Ice breaking sebelum memulai pelatihan public speaking bagi UMKM Bontang. (Yusva Alam)
BONTANG – Sebanyak 21 pengusaha UMKM di Kota Bontang mengikuti pelatihan public speaking di Hotel Raodah, Senin (17/11/2025). Kegiatan ini diselenggarakan oleh LPK Adjieradja dan didukung Dinas Koperasi Usaha Mikro Perindustrian dan Perdagangan (DKUMPP) Bontang, serta Wakil Ketua Komisi I DPRD Bontang, Ubayya Bengawan.
Dewi, Tim Penyelenggara dari LPK Adjieradja menjelaskan bahwa pelatihan ini bertajuk public speaking bagi UMKM Kota Bontang. Para peserta akan mengikuti pelatihan selama 3 hari sejak tanggal 17-19 November 2025, dengan 2 pemateri yaitu Master Trainer, Anggi V Goenadi dan Rizky dari Surabaya.
Pihaknya berharap dengan pelatihan ini dapat meningkatkan skill public speaking bagi para pengusaha UMKM.
“Pengusaha UMKM kan juga butuh skill untuk menawarkan produknya. Juga untuk membranding usahanya. Skill public speaking ini sangat dibutuhkan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Koperasi Usaha Mikro DKUMPP Bontang, Muh Takwin mengatakan, pihaknya sangat mendukung terselenggaranya kegiatan ini. Lantaran pelatihan semacam ini juga menjadi salahsatu upaya DKUMPP menjadikan pengusaha UMKM naik kelas.
Selain itu, komunikasi sangat diperlukan bagi pemilik usaha untuk menawarkan produk mereka. Dengan komunikasi yang baik akan mampu membuat konsumen tertarik membeli, bahkan bisa kembali lagi membeli.
“Manfaatkan kesempatan berharga ini untuk meningkatkan kemampuan kita di bidang komunikasi yang berguna mendongkrak usaha kita,” tegasnya sekaligus membuka acara.
Saya (kedua kiri) bersama pegolf satu pairing, berpose sebelum memulai permainan di Lapangan Sintuk Golf Bontang.
Turnamen Pupuk Kaltim Golf Bontang (PGB) Open 2025 pada 15–16 November, menjadi momen penting bagi saya. Setelah hampir sepuluh tahun tidak turun bermain di turnamen Bontang, kembali menjejakkan kaki di fairway memberi rasa berbeda. Selama aktif di Bawaslu sejak 2015 hingga 2023, waktu untuk golf semakin sempit. Sampai tanpa terasa olahraga ini perlahan saya tinggalkan.
Saya mengenal golf dari almarhum Bakrie Makmur, pegolf profesional asal Bontang. Dari beliaulah saya pertama kali belajar memegang stik dengan benar, memahami ritme ayunan, sekaligus mengenal karakter lapangan.
Latihan saya waktu itu tidak intens, tetapi cukup memberi dasar. Fokus saya lebih pada silaturahmi dan ruang pertemuan yang tercipta lewat golf. Dari lapangan Sintuk hingga Badak Golf, saya rutin turun bersama teman-teman humas PKT dan humas Badak LNG. Bahkan sempat ada komunitas kecil bernama Bessai Berinta Golf Club yang menjadi tempat kami berkumpul sebelum masing-masing tenggelam dalam kesibukan.
Saya di depan backdrop PGB Golf Open 2025 sebelum turun bermain.
Niat untuk kembali bermain sebenarnya sudah ada sejak digelarnya Beleng-Beleng Golf Club Open Turnamen 2025 pada 1-2 November, yang juga berkolaborasi dengan Media Kaltim. Setelah itu saya dimasukkan ke dalam grup WhatsApp Beleng-Beleng Golf Club, membuat saya kembali terhubung dengan kawan-kawan sesama pegolf.
Dari situ muncul keyakinan bahwa memang sudah waktunya turun lagi. Selain rindu suasana lapangan, saya ingin kembali menjalin relasi yang dulu tumbuh lewat golf. Di olahraga ini, percakapan mengalir lebih santai, perkenalan terjadi lebih alami, dan banyak urusan justru lebih mudah dibahas dalam satu flight.
PGB tahun ini berlangsung cukup ramai. Dari tee pertama, para pegolf terlihat santai, bercanda, dan saling menyapa sebelum memulai permainan. Sebagian berfoto bersama, sementara lainnya fokus menyiapkan pukulan. Lapangan Sintuk Golf Bontang pun dalam kondisi baik. Green rapi, fairway bersih, dan jalur permainan cukup nyaman.
Seperti halnya turnamen lain, pairing tidak bisa kita pilih. Saya bermain di Flight C pada Sabtu (15/11) siang. Dari empat pemain, satu-satunya yang saya kenal sebelumnya adalah Lurah Loktuan, Supriyadi. Dalam pekerjaan kami sudah beberapa kali bertemu, tetapi baru kali ini turun bersama dalam satu flight. Dua pemain lain adalah Ardiansyah dari Reskrim Polres Bontang dan Aswin, ASN dari Kutai Timur.
Kami mulai dari hole tujuh. Permainan berjalan standar untuk siang itu. Ada pukulan yang rapi, ada yang meleset jauh dari target. Hole 7, par 3 yang cukup menantang, bahkan kami selesaikan tanpa satu pun par. Hasilnya hanya bogey, double, dan triple. Tetapi itulah golf. Ada hari di mana permainan terasa pas, ada hari di mana kita hanya perlu menikmati prosesnya.
Di sela perpindahan hole, obrolan mengalir. Tentang pekerjaan, kondisi lapangan, atau sekadar mengomentari pukulan masing-masing. Semuanya mengalir natural mengikuti ritme permainan.
Dari kejauhan, saya melihat pegolf lain bercanda dengan caddie. Ada yang serius membaca jalur putting, dan ada yang sibuk mengabadikan momen. Turnamen ini terasa santai, tetapi tetap kompetitif.
Yang membuat hari itu lebih lengkap adalah bertemunya saya dengan kawan-kawan lama dari Bessai Berinta Golf Club. Samsir yang berprofesi sebagai notaris, Adrofdita yang telah pensiun dari PT Trust, Didik pensiunan PKT, dan Budi Nanang yang masih aktif di PT KPC. Pertemuan singkat itu mengingatkan saya pada masa ketika golf menjadi ruang diskusi, menjalin relasi baru, sekaligus menjaga silaturahmi.
Peserta memenuhi area awarding PGB Golf Open 2025 yang berlangsung meriah.
Memasuki sesi awarding, suasana tidak kalah meriah. Ruangan penuh, peserta menunggu hasil flight. Sorakan terdengar saat nama pemenang diumumkan. Kehadiran pegolf profesional Benny Kasiadi memberi nilai tambah. Termasuk ketika ia melayani tantangan “Beat The Pro” dengan ramah di par 3.
Suasana tantangan “Beat The Pro” yang dipandu pegolf nasional Benny Kasiadi.
Dua belas pegolf junior tampil cukup percaya diri, dan menurut saya inisiatif panitia menghadirkan kategori junior adalah langkah tepat untuk pembinaan atlet sejak dini.
Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji, yang juga ikut bermain, bahkan menilai lapangan Bontang sudah layak menjadi tuan rumah turnamen berskala lebih besar.
Wagub Kaltim Seno Aji bersama manajemen Pupuk Kaltim dan undangan di panggung utama PGB Golf Open 2025.
PGB tahun ini memang digelar cukup besar. Selain menjadi ajang berkumpulnya pegolf se-Kaltim, panitia juga membawa misi sosial: pembinaan atlet junior, dukungan bagi UMKM lokal, dan penyaluran bantuan untuk warga buffer zone.
Pemenang Best Gross Overall menerima trofi dan hadiah.
Ketua Panitia, Levi Rachmadian, menyebut ada sekitar 250 peserta, termasuk 12 pegolf junior usia 9–18 tahun. Donasi dari peserta mencapai Rp30,75 juta, ditambah Rp20 juta dari panitia untuk disalurkan ke panti asuhan dan masyarakat sekitar. Dari sisi penyelenggara, Direktur Manajemen Risiko PKT, Teguh Ismartono, menegaskan bahwa PGB merupakan bagian dari rangkaian HUT ke-48 PKT dan menjadi komitmen perusahaan dalam pembinaan olahraga, dukungan ekonomi lokal, dan memperluas ruang silaturahmi.
Pemenang Best Nett Overall menerima trofi dan hadiah utama PGB Golf Open 2025.
PGB Open 2025 menjadi momen bagi saya untuk kembali merasakan ritme yang dulu pernah hilang. Golf bukan soal pukulan sempurna, tetapi tentang konsistensi dan bagaimana kita berinteraksi dalam satu flight. Turnamen ini mengingatkan bahwa di tengah kesibukan, ada hal-hal yang memang layak kita jemput kembali. Salah satunya adalah golf.(*)
AL (48) Pelaku yang membakar istri dan anaknya dihadirkan saat prescom. (Ramlah)
SANGATTA — Sebuah tragedi memilukan terjadi di Kecamatan Sangatta Selatan, pada Jumat (7/11/2025) sekitar pukul 10.30 Wita. Seorang pria berinisial AL (48) nekat membakar istri dan anak kandungnya sendiri setelah pertengkaran rumah tangga memuncak, menewaskan sang istri dan membuat anaknya mengalami luka bakar serius.
Korban, NA (35), meninggal dunia setelah empat hari dirawat intensif di RSUD Kudungga akibat luka bakar mencapai 80 persen. Sementara anak mereka, MAA (6), masih menjalani perawatan lanjutan atas luka bakar yang dideritanya.
Berdasarkan hasil penyelidikan Polres Kutai Timur, AL mengakui bahwa ia dan istrinya terlibat adu mulut hampir setiap hari selama satu bulan terakhir. Tekanan ekonomi dan konflik rumah tangga disebut memperkeruh keadaan.
Pada hari kejadian, cekcok kembali terjadi di dapur rumah mereka. Dalam kondisi emosi memuncak, AL mengambil botol pertalite yang disimpannya di box ikan di samping rumah. Bahan bakar itu kemudian disiramkan ke kepala istrinya yang tengah memasak. Korban berusaha menghindar, namun pertalite mengenai tubuh dan lantai dapur.
Tanpa pikir panjang, pelaku menyalakan korek api hingga kobaran besar menyelimuti tubuh korban. Melihat istrinya terbakar, AL menarik NA keluar rumah. Namun ketika mendengar suara tangisan sang anak dari dalam rumah, ia nekat menerobos api demi menyelamatkan sang anak yang turut tersambar.
NA, yang mengalami luka bakar berat di hampir seluruh tubuh, sempat dirawat intensif namun akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada Selasa (11/11/2025) pukul 15.05 Wita akibat henti napas. Sementara anak mereka mengalami luka bakar pada punggung, area pantat, dan anggota gerak bawah.
Keduanya sempat ditangani di Puskesmas Sangatta Selatan sebelum dirujuk ke RSUD Kudungga.
Kapolres Kutai Timur (Kutim) AKBP Fauzan Arianto mengecam keras tindakan pelaku dan menegaskan bahwa kasus ini akan diproses secara profesional.
“Perbuatan ini sangat kejam dan tidak dapat ditoleransi. Setiap bentuk kekerasan dalam rumah tangga akan kami tindak tegas. Kami memastikan proses hukum berjalan transparan dan profesional,” tegasnya.
Hasil visum dari RSUD Kudungga mengonfirmasi adanya luka bakar berat pada kepala, leher, perut, punggung, pinggang, serta anggota gerak atas dan bawah korban NA. Luka-luka tersebut dikategorikan dapat menimbulkan bahaya maut.
AL kini telah ditahan di Polres Kutai Timur. Ia dijerat Pasal 44 ayat (1), (2), dan (3) UU No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan KDRT, dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara serta denda hingga Rp90 juta.
Polres Kutai Timur mengimbau masyarakat agar berani melaporkan setiap bentuk kekerasan dalam rumah tangga untuk mencegah jatuhnya korban lebih banyak.
Upaya penanganan banjir sementara kembali dilakukan Kelurahan Gunung Elai. Petugas bersama masyarakat menumpuk karung pasir di sepanjang turap RT 14 untuk menghambat limpasan air saat curah hujan tinggi. Langkah cepat ini diambil sambil menunggu penanganan permanen agar kawasan tersebut tidak lagi menjadi titik rawan banjir.
Ingin tahu kabar terkini Koran Digital Radar Bontang? Kunjungi link di bawah ini untuk membaca e-paper lengkapnya:
BONTANG – Pejabat Informasi dan Pelayanan Publik (PIPP) RSUD Taman Husada Bontang, Renanthera Vidya Dara menjelaskan mengenai tarif ruangan intensif di RSUD Bontang per harinya.
Ruangan tersebut dikenakan tarif Rp 600 ribu per harinya, belum termasuk tarif lainnya. Seperti visit dokter, akomodasi gizi, maupun tindakan penunjang lainnya.
“Iya ini untuk ruangannya saja per harinya, dan belum penunjang lainnya. Jadi jika ada tambahan atau kebutuhan pasien yang diperlukan, pastinya akan dikenakan biaya lagi,” ucapnya Minggu (16/11/2025).
Ruangan intensif yang ada di RSUD Taman Husada Bontang meliputi ICU (Intensive Care Unit), ICCU (Intensive Cardiac Care Unit), Ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU), dan Neonatal Intensive Care Unit (NICU).
Untuk ruangan ICU dan ICCU pun masih terbagi tiga bagian, seperti Diamond dengan harga Rp 2,330 juta, Ruby seharga Rp 1,790 juta, dan Safir Rp 1,164 juta. (Dwi/Adv)
BONTANG – Ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU) dan Neonatal Intensive Care Unit (NICU) di RSUD Taman Husada Bontang menjadi pusat layanan intensif bagi bayi serta anak-anak dengan kondisi kritis.
Pejabat Informasi dan Pelayanan Publik (PIPP) RSUD Taman Husada Bontang, Renanthera Vidya Dara menjelaskan perbedaan antara pelayanan di bagian ruangan PICU dan juga NICU, walaupun sama-sama menangani anak.
Ruangan PICU adalah untuk anak-anak dan remaja mulai dari usia 18-28 tahun yang sedang mengalami sakit parah atau terluka. Seperti habis mengalami kecelakaan, gagal organ, cedera berat, atau penyakit parah lainnya.
“Sehingga di ruangan PICU ini sangat diwajibkan untuk mendapatkan perawatan yang intensif, dengan pemantauan yang ketat. Termasuk ventilator dan obat khusus,” ungkapnya.
Sedangkan di bagian ruangan NICU khusus untuk bayi yang baru lahir, hingga sampai di usia 28 hari yang sedang mengalami kritis, misalkan bayi dengan keadaan prematur, kelainan bawaan, gangguan pernapasan, atau bayi yang lahir dengan berat badan rendah.
Jadi bayi yang lahir di bawah 32 minggu, atau dengan berat badan rendah sangat membutuhkan perawatan di NICU dengan fasilitas khusus seperti inkubator, terapi oksigen, dan infus.
“Perbedaan antara kedua ruangan tersebut yakni di PICU lebih menangani penyakit akut, cedera, atau serius lainnya pada anak yang lebih besar. NICU untuk menangani bayi,” tutupnya. (Dwi/Adv)
Ruangan ICCU di RSUD Taman Husada Bontang. (Dwi/RadarBontang).
BONTANG – ICU (Intensive Care Unit) dan ICCU (Intensive Cardiac Care Unit merupakan unit layanan intensif yang disiapkan Rumah Sakit (RS), untuk memberikan perawatan optimal bagi pasien dengan kondisi gawat.
Diketahui, untuk ruangan Intensive Care Unit (ICU) adalah unit perawatan intensif umum bagi pasien kritis dari berbagai penyakit. Sedangkan ruangan Intensive Cardiac Care Unit (ICCU) adalah ICU khusus yang fokus pada pasien dengan kondisi jantung kritis seperti serangan jantung atau gagal jantung.
“Ini hampir sama, cuman perbedaan utamanya terletak pada fokus perawatannya saja, ICU untuk kasus yang lebih luas, sementara ICCU spesifik untuk masalah kardiovaskular,” ucap Pejabat Informasi dan Pelayanan Publik (PIPP) RSUD Taman Husada Bontang, Renanthera Vidya Dara, Minggu (16/11/2025).
ICU fokus merawat pasien dewasa dengan berbagai kondisi kritis, cedera serius, atau penyakit lain yang mengancam jiwa, baik kasus trauma maupun non-trauma, bedah maupun non-bedah.
