perencanaan pembangunan telah diatur dalam Permendagri Nomor 86 Tahun 2017. Dalam aturan tersebut, DPRD memiliki kewenangan mengusulkan pokir secara mandiri selama tetap selaras dengan RPJMD dan kemampuan fiskal daerah.

“Tidak ada pembatasan kamus usulan. Sinkronisasi itu bukan berarti menyeragamkan seluruh kebijakan,” katanya.

Situasi semakin mendesak karena batas waktu penginputan pokir ke dalam Sistem Informasi Pemerintahan Daerah (SIPD) semakin dekat. Jika usulan tidak dimasukkan sesuai tenggat, seluruh pokir berpotensi gugur secara sistem.

“Kalau tidak diinput, aspirasi masyarakat ini bisa hilang. Bukan karena aturan, tapi karena dihambat,” pungkasnya.

DPRD Kaltim berharap komunikasi dengan pihak eksekutif segera menemukan titik temu agar seluruh aspirasi masyarakat tetap terakomodasi dalam perencanaan pembangunan daerah. (MK)

Pewarta: K. Irul Umam
Editor: Agus S

Miliki Riwayat Penyakit Jantung, Wakil Ketua DPRD Bontang Tutup Usia di RSUD Taman Husada

0
Kediaman rumah duka. (Dwi S).

BONTANG – Wakil Ketua DPRD Bontang, Maming, meninggal dunia setelah menjalani perawatan di RSUD Taman Husada, Sabtu (4/4/2026) malam. Almarhum menghembuskan nafas terakhir sekitar pukul 22.15 Wita, akibat penyakit jantung yang telah lama dideritanya.

Pihak keluarga, melalui anak menantu almarhum mengungkapkan bahwa riwayat penyakit jantung tersebut sudah dialami sejak lama, bahkan saat almarhum masih aktif bekerja di sektor pertambangan. Saat itu, almarhum sempat mengalami serangan jantung dan menjalani pemasangan ring sebagai tindakan medis.

“Untuk penyakitnya memang sudah lama. Dulu waktu masih aktif di tambang, bahkan pas sudah kena serangan jantung, bapak juga sudah dipasangkan ring di jantungnya,” ucapnya saat ditemui.

Sebelumnya, tepat di hari Sabtu siang, kondisi almarhum menurun di sekitar pukul 12.30 Wita usai salat dzuhur, sehingga langsung dilarikan ke Rumah Sakit Amalia. Namun, karena keterbatasan dokter spesialis jantung di rumah sakit tersebut, almarhum kemudian dirujuk ke RSUD Taman Husada, sekitar pukul 17.00 Wita.

Meski sempat mendapatkan penanganan intensif, termasuk dua kali tindakan Resusitasi Jantung Paru (RJP), nyawa almarhum tidak dapat diselamatkan.

“Dokter menyampaikan bahwa bapak meninggal sekitar jam 22.15 wita. Sempat dua kali RJP, tapi saat pemeriksaan pupil mata, ternyata sudah tidak merespon dan langsung dinyatakan meninggal,” tambahnya.

Diketahui, sebelum terjun ke dunia politik, almarhum memiliki perjalanan karier panjang di perusahaan tambang, yakni di Indominco. Ia memulai dari posisi sebagai petugas keamanan, kemudian naik menjadi kepala keamanan, hingga bagian eksternal sebelum akhirnya pensiun dini.

Di karir politiknya pun terbilang mentereng. Almarhum telah menjabat sebagai Anggota DPRD Bontang, selama dua periode dan dikenal sebagai sosok pekerja keras yang merintis karir dari bawah.

“Biasanya bapak kalau kontrol ke AWS Samarinda, kadang juga ke RSUD kalau jadwal di RSUD tidak penuh,” paparnya.

Rencananya, almarhum akan dimakamkan Minggu (5/4/2026), usai salat dzuhur di kawasan Pisangan. Sebelum pemakaman, akan dilakukan rangkaian pelepasan dari PDI Perjuangan Bontang, setelah proses pengkafanan dan salat jenazah selesai.

Kepergian almarhum meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, rekan kerja, serta masyarakat Kota Bontang.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Belasungkawa, Anggota Dewan Berbondong-bondong Melayat ke Kediaman Almarhum Maming

0
Suasana di kediaman rumah duka, almarhum Maming di Tanjung Laut. (Dwi S).

BONTANG – Kabar duka datang dari Wakil Ketua DPRD Bontang, Maming, dimana almarhum meninggal dunia Sabtu (4/4/2026) malam. Kepergian almarhum sontak mengundang duka yang mendalam dari berbagai kalangan, baik pejabat daerah maupun masyarakat.

Sejak adanya kabar wafat almarhum tersebar, di kediaman almarhum langsung dipenuhi ratusan pelayat yang datang untuk memberikan penghormatan terakhir.

Terpantau di lokasi, sejumlah anggota DPRD Bontang turut hadir, di antaranya Wakil Ketua DPRD Bontang, Siti Yara, Ketua Komisi A, Heri Keswanto, Ketua Komisi C, Alfin Rausan Rifky, serta anggota dewan lainnya seperti Winardi, Sarful Rizal, Joni Alla Padang, Sumardi, hingga Muhammad Irfan.

Saat ditemui di kediaman almarhum, Wakil Ketua DPRD Bontang, Siti Yara, mengaku dirinya baru saja menerima kabar terkait meninggalnya almarhum Maming, dan langsung bergegas menuju rumah duka.

“Saya juga baru saja mendapatkan kabar. Meninggalnya karena sakit jantung. Sudah sempat pemasangan ring di jantungnya, banyak. Tapi lebih baik, coba untuk konfirmasi ke pihak keluarganya saja,” ujarnya.

Dari informasi yang dihimpun, almarhum memang memiliki riwayat penyakit jantung, bahkan sebelumnya almarhum telah menjalani tindakan medis berupa pemasangan ring di jantungnya.

Hingga saat ini, suasana di rumah duka masih dipadati pelayat yang terus berdatangan, baik dari kalangan pejabat, kolega, maupun masyarakat yang ingin memberikan doa dan penghormatan terakhir kepada almarhum.

Kepergian Maming menjadi kehilangan besar bagi DPRD Bontang dan masyarakat luas, mengingat dedikasinya selama menjabat sebagai wakil rakyat.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Kabar Duka! Wakil Ketua DPRD Bontang, Maming Meninggal Dunia

0
Kabar Duka! Wakil Ketua DPRD Bontang, Maming Meninggal Dunia
Wakil Ketua DPRD Kota Bontang, Maming. (Ist).

BONTANG – Kabar duka datang dari dunia politik Kota Bontang. Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bontang, Maming, dikabarkan meninggal dunia, Sabtu (4/4/2026).

Informasi wafatnya Maming dengan cepat menyebar di kalangan pejabat wilayah Bontang hingga masyarakat. Sejumlah pejabat, salah satunya Ketua DPRD Bontang, Andi Faizal Sofyan Hasdam membenarkan hal tersebut.

“Iya benar kabar meninggalnya H. Maming,” ucapnya saat dihubungi.

Hingga berita ini diturunkan, belum diperoleh keterangan resmi terkait penyebab meninggalnya almarhum, maupun jadwal prosesi pemakaman.

Suasana di rumah duka pun saat ini, tepatnya di pukul 23.21 Wita, telah dipenuhi pelayat, termasuk para jajaran anggota DPRD Bontang dan masyarakat sekitar.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam