Beranda blog Halaman 344

Kecelakaan Tambang Renggut 1 Korban Meninggal, Mobil Refueling Masuk Kolam di IGS Pond

0
Ilustrasi kecelakaan kerja. (Ist)

SANGATTA – Satu karyawan tambang dilaporkan meninggal dunia setelah kendaraan refueling yang ditumpanginya terseret arus air dan masuk ke kolam di area IGS Pond, Minggu (11/1/2026) malam.

Peristiwa tersebut melibatkan satu unit kendaraan ringan (LV) bernomor LR2154 milik tim Refueling & Lube Management. Kendaraan dikemudikan Eko Hadi, driver LS PT KBE, dengan Abdullah, Lead Hand Refueling & Lube Management, sebagai penumpang.

Insiden terjadi sekitar pukul 23.00 WITA saat kendaraan melintas di jalur tembus dari Inul Middle menuju IGS. Saat itu, hujan mengguyur kawasan tambang sehingga jalan tergenang air dengan arus cukup deras. Kendaraan diduga kehilangan kendali sebelum akhirnya terseret arus dan masuk ke kolam IGS Pond.

Kedua karyawan sempat berupaya menyelamatkan diri dengan keluar melalui jendela sebelah kiri kendaraan. Abdullah berhasil berenang dan mencapai tepi kolam. Sementara Eko Hadi terseret arus dan sempat dinyatakan hilang.

General Manager External Affairs and Sustainable Development (ESD) PT Kaltim Prima Coal (KPC), Wawan Setiawan, membenarkan kejadian tersebut. Ia mengatakan Eko Hadi sempat dinyatakan hilang sebelum akhirnya ditemukan beberapa jam kemudian.

“Di dalam mobil ada dua orang. Saat melintas, kendaraan terbawa arus. Satu orang bisa menyelamatkan diri, sementara satu lainnya ditemukan meninggal dunia,” ujar Wawan saat dikonfirmasi, Senin (12/1/2026).

Menurut Wawan, korban ditemukan pada Minggu (11/1/2026) sekitar pukul 07.30 WITA dalam kondisi meninggal dunia. Dengan kejadian ini, insiden tersebut dikategorikan sebagai fatality tambang.

Akibat peristiwa tersebut, satu unit LV LR2154 dilaporkan tenggelam. Tidak ada laporan dampak terhadap lingkungan sekitar lokasi kejadian.

Fakta lapangan menunjukkan kondisi cuaca hujan, jalan operasional tergenang air, serta adanya arus di jalur yang dilalui kendaraan. Di lokasi tersebut juga terdapat rambu batas kecepatan maksimal 60 kilometer per jam.

Terkait penanganan pascakejadian, Wawan memastikan perusahaan akan menjalankan seluruh kewajiban sesuai prosedur yang berlaku, termasuk pemenuhan hak-hak korban sebagai karyawan dalam konteks hubungan industrial.

“Hak-hak sebagai karyawan dalam konteks industrial akan dipenuhi. Proses teknis dan pendampingan kemanusiaan tetap kami lakukan sebagai kewajiban perusahaan,” tegasnya.

Namun demikian, pihak perusahaan menyatakan belum dapat memastikan apakah insiden tersebut terjadi akibat unsur kelalaian atau merupakan murni kecelakaan kerja. Saat ini, proses evaluasi dan pendalaman masih berlangsung.

Insiden ini kembali menyoroti pentingnya pengawasan jalur operasional serta penerapan standar keselamatan kerja di area tambang, khususnya saat kondisi cuaca ekstrem.

Penulis: Ramlah
Editor: Yusva Alam

Lowongan Kerja Capai 5.363, Disnaker Jelaskan Penyebab Penempatan Tak Maksimal

0
Kantor Disnaker Bontang. (Syakurah)

BONTANG – Jumlah lowongan kerja di Kota Bontang sepanjang 2025 tercatat mencapai 5.363 lowongan, namun angka tersebut tidak sepenuhnya berbanding lurus dengan jumlah tenaga kerja yang berhasil ditempatkan, yakni 4.107 orang.

Kepala Bidang Pelatihan Produktivitas dan Penempatan Kerja Disnaker Bontang, Lukmanul Hakim, menjelaskan ketidaksinkronan tersebut bukan tanpa sebab. Menurutnya, tidak semua lowongan yang dibuka perusahaan dapat diisi oleh tenaga kerja lokal.

