Beranda blog Halaman 14

Musim Kemarau Panjang, PDAM Bontang Berlakukan Giliran Air di Bontang Barat

0
Ilustrasi distribusi air bersih. (AI).

BONTANG – Musim kemarau panjang dan kondisi cuaca yang tidak menentu, membuat sumber air baku di Kota Bontang mengalami penurunan. Kondisi tersebut berdampak pada pelayanan air bersih Perumda Tirta Taman Kota Bontang, khususnya di wilayah Bontang Barat.

Direktur Perumda Tirta Taman Kota Bontang, Suratmin, mengatakan bahwa penurunan sumber air baku membuat pihaknya harus melakukan pengaturan distribusi air kepada para pelanggan.

Untuk menjaga pemerataan pelayanan, Perumda Tirta Taman memberlakukan sistem penggiliran aliran air berdasarkan zona, bagi pelanggan di Kelurahan Kanaan dan Kelurahan Gunung Telihan.

“Penggiliran ini dilakukan untuk menjamin pelayanan yang merata kepada seluruh pelanggan,” ungkapnya, Sabtu (5/8/2026).

Dalam skema tersebut, terdapat dua zona pelayanan. Seperti zona 1, mendapatkan pelayanan mulai pukul 15.00 Wita hingga pukul 21.00 Wita, meliputi Jalan Damai, Jalan Pongtiku, Kampung Timur, dan Kampung Rama.

Sementara untuk di Zona 2 mendapatkan pelayanan mulai pukul 07.00 Wita hingga 12.00 Wita. Wilayahnya mencakup Jalan Tarakan, Jalan Palembang, Jalan Asmawarman, Jalan Balikpapan, Jalan Pontianak, Jalan Bandung 1, Jalan Bandung 2, Jalan Bandung 3, Jalan Bandung 4, Jalan Bandung 5, Jalan Soekarno-Hatta atau Jalan Flores dan sekitarnya, Jalan S. Parman, serta Kampung Masdarling Bukit Pasir.

Perumda Tirta Taman Bontang juga mengimbau ke pelanggan, agar menggunakan air secara bijak dan hemat. Pelanggan diminta mempersiapkan penampungan air dan menampung air secukupnya, saat aliran kembali tersedia untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Terlebih lagi, masyarakat sangat diminta segera melaporkan apabila menemukan gangguan, maupun kebocoran jaringan air melalui layanan pengaduan kantor,” tambahnya.

Pihak Perumda menyampaikan, pengaturan distribusi tersebut bersifat sementara. Apabila kondisi cuaca dan sumber air baku kembali normal, pelayanan air akan dikembalikan seperti semula.

Pihaknya pun meminta pengertian dan kesabaran seluruh pelanggan, selama kondisi keterbatasan sumber air berlangsung.

Pewarta: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Tak Kunjung Hujan, Ribuan Warga Bontang Gelar Salat Istisqa di Lang-Lang

0
Ribuan warga Bontang mengikuti salat Istisqa di Stadion Lang-Lang. (Ist).

BONTANG – Tak kunjung diguyur hujan di tengah musim kemarau, ribuan warga Kota Bontang mengikuti Salat Istisqa dan doa bersama di Stadion Bessai Berinta (Lang-Lang), Jalan KS. Tubun, Kelurahan Api-Api, Sabtu (5/9/2026) pagi.

Kegiatan tersebut digelar Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Sekretariat Daerah (Setda) Kota Bontang, dimulai sekitar pukul 08.00 Wita. Sejumlah pejabat turut hadir, di antaranya Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, Wakil Wali Kota, Agus Haris, Kapolres Bontang, Dandim 0908/Bontang, jajaran Forkopimda, serta tokoh masyarakat.

Dalam sambutannya, Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni mengajak seluruh masyarakat untuk melakukan ikhtiar, baik secara lahir maupun batin, dalam menghadapi kondisi kemarau panjang yang terjadi saat ini.

Neni juga mengingatkan masyarakat terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meningkat, selama musim kering.

Berdasarkan data yang disampaikannya, hingga 10 Agustus 2026, tercatat sebanyak 196 kejadian karhutla di wilayah Kalimantan Timur (Kaltim) dengan luas lahan terdampak mencapai 388,8 hektare.

Karena itu, masyarakat sangat diminta turut berperan dalam mencegah terjadinya kebakaran. Selain itu agar menggunakan air secara bijak, menjaga instalasi listrik, serta tidak membakar sampah, maupun membuka lahan dengan cara dibakar.

“Dalam kondisi seperti ini, kita tidak hanya berikhtiar secara lahir, tetapi juga secara batin dengan memohon kepada Allah SWT agar segera diberikan hujan rahmat,” katanya.

Sementara itu di kesempatan yang sama, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bontang, KH. Misbahul Munir mengajak seluruh jamaah untuk memperbanyak istighfar dan taubat, sebagai bentuk introspeksi diri sekaligus kepedulian terhadap kelestarian alam.

