Beranda blog Halaman 5

Kematian Pesut Mahakam Kembali Jadi Sorotan Konservasi Sungai

0
Suasana evakuasi bangkai Pesut Mahakam bernama Lion di perairan Sungai Mahakam. (Istimewa)

TENGGARONG – Kabar duka kembali datang dari Sungai Mahakam. Seekor Pesut Mahakam jantan bernama “Lion” ditemukan mati mengapung di wilayah Desa Liang, Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara, Selasa (5/5/2026).

Pesut tersebut bukan satwa asing bagi tim konservasi. Lion diketahui sudah dipantau sejak 1999 dan menjadi salah satu individu Pesut Mahakam yang cukup lama teridentifikasi di perairan Sungai Mahakam.

Kematian Lion kembali memunculkan kekhawatiran terhadap kondisi populasi Pesut Mahakam yang terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun.

Tim gabungan dari Yayasan Konservasi RASI, Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut, Kelompok Sadar Wisata Pela, serta Persatuan Dokter Hewan Indonesia Samarinda langsung menuju lokasi setelah menerima laporan penemuan bangkai pesut tersebut.

Proses evakuasi dilakukan sebelum tim melaksanakan nekropsi guna memeriksa kondisi organ tubuh Lion. Setelah pemeriksaan awal selesai dilakukan, bangkai pesut kemudian dikuburkan.

Founder Yayasan Konservasi RASI, Danielle Kreb, menjelaskan Lion merupakan pesut jantan tua dengan panjang tubuh sekitar 2,35 meter dan berat mencapai 152 kilogram.

“Lion memiliki panjang sekitar 2,35 meter dengan berat mencapai 152 kilogram. Kondisi giginya juga sudah aus yang mengindikasikan usia tua,” ujarnya, Kamis (7/5/2026).

Hingga kini, penyebab pasti kematian Lion masih belum diketahui. Tim konservasi masih menunggu hasil uji laboratorium untuk memastikan faktor penyebab kematian satwa endemik tersebut.

Kematian Lion menambah daftar kematian Pesut Mahakam dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi itu memperlihatkan ancaman terhadap mamalia air tawar langka tersebut belum sepenuhnya teratasi.

Habitat Pesut Mahakam selama ini menghadapi berbagai tekanan, mulai dari aktivitas lalu lintas sungai, pencemaran, perubahan kualitas habitat, hingga aktivitas manusia di sepanjang aliran Sungai Mahakam.

Di sisi lain, populasi Pesut Mahakam yang terus menyusut membuat setiap kematian menjadi perhatian serius bagi kelompok konservasi. Satwa endemik Sungai Mahakam itu saat ini masuk kategori terancam punah dan dilindungi.

Kematian Lion juga menjadi pengingat bahwa upaya konservasi tidak cukup hanya melalui pemantauan populasi, tetapi juga membutuhkan perlindungan habitat dan pengawasan aktivitas di kawasan Sungai Mahakam secara lebih serius.

“Penyebab pasti kematian pesut tersebut hingga kini masih belum diketahui. Tim masih menunggu hasil uji laboratorium untuk memastikan faktor penyebab kematian Lion,” tutup Danielle Kreb. (MK)

Penulis : Ady Wahyudi
Editor : Agus S

Kasus Dugaan Pelecehan Anak di Kembang Janggut Jadi Perhatian Publik

0
Ilustrasi kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur. (Istimewa)

TENGGARONG – Dugaan kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur kembali menjadi perhatian di Kutai Kartanegara (Kukar). Kali ini, kasus tersebut mencuat di Kecamatan Kembang Janggut dengan terduga pelaku seorang pengajar ngaji di salah satu Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA).

Informasi dugaan kasus tersebut beredar luas di media sosial dan menyebut jumlah korban lebih dari satu anak. Namun hingga saat ini, pihak kepolisian menyatakan baru menerima satu laporan resmi.

Kapolsek Kembang Janggut, AKP Dedy Supriyanto, membenarkan adanya laporan tersebut dan memastikan pihaknya masih melakukan pendalaman terkait dugaan korban lainnya.

