Wali Kota Samarinda menggelar Press Conference di Balai Kota Samarinda. (Dimas/MKN)
SAMARINDA – Wali Kota Samarinda, Andi Harun, membantah keras tuduhan di media sosial yang menuding proyek unggulan Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda, Program Pro Bebaya, melanggar hukum dan mengandung potensi korupsi sistematis. Unggahan yang viral di Instagram itu bahkan menyeret nama Wali Kota serta menuding kelurahan mengambil alih kewenangan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim).
Dalam konferensi pers di Balai Kota, Jumat (7/11/2025), Andi Harun menegaskan bahwa unggahan tersebut tidak berdasar dan tergolong berita bohong. “Kami sudah analisis. Medianya bukan media pers, produknya bukan produk jurnalistik. Tidak ada verifikasi, tidak ada konfirmasi. Ini berita bohong dan fitnah yang berpotensi menyesatkan publik,” ujarnya.
Menanggapi tudingan soal pelaksanaan Pro Bebaya, Andi Harun menjelaskan bahwa proyek tersebut dilaksanakan secara partisipatif oleh kelompok masyarakat (pokmas), bukan oleh pihak kelurahan. “Lurah sama sekali tidak terlibat dalam teknis proyek. Dana memang ditaruh di kelurahan untuk pertanggungjawaban administratif, tapi pelaksananya masyarakat sendiri,” jelasnya.
Ia menegaskan tuduhan adanya potensi korupsi sistematis tidak memiliki dasar hukum karena tidak ada hasil audit maupun putusan pengadilan yang menguatkan klaim tersebut. “Kalau tidak ada data, tidak ada audit, dan tidak ada putusan hukum, berarti itu fitnah, bukan fakta,” tegas Andi Harun.
Terbuka Kritik, Anti Fitnah
Wali Kota menambahkan, Pemerintah Kota Samarinda tetap terbuka terhadap kritik yang konstruktif selama disampaikan dengan itikad baik dan berbasis data. “Kami tidak anti kritik. Tapi kalau tuduhannya tidak berbasis fakta, itu sudah bukan kritik, itu fitnah. Kritik yang sehat tetap kami terima sebagai masukan,” katanya.
Ia juga mengajak masyarakat agar menggunakan jalur resmi jika menemukan dugaan pelanggaran hukum, bukan menyebarkan isu di media sosial. “Kalau memang ada bukti pelanggaran hukum, silakan lapor lewat jalur resmi. Kami tidak akan melindungi siapa pun yang bersalah. Tapi jangan sebarkan fitnah,” tutupnya. (MK).
Tenant-tenant di IKN saat ini belum dikenakan tarif sewa tempat. (Atmaja/MKN)
NUSANTARA – Hingga saat ini Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) belum menarik sepeser pun retribusi atau tarif sewa atas pemanfaatan aset negara, termasuk Barang Milik Negara (BMN). Ketentuan mengenai besaran tarif maupun waktu pemberlakuannya masih menunggu keputusan resmi dari OIKN.
Deputi Sosial, Budaya, dan Pemberdayaan Masyarakat OIKN, Alimuddin, mengimbau masyarakat agar berhati-hati terhadap oknum yang mengatasnamakan Otorita IKN untuk memungut biaya sewa tenant. “Kalau ada yang seperti itu, tolong laporkan by name, by address-nya. Laporkan ke kami, nanti kami tindak lanjuti,” ujar Alimuddin di kantornya, Jumat (7/11/2025).
Ia menjelaskan, hingga kini tenant-tenant di gedung Kementerian Koordinator (Kemenko), rumah susun (rusun), maupun kawasan Hutan Produksi yang Dapat Dikonversi (HPK) belum dikenai biaya apa pun. “Sampai hari ini belum ya. Kecuali ada yang akan berjualan di situ, bayarnya itu biaya untuk membangun tenannya sendiri, bukan ke OIKN,” jelasnya.
Menurut Alimuddin, ketentuan terkait pengelolaan dan potensi penarikan biaya atas pemanfaatan BMN akan diatur oleh Biro BMN OIKN. Namun hingga kini, kebijakan resmi mengenai hal tersebut belum diterbitkan. “Memang ada ketentuan untuk katakanlah berbayar atau apapun itu. Tapi pada prinsipnya, di tahun-tahun ini sepertinya belum ada yang berbayar secara nominal rupiah. Seingat saya belum ada yang berbayar,” tuturnya.
Kepala Biro Keuangan, Barang Milik Negara, dan Aset Dalam Penguasaan Otorita IKN, Muji Budda’wah, juga menegaskan hal serupa. Ia memastikan bahwa belum ada keputusan dari Kepala OIKN, Basuki Hadimuljono, terkait tarif sewa tenant. “Belum, belum ada penarikan tarif. Belum ada keputusan dari Pak Kepala,” kata Muji.
Muji menambahkan, jika kelak diberlakukan, tarif sewa akan dihitung berdasarkan ukuran luas tempat yang digunakan. “Per meter persegi. Tapi itu tadi, belum diputuskan berapa nominalnya,” ujarnya. (MK).
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memberikan keterangan di Istana Negara terkait perkembangan penyelidikan ledakan SMAN 72 Jakarta. (Sumber: YT/Setpres RI)
JAKARTA — Kepolisian terus memeriksa kasus ledakan yang mengguncang SMAN 72 Kelapa Gading pada Jumat (7/11/2025) siang dan memastikan terduga pelaku merupakan siswa sekolah yang ikut menjadi korban luka.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menjelaskan bahwa identitas terduga pelaku telah ditemukan, namun pemeriksaan lanjutan belum dapat dilakukan karena yang bersangkutan masih menjalani operasi akibat luka terkena ledakan. “Untuk terduga pelaku, saat ini sudah kita dapatkan. Anggota sedang melakukan pendalaman terkait identitas pelaku, lingkungan pelaku, termasuk rumah dan hal-hal lain,” ujar Listyo di Istana Merdeka.
Ia menambahkan, selain terduga pelaku, satu korban lain juga masih menjalani operasi. Dengan demikian, dua orang dirawat intensif oleh tim medis. “Salah satu dari yang saat ini melakukan operasi merupakan terduga pelaku, dan untuk motif saat ini kita dalami berbagai macam informasi,” lanjutnya.
Ledakan terjadi menjelang waktu Salat Jumat dan mengakibatkan puluhan orang luka-luka. Sebagian besar korban telah mendapat perawatan dan kembali ke rumah. “Di awal jumlah korban lima puluh atau enam puluh, tetapi saat ini Alhamdulillah sudah dibuatkan posko, dan korbannya sudah bisa berangsur pulang,” kata Kapolri.
Listyo memastikan tidak ada korban meninggal dunia dan mengungkap bahwa di lokasi ditemukan sejumlah barang seperti senjata mainan serta tulisan-tulisan yang kini diperiksa lebih lanjut. “Itu juga menjadi bagian yang kami dalami untuk mendalami motif bagaimana yang bersangkutan merakit dan melaksanakan aksinya,” ujarnya.
Sementara itu, Presiden RI Prabowo Subianto melalui Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan agar seluruh korban mendapat prioritas penanganan sejak awal kejadian. “Beliau tadi pertama bereaksi untuk prioritas ke korban, penanganan korban,” kata Prasetyo.
Presiden juga mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada terhadap potensi bahaya di lingkungan sekitar, termasuk di sekolah dan tempat tinggal. “Jika ada hal-hal yang dirasa mencurigakan atau berpotensi tidak baik, kita harus semakin peduli baik di lingkungan rumah maupun lingkungan sekolah,” ujarnya.
Kapolda Metro Jaya, Irjen Asep, menuturkan terdapat lima puluh empat korban luka, sebagian di antaranya mengalami luka ringan dan sedang, dan beberapa telah diperbolehkan pulang. “Data yang kita terima, lima puluh empat orang luka ringan dan sedang, bahkan ada yang sudah pulang. Sementara itu dulu,” katanya di RS Islam Cempaka Putih.
Polisi kini menutup lokasi kejadian dengan garis polisi dan unit penjinak bom telah mensterilkan area untuk memastikan keamanan sebelum penyelidikan lanjutan dilakukan. (MK).
Menikmati sore di Merlion Park, ikon wisata paling populer di Singapura. (Foto: Agus S)
Terakhir kali saya ke Singapura adalah tahun 2017, saat mengikuti kegiatan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) di Batam. Usai acara, saya memutuskan menyeberang sendirian ke Singapura hanya untuk sehari. Pagi berangkat dari Pelabuhan Batam Center menuju HarbourFront Singapura, sore sudah kembali lagi ke Batam. Tidak ada agenda besar. Hanya ingin merasakan lagi sensasi naik MRT, menyusuri kota yang tertib, dan menikmati suasana taman-taman yang rapi.
Namun jauh sebelum itu, tahun 2013, saya pertama kali menginjakkan kaki di Singapura bersama rombongan kantor lama. Semua sudah diatur. Hotel, bus, hingga jadwal kunjungan semua sudah ditentukan. Hampir tak ada ruang untuk spontanitas. Tapi pengalaman itu cukup membuat saya kagum dengan keteraturan dan bersihnya kota ini.
Kali ini berbeda. Tidak ada tour guide, tidak ada rombongan, tidak ada agenda resmi. Semua saya atur sendiri. Mulai dari tiket, penginapan, hingga rencana perjalanan harian. Perjalanan mandiri yang saya jalani dengan rasa penasaran dan kebebasan penuh.
Suasana ramai di kawasan Marina Bay sore hari dengan latar Marina Bay Sands. (Foto: Agus S)
Perjalanan dimulai dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Denpasar. Jumat pagi (7/11), pesawat AirAsia yang saya tumpangi lepas landas pukul 07.00 WITA. Dua jam lebih sedikit kemudian, saya sudah mendarat di Bandara Internasional Changi (Changi Airport), bandara terbaik di dunia yang selalu memberi kesan efisien dan nyaman.
Jam di ponsel menunjukkan 09.30 waktu setempat, sama persis dengan waktu di Kaltim. Singapura memang berada di zona waktu UTC+8, sama seperti Balikpapan dan Samarinda. Hanya waktu salatnya yang sedikit lebih lama.
Sebelum berangkat, saya sudah menyiapkan semua dokumen penting: paspor, tiket, dan formulir ICA, formulir kedatangan elektronik yang wajib diisi secara online. Pengisian bisa dilakukan sejak tiga hari sebelum jadwal kedatangan hingga hari H penerbangan. Tanpa formulir ini, proses imigrasi bisa tertahan cukup lama.
Hal kecil lain yang juga perlu diperhatikan adalah aturan barang bawaan. Botol air minum, termasuk air mineral yang masih tersegel, tidak diperbolehkan melewati pemeriksaan keamanan. Sementara itu, powerbank dan perangkat elektronik tetap aman dibawa ke kabin, asalkan kapasitasnya sesuai ketentuan penerbangan.
Begitu keluar dari terminal, suasana Changi Airport langsung terasa. Bersih, teratur, dan nyaman. Petunjuk arah yang jelas membuat siapa pun mudah menavigasi diri. Di dekat pintu keluar, saya menukar sedikit uang ke dolar Singapura (SGD) di money changer bandara. Tak banyak, hanya cukup untuk ongkos taksi dan makan. Di negara ini, hampir semua transaksi bisa dilakukan secara non-tunai, tapi uang tunai tetap berguna untuk transportasi umum atau kios kecil.
Peta MRT Singapura di salah satu stasiun.
Awalnya saya berencana naik MRT menuju hotel, tapi melihat koper yang cukup berat, akhirnya saya memesan Grab. Sopirnya, Mazzali Bin Khosairie, ternyata bisa berbahasa Indonesia. “Kalau dulu datang tahun 2013, pasti banyak yang berubah,” katanya tersenyum.
Saya menatap keluar jendela mobil. Benar saja, gedung-gedung baru berdiri, taman kota makin rapi, dan lalu lintas tetap tertib tanpa suara klakson. Singapura terasa seperti kota yang tak pernah berhenti berbenah.
Tiba di Hotel Boss sekitar pukul 11.00, saya tidak berharap bisa langsung check-in karena jadwalnya pukul 15.00. Namun petugas resepsionis yang ramah mengatakan ada kamar kosong yang bisa digunakan lebih awal. Keberuntungan kecil di negeri yang serba efisien ini.
Setelah beristirahat sejenak, saya bersiap menyeberang ke Masjid Malabar, yang berdiri megah tepat di seberang hotel.
– Masjid Malabar di Victoria Street, salah satu masjid bersejarah dengan kubah emas. (Foto: Agus S)
Masjid ini tampak megah dengan dominasi warna biru dan kubah emas yang berkilau di bawah matahari siang. Di dalam, jamaah sudah mulai berdatangan untuk salat Jumat. Lantainya bersih, udara sejuk, dan suasana khidmat. Khutbah disampaikan dalam bahasa Inggris, sementara teksnya ditampilkan di layar agar mudah diikuti.
Di halaman masjid, panitia menyediakan air minum dan paket “Jumat Berkah”. Di sisi lain, pedagang menjual nasi briyani dan roti prata hangat.
Saya sempat berbincang dengan salah satu jamaah. Ia bercerita bagaimana komunitas Muslim di Singapura hidup berdampingan dengan masyarakat multiagama.
Usai salat dan istirahat sebentar, saya dan istri berjalan kaki menikmati suasana sekitar Bugis Street, pusat belanja murah yang tak pernah sepi. Di sinilah warna Singapura yang sesungguhnya terlihat: modern, tapi tetap punya sisi tradisional. Kios pakaian, makanan ringan, dan suvenir khas berjajar rapi. Harga masih ramah, asal pandai menawar.
Dari Bugis, saya melanjutkan perjalanan sore itu menggunakan MRT menuju Downtown Station di jalur biru (Downtown Line). Perjalanan hanya sekitar 10 menit. Dari sana, saya langsung berjalan kaki menuju kawasan Marina Bay untuk menikmati suasananya. Semua terasa mudah dan efisien.
Kartu EZ-Link edisi Disney yang digunakan untuk naik MRT dan bus di Singapura. (Foto: Agus S)
Saya menggunakan EZ-Link Card, kartu serbaguna yang bisa dibeli di loket MRT seharga 10 dolar Singapura dengan saldo awal 5 dolar. Saya isi ulang lagi 10 dolar untuk berjaga. Rata-rata setiap perjalanan hanya menghabiskan 1,5–2 dolar, sekitar Rp25 ribu per orang.
Begitu keluar di area Marina Bay, suasananya luar biasa. Sore itu langit cerah, angin laut berembus lembut, dan ratusan wisatawan dari berbagai negara berkumpul di sekitar Merlion Park.
Di kejauhan, gedung Marina Bay Sands menjulang seperti kapal raksasa di atas tiga menara kaca. Di tepi promenade, sepasang musisi jalanan memainkan lagu lembut yang berpadu dengan suara air mancur dari mulut patung Merlion.
Saya dan istri berdiri di tepi pagar, menikmati pemandangan. Cahaya sore berubah keemasan, memantulkan siluet gedung-gedung tinggi yang tampak seperti lukisan hidup.
Menjelang petang, kami naik MRT menuju kawasan Expo. Tujuannya ke Changi City Point, mal yang berada tepat di sebelah stasiun Singapore Expo. Tempat ini dikenal dengan deretan factory outlet dan suasananya yang lebih santai. Saya hanya membeli ubi bakar besar seharga 5 dolar, tapi rasanya enak sekali setelah seharian berjalan kaki.
Malam mulai turun saat kami kembali ke Bugis. Di sekitar hotel, aroma nasi briyani dari kedai India memenuhi udara. Kami mampir sebentar untuk makan malam ringan sebelum beristirahat. Hari pertama di Singapura berakhir dengan tenang, tanpa hiruk-pikuk, hanya rasa syukur dan damai di tengah kota yang tak pernah benar-benar gelap. (bersambung)
BONTANG – Saat ini pelayanan Magnetic Resonance Imaging (MRI) telah ditanggung oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Sehingga masyarakat tidak perlu risau lagi, mengenai biayanya.
Kepala Ruang Radiologi RSUD Taman Husada, Sukamto mengatakan, selain ditanggung BPJS Kesehatan, di pelayanan MRI juga sangat terbuka luas untuk masyarakat umum, seperti non-BPJS.
“Jadi pasien tidak perlu cemas lagi soal biaya, karena MRI sudah ditanggung oleh BPJS. Adapun untuk masyarakat umum, juga bisa menggunakan pelayanan ini,” ucapnya, Jumat (7/11/2025).
Pelayanan MRI ini akan memberikan hasil yang sangat akurat. Terlebih pada pasien dengan masalah saraf dan penyakit saraf lainnya.
Alat MRI juga dapat menjadi pilihan yang aman dibandingkan dengan radioterapi atau CT Scan, yang dimana CT Scan menggunakan sinar radiasi.
“Yang pasti, MRI memberikan kesamaan tanpa mengurangi kualitas. MRI yang terjangkau ini dapat mendorong masyarakat melakukan deteksi dini penyakit, sehingga pengobatan menjadi lebih efektif,” tutupnya. (Dwi/Adv).
Ruangan MRI yang berada di RSUD Taman Husada Bontang. (Dwi/RadarBontang).
BONTANG – Pelayanan Magnetic Resonance Imaging (MRI) kini telah tersedia di RSUD Taman Husada. Warga Bontang yang membutuhkan tak perlu lagi ke luar kota.
Kepala Ruang Radiologi RSUD Taman Husada, Sukamto mengatakan, sebelum adanya pelayanan MRI khususnya di RSUD sendiri, masyarakat yang ingin mendapatkan pelayanan tersebut, harus ke luar kota untuk bisa menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
“Iya dulu sebelum ada MRI di RSUD Taman Husada, masyarakat harus ke luar kota agar bisa menjalani pemeriksaan lanjutan. Tetapi sekarang di RSUD telah tersedia layanan tersebut,” ucapnya, Jumat (7/11/2025).
Diketahui, dalam melakukan pemeriksaan MRI sangat penting untuk bisa mendeteksi berbagai penyakit, seperti gangguan saraf, organ dalam, hingga kasus kebidanan.
“Dengan hasil yang lebih detail, dokter dapat memberikan diagnosis yang lebih akurat dan penanganannya juga lebih cepat,” tambahnya.
Sehingga, dengan adanya pelayanan ini dapat membantu masyarakat dalam melakukan pendeteksian penyakit, hingga pengobatan yang efektif. (Dwi/Adv)
BONTANG – Upaya memperkuat peran pelaku Usaha Kecil Menengah (UMKM) dalam ekosistem industri di Kota Bontang terus digencarkan. Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) kini tengah menyiapkan program SI KUMBANG, singkatan dari Strategi Kemitraan antara Usaha Besar dengan Koperasi Merah Putih untuk Pengembangan UMKM.
Kepala DPMPTSP Bontang, Muhammad Aspiannur, menjelaskan bahwa program ini hadir untuk mengatasi belum terpolanya kemitraan antara usaha besar dan pelaku UMKM, meski Bontang merupakan kota dengan aktivitas industri dan investasi yang tinggi.
“Selama ini kontribusi UMKM terhadap ekonomi kota masih kecil. Padahal potensi untuk bersinergi dengan sektor industri besar sangat terbuka. SI KUMBANG hadir untuk menjembatani itu,” ujarnya.
Dalam skema ini, Koperasi Merah Putih akan berperan sebagai penghubung antara kebutuhan rantai pasok perusahaan besar di sektor migas, petrokimia, dan energi dengan kapasitas produksi yang dimiliki UMKM lokal. Sementara DPMPTSP bertindak sebagai lembaga pengarah, penyusun regulasi, dan pengawas kemitraan.
Aspiannur menegaskan, DPMPTSP ingin menempatkan UMKM sebagai bagian penting dalam struktur ekonomi daerah, bukan sekadar pelengkap.
“Kita ingin UMKM tidak hanya jadi penonton. Melalui SI KUMBANG, akan ada kemitraan yang terukur, adil, dan saling menguntungkan,” tegasnya.
Program ini dirancang melalui tiga tahapan pelaksanaan.
Jangka pendek (2 bulan): pembentukan pola kemitraan awal.
Jangka menengah (6–12 bulan): penyusunan Peraturan Wali Kota sebagai dasar hukum pelaksanaan.
Jangka panjang (1–2 tahun): pembangunan ekosistem ekonomi inklusif dan berkelanjutan antara usaha besar, koperasi, dan UMKM.
Aspiannur berharap, kehadiran regulasi nantinya mampu memberikan dampak nyata terhadap pembukaan pasar baru, peningkatan kapasitas usaha, hingga perluasan lapangan kerja.
“Perwali wajib hadir untuk menjamin keberlanjutan dan dampak nyata bagi pelaku usaha kecil,” tambahnya.
Program ini juga sejalan dengan Asta Cita Presiden dan visi Bontang Berbenah, yang menekankan transformasi ekonomi daerah berbasis penguatan koperasi dan UMKM.
Selain menggandeng dunia industri, DPMPTSP turut melibatkan kecamatan dan kelurahan dalam pelaksanaannya.
“Seluruh pihak siap mendukung agar program ini benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” pungkasnya.
NH (35) Korban yang mengalami luka bakar yang dilakukan suaminya sendiri. (Ist)
SANGATTA – Kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) kembali mengguncang warga Kutai Timur (Kutim). Kali ini, tragedi memilukan terjadi di Gang Amuntai Jalan Inpres, Desa Sangatta Selatan, Jumat (7/11/2025), ketika seorang suami berinisial AL (48) diduga membakar istrinya sendiri, NH (35), karena dilanda cemburu buta.
Insiden itu menimbulkan luka bakar parah pada tubuh NH yang mencapai 81 persen. Ironisnya, anak mereka yang baru berusia 6 tahun juga ikut menjadi korban dan mengalami luka bakar derajat 2A–2B di bagian bokong.
Peristiwa bermula saat warga mencium bau menyengat dan melihat asap pekat keluar dari rumah pasangan tersebut. Warga yang panik segera berhamburan ke lokasi dan mendapati NH bersama anaknya sudah terbakar. Mereka pun berupaya memadamkan api dengan alat seadanya, sebelum mengevakuasi keduanya ke Puskesmas Sangatta Selatan untuk mendapat pertolongan pertama.
“Kasus ini terungkap setelah tetangga melihat kepulan asap dari rumah korban,” ujar Kasat Reskrim Polres Kutai Timur, AKP Ardian Rahayu Priatna, saat dikonfirmasi.
Dari hasil penyelidikan awal, polisi menduga AL menggunakan bahan bakar minyak (BBM) dan korek api untuk melancarkan aksinya. Motif sementara yang didalami penyidik adalah rasa cemburu terhadap sang istri.
“Info awal yang kami peroleh, motifnya diduga karena kecemburuan suami terhadap istri,” jelas AKP Ardian.
Usai kejadian, AL juga mengalami luka bakar di tangan kirinya ketika berusaha menolong anaknya yang ikut tersambar api. Ia kini telah diamankan oleh pihak kepolisian untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Korban NH dirujuk ke RSUD Kudungga Sangatta dalam kondisi kritis akibat luka bakar yang luas, sementara sang anak masih menjalani perawatan intensif.
Polisi turut mengamankan sejumlah barang bukti dari tempat kejadian perkara (TKP), di antaranya baju korban yang terbakar, lelehan ember plastik, dan botol bekas BBM.
Kasus tragis ini kini dalam penanganan intensif Satuan Reskrim Polres Kutai Timur, yang berupaya mengungkap motif dan kronologi lengkap di balik tindakan keji tersebut.
BONTANG – Warga Kelurahan Tanjung Laut Indah mengeluhkan aktivitas truk pengangkut koral yang mengganggu kenyamanan dan keselamatan pengguna jalan. Dalam rapat bersama perusahaan dan kelurahan, disepakati lima poin pengendalian untuk menertibkan operasional truk.
SAMARINDA – Kekhawatiran akan hilangnya bahasa daerah di Kalimantan Timur (Kaltim) semakin meningkat, mendorong pemerintah daerah mengambil langkah cepat untuk menyelamatkan identitas budaya yang kian memudar. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltim merespons kondisi tersebut dengan mempercepat penyusunan kurikulum muatan lokal (mulok) berbasis bahasa daerah untuk tingkat SMA.
