Beranda blog Halaman 297

Cerai Gugat Dominasi Perceraian di PPU, 337 Perkara Sepanjang 2025 Dipicu Konflik Rumah Tangga

0
PPID Pengadilan Agama PPU, Muhammad Miftahuddin. (Deddy/MKNN)

PPU — Angka perceraian di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) sepanjang tahun 2025 menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Data Pengadilan Agama (PA) PPU mencatat, gugatan cerai yang diajukan pihak istri masih mendominasi perkara perceraian, jauh melampaui permohonan cerai talak dari pihak suami.

Sepanjang 2025, PA PPU menerima 337 perkara cerai gugat. Sementara cerai talak tercatat hanya 89 perkara. Ketimpangan angka ini menjadi sinyal perubahan dinamika rumah tangga di masyarakat, di mana perempuan kini lebih berani menempuh jalur hukum ketika konflik tak lagi menemukan jalan damai.

Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) PA PPU, Muhammad Miftahuddin, menjelaskan dominasi cerai gugat menunjukkan bahwa persoalan rumah tangga kian kompleks dan berlarut-larut.

“Selama tahun 2025, cerai gugat memang masih mendominasi dibanding cerai talak,” ujar Miftahuddin, Kamis (5/2/2026).

Ia menegaskan, cerai gugat dan cerai talak memiliki mekanisme hukum yang berbeda. Cerai gugat diajukan oleh istri dan prosesnya relatif lebih singkat karena setelah putusan hakim, akta cerai dapat langsung diterbitkan. Sebaliknya, cerai talak yang diajukan suami membutuhkan tahapan tambahan berupa ikrar talak.

“Dalam cerai talak, pengadilan harus memastikan kewajiban suami, seperti nafkah anak dan nafkah iddah, terpenuhi. Jika kewajiban itu tidak dipenuhi, ikrar talak tidak dapat dilaksanakan,” jelasnya.

Ia menambahkan, apabila ikrar talak tidak diucapkan dalam waktu enam bulan setelah putusan berkekuatan hukum tetap, maka hak suami untuk menjatuhkan talak gugur dan harus diajukan kembali dari awal.

Dari sisi penyebab, PA PPU mencatat bahwa perselisihan dan pertengkaran yang terjadi secara terus-menerus menjadi faktor utama perceraian. Ratusan perkara yang masuk sepanjang 2025 didominasi konflik rumah tangga yang tak kunjung menemukan titik temu.

Selain itu, faktor meninggalkan salah satu pihak, perbedaan pendapat yang tajam, persoalan ekonomi, hingga buruknya komunikasi juga kerap muncul dalam persidangan sebagai latar belakang perceraian.

Data demografis menunjukkan, perceraian di PPU banyak diajukan oleh pasangan usia produktif. Pada November 2025 saja, penggugat didominasi usia 26–30 tahun dan 31–35 tahun, masing-masing sebanyak tujuh orang, disusul usia 36–40 tahun sebanyak enam orang.

Meski demikian, perceraian tidak hanya terjadi pada pasangan muda. PA PPU juga mencatat adanya permohonan cerai dari pasangan berusia hingga 55 tahun.

“Meski didominasi usia produktif, ada juga pemohon yang berusia sampai 55 tahun,” ungkap Miftahuddin.

Menghadapi tingginya angka cerai gugat, PA PPU terus mengoptimalkan proses mediasi sebagai upaya awal sebelum perkara diputus hakim. Mediasi diharapkan menjadi ruang dialog agar pasangan dapat mempertimbangkan kembali keputusan berpisah.

“Kami berupaya memaksimalkan mediasi agar keutuhan rumah tangga masih bisa dipertahankan,” jelasnya.

Selain perceraian, sepanjang 2025 PA PPU juga menangani berbagai perkara perdata agama lainnya. Tercatat 44 perkara isbat nikah, 21 dispensasi kawin yang mayoritas terkait pernikahan di bawah umur, 19 penetapan ahli waris, lima perkara perwalian, tiga perkara warisan, masing-masing satu perkara poligami dan harta gono-gini, dua perkara hak asuh anak, serta satu perkara asal-usul anak.

Data tersebut menegaskan peran Pengadilan Agama PPU tidak hanya dalam menangani perceraian, tetapi juga menjadi garda penyelesaian berbagai persoalan hukum keluarga di masyarakat.