Sedangkan ICCU memfokuskan dalam merawat pasien dengan penyakit kritis, yang berkaitan dengan jantung, seperti penyakit jantung koroner, serangan jantung, gagal jantung berat, atau gangguan irama jantung yang mengancam jiwa.
“Jadi sudah jelas ya disini, kalau ICCU lebih ke jantung. Itulah yang membedakan antara ICU dengan ICCU,” tutupnya. (Dwi/Adv)
BONTANG – Direktur RSUD Taman Husada Bontang, dr. Suhardi, Sp.JP, FIHA menyampaikan bahwa, pasien yang mengalami penyakit jantung bisa berawal dari adanya tekanan psikologis.
Dari tekanan psikologis tersebut, respons tubuh dan juga otak akan tertekan, dimana hal ini bisa menyebabkan yang bersangkutan menjadi stres serta mengalami kecemasan.
“Maka saya sangat menyarankan untuk masyarakat, agar tidak stres secara berlebihan, sebab jika sedang stres maka jantung akan bekerja lebih cepat dari yang biasanya,” ucapnya, Minggu (16/11/2025).
Adapun ciri-ciri penyakit jantung saat sedang kambuh, seperti nyeri dada yang menjalar ke lengan, leher, atau rahang, sesak napas, keringat dingin, mual, pusing, dan detak jantung yang cepat atau tidak teratur.
“Hindari stres yang berlebihan, apabila ada masyarakat yang sering mengalami ciri-ciri tersebut, bisa segera langsung memeriksakan kondisi tubuhnya ke rumah sakit. Jangan terlalu abai dengan kondisi kesehatan,” tutupnya. (Dwi/Adv)
BONTANG – Direktur RSUD Taman Husada Bontang, dr. Suhardi, Sp.JP, FIHA sangat menyarankan ke masyarakat Bontang, agar memiliki tensimeter di rumah masing-masing sebagai antisipasi terjadinya hipertensi.
Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan kondisi kronis. Dimana tekanan darah di arteri secara konsisten terlalu tinggi, sehingga jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah.
Kondisi ini dapat menyebabkan komplikasi serius seperti stroke, gagal jantung, serta mengalami kerusakan ginjal bila tidak segera ditangani.
“Maka saya sangat menyarankan untuk masyarakat bisa menyediakan atau memiliki tensimeter di rumahnya,” ucapnya, Minggu (16/11/2025).
Diketahui, untuk perawatan dan pencegahannya bisa dengan mengubah gaya hidup. Mengkonsumsi makanan rendah lemak dan kaya serat. Serta batasi asupan garam dan alkohol.
“Upayakan kita sesempat mungkin untuk berolahraga, setidaknya ada aktivitas olahraga yang kita lakukan setiap minggunya, dan juga jangan stres. Sebisa mungkin istirahat yang cukup,” tutupnya. (Dwi/Adv)
Direktur RSUD Taman Husada Bontang, dr. Suhardi, Sp.JP, FIHA saat ditemui. (Dwi/RadarBontang).
BONTANG – Direktur RSUD Taman Husada Bontang, dr. Suhardi, Sp.JP, FIHA mengajak masyarakat Kota Bontang untuk bisa hidup sehat. Berikut beberapa tips dari Dokter Suhardi.
Ia menekankan pentingnya pola makan yang seimbang dengan berbagai macam makanan seperti buah dan sayur. Bahkan masyarakat sangat diminta untuk tidak sesering mungkin mengkonsumsi junk food.
“Pilihlah makanan yang sehat, serta perbanyak makan buah dan sayur. Pastikan tubuh kita terpenuhi dengan vitamin serta nutrisi,” ucapnya, Minggu (16/11/2025).
Hindari diet ekstrim, lantaran tubuh sangat membutuhkan asupan nutrisi seperti karbohidrat kompleks, protein, serat, vitamin, dan mineral tetap terpenuhi.
“Jangan karena ingin diet, sampai tidak makan atau konsumsi apa-apa. Semuanya dikurangi dan dibatasi. Itu sangat tidak baik. Proses penurunan berat badan bertahan, tidak instan,” tambahnya.
Maka sangat diimbau ke masyarakat, agar bisa menjalankan pola hidup dengan benar. Terlebih lagi, hindari tekanan seperti stres yang dimana bisa membuat tubuh menjadi ngedrop. (Dwi/Adv)