“Yang baru melapor itu satu ke Polsek. Informasi yang berkembang di media sosial memang menyebut ada beberapa korban lain, dan itu masih kami dalami,” ujarnya saat dikonfirmasi, Kamis (7/5/2026).

Menurut Dedy, dugaan peristiwa tersebut terjadi pada Desember 2025. Namun laporan resmi baru diterima polisi pada 22 April 2026.

Saat ini, aparat kepolisian terus mengumpulkan keterangan dari korban maupun saksi lain untuk memastikan fakta sebenarnya dalam kasus tersebut.

“Anggota kami juga melakukan pendekatan dan pendalaman untuk mengetahui apakah ada korban lain,” katanya.

Ia menjelaskan, pemeriksaan terhadap anak dilakukan dengan metode khusus dan wajib didampingi orang tua maupun keluarga guna menjaga kondisi psikologis korban.

Sementara itu, aktivitas belajar mengaji di lokasi tersebut untuk sementara dihentikan sampai proses penyelidikan selesai dilakukan.

“Untuk sementara kegiatan di tempat itu dihentikan dulu,” terangnya.

Kanit Reskrim Polsek Kembang Janggut, Iptu Maharoni, menambahkan bahwa proses penyelidikan masih terus berjalan. Polisi juga masih mencari keberadaan terduga pelaku yang disebut sudah tidak berada di lokasi.

“Orangnya sudah tidak di sini. Kami masih melakukan pencarian sambil melanjutkan pemeriksaan saksi dan korban,” ujarnya.

Polisi memastikan penanganan kasus dilakukan secara hati-hati dengan mengutamakan perlindungan terhadap anak serta menjaga kerahasiaan identitas korban.

“Penyelidikan terus berjalan dan kami berharap seluruh proses bisa segera terang,” tutup Maharoni. (MK)

Penulis: Ady Wahyudi
Editor: Agus S

Dispar Kaltim Dorong Wisata Pesisir Samboja Tak Hanya Andalkan Viralitas

0
Adyatama Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif Ahli Muda Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur, Herlina Eka Yanti dan Imam Rusdi Hidayat. (Nuzul Saputra/Media Kaltim)

SAMARINDA — Pertumbuhan destinasi wisata pesisir di Kecamatan Samboja, Kutai Kartanegara, mulai menunjukkan geliat baru seiring meningkatnya investasi wisata berbasis alam di kawasan tersebut. Namun, di balik pertumbuhan itu, tata kelola, kualitas sumber daya manusia (SDM), hingga keterlibatan masyarakat lokal dinilai masih menjadi tantangan utama.

Hal tersebut disampaikan Adyatama Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif Ahli Muda Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur, Herlina Eka Yanti dan Imam Rusdi Hidayat, saat menerima kunjungan mahasiswa Magister Manajemen Universitas Mulawarman (Unmul) yang sebelumnya melakukan penelitian terkait pengelolaan ekowisata dan pemberdayaan masyarakat di kawasan pesisir Samboja.

Menurut Herlina, kehadiran destinasi wisata baru seperti Jeros Resort di Teluk Pemedas menjadi sinyal positif bagi pertumbuhan sektor pariwisata Kaltim. Meski demikian, pengembangan wisata dinilai tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan fisik maupun viralitas sesaat.

“Harapan kami dengan adanya resort-resort yang mulai berkembang di Kalimantan Timur ini dapat meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan, tapi juga harus dibarengi pelayanan dan pengelolaan yang baik agar wisatawan memiliki kesan positif untuk datang kembali,” ujarnya.

Ia menilai kawasan Samboja memiliki peluang besar berkembang sebagai kawasan wisata penyangga, terutama dengan meningkatnya pergerakan wisatawan dan investasi baru di Kaltim. Namun, pengembangan tetap harus mengedepankan konsep pariwisata berkelanjutan yang melibatkan masyarakat sekitar.

“Dengan adanya IKN ini merupakan tantangan sekaligus peluang. Harapannya uang yang dibawa wisatawan tidak hanya singgah sebentar, tapi bisa berputar lebih lama di daerah,” tambahnya.

Menurut Herlina, sektor wisata memiliki efek berantai terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat, mulai dari pelaku UMKM, transportasi, penginapan, hingga jasa pendukung lainnya.

Dalam diskusi tersebut, Dispar Kaltim juga menyoroti masih terbatasnya ruang pemerintah dalam pengembangan wisata yang sepenuhnya dikelola pihak swasta. Sebab, sebagian besar fasilitasi pemerintah lebih difokuskan pada pengembangan desa wisata berbasis masyarakat melalui Pokdarwis maupun BUMDes.

“Kami memang memiliki keterbatasan untuk masuk ke ranah wisata yang sifatnya komersial penuh. Tapi untuk penguatan SDM, pelatihan hospitality, digital marketing, hingga pemberdayaan UMKM tetap bisa didorong melalui fasilitasi pemerintah,” jelas Herlina.

Sementara itu, Imam Rusdi Hidayat menilai pertumbuhan wisata di Samboja perlu diarahkan pada konsep ekowisata yang berkelanjutan dan terintegrasi dengan potensi lokal.

Ia menyebut arah pengembangan pariwisata Kaltim saat ini tidak hanya berfokus pada pembangunan destinasi, tetapi juga penguatan identitas daerah melalui konsep ekowisata berbasis konservasi dan ekonomi masyarakat.

“Tagline kami memang mengarah pada ekowisata berbasis konservasi, ekonomi masyarakat, dan berdaya saing kelas dunia. Dengan adanya IKN, ini menjadi peluang besar untuk pengembangan wisata di Kalimantan Timur,” katanya.

Menurut Imam, kawasan Samboja memiliki peluang menjadi jalur wisata terpadu melalui pengembangan paket wisata yang menghubungkan wisata pantai, konservasi orangutan, hingga kawasan mangrove.

“Wisatawan itu pasti melihat value for money. Kalau pengalaman yang didapat bagus, mereka akan kembali lagi dan membawa wisatawan lainnya. Di situlah ekonomi masyarakat ikut bergerak,” ujarnya.

Dispar Kaltim juga menilai kolaborasi antara pemerintah, swasta, akademisi, media, dan masyarakat atau konsep pentahelix menjadi kunci pengembangan wisata daerah ke depan.

“Kalau hanya pemerintah sendiri akan sulit. Pariwisata harus dibangun bersama, termasuk melibatkan media dan akademisi agar pengembangannya berkelanjutan,” tambah Imam.

Sebelumnya, mahasiswa Magister Manajemen Unmul melakukan studi lapangan ke Jeros Resort di Teluk Pemedas sebagai bagian dari penelitian mengenai tata kelola destinasi ekowisata dan pemberdayaan masyarakat di kawasan pesisir Samboja.

Dalam kesempatan itu, Herlina berharap penelitian mahasiswa tidak hanya berhenti pada kebutuhan akademik, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pengembangan pariwisata daerah, khususnya dalam promosi potensi wisata dan solusi pengelolaan destinasi.

Senada dengan itu, Imam mengapresiasi keterlibatan mahasiswa dalam penelitian lapangan terkait pengelolaan wisata pesisir di Kaltim.

“Dengan adanya penelitian seperti ini, setidaknya teman-teman mahasiswa ikut membantu mendorong pengembangan pariwisata yang berdampak positif ke depannya,” tutup Imam. (MK)

Penulis : Nuzul Saputra
Editor : Agus S

10 Ribu Anak di Kutim Tercatat Tidak Sekolah

0
Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman saat diwawancara awak media. (Ist)

SANGATTA – Jumlah Anak Tidak Sekolah (ATS) di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) masih berada di kisaran 10 ribu anak. Meski angka tersebut disebut telah menurun dibanding sebelumnya yang mencapai lebih dari 13 ribu anak, kondisi itu tetap menjadi perhatian serius pemerintah daerah.

Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman mengatakan, data ATS yang ada saat ini belum sepenuhnya menggambarkan kondisi riil di lapangan. Menurutnya, masih banyak data lama yang belum diperbarui sehingga jumlah ATS terlihat tinggi.

“Angka itu bukan berarti kondisi riil saat ini. Sebenarnya sudah berkurang, hanya saja pencatatannya yang belum maksimal,” ujarnya, Kamis (7/5/2026).