Tingginya angka cerai gugat di PPU menjadi cermin dinamika sosial yang terus berubah. Tekanan ekonomi, kualitas komunikasi pasangan, hingga meningkatnya kesadaran hukum masyarakat ikut memengaruhi tren ini. PA PPU pun berharap masyarakat lebih mengedepankan komunikasi, konseling keluarga, dan musyawarah sebelum menjadikan perceraian sebagai pilihan terakhir. (MK)

Editor: Agus S

Keterbatasan Anggaran, Pasar Murah 2026 Menyusut Hanya Empat Kali Saja

0
Kabid Ketahanan Pangan DKP3, Debora Kristiani. (Syakurah)

BONTANG — Pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) di Kota Bontang pada tahun ini hanya dapat digelar sebanyak empat kali, lebih sedikit dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang intensitasnya bisa dua bulan sekali.

Kepala Bidang Ketahanan Pangan DKP3 Kota Bontang, Debora Kristiani, menjelaskan bahwa terdapat keterbatasan anggaran. Untuk itu, tahun ini GPM difokuskan pada momentum tertentu, yakni Ramadan, HUT Kota Bontang, Hari Pangan Sedunia, dan Natal.

“Dulu itu bisa berkali-kali. Tahun ini karena eksekusi anggaran,” ujar Debora, Kamis (6/2/2026).

Ia menyebutkan, alokasi bantuan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur untuk pelaksanaan GPM tahun ini relatif terbatas, terutama untuk biaya transportasi. “Dari Pemprov itu tidak sampai puluhan juta untuk transport. Paling Rp50–60 juta termasuk konsumsi,” jelasnya.

Tahun lalu Pemkot Bontang mendapat dukungan anggaran sekitar Rp200 juta untuk subsidi transport pangan.

Meski demikian, Debora mengaku telah berkoordinasi dengan Kepala BPKAD Bontang, ia berharap ada penambahan anggaran pada APBD perubahan 2026. Menurutnya, GPM sangat penting untuk menstabilkan harga pangan, terutama beras.

“Saya sudah sampaikan, ini mendesak karena berpengaruh ke harga. Potensi harga beras ini kan tidak pernah turun signifikan,” katanya.

Selain beras, Debora juga menyoroti kenaikan harga cabai yang cukup signifikan. “Bulan lalu saya beli cabai Rp34 ribu per kilo, sekarang sudah sekitar Rp40 ribu. Biasanya memang menjelang hari raya permintaan naik, otomatis harga ikut naik,” tutupnya.

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Anggotanya Terjerat Korupsi Anggaran Bimtek, Kepala Dishub Bontang Buka Suara

0

Kasus dugaan korupsi anggaran bimbingan teknis (bimtek) yang menyeret salah satu anggotanya menjadi sorotan publik. Menyikapi hal tersebut, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bontang akhirnya angkat bicara dan menegaskan sikap institusinya terhadap proses hukum yang sedang berjalan.

Pembaca Setia Radar Bontang!

Ingin tahu kabar terkini dari Koran Digital Radar Bontang?
Kunjungi link di bawah ini untuk membaca e-paper lengkapnya:

👉 E-Paper Lengkap
https://koran.radarbontang.com

📱 Versi Mobile
https://digital.radarbontang.com/rb6feb2026/mobile/

Radar Bontang – Aktual & Terpercaya!

Menambal Krisis Mengulang Gagal, Sistem Islam Solusinya

0
Asna Abdullah. (Ist)

Oleh:
Asna Abdullah

Jika engkau ingin melihat masa depan bangsa, lihatlah siapa yang mendidik anak-anaknya hari ini.
— (Puisi pendidikan, anonim)

Berulang lagi. Tahun ini, Bontang akan menghadapi tantangan besar di dunia pendidikan. Ratusan guru PNS dijadwalkan pensiun, meninggalkan ruang-ruang kelas yang selama ini mereka isi dengan ilmu dan keteladanan, ini tidak hanya soal jumlah, tapi tentang keberlanjutan. Di setiap sekolah, di setiap sudut kota dan kelurahan, guru adalah penentu arah—mereka yang membimbing generasi tumbuh, belajar, dan merancang masa depan. Jika tidak segera ada pengganti, bukan hanya sekolah yang kekurangan tenaga, tapi masa depan generasi juga bisa ikut terganggu. Pemerataan pendidikan tak akan tercapai jika tak ada cukup guru yang hadir di setiap wilayah.

Fakta ini ditegaskan melalui pernyataan resmi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Bontang, serta disampaikan langsung oleh Wali Kota Neni Moerniaeni pada pertengahan Januari 2026.

Dalam laporan berbagai media lokal Bontang tanggal 15 Januari 2026, disebutkan bahwa sekitar 105 guru PNS di Bontang akan memasuki masa pensiun pada tahun 2026. Menanggapi hal ini, Wali Kota menekankan bahwa persoalan kekurangan guru tidak bisa dianggap sepele. “Krisis guru bahaya juga ini, tidak bisa dibiarkan,” tegasnya dalam laporan tersebut.

Dengan kewenangan rekrutmen yang berada di pemerintah pusat, Pemkot Bontang kini memperkuat komunikasi agar kebutuhan guru di daerah bisa segera direspons. Karena tanpa guru yang cukup, bagaimana anak-anak bisa belajar dengan layak?

Guru Prioritas Utama

Guru adalah peran kunci (core) dalam sistem pendidikan Indonesia, mereka berada di garis terdepan membentuk generasi masa depan. Namun, kesejahteraan mereka sering terabaikan. Di Bontang, misalnya, 105 guru PNS pensiun pada 2026, sehingga kekurangan tenaga pengajar sesuatu yang niscaya, lalu ada guru honorer yang hanya menerima insentif Rp1 juta per bulan melalui BOSP. Sementara itu, anggaran pendidikan APBD menyusut menjadi Rp300 miliar. Pemerintah kota patut mengutamakan peningkatan gaji dan tunjangan guru guna mengangkat motivasi serta kualitas pengajaran

Sudah seharusnya kesejahteraan guru menjadi pondasi utama dalam menyiapkan generasi masa depan. Sebab, masa depan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan hari ini—dan kuncinya ada pada guru.

Sayangnya di Kalimantan Timur saat ini justru menghadapi krisis: kekurangan lebih dari 3.500 guru, termasuk di Bontang yang terkendala aturan dari pemerintah pusat. Pusat dan daerah kerap berbeda pandangan soal siapa yang bertanggung jawab terhadap perekrutan dan gaji honorer. Saat pemerintah pusat membatasi rekrutmen dan daerah terpaksa mengangkat honorer dengan gaji minim tanpa jaminan, yang terjadi adalah ketimpangan perlakuan dan ketidakadilan struktural.

Akibat minimnya dukungan pusat dalam rekrutmen guru, pemerintah daerah terpaksa menanggung beban pembiayaan sendiri, termasuk untuk menggaji guru honorer atau PJLP. Beban fiskal ini memaksa daerah melakukan penyesuaian anggaran di sektor lain. Akibatnya, program penting seperti beasiswa UKT di Bontang harus dipangkas menjadi hanya Rp10 miliar, sementara Kartu Bontang Pintar pun tertunda pelaksanaannya.

Generasi Emas di Atas Pondasi Rapuh

Beginilah kapitalisme, polemik kekurangan guru saat ini tidak bisa dilepaskan dari cara sistem kapitalisme memandang profesi guru itu sendiri. Dalam banyak kasus, guru diperlakukan sekadar sebagai tenaga kerja murah yang bisa diatur sesuai anggaran, bukan sebagai pilar utama pembangunan peradaban. Kondisi ini ibarat membangun rumah megah dengan pondasi rapuh. Negara menggaungkan cita-cita mencetak “generasi emas” yang unggul dan berdaya saing, namun melupakan bahwa pilar utama dari pendidikan—yakni para guru—justru dibiarkan dalam ketidakpastian dan ketimpangan kesejahteraan.

Mereka yang seharusnya menjadi arsitek peradaban malah diperlakukan seperti buruh jasa: digaji rendah, tanpa jaminan pensiun, dan sering kali hanya dikontrak sementara. Di banyak daerah, guru honorer menerima upah yang bahkan tak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Dalam sistem kapitalisme ini, pendidikan kehilangan ruhnya, karena yang seharusnya menjadi ladang pengabdian dan kehormatan berubah menjadi ruang bertahan hidup.

Maka, bagaimana mungkin kita berharap lahirnya generasi emas di atas sistem kapitalisme yang rapuh ini jika para penjaganya sendiri dianggap sebagai beban administratif dan tak diberi tempat yang layak dalam sistem ini?

Islam Hadir untuk Guru

Dalam sistem Islam, pendidikan dipandang sebagai kebutuhan bersama yang wajib dipenuhi oleh negara sebagai bentuk tanggung jawab terhadap kemaslahatan umat. Artinya, negara bertanggung jawab penuh menyediakan pendidikan gratis dan merata bagi seluruh rakyat, tanpa membedakan agama, suku, atau status sosial.

Negara tidak boleh membiarkan rakyatnya buta huruf atau tidak memiliki akses terhadap ilmu yang bermanfaat. Kewajiban ini ditegaskan melalui teladan Rasulullah SAW yang menjadikan masjid sebagai pusat pendidikan dan bahkan membebaskan tawanan Perang Badar yang bersedia mengajarkan baca tulis kepada anak-anak Madinah.

Ini menunjukkan bahwa pendidikan bukan sekadar hak, tapi kebutuhan komunal (fardhu kifayah) yang harus dijamin negara. Oleh karena itu, dalam sistem Islam, negara bertindak sebagai penanggung jawab utama pendidikan, bukan hanya sebagai pengatur, dan menyediakan layanan pendidikan secara gratis tanpa diskriminasi, demi mencetak generasi yang berilmu dan bertakwa.

Islam memosisikan guru sebagai sosok mulia yang perannya sangat dihargai dan dijamin oleh negara. Ibnu Saad menuturkan riwayat dari ‘Amir yang berkata: “Tebusan bagi orang-orang yang tertawan dalam Perang Badar adalah empat puluh uqiyah. Bagi siapa yang tidak memilikinya, dia harus mengajarkan sepuluh orang Muslim cara menulis. Zaid bin Tsabit adalah salah satu dari mereka yang diajar.”

Rasulullah SAW. sendiri menjadikan pendidikan sebagai pilar utama peradaban, bahkan dalam Perang Badar, beliau membebaskan tawanan yang bersedia mengajarkan baca tulis kepada anak-anak Madinah, ini bukti bahwa mengajar adalah kontribusi yang setara dengan tebusan harta.

Pada masa Khulafaur Rasyidin, Khalifah Umar bin Khattab memberikan tunjangan sebesar 15 dirham per bulan kepada guru, dan Khalifah Umar bin Abdul Aziz menaikkannya menjadi 100 dinar untuk para ulama yang mengajar dan berfatwa, agar mereka tidak perlu mencari nafkah lain.

Ulama seperti Khatib al-Baghdadi juga menegaskan bahwa negara wajib memberikan nafkah yang mencukupi kepada guru, agar mereka bisa fokus mengajar tanpa beban ekonomi.

Dalam sistem Islam, negara tidak menyerahkan pendidikan kepada swasta, melainkan mengelolanya langsung melalui Baitul Mal, dengan sumber dana dari zakat, kharaj, fa’i, dan ghanimah—bukan dari utang atau pajak rakyat. Semua ini ditegaskan dalam rincian sejarah, dalil, dan praktik nyata bagaimana Islam memuliakan guru dan menjadikan pendidikan sebagai tanggung jawab negara sepenuhnya.

Walhasil, Krisis kekurangan guru yang terus berulang dari tahun ke tahun seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi para pengambil kebijakan. Dengan pengalaman panjang menghadapi masalah yang sama, semestinya solusi yang diambil makin cerdas dan tuntas. Namun faktanya, setiap tahun kita menyaksikan pola yang sama: guru pensiun tak tergantikan, formasi terbatas, honorer dibayar murah, dan mutu pendidikan terancam.

Ini bukan sekadar soal teknis, tapi cerminan dari kegagalan sistemik. Dalam sistem kapitalisme yang tidak shahih, guru dipandang sebagai beban anggaran, bukan sebagai pilar peradaban. Maka meski sudah diupayakan dengan berbagai cara, solusinya hanya tambal sulam—menutup lubang satu, muncul lubang lain.

Berbeda dengan sistem Islam, di mana pendidikan adalah kebutuhan komunal (fardhu kifayah) yang wajib dipenuhi negara. Negara hadir sebagai penanggung jawab penuh, menyediakan pendidikan gratis dan menjamin ketersediaan serta kesejahteraan guru. Pembiayaan pendidikan pun tidak bergantung pada utang atau pajak rakyat, melainkan berasal dari pos-pos syar’i seperti zakat, kharaj, fa’i, ghanimah, dan harta milik umum yang dikelola melalui Baitul Mal.

Dengan sistem ini, krisis guru tidak akan menjadi masalah berulang, karena negara memiliki struktur dan sumber daya yang sah dan stabil untuk memenuhinya. Maka memperjuangkan tegaknya sistem Islam adalah sebuah keniscayaan dan kebutuhan, agar guru kembali dimuliakan dan generasi emas benar-benar bisa terwujud.

