Beranda blog Halaman 64

Harum Tekankan Sinkronisasi Data, Sensus Ekonomi 2026 Harus Akurat

0
Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud menerima audiensi Kepala BPS Kaltim di Kantor Gubernur Kaltim. (Ist)

SAMARINDA — Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menyatakan dukungan penuh terhadap pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 yang akan digelar Badan Pusat Statistik (BPS) pada 1 Mei hingga 31 Juli 2026.

Dukungan tersebut disampaikan Gubernur Kaltim Dr H Rudy Mas’ud saat menerima audiensi Kepala BPS Provinsi Kaltim, Mas’ud Rifai, bersama jajaran di ruang rapat lantai II Kantor Gubernur Kaltim, Kamis (26/2/2026).

“Kami sangat mendukung penuh Sensus Ekonomi 2026. Karena ini menjadi landasan penting untuk mengetahui daya saing bisnis dan struktur ekonomi daerah dan nasional,” ujar Rudy Mas’ud.

Menurutnya, data hasil sensus akan menjadi pijakan strategis dalam perumusan kebijakan pembangunan. Karena itu, ia menekankan pentingnya sinkronisasi antara data BPS dengan data perangkat daerah, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota.

“BPS Kaltim menjadi mitra strategis dalam pengambilan kebijakan berbasis data. Data harus selalu di-update agar semakin akurat, khususnya data strategis seperti angka kemiskinan, pengangguran, dan pertumbuhan ekonomi. Termasuk analisis ketimpangan antara wilayah pedalaman, pesisir, dan perkotaan,” tegasnya.

Gubernur yang akrab disapa Harum itu juga meminta BPS melakukan pendalaman terhadap data sektoral prioritas. Ia menyoroti sektor pertambangan, perkebunan, serta industri pengolahan yang selama ini memberi kontribusi signifikan terhadap perekonomian Kalimantan Timur.

“Kami harap BPS Kaltim juga bisa mendorong penguatan implementasi Satu Data Indonesia,” pintanya.

Audiensi tersebut turut dihadiri Staf Ahli Bidang II Pemprov Kaltim Siti Farisyah Yana, Kepala Bappeda Kaltim Muhaimin, serta Kepala Biro Perekonomian Setdaprov Kaltim Iwan Darmawan.

Pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 diharapkan mampu menghadirkan gambaran menyeluruh kondisi usaha dan struktur ekonomi di Kalimantan Timur, sekaligus menjadi rujukan penting dalam menentukan arah kebijakan pembangunan lima tahun ke depan. (MK)

Editor: Agus S

Jembatan Nibung Beroperasi, Biaya Feri Rp400 Ribu Tak Perlu Lagi

0
Peresmian Jembatan Nibung (Kadungan–Pelawan) oleh Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud. (Ist)

KUTAI TIMUR — Mulai Rabu, 25 Februari 2026, Jembatan Nibung yang menghubungkan Kadungan–Pelawan di Kabupaten Kutai Timur resmi dapat dilalui masyarakat. Pengoperasian jembatan ini menjadi kabar menggembirakan bagi warga, khususnya pengguna jalur pesisir utara Kalimantan Timur.

Peresmian dilakukan Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud pada Selasa (24/2). Infrastruktur yang telah lama dinantikan tersebut diharapkan memperlancar konektivitas antarwilayah serta menekan biaya transportasi masyarakat.

Salah satu warga yang merasakan langsung manfaatnya adalah Emek Farida, ibu rumah tangga asal Tepian Terap, Kecamatan Sangkulirang. Ia sehari-hari berjualan sembako dan kerap bepergian untuk belanja barang dagangan.

Ia mengaku sangat gembira karena jembatan yang dinantikan akhirnya bisa dilintasi. Selama ini, ia harus mengeluarkan biaya besar untuk penyeberangan feri.

Sebelum ada jembatan, Emek harus membayar Rp400 ribu untuk biaya feri pergi-pulang atau Rp200 ribu sekali menyeberang. Jika memilih jalur darat, jaraknya mencapai sekitar 140 kilometer melalui Kecamatan Karangan, yang dinilai tidak efisien dari sisi waktu maupun konsumsi bahan bakar.

