Beranda blog Halaman 1061

Perpustakaan Pelita Ilmu Terus Berinovasi

0
Perpustakaan Pelita Ilmu di Kelurahan Gunung Elai. (Yahya Yabo/ Media Kaltim/jaringan Radarbontang.com)

BONTANG – Perpustakaan Pelita Ilmu milik Kelurahan Gunung Elai telah terakreditasi tingkat kelurahan. Tak cukup dengan status akreditasi, pihak kelurahan terus berinovasi meningkatkan kualitas perpustakaan.

Beragam inovasi yang dilakukan di antaranya dengan membuat gerobak baca. Bekerja sama dengan sekolah-sekolah PAUD membuka kunjungan ke perpustakaan.

“Selain itu kami juga ikut lomba tingkat kota juara 2. Di tingkat provinsi juara 3 perpustakaan kelurahan/desa,” kata Lurah Gunung Elai, Sulistyo.

Sulistyo berencana akan membuat perpustakaan baru. Dikarenakan ruang perpustakaan saat ini terbilang kecil dan masih bergabung di kantor kelurahan.

“Sebelah kantor nanti akan dibuat perpustakaan. Sudah masuk dalam anggaran. Karena dari perpustakaan provinsi menganjurkan harus memiliki gedung sendiri,” urainya.

Untuk pembangunan perpustakaan sendiri akan dianggarkan Rp 199 juta termasuk pengawasannya. “Karena gedungnya kecil hanya 4×6 meter persegi,” ungkapnya.

Sementara untuk jumlah buku yang dimiliki sebanyak 5000 buku lebih, lantaran ketentuan akreditasi perpustakaan dari provinsi. (yah)

Bawa Sabu di Celana, Pemuda Pengangguran Ditangkap Polisi di Kilometer 3

0
Tersangka sudah diamankan di Mako Polres Bontang bersama barang bukti. (ist)

BONTANG –  Seorang pemuda (19) pengangguran berinisial IBP diamankan pihak kepolisian, lantaran terlibat peredaran sabu. Warga Kelurahan Gunung Telihan itu tertangkap di daerah Kilometer 3 tepatnya di Jalan Arif Rahman Hakim, Selasa (7/2/2023) sekira pukul 21.00 Wita.

Kapolres Bontang AKBP Yusep Dwi Prasetiya melalui Kasat Resnarkoba Iptu M Yazid menjelaskan kronologis kejadian.

Anggota Unit Opsnal Sat Resnarkoba Polres Bontang mendapatkan informasi dari masyarakat yang dapat dipercaya kebenarannya, bahwa di Jalan Arif Rahman Hakim, Kelurahan Belimbing sering jadi tempat transaksi narkotika jenis sabu-sabu.

Selanjutnya Tim Opsnal Sat Res Narkoba Polres Bontang menindaklanjuti laporan tersebut dengan melaksanakan penyelidikan. Kemudian anggota Opsanal Sat Res Narkoba Polres Bontang melakukan penangkapan pada tanggal 07 Februari 2023 sekira jam 21.00 WITA terhadap IBP  tepatnya di Gang Makmur.

Pasca dilakukan penggeledahan badan dan pakaian ditemukan barang bukti. Di antaranya 2 bungkus plastik klip yang diduga berisi narkotika jenis sabu di dalam kantong celana, 1 bungkus besar plastik klip diduga narkotika jenis sabu di bawah jok motor, 2 bungkus plastik klip, 1 helai tisu, 1 bungkus snack mie gemez, 1 Unit hp merk Vivo warna biru muda, 1 unit sepeda motor merk Yamaha Mio No Pol : KT 3607DV, dan 1 buah celana jeans warna abu-abu .

“Diakui IBP bahwa barang-barang tersebut miliknya. Selanjutnya pelaku dan barang bukti dibawa ke Polres Bontang untuk dilakukan penyelidikan lebih lanjut,” ujarnya.

Tersangka dijerat dengan pasal 114 atau pasal 112 undang undang RI no 35 tahun 2009 tentang narkotika.

“Ancaman penjara 20 tahun,” tegasnya. (al)

 

UFK: Separuh Penduduk Muslim Indonesia Buta Aksara Alquran

0
Ustad Fatih Karim saat mengisi tausiah subuh di Masjid Fathul Khoir BSD. (Yusva Alam/Radarbontang.com)

BONTANG – Separuh lebih penduduk di Indonesia tidak bisa membaca Alquran. Hal itu disampaikan dai kondang, Ustad Fatih Karim saat roadshow dakwah di Kota Taman, sebutan Kota Bontang, Selasa (7/2/2023).

Dai asal Jakarta yang akrab disapa UFK itu menyebutkan, berdasarkan data sensus nasional Badan Pusat Statistik (BPS) di tahun 2018, buta huruf Alquran mencapai 54 persen penduduk di Indonesia.

Namun, hasil penelitian berikutnya lebih tinggi lagi. Berdasarkan hasil riset Perguruan Tinggi Ilmu Alquran (PTIQ), sekitar 65 persen warga muslim Indonesia masih buta aksara Alquran, terutama di daerah pedesaan atau wilayah pelosok.

Jika mengacu pada data terbaru dari Direktorat Jenderal Pendudukan dan Catatan Sipil atau Dukcapil Kementerian Dalam Negeri, jumlah penduduk Indonesia tahun 2022 secara keseluruhan tercatat sebanyak 275.361.267 jiwa per Juni 2022 atau semester I.

Artinya, diperkirakan sekira 178 juta penduduk muslim yang buta aksara.

Lantaran itu, dalam roadshow perdananya ini ke Kota Bontang dirinya dan Cinta Quran Foundation menggalang dana untuk memberantas buta aksara Alquran.

“Kami sudah berupaya memberantas buta aksara Alquran. Tapi masih banyak kendala,” ujar UFK kepada Radarbontang.com usai mengisi tausiah subuh di Masjid Fathul Khoir, Perumahan Bukit Sekatup Damai (BSD), Selasa subuh.

Dijelaskannya, tim Cinta Quran foundation selama ini masuk ke wilayah-wilayah pedalaman, memberikan pelatihan-pelatihan gratis cara membaca Alquran. Namun begitu terdapat keterbatasan dalam upaya tersebut.

Beberapa kendala adalah tidak semua pengajar mau masuk ke wilayah pedalaman. Ditambah lagi banyak yang malu-malu untuk belajar baca Alquran.

“Kita tahu jarak antar wilayah satu dengan yang lainnya di Indonesia ini jauh-jauh. Butuh biaya besar untuk melakoni upaya tersebut. Masih banyak PR kami. Kami berharap kita semua bisa saling bantu,” ungkapnya.

Dikatakannya, dari upaya tersebut membuahkan hasil. Penurunan jumlah penduduk yang buta aksara Alquran. Namun begitu minim sekali. Lantaran keterbatasan gerak dari tim Cinta Quran Foundation.

“Penurunan ada tapi lambat. Kemampuan kami hanya ratusan ribu yang bisa dibebaskan dari buta aksara Alquran,” pungkasnya. (al)

 

Kasus Kekerasan pada Perempuan dan Anak Turun, Sukmawati: Ibarat Fenomena Gunung Es

0
Ilustrasi kekerasan pada perempuan dan anak (ist)

BONTANG – Kasus kekerasan serta pelecehan pada perempuan dan anak di tahun 2022 mengalami penurunan dibanding tahun 2021. Hasil tersebut berdasarkan laporan yang diterima oleh UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kota Bontang.

Berdasarkan laporan UPTD PPA Bontang di tahun 2022 menerima 99 laporan kekerasan. Sementara di tahun 2021 laporan yang diterima sebanyak 127 laporan.

Sementara itu, dalam Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPA) mencatat, terdapat 40 kasus kekerasan terhadap perempuan dan 64 kasus kekerasan terhadap anak.

Data simfoni adalah data kekerasan yang terdata melalui aplikasi pelaporan online kekerasan perempuan dan anak di tingkat kota, yang dihimpun dari berbagai sumber

Di Simfoni PPA ini, kasus-kasus tersebut biasanya didapat berdasarkan laporan orang sekitar.

“Di dalam Simfoni PPA ini, contoh laporan berasal dari rumah sakit atau tetangga, tapi korban tidak berani melapor,” ungkap Sukmawati, Kasubbag TU, UPTD PPA Bontang.

Disebutkannya, kekerasan pada perempuan biasanya terjadi pada rentang usia 25 sampai 44 tahun. Kebanyakan berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Kemudian kekerasan pada anak biasanya hingga umur 18 tahun.

Sementara itu, per Januari tahun 2023, UPTD PPA sudah menerima 9 laporan terhadap 5 perempuan dan 4 anak-anak.

Sukmawati mengatakan, kekerasan ini seperti fenomena gunung es. Terlihat hanya sebagian, namun kita tidak pernah tahu seberapa banyak yang tak terlihat.

Ia berharap masyarakat bisa peka terhadap kekerasan yang ada di sekitarnya, “Kekerasan bentuknya bermacam, ada kekerasan seksual, psikis, fisik, bahkan verbal. Kalau ada kenalan yang sudah terkena kekerasan bisa langsung ke UPTD PPA. Kami pasti akan membantu, kami berharap tidak sampai nyawa yang menghilang karena kekerasan” pungkasnya. (sya)

Potensi Zakat Kaltim Rp 7 T, Baznas Kaltim: Angka Pengumpulan Masih Jauh

0
Ilustrasi zakat. (ist)

BONTANG –  Pengentasan kemiskinan di Kaltim belum bisa berhasil, lantaran total pengumpulan zakat di seluruh daerah di Kaltim oleh Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) masih jauh dari perkiraan.

Hal itu diungkapkan Wakil Ketua 1 Baznas Kaltim, Miswan Tahadi dalam sambutannya di seminar zakat nasional garapan Baznas Bontang bekerjasama dengan Darud Da’wah Wal Irsyad (DDI) Bontang, Selasa (7/2/2023) di Pendopo Rumah Jabatan Wali Kota Bontang.

Dipaparkannya, perkiraan potensi zakat per tahun di Kaltim dapat mencapai Rp 6.99 triliun. Namun begitu, zakat yang berhasil dikumpulkan Baznas di seluruh daerah di Kaltim totalnya hanya mencapai Rp 35,5 miliar per tahun. Bahkan jika digabung dengan Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang ada di seluruh Kaltim, totalnya mencapai Rp 70 miliar per tahun.

“Potensi zakat hampir Rp 7 triliun. Tapi pengumpulan zakat di seluruh daerah masih jauh dari angka potensi tersebut,” ujar Miswan.

Dikatakannya, seandainya semua pihak mau bersinergi, maka 6,4 persen total warga miskin di Kaltim dapat dientaskan. (al)

 

 

 

 

Satlantas Razia Pengendara Knalpot Racing

0
Ilustrasi razia pengendara knalpot racing. (ist)

BONTANG – Satlantas Polres Bontang melaksanakan patroli dan hunting sistem terhadap pemilik kendaraan pemakai knalpot racing, Selasa (7/2/2023).

Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari laporan masyarakat, yang merasa resah dan terganggu dengan suara knalpot racing/brong. Apalagi di saat jam istirahat.

Kapolres Bontang, AKBP Yusep Dwi Prastya, melalui Kasat Lantas AKP Toni, Joko Purnomo menyampaikan, “Penertiban terhadap pemilik kendaraan secara hunting sistem terlihat cukup efektif dilaksanakan. Semakin berkurangnya suara bising di jalan raya yang dihasilkan dari suara knalpot brong/racing. Kita lihat di jalan masih ada apa enggak yang menggunakannya,” ucap Kasat Lantas.

Dijelaskannya, kebanyakan pengguna knalpot brong/racing yang terjaring merupakan anak-anak berusia remaja. Polres menghubungi orang tua mereka, meminta anak yang terjaring membuat pernyataan agar mengakui kesalahannya. Lalu berjanji tidak mengulangi.

“Setelah itu mereka harus mengganti knalpot brong/racing dengan knalpot standar, baru kami pulangkan,” pungkasnya.  (hms)

Iwabar, Komunitas Perempuan Barru Pertama di Indonesia

0
Para anggota Iwabar berfoto bersama usai diresmikannya komunitas tersebut. (Syakura/Radarbontang.com)

BONTANG – Ikatan Wanita Barru (Iwabar) Bontang resmi menjadi komunitas kumpulan wanita asal Kabupaten Barru pertama di Indonesia. Terbentuknya komunitas tersebut, Senin (06/02/23) malam, di Pendopo Rumah Jabatan Wali Kota Bontang bersamaan dengan dilantiknya pengurus DPD KKDB periode 2023-2028.

Kasmawati, Ketua Iwabar menjelaskan, Iwabar sebenarnya sudah dibentuk sejak 5 September 2022 lalu, namun baru melaksanakan pelantikan kepengurusan pada hari ini.

“Kebetulan saya kemarin juga bagian dari KKDB, lalu saya mengajukan inovasi untuk membuat Iwabar tersebut. Malam ini kami sudah resmi melantik kepengurusannya,” jelasnya.

Berdirinya Iwabar guna mewadahi perempuan Barru, “Dulu saya merupakan ketua pemberdayaan perempuan di KKDB, jadi saya buat Iwabar ini. Ke depannya ini merupakan wadah untuk perempuan-perempuan Barru untuk berkreasi dan bersilaturahmi. Jadi bisa saling mengenal,” lanjutnya.

Kasmawati berharap, Iwabar bisa menjadikan perempuan Barru wanita yang kreatif dan kuat, agar ke depannya dapat membantu dan bersaing untuk perekonomian Kota Bontang. (sya)

DPD-KKDB Bontang Periode 2023 – 2028 Resmi Dilantik

0
DPD –KKDB resmi dilantik di Pendopo Rumah Jabatan Wali Kota Bontang. (Syakura/Radarbontang.com)

BONTANG – Pelantikan Dewan Pimpinan Daerah Kerukunan Keluarga Daerah Barru (DPD-KKDB) dilaksanakan pada Senin (06/02/23) malam di Pendopo Rumah Jabatan Wali Kota Bontang.

Amiluddin, Ketua KKDB yang telah dilantik  berharap, dengan kepengurusan DPD-KKDB yang baru ini dapat makin bersinergi dengan pemerintahan dan masyarakat.

“Saya harap dengan kepengurusan yang baru ini kita bisa terus membantu sesama kita, dan membantu pemerintah dalam  mewujudkan Kota Bontang yang sehat dan beradab,” ungkap Amiluddin.

Sementara, Kasmawati, Ketua Pemberdayaan Perempuan KKDB juga berharap bahwa kepengurusan 2023 sampai 2028 dapat mempersatukan seluruh warga Barru yang ada di Bontang.

“Kami berharap dapat terus bersilaturahmi dengan seluruh warga Barru yang ada di Bontang. Selain itu kami juga saling membantu, untuk warga Barru yang semisal ingin pulang kampung tapi tidak ada biaya. Jadi kami sangat mementingkan sesama kami. Setiap bulan kami sering mengadakan silaturahmi agar makin akrab,” jelas Kasmawati.

Untuk bersinergi dengan pemerintahan, KKDB juga membantu warga yang ingin membuka UMKM.

“Kami akan bantu carikan sponsor untuk warga yang ingin membuka usaha. Jadi bisa bantu warga untuk memenuhi kebutuhannya, juga dengan berjualan tersebut,” ungkapnya. (sya)

Jalan Rusak Tanggung Jawab Siapa?

0
Emirza, M.Pd (Pemerhati Sosial)

Problem jalan rusak di sepanjang jalan menuju wilayah Kelurahan Bontang Lestari (Bonles) belum terselesaikan sampai saat ini. Hal itu kembali dikeluhkan Anggota DPRD Bontang, Rusli dan Nursalam di sela-sela agenda Rapat Paripurna ke-5 masa sidang II DPRD Bontang, dalam rangka pengambilan keputusan terhadap 5 (lima) raperda kota Bontang, Rabu (25/1/2023).

Anggota Komisi I DPRD Bontang, Rusli mengeluhkan, di minggu-minggu ini di sepanjang jalan menuju Bonles, ada beberapa kejadian mobil terbalik. Bahkan dirinya mengaku, mobil yang dikendarainya pernah hampir terbalik. Kondisi jalan dianggap Rusli sangat tidak laik.

Menurutnya, sejak Bonles ditetapkan menjadi kawasan industri, fasilitas jalan tak pernah diperbaiki. Kejadian-kejadian yang disebutkannya tadi, menurutnya tidak pernah digubris sejak awal ditetapkannya Bontang Lestari sebagai wilayah industri. ( radarbontang.com, 25/1/2023 )

Vital

Jalan raya adalah jalan utama yang menghubungkan satu kawasan dengan kawasan yang lain. Keberadaan jalan merupakan salah satu faktor terpenting untuk menunjang aktivitas masyarakat.

Tetapi bagaimana jika fasilitas umum ini rusak, seperti banyaknya jalan berlubang yang bisa menyebabkan terjadinya kecelakaan. Miris jika ini terus dibiarkan tanpa segera diperbaiki.

Jalan menuju wilayah Kelurahan Bontang Lestari bukanlah satu-satunya jalan yang rusak, sehingga dapat menimbulkan bahaya atau kecelakaan. Ada banyak jalan rusak yang sudah menjadi santapan sehari-hari bagi pengendara kendaraan.

Sesuatu yang hanya dapat dimaklumi saja, walaupun menimbulkan kekhawatiran. Kekhawatiran ini karena menyangkut keamanan dan kenyamanan masyarakat.

Jalan adalah fasilitas umum yang harusnya mendapatkan perhatian dari pemerintah. Karena, jalan umum adalah hal vital yang dibutuhkan oleh masyarakat untuk melancarkan keperluannya dalam rangka memenuhi hajat hidupnya.

Sungguh ironis, di negeri yang kaya sumber daya alam, infrastruktur transportasinya pada sebagian wilayah sangat buruk. Dengan sumber daya alam yang ada, seharusnya negeri ini mampu membangun infrastruktur terbaik untuk rakyatnya. Infrastruktur yang dapat diakses oleh semua orang, tanpa harus berbayar.

Kapitalisme

Akar masalah ini adalah penerapan sistem ekonomi kapitalisme yang mengkomersialkan infrastruktur. Fakta banyaknya infrastruktur yang rusak, wajar dipertanyakan sudahkah anggaran yang dikeluarkan negara digunakan untuk membangun infrastruktur yang dibutuhkan oleh masyarakat.

Sistem kapitalisme ini menjadikan pemerintah hanya sebagai regulator. Pemerintah hanya mengaturnya saja, tetapi pelaksanaannya diserahkan kepada swasta. Tak heran jika kualitas jalan makin ke sini makin mudah rusak.

Jalan menjadi salah satu infrastruktur negara, maka kewajiban negara untuk menyediakannya. Bukan menyerahkannya kepada swasta baik swasta pribumi maupun swasta asing.

Tetapi inilah realitanya, tidak ada periayahan (baca: mengurus) yang sungguh-sungguh untuk rakyat.

Hal ini bukti tata kelola transportasi yang berkaitan dengan pengelolaan infrastruktur dalam sistem kapitalisme liberal. Bagaimana pandangan Islam terkait hal ini?

Sistem Islam

Islam adalah sebuah ideologi yang mempunyai aturan, tak terkecuali kepemilikan umum. Jalan merupakan kepemilikan umum yang pengelolaannya diserahkan pada negara untuk keamanan dan kenyamanan masyarakat.  Maka, tidak akan dibiarkan jalan rusak tanpa diperbaiki dengan cepat.