Ia menjelaskan, salah satu kendala utama dalam pendataan ATS adalah tingginya mobilitas penduduk di Kutim. Banyak anak yang masih tercatat sebagai tidak sekolah di Kutim, padahal sudah pindah ke daerah lain mengikuti orang tuanya.

“Ada yang sebenarnya sekolah, tapi tidak lagi di tempatnya karena ikut orang tua pulang kampung. Namun datanya masih tercatat di sini,” jelasnya.

Di sisi lain, Ardiansyah menilai akses pendidikan di Kutim saat ini sudah cukup merata hingga ke wilayah pedesaan. Karena itu, pemerintah kini juga berupaya menelusuri faktor-faktor lain yang menyebabkan anak tidak bersekolah.

“Sekolah kita sudah ada di mana-mana, sampai ke desa-desa. Tinggal kita cari tahu kenapa mereka tidak sekolah,” katanya.

Pemkab Kutim memastikan proses verifikasi data ATS akan terus dilakukan agar angka yang dimiliki lebih akurat dan bisa menjadi dasar penyusunan kebijakan pendidikan yang tepat sasaran.

Pembaruan data tersebut dilakukan melalui Dinas Pendidikan dengan melibatkan berbagai unsur, mulai dari PKK hingga aparat RT di tingkat desa.

Penulis: Ramlah
Editor: Yusva Alam

Dewan Soroti Kondisi Warga Miskin di Sekitar Industri, Minta Perusahaan Terapkan Program “Tengok Tetangga”

0
Ketua Komisi A DPRD Bontang, Heri Keswanto saat kunjungan kerja ke Badak LNG. (Dwi S).

BONTANG – Ketua Komisi A DPRD Bontang, Heri Keswanto, meminta perusahaan besar di Kota Bontang, khususnya PT Badak LNG, untuk turut menerapkan program pemerintah seperti “Tengok Tetangga”, sebagai bentuk kepedulian sosial terhadap masyarakat sekitar.

Menurut Heri, program tersebut bukan hanya dimaknai sebagai hubungan antarwarga bertetangga, melainkan juga keterlibatan perusahaan terhadap kondisi masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah operasional industri.

Ia mencontohkan salah satu warga yang berada di lingkungan sekitar perusahaan, dan hingga kini masih hidup dalam kondisi memprihatinkan. Bahkan, warga tersebut telah menerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) sebesar Rp300 ribu per bulan, namun masih mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.

“Masih ada warga tinggal di samping HOP, yang masuk dalam lingkungan PT Badak, hidupnya masih susah untuk makan. Bahkan kalau mau makan, dia harus mengumpulkan sisa-sisa makanan dari tong sampah untuk dijual menjadi makanan babi. Ini tentu sangat miris,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Selain itu, Heri juga menyoroti kondisi warga di wilayah Bontang Lestari (Bonles), tepatnya di RT.01 dan RT.02, yang disebut masih ada belum memiliki lantai rumah layak, meski berada berdampingan dengan kawasan industri.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi gambaran bahwa program “Tengok Tetangga” perlu dijalankan secara bersama-sama, antara pemerintah dan perusahaan agar masyarakat sekitar industri juga dapat merasakan dampak kesejahteraan.

“Di sinilah arti dari program Tengok Tetangga dari Pemkot Bontang. Mudah-mudahan dengan adanya program ini, perusahaan bisa masuk dan terlibat. Kita harus kerja sama dalam satu frekuensi,” katanya.

Ia berharap pihak perusahaan dapat turun langsung melihat kondisi masyarakat di lapangan, sehingga bantuan yang diberikan benar-benar tepat sasaran.

“Jangan sampai ada isu kota besar karena industri, tetapi masih ada masyarakat yang susah untuk makan. Minimal kita bisa membantu walaupun sekadar membelikan beras,” pungkasnya.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Diduga Gegara Anak Kejar Layangan, Pemotor Alami Kecelakaan di Loktuan, Lurah Imbau Masyarakat

0
Kecelakaan di wilayah Loktuan. (Tangkapan Layar).

BONTANG – Sebuah insiden kecelakaan lalu lintas yang diduga dipicu anak-anak mengejar layangan, terjadi di Loktuan, Rabu (6/5/2026) lalu, dan sempat menjadi perhatian warga setelah videonya beredar luas di media sosial.