Wallahu a’lam bisshawab

Air Sungai Sangatta Naik, Intake IPA Kabo Dianggap Masih Aman

0
Intake IPA Kabo Masih Aman. (Ist)

SANGATTA – Permukaan air Sungai Sangatta di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) kembali menunjukkan tren kenaikan pada Kamis (5/2/2026). Meski naik cukup signifikan dalam hitungan jam, Perusahaan Umum Daerah Air Minum Tirta Tuah Benua (Perumdam TTB) memastikan kondisi masih dalam batas aman dan belum mengganggu operasional Instalasi Pengolahan Air (IPA) Kabo.

Direktur Perumdam TTB Kutim, Suparjan, menjelaskan bahwa pemantauan dilakukan menggunakan acuan elevasi terhadap rata-rata permukaan air laut atau Reference Level (RL).

Berdasarkan data pemantauan, muka air Sungai Sangatta sempat berada di posisi RL 6,65 pada pukul 00.02 WITA. Namun, hanya dalam waktu kurang dari dua jam, angka itu naik menjadi RL 6,80 pada pukul 01.59 WITA.

“Kenaikan berlanjut pada pagi hari, yakni mencapai RL 7,10 pada pukul 06.30 WITA dan kembali naik ke posisi RL 7,15 pada pukul 07.05 WITA,” ungkap Suparjan.

Ia menegaskan, batas aman operasional intake IPA Kabo masih berada di bawah RL 7,69 yang masuk kategori level hijau. Sementara itu, level kuning berada pada kisaran RL 7,70 hingga RL 8,20, dan level merah jika sudah melewati RL 8,21.

“Dengan kondisi terakhir di RL 7,15, proses produksi dan distribusi air bersih masih berjalan normal,” tegasnya.

Meski begitu, Perumdam TTB Kutim tetap meningkatkan kewaspadaan. Pasalnya, fluktuasi muka air Sungai Sangatta sangat dipengaruhi oleh curah hujan, terutama di wilayah hulu.

“Pemantauan tetap kami lakukan secara berkala, karena kondisi air sungai bisa berubah cepat,” pungkas Suparjan.

Penulis: Ramlah
Editor: Yusva Alam

Insentif Guru Kutim Terancam Dipangkas

0
Kepala Disdikbud Kutim, Mulyono. (Ramlah/Radar Bontang)

SANGATTA – Kabar kurang mengenakkan menghampiri para guru di Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Insentif guru yang selama ini diterima melalui skema Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) berpotensi mengalami penurunan pada tahun 2026.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim, Mulyono, menegaskan bahwa potensi penurunan tersebut bukan karena pemerintah daerah ingin mengurangi kesejahteraan guru. Namun, hal itu dipicu oleh aturan yang membatasi belanja pegawai dalam struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

“Pemerintah tidak ada niat sedikit pun untuk menurunkan insentif. Tapi aturan yang melarang karena belanja pegawai tidak boleh lebih dari 30 persen APBD,” ujar Mulyono kepada awak media beberapa hari lalu.

Ia menjelaskan, TPP masuk dalam komponen belanja pegawai. Sementara regulasi menetapkan belanja pegawai maksimal hanya 30 persen dari total APBD. Jika belanja pegawai melebihi batas tersebut, maka pemerintah daerah harus melakukan penyesuaian.

Masalahnya, kondisi APBD Kutim saat ini sedang mengalami penurunan tajam. Mulyono memaparkan bahwa pada tahun 2024 APBD Kutim masih berada di kisaran Rp14 triliun. Namun pada tahun 2025 turun menjadi sekitar Rp9 triliun, dan pada tahun 2026 diproyeksikan kembali anjlok hingga hanya Rp5 triliun.

“Kalau belanja pegawai tidak menyesuaikan dengan kondisi APBD yang turun, maka nilainya bisa melampaui batas 30 persen,” tambahnya.

Situasi ini membuat pemerintah daerah berada dalam posisi sulit. Di satu sisi, kesejahteraan guru harus tetap diperhatikan. Namun di sisi lain, aturan fiskal yang berlaku menuntut pengendalian belanja pegawai agar tidak menabrak ketentuan.

Meski demikian, Mulyono memastikan Pemkab Kutim tetap berkomitmen menjaga kesejahteraan para guru. Ia menilai program yang berjalan selama ini masih lebih baik dibanding sejumlah daerah lain.

Ia juga menegaskan, apabila ke depan regulasi sudah memungkinkan dan kondisi keuangan daerah membaik, pemerintah akan berupaya mengembalikan bahkan meningkatkan kembali insentif guru.

“Insyaallah kalau aturannya sudah memungkinkan, pasti akan kita naikkan kembali,” pungkasnya.

Penulis: Ramlah
Editor: Yusva Alam

Belajar dari IIMS: Auto Borneo di Usia 6 Tahun Media Kaltim

0

Di tengah ekonomi yang tidak selalu memberi kepastian, kita bisa belajar dari pameran otomotif terbesar di Jakarta, Indonesia International Motor Show (IIMS). Lebih dari satu dekade lalu, saya sempat datang ke ajang ini. Skalanya waktu itu belum seramai sekarang, tetapi suasananya sudah terasa hidup.

Orang datang dengan tujuan berbeda-beda. Ada yang sekadar melihat-lihat, ada pula yang benar-benar serius mencari kendaraan. Dari pengalaman itu saya menangkap bahwa event seperti ini tidak berdiri di atas euforia sesaat, tetapi tumbuh dari konsistensi yang dirawat dari tahun ke tahun.

Kesan itu kembali muncul ketika IIMS 2026 resmi dibuka pada Kamis, 5 Februari 2026, di JIExpo Kemayoran. Bahkan terasa lebih kuat. Pameran ini digelar selama 11 hari, 5–15 Februari 2026. Jam bukanya disesuaikan dengan waktu luang pengunjung. Premium Day pada 5 Februari dibuka pukul 13.00–21.00 WIB, hari kerja 11.00–21.00 WIB, dan akhir pekan 10.00–21.00 WIB. Pengaturan waktu yang detail ini menunjukkan bahwa penyelenggara sangat paham dengan ritme orang untuk datang.

Pendekatan serupa terlihat dari skema tiket. Tiket Exhibition Only dipatok Rp150 ribu untuk Premium Day, Rp50 ribu untuk weekdays, dan Rp90 ribu untuk weekend. Di luar itu, pengunjung diberi pilihan pengalaman tambahan melalui Infinite Live dan Infinite Show, konser musik, atraksi otomotif, dan hiburan—yang bisa diakses lewat sistem bundling atau top-up.

Bahkan tersedia kategori VIP Hospitality, mulai dari Silver Pass, Gold Pass, hingga Premium Pass dengan harga mencapai Rp1.999.999. Dari sini terlihat bahwa penyelenggara memahami kebiasaan pengunjung yang beragam. Ada yang datang untuk melihat tren, ada yang benar-benar ingin membeli, ada yang mengejar hiburan, dan ada pula yang mencari pengalaman eksklusif.

Hal lain yang patut dicatat, IIMS 2026 tidak lagi bergantung pada satu atau dua merek besar. Lebih dari 180 brand otomotif dan industri pendukung hadir. Angka ini menunjukkan bahwa industri otomotif Indonesia sedang tumbuh ke arah yang lebih ramai, lebih kompetitif, dan lebih terbuka.

Merek Jepang masih kuat. Ada Toyota, Honda, Mitsubishi, Suzuki, Mazda, Nissan, dan Subaru. Brand Eropa dan Korea juga tetap konsisten hadir, seperti BMW, Mercedes-Benz, MINI, dan Hyundai. Namun yang paling terasa adalah menguatnya kendaraan listrik dan merek-merek baru, terutama dari Tiongkok, yakni BYD, Wuling, Chery, MG, GAC Aion, Geely, Zeekr, Xpeng, iCar, Jaecoo, dan lainnya. Ini semakin menegaskan bahwa elektrifikasi bukan lagi wacana, melainkan sudah menjadi arus utama.

Segmen roda dua pun tidak kalah hidup. Selain Honda, Yamaha, Kawasaki, dan Suzuki, hadir pula merek premium seperti Harley-Davidson, Ducati, Triumph, dan BMW Motorrad. Motor listrik seperti Alva dan Polytron juga mendapat ruang tersendiri.

Program yang ditawarkan pun beragam. Ada test drive dan test ride, atraksi otomotif, hiburan, hingga area gaya hidup seperti boating gathering di kawasan danau JIExpo. Inilah salah satu alasan mengapa event semacam ini bisa bertahan dan terus membesar. Pengunjung tidak dipaksa membeli, tetapi diajak merasakan.

Pengunjung memadati area pameran kendaraan pada ajang Indonesia International Motor Show (IIMS) 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Foto: Istimewa

Lantas, mengapa event seperti ini bisa konsisten digelar di Jakarta? Apakah tidak bisa digelar di Kaltim?

Kaltim kini berada di fase yang berbeda, terlebih sejak hadirnya Ibu Kota Nusantara (IKN). Komunitas otomotif berkembang, sektor aftermarket bergerak, minat terhadap kendaraan listrik mulai menguat, dan daya beli masih terjaga. Di saat yang sama, Kaltim menjadi bagian penting dari perhatian nasional dan arah pembangunan.

Karena itulah, memasuki HUT ke-6 Media Kaltim pada 14 Juli 2026, kami ingin meninggalkan sesuatu yang berjejak, khususnya bagi industri otomotif di daerah. Dari sanalah gagasan Auto Borneo kami siapkan, sebuah ajang otomotif regional dalam rangka memeriahkan HUT ke-6 Media Kaltim.

Auto Borneo lahir dari keinginan untuk menghadirkan ajang yang benar-benar relevan dengan Kaltim. Bukan meniru IIMS, tetapi memetik pelajaran tentang pentingnya konsistensi. Kami ingin fokus pada kebutuhan daerah, memberi ruang bagi brand nasional dan lokal, komunitas otomotif, UMKM otomotif, bengkel, pelaku aksesori dan suku cadang, serta konten kreatif dan diskusi publik.

Kami membayangkan Auto Borneo bukan sekadar pameran. Ajang ini menjadi tempat orang Kaltim merasa punya ruang sendiri—datang, melihat, mencoba, berdiskusi, lalu pulang dengan pengalaman. Ada display kendaraan, produk baru dan suku cadang, test drive terbatas, talkshow otomotif, aktivasi media, hingga kolaborasi komunitas.

Di tengah situasi ekonomi yang membuat orang berhitung lebih ketat, event seperti ini justru bisa menjadi pemantik. Mal bergerak. Usaha kecil hidup. Promosi tumbuh. Jaringan komunitas menguat. Dan yang sering luput disadari, event ini menghadirkan suasana optimistis, bahwa ekonomi daerah tidak selalu harus dibicarakan dengan nada murung.

Jika Jakarta punya IIMS, maka Kaltim seharusnya juga bisa—dengan ukuran kita, karakter kita, dan kebutuhan kita. Bukan untuk menyaingi siapa pun, melainkan untuk membuktikan bahwa daerah juga mampu menggerakkan industri, komunitas, dan optimisme.

Bukan soal besar atau kecil. Tapi soal keberanian untuk mulai, dan kesediaan untuk bertahan.

Semua itu tentu tidak akan terwujud tanpa dukungan seluruh pelaku industri otomotif dan pemerintah daerah. Kami berharap, dukungan itu bisa terbangun bersama demi Auto Borneo 2026 sebagai bagian dari perayaan 6 Tahun Media Kaltim. (*)

Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.

Truk Box Mundur saat Putar Balik, Tabrak Pengendara Motor di Belakangnya

0
Lagi, kecelakaan terjadi di Jalan Yos Sudarso I, Sangatta akibatkan tiga orang korban dilarikan ke RS PKT. (Istimewa)

SANGATTA – Kecelakaan lalu lintas terjadi di Jalan Yos Sudarso I, Kecamatan Sangatta Utara, Kutai Timur, Kamis (5/2/2026). Truk box mundur di putaran balik (U-Turn) menabrak pengendara lainnya.

Satu unit truk box Mitsubishi Canter warna kuning, diduga menghantam sepeda motor Honda yang berada tepat di belakangnya. Benturan keras tak terhindarkan lantaran motor berada di area blind spot.

Akibat insiden tersebut, tiga orang dilaporkan mengalami luka berat dan harus dilarikan ke rumah sakit.

Berdasarkan hasil olah tempat kejadian perkara (TKP), truk yang dikemudikan pria berinisial S melaju dari arah Hotel Kutai Permai menuju kawasan Buana Mekar. Saat sampai di U-Turn depan Boss Cafe, pengemudi bermaksud memutar balik.

Namun karena ruang putar sempit, truk tidak bisa berbelok sempurna. Alih-alih mencari jalur aman, sopir justru memilih mundur.

Nahas, pada saat yang sama sepeda motor berada terlalu dekat di belakang truk. Posisi motor berada di titik buta kendaraan besar. Akibatnya, bagian kanan belakang bak truk menghantam motor tersebut.

Pengendara motor mengalami luka di bagian kepala. Sementara penumpangnya mengalami luka robek di tangan, luka lecet di kepala dan kaki, serta luka robek di bagian depan kepala. Korban lainnya juga dilaporkan mengalami luka berat.

Seluruh korban langsung dievakuasi ke RS PKT Sangatta untuk mendapat penanganan medis. Beruntung, tidak ada korban meninggal dunia. Meski begitu, kerugian materiil ditaksir mencapai Rp2 juta.

Satuan Lalu Lintas Polres Kutai Timur langsung mengamankan sopir truk beserta kendaraan sebagai barang bukti untuk penyelidikan lebih lanjut.

Kasat Lantas Polres Kutim , AKP Rezky Nur Harismeihendra, membenarkan kejadian tersebut.

“Petugas sudah melakukan olah TKP dan mengamankan kendaraan serta pengemudi. Saat ini kasusnya ditangani Unit Gakkum untuk proses penyelidikan,” jelasnya.

Ia menegaskan, kecelakaan tersebut diduga kuat akibat kelalaian pengemudi.

“Pengemudi truk melakukan manuver mundur tanpa memastikan kondisi di belakang kendaraan benar-benar aman. Sepeda motor berada di titik buta, sehingga tabrakan tidak terhindarkan,” tegas AKP Rezky.

Penulis: Ramlah
Editor: Yusva Alam

Kepala Dishub Bontang Buka Suara, terkait Dua Anggotanya Terlibat Korupsi Anggaran Bimtek

0
Ilustrasi. (AI).

BONTANG – Dua pegawai Dinas Perhubungan (Dishub) Bontang, telah ditetapkan menjadi tersangka dalam kasus dugaan korupsi anggaran bimbingan teknis (bimtek), yakni J dan RW.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Bontang, M Taupan Kurnia S mengatakan, bahwa dirinya sangat terkejut dengan adanya informasi tersebut, dimana sebelum dilakukan penahanan kepada keduanya, mereka masih tetap masuk dan bekerja seperti biasanya.

Selain itu, Taupan juga menegaskan pihaknya akan menghormati sepenuhnya proses hukum yang sedang berjalan, dan akan bersikap kooperatif dan mengikuti seluruh ketentuan yang berlaku.

“Kita hormati proses hukum yang berlangsung, dengan tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah,” ucapnya saat dihubungi, Kamis (5/2/2026).

Sebelumnya, Kejaksaan Negeri (Kejari) Bontang telah resmi menetapkan tiga tersangka dalam kasus dugaan korupsi anggaran perjalanan dinas Bimtek Dishub Bontang di 2025 lalu, yang diduga merugikan keuangan negara sekitar Rp 578 juta.

Tersangka berinisial J diketahui menjabat sebagai Sekretaris Dishub Bontang dengan pangkat IV/b, sedangkan untuk tersangka berinisial RW menjabat sebagai Kepala Sub Bagian Umum dan Kepegawaian Dishub Bontang. Sementara untuk tersangka E ialah salah satu pihak dari swasta.

Kepala Seksi Tindak Pidana Khusus Kejari Bontang, Fajaruddin Salampessy menyampaikan bahwa penetapan tersangka dilakukan setelah penyidik mengantongi bukti permulaan yang cukup.

“Maka dari itu, setelah dilakukannya pemeriksaan, penyidik menetapkan tiga tersangka dan langsung melakukan penahanan selama 20 hari,” tutupnya.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Tes Urin Dadakan, BNNK Pastikan Seluruh Peserta Negatif Narkoba

0

Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Bontang memastikan hasil tes urin mendadak yang dilakukan terhadap peserta kegiatan dinyatakan negatif narkoba. Langkah ini menjadi bagian dari upaya pencegahan dan penguatan komitmen bersama dalam menciptakan lingkungan kerja yang bersih dari penyalahgunaan narkotika.

Pembaca Setia Radar Bontang!

Ingin tahu kabar terkini dari Koran Digital Radar Bontang?
Kunjungi link di bawah ini untuk membaca e-paper lengkapnya:

👉 E-Paper Lengkap
https://koran.radarbontang.com

📱 Versi Mobile
https://digital.radarbontang.com/rb5feb2026/mobile/

Radar Bontang – Aktual & Terpercaya!