Pelaksanaan Salat Istisqa tersebut kemudian ditutup dengan doa bersama. Ribuan jamaah memanjatkan doa agar Allah SWT menurunkan hujan yang membawa keberkahan, sekaligus memberikan keselamatan dan perlindungan bagi seluruh masyarakat Kota Bontang.

Salat Istisqa sendiri merupakan salat sunnah yang dilaksanakan ketika terjadi kekeringan atau hujan tak kunjung turun, sebagai bentuk permohonan kepada Allah SWT agar diberikan hujan.

Pewarta: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Jangan Biarkan Junior Berlatih Sendiri

0
Saya bersama para golfer saat mengikuti Turnamen PGI Kaltim 2026 di Bukit Tanah Merah, Samarinda. Foto: Istimewa

SAYA cukup lama mengenal golf. Ikut berlatih, turun ke lapangan, juga beberapa kali ikut turnamen. Tapi harus saya akui, saya bukan golfer yang rutin berlatih. Lebih sering turun untuk menjaga relasi, bertemu kawan-kawan, atau sekadar meramaikan turnamen.

Meski begitu, dari lapangan saya cukup banyak mengikuti perkembangan golf di Kaltim. Termasuk bagaimana atlet-atletnya berlatih dan bertanding. Saya juga beberapa kali mendengar langsung keluhan soal pembinaan dan perhatian terhadap mereka.

Salah satu orang yang banyak bercerita kepada saya adalah almarhum Coach Bakri Makmur. Saya pernah berlatih golf dengannya. Coach Bakri adalah ayah Rani Bakri, salah satu pegolf putri Kaltim, dan cukup lama menangani pemain-pemain muda.

Sampai menjelang akhir hidupnya, perhatian Coach Bakri terhadap pembinaan junior tidak pernah berkurang. Golfer profesional asal Bontang ini ingin semakin banyak anak muda Kaltim serius bermain golf. Bukan sekadar bisa memukul bola, tetapi dilatih dengan benar, diberi kesempatan bertanding dan suatu saat mampu membawa nama daerah.

Karena membentuk seorang pegolf memang tidak bisa instan. Golf adalah olahraga individu. Ketika berdiri di depan bola, pemain menentukan sendiri pukulan yang akan dilakukan. Salah memilih stik, keliru membaca arah atau kehilangan fokus, pemain sendiri yang menanggung akibatnya.

Tetapi untuk sampai menjadi atlet, seorang pegolf tidak pernah bisa berjalan sendirian.

Saya kembali teringat soal itu ketika melihat perkembangan Fauzan Rizki Ramadhan.

Saya mengenal ayahnya, dr. Fakhruzzabadi atau dr. Badi. Kami cukup sering turun bermain bersama. Badi sendiri golfer yang aktif dan cukup sering juara.

Fauzan mulai berlatih Januari 2022. Pelatih pertamanya justru almarhum Coach Bakri Makmur. Setelah Coach Bakri meninggal dunia, Fauzan melanjutkan latihan bersama Coach Sudirman. Sekarang ia berlatih bersama Muklis.

Empat tahun berjalan. Fauzan kini berusia 14 tahun dan sudah mengikuti berbagai turnamen. Dari kejuaraan di Kaltim, nasional hingga Jakarta International Junior & Amateur Golf Championship 2026. Di sana ia sempat satu pairing dengan pegolf junior dari China dan Singapura.

Masih panjang perjalanan Fauzan. Dia juga bukan satu-satunya.

Di Samarinda, Balikpapan, Bontang, Kutai Timur, Paser hingga Berau sudah mulai muncul pegolf-pegolf junior. Sebagian sudah berani masuk turnamen. Ada yang juara, ada yang belum. Wajar. Mereka masih belajar.

Yang harus dipikirkan justru apa yang terjadi setelah bibit-bibit ini muncul.

Siapa yang melatih mereka secara rutin? Di mana mereka berlatih? Berapa kali mereka mendapat kesempatan bertanding? Siapa yang mengukur perkembangannya? Dan ketika seorang anak terlihat punya kemampuan, siapa yang menyiapkan jalan agar ia bisa naik ke level berikutnya?

Selama ini peran orang tua masih sangat besar. Orang tua mencarikan coach, mengantar latihan, menyediakan stik, membayar biaya bermain hingga membiayai perjalanan ketika anak harus mengikuti turnamen di luar Kaltim.

Bagi keluarga yang mampu mungkin tidak terlalu menjadi persoalan.

Tetapi tidak semua anak berbakat lahir dari keluarga golfer. Tidak semua orang tua mampu membeli peralatan golf, membayar latihan dan green fee, apalagi berkali-kali membawa anak keluar daerah untuk mengejar jam terbang.

Kalau pembinaan terlalu bergantung kepada kemampuan masing-masing keluarga, bisa saja kita kehilangan anak yang sebenarnya punya bakat.

Di sinilah Persatuan Golf Indonesia (PGI) dan pemerintah harus masuk lebih jauh.

Ketua PGI Kaltim Aji Muhammad Fitra Firnanda sudah mengakui Kaltim masih kekurangan pegolf muda. PGI juga mulai menambah kategori junior. Dari tujuh nomor yang sebelumnya dipertandingkan menuju Porprov, kini menjadi sembilan dengan tambahan nomor junior.

Bagus. Tetapi pekerjaan sebenarnya justru dimulai setelah itu.

Junior membutuhkan pembinaan sepanjang tahun. Harus ada coach yang mendampingi. Jadwal latihan yang jelas. Ada kompetisi rutin. Perkembangannya dicatat dan dievaluasi.

Mereka yang sudah siap bisa dikirim mengikuti turnamen nasional. Yang belum, jangan ditinggalkan. Terus dilatih sampai waktunya tiba.

Tidak perlu semuanya langsung diarahkan bicara PON. Mulai saja dari yang bisa dilakukan di Kaltim.

Buat turnamen junior rutin di Samarinda, Balikpapan, Bontang atau daerah lain yang memiliki lapangan. Bisa sebulan sekali atau dua bulan sekali.

WhatsApp Image 2026 09 05 at 17.29.31

Buat series. Susun ranking junior Kaltim. Catat skor dan perkembangannya dari satu turnamen ke turnamen berikutnya.

Buka juga kesempatan untuk anak-anak baru. Kalau sistem seperti itu berjalan, kita tidak perlu menebak siapa yang berbakat. Angka dan hasil pertandingan yang akan memperlihatkannya.

Kaltim punya modal untuk melakukan itu.

Lapangan golf ada di beberapa daerah. Komunitas golfer juga besar. Hampir setiap turnamen ramai. Sponsor pun relatif banyak ketika sebuah turnamen digelar.

Saya melihat sendiri bagaimana Turnamen PGI Kaltim 2026 di Bukit Tanah Merah, Samarinda, akhir Agustus lalu berlangsung meriah. Banyak golfer datang. Pemerintah, pengusaha, komunitas dan sponsor bertemu di lapangan yang sama.

Kalau energi sebesar itu bisa dikumpulkan untuk sebuah turnamen, mestinya sebagian bisa diarahkan secara khusus untuk junior.

Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud saat menutup turnamen itu juga sudah menyampaikan bahwa kegiatan golf jangan berhenti pada turnamen. Ia meminta ada penjaringan bibit-bibit unggul daerah.

Saya sepakat. Sekarang tinggal bagaimana menerjemahkannya menjadi program yang berjalan.

Kita sudah memiliki pegolf yang membuktikan Kaltim mampu bersaing. Pada PON XXI Aceh-Sumatera Utara 2024, golf Kaltim membawa pulang satu perak dan dua perunggu. Ada Rani, Mochtar, Joyo, Ramansyah dan atlet-atlet lainnya yang sampai sekarang masih aktif berlatih dan bertanding.

Tapi mereka tidak selamanya berada di sana. Harus ada yang menyusul.

Mungkin Fauzan. Bisa Farhan, Kaysan, atau junior lain yang sekarang sudah mulai bertanding. Bisa juga seorang anak yang hari ini baru pertama kali datang ke driving range dan belum dikenal siapa-siapa.

Kita memang belum tahu siapa. Karena itu mereka jangan dibiarkan berlatih sendiri-sendiri.

Cari. Kumpulkan. Latih. Beri mereka turnamen. Lalu lihat siapa yang mampu berjalan paling jauh. (*)

Oleh: Agus Susanto

Bupati dan Wali Kota, Bangunlah SPBU. Eh… Gubernur Juga.

0
Antre panjang hingga malam sudah jadi pemandangan menahun di Samarinda. Seperti di Jalan Wahid Hasyim 2 ini.

Catatan: SB Silaban

Punya tanah. Punya perusda. Punya duit. Yang belum ada: kepekaan melihat kebutuhan warga.

Antrean panjang di SPBU di Kaltim sudah terjadi sejak lama. Seingat saya: sejak periode kedua Presiden Jokowi. Sudah menahun. Jokowi sudah digantikan Prabowo. Gubernur Isran Noor sudah digantikan Gubernur Rudy Mas’ud. Sebagian bupati dan wali kota juga sudah berbeda orangnya.

Satu hal yang belum berubah: yang sekarang maupun yang kemarin tak melakukan upaya maksimal. Agar stok BBM lebih stabil. Agar antrean tak mengular. Antrean yang terkadang bikin warga terganggu. Terutama pemilik tempat usaha yang “tak senang” ada antrean di depan tempatnya. Karena mengganggu keluar-masuk kendaraan konsumennya. Yang jelas amat sangat terganggu: pemilik bisnis dengan truk-truk bermesin diesel. Sopir mereka harus antre lama, terkadang belasan hingga puluhan jam untuk memperoleh BBM.

Terlepas dari soal itu, sikap dan perhatian para kepala daerah, termasuk gubernur, terhadap antrean di SPBU patut bikin warga kecewa. Bahkan marah.