Menanggapi kejadian tersebut, Bhabinkamtibmas Kelurahan Loktuan, Aiptu Bambang Sumantri mengaku belum menerima laporan resmi, baik dari korban maupun pihak kepolisian, sehingga informasi awal justru ia diketahui melalui video yang beredar di grup dari warga.

“Kami kurang paham karena tidak ada laporan yang masuk ke kami dari pihak kepolisian, jadi memang kami tahunya dari video yang beredar,” ujar Bambang saat dikonfirmasi, Kamis (7/5/2026).

Berdasarkan informasi yang diperoleh, kejadian itu bermula saat sejumlah anak mengejar layangan di sekitar jalan raya. Pada saat bersamaan, ada pengendara yang melintas dan diduga terkejut hingga terjadi kecelakaan.

“Intinya ada anak-anak ngejar layangan dan ada pengendara yang kebetulan lewat langsung kaget. Untuk lukanya kami juga tidak tahu persis seperti apa, berat atau ringan, tetapi kalau luka lecet memang ada,” lanjutnya.

Ia menjelaskan, aktivitas bermain layangan di kawasan Loktuan memang cukup sering terjadi saat musim layangan tiba. Namun, kondisi jalan di wilayah Loktuan tergolong padat, terutama mulai siang hingga sore hari karena banyak kendaraan berlalu lalang.

“Anak-anak tidak tentu juga untuk main layangan, terbilang sering bila sedang musimnya. Kalau tidak musim ya jarang sama sekali. Padahal kondisi jalanan di wilayah Loktuan mulai siang sampai sore termasuk padat pengendara,” katanya.

Pasca kejadian tersebut, pihak kelurahan bersama aparat setempat langsung mengeluarkan imbauan kepada warga dan anak-anak yang bermain layangan, agar lebih memperhatikan keselamatan.

Dalam imbauan tersebut, Lurah Loktuan mengimbau agar aktivitas bermain layangan dimaksimalkan selesai sebelum pukul 18.00 Wita. Sebelumnya, warga juga sempat melaporkan masih adanya anak-anak yang bermain layangan hingga malam hari.

Selain itu, anak-anak juga diminta tidak mengejar layangan hingga ke badan jalan karena dapat membahayakan diri sendiri maupun pengendara yang melintas.

“Himbauan kedua, untuk anak-anak yang bermain layangan agar bisa memperhatikan keselamatannya. Jangan sampai mengejar layangan ke jalan raya, karena sangat membahayakan, baik membahayakan diri sendiri maupun pengendara yang lewat,” tutupnya.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Memanas, Proses Constatering Diamankan Polsek Rantau Pulung

0
Constatering Sengketa Lahan di Pulung Sari Dikawal Polisi. (Istimewa)

SANGATTA – Proses pencocokan objek sengketa lahan atau constatering yang dilakukan Pengadilan Negeri Sangatta di Desa Pulung Sari, Kecamatan Rantau Pulung, mendapat pengamanan ketat dari jajaran Polsek Rantau Pulung.

Pengamanan dipimpin langsung Kapolsek Rantau Pulung IPTU Herianto dengan melibatkan sejumlah personel kepolisian guna memastikan kegiatan berjalan aman dan kondusif. Proses tersebut merupakan bagian dari tahapan hukum sengketa lahan antara Maria Yasinta Klau dengan Don Simon Sir alias Jeri.

Selain aparat kepolisian, kegiatan turut dihadiri unsur Badan Pertanahan Nasional, pihak pengadilan, kuasa hukum Maria Yasinta, serta sejumlah pihak terkait lainnya.

Situasi sempat memanas lantaran kedua pihak sama-sama mempertahankan klaim atas lahan yang disengketakan. Aparat kepolisian pun melakukan pengamanan terbuka dan tertutup guna mengantisipasi potensi gangguan keamanan maupun gesekan di lapangan.

Petugas juga aktif memberikan imbauan kepada seluruh pihak agar tetap menahan diri dan menghormati proses hukum yang sedang berjalan.