“Setelah jembatan diresmikan, saya bisa menghemat Rp400 ribu. Tinggal siapkan untuk beli bensin kalau saya mau belanja ke Kaubun,” ujar Emek Farida.

Ia menjadi salah satu contoh dampak langsung beroperasinya Jembatan Nibung. Ke depan, jembatan ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi, memperlancar distribusi barang, serta meningkatkan mobilitas warga Kutim, Berau, hingga wilayah Kalimantan Timur secara umum.

Infrastruktur tersebut juga diyakini menjadi penopang jalur strategis pesisir utara yang selama ini bergantung pada penyeberangan feri dan jalur darat memutar. Dengan berfungsinya jembatan, efisiensi waktu dan biaya perjalanan kini semakin nyata dirasakan masyarakat. (MK)

Editor: Agus S

Ramadan PKS Samarinda, Ibadah Diperkuat Aspirasi Diserap

0
Saat anggota DPR RI dari Fraksi PKS daerah pemilihan Kalimantan Timur, Aus Hidayat Nur menyampaikan tausiyah di Markas Dakwah DPW PKS Kalimantan Timur, Jalan M Yamin Samarinda. (Foto: Hanafi)

SAMARINDA — DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Samarinda menggelar kegiatan buka puasa bersama pada Rabu (25/2) di Markas Dakwah DPW PKS Kalimantan Timur, Jalan M Yamin, Samarinda. Agenda ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Ramadan yang dilaksanakan secara berjenjang, mulai tingkat DPC hingga DPD.

Kegiatan tersebut menghadirkan anggota DPR RI dari Fraksi PKS daerah pemilihan Kalimantan Timur, Aus Hidayat Nur, yang tengah menjalankan agenda reses serap aspirasi di Kota Samarinda. Acara dirangkai dengan tausiyah menjelang berbuka, salat Magrib berjamaah, makan bersama, serta dilanjutkan dengan salat Tarawih.

Ketua DPD PKS Samarinda, Ismail Latisi, menegaskan bahwa Ramadan dijadikan momentum penguatan internal sekaligus pelayanan kepada masyarakat. Ia menyebut DPP PKS menetapkan Ramadan sebagai “bulan kemuliaan” dengan tiga fokus utama: ibadah, dakwah, dan sosial.

“Kami sampaikan kepada kader-kader PKS, ayo di bulan Ramadan ini tingkatkan aktivitas ibadahnya. Jangan sampai sama seperti bulan yang lain. Dakwahnya juga harus terasa, dan aktivitas sosialnya dirasakan masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Aus Hidayat Nur menyampaikan kehadirannya di Samarinda merupakan bagian dari tugas konstitusional sebagai anggota DPR RI untuk menyerap aspirasi masyarakat.

“Saya hadir ke Kalimantan Timur, khususnya Samarinda, dalam rangka melaksanakan tugas reses. Saya mengambil kesempatan ini untuk berbuka bersama konstituen di Markas Dakwah. Alhamdulillah suasana Ramadan di Samarinda sangat kondusif, aman, dan meriah,” katanya.

Ia menilai geliat ekonomi masyarakat cukup terlihat selama Ramadan, terutama dari banyaknya pelaku UMKM yang berjualan menjelang waktu berbuka.

“Terlihat banyak UMKM tumbuh dan berjualan di jalan-jalan. Menjelang Magrib, jalan cukup padat karena masyarakat berbelanja untuk berbuka. Ini suasana yang menggembirakan,” ucapnya.

Namun demikian, ia juga menangkap aspirasi masyarakat terkait kondisi ekonomi yang dinilai belum sepenuhnya pulih.

“Aspirasi yang menonjol adalah kondisi ekonomi yang belum baik-baik saja. Daya beli masyarakat dibandingkan tahun-tahun lalu terasa berkurang. Secara kasat mata Ramadan ini meriah, tetapi kalau dilihat lebih dalam, kualitas daya beli sedang menurun,” jelasnya.

Ia menegaskan berbagai aspirasi tersebut akan menjadi bahan perjuangan di parlemen, khususnya dalam mendorong kebijakan yang berpihak pada penguatan ekonomi rakyat dan pelaku usaha kecil di Kalimantan Timur. (MK)

Editor: Agus S

Tes Dadakan di Mapolres Kutim, Pimpinan Bersih Narkoba

0
Momen tes urine yang diikuti Pejabat Utama Polres Kutim hingga jajaran. (Humas Polres Kutim)

SANGATTA — Komitmen pemberantasan narkoba di Kutai Timur tidak hanya disuarakan ke masyarakat. Polres Kutai Timur membuktikan langkah tegas dimulai dari internal institusi.