“Ketika perusahaan melakukan rekrutmen terbuka, ada beberapa jabatan yang ternyata tidak tersedia tenaga kerjanya di Kota Bontang, terutama dari sisi kualifikasi,” jelasnya, Senin (12/1/2026).

Ia menyebutkan, apabila tidak ditemukan pencaker yang memenuhi persyaratan, maka proses rekrutmen akan diperluas ke tingkat provinsi hingga antar daerah.

“Kalau di Bontang tidak ada yang sesuai, mau tidak mau kita carikan di luar daerah. Itu sebabnya jumlah lowongan tidak selalu sama dengan penempatan,” katanya.

Kondisi ini, kerap terjadi pada jabatan-jabatan tertentu yang membutuhkan keahlian khusus dan pengalaman spesifik, sehingga tidak bisa diisi secara instan oleh pencaker lokal.

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Pencari Kerja di Bontang Naik Tajam, Penempatan Tembus 4.107 Orang di 2025

0
Kepala Bidang Pelatihan Produktivitas dan Penempatan Kerja Disnaker Bontang, Lukmanul Hakim. (Syakurah)

BONTANG – Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kota Bontang mencatat kenaikan signifikan jumlah pencari kerja (pencaker) sepanjang 2025.

Berdasarkan data resmi hingga Desember 2025 kemarin, total pencaker mencapai 10.708 orang, meningkat dibandingkan tahun 2024 yang berjumlah 8.497 orang.

Seiring meningkatnya jumlah pencaker, penempatan tenaga kerja juga mengalami kenaikan. Pada 2025, Disnaker berhasil menempatkan 4.107 orang ke berbagai sektor pekerjaan. Angka ini naik dibandingkan capaian penempatan tahun 2024 yang berada di angka 3.072 orang.

Kepala Bidang Pelatihan Produktivitas dan Penempatan Kerja Disnaker Bontang, Lukmanul Hakim, mengatakan peningkatan tersebut menunjukkan aktivitas pasar kerja di Bontang semakin dinamis.

“Jumlah pencaker baru terus bertambah sepanjang 2025. Alhamdulillah, penempatan juga ikut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya,” ujarnya.

Selain penempatan, jumlah lowongan kerja yang tersedia di 2025 juga mengalami kenaikan signifikan. Sepanjang tahun, tercatat 5.363 lowongan kerja, naik dari tahun 2024 yang berjumlah 4.358 lowongan.

Meski demikian, Lukmanul mengakui masih terdapat selisih antara jumlah pencaker, lowongan, dan penempatan tenaga kerja yang terjadi setiap tahunnya.

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Antusias Tinggi, Warga Berbondong-bondong Datangi Pasar Murah MT Masjid Fathul Khoir BSD di Mangrove Berbas Pantai

0
Kegiatan pasar murah di Mangrove Berbas Pantai. (Dwi/RadarBontang).

BONTANG – Warga tampak antusias mendatangi pasar murah yang digelar di Mangrove Berbas Pantai sejak pagi, yang dimana masyarakat berbondong-bondong datang untuk mendapatkan barang-barang dengan harga terjangkau.

Kegiatan pasar murah ini digelar oleh Majelis Taklim (MT) Muslimah Masjid Fathul Khoir BSD, Minggu (11/1/2026) mulai pukul 08.00 Wita hingga pukul 12.00 Wita. Dari pengamatan di lapangan, masyarakat langsung menyerbu barang-barang yang dijual di lapak tersebut.

Bahkan saat stand belum dibuka pun, masyarakat sudah memilah-milah barang yang diinginkan dan sudah disisihkan, kemudian nantinya mereka tinggal membayar.

Ketua Panitia Pasar Murah MT Masjid Fathul Khoir BSD, Erna menyampaikan bahwa kegiatan pasar murah termasuk salah satu kegiatan bakti sosial yang dilakukan setiap tahunnya. Kegiatan pasar murah ini sudah berlangsung sebanyak 4 kali, dimana untuk pertama kalinya diadakan di Guntung, dan ketiga berikutnya berlangsung di Mangrove Berbas Pantai.

“Untuk hasil jualannya nanti akan kami berikan ke masyarakat yang membutuhkan, kalau untuk di bagian stand Palestina, hasilnya nanti akan kami kirim langsung ke Palestina,” jelasnya.