Namun dalam pelaksanaannya, pihak BPN belum dapat melakukan pengukuran lahan karena tidak ditemukan patok maupun batas tanah yang jelas di lokasi sengketa.

Kegiatan tersebut juga dihadiri sekitar tujuh orang dari kelompok Jeri. Meski demikian, seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman dan terkendali hingga selesai.

Kapolsek Rantau Pulung IPTU Herianto menegaskan, kehadiran polisi dalam kegiatan tersebut merupakan bentuk komitmen Polri menjaga keamanan serta mendukung kelancaran proses hukum di tengah masyarakat.

“Kami hadir untuk memastikan kegiatan constatering berjalan aman dan lancar. Kami juga mengimbau seluruh pihak agar tetap menjaga kondusivitas dan menghormati proses hukum yang sedang berlangsung,” ujarnya, Kamis (7/5/2026).

Ia menambahkan, Polri akan terus hadir dalam setiap proses penyelesaian konflik masyarakat guna mencegah terjadinya gangguan kamtibmas.

Penulis: Ramlah
Editor: Yusva Alam

Jelang Dilaunching, DPMPTSP Bontang Ikut Verifikasi Kelayakan Koperasi Merah Putih

0
Saat melakukan pengecekan lapangan lokasi koperasi merah putih. (ist)

BONTANG – Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Bontang turut terlibat dalam percepatan program nasional Koperasi Merah Putih (KMP) di Kota Bontang.

Penata Perizinan Ahli Muda DPMPTSP Bontang, Sofyansyah mengatakan pihaknya masuk dalam tim verifikasi dan validasi yang bertugas melakukan pemeriksaan administrasi hingga peninjauan fisik bangunan koperasi.

“DPMPTSP ini masuk dalam tim verifikasi dan validasi percepatan Koperasi Merah Putih. Kami membantu dari sisi administrasi perizinan dan peninjauan fisik bangunan,” ujarnya, Kamis (7/5/2026).

Tim telah melakukan peninjauan lapangan ke wilayah Bontang Lestari dan Guntung yang menjadi titik pelaksanaan program tersebut.

Ia menjelaskan, keterlibatan DPMPTSP merupakan bentuk dukungan lintas organisasi perangkat daerah, terhadap program nasional yang dipimpin Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian dan Perdagangan (DKUMPP).

“Leading sector-nya memang di dinas koperasi, tetapi karena ini program nasional maka seluruh OPD terkait ikut terlibat,” katanya.

Dalam proses verifikasi, tim melakukan pemeriksaan terhadap kelengkapan administrasi, kondisi bangunan, gudang, hingga sarana dan prasarana penunjang koperasi.

Tahapan yang dilakukan meliputi persiapan, verifikasi lapangan, analisis kesesuaian dan kelayakan bangunan, hingga penyusunan berita acara hasil pemeriksaan.

Selain itu, proses pendampingan juga melibatkan Satgas TNI untuk mendukung percepatan pelaksanaan program di lapangan.

“Saat ini masih ada beberapa kelengkapan yang dipenuhi sambil proses pemeriksaan berjalan. Nanti hasil akhirnya ada penilaian apakah layak digunakan atau tidak,” jelasnya.

Ia menyebutkan, apabila seluruh tahapan telah rampung, program Koperasi Merah Putih di Kota Bontang direncanakan akan memasuki tahap launching pada pertengahan Mei 2026.

“Rencananya sekitar tanggal 16 Mei dilakukan launching,” tutupnya. (sya/adv)

Editor: Yusva Alam

Siap-siap Tampung Air! WTP Altra di Jalan Brigjen Katamso Jalani Perawatan Satu Hari Sabtu Besok

0
Ilustrasi perawatan WTP Altra PDAM Bontang. (AI).

BONTANG – Distribusi air bersih kepada pelanggan di sejumlah wilayah Kota Bontang, akan mengalami gangguan selama satu hari akibat adanya perawatan Water Treatment Plant (WTP) Altra, yang berada di Jalan Brigjen Katamso, No.3, Kelurahan Gunung Elai, Sabtu (9/5/2026) mendatang.

Perawatan tersebut dilakukan melalui penghentian sementara operasional atau shutdown WTP Altra. Dampaknya, aliran air ke rumah pelanggan diperkirakan mengalami penurunan tekanan, hingga tidak mengalir sama sekali di beberapa kawasan terdampak.

