Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud bersama istri dan putrinya saat nobar Borneo FC bersama ribuan Pusamania di Hotel Atlet Stadion Segiri, Samarinda. Foto: Hanafi/MKN
SAMARINDA – Suasana penuh semangat dan gemuruh dukungan mewarnai acara nonton bareng pertandingan Borneo FC di Hotel Atlet Kompleks Stadion Segiri, Minggu (17/5/2026) malam.
Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud atau yang akrab disapa Harum, hadir bersama sang istri, Syarifah Suraidah Harum, dan putrinya, Syahrah Mas’ud, untuk menyaksikan langsung laga krusial tersebut bersama ribuan suporter Pusamania.
Lobi Hotel Atlet dipadati pendukung Pesut Etam dengan atribut khas oranye-hitam. Teriakan dukungan, nyanyian suporter hingga yel-yel bergema sepanjang pertandingan dan membuat suasana nobar terasa layaknya berada langsung di tribun stadion.
Dalam pertandingan pekan ke-33 Super League 2025/2026 yang berlangsung di Stadion Gelora Bumi Kartini, Jepara, Borneo FC harus puas bermain imbang tanpa gol 0-0.
Meski gagal meraih kemenangan, antusiasme para pendukung tidak surut. Ribuan Pusamania tetap bertahan hingga peluit panjang dibunyikan sambil terus memberikan dukungan kepada tim kebanggaan Kalimantan Timur tersebut.
Di sela jeda pertandingan, Rudy Mas’ud sempat berdiskusi dengan dirigen Pusamania, Rio, terkait perkembangan Borneo FC dan kondisi fasilitas pendukung di kawasan Stadion Segiri.
Dalam kesempatan itu, Rio meminta dukungan Pemerintah Provinsi Kaltim untuk membantu pembenahan fasilitas stadion, khususnya penerangan lampu Stadion Segiri.
Permintaan tersebut disampaikan karena Borneo FC diproyeksikan tampil di kompetisi antarklub Asia sehingga membutuhkan fasilitas stadion yang memenuhi standar internasional.
Selain pembenahan stadion, dukungan sponsor untuk memperkuat kesiapan klub juga menjadi harapan para suporter.
Menanggapi hal tersebut, Rudy Mas’ud menyampaikan optimismenya terhadap kebangkitan Borneo FC dan pemanfaatan kembali fasilitas olahraga di kawasan Segiri.
“Hotel atlet saja yang sudah empat tahun tidur sekarang sudah bisa dimanfaatkan kembali. Mudah-mudahan ke depan terus digunakan. Apalagi kalau hanya lampu Stadion Segiri untuk Borneo FC,” ujar Rudy disambut tepuk tangan suporter.
Ia menegaskan Pemerintah Provinsi Kaltim berkomitmen melakukan pembenahan fasilitas stadion agar Borneo FC dapat terus berkembang dan bersaing di level lebih tinggi.
“Kalau hotel saja bisa kita hidupkan, apalagi cuma lampunya saja. Insya Allah lampu stadion segera kita benahi supaya Stadion Segiri bisa digunakan untuk kegiatan Borneo FC di Kalimantan Timur hingga level Asia,” katanya.
Momen nobar tersebut menjadi simbol kuatnya dukungan masyarakat dan pemerintah daerah terhadap Borneo FC sebagai salah satu kebanggaan Kalimantan Timur. (MK)
Kondisi banjir mulai merendam rumah warga di RT 1 Desa Bukit Raya, Kecamatan Sepaku, Minggu malam. Foto: Junior Pakekong/MKN
PENAJAM PASER UTARA – Hujan deras lebih dari empat jam yang mengguyur Kecamatan Sepaku membuat sebagian wilayah Desa Bukit Raya mulai terendam banjir, Minggu (17/5/2026) malam.
Wilayah yang paling terdampak berada di RT 1 Koridor Sepaku, dekat kawasan Intake Sepaku.
Sejumlah warga dilaporkan mulai keluar dari rumah masing-masing sambil menyelamatkan barang-barang yang berpotensi rusak akibat rendaman air.
“Pemilik rumah aja pada keluar,” ujar seorang warga sekitar bernama Mydha.
Pantauan lapangan yang diterima redaksi sekitar pukul 22.00 Wita menunjukkan air sungai mulai masuk ke rumah warga.
Bahkan sebuah toko di kawasan tersebut terlihat sudah tergenang, baik di bagian luar maupun dalam bangunan.
Warga RT 1 Bukit Raya lainnya, Argha, juga melaporkan kondisi air yang terus naik.
“Udah,” ucapnya singkat sambil memperlihatkan video genangan yang mulai masuk ke sejumlah rumah warga.
