Beranda blog Halaman 315

DKP3 Luncurkan Gerakan Tanam Cabai Rawit di Pekarangan, Ini Tujuannya

0
Kepala DKP3 Bontang, Ahmad Aznem. (Syakurah)

BONTANG – Dalam rangka menangani inflasi yang ada di Kota Bontang, Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan, dan Pertanian (DKP3) Kota Bontang mengajak masyarakat untuk menanam cabai di halaman maupun pekarangan rumah.

Kepala DKP3 Kota Bontang, Ahmad Aznem mengatakan, pihaknya meluncurkan program inovasi Gerakan Menanam Cabai Rawit berupa Pekarangan Rumah Tangga (Gembira Pak RT).

“Program ini rencananya dimasukkan ke Pro RT dan dianggarkan berapa persen untuk ketahanan pangan,” pungkasnya.

Pihaknya berkolaborasi dengan perusahaan seperti Bank Indonesia, Bank Kaltimtara, PT Pupuk Kaltim, PT Badak, Indominco, dan PT Pamapersada.

“Harga cabai sudah Rp 100 ribu, kalau punya pohonnya sendiri tidak perlu pusing karena inflasi,” tuturnya.

Sebagai langkah awal gerakan ini berbasis komunitas yang melibatkan Kelompok Wanita Tani (KWT) di setiap kelurahan.

Adapun sistem pelaksanaannya, program ini melibatkan skema kolaborasi antara pemerintah, kelompok masyarakat, dan pihak swasta melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).

Pihaknya berperan memberikan penyuluhan teknis, menyediakan benih cabai, melakukan pengawasan terhadap hama dan penyakit tanaman serta memonitor program tersebut hingga berhasil.

CSR dalam hal ini menjadi penyediaan sarana produksi seperti polybag, media tanam, pupuk organik, bantuan alat pertanian, serta fasilitasi pemasaran apabila terjadi surplus produksi.

“Total ada 15 RT, perwakilan dari masing-masing kelurahan 1 RT. Itu sedang menjadi percontohan dan sedang berlangsung,” tutupnya.

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Kesalehan Pemimpin Membawa Karamah Keganjilan Alam

0
Rahmi Surainah, M.Pd. (dok pribadi)

Oleh:
Rahmi Surainah, M.Pd
Alumni Pascasarjana Unlam Banjarmasin

Khalifah Umar bin Abdul Aziz terkenal dengan sikap adil dan zuhud. Salah satu kisah seputar keadilannya ini terekam dalam sebuah kisah sebagaimana diceritakan dalam kitab “Hikayat Islamiyyah Qablan Naumi lil Atfhal” hasil karya Najwa Husain Abdul Aziz.

Dalam kitab tersebut diceritakan suatu ketika ada seekor serigala pada masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang bercampur dengan ratusan kambing yang digembalakan oleh seseorang peternak kambing. Dikisahkan bahwa ada seorang hamba shaleh yang melewati tempat gembalaan kambing seorang Arab Badui dan melihat keanehan perihal serigala yang bisa bersatu dengan kambing-kambing tersebut.

Merasa aneh dan heran, akhirnya orang saleh tersebut mendekati penggembala kambing dan bertanya perihal yang dilihatnya tersebut. Hamba saleh bertanya “Wahai penggembala, kenapa bisa bercampur antara serigala dan kambing-kambing yang Tuan gembala kan, dan serigala tersebut tidak memangsa kambing-kambing yang bersamanya?” Tanya orang saleh keheranan.

Kemudian penggembala menjawab, “Wahai saudaraku apa yang tuan lihat itu adalah karamah dan bukti keadilan khalifah Umar bin Abdul Aziz dalam memimpin”.

Beberapa hari kemudian orang saleh itu melewati kembali lokasi gembalaan kambing, dan menyaksikan serigala yang sedang memangsa salah satu kambing. Si kambing menjerit histeris dan akhirnya mati. Dan ternyata kejadian tersebut sekaligus bersamaan dengan wafatnya khalifah Umar bin Abdul Aziz. Seorang penggembala Arab Badui yang jauh di pusat kota pun dapat mengetahui bahwa pemimpin yang shaleh telah wafat.
pesantrenonline.or.id/inilah-karamah-umar-bin-abdul-azis-serigala-jadi-jinak/

Demikianlah bagaimana sosok pemimpin membawa karamah akan keganjilan alam, yakni binatang buas pun tak memangsa hewan di sekitarnya. Inilah berkah dari pemimpin yang shaleh, takut dan sangat mencintai Rabb-Nya sehingga ia memimpin dengan keadilan.