Bagaimana tidak? Kondisi itu sudah lama. Tapi seolah dibiarkan. Terkadang kita mendengar ada pertemuan antara pemkab/pemkot/pemprov dengan Pertamina. Juga suara kritis dari DPRD. Termasuk soal: kebutuhan satu kota berapa, yang dipasok Pertamina hanya berapa.

Tapi setelah itu: sunyi. Sepi. Antrean tetap mengular. Pemandangan SPBU yang tutup selama sekian jam amat sering terjadi. Bayangkan, di era digital sekarang, SPBU bisa kosong berjam-jam. Padahal rerata kebutuhan harian bisa diprediksi. Padahal sisa BBM di tangki pendam juga bisa dipantau.

Lalu kenapa SPBU harus kosong? Kenapa tak ada antisipasi yang memadai? Agar ketika isi tangki pendam tersisa 25–30 persen, misalnya, truk pengisi sudah dalam perjalanan. Di Samarinda, depo Pertamina terletak di Jalan Cendana. Jaraknya ke sejumlah SPBU dekat. Misalnya, dua SPBU di Jalan Juanda. Satu di Jalan Kadrie Oening, Jalan AWS, dan Jalan PM Noor. Juga di Jalan A. Yani dan Jalan Sentosa. Semua bisa dijangkau maksimal 45 menit. Sebagian bahkan 15 menit.

Lalu kenapa BBM di SPBU bisa kosong berjam-jam? Depo Pertamina belum menerima pasokan dari tanker? Sopir sedang istirahat? Truk sedang rusak? Entahlah.

Membicarakan Pertamina terkadang bikin mulas. Petingginya kalau bicara ke publik, seolah sudah paling benar melayani masyarakat. Sambil tetap membiarkan korupsi besar-besaran. Seperti kasus yang melibatkan Riva Siahaan dkk. di Pertamina Patra Niaga, anak perusahaannya. Dengan kerugian ratusan triliun rupiah.

Lalu apa hubungannya dengan poin-poin awal tulisan ini?

Begini: semua kepala daerah amat sangat wajib peduli terhadap kebutuhan warganya. Termasuk gubernur. Sekian tahun terakhir, BBM adalah kebutuhan yang pemenuhannya sudah merepotkan warga. Harus antre puluhan menit, bahkan hitungan jam. Pengemudi truk bermesin diesel bahkan harus antre hingga melewati hari.

Pemprov Kaltim, pemkab, dan pemkot punya lahan kosong. Banyak di antaranya di lokasi strategis. Mereka juga punya perusahaan daerah/BUMD. Duit? Jelas punya.

Kombinasi ketiganya sangat pas digunakan untuk melayani kebutuhan BBM, terutama BBM subsidi.

Caranya? Bangunlah SPBU alias pom bensin. Lahan 3.000 meter persegi sudah sangat memadai untuk membangun SPBU dengan 6–8 mesin pengisian (dispenser). Sejumlah SPBU di Samarinda lahannya kecil saja. Misalnya, di Wahid Hasyim 2 dan Gatot Soebroto.

Untuk ukuran APBD tiap daerah, membangun SPBU hanya perlu duit kecil. Lahan tak perlu beli. Membangun tangki pendam, sejumlah dispenser, kantor, dan fasilitas pendukung tak akan memakan duit lebih dari Rp20 miliar.

Bisakah pemerintah daerah melakukannya? Bisa. Sangat bisa. Perusda milik mereka boleh berbisnis apa saja, asal sanggup. Modal bisa diberikan lewat penyertaan modal. Seperti terhadap PDAM dan bank milik daerah.

Pemenuhan kebutuhan warga soal BBM, sejujurnya, termasuk layanan terendah pemerintah. Seperti halnya ketersediaan sembako. Artinya: BBM yang selalu tersedia dengan cukup adalah kebutuhan dasar yang lebih dari wajib dipenuhi.

Punya SPBU jelas akan memasukkan fulus ke kas perusda/APBD. Tak ada cerita SPBU rugi, kecuali salah urus dan/atau dijarah pengelolanya.

Kisah tentang perusda/BUMD memang sering berbau kurang sedap. Rugi. Laba yang minim dengan biaya operasional tinggi. Jalan di tempat.

Punya SPBU adalah pilihan yang mudah. Aspek bisnisnya pun kuat. Karena BBM diperlukan setiap hari. Pengawasannya pun relatif mudah. BBM yang masuk dan keluar bisa dipantau per menit.

Maukah pemprov, pemkab, dan pemkot mempermudah warga lewat SPBU milik mereka?

*) Praktisi jurnalistik.

Tiga Bulan Tak Diguyur Hujan, IKN Mulai Kekurangan Debit Air

0
Seribuan jemaah mengikuti Salat Istisqa di Jalan Grande depan Istana Negara, Ibu Kota Nusantara (IKN), Jumat (4/9/2026), setelah kawasan tersebut lebih tiga bulan tidak diguyur hujan. (Atmaja Riski/Media Kaltim)

NUSANTARA – Lebih tiga bulan kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) tidak diguyur hujan. Dampaknya mulai terlihat. Debit air menurun, sejumlah embung dan danau alami menyusut, bahkan ada yang mulai mengering. Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga meningkat.

Di tengah kondisi itu, Otorita IKN menggelar Salat Istisqa di Jalan Grande, tepat di depan Istana Negara, Jumat (4/9/2026). Seribuan jemaah dari pegawai Otorita IKN, pelajar hingga masyarakat umum mengikuti salat untuk memohon turunnya hujan.

Salat dimulai sekitar pukul 08.00 Wita dan berakhir pukul 09.00 Wita. Imam Masjid Negara Darto Gunadi bertindak sebagai imam, sementara khotbah disampaikan Rusdi Abdullah, dosen Studi Islam Program Doktor UIN Samarinda.

Rusdi mengajak jemaah memperbanyak istigfar dan menjadikan kondisi kemarau sebagai momentum untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

“Perbanyak istigfar. Kita mohon ampun pada Allah SWT. Ini termasuk ujian dari-Nya. Kita semua patut terus meminta, kiranya bumi kembali merasakan turunnya hujan. Jaga sikap kita, berserah diri kita pada-Nya,” ujarnya.

Sejumlah pejabat Otorita IKN hadir, antara lain Deputi Transformasi Hijau dan Digital Agung Indrajit, Staf Khusus Kepala Otorita Bidang Manajemen dan Strategi Konstruksi Danis Hidayat Sumadilaga serta Deputi Sosial, Budaya dan Pemberdayaan Masyarakat Alimuddin.

Alimuddin mengakui kemarau panjang mulai memberikan dampak terhadap kondisi lingkungan IKN.

Di satu sisi, cuaca kering membuat pekerjaan konstruksi relatif tidak terganggu hujan. Namun di sisi lain, debit air terus menurun dan tanaman membutuhkan pasokan air lebih besar.

“Kalau pembangunan sih jalan terus. Justru dengan tidak hujan secara fisik mungkin bisa lancar. Tetapi di luar itu kita tahu sekarang debit air kita sudah menurun dan tanaman juga,” kata Alimuddin.

Menurutnya, Salat Istisqa menjadi salah satu ikhtiar di tengah kondisi kemarau yang berlangsung cukup panjang.

“Ini kewajiban kita sebagai umat Islam. Ketika ada musibah seperti ini, menjadi sunah Rasulullah untuk melaksanakan Salat Istisqa yang menjadi salat sunah yang dikuatkan atau muakkad,” ujarnya.

Otorita IKN menyiapkan alas salat dengan kapasitas lebih dari seribu jemaah. Sekitar 200 pelajar ikut hadir bersama pegawai OIKN dan masyarakat.

Namun, menurut Alimuddin, jumlah jemaah bukan hal utama dalam pelaksanaan Salat Istisqa.

“Tapi mungkin bukan jumlahnya, melainkan ketulusan hati dan niat,” katanya.

Salat Istisqa tersebut merupakan pelaksanaan kedua di kawasan IKN dalam menghadapi kemarau panjang. Sebelumnya, kegiatan serupa digelar di Desa Tengin Baru oleh Pemerintah Kecamatan Sepaku.

Kini, hujan semakin dibutuhkan bukan hanya untuk memulihkan debit air dan menjaga tanaman, tetapi juga menekan meningkatnya risiko karhutla di kawasan IKN dan sekitarnya. (MK)

Pewarta: Atmaja Riski
Editor: Agus S.

Antrean Kendaraan Menuju SPBU Picu Kecelakaan Beruntun di PPU

0
Penanganan kecelakaan beruntun yang melibatkan dua truk dan dua sepeda motor di Jalan Negara Kilometer 09, Kelurahan Nipah-Nipah, Penajam Paser Utara, Kamis (3/9/2026). (Istimewa)

PENAJAM PASER UTARA – Antrean kendaraan yang hendak masuk ke SPBU Nipah-Nipah menjadi awal rangkaian kecelakaan beruntun di Jalan Negara Kilometer 09, Kelurahan Nipah-Nipah, Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kamis (3/9/2026) sekitar pukul 06.40 WITA.

Dua truk Mitsubishi dan dua sepeda motor terlibat dalam kecelakaan tersebut. Sejumlah orang mengalami luka-luka dan harus mendapat penanganan medis di RSUD Aji Putri Botung. Tidak ada korban meninggal dunia.

Berdasarkan informasi kepolisian, kecelakaan bermula ketika truk Mitsubishi bernomor polisi AG-8765-YH yang dikemudikan Abdul Rahman melaju dari arah Petung menuju Penajam.

Setibanya di lokasi, truk memperlambat laju karena terdapat antrean kendaraan yang hendak masuk ke SPBU.

Pada saat bersamaan, dari belakang melaju truk Mitsubishi bernomor polisi DA-8255-QB yang dikemudikan Ahmad Saidi. Jarak yang terlalu dekat membuat truk tersebut menabrak Honda Beat KT-5878-VV yang dikendarai Kasriansyah bersama seorang penumpang.

Benturan tidak berhenti di sana. Truk DA-8255-QB kemudian menghantam bagian belakang truk AG-8765-YH.

Akibat benturan tersebut, truk AG-8765-YH terdorong ke depan dan menabrak Yamaha Aerox KT-4776-VZ yang berada di depannya.

Rangkaian tabrakan menyebabkan sejumlah korban mengalami luka. Mereka kemudian dievakuasi ke RSUD Aji Putri Botung.

Kendaraan yang terlibat juga mengalami kerusakan dengan kerugian materiil diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah.

Personel Unit Laka Lantas Polres PPU yang menerima laporan langsung mendatangi lokasi. Polisi melakukan olah tempat kejadian perkara, mengevakuasi korban, memeriksa saksi serta mengamankan kendaraan sebagai barang bukti.

Polisi masih menyelidiki rangkaian dan faktor penyebab kecelakaan. Pemeriksaan dilakukan melalui keterangan saksi, visum korban, pembuatan sketsa TKP hingga pendataan kecelakaan melalui IRSMS.

Kapolres PPU AKBP Andreas Alek Danantara melalui Kanit Laka Lantas Polres PPU Aiptu Sirajuddin meminta pengendara lebih berhati-hati ketika mendekati antrean kendaraan.

“Kami mengimbau kepada seluruh pengguna jalan agar selalu berkonsentrasi dan menjaga jarak aman, terutama ketika melintasi kawasan yang terdapat antrean kendaraan,” kata Sirajuddin.

Satlantas Polres PPU juga akan meningkatkan patroli pada jam rawan kecelakaan dan memasang spanduk keselamatan di sekitar lokasi.

“Jangan memaksakan kecepatan apabila kondisi lalu lintas di depan tidak memungkinkan,” pungkasnya. (MK)

Pewarta: Robbi Lalat
Editor: Agus S.

Hadiah OSN 2026 Turun Drastis, Mendikdasmen: Anggaran Puspresnas Terpangkas

0
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti memberikan keterangan kepada wartawan usai pembukaan Rakor Pusat dan Daerah Program Revitalisasi Satuan Pendidikan dan Digitalisasi Pembelajaran di Grand Sahid Hotel, Jakarta, Jumat (4/9/2026). (Nicha Ratnasari/Media Kaltim)

JAKARTA – Penghargaan uang untuk siswa terbaik di Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2026 turun drastis. Hadiah peraih medali emas jenjang SD dan SMP yang tahun lalu mencapai Rp15 juta, kini hanya Rp3 juta. Penurunan serupa terjadi untuk medali perak dan perunggu, atau mencapai 80 persen di seluruh kategori.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengakui penurunan tersebut berkaitan dengan pemangkasan anggaran Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas).

“Ya karena memang ada pengurangan anggaran yang signifikan untuk pos Presnas itu. Tapi kami sedang mencari skema supaya anggarannya dapat digunakan dari sumber-sumber lain sehingga anggaran hadiahnya dapat ditambah,” kata Abdul Mu’ti di Jakarta, Jumat (4/9/2026).

Berdasarkan pengumuman Puspresnas pada Minggu (30/8/2026), peraih emas OSN 2026 mendapat Rp3 juta, perak Rp2 juta dan perunggu Rp1 juta.

Setahun sebelumnya, hadiah masing-masing mencapai Rp15 juta untuk emas, Rp10 juta untuk perak dan Rp5 juta untuk perunggu.

Artinya, setiap kategori mengalami pemangkasan dengan persentase sama, yakni 80 persen.

Penurunan itu terjadi di tengah pemangkasan besar anggaran program pengembangan prestasi dan talenta yang dikelola Puspresnas. Anggarannya disebut turun sekitar Rp350,9 miliar, dari semula Rp408,3 miliar menjadi sekitar Rp57,3 miliar.

Mu’ti mengatakan pemerintah masih berusaha mencari sumber pendanaan lain agar penghargaan uang untuk para juara dapat ditambah.

Namun, ia meminta penghargaan kepada siswa berprestasi tidak hanya dilihat dari nominal hadiah. Para juara OSN, menurutnya, juga memperoleh prioritas untuk mendapatkan beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

“Tapi jangan dilihat penghargaannya hanya dari sisi hadiahnya ya, karena mereka yang juara juga dapat prioritas untuk beasiswa dari LPDP, yang itu menurut saya jauh lebih bermakna dari sebatas uang itu,” ujarnya.

Menurut Mu’ti, beasiswa dapat memberikan manfaat lebih panjang untuk mendukung pendidikan para siswa.

“Tentu uang penting, tetapi beasiswa menurut saya jauh lebih penting dan itu nilainya sangat besar,” katanya.

Ia menegaskan pemangkasan hadiah bukan berarti pemerintah mengurangi dukungan terhadap siswa berprestasi. Dengan anggaran yang tersedia, pemerintah tetap berupaya mempertahankan ruang kompetisi dan pengembangan kemampuan siswa.

“Sehingga ini memang bukan berarti kami tidak mendukung prestasi, tapi kami berusaha dengan dana yang memang sangat terbatas itu tetap bisa memberikan kesempatan bagi anak-anak kita untuk berprestasi, untuk dapat meningkatkan kemampuannya,” tutur Mu’ti.

Pemerintah kini mencari skema pendanaan lain yang memungkinkan hadiah OSN ditambah. Mu’ti juga menyampaikan permohonan maaf kepada para peserta dan juara.

“Dan mohon maaf kalau mungkin hadiahnya tidak besar sebagaimana yang diharapkan,” pungkasnya. (MK)

Pewarta: Nicha R
Editor: Agus S.

Isu Air Hujan Berbahaya akibat Modifikasi Cuaca Dipastikan Hoaks

0

SAMARINDA – Selebaran digital berisi larangan menampung air hujan karena disebut berbahaya akibat operasi pembenihan awan beredar luas di media sosial dan memicu keresahan masyarakat Kalimantan Timur. BMKG dan BPBD Samarinda memastikan informasi tersebut tidak benar.

Bahkan, hingga Jumat (4/9/2026), belum ada Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) maupun Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) yang dilakukan di Kaltim.

Kepala Stasiun Meteorologi APT Pranoto Samarinda Riza Arian Noor mengatakan selebaran yang beredar juga tidak mencantumkan instansi yang menerbitkannya.

“Infografis tanpa keterangan siapa yang mengeluarkan sama sekali,” kata Riza.

Ia menegaskan isu yang mengaitkan larangan menampung air hujan dengan kegiatan modifikasi cuaca tidak memiliki dasar.

“Di Kaltim belum ada kegiatan OMC sama sekali,” tegasnya.

Riza sekaligus meluruskan anggapan bahwa operasi modifikasi cuaca menggunakan zat kimia beracun. Menurut dia, bahan semai yang digunakan pada awan potensial berupa garam halus atau Natrium Klorida (NaCl).

“Bahan semainya garam halus NaCl, bukan bahan kimia berbahaya,” jelas Riza.

Bahan tersebut digunakan sebagai inti kondensasi untuk membantu proses pembentukan butiran air pada awan hingga kemudian turun sebagai hujan.

Menurut Riza, kajian ilmiah juga tidak menunjukkan adanya dampak kesehatan signifikan dari air hujan yang dihasilkan melalui proses tersebut.

“Kajian ilmiah menunjukkan tidak ada pengaruh signifikan terhadap kesehatan,” ujarnya.

Ia menjelaskan air hujan pertama setelah kemarau panjang memang dapat terlihat lebih keruh. Kondisi tersebut terjadi karena hujan membawa turun partikel debu maupun sisa kabut asap yang berada di atmosfer.

Karena itu, masyarakat yang hendak memanfaatkan air hujan disarankan tetap melakukan pengolahan terlebih dahulu.

“Airnya ditampung saja, lalu disaring sebelum digunakan,” katanya.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Samarinda Suwarso juga memastikan selebaran yang beredar bukan informasi resmi.

“Sumber infografis tersebut tidak jelas,” tegas Suwarso.

Menurut dia, operasi modifikasi cuaca tidak dapat dilakukan sembarangan karena membutuhkan keberadaan awan potensial yang dapat disemai.

“Belum ada kegiatan dan jadwal OMC untuk Samarinda,” ujarnya.

Saat ini, menurut Suwarso, kondisi atmosfer juga belum mendukung pelaksanaan penyemaian.

“Belum ada pertumbuhan benih awan yang berpotensi disemai,” tambahnya.

Terkait keamanan air hujan, Suwarso meminta masyarakat tidak langsung mempercayai informasi yang beredar tanpa sumber yang jelas.

“Bahaya atau tidak harus dicek melalui uji laboratorium,” katanya.

Jika air hujan bercampur debu, warga dapat mengendapkannya terlebih dahulu sebelum dimanfaatkan.

“Endapkan dulu jika bercampur partikel debu sebelum digunakan,” ujar Suwarso.

BMKG dan BPBD Samarinda meminta masyarakat memeriksa setiap informasi mengenai cuaca dan kebencanaan melalui kanal resmi sebelum menyebarkannya kembali di media sosial. (MK)

Pewarta: Abdi
Editor: Agus S.

Pengurus Sempat Dibekukan, Atlet Esports PPU Diperjuangkan ke Porprov Kaltim

0
Bupati PPU Mudyat Noor menerima audiensi pengurus ESI PPU membahas peluang keikutsertaan atlet esports PPU pada Porprov Kaltim 2026, Selasa (1/9/2026). (Istimewa)

PENAJAM PASER UTARA – Atlet esports Penajam Paser Utara (PPU) masih diperjuangkan agar dapat tampil pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kaltim 2026 yang dijadwalkan berlangsung November mendatang. Persoalannya, ESI PPU sebelumnya tidak mengikuti Babak Kualifikasi (BK) Porprov karena kepengurusan saat itu dibekukan.

Setelah kepengurusan baru terbentuk, Esports Indonesia (ESI) PPU mulai mencari jalan agar persoalan administrasi tersebut tidak menutup kesempatan atlet daerah berlaga di Porprov.

Upaya itu mendapat dukungan Bupati PPU Mudyat Noor. Ia mengaku telah berkomunikasi dengan pihak terkait di tingkat Provinsi Kaltim untuk membuka peluang keikutsertaan atlet esports PPU.

“Tadi sudah kita komunikasikan, harusnya sih bisa tanpa halangan. Pada prinsipnya Porprov itu kan pestanya kabupaten/kota, kalau ada daerah yang ingin mengirim atletnya, harusnya tidak ada pembatasan,” kata Mudyat saat menerima audiensi pengurus ESI PPU, Selasa (1/9/2026).

Menurut Mudyat, keikutsertaan atlet esports bukan hanya persoalan kompetisi. Cabang olahraga tersebut juga dapat menjadi wadah pembinaan generasi muda sekaligus mengarahkan minat mereka menuju prestasi.

“Kegiatan yang dilakukan oleh ESI ini dalam rangka membina atlet dan generasi muda kita untuk meraih prestasi serta mengarahkan ke hal yang positif. Sehingga kegiatan ini bisa menghasilkan atlet-atlet terbaik,” ujarnya.

Ketua ESI PPU Muhammad Bijak Ilhamdani menjelaskan, ketidakhadiran PPU pada BK Porprov terjadi ketika kepengurusan ESI PPU sedang dibekukan.

“Karena kita tidak ikut BK Porprov, tapi saya pikir kesalahan bukan ada di kita karena pada waktu itu pengurus dibekukan. Namun mudah-mudahan, karena semangatnya lagi bagus dan pengurus terbentuk, kita upayakan agar bisa berpartisipasi,” katanya.

Kepengurusan baru ESI PPU terbentuk setelah mendapat rekomendasi dari ESI Provinsi Kaltim. Pengurus kemudian mulai memetakan atlet potensial melalui sejumlah komunitas esports di PPU.

Beberapa nama bahkan telah dikantongi berdasarkan rekam jejak dan potensi prestasinya.

“Penjaringan atlet sebenarnya kita sudah punya beberapa titik komunitas yang dianggap punya potensi. Bahkan ada beberapa nama yang sudah kami kantongi melihat rekam jejaknya,” ujar Bijak.

Namun, peluang tampil di Porprov masih membutuhkan penyelesaian aspek administrasi. Disdikpora PPU selanjutnya akan berkoordinasi dengan KONI dan Bidang Pembinaan Prestasi untuk memastikan kemungkinan keikutsertaan sekaligus kesiapan kontingen.

“Harapan kita, koordinasi ini bukan hanya di internal cabor, tetapi juga dengan para pembina agar target prestasi bisa terwujud,” tegas Bijak. (MK)

Pewarta: Robbi Lalat
Editor: Agus S.

Pengelolaan Sampah dan Lingkungan Asri Antar Paser Raih Peringkat III

0
Sekretaris Daerah Paser Katsul Wijaya menerima penghargaan Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi Tahun 2026 di Balikpapan, Kamis (3/9/2026). (Istimewa)

PASER – Kabupaten Paser meraih peringkat ketiga tingkat kabupaten dalam kategori pengelolaan sampah dan lingkungan asri pada Batch II Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi Tahun 2026.

Penghargaan diserahkan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian kepada Sekretaris Daerah Paser Katsul Wijaya di Platinum Hotel and Convention Hall, Balikpapan, Kamis (3/9/2026).

Katsul mengatakan capaian tersebut menjadi apresiasi terhadap upaya Pemkab Paser membangun pengelolaan sampah yang lebih terpadu sekaligus menjaga lingkungan tetap sehat dan asri.

“Alhamdulillah, pada batch kedua penilaian Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi Tahun 2026, Pemkab Paser mendapat peringkat ketiga,” kata Katsul.

Namun, menurutnya, penghargaan tidak boleh membuat upaya pengelolaan sampah berhenti. Persoalan sampah tidak dapat diselesaikan pemerintah sendiri tanpa keterlibatan masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya.

“Ini menjadi motivasi serta semangat bagi pemerintah daerah, seluruh stakeholder, dan masyarakat di Kabupaten Paser untuk terus mengelola sampah dengan baik serta menjaga keasrian lingkungan,” ujarnya.

Katsul berharap capaian tersebut menjadi dorongan untuk memperkuat kegiatan pengurangan dan pengelolaan sampah di seluruh wilayah Paser.

Peran masyarakat dinilai penting karena keberhasilan pengelolaan lingkungan sangat bergantung pada kebiasaan menjaga kebersihan dan menangani sampah sejak dari sumbernya.

“Semoga dengan adanya penghargaan ini, kegiatan-kegiatan pengelolaan persampahan dan menjaga lingkungan yang asri dapat terus konsisten dilaksanakan oleh seluruh lapisan masyarakat,” pungkasnya. (MK)

Pewarta: Nash
Editor: Agus S.