SENDAWAR – Pemerintah Kabupaten Kutai Barat (Kubar) melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Penelitian dan Pengembangan (Bappedalitbang) menggelar Rapat Koordinasi Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) di Ruang Rapat Lantai II Kantor Bappedalitbang Kubar, Kamis (11/6/2026).
Rapat yang dibuka langsung Wakil Bupati Kubar Nanang Adriani itu difokuskan untuk mempercepat peningkatan capaian Data Sasaran (DS) Posyandu yang hingga Februari 2026 baru mencapai 46,26 persen.
Rakor tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah menekan prevalensi stunting yang masih berada pada angka 27,6 persen atau di atas target nasional. Berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi Bappedalitbang Tahap I Tahun 2026, jumlah balita stunting di Kubar tercatat sebanyak 729 anak.
Plt Kepala Bappedalitbang Kubar, Sulhendi, menjelaskan rakor tersebut merupakan tindak lanjut Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting.
“Melalui rapat ini kami harap dirumuskan langkah efektif untuk meningkatkan kehadiran balita di Posyandu agar pemantauan pertumbuhan anak dapat berjalan tepat sasaran, akurat, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Pemerintah Kabupaten Kubar juga memberikan penghargaan kepada kecamatan dan puskesmas yang menunjukkan kinerja terbaik dalam upaya percepatan penurunan stunting.
Untuk kategori Kinerja Kecamatan melalui Aksi Konvergensi Stunting Tahun 2025, Juara I diraih Kecamatan Penyinggahan, Juara II Kecamatan Tering, dan Juara III Kecamatan Linggang Bigung.
Sementara kategori Capaian DS Posyandu Tertinggi diraih Puskesmas Penyinggahan sebagai Juara I, Puskesmas Muara Pahu Juara II, dan Puskesmas Muara Kedang Kecamatan Bongan sebagai Juara III.
Kasi Pendidikan dan Kesehatan Kecamatan Penyinggahan, Bahrin, menyampaikan apresiasi atas dukungan seluruh pihak yang terlibat dalam program percepatan penurunan stunting di wilayahnya.
“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Keberhasilan ini hasil kerja sama seluruh elemen kecamatan dalam mendukung penanganan stunting dan peningkatan kehadiran balita di Posyandu,” katanya.
Menurut Bahrin, keberhasilan tersebut tidak lepas dari sinergi antara pemerintah kecamatan, puskesmas, penyuluh KB, aparat keamanan, pemerintah kampung hingga masyarakat.
Ke depan, Kecamatan Penyinggahan berkomitmen mempertahankan bahkan meningkatkan capaian yang telah diraih. Salah satu inovasi yang akan dilakukan adalah memperpanjang layanan Posyandu dari satu hari menjadi tiga hari.
“Rencana ini kami siapkan agar masyarakat yang bepergian atau sibuk tetap bisa membawa kartu KMS untuk menimbang balita di hari layanan berikutnya,” ungkapnya.
Sementara itu, Wakil Bupati Kubar Nanang Adriani menegaskan peningkatan kunjungan balita ke Posyandu harus menjadi gerakan bersama seluruh pemangku kepentingan.
“Peningkatan kehadiran balita di Posyandu merupakan kunci deteksi dini risiko stunting dan masalah kesehatan lainnya,” tegasnya.
Nanang mengungkapkan capaian DS Posyandu yang baru menyentuh angka 46,26 persen menunjukkan masih banyak balita yang belum mendapatkan pemantauan pertumbuhan secara rutin.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi persoalan strategis karena berdampak pada akurasi data dan efektivitas intervensi penanganan stunting.
Ia juga menyoroti perubahan pola hidup masyarakat pascapandemi, tingginya mobilitas warga, hingga pemanfaatan teknologi digital yang belum diimbangi kesadaran memanfaatkan layanan kesehatan dasar sebagai tantangan yang harus dihadapi bersama.
“Jangan sampai anak Kubar tertinggal karena stunting yang sebenarnya bisa dicegah melalui pemantauan rutin dan intervensi sejak dini,” tegasnya.
Untuk mempercepat penurunan stunting, Pemkab Kubar mendorong sejumlah langkah konkret, di antaranya memperkuat kebijakan di tingkat kampung agar orang tua membawa balita ke Posyandu sesuai jadwal, meningkatkan kapasitas kader melalui pelatihan dan penghargaan, menyediakan sarana antropometri yang memadai dan terstandar, serta memperkuat integrasi data lintas sektor.
Menurut Nanang, peningkatan DS Posyandu akan memberikan manfaat besar bagi daerah karena menghasilkan data yang valid untuk perencanaan, meningkatkan cakupan imunisasi, memperkuat edukasi gizi keluarga, serta mencegah risiko gagal tumbuh pada anak.
“Tujuan akhirnya memastikan tidak ada balita yang luput dari pemantauan sehingga kita bisa mencetak generasi yang sehat, cerdas, produktif, dan bebas stunting,” pungkasnya. (MK)
Pewarta : Ichal
Editor : Agus S.