Untuk barang-barang yang dijual di pasar murah tersebut meliputi baju anak, gamis, celana, barang elektronik, peralatan dapur, sepatu, sandal, stroller, hingga barang-barang lainnya.

Adapun untuk barang di stand Palestina berasal dari salah satu warga BSD yang sudah berdonasi, dan barang tersebut barang baru akan tetapi dijual dengan harga murah.

“Kebanyakan yang diserbu mukenah, itu yang paling laris. Kita juga menjual dan mengobral barang-barang mulai harga Rp 5 ribu, sampai Rp 10 ribu dapat 3. Barang-barang tersebut yang dijual adalah milik warga BSD, yang tentunya masih bagus dan layak pakai,” tambahnya.

Dengan adanya kegiatan sosial ini, Erna menjelaskan bahwa kegiatan tersebut menjadi salah satu program prioritas kerja dalam kepengurusan di MT Masjid Fathul Khoir BSD.

“Semoga menjadi manfaat bagi yang membutuhkan, sebab kami pun mendonasikan dana atau barang tersebut ke yang membutuhkan, seperti panti, yayasan, atau masjid,” tutupnya.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Dari Gelap ke Terang: 66 Ribu KK di Pedalaman Kaltim Kini Nikmati Listrik, Janji Harum–Seno Dikebut

0
Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Komunal melayani permukiman warga di pedalaman Mahakam Ulu, menghadirkan listrik bersih di kawasan terpencil. Foto: Istimewa

SAMARINDA – Bagi Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud, ketersediaan listrik bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan soal keadilan. Di usia 80 tahun Indonesia merdeka, ia menilai tak boleh lagi ada warga Kaltim—terutama di pedalaman dan perbatasan—yang hidup dalam gelap sementara wilayah perkotaan menikmati listrik tanpa jeda.

Saat awal menjabat pada 20 Februari 2025, Pemprov Kaltim mencatat masih ada 109 desa yang belum teraliri listrik. Kondisi ini disebut Harum sebagai ironi besar di tengah pembangunan masif yang terjadi di provinsi penyangga Ibu Kota Nusantara.

“Listrik harus dinikmati seluruh rakyat Kaltim, baik di perkotaan, pedesaan, pedalaman, termasuk perbatasan,” tegas Harum dalam berbagai kesempatan.

Tekad itu tak berhenti di pernyataan. Bersama Wakil Gubernur Seno Aji, Pemprov Kaltim langsung melakukan intervensi sejak tahun pertama kepemimpinan. Dalam kurun sekitar 10 bulan, sebanyak 36 desa terjauh, tertinggal, dan terisolir berhasil disentuh program kelistrikan.

“Tahun pertama, sekitar 10 bulan sudah ada sebanyak 36 desa terjauh, tertinggal dan terisolir listrik yang bisa kami intervensi,” ungkap Harum.

Warga pedalaman menerima simbolis bantuan kelistrikan dari Pemprov Kaltim sebagai bagian program elektrifikasi desa terpencil. Foto: Istimewa

Langkah ini menjadi kado nyata bagi masyarakat di momentum HUT ke-69 Provinsi Kalimantan Timur. Desa-desa penerima manfaat tersebar di Kabupaten Mahakam Ulu, Berau, Kutai Timur, Kutai Barat, Kutai Kartanegara, dan Paser. Total, sekitar 66 ribu kepala keluarga kini bisa menikmati listrik melalui skema Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Komunal.

Pemprov Kaltim menargetkan percepatan lebih lanjut. Saat ini, masih ada sekitar 73 desa yang belum teraliri listrik dengan total sekitar 45 ribu KK. Untuk menjangkau wilayah-wilayah yang belum bisa dilayani jaringan PLN akibat faktor geografis dan ketiadaan badan jalan, pemerintah memilih pendekatan alternatif melalui PLTS Komunal dan Alat Penyalur Daya Listrik (APDAL) per rumah tangga.

“Tantangan desa-desa itu letak geografisnya sangat jauh dari jangkauan instalasi PLN dan juga belum memiliki badan jalan. Karena itu kami minta segera dibuat pemetaan jalur pendekat untuk listrik tersebut,” ujar Harum.

Ia menegaskan, PLTS bukan solusi sementara. Pemerintah akan terus mendorong agar PLN pada akhirnya bisa masuk ke seluruh wilayah, seiring terbukanya akses jalan dan infrastruktur pendukung.

