Tahun Kuda Api jadi simbol semangat keberlanjutan IKN. Momentum itu dirayakan dengan penampilan barongsai di salah satu sudut KIPP IKN. (Istimewa)
NUSANTARA – Perayaan Imlek 2577 Kongzili di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) Ibu Kota Nusantara (IKN) berlangsung semarak, Selasa (17/2/2026). Di sudut jalan berbagi, tepat di seberang Tower Kemenko 2, masyarakat disuguhkan pentas seni hingga atraksi barongsai dalam rangkaian acara bertajuk “Opening Nusantara Park di IKN”.
Sejak sore, area tersebut dipadati warga yang ingin menyaksikan langsung kemeriahan perayaan Tahun Kuda Api. Tabuhan tambur yang mengiringi barongsai membuat suasana semakin hidup. Gemerlap lampion dan tata cahaya menambah kesan hangat sekaligus meriah di tengah kawasan pemerintahan yang tengah berkembang.
1 dari 4
“Rame. Keren banget. Makin menghadirkan suka cita Imlek,” tutur Gusti, warga Kecamatan Sepaku, yang hadir bersama keluarganya.
Tak hanya barongsai, panggung seni juga diisi kolaborasi budaya. Sanggar Bawe Regok Sepaku turut ambil bagian dengan menampilkan tari Tionghoa yang dipadukan dengan unsur tari Dayak. Perpaduan dua budaya itu menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.
Nixhe Cristy dari Sanggar Bawe Regok menyampaikan apresiasinya atas undangan panitia. Ia menyebut tarian yang dibawakan telah disesuaikan dengan konsep perayaan tahun baru Imlek di IKN.
“Kami terima kasih sudah mengundang kami. Tari yang dibawakan sesuai permintaan panitia perayaan tahun baru Imlek,” ujarnya.
Tahun Kuda Api dalam kalender Tionghoa 2026 diyakini membawa energi keberanian, semangat menyala, dan dorongan untuk terus bergerak maju. Makna itu dinilai selaras dengan proses pembangunan dan pertumbuhan ekosistem di Ibu Kota Nusantara.
Perayaan Imlek di sudut KIPP IKN ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga simbol keberagaman dan harmoni yang ingin dibangun di kota masa depan Indonesia.
NUSANTARA – Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) memastikan Masjid Negara IKN siap menyambut Ramadan 1447 Hijriah. Bahkan, sekitar 700 jemaah telah menyatakan minat untuk mengikuti salat tarawih perdana di masjid tersebut.
Kepala OIKN Basuki Hadimuljono menyampaikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan rukyatul hilal yang untuk pertama kalinya digelar di IKN. Ia menyebut Otorita merasa terhormat karena IKN menjadi salah satu dari 96 titik pemantauan hilal di Indonesia.
“Iya, saya kira kami dari Otorita sangat mendukung sekali untuk dilaksanakan pengamatan bulan di IKN ini. Merasa terhormat sekali IKN jadi salah satu titik pengamatan dari 96 titik pengamatan di Indonesia,” tegas Basuki di Tower D Rusun ASN 1 IKN, Selasa (17/2/2026), saat menghadiri rukyatul hilal.
Basuki mengungkapkan, dua hari sebelumnya ia telah bertemu dengan Menteri Agama Nasaruddin Umar di Jakarta. Menurutnya, keberadaan Masjid Negara IKN yang kini sudah difungsikan menjadi salah satu alasan pelaksanaan kegiatan keagamaan dipusatkan di kawasan tersebut.
“Kalau tadi pertanyaannya kenapa datang ke sini, pertama memang ada Masjid Raya Negara yang sekarang sedang berfungsi. Nanti tanggal 2 Ramadan, bapak menteri akan hadir ke sini. Jadi merupakan satu kehormatan bagi Otorita,” jelas mantan Menteri PUPR itu.