Adapun wilayah yang terdampak dibagi dalam dua zona, yakni untuk zona bagian atas, wilayah yang bakal terdampak meliputi Jalan Brigjen Katamso, Jalan M.T Haryono, Jalan S. Parman, serta di Jalan M.H Thamrin.

Sementara zona bawah mencakup Jalan Pattimura, Perum BTN KCY, Jalan Balikpapan, Jalan Awang Long, Jalan Soekarno-Hatta, Jalan Mulawarman, Jalan Dewi Sartika, Jalan Cut Nyak Dien, Jalan R. Soeprapto, Jalan Suryanata, dan Jalan Parikesit.

Selanjutnya di Jalan D.I Panjaitan, Jalan K.P Tendean, Jalan K.S Tubun, Jalan A. Yani dan sekitarnya, Jalan Imam Bonjol, Jalan H.M Ardan, Jalan Tomat, Jalan Brokoli, Jalan Durian, Jalan Selat Bone, Jalan Selat Selayar, hingga Jalan Ir. H. Juanda dan sekitarnya.

Masyarakat pun diimbau untuk menampung air secukupnya sebagai persediaan, sebelum proses perawatan dilakukan guna mengantisipasi gangguan distribusi sementara.

“Perawatan dilakukan mulai dari pukul 07.00 Wita hingga selesai, sehingga kami memohon maaf atas ketidaknyamanan dan terganggunya dari pelayanan kami,” ucap Dirut Perumda Tirta Taman, Suramin, Kamis (7/5/2026).

Setelah proses perawatan selesai, distribusi air akan kembali dinormalisasi secara bertahap, hingga tekanan air kembali stabil di seluruh wilayah yang terdampak.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Pemkot Bontang Raih Penghargaan Nasional Terbaik 1 Penurunan Pengangguran

0
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni saat menerima penghargaan di Balikpapan. (Ist).

BONTANG – Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional dengan meraih penghargaan Terbaik 1 Tingkat Kota, dalam ajang Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi 2026 Regional Kalimantan.

Penghargaan tersebut diberikan oleh Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) RI, dalam acara yang digelar di Platinum Hotel Balikpapan, Selasa (5/5/2026).

Pada kategori Penurunan Tingkat Pengangguran, penghargaan diserahkan langsung oleh Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait, yang didampingi langsung oleh Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, kepada Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni.

Atas capaian tersebut, Kota Bontang juga memperoleh bantuan dana insentif sebesar Rp3 miliar, sebagai bentuk apresiasi atas keberhasilan pemerintah daerah dalam menekan angka pengangguran.

Neni menyampaikan rasa syukurnya atas penghargaan yang telah diraih Pemkot Bontang. Menurutnya, pencapaian ini merupakan hasil kerja keras bersama dari seluruh pihak, khususnya Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Bontang.

“Alhamdulillah, Bontang dipercaya sebagai terbaik pertama dalam upaya angka penurunan pengangguran. Hasil ini membuktikan bahwa usaha yang konsisten tidak akan mengkhianati hasil,” ujarnya.

Maka demikian, ia mengajak seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang ada, untuk terus meningkatkan kinerjanya dan melakukan pembenahan di berbagai sektor pembangunan.

“Ayo semangat semua. Kita berbenah bukan hanya di sektor tenaga kerja saja, tetapi juga penurunan stunting, kemiskinan, hingga penyelamatan lingkungan,” tambahnya.

Dalam kegiatan tersebut, Neni Moerniaeni juga didapuk menjadi narasumber untuk memaparkan strategi dan keberhasilan Kota Bontang dalam menekan angka pengangguran.

Menurutnya, salah satu kunci keberhasilan adalah sinergi yang kuat, antara Disbaker dengan sektor swasta dalam membuka peluang kerja dan meningkatkan kompetensi tenaga kerja lokal.

Dengan semangat “Membangun Bontang yang Lebih Baik”, penghargaan ini diharapkan menjadi motivasi bagi seluruh OPD di lingkungan Pemkot Bontang, untuk terus berinovasi demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam