SAMARINDA – Pemerintah Kota Samarinda menegaskan komitmennya memperkuat upaya pencegahan penularan HIV/AIDS melalui deteksi dini, edukasi, dan penguatan kebijakan. Hal itu disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda, dr. Ismed Kusasih, saat menghadiri Dialog Publik bertajuk “Urgensi RUU LGBTQ: Dukungan Terbuka Samarinda Terhadap MUI untuk Menjaga Generasi Muda Kota Samarinda” di Citra Niaga, Sabtu (25/7/2026) malam.
Dalam forum tersebut, Ismed menyampaikan Pemkot Samarinda menyambut baik ruang dialog yang melibatkan berbagai elemen masyarakat untuk membahas isu kesehatan dan perlindungan generasi muda.
Dari perspektif kesehatan masyarakat, menurutnya, pencegahan penyakit menular seksual tidak dapat diselesaikan hanya melalui layanan medis, tetapi juga memerlukan dukungan edukasi dan kebijakan.
“Kasus penderita HIV/AIDS paling banyak memang terdeteksi dari perilaku seksual yang menyimpang,” ujar Ismed.
Ia menjelaskan regulasi di tingkat hulu, termasuk usulan atau Rancangan Undang-Undang (RUU), dapat menjadi payung hukum yang memperkuat implementasi program pencegahan dan pengendalian di lapangan.
Dinas Kesehatan Kota Samarinda, lanjutnya, menjadikan penanganan HIV/AIDS sebagai bagian dari Standar Pelayanan Minimal (SPM) ke-12 yang wajib dipenuhi pemerintah daerah.
Dalam dua tahun terakhir, capaian SPM sektor kesehatan untuk penanganan risiko HIV di Samarinda telah melampaui 99 persen.
Upaya tersebut difokuskan pada deteksi dini melalui skrining kepada berbagai kelompok sasaran, mulai dari komunitas rentan, pekerja seksual, hingga masyarakat umum dan ibu hamil.
“Tahun lalu dari target 50 ribu orang, capaian skrining kita hampir 99 persen,” ungkapnya.
Selain memperkuat deteksi dini, Dinkes Samarinda juga terus mengedukasi masyarakat agar tidak memberikan stigma negatif kepada orang dengan HIV/AIDS. Menurut Ismed, penderita harus tetap mendapatkan akses pengobatan sedini mungkin agar kondisi kesehatannya dapat terjaga.
“Kita juga bisa memberikan pengobatan secepat-cepatnya agar tidak sampai masuk ke fase AIDS,” tegasnya.
Saat ini tercatat sekitar 4.000 kasus HIV di Kota Samarinda. Dari jumlah tersebut, sekitar 2.400 orang aktif menjalani pengobatan secara rutin.
Menurut Ismed, tingginya jumlah kasus juga dipengaruhi karakteristik Samarinda sebagai kota dengan mobilitas penduduk yang tinggi sehingga membutuhkan penguatan upaya pencegahan, deteksi dini, dan pengobatan secara berkelanjutan. (MK)
Pewarta: Abdi
Editor: Agus S.