“PLTS ini pra saja. Kami akan terus perjuangkan agar PLN bisa masuk ke semua wilayah, karena itu harus ada badan jalan. Ini juga harus segera kita petakan,” tegasnya.

Dampak kehadiran listrik mulai dirasakan langsung masyarakat. Di Kampung Batoq Kelo, Kecamatan Long Bagun, Kabupaten Mahakam Ulu, warga yang selama puluhan tahun hidup tanpa listrik kini bisa menikmati penerangan 24 jam. Desa dengan penduduk sekitar 1.028 jiwa itu kini dilayani PLTS berkapasitas terpasang 60,8 kWp, didukung baterai 576 kWh dan inverter 50 kW.

“Listrik ini akan meningkatkan kualitas hidup masyarakat, mendorong pertumbuhan ekonomi, sosial, dan pendidikan secara berkelanjutan,” kata Harum.

Antonius Legiu, Ketua Adat Desa Batoq Kelo, tak menyembunyikan rasa harunya. “Kami sangat senang dan berterima kasih kepada Pak Gubernur dan Wakil Gubernur. Sekarang bisa menikmati listrik, sudah bisa beli magic jar dan televisi. Baru sekarang bisa menyaksikan televisi,” ujarnya.

Kebahagiaan serupa dirasakan warga Labuang Kallo, Kecamatan Tanjung Harapan, Kabupaten Paser. Melalui Program Jospol, Pemprov Kaltim menyalurkan 40 unit PLTS APDAL berkapasitas 400 wp dengan baterai 1.000 wh. Warga menyebut listrik sebagai titik balik kehidupan mereka yang selama ini bergantung pada lampu minyak dan genset.

“Kami berterima kasih dan bangga kepada Pak Gubernur dan Wakil Gubernur yang mau memperhatikan kami rakyat kecil yang hidup di tambang-tambang ini,” ujar Muzni, warga Labuang Kallo. (MK)

Editor: Agus S

Pelayanan Publik Jadi Ukuran, Gubernur Kaltim Anugerahkan Emas untuk Tiga Camat Terbaik

0
Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud menyerahkan penghargaan kepada tiga camat berprestasi pada peringatan HUT ke-69 Provinsi Kalimantan Timur. Foto: Istimewa

SAMARINDA – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-69 Provinsi Kalimantan Timur menjadi momentum penegasan peran aparatur di garis terdepan. Pemprov Kaltim menganugerahkan penghargaan kepada tiga camat berprestasi sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi, inovasi, dan kepemimpinan dalam pelayanan publik di tingkat kecamatan.

Penghargaan diserahkan langsung oleh Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud kepada Camat Long Kali, Kabupaten Paser, M Arfah, yang meraih predikat terbaik pertama. Posisi terbaik kedua diraih Camat Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara, Burhanudin, sementara terbaik ketiga diberikan kepada Camat Balikpapan Barat, Kota Balikpapan, Erwin.

Tak sekadar piagam, Pemprov Kaltim juga memberikan hadiah emas sebagai bentuk penghargaan nyata. Camat terbaik pertama menerima emas 20 gram, terbaik kedua 15 gram, dan terbaik ketiga 10 gram. Pemberian ini sekaligus menjadi pesan bahwa kinerja aparatur yang berdampak langsung ke masyarakat layak diapresiasi secara konkret.

Dalam sambutannya pada peringatan HUT Kaltim yang digelar di Stadion Gelora Kadrie Oening Sempaja, Jumat (9/1/2026), Gubernur Harum menekankan posisi camat sebagai simpul penting pemerintahan daerah. Camat, kata dia, adalah jembatan kebijakan—tempat keputusan pemerintah diterjemahkan menjadi layanan yang dirasakan warga.

“Camat memiliki peran penting sebagai penghubung kebijakan pemerintah dengan masyarakat. Dari camatlah kebijakan itu diterjemahkan dan dirasakan langsung oleh warga,” tegas Harum.

Ia berharap penghargaan ini menjadi pemantik semangat bagi seluruh camat di Kalimantan Timur untuk terus meningkatkan kualitas layanan, bersikap responsif terhadap kebutuhan masyarakat, serta menjaga integritas dan profesionalisme birokrasi.