Berkaca dari Sirah di atas, bagaimana dengan kondisi saat ini? Khususnya Kota Bontang yang dikatakan darurat akibat keberadaan buaya yang sering muncul di pemukiman warga bahkan memangsa manusia.

Berdasarkan catatan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkartan) Bontang, sepanjang 2025 terdapat 25 laporan penampakan buaya di sejumlah wilayah pesisir. Dari jumlah tersebut, petugas berhasil mengevakuasi 10 ekor buaya. Sementara itu, sebagian lainnya tidak berhasil ditangani karena predator tersebut langsung kembali ke perairan.

Amiluddin menilai kemunculan buaya di sekitar permukiman warga juga dipengaruhi oleh ketersediaan sumber makanan, salah satunya limbah ikan yang dibuang ke laut. Buaya memiliki penciuman yang kuat sehingga jika ada limbah ikan yang dibuang ke laut akan mengundang buaya datang. Selain faktor makanan, berkurangnya habitat alami juga diduga membuat buaya semakin sering muncul di kawasan permukiman pesisir.

Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni pun mengungkapkan bahwa tingginya angka kemunculan buaya menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah untuk segera mengambil langkah konkret. Meski upaya sosialisasi dan penangkapan telah beberapa kali dilakukan, Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang masih menghadapi sejumlah kendala, terutama terkait regulasi serta keterbatasan peralatan medis hewan untuk penanganan satwa liar.

Keberadaan buaya mengancam nyawa manusia tentu pemerintah harus segera mengambil tindakan agar tidak ada lagi korban. Berapa banyak sudah kabar buaya memangsa manusia? Terbaru salah satu warga Kelurahan Loktuan, Kecamatan Bontang Utara, menjadi korban gigitan buaya saat ingin BAB, Jumat (23/1/2026).

Sebelumnya seorang warga di Kelurahan Gunung Elai diserang buaya saat melintas di jembatan titian, Jumat (27/12/2025) sore. Korban dirujuk ke Samarinda dan akhirnya meninggal dunia. Masih ada kasus lain yang mana seorang anak berumur 11 tahun di Jalan Family, Tanjung Limau, menjadi korban gigitan buaya saat sedang berenang, Senin (24/11/2025). (Sumber diambil dan dirangkum dari media online Radarbontang)

Memang populasi buaya di wilayah pesisir Kota Bontang diperkirakan terus bertambah. Hal ini dipicu kemampuan reproduksi predator tersebut yang tergolong tinggi. Kepala Disdamkartan Bontang, Amiluddin, mengatakan satu induk buaya mampu menghasilkan puluhan telur dalam sekali masa berkembang biak. Menurutnya, dalam satu kali bertelur, induk buaya dapat menghasilkan sekitar 30 butir telur. Jika sebagian besar telur tersebut menetas dan mampu bertahan hidup, jumlah populasi buaya di suatu wilayah bisa meningkat dalam waktu relatif singkat.

Buaya pada dasarnya tidak mengganggu jika tidak diganggu. Artinya ketidakseimbangan alam akan berpengaruh pada binatang sehingga mengganggu manusia. Kondisi faktor alam yang dirusak oleh manusia membuat buaya semakin ganas. Pasalnya keberadaan buaya yang awalnya hanya di sungai sekali-kali ke darat kini merambah ke pemukiman warga bahkan memangsa manusia.

Himbauan kepada warga dan mengandalkan pemadam kebakaran tidaklah cukup. Pemerintah harus lebih serius menjaga keamanan masyarakatnya. Sudah banyak korban buaya seharusnya perlu penanganan cepat agar tidak menambah korban lagi. Jangan sampai pemerintah bergerak ketika telah terjadi korban, perlu penanganan yang tentu modal dari pemerintah sehingga masyarakat tidak bertindak mandiri, mengandalkan pawang buaya atau mistis lainnya.

Tidak hanya Kota Bontang, ancaman buaya juga terjadi di beberapa daerah lain Kaltim. Penanganan buaya seharusnya mendapat perhatian serius dari negara sekaligus menjadi evaluasi bagaimana alam kini tidak lagi bersahabat.

Fenomena kerusakan alam tidak hanya mengakibatkan banjir dan longsor tetapi binatang pun ikut terganggu. Sistem kehidupan Kapitalisme Sekuler dengan eksploitasi SDAE membuat kerusakan di mana-mana. Sudah saatnya kita kembali kepada aturan Islam dan pemimpin yang amanah takut kepada Allah.

Wallahu’alam.

PWI Bontang Berbagi dengan Anak Panti, Serahkan Sembako Hasil Donasi Internal dan Relasi

0
PWI Bontang saat menyerahkan sembako di Panti Asuhan Nurul Ichsan. (Ist)

BONTANG – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Bontang menggelar kegiatan bakti sosial dengan menyalurkan bantuan sembako ke Panti Asuhan Nurul Ichsan, Rabu (11/3/2026). Bantuan tersebut merupakan hasil donasi yang dihimpun dari internal anggota PWI Bontang serta sejumlah relasi.

Kegiatan sosial ini dipimpin langsung Ketua PWI Bontang, Kusnadi Said. Rombongan disambut hangat pimpinan pondok pesantren, Ustadz Khumaini Rosadi, bersama para santri yang tinggal di panti asuhan tersebut.

Dalam kesempatan itu, Kusnadi Said mengatakan bahwa kegiatan bakti sosial ini merupakan bentuk kepedulian insan pers kepada masyarakat, khususnya anak-anak panti asuhan, terlebih di bulan suci Ramadan yang penuh berkah.

“Semoga bantuan yang kami serahkan ini bisa bermanfaat bagi adik-adik di Panti Asuhan Nurul Ichsan. Ini juga menjadi wujud kebersamaan dan kepedulian teman-teman PWI Bontang bersama para relasi yang ikut berdonasi,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi para pihak yang telah berpartisipasi dalam penggalangan donasi, sehingga kegiatan tersebut dapat terlaksana dengan baik.

Sementara itu, pimpinan ponpes sekaligus pengasuh panti asuhan, Ustadz Khumaini Rosadi, menyampaikan terima kasih atas perhatian dan bantuan yang diberikan oleh PWI Bontang.

“Kami sangat bersyukur dan berterima kasih atas kepedulian dari keluarga besar PWI Bontang dan para donatur. Bantuan ini tentu sangat berarti bagi anak-anak di sini,” ungkapnya.

Setelah menyerahkan bantuan dan bersilaturahmi dengan para santri, kegiatan PWI Bontang kemudian dilanjutkan dengan buka puasa bersama yang digelar di Kafe Uttara. Momen tersebut menjadi ajang mempererat kebersamaan antaranggota PWI Bontang. (*)

Editor: Yusva Alam

Isu Penundaan Porprov Kaltim Menguat, Kukar Pastikan Tetap Siap

0
Sekretaris Dispora Kukar, Dery Warhana. (Ady)

TENGGARONG — Rencana pelaksanaan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) VIII Kaltim yang semula dijadwalkan berlangsung pada November 2026 di Kabupaten Paser berpotensi mundur hingga tahun 2027. Wacana penundaan muncul karena sejumlah daerah di Kaltim mengaku belum siap dari sisi anggaran.

Isu tersebut mencuat dalam rapat koordinasi Dinas Pemuda dan Olahraga se-Kaltim bersama Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kaltim yang digelar di Samarinda.

Dalam forum tersebut, hampir seluruh kabupaten dan kota menyarankan agar pelaksanaan Porprov ditunda karena keterbatasan kesiapan anggaran untuk membiayai kontingen serta kebutuhan perlengkapan atlet.

Meski demikian, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara memastikan tetap siap mengikuti ajang olahraga tingkat provinsi tersebut, baik jika digelar sesuai jadwal pada 2026 maupun jika pelaksanaannya bergeser ke 2027.

Sekretaris Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kukar, Dery Warhana, mengatakan Kukar telah menyiapkan anggaran untuk mengikuti Porprov, termasuk untuk pengadaan perlengkapan bagi para atlet.

“Alhamdulillah kalau Kukar kita konsisten karena menganggarkan untuk mengikuti dan pembelian peralatan. Artinya dari dua itu saja Kukar secara kesiapan kita sudah 70 persen kita siap,” ujarnya.

Menurutnya, keputusan final mengenai jadwal pelaksanaan Porprov tetap berada di tangan Panitia Besar (PB) Porprov Kaltim bersama hasil kesepakatan kabupaten dan kota se-Kaltim.

“Teman-teman dari PB Porprov yang akan menentukan masukan-masukan dari kabupaten kota lain di Kaltim bagaimana menyikapi ini. Tapi kalau Kukar kita siap untuk kondisi itu,” jelasnya.

Dery menyebutkan Dispora bersama KONI Kukar juga telah mulai melakukan pemetaan kebutuhan perlengkapan atlet.

Proses ekspose kebutuhan peralatan hampir rampung sebagai dasar pengadaan perlengkapan yang akan digunakan para atlet saat bertanding.

“Ini juga KONI dan Dispora sudah mulai, hari ini sepertinya terakhir kita ekspose untuk kebutuhan peralatan. Jadi nanti pada saat pembelian barang, itu yang akan digunakan oleh teman-teman yang akan bertanding,” katanya.

Jika Porprov tetap digelar pada November 2026, Kukar memastikan kontingen siap mengikuti. Namun apabila pelaksanaannya bergeser ke 2027, penyesuaian juga akan dilakukan terhadap agenda olahraga lainnya.

“Kalau untuk mengikuti kan di bulan 11 ya, tapi kalau bergeser di 2027 pasti juga akan menggeser event besar lainnya di keolahragaan. Tapi Kukar tetap optimis, dengan kondisi yang ada tetap bisa mengikuti,” ujarnya.

Terkait penggunaan anggaran yang telah dialokasikan pada tahun ini, Dispora Kukar berencana berkonsultasi dengan Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) untuk menentukan langkah teknis apabila Porprov benar-benar ditunda.

Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah memaksimalkan anggaran untuk pembelian perlengkapan atlet agar kualitas peralatan yang digunakan bisa lebih baik.

“Kami akan coba berkonsultasi dengan tim anggaran Pemda, khususnya TAPD, bagaimana nanti itu bisa dimaksimalkan untuk pembelian peralatan,” katanya.

Menurutnya, apabila Porprov mundur ke 2027, tidak menutup kemungkinan dilakukan ekspose ulang terhadap kebutuhan perlengkapan agar kualitas peralatan atlet dapat lebih optimal.

“Tidak menutup kemungkinan kalau ditunda kita lakukan ekspose ulang supaya ini bisa kita maksimalkan. Kita tidak mau juga peralatan yang dipakai tidak bisa digunakan dengan baik oleh teman-teman atlet di Kukar,” ujarnya.

Secara keseluruhan, Pemkab Kukar telah mengalokasikan anggaran sekitar Rp8 miliar untuk mendukung keikutsertaan kontingen pada Porprov Kaltim.

Dery menegaskan pemerintah daerah tetap berkomitmen mendukung para atlet Kukar agar dapat tampil maksimal dalam ajang olahraga terbesar tingkat provinsi tersebut.

“Insyaallah Kukar siap mengikutkan Pekan Olahraga Provinsi,” pungkasnya.

Pewarta: Ady Wahyudi
Editor: Agus S

Kemenag Kaltim Gandeng 18 LAZ Perluas Penyaluran Bantuan Ramadan

0
Kemenag Kaltim menyalurkan paket bantuan bagi kaum duafa dalam program Ramadan 2026. (Hanafi)

SAMARINDA — Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Kaltim memperkuat sinergi dengan berbagai lembaga amil zakat untuk memperluas penyaluran bantuan kepada masyarakat kurang mampu selama Ramadan 1447 Hijriah.

Kolaborasi tersebut dijalankan melalui program Selasar Hangat Lintas Agama yang mengusung semangat “Indonesia Berdaya melalui Tebar Harapan Ramadan”.

Program ini menjadi wadah kerja sama antara pemerintah dan lembaga pengelola zakat guna mempercepat distribusi bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Kepala Seksi Zakat dan Wakaf Kanwil Kemenag Kaltim, Munawwarah, mengatakan kegiatan ini melibatkan sekitar 18 Lembaga Amil Zakat (LAZ) di Kaltim bersama Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) tingkat provinsi.

“Melalui kolaborasi ini, kami ingin memastikan penyaluran bantuan Ramadan dapat menjangkkau lebih banyak masyarakat yang berhak menerima, terutama delapan golongan asnaf,” ujarnya di Samarinda, Kamis (12/3/2026).

Dalam kegiatan tersebut, ratusan paket santunan diserahkan secara simbolis kepada penerima manfaat sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang membutuhkan selama bulan Ramadan.

Selain penyaluran bantuan, Kanwil Kemenag Kaltim juga menjalankan berbagai program penguatan literasi zakat dan wakaf.

Salah satunya melalui program Teras Zakat dan Wakaf (Zawa) yang digelar di kawasan Masjid Negara di Ibu Kota Nusantara (IKN).

Program tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai zakat dan wakaf sekaligus mendorong pengelolaan dana umat yang lebih transparan dan produktif.

Tak hanya itu, peningkatan kapasitas para pengelola zakat juga dilakukan melalui kegiatan Tadarus Zakat dan Wakaf yang dilaksanakan secara daring.

Kegiatan ini diikuti oleh para nazir wakaf, pengelola zakat, hingga anggota Badan Wakaf Indonesia (BWI).

Kanwil Kemenag Kaltim juga mengimbau masyarakat Muslim untuk menunaikan zakat fitrah lebih awal agar manfaatnya dapat segera dirasakan oleh masyarakat yang membutuhkan.

“Penyaluran zakat dapat dilakukan melalui Baznas, LAZ resmi, maupun masjid yang telah memiliki legalitas sebagai Unit Pengumpul Zakat (UPZ),” kata Munawwarah.

Untuk tahun 2026, besaran zakat fitrah di Kaltim bervariasi antarwilayah. Nilai tertinggi tercatat di Kabupaten Mahakam Ulu sebesar Rp75.000 per jiwa.

Sementara nominal terendah sebesar Rp35.000 per jiwa berlaku di Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kabupaten Berau.

Pewarta: Hanafi
Editor: Agus S

Mantan Menag Yaqut Ditahan KPK, Bantah Terima Aliran Dana

0
KPK resmi menahan mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas. (Fajri)

JAKARTA — Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) resmi menahan mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas setelah menjalani pemeriksaan sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi terkait penyelenggaraan dan pembagian kuota haji.

Penahanan dilakukan setelah Yaqut diperiksa di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Kamis (12/3/2026).

Usai pemeriksaan, Yaqut membantah menerima aliran dana dalam perkara yang menjeratnya tersebut.

“Saya tidak pernah menerima sepeser pun dari kasus yang dituduhkan kepada saya,” ujar Yaqut kepada wartawan.

Ia juga menegaskan bahwa kebijakan yang diambil saat menjabat sebagai Menteri Agama semata-mata ditujukan untuk kepentingan dan keselamatan jemaah haji Indonesia.

“Saya lakukan semua kebijakan ini semata-mata untuk keselamatan jemaah,” katanya.

Kasus yang ditangani KPK ini berkaitan dengan pembagian tambahan kuota haji Indonesia pada tahun 2024 yang mencapai sekitar 20 ribu jemaah.

Tambahan kuota tersebut awalnya dimaksudkan untuk mempercepat antrean keberangkatan jemaah haji Indonesia yang selama ini cukup panjang.

Namun dalam pelaksanaannya, pembagian kuota tersebut diduga tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Berdasarkan aturan, kuota haji khusus seharusnya maksimal delapan persen dari total kuota haji nasional.

Dalam perkara ini, KPK juga menetapkan mantan staf khusus Menteri Agama, Isfan Abidal Aziz alias Gus Alex, sebagai tersangka.

Sejumlah pihak telah dimintai keterangan oleh penyidik KPK dalam proses penyidikan, termasuk pejabat di lingkungan Kementerian Agama serta pihak penyelenggara perjalanan ibadah umrah.

KPK menyatakan proses penyidikan masih terus berjalan dan perkara tersebut akan dibawa ke persidangan untuk mengungkap seluruh fakta hukum terkait pembagian kuota haji tersebut.

Pewarta: Fajri
Editor: Agus S

Polda Kaltim Siagakan Belasan Ribu Personel Pengamanan Idulfitri

0
Kapolda Kaltim, Irjen Pol Endar Priantoro. (Ist)

BALIKPAPAN — Polda Kaltim mengerahkan 11.975 personel gabungan untuk mengamankan arus mudik dan perayaan Idulfitri 1447 Hijriah melalui Operasi Ketupat Mahakam 2026.

Kesiapan pengamanan tersebut ditandai dengan apel gelar pasukan yang digelar di Balikpapan, Kamis (12/3/2026), sebagai langkah memastikan kesiapan personel, sarana, dan prasarana dalam menghadapi peningkatan aktivitas masyarakat selama masa mudik dan libur Lebaran.

Kapolda Kaltim Irjen Pol Endar Priantoro mengatakan operasi ini digelar untuk menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat tetap kondusif selama rangkaian perayaan Idulfitri.

“Pada hari ini kami melaksanakan apel kesiapan pasukan dalam rangka Operasi Ketupat Mahakam 2026. Kegiatan ini bertujuan memastikan kesiapan personel, sarana, dan perlengkapan dalam mendukung pengamanan Hari Raya Idulfitri,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pengamanan Lebaran tidak hanya dilakukan oleh kepolisian, tetapi juga melibatkan unsur TNI, pemerintah daerah, serta berbagai instansi terkait lainnya.

“Pengamanan ini tidak hanya dilakukan oleh kepolisian, tetapi juga melibatkan TNI, pemerintah daerah, serta instansi terkait lainnya. Tujuannya untuk memastikan seluruh aktivitas masyarakat selama perayaan Idulfitri berjalan aman dan lancar,” jelasnya.

Dalam Operasi Ketupat Mahakam 2026, sebanyak 11.975 personel gabungan diterjunkan di berbagai wilayah Kaltim. Personel tersebut terdiri dari unsur Polri, TNI, pemerintah daerah, organisasi kemasyarakatan, hingga pengamanan swakarsa.

Khusus di wilayah Polresta Balikpapan, sebanyak 286 personel disiagakan untuk membantu pengamanan berbagai titik strategis yang diperkirakan mengalami peningkatan aktivitas masyarakat.

Selain itu, aparat juga menyiapkan puluhan pos pengamanan dan pelayanan yang tersebar di berbagai daerah.

Secara keseluruhan terdapat 52 pos pengamanan, 22 pos pelayanan, serta 14 pos terpadu yang akan beroperasi selama masa pengamanan Lebaran.

Tidak hanya itu, aparat juga akan mengamankan sedikitnya 2.211 objek vital yang menjadi fokus pengawasan selama masa Idulfitri.

Objek tersebut meliputi bandara, pelabuhan, tempat wisata, kawasan permukiman, pusat keramaian, hingga lokasi yang dinilai rawan gangguan keamanan.

Kapolda juga mengimbau masyarakat yang akan melakukan perjalanan mudik agar memastikan kondisi rumah dalam keadaan aman sebelum ditinggalkan.

“Kami mengajak masyarakat yang akan mudik untuk memastikan rumah dalam keadaan aman. Jika ada kendaraan atau barang berharga yang ingin dititipkan, masyarakat bisa memanfaatkan fasilitas penitipan di kantor kepolisian,” tambahnya.

Untuk mendukung pengamanan tersebut, patroli rutin juga akan ditingkatkan terutama di kawasan permukiman yang banyak ditinggalkan pemiliknya selama mudik.

Langkah ini diharapkan mampu mencegah potensi tindak kejahatan sekaligus memberikan rasa aman bagi masyarakat selama perayaan Idulfitri.

Pewarta: Aprianto
Editor: Agus S

Pria Tanpa Identitas Ditemukan Meninggal di Rumah Kosong

0

Pembaca Setia Radar Bontang!

Ingin tahu kabar terkini Koran Digital Radar Bontang? Kunjungi link di bawah ini untuk membaca e-paper lengkapnya:

👉 E-Paper Lengkap
https://koran.radarbontang.com

👉 Versi Mobile
https://digital.radarbontang.com/rb12mar2026/mobile/

Insiden Kebakaran di Guntung Diduga Karena Anak-anak Bermain Bakar-bakaran

0
Kondisi mobil yang hangus terbakar di lokasi kejadian. (Dwi S).

BONTANG – Peristiwa kebakaran yang terjadi di Kelurahan Guntung, Kecamatan Bontang Utara, tepatnya di sebelah lapangan futsal, Kamis (12/3/2026) sore, diduga karena anak-anak yang bermain bakar-bakaran di sekitar lokasi.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkartan) Bontang, Amiluddin mengatakan belum diketahui secara pasti penyebab kebakaran tersebut. Hingga kini pihak berwenang masih melakukan penyelidikan, untuk memastikan sumber api dan kronologi kejadian.

“Dugaan sementara ada anak-anak yang main di sekitaran sini, sambil bakar-bakar. Untuk sebab kejadian pastinya kami belum mengetahui, semuanya masih tahapan penyelidikan,” ucapnya.

Kesempatan yang sama, salah satu anak pemilik mobil yang mengalami kebakaran mengatakan, bahwa mereka sering kali memarkirkan mobilnya di lokasi tersebut, sebab rumah mereka berada di dalam jadi mobil tidak dapat masuk ke sekitaran rumah.

“Iya sering kami kalau parkir mobilnya disini, untuk insiden kebakarannya belum tahu karena apa. Ini mobil masih baru, terbakar dan tidak ada yang tersisa,” jelasnya.

Salah satu warga turut menyampaikan apabila masyarakat yang tinggal di sekitaran lokasi, memang sering kali memarkirkan kendaraan mobilnya di dekat rumah Adat Panggung Guntung. Lantaran bangunan tersebut adalah bangunan lama, yang sudah tidak digunakan kembali.

“Jadi pas kebakaran berlangsung ada dua mobil yang ikut terbakar, salah satunya mobil milik warga yang tinggal pas di sebelah lapangan. Satu mobil dalam keadaan rusak, satu mobil lagi posisi masih sering digunakan,” tutupnya.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Takjil di Kantor Gubernur dan Pelajaran Kepemimpinan Umar

0
Warga berdesakan di pintu masuk Kantor Gubernur Kaltim saat antre pembagian takjil Ramadan di Samarinda, Kamis (12/3/2026). Foto: Istimewa

Kamis hari ini (12/3) beberapa potongan video pembagian takjil di depan Kantor Gubernur Kaltim beredar di berbagai grup WhatsApp. Isinya, antrean panjang, kerumunan warga, dan suasana yang sulit dikendalikan di pintu masuk kantor gubernur.

Ratusan masyarakat memadati pagar utama. Sebagian sudah datang sejak pagi, bahkan sekitar pukul 07.00 WITA, hanya untuk mendapatkan takjil gratis yang disediakan Pemprov Kaltim.

Di luar pagar, massa berdesakan mencoba masuk. Di dalam area kantor gubernur, antrean juga sudah mengular. Satpol PP terlihat berusaha mengatur kerumunan agar tidak semakin padat.

Namun situasi akhirnya tetap sulit dikendalikan. Dalam salah satu potongan video yang beredar, terlihat seorang perempuan berbaju merah harus ditandu masuk ke area Kantor Gubernur karena diduga pingsan akibat desak-desakan di tengah antrean.

Peristiwa ini seharusnya menjadi perhatian serius. Program pembagian takjil tersebut sebenarnya merupakan kegiatan resmi Pemprov Kaltim selama Ramadan melalui program “Gebyar Ramadan Berbagi Takjil.” Kegiatan ini berlangsung sejak 26 Februari hingga 12 Maret 2026 di halaman Kantor Gubernur Kaltim di Jalan Gajah Mada, Samarinda.

Setiap hari disiapkan sekitar 1.000 hingga 1.050 paket takjil yang dibagikan kepada masyarakat. Isi takjil, kurma, kue, minuman manis, makanan ringan, dan air mineral.

Anggaran yang digunakan juga tidak kecil. Sekitar Rp50 juta per hari. Berasal dari kontribusi berbagai organisasi perangkat daerah (OPD) Pemprov Kaltim yang bergiliran menjadi penyelenggara.

Secara konsep, program ini memang dimaksudkan untuk berbagi kebahagiaan Ramadan kepada masyarakat.

Namun hari terakhir pembagian takjil menjadi berbeda. Jumlah warga yang datang jauh lebih banyak dibanding hari-hari sebelumnya. Salah satu pemicunya adalah isu yang beredar bahwa pada hari terakhir akan ada tambahan amplop. Isu ini cepat menyebar. Banyak warga datang lebih awal untuk memastikan tidak kehabisan.

Akibatnya antrean menjadi sangat padat.

Ketika jumlah masyarakat yang datang jauh lebih besar daripada paket yang tersedia, situasi mudah berubah menjadi tidak terkendali. Dorong-mendorong pun tidak terhindarkan.

Di sinilah persoalannya. Niat berbagi sebenarnya baik. Tetapi jika pelaksanaannya tidak dirancang dengan pengelolaan kerumunan yang matang, kegiatan sosial justru bisa menimbulkan masalah baru.

Orang datang untuk mendapatkan takjil gratis. Namun dalam praktiknya sebagian harus menghadapi antrean panjang, desakan massa, bahkan risiko jatuh sakit.

Ironisnya, ada orang yang datang dalam kondisi sehat untuk mendapatkan takjil, tetapi justru harus keluar dari lokasi dalam keadaan lemah dan ditandu.

Peristiwa ini mengingatkan kita pada standar kepemimpinan yang sering diceritakan dalam sejarah dan kerap dikutip dalam berbagai ceramah. Dalam literatur sejarah Islam terdapat kisah tentang Khalifah Umar bin Khattab. Suatu malam ia berkeliling memantau kondisi rakyatnya dan menemukan seorang ibu yang anak-anaknya menangis kelaparan.

Sang ibu hanya merebus air di dalam panci agar anak-anaknya mengira makanan sedang dimasak.

Mendengar itu, Umar tidak sekadar memerintahkan bawahannya. Ia memanggul sendiri karung gandum dari Baitul Mal, membawanya ke rumah keluarga tersebut, lalu membantu memasak hingga anak-anak itu benar-benar kenyang.

Kisah ini sering dikutip bukan karena dramatisnya cerita tersebut, tetapi karena standar tanggung jawab seorang pemimpin terhadap rakyatnya.

Memberi bantuan bukan sekadar soal membagikan sesuatu. Tetapi memastikan bantuan itu sampai dengan cara yang tidak merendahkan martabat orang yang menerima.

Peristiwa antrean takjil di Samarinda tentu tidak bisa langsung disamakan dengan kisah sejarah tersebut. Namun ada satu pelajaran yang sama. Perhatian kepada rakyat tidak cukup hanya dengan program. Pemimpin juga harus hadir dalam cara pelaksanaan.

Jika kegiatan sosial berpotensi menimbulkan kerumunan besar, maka pengaturan distribusi, sistem antrean, hingga pengelolaan informasi harus dirancang lebih matang.

Apalagi di era media sosial seperti sekarang. Satu isu kecil, seperti kabar adanya amplop tambahan, bisa dengan cepat menggiring ribuan orang datang ke satu lokasi.

Ramadan adalah bulan berbagi. Namun berbagi juga harus dilakukan dengan cara yang menjaga ketertiban, keamanan, dan martabat masyarakat.

Peristiwa hari ini seharusnya menjadi bahan evaluasi. Bukan untuk menyalahkan niat baik siapa pun, tetapi agar kegiatan serupa di masa depan tidak lagi menghadirkan pemandangan warga yang harus berdesakan di depan pagar kantor pemerintah hanya untuk mendapatkan takjil. (*)

Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.