Kapolres Kutim AKBP Fauzan Arianto bersama seluruh Pejabat Utama (PJU) menjalani tes urine mendadak di Mapolres Kutim. Pemeriksaan dilakukan oleh Tim Urusan Kesehatan (Urkes) dan diawasi langsung Seksi Profesi dan Pengamanan (Propam) untuk memastikan proses berjalan transparan.

Hasil pemeriksaan menunjukkan seluruh peserta tes, termasuk Kapolres dan jajaran PJU, dinyatakan negatif. Tidak ditemukan kandungan narkotika maupun psikotropika dalam sampel urine yang diperiksa.

Kapolres menegaskan bahwa keteladanan menjadi fondasi utama dalam penegakan hukum, khususnya dalam perang terhadap peredaran gelap narkoba.

“Sebelum kami membersihkan penyakit masyarakat, khususnya peredaran narkoba, kami harus memastikan bahwa sapu yang kami gunakan itu bersih. Ini bentuk transparansi dan komitmen kami,” tegasnya, Kamis (26/2/2026).

Ia menekankan, tes urine mendadak ini bukan sekadar seremoni. Pengawasan internal akan terus dilakukan secara berkala dan acak, menyasar seluruh personel hingga tingkat Polsek di wilayah hukum Kutai Timur.

Prinsip zero tolerance terhadap narkoba, kata dia, menjadi komitmen yang tidak bisa ditawar. Setiap anggota yang terbukti terlibat penyalahgunaan narkoba akan ditindak tegas sesuai aturan yang berlaku, termasuk sanksi Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH).

Langkah ini diharapkan memperkuat marwah institusi sekaligus meningkatkan kepercayaan publik terhadap keseriusan kepolisian dalam memerangi narkotika.

“Penegakan hukum harus dimulai dari diri sendiri. Itu prinsip yang kami pegang,” pungkasnya. (MK)

Editor: Agus S

200 Tersangka Narkoba Diamankan Polda Kaltim

0
Waka Polda Kaltim bersama Dirreskoba dan Kabid Humas Polda Kaltim menunjukkan barang bukti ungkapan narkoba.

BALIKPAPAN — Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polda Kalimantan Timur mencatat capaian signifikan dalam pengungkapan kasus peredaran narkotika sepanjang Januari hingga Februari 2026. Dalam kurun waktu kurang dari dua bulan, aparat berhasil membongkar 163 perkara dengan total 200 tersangka yang diamankan dari berbagai kabupaten dan kota di Kaltim.

Direktur Reserse Narkoba Polda Kaltim, Kombes Pol Romylus Tamtelahitu, menyampaikan bahwa capaian tersebut merupakan hasil kerja kolektif Ditresnarkoba bersama 10 satuan wilayah (satwil) narkoba di tingkat polres.

“Dalam waktu relatif singkat, kami berhasil mengungkap 163 kasus dengan 200 tersangka. Angka ini menunjukkan bahwa peredaran narkoba di Kaltim masih menjadi ancaman serius, sekaligus bukti komitmen kami untuk terus melakukan penindakan tegas,” ujarnya, Kamis (26/2/2026).

Dari pengungkapan tersebut, barang bukti yang disita terbilang besar dan beragam. Untuk jenis sabu, polisi mengamankan hampir delapan kilogram. Selain itu, hampir 2.000 butir ekstasi turut disita, termasuk sejumlah obat daftar C yang beredar di pasaran gelap.

Menurut Romylus, variasi barang bukti itu memperlihatkan bahwa jaringan peredaran narkotika di wilayah hukum Polda Kaltim tidak hanya didominasi satu jenis narkoba, melainkan mencakup berbagai bentuk dan pola distribusi.

Empat daerah menjadi sorotan utama dalam pengungkapan kali ini, yakni Balikpapan, Samarinda, Kutai Kartanegara, dan Berau. Namun ia menegaskan, penindakan juga dilakukan di wilayah lain seperti Penajam Paser Utara dan Bontang.

“Pengungkapan ini merata. Upaya pemberantasan kami tidak tebang pilih dan menyasar seluruh daerah yang terindikasi menjadi jalur maupun titik edar,” tegasnya.

Polda Kaltim memastikan akan terus memperkuat sinergi dengan seluruh satwil serta menggencarkan upaya pencegahan melalui edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat. Ia menekankan, perang melawan narkoba membutuhkan dukungan semua pihak.

“Perang melawan narkoba bukan hanya tugas kepolisian. Ini tanggung jawab kita bersama. Kami mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berani melapor dan bersama-sama menjaga generasi muda dari ancaman narkotika,” pungkasnya. (MK)

Editor: Agus S

Pesut Etam Siap Bangkit Saat Jamui Arema FC

0
Press Conference Borneo FC. (Dimas/Media Kaltim)

SAMARINDA — Borneo FC Samarinda mengusung misi bangkit saat menjamu Arema FC dalam lanjutan BRI Super League 2025/2026 di Stadion Segiri, Kamis (26/2/2026) pukul 21.30 WITA. Tampil di hadapan publik sendiri, Pesut Etam bertekad mengamankan poin penuh demi menjaga posisi di papan atas klasemen.

Skuad asuhan Fabio Lefundes telah merampungkan sesi Official Training (OT) pada Rabu sore sebagai persiapan akhir sebelum pertandingan. Laga ini menjadi momentum penting setelah hasil kurang maksimal pada pertandingan sebelumnya melawan Dewa United.

Fabio mengakui jadwal yang padat menjadi tantangan tersendiri bagi timnya, terutama dalam hal pemulihan fisik pemain. Meski demikian, ia tetap optimistis dengan kesiapan skuad.

“Memang waktunya tidak banyak, tetapi cukup bagi kami untuk mendapatkan informasi tentang lawan dan memastikan pemain siap bertanding,” ujar Fabio dalam konferensi pers.

Pelatih asal Brasil tersebut juga menegaskan bahwa pertandingan di bulan Ramadan tidak menjadi alasan untuk menurunkan performa. Menurutnya, program kebugaran telah disusun secara khusus agar kondisi pemain tetap terjaga.

“Bermain di bulan puasa bukan alasan untuk tampil tidak maksimal. Tim lawan juga memiliki pemain yang berpuasa. Kami tetap mengontrol kondisi semua pemain,” tegasnya.

Pertandingan ini turut diwarnai aroma reuni, mengingat Arema FC kini diperkuat mantan pemain Borneo FC, Joel Vinicius. Namun Fabio memastikan timnya telah menyiapkan strategi untuk meredam kekuatan lawan.

Gelandang serang Juan Villa menambahkan, seluruh pemain berkomitmen memperbaiki kesalahan di laga sebelumnya. “Kami harus memperbaiki hal-hal yang kurang baik saat melawan Dewa United. Kami fokus dan siap untuk pertandingan besok,” katanya.

Secara klasemen, Borneo FC berada di posisi ketiga dengan 46 poin, sementara Arema FC menempati posisi kesembilan dengan 31 poin. Meski unggul secara statistik, Pesut Etam tetap mewaspadai potensi kejutan dari tim tamu yang dikenal kerap tampil agresif.

Duel di Segiri diprediksi berlangsung sengit, terlebih atmosfer Ramadan yang biasanya menghadirkan energi tambahan dari dukungan suporter tuan rumah. (MK)

Editor: Agus S

Jalur Kenohan–Kota Bangun Rusak Parah, Kendaraan Mengular

0
Akses jalan antara Kenohan - Kota Bangun (Istimewa)

TENGGARONG — Mobilitas warga di jalur penghubung Kecamatan Kenohan dan Kecamatan Kota Bangun dalam beberapa hari terakhir terganggu akibat kerusakan jalan di sejumlah titik. Ruas yang berubah menjadi kubangan lumpur membuat kendaraan harus melaju sangat perlahan, bahkan sebagian terpaksa berhenti karena tidak mampu melewati genangan dan lubang besar.

Di lapangan, pengendara terlihat saling membantu mendorong kendaraan yang terjebak. Truk dan mobil pribadi yang tersendat menjadi pemandangan biasa, terutama saat arus kendaraan meningkat pada pagi dan sore hari. Antrean panjang pun tak terhindarkan.

Kerusakan paling parah terpantau di wilayah Desa Sekampar, Kecamatan Kenohan, tepatnya di sekitar simpang menuju Desa Semayang. Meski panjang ruas yang terdampak tidak terlalu luas, dua titik dengan kondisi terburuk menjadi penyebab utama tersendatnya arus lalu lintas.

Mamat, warga yang melintas menuju Desa Semayang, mengaku menyaksikan langsung dampak kerusakan tersebut. “Saya melintas sore tadi sekitar jam 4, ada mobil truk terbalik,” ujarnya, Rabu (25/2/2026).

Menurutnya, kepadatan kendaraan sudah terjadi sejak pagi. Mobil roda empat hingga truk bermuatan berat harus bergantian melewati bagian jalan rusak secara perlahan. Kondisi tanah yang lembek akibat curah hujan tinggi membuat permukaan jalan semakin licin dan berisiko.

Selain faktor cuaca, lalu lintas kendaraan bertonase besar seperti truk pengangkut sawit dinilai turut mempercepat penurunan kualitas badan jalan. Kombinasi beban berat dan struktur tanah yang labil memperparah kerusakan.

Warga berharap pemerintah daerah segera melakukan penanganan darurat agar jalur vital antar kecamatan tersebut kembali aman dilalui. Akses Kenohan–Kota Bangun dinilai menjadi urat nadi aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat di kedua wilayah itu. (MK)

Editor: Agus S

Program RT Ku Terbaik Dimulai, 3.134 RT Terima Bantuan Rp150 Juta

0
Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri (Ady/MKN)

TENGGARONG — Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) resmi memulai penyaluran bantuan keuangan bagi Rukun Tetangga (RT) pada tahun anggaran 2026. Setiap RT menerima alokasi Rp150 juta, dengan total penerima mencapai 3.134 RT yang tersebar di 20 kecamatan, meliputi 193 desa dan 44 kelurahan.

Jika diakumulasi, anggaran yang dikucurkan mencapai Rp470,1 miliar. Penyaluran mulai dilakukan pada akhir Februari 2026 sebagai bagian dari penguatan pembangunan berbasis lingkungan terkecil di masyarakat.

Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri, menegaskan program tersebut dirancang untuk memperbesar peran RT dalam menyelesaikan persoalan sosial di wilayah masing-masing.

“Kami mengajak semua pihak dan masyarakat untuk berperan aktif mendukung Program RT Ku Terbaik, bagian dari Kukar Idaman Terbaik,” ujar Aulia.

Ia menekankan keberhasilan program tidak semata diukur dari besarnya anggaran, tetapi dari dampaknya terhadap partisipasi warga dan ketepatan sasaran kegiatan. Pelaksanaan di tingkat RT harus responsif terhadap kebutuhan riil masyarakat.

“Tujuannya, gap antara yang kurang mampu dan yang lebih mampu bisa lebih kecil. Kegiatan harus responsif terhadap kebutuhan warga,” lanjutnya.

Program ini juga diarahkan untuk memperkuat ketahanan sosial berbasis RT. Bantuan dapat digunakan untuk mendukung penyediaan guru ngaji dan guru les, bantuan kebutuhan dasar warga, hingga perbaikan rumah tidak layak huni.

Selain itu, skema tersebut diproyeksikan menjadi instrumen penguatan basis data sosial masyarakat agar kebijakan daerah pada periode pembangunan 2025–2030 semakin tepat sasaran.

“Program ini untuk memastikan setiap RT lebih mandiri, warganya sejahtera, dan lingkungan lebih baik,” tutup Aulia. (MK)

Editor: Agus S

Belajar dari LPDP untuk Gratispol di Kaltim

0

Video Dwi Sasetyaningtyas masih lalu-lalang di media sosial sampai pagi ini. Potongan ucapannya diputar berulang-ulang: “cukup aku saja yang WNI, anak-anakku jangan.”

Orang mungkin menganggap itu urusan pribadi. Tapi ketika yang berbicara adalah alumni beasiswa negara, urusannya tidak lagi sekadar pribadi. Di situ ada uang rakyat.