Terkait kesiapan menyambut Ramadan, Basuki memastikan seluruh sarana dan prasarana telah dicek langsung. Ia menyebut Otorita akan menggelar bazar Ramadan di sekitar masjid untuk mendukung aktivitas masyarakat.
“Saya juga sudah checking terakhir. Kami akan bikin bazar Ramadan supaya ada kedai untuk takjil. Kami akan siapkan juga takjil setiap hari selama Ramadan dan mungkin buka bersama seminggu sekali,” ujarnya.
Basuki juga menegaskan, tata kelola Masjid Negara IKN berada di bawah pengelolaan Masjid Istiqlal Jakarta. Imam besar yang memimpin juga merupakan Imam Besar Masjid Istiqlal. Termasuk dalam hal penentuan tema ceramah dan penunjukan dai.
Otorita, lanjutnya, hanya bertugas menyiapkan prasarana dan mendukung seluruh kebutuhan teknis pelaksanaan ibadah.
Untuk pelaksanaan tarawih perdana, sekitar 700 orang telah menyatakan minat hadir melalui pemantauan daring.
“Karena ini pertama, kita juga selalu memonitor dari online. Sekarang ini ada kira-kira interest 700 orang yang akan hadir. Karena kami harus menyiapkan takjilnya kan supaya jangan membazir, supaya jangan kurang,” tutup Basuki.
BONTANG – Kementerian Agama Republik Indonesia resmi menetapkan 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Keputusan tersebut diumumkan usai pelaksanaan sidang isbat yang digelar di pusat, Selasa (17/2/2026).
Menindaklanjuti penetapan tersebut, Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Bontang memastikan akan mengikuti sepenuhnya keputusan pemerintah.
Kepala Kemenag Bontang, Muhammad Hamzah, mengatakan pihaknya sebelumnya memang masih menunggu hasil sidang isbat dari pusat. Setelah keputusan resmi diumumkan, masyarakat diminta mempersiapkan diri menyambut Bulan Suci Ramadan.
“Alhamdulillah sudah ada keputusan resmi. Awal puasa ditetapkan pada 19 Februari 2026. Kami di daerah tentu mengikuti dan akan segera sosialisasikan kepada masyarakat,” ujarnya.
Ia juga mengimbau umat Islam di Kota Bontang untuk menjaga kebersamaan dan menghormati perbedaan yang mungkin ada dalam penetapan awal Ramadan.
“Selanjutnya umat muslim dipersilahkan menjalankan ibadah puasa dan tidak lupa untuk menunaikan zakat,” tuturnya.
Korban terkaman buaya masih dalam perawatan medis di RS Elisabeth. (Ist)
SANGATTA – Seorang bocah berusia 10 tahun diterkam buaya saat berenang di halaman rumah yang tergenang banjir, Selasa (17/2/2026) sekitar pukul 13.00 WITA.
Insiden itu terjadi di rumah Ernawati (65), di Jalan Mulawarman RT 002 RW 001 Nomor 14, Desa Sepaso Barat. Kejadian mencekam tersebut tak hanya melukai sang bocah, tetapi juga Ernawati yang nekat turun ke air untuk menyelamatkan korban dari gigitan buaya.
Kapolsek Bengalon AKP Asriadi membenarkan kejadian tersebut. Korban diketahui berinisial FA (10), pelajar kelas 4 SD asal Desa Suka Rahmat, Kecamatan Teluk Pandan.
Menurut keterangan polisi, saat peristiwa terjadi, korban tengah bermain bersama tiga anak lainnya di halaman rumah yang telah tergenang banjir. Namun, FA berenang lebih ke tengah, sementara anak-anak lain hanya bermain di pinggir genangan.
“Sekitar pukul 13.00 WITA korban berenang sendiri di depan halaman rumah, sementara anak-anak lain bermain di pinggir air. Tiba-tiba seekor buaya muncul dan langsung menerkam korban,” ungkap AKP Asriadi saat dikonfirmasi.