“Penghargaan ini bukan hanya simbol, tetapi dorongan agar pelayanan publik semakin baik dan pemerintahan semakin dekat dengan masyarakat,” pungkasnya. (MK)

Editor: Agus S

Akhir Penantian Jalan Pedalaman, Tering–Ujoh Bilang Ditarget Mulus 2026

0
Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud meninjau progres dan paparan teknis ruas jalan Tering–Ujoh Bilang yang ditargetkan tuntas dan mulus akhir 2026. Foto: Istimewa

SAMARINDA – Akses darat menuju jantung pedalaman Kalimantan Timur segera berubah wajah. Ruas jalan Tering (Kutai Barat)–Ujoh Bilang (Mahakam Ulu) sepanjang 31,53 kilometer dipastikan rampung dan berlapis beton pada 2026, mengakhiri persoalan konektivitas yang selama ini membebani mobilitas warga dan distribusi logistik di kawasan hulu Benua Etam.

Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud menegaskan proyek ini harus dikebut tanpa kompromi. Ia meminta alokasi APBD 2026 sebesar Rp90 miliar dimaksimalkan agar seluruh sisa pekerjaan bisa dituntaskan lebih cepat dari target.

“Jalan ini harus tuntas Pak Nanda. Kalau bisa enam bulan, atau tiga bulan Pak Nanda,” tegas Gubernur Harum kepada Kepala Dinas PUPR Kaltim saat peresmian segmen 1 hingga 4 jalan Tering–Ujoh Bilang, Selasa (6/1/2026).

Penegasan itu disampaikan menyusul masih ditemukannya sejumlah titik krusial yang belum rampung akibat kondisi medan yang berat dan menantang. Dari total panjang ruas, sekitar 23,91 kilometer telah ditangani melalui skema rigid pavement pada APBD 2025. Sisanya, sekitar 7,65 kilometer, akan dilanjutkan pengerjaannya pada 2026.

“Segera saja dikerjakan Pak Nanda. Kita tidak menunggu waktu. Harus cepat, kasian warga kita di Mahakam Ulu,” lanjut Harum.

Sementara itu, Kepala Dinas PUPR Kalimantan Timur AM Fitra Firnanda menjelaskan bahwa penanganan ruas Tering–Ujoh Bilang telah berlangsung bertahap sejak beberapa tahun terakhir. Hingga 2024, total panjang jalan yang sudah tertangani mencapai sekitar 19,28 kilometer.

Untuk tahun anggaran 2025, pekerjaan dilanjutkan melalui dua paket rigid pavement yang menambah panjang jalan mantap secara signifikan. Khusus pada 2026, sisa penanganan dibagi dalam empat paket pekerjaan dengan total panjang sekitar 7,65 kilometer, yang ditargetkan selesai sebelum akhir tahun.

Menurut Fitra, seluruh paket tersebut sudah direncanakan secara teknis dan siap dikerjakan, sehingga tidak ada alasan untuk menunda penyelesaian. Pemerintah provinsi menargetkan sebelum 2026 berakhir, seluruh ruas Tering–Ujoh Bilang sudah tersambung penuh dengan kondisi jalan beton yang layak dan aman dilalui sepanjang tahun. (MK)

Editor: Agus

DED Tuntas, Waterfront & Riverside Road Kaltim Disiapkan Jadi Proyek Rp7 Triliun

0
Salah satu Waterfront & Riverside Road dirancang terhubung dengan Jembatan Mahkota II sebagai solusi kemacetan di Kelurahan Selili, Samarinda. (Ist)

SAMARINDA – Rencana pembangunan Waterfront dan Riverside Road di Kalimantan Timur mulai memasuki fase lebih serius. Setelah Detail Engineering Design (DED) dinyatakan rampung, Pemerintah Provinsi Kaltim memproyeksikan megaproyek ini menelan anggaran hingga Rp7 triliun, dengan fokus utama mengurai kemacetan kronis di Samarinda dan Balikpapan sekaligus menata kawasan tepian sungai.

Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, menyebut proyek ini sebagai jawaban atas persoalan lalu lintas yang selama ini membebani ruas strategis, khususnya koridor Jembatan Mahkota II–Kelurahan Selili hingga kawasan Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Jalur tersebut kerap menjadi simpul kemacetan karena bertemunya kendaraan berat, lalu lintas harian, dan aktivitas permukiman padat.

Tak sekadar membangun jalan baru, Waterfront dan Riverside Road dirancang sebagai proyek transformasi kawasan. Konsepnya menggabungkan fungsi transportasi dengan penataan ruang kota, sehingga tepian sungai tidak lagi menjadi area belakang kota, melainkan wajah baru yang tertata dan produktif.

Secara konsep, waterfront merupakan penataan kawasan tepi sungai yang memadukan jalur kendaraan, pedestrian, ruang terbuka hijau, hingga potensi pariwisata dan ekonomi lokal. Sementara riverside road adalah jalan yang dibangun sejajar mengikuti alur sungai, baik di atas lahan hasil pergeseran sempadan maupun dalam bentuk jalan layang. Kehadiran jalur ini diharapkan mampu mengalihkan arus kendaraan dari pusat kota yang selama ini padat.

Di Samarinda, riverside road direncanakan mengikuti tepian Sungai Mahakam dan terhubung langsung dengan Jembatan Mahkota II. Skema ini memungkinkan kendaraan, termasuk angkutan berat, tidak lagi harus melintasi kawasan permukiman Selili yang selama ini menjadi titik rawan macet.

Berdasarkan penelusuran pada laman LPSE Provinsi Kalimantan Timur, tahap perencanaan proyek sebenarnya sudah berjalan sejak 2025. Paket pekerjaan dengan judul “DED Pembangunan Water Front and Riverside Road (Selili–Jembatan Mahkota II) (Pergeseran)” tercatat memiliki pagu anggaran Rp2,55 miliar. Tender tersebut berlangsung pada Agustus hingga Oktober 2025 dan berada di bawah Satuan Kerja Dinas PUPR-PERA Provinsi Kalimantan Timur.

Meski DED telah selesai ditenderkan, hingga kini dokumen desain belum dipublikasikan secara terbuka ke masyarakat. Padahal, desain tersebut diyakini memuat gambaran rinci mengenai jalan layang di tepian Sungai Mahakam, lengkap dengan konsep ruang publik dan penataan lingkungan yang akan menyertainya.

Gubernur Rudy Mas’ud sendiri menegaskan bahwa proyek waterfront masih berada pada tahap perencanaan awal.
“Waterfront itu sebenarnya ada beberapa kegiatan kita, tetapi baru kita planningkan,” ujarnya usai peringatan HUT ke-69 Provinsi Kalimantan Timur di Samarinda, Jumat (10/1/2026).

Ia tak menampik bahwa pembangunan fisik proyek ini membutuhkan anggaran besar. Untuk kawasan Samarinda saja, nilai investasinya diperkirakan mencapai Rp2 triliun. Sementara untuk Balikpapan, kebutuhan anggaran jauh lebih besar, yakni sekitar Rp5 triliun.

“Prediksi kami untuk yang di Samarinda mungkin sekitar Rp2 triliun. Untuk yang di Balikpapan sendiri mungkin sekitar Rp5 triliun,” ungkap Rudy.

Jika terealisasi, Waterfront dan Riverside Road diproyeksikan bukan hanya menjadi solusi lalu lintas, tetapi juga simbol perubahan wajah kota-kota besar di Kalimantan Timur, dari kawasan yang semrawut menjadi ruang tepi sungai yang modern, fungsional, dan bernilai ekonomi tinggi. (MK)

Banjir Kepung Sepaku, 60 Rumah di Suka Raja Terisolir, Warga Desak Normalisasi Sungai

0
Warga mendorong sepeda motor melintasi banjir setinggi lutut yang merendam jalan permukiman RT 25 Desa Suka Raja, Kecamatan Sepaku. Foto: Atmaja/MKN

NUSANTARA – Banjir kembali mengepung kawasan penyangga Ibu Kota Nusantara. Setelah sebelumnya merendam Kelurahan Mentawir dengan ketinggian air mencapai 1,5 hingga 2 meter, luapan sungai kini bergeser ke Desa Suka Raja, Kecamatan Sepaku, dan mengisolir puluhan rumah warga.

Minggu (11/1/2026), banjir setinggi 30 hingga 50 sentimeter merendam kawasan RT 24 dan RT 25 Desa Suka Raja. Meski tidak sedalam banjir di Mentawir, dampaknya tetap signifikan karena memutus akses dan mengganggu aktivitas harian warga. Total sebanyak 60 rumah terdampak, menjadikan persoalan banjir di wilayah ini kembali mencuat sebagai isu serius yang membutuhkan penanganan permanen.

Luapan sungai menggenangi jalan utama dan halaman rumah warga di RT 24–25 Desa Suka Raja, Sepaku, akibat hujan berintensitas tinggi. Foto: Atmaja/MKN

Ketua RT 25, Rahmad, menyebut kondisi banjir kali ini menegaskan urgensi normalisasi sungai yang selama bertahun-tahun hanya berhenti pada wacana.

“Dulu sudah pernah, sudah 5 tahun lalu. Waktu itu cukup mengatasi persoalan banjir di sini. Kalaupun banjir, surutnya cepat, dan tinggi air tak setinggi sekarang,” jelasnya di lokasi.

Rahmad menjelaskan, pasca-normalisasi beberapa tahun lalu, kondisi sungai sempat membaik. Namun seiring waktu, badan sungai kembali menyempit dan dangkal akibat longsoran tebing serta sedimentasi. Dampaknya, aliran air tak lagi lancar saat hujan deras mengguyur kawasan Sepaku.

“Makanya normalisasi ini kami tunggu. Tentu dengan pengerjaan yang lebih baik paten. Selain itu, kami juga perlu solusi jembatan,” tegasnya.

Ia mengingatkan, normalisasi sebelumnya dilakukan oleh UPT PU Kabupaten dengan menurunkan alat berat ekskavator amfibi hingga mendekati muara sungai. Namun tanpa penanganan berkelanjutan, sungai kembali mengalami pendangkalan. Rencana normalisasi oleh Balai Wilayah Sungai disebut sudah lama masuk pembahasan, tetapi hingga kini belum ada realisasi fisik di lapangan.

Dalam beberapa hari terakhir, hujan berintensitas tinggi mengguyur hampir seluruh wilayah Kecamatan Sepaku. Di Desa Suka Raja, hujan deras sejak pukul 19.20 Wita menyebabkan sungai meluap. Sekitar pukul 03.00 Wita dini hari, ketinggian air terus bertambah dan mulai menggenangi permukiman.

Data di lapangan menunjukkan, di RT 24 terdapat 8 rumah dengan 8 kepala keluarga terdampak. Sementara di RT 25, banjir merendam 52 rumah dengan 58 kepala keluarga atau sekitar 160 jiwa. Pantauan tim gabungan mencatat Tinggi Muka Air (TMA) mencapai sekitar 10 sentimeter di badan jalan, dan 30–50 sentimeter di halaman rumah warga.

Menanggapi kondisi tersebut, jajaran Otorita Ibu Kota Nusantara turun langsung ke lokasi pada Minggu siang. Deputi Sosial, Budaya, dan Pemberdayaan Masyarakat OIKN, Alimuddin, menyampaikan bahwa langkah penanganan akan dikoordinasikan bersama BWS.

“Apakah mengatasi secara permanen, ataukah sementara. Apakah karena ini menjadi programnya BWS, tentu tetap berkoordinasi dengan OIKN. Seperti apa untuk mengatasinya. Apakah mengatasi secara permanen atau sementara dulu ya, kaitan dengan adanya bencana seperti ini,” terang Alimuddin.

Menurutnya, prioritas utama adalah memastikan permukiman warga tidak terus terendam dan akses distribusi hasil kebun masyarakat tetap berjalan.

“Persoalan nanti apakah tindak lanjutnya permanen atau tindakan sementara nanti teman-teman dari Sapras (Sarana prasarana) nanti akan menilai. Juga harus diluruskan, banjir di sini kan sudah sering terjadi. Mungkin hari ini karena faktor curah hujan tinggi kemudian pasang air laut dan lain-lain sehingga terjadi seperti ini. Tapi mudah-mudahan ini yang terakhirlah terakhir,” ujarnya.

Alimuddin menambahkan, hasil koordinasi dengan sejumlah pihak mengerucut pada dua fokus utama, yakni normalisasi dan revitalisasi sungai-sungai di wilayah Sepaku. Dari enam titik rawan yang teridentifikasi, empat di antaranya telah masuk dalam program penanganan, termasuk kawasan Kelurahan Mentawir.

Bagi warga Suka Raja, banjir kali ini menjadi pengingat keras bahwa pembangunan kawasan IKN juga harus diiringi dengan penguatan infrastruktur dasar. Tanpa normalisasi sungai yang serius dan berkelanjutan, banjir berpotensi terus berulang dan menempatkan warga sebagai pihak yang paling terdampak. (MK)

Editor: Agus S

Jembatan Rusak Jadi Ancaman Warga, OIKN Diminta Turunkan Bailey dari Kawasan IKN

0
Jembatan kayu di RT 24 terendam banjir. Kondisinya kian rawan karena banyak berlubang, warga menuliskan imbauan di tepi jembatan. (Atmaja/MKN)

NUSANTARA – Kerusakan jembatan yang menjadi satu-satunya akses warga RT 25 Desa Suka Raja, Kecamatan Sepaku, kembali memantik keluhan keras masyarakat. Warga menilai kondisi jembatan yang rapuh dan kerap terendam banjir bukan lagi sekadar soal kenyamanan, melainkan ancaman keselamatan yang menuntut solusi cepat dari Otorita Ibu Kota Nusantara.

Ketua RT 25, Rahmad Waras Abdillah, menyampaikan desakan tersebut secara langsung. Ia meminta pembangunan jembatan darurat sebagai langkah paling realistis, sembari menunggu solusi permanen yang hingga kini tak kunjung terealisasi.

“Kami minta solusi segera. Ini mendesak bagi lingkungan kami,” tegas Rahmad di lokasi.

Menurutnya, jembatan kayu yang selama ini digunakan dibangun dan diperbaiki secara swadaya oleh warga. Seiring waktu, struktur kayu semakin rapuh, berlubang di banyak titik, dan sangat berbahaya saat debit air meningkat. Ketika banjir datang, akses warga praktis terputus dan risiko kecelakaan meningkat tajam.

Di wilayah RT 25 sendiri masih terdapat tiga jembatan kayu. Sebelumnya, warga sempat mendapat harapan akan dibangunnya jembatan permanen oleh perusahaan yang terlibat dalam pembangunan kawasan Ibu Kota Nusantara. Namun hingga kini, realisasi tersebut tak pernah tuntas. Satu jembatan sempat dikerjakan oleh pihak swasta PT BRP, tetapi pembangunannya terhenti dan tidak bisa digunakan.

Jembatan RT 24 direnovasi secara swadaya oleh masyarakat. (Istimewa)

Akibat mangkraknya proyek tersebut, warga akhirnya berinisiatif membangun jembatan kecil di sisi lain. Selain untuk akses, jembatan ini berfungsi menjaga kelancaran aliran air. Penyempitan jalur air akibat struktur jembatan yang tidak memadai menyebabkan luapan air ke halaman rumah warga saat hujan deras.

Kepala Dusun Semoga Jaya, Nurul Hofi, menegaskan bahwa jembatan tersebut merupakan akses vital bagi warga, terutama untuk keluar-masuk kebun. Ia mendesak agar penanganan darurat segera dilakukan.

“Jadi penanganan yang awal ini, kami berharap untuk menangani jembatan ini tiga. Kami berharap, dapat diaplikasikan segera,” ujarnya.

Terkait persoalan banjir dan aliran sungai, Nurul menyampaikan bahwa Deputi Sosial, Budaya, dan Pemberdayaan Masyarakat OIKN, Alimuddin, telah menjanjikan langkah lanjutan berupa survei lapangan.

“Pak Alimuddin mengatakan, akan ada tim survei memitigasi aliran sungai, kenapa air tidak langsung turun ke muara dengan lancar,” terangnya.

Sementara itu, Direktur Sarana dan Prasarana Sosial Otorita IKN, Agus Ahyar, mengakui bahwa penanganan banjir bukan sepenuhnya berada di kewenangan direktoratnya. Menurutnya, pengendalian banjir masih menunggu program dari Balai Wilayah Sungai.

Meski demikian, Agus menyebut opsi jembatan darurat masih terbuka. “Paling tidak diupayakan jembatan darurat. Ada di IKN beberapa, mudahan bisa diupayakan dibawa ke sini,” jelasnya.

Bagi warga RT 25, harapan kini bertumpu pada langkah konkret, bukan sekadar janji. Selama jembatan layak belum tersedia, setiap hujan besar selalu berarti ancaman terputusnya akses dan risiko keselamatan yang harus mereka hadapi sendiri. (MK)

Editor: Agus S