Dwi adalah alumni LPDP. Lulusan Teknik Kimia ITB, melanjutkan S2 di TU Delft Belanda dengan beasiswa pemerintah. Setelah lulus, aktif di isu lingkungan dan kewirausahaan sosial. Kini tinggal di Inggris bersama keluarga, dengan suami yang juga alumni LPDP.

Sekolah di luar negeri bukan masalah. Tinggal di luar negeri juga bukan dosa. Selama kewajiban kepada negara dipenuhi.

Yang membuat publik tersentak adalah latarnya. Per 30 November 2025, ada 19.686 penerima LPDP yang sedang kuliah dan 31.572 alumni. Dana abadi LPDP sudah mencapai Rp154,11 triliun sejak 2013. Itu bukan angka kecil. Itu pajak rakyat yang dikumpulkan sedikit demi sedikit.

LPDP tidak membiayai tanpa syarat. Penerima harus kembali dan bekerja di Indonesia minimal dua kali masa studi ditambah satu tahun. Kalau tidak, ada sanksi. Bahkan bisa diminta mengembalikan dana.

Itu sebabnya publik sensitif. Karena setiap rupiah di situ ada harapan.

Isu ini terasa makin relevan ketika kita melihat kebijakan di Kaltim. Di era Gubernur Rudy Mas’ud dan Wakil Gubernur Seno Aji, program Gratispol pada APBD 2026 dialokasikan sekitar Rp1,37 triliun dengan target penerima sekitar 158 ribu mahasiswa.

Dari total anggaran tersebut, sekitar Rp1,18 triliun diarahkan untuk mahasiswa S1 dengan jumlah penerima lebih dari 149 ribu orang. Untuk jenjang S2 dan S3, disiapkan sekitar Rp133,6 miliar bagi lebih dari 7.400 mahasiswa. Mahasiswa Kaltim yang kuliah di luar daerah mendapat sekitar Rp12,87 miliar untuk hampir 900 orang. Yang belajar di luar negeri dialokasikan Rp14,84 miliar untuk 133 orang. Bahkan ada Gratispol Khusus Rp34,5 miliar untuk sekitar 1.200 penerima.

Kalau dihitung, hampir Rp1,4 triliun dalam setahun. Di tengah kabar bahwa APBD 2026 disebut turun dibanding tahun sebelumnya.

Saya mendukung pendidikan gratis. Tidak ada yang salah dengan membantu mahasiswa. Pergub Kaltim Nomor 24 Tahun 2025 juga sudah memberi batasan: tidak untuk kelas eksekutif, kelas malam, kerja sama, dan kelas jauh. Artinya ada pagar.

Lantas pertanyaannya, setelah gratis, lalu apa?

Apakah penerima hanya selesai sampai wisuda?
Apakah ada dorongan untuk kembali membangun daerah?
Apakah kita tahu dampaknya lima atau sepuluh tahun ke depan?

LPDP mengajarkan satu hal penting: bantuan besar harus diikuti tanggung jawab besar. Uang negara bukan hadiah. Itu amanah.

Gratispol pun seharusnya begitu. Jangan berhenti pada angka 158 ribu penerima. Jangan hanya bangga pada triliunan rupiah yang digelontorkan. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa yang menerima benar-benar tumbuh dan kembali memberi.

Kaltim tidak butuh generasi yang hanya merasa terbantu. Kaltim butuh generasi yang merasa punya utang moral untuk membangun tanahnya sendiri.

Viralnya video itu seharusnya jadi pelajaran kita semua. Soal beasiswa, soal anggaran, soal program gratis—intinya sama: ada uang rakyat di situ.

Begitu juga dengan Rp1,37 triliun Gratispol. Itu bukan sekadar program populer. Itu keputusan fiskal yang harus dipertanggungjawabkan.

Pada akhirnya, memang tidak ada yang benar-benar gratis.
Di belakangnya selalu ada pajak rakyat.
Dan di dalamnya selalu ada kewajiban yang tidak boleh dilupakan.

Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.

Mobil Dinas Gubernur dan Angka Rp 8,5 Miliar

0

Entah seperti apa rasanya duduk di mobil seharga Rp 8,5 miliar. Saya belum pernah naik mobil kelas itu. Apalagi mengemudikannya. Paling banter saya hanya membawa Fortuner. Itu saja sudah terasa mewah. Tenaganya cukup, nyaman untuk perjalanan jauh, dan rasanya sudah lebih dari cukup untuk ukuran kebutuhan kerja di Kaltim.

Karena itu, ketika angka Rp 8,5 miliar muncul sebagai pagu mobil dinas gubernur, yang terlintas di pikiran saya bukan soal merek atau fitur. Yang terlintas adalah, sebesar apa sebenarnya angka itu bagi publik?

Pengadaan mobil dinas Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud, dengan pagu sekitar Rp 8,5 miliar di RUP TA 2025 memang langsung jadi sorotan. Disebut sebagai SUV hybrid bermesin 3.000 cc dengan kemampuan off-road yang mumpuni. Ada yang menduga spesifikasinya mendekati kelas premium seperti Range Rover.

Pemprov menjelaskan kebutuhannya. Sekda Sri Wahyuni menyebut gubernur ingin turun langsung ke pelosok, melihat kondisi jalan yang dikeluhkan warga, dan medan Kaltim memang berat. Berlumpur, berbatu, jauh dari akses ideal. Disebut pula kendaraan “badak” diperlukan agar agenda kerja tidak terganggu kendala teknis.

Gubernur sendiri menyatakan belum menerima mobil tersebut dan masih menggunakan mobil pribadinya untuk kegiatan dinas. Ia juga menegaskan bahwa pengadaan itu mengikuti Permendagri Nomor 7 Tahun 2006 tentang kendaraan dinas kepala daerah. Artinya, secara aturan, tidak ada yang dilanggar.

Namun publik jarang melihat hanya dari sisi aturan. Publik melihat dari rasa keadilan dan prioritas. Karena Rp 8,5 miliar bukan angka kecil.

Kalau kita pakai ukuran UMP Kaltim sekitar Rp 3,3 juta per bulan, maka dengan Rp 8,5 miliar, uang sebesar itu setara gaji lebih dari 2.500 pekerja selama satu bulan. Atau sekitar 215 orang selama satu tahun penuh.

Itu ribuan keluarga yang bisa membayar kontrakan, membeli beras, menyekolahkan anak, dan bertahan hidup.

Perbandingan ini bukan untuk mengadu domba. Ini hanya cara agar angka miliaran itu terasa lebih nyata.

Ini juga bukan polemik pertama. Tahun 2010, pengadaan Land Cruiser sekitar Rp 1,8–1,9 miliar sudah ramai dibahas. Sementara tahun 2024, dalam dokumen RUP tercatat pagu Rp 5,8 miliar untuk kendaraan dinas gubernur. Kini angkanya Rp 8,5 miliar. Sejauh yang terdokumentasi di sumber terbuka, ini yang tertinggi.

Apakah setiap ganti gubernur harus ganti mobil? Tidak juga. Mobil dinas adalah aset pemerintah, bukan milik pribadi. Biasanya kendaraan lama dilelang setelah usia tertentu atau ketika biaya perawatannya dianggap tidak efisien.

Secara sistem memang ada mekanisme. Tetapi pertanyaan publik bukan hanya soal mekanisme. Pertanyaannya soal waktu dan prioritas.

Di saat pemerintah berbicara efisiensi, di saat masih banyak jalan yang dikeluhkan warga, di saat kebutuhan pelayanan dasar belum sepenuhnya rapi, angka Rp 8,5 miliar akan selalu terasa sensitif.

Saya percaya gubernur ingin bekerja maksimal. Saya juga tahu medan Kaltim memang tidak ringan. Namun di ruang publik, apa pun yang menyangkut uang rakyat, orang pasti akan menilai.

Mobil dinas memang alat kerja. Tapi setiap keputusan anggaran selalu dibaca lebih luas oleh publik.

Yang dinilai bukan hanya mesinnya atau spesifikasinya. Yang dinilai adalah, apakah ini kebutuhan paling mendesak saat ini, atau ada hal lain yang lebih dulu harus diprioritaskan?

Pada akhirnya, ini bukan hanya soal mobil mewah atau tidak. Ini soal bagaimana pemerintah menempatkan uang rakyat. Karena setiap rupiah dalam APBD, berasal dari pajak, dari warung kecil, dari pekerja yang bangun pagi dan pulang malam.

Dan angka Rp 8,5 miliar, bagi banyak warga, menyangkut rasa keadilan. (*)

Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.