Teriakan korban langsung mengundang perhatian Ernawati. Ia bergegas keluar rumah dan mendapati FA sudah berada dalam gigitan buaya. Tanpa pikir panjang, Ernawati turun ke air dan menarik korban ke tepi rumah.
Aksi nekat itu sempat berhasil membuat korban terlepas. Namun buaya kembali menyerang dan menggigit korban sekali lagi. Dalam upaya penyelamatan tersebut, Ernawati ikut menjadi korban setelah tangan kanannya terkena gigitan buaya.
Melihat kondisi semakin berbahaya, seorang warga bernama Fatmawati (44) datang membantu. Ia memukul buaya menggunakan alat seadanya hingga satwa tersebut akhirnya melepaskan kedua korban.
“Berkat bantuan warga, korban berhasil dilepaskan dari gigitan buaya dan segera dilarikan ke Rumah Sakit Elisabeth untuk mendapatkan pertolongan pertama,” jelas Asriadi.
Akibat serangan tersebut, FA mengalami luka robek pada bagian kaki kanan. Sementara Ernawati mengalami luka gigitan pada tangan kanan. Keduanya dilaporkan selamat dan masih menjalani perawatan medis.
Pihak kepolisian yang menerima laporan langsung mendatangi tempat kejadian perkara (TKP), meminta keterangan saksi, serta melakukan pendataan korban. Kapolsek Bengalon juga menyampaikan pihaknya telah berkoordinasi dengan instansi terkait guna langkah penanganan lanjutan.
Ia mengingatkan masyarakat agar lebih waspada, terutama saat banjir, karena kondisi tersebut sering memicu satwa liar seperti buaya masuk ke kawasan permukiman.
AKP Asriadi juga mengimbau warga agar tidak beraktivitas di genangan banjir, terutama anak-anak, karena berisiko memancing kemunculan satwa liar. “Kami minta masyarakat lebih waspada. Jangan biarkan anak-anak bermain atau berenang di genangan banjir, karena buaya bisa muncul kapan saja,” pungkasnya.
Kondisi TPU Lempake Loktuan Bontang jelang Bulan Ramadan. (Syakurah)
BONTANG – Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, suasana di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Lempake, Kelurahan Loktuan, Kota Bontang, tampak berbeda dari hari biasanya. Sejak pagi, area pemakaman mulai ramai oleh warga yang datang untuk berziarah, membersihkan makam, serta memanjatkan doa bagi keluarga yang telah berpulang.
Peziarah terlihat membawa sapu lidi, air, cangkul kecil hingga bunga tabur. Beberapa di antaranya datang bersama keluarga. Suasana haru terlihat di deretan nisan.
Ana, salah seorang peziarah yang ditemui di lokasi, mengaku rutin datang menjelang Ramadan untuk mengunjungi makam mertuanya. “Setiap mau masuk Ramadan saya selalu menyempatkan ke sini. Rasanya seperti pamit dan minta doa restu sebelum menjalankan ibadah puasa,” ujarnya, Selasa (17/2/2027).
Menurutnya, ziarah bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi juga menjadi momen refleksi diri. “Ini juga pengingat buat saya, bahwa hidup itu sementara. Jadi sebelum Ramadan, kita bersihkan hati dulu,” tambahnya.
Tak hanya peziarah, aktivitas ekonomi kecil juga ikut menggeliat. Di sekitar pintu masuk TPU, beberapa penjual bunga tabur serta air tampak menata dagangannya.
Salah satu penjual bunga mengaku momentum jelang Ramadan selalu membawa peningkatan pembeli dibanding hari biasa. Ia pun rutin berjualan dari tahun ke tahun tiap momen jelang Ramadan.
Tradisi ziarah kubur menjelang Ramadan memang sudah menjadi kebiasaan masyarakat. Selain untuk mendoakan keluarga yang telah meninggal, momen ini juga dimaknai sebagai persiapan batin menyambut bulan penuh ampunan.
Jelang Ramadan, BKMM gelar Tahlil Akbar di Pemakaman Gang Banjar, Teluk Lingga. (Ramlah/Radar Bontang)
SANGATTA – Suasana Pemakaman Umum Gang Banjar, Teluk Lingga, Sangatta, mendadak ramai menjelang Ramadan. Bukan karena prosesi pemakaman, melainkan lantunan doa dan tahlil yang menggema dari ratusan jamaah.
Badan Koordinasi Masjid dan Musholla (BKMM) Muslimat NU Kutai Timur (Kutim) menggelar Tahlil Akbar sebagai rangkaian tradisi menyambut bulan suci Ramadan. Kegiatan ini diikuti ratusan peserta, mulai dari pengurus dan anggota Muslimat NU, tokoh agama, hingga masyarakat sekitar.
Sejak awal acara, nuansa khidmat terasa kuat. Jamaah duduk berderet di area pemakaman, melantunkan tahlil dan doa bersama. Di tengah deretan nisan dan tanah peristirahatan terakhir, suasana menjadi pengingat bahwa hidup di dunia hanya sementara.
Wakil Bupati Kutai Timur, Mahyunadi, turut hadir dalam kegiatan tersebut. Ia mengaku baru pertama kali mengikuti haul yang dilaksanakan langsung di area pemakaman. Pengalaman itu, katanya, memberi kesan spiritual yang berbeda.
“Saya baru pertama kali hadir dalam haul seperti ini. Saya biasa melaksanakan haul juga, tapi melaksanakan haul di pemakaman ini baru pertama kali. Ada baiknya juga haul di sini karena orang hadir di kuburan, kalau kita mendoakan, hatinya serasa lebih dekat,” ujar Mahyunadi, Selasa (17/2/2026).
Mantan Ketua DPRD Kutim itu bercerita, setiap kali berziarah ke makam ayahnya , ia selalu merasakan kedekatan batin yang mendalam.
Menurutnya, berada di pemakaman membuat manusia lebih mudah merenungi perjalanan hidup dan kematian. Ia menyebut, ziarah kubur bukan sekadar tradisi, tetapi ruang refleksi yang membuat seseorang menilai kembali amal dan perbuatannya.
“Hati juga berbicara, apakah orang-orang dalam kubur ini bahagia, atau sedih. Lalu hati kembali berbicara, bagaimana kalau aku mati, apakah bahagia atau sedih dalam kubur. Pikiran kemudian terbuka dan memperbanyak amalan soleh untuk bekal kita di akhirat kelak,” ucapnya.
Mahyunadi menambahkan, ia pernah mendapat pesan dari seorang guru bahwa kehidupan dunia hanyalah persinggahan. Karena itu, setiap manusia harus menyiapkan bekal dengan baik dalam perjalanan menuju akhirat.
“Kita mempersiapkan sesuatunya dalam perjalanan. Persiapan kita harus lengkap dan pandai-pandai menempatkan persiapan itu,” katanya.
Ia juga menekankan bahwa setiap fase kehidupan membutuhkan bekal yang berbeda, mulai dari kehidupan dunia, alam barzah, hingga Padang Mahsyar.
“Begitu juga di hidup ini, mana bekal di dunia, mana bekal di alam barzah, mana bekal di Padang Mahsyar. Untuk itu kegiatan ini harus diperbanyak untuk menjadi pengingat kita dalam mempersiapkan bekal kita di perjalanan menuju hari akhir kelak,” tegasnya.
Selain menjadi ajang mengirim doa bagi mereka yang telah meninggal, kegiatan tahlil akbar tersebut juga diharapkan memperkuat kesadaran spiritual masyarakat serta memupuk semangat memperbanyak amal menjelang Ramadan.
BB yang berhasil diamankan polisi. (Dok Polres Bontang)
BONTANG – Satresnarkoba Polres Bontang bergerak cepat menindaklanjuti laporan masyarakat, terkait dugaan transaksi sabu di Jalan Patimura Gang Pencak Silat 4, Kelurahan Api-Api, Bontang Utara. Senin (16/2/2026) sekitar pukul 15.20 WITA. Seorang pria berinisial S (34) berhasil diamankan di dalam rumah, yang diduga kerap dijadikan lokasi peredaran narkotika jenis sabu.
Setelah dilakukan penyelidikan mendalam, petugas melakukan penggerebekan dan penggeledahan di lokasi. Dari dalam rumah ditemukan 12 bungkus plastik bening berisi kristal putih diduga sabu dengan berat bruto 5,55 gram, 5 plastik kosong, timbangan digital, alat hisap, pipet kaca, sedotan runcing, kotak rokok, serta satu unit handphone yang diduga digunakan sebagai sarana transaksi.
Kasat Resnarkoba, AKP Larto menegaskan, pengungkapan ini merupakan bukti komitmen Polri dalam memutus mata rantai peredaran narkoba di wilayah hukum Bontang.
“Kami tidak akan memberi ruang bagi pelaku peredaran narkotika. Setiap informasi dari masyarakat pasti kami tindaklanjuti. Ini bentuk keseriusan kami melindungi generasi muda Bontang dari ancaman narkoba,” tegasnya.
Atas perbuatannya, tersangka dijerat Pasal 114 Ayat (1) UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika juncto ketentuan KUHP terbaru, dengan ancaman hukuman berat.(Rls Polres Bontang)
BONTANG – Mulai 1 Maret 2026, pengunjung tempat wisata di Kota Bontang tidak lagi bisa masuk gratis. Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang melalui Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Dispopar) resmi memberlakukan tarif retribusi masuk di seluruh objek wisata yang dikelola pemerintah.
Artinya, masyarakat yang ingin menikmati kawasan mangrove, Bontang Kuala, hingga Pulau Beras Basah harus menyiapkan biaya tambahan. Kebijakan ini ditegaskan Dispopar sebagai bagian dari upaya optimalisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Kepala Dispopar Bontang, Eko Mashudi, menjelaskan bahwa penarikan retribusi dilakukan sesuai Peraturan Daerah (Perda) Nomor 3 Tahun 2025 tentang Retribusi Daerah, yang merupakan tindak lanjut dari Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah.
Kepala Dispopar Bontang, Eko Mashudi. Foto: Dwi/RadarBontang
“Dinas yang mengelola sarana olahraga dan pariwisata juga melakukan pemungutan retribusi. Jika sebelumnya sebagian fasilitas dapat digunakan secara gratis, kini pada umumnya seluruh kegiatan yang dikelola pemerintah di berbagai daerah telah dikenakan retribusi,” jelasnya.
Menurut Eko, hampir tidak ada lagi fasilitas publik di Kalimantan Timur yang sepenuhnya gratis, termasuk parkir di ruang publik maupun rumah sakit. Di Bontang sendiri, sejumlah fasilitas masih belum dipungut biaya, namun ke depan akan dilakukan penyesuaian bertahap.
Pelataran Bontang Kuala pasca renovasi. Foto: Syakurah/Radar Bontang
Retribusi dan Parkir, Bayar Dua Kali?
Dalam praktiknya, terdapat dua jenis pungutan, yakni parkir yang dikelola Dinas Perhubungan (Dishub) dan retribusi masuk yang dikelola Dispopar.
“Ketika pengunjung masuk ke area pelataran, nantinya bakal dikenakan retribusi, sehingga muncul dua jenis pungutan yaitu parkir dan retribusi masuk. Sehingga ke depan pemkot akan mengatur mekanisme bersama Bapenda, agar masyarakat cukup melakukan satu kali pembayaran saja,” jelasnya, Senin (9/2/2026).
Adapun tarif yang ditetapkan yakni Rp2 ribu untuk anak-anak, Rp5 ribu untuk orang dewasa, dan Rp90 ribu untuk wisatawan mancanegara.
Warga Setuju, Asal Fasilitas Dibenahi
Sejumlah warga mendukung kebijakan tersebut, dengan catatan fasilitas dan sarana prasarana ditingkatkan.
Febry, salah satu pengunjung Stadion Bessai Berinta, menyatakan tidak keberatan jika retribusi diterapkan.
“Tidak apa kalau misal dua ribu saja, tapi kalau bisa fasilitasnya benar-benar dibenahi,” ujarnya.
Ketua DPRD Bontang, Andi Faizal Sofyan Hasdam, mengingatkan agar pembenahan sarana dilakukan terlebih dahulu sebelum retribusi diberlakukan.
“Kalau untuk sekarang, terlalu dini dan prematur jika tiba-tiba langsung berbicara adanya retribusi. Sementara yang dihadirkan pemerintah masih terbilang sangat mengecewakan,” tegasnya.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris, meminta agar penerapan retribusi dikaji ulang agar tidak memberatkan UMKM dan komunitas olahraga.
Lapak-lapak UMKM di Stadion Bessai Berinta pasca renovasi. Foto: Syakurah/Radar Bontang
“Kalau bicara aturan tentu harus kita jalankan. Tapi kita juga harus melihat kemampuan rata-rata UMKM yang menggunakan fasilitas pemerintah. Jangan sampai malah mengambil modal mereka,” ujarnya.
Ia mencontohkan pedagang dengan penghasilan sekitar Rp300 ribu, sementara retribusi mencapai Rp800 ribu. Menurutnya, kebijakan seperti itu bisa mematikan usaha kecil. Ia juga menegaskan cabang olahraga pembinaan prestasi daerah tidak boleh dipukul rata dengan kegiatan komersial.
Sudah Diwacanakan Sejak 2025
Wacana ini sebenarnya telah muncul sejak awal 2025, saat Dispopar masih dipimpin Rafidah. Saat itu, Peraturan Wali Kota (Perwali) disebut telah siap dan tinggal menunggu penerapan.
Lapak UMKM di Stadion Bessai Berinta bahkan telah dibangun sejak awal 2024 dengan anggaran Rp3,4 miliar, terdiri dari 32 lapak, sekretariat, dan empat toilet. Fasilitas seperti kanopi, rolling door, jaringan air, hingga penyediaan meja dan kursi juga dilakukan sebagai bagian dari persiapan penarikan retribusi.
Ilustrasi layanan kesehatan di rumah sakit rujukan provinsi. (Int)
SAMARINDA – Layanan kesehatan rujukan tingkat provinsi terancam tidak maksimal jika kebutuhan anggaran RSUD Dr. Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan tidak segera dipenuhi. Komisi III DPRD Kalimantan Timur menyoroti rendahnya alokasi anggaran pembangunan dan rehabilitasi rumah sakit tersebut dalam APBD 2026 yang baru menyentuh sekitar 10 persen dari total kebutuhan.
Penegasan itu disampaikan usai kunjungan kerja Komisi III ke RSUD Dr. Kanujoso Djatiwibowo pada Rabu (11/2/2026). Kunjungan dilakukan untuk memastikan kesiapan infrastruktur rumah sakit rujukan provinsi tersebut dalam menghadapi lonjakan kebutuhan layanan kesehatan pada 2026.
Ketua Komisi III DPRD Kaltim, Abdulloh, menyatakan sejumlah fasilitas prioritas membutuhkan perhatian segera, terutama pembangunan gedung bank darah dan perbaikan bangunan lama yang dinilai sudah tidak memadai.
“Kami melihat kebutuhan gedung darah sangat mendesak. Kalau anggaran BLUD belum cukup, kami akan dorong agar bisa ditambah melalui APBD Perubahan atau skema pergeseran anggaran,” ujarnya.
Menurutnya, sebagai rumah sakit rujukan provinsi, RSUD Dr. Kanujoso Djatiwibowo memegang peran vital dalam sistem layanan kesehatan Kalimantan Timur. Rumah sakit ini tidak hanya melayani warga Balikpapan, tetapi juga pasien rujukan dari berbagai kabupaten/kota, termasuk wilayah penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN).
Komisi III menilai keterbatasan anggaran berpotensi menghambat peningkatan kualitas pelayanan, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan layanan spesialistik dan pertumbuhan jumlah pasien.
Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Kaltim bersama DPRD telah menyepakati APBD 2026 sebesar Rp15,15 triliun. Nilai tersebut mengalami koreksi akibat tidak tercapainya target pendapatan daerah pada tahun sebelumnya, sehingga ruang fiskal menjadi lebih terbatas.
Dengan kondisi itu, Abdulloh menekankan pentingnya ketepatan dalam menentukan prioritas belanja daerah. Ia menyebut sektor kesehatan sebagai layanan dasar yang tidak boleh dikompromikan.
“Walaupun fiskal kita tertekan, pelayanan kesehatan harus tetap menjadi prioritas. Ini menyangkut kebutuhan dasar masyarakat,” tegasnya.
DPRD Kaltim berkomitmen mengawal proses pembahasan anggaran agar pembangunan infrastruktur kesehatan, khususnya di RSUD Dr. Kanujoso Djatiwibjowo, dapat dipercepat. Dukungan anggaran dinilai menjadi faktor krusial untuk menjaga kualitas layanan sekaligus memperkuat ketahanan sistem kesehatan daerah dalam jangka panjang.
Ketua DPRD Kutai Kartanegara, Ahmad Yani. (Ady/MKN)
TENGGARONG – Program pendidikan GratisPol yang menjadi salah satu janji politik Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud dan Wakil Gubernur Seno Aji kembali disorot. Memasuki satu tahun masa kepemimpinan keduanya sejak dilantik 20 Februari 2025, polemik realisasi program tersebut dinilai belum sepenuhnya menjawab ekspektasi publik.
Ketua DPRD Kutai Kartanegara, Ahmad Yani, angkat suara. Ia menyatakan mendukung penuh program pendidikan gratis tersebut, namun mengingatkan agar pemerintah provinsi konsisten dengan komitmen yang sudah dijanjikan.
“Pada prinsipnya, jika kita berbicara tentang pendidikan gratis, maka seharusnya itu berlaku untuk semua,” tegas Yani.
Menurut politisi PDI Perjuangan itu, konsep “gratis” tidak boleh setengah-setengah. Jika disebut pendidikan gratis, maka tidak boleh ada pembatasan yang membedakan latar belakang profesi, jabatan, maupun status sosial.
“Namanya gratis, ya gratis untuk semua. Tidak boleh ada pengecualian. Karena pendidikan adalah hak dasar setiap warga negara,” ujarnya.
Sorotan muncul setelah sejumlah mahasiswa mengaku belum menerima manfaat pembiayaan pendidikan yang sebelumnya dijanjikan hingga jenjang S3. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan publik tentang kesiapan fiskal daerah dalam menopang program berskala besar itu.
Ahmad Yani menegaskan bahwa program GratisPol bukan sekadar wacana, melainkan telah menjadi komitmen resmi yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Kaltim dan telah disetujui DPRD.
Karena itu, menurutnya, pemerintah wajib mengupayakan pelaksanaan program tersebut secara maksimal selama masih tercantum dalam dokumen perencanaan daerah.
“Jika memang dalam perjalanan ada kendala besar, maka sebaiknya direvisi saja RPJMD itu sesuai ketentuan yang berlaku. Namun selama program itu masih menjadi komitmen resmi, maka wajib diupayakan pelaksanaannya,” tegasnya.
Ia menilai persoalan utama bukan semata-mata teknis pelaksanaan, melainkan kemampuan fiskal daerah, termasuk kelancaran dana transfer, dana bagi hasil, serta komponen pendapatan lainnya.
Bagi Yani, kejelasan kebijakan menjadi penting agar tidak menimbulkan harapan berlebih di masyarakat. “Kalau namanya gratis, maka tidak boleh ada pembayaran sama sekali,” pungkasnya.