Subkoordinator Kurikulum dan Penilaian Disdikbud Kaltim, Atik Sulistiowati, menegaskan pentingnya peran sekolah dalam pelestarian bahasa daerah. “Pelestarian bahasa daerah harus dimulai sejak dini dari sekolah,” ujarnya di Samarinda, Jumat.
Langkah ini diambil setelah hasil kajian Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kaltim menemukan fakta bahwa Bahasa Kutai Muara Kaman kini kehilangan penutur aslinya. Kondisi tersebut menjadi sinyal kuat bahwa bahasa-bahasa daerah di Kaltim berada dalam situasi kritis.
Atik menjelaskan, penyusunan kurikulum mulok untuk tiga jenjang SMA kini hampir tuntas. “Kalau tahun 2023 untuk kelas 10, tahun 2024 kelas 11, dan sekarang kami menyusun untuk kelas 12,” jelasnya. Proses ini melibatkan 20 penulis dan dua mentor akademisi agar materi pembelajaran lebih kontekstual dengan kebutuhan daerah.
Saat ini tersedia enam jenis mulok yang dapat dipilih sekolah, mulai dari bahasa daerah hingga potensi sumber daya alam. “Sekolah bebas memilih sesuai karakter daerahnya, misalnya di Paser memilih Bahasa Paser, di Berau memilih Bahasa Berau, di Kutai memilih Bahasa Kutai,” tambah Atik. Ia menekankan bahwa pengajaran bahasa daerah adalah bagian penting dari pelestarian identitas kultural. “Anak-anak harus tahu bahwa bahasa daerah mereka adalah bagian dari warisan budaya yang harus dijaga,” ujarnya.
Sejalan dengan upaya Disdikbud, Balai Bahasa Provinsi Kaltim juga mengingatkan bahwa tiga bahasa suku Dayak — Punan Merah, Dusun, dan Tunjung — kini masuk kategori kritis. Ketiganya hanya dituturkan oleh sebagian kecil masyarakat di Mahakam Hulu, Paser, dan Kutai Barat.
Kepala Balai Bahasa Provinsi Kaltim, Asep Juanda, menyampaikan bahwa sebagian besar bahasa daerah di Kaltim dan Kalimantan Utara mengalami penurunan vitalitas. “Dari 16 bahasa daerah yang teridentifikasi di Kaltimtara, sebagian besar mengalami penurunan fungsi dan jumlah penutur. Jika tidak segera direvitalisasi, beberapa di antaranya akan punah dalam waktu dekat,” ujarnya.
Bahasa Punan Merah kini memiliki kurang dari seribu penutur, sebagian besar berusia di atas 40 tahun. Sementara itu, bahasa Dusun hanya digunakan oleh warga lanjut usia di satu kampung, dan bahasa Tunjung semakin kehilangan penutur muda akibat dominasi bahasa Indonesia dalam komunikasi keluarga. “Generasi muda lebih sering menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari,” ungkap Widyabasa Ahli Muda Balai Bahasa Kaltim, Nurul Masfufah.
Balai Bahasa Kaltim mencatat sedikitnya lima faktor utama penyebab kepunahan bahasa daerah, yakni pergeseran antar generasi, dominasi bahasa Indonesia, urbanisasi, perkawinan antar suku, dan minimnya dokumentasi serta bahan ajar.
Sebagai langkah penyelamatan, Balai Bahasa Kaltim menjalankan Program Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD) melalui pelatihan guru utama bahasa daerah, pengimbasan ke sekolah, serta penyelenggaraan Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI). Program ini melibatkan pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan masyarakat adat.
“Revitalisasi bahasa tidak bisa dilakukan sendiri. Ini harus menjadi gerakan bersama yang melibatkan penutur, tokoh adat, pemerintah daerah, dan dunia pendidikan,” tegas Asep. Ia menutup dengan pernyataan reflektif, “Setiap bahasa daerah menyimpan sejarah dan kearifan lokal masyarakatnya. Jika punah, hilang pula bagian penting dari kebudayaan kita.” (MK).