Ingat ungkapan Khalifah Umar bin Khattab ketika menyaksikan ada jalan yang rusak maka beliau berkata “Jangan ada satu keledai pun yang terperosok karena jalan yang rusak, ini akan menjadi pertanggung jawabanku di akhirat kelak”. Begitulah ungkapan seorang pemimpin dalam Islam.

Pemimpin bervisi akhirat yang selalu menyandarkan setiap kebijakan yang dikeluarkan, pasti akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Jangankan nyawa manusia, nyawa hewan pun diperhatikan.

Tidak harus menunggu adanya laporan dari masyarakat, baru kemudian diperbaiki. Dalam Islam, pemimpin berkewajiban memantau.

Islam pun tidak membolehkan pengelolaan fasilitas umum diserahkan kepada swasta, karena orientasinya pasti berbeda. Pihak swasta pasti menargetkan diperolehnya keuntungan materi.

Tetapi dalam Islam, penyediaan semua fasilitas umum merupakan bagian dari pelayanan negara kepada masyarakat. Seluruh pembiayaannya diambil dari kas negara yang pengelolaannya diatur dalam institusi yang disebut Baitulmal.

Karena pengadaan fasilitas umum secara langsung ditangani oleh negara, maka negara tidak boleh memungut dana dari masyarakat. Hal ini karena negara mengelola semua kekayaan yang dimiliki dan dipergunakan untuk kesejahteraan rakyat.

Ada satu karya mendunia yang menggambarkan bagaimana seorang Khalifah membangun infrastruktur jalan. Kisah paling fenomenal adalah proyek pembangunan rel kereta api yang menghubungkan Hijaz, Syam, hingga Istanbul.

Proyek ini dibangun oleh Sultan Hamid II hanya dalam waktu dua tahun, beliau ikut mendanai proyek ini dengan dana pribadinya demi menyediakan fasilitas umum bagi masyarakat.

Jika kas pemasukan di Baitulmal kosong sedangkan fasilitas umum itu vital dan urgen untuk segera direalisasikan, tetapi dana terkuras karena bencana alam, peperangan ataupun lainnya, maka negara mendorong partisipasi masyarakat untuk berinfak, yakni melakukan ta’awun.

Jika masih belum cukup juga, maka negara akan menerapkan dharibah (pajak). Pajak hanya dikhususkan bagi muslim laki-laki yang mampu.

Besaran pajak juga disesuaikan dengan kebutuhan dana yang diperlukan. Jika sudah terpenuhi, maka penerapan pajak dihentikan.

Dengan demikian negara tidak akan membiarkan berlarut-larut dalam penanganan fasilitas umum, karena alasan tidak tersedianya dana ataupun alasan birokrasi. Negara memprioritaskan periayahan rakyat demi tercapainya keamanan, keselamatan, dan kesejahteraan untuk semua.

Dalam Islam, jalan merupakan fasilitas umum yang menjadi tanggung jawab negara sepenuhnya. Maka, keberadaan khilafah merupakan kebutuhan yang urgen untuk segera ditegakkan. Hanya dengan sistem Islam, keamanan dan kesejahteraan hakiki akan mampu diwujudkan.

Wallahu alam.

Pengecekan Barang Titipan Besuk Tahanan

0
Ilustrasi pengecekan barang titipan besuk tahanan. (ist)

BONTANG – Petugas piket jaga tahanan Polres Bontang memeriksa barang dan makanan titipan, Senin,(6/2/2023). Hal tersebut guna memastikan ruang tahanan aman bebas dari barang yang dilarang masuk.

Pengecekan barang ruang tahanan rutin dilaksanakan oleh personel yang melaksanakan tugas piket pada hari itu.

Dikatakan Kasat Tahti, Iptu Heri Purwanto, selama masa pandemi besuk tahanan/tatap muka ditiadakan hingga situasi pandemi dinyatakan berakhir.

Kondisi itu diganti dengan menitipkan barang atau makanan, sesuai protap jaga tahanan barang.

“Makanan tersebut sebelum diserahkan kepada tahanan, diperiksa untuk mengantisipasi masuknya barang-barang yang dapat membayakan petugas jaga dan tahanan itu sendiri,” tegasnya. (hms)