Ia juga mengaku segera menghubungi Kapolsek Sepaku, AKP Syarifuddin, terkait kondisi banjir yang mulai meluas.
Sebelumnya, hujan deras disertai angin dan petir mengguyur Kecamatan Sepaku sejak selepas pukul 18.00 Wita.
Hingga sekitar pukul 21.30 Wita, hujan masih berlangsung meski intensitasnya mulai berkurang.
Selain Bukit Raya, laporan genangan juga datang dari Desa Suka Raja, khususnya RT 24 dan RT 25 yang memang kerap terdampak banjir saat hujan deras.
Dalam unggahan story WhatsApp Ketua RT 25, Waras Rahmad Abdillah, air terlihat mulai naik hingga mendekati teras rumah warga.
Sementara itu, beberapa wilayah lain seperti Desa Binuang dan Telemow dilaporkan masih dalam kondisi aman hingga malam hari.
“Binuang aman,” ujar salah satu perangkat desa setempat, Pahrian.
Hingga berita ini diturunkan, kondisi di sejumlah wilayah lain seperti Karang Jinawi, Tengin Baru, Kelurahan Sepaku dan Kelurahan Maridan masih terus dipantau. (MK)
Pertemuan terakhir saya bersama kakak saya Sudarmono (kanan). Saat itu saya datang bersama keluarga dan kakak perempuan saya Nani Suliati (kiri) saat berkunjung ke Bali, November 2025 lalu. Foto: Istimewa
Dulu saya sempat berjanji akan menulis cerita perjalanan itu lebih panjang.
Pada November 2025 lalu saya pergi ke Bali menjenguk kakak saya, Sudarmono. Waktu itu saya memang hanya menulis sedikit cerita tentang perjalanan tersebut. Saya bilang, mungkin suatu hari nanti akan saya tulis lebih lengkap.
Tapi saya tidak menyangka, tulisan itu akhirnya benar-benar saya lanjutkan setelah kakak saya meninggal dunia.
Sabtu (16/5) sore, saya baru tiba di Samarinda, dari Balikpapan usai menghadiri pernikahan Direktur RadarPaser.com, Tontong Bhakti Sihombing. Saya masih bersama klien Media Kaltim ketika telepon dari Jember masuk.
Saat itu waktu Magrib baru saja masuk. Telepon itu dari anaknya. “Mengabarkan, Bapak sudah tidak ada.”
Teleponnya tidak lama. Tapi setelah mendengar kabar itu, saya hanya bisa menarik napas panjang.
Pikiran saya langsung kembali ke Bali, November tahun lalu. Saat saya datang menjenguk kakak bersama istri, putri saya, dan kakak perempuan saya, Nani Suliati. Saya sendiri anak ke sepeluh dari sepuluh bersaudara.
Sudarmono sudah lama tinggal di Bali bersama istrinya. Ketika kami datang menjenguk, kondisinya memang sudah jauh berubah dibanding sebelumnya.
Tubuhnya terlihat lebih kurus. Wajahnya pucat. Tapi seperti biasanya, ia tetap berusaha menyambut kami dengan hangat dan mencoba tersenyum.
Nada bicaranya mulai pelan. Sesekali terlihat menahan lelah. Tapi sore itu ia tetap berusaha menemani kami duduk dan mengobrol cukup lama bersama istrinya.
Sebagai adik, waktu itu saya masih menyimpan harapan kalau kesehatannya bisa membaik.
Sekarang saya baru sadar, ternyata itu memang salah satu pertemuan terakhir kami.
Satu tahun terakhir kakak saya memang berjuang melawan penyakit yang divonis kanker. Operasi sebenarnya sudah beberapa kali disarankan dokter. Tapi risikonya terlalu besar sehingga terus ditunda.
Istrinya kemudian membawanya pulang ke Jember untuk menjalani perawatan bersama keluarga. Harapannya, kesehatannya bisa membaik.
Namun beberapa hari terakhir kondisinya terus menurun. Operasi akhirnya tetap dilakukan karena ada bagian usus yang bermasalah dan harus dipotong.
Setelah itu kesehatannya tidak lagi stabil. Dan akhirnya Allah memanggilnya pulang.
Malam itu juga saya memutuskan berangkat ke Jember. Saya ingin mengantar kakak saya untuk terakhir kalinya.
Saya dan istri berangkat dari Balikpapan menggunakan penerbangan pagi pukul 06.00 WITA menuju Surabaya. Sebelum berangkat, saya juga sudah menghubungi kakak perempuan saya, Any Sulistyowati, di Bangil yang akan ikut bersama kami ke Jember.
Setibanya di Bandara Juanda Surabaya, driver dari Trac sudah menunggu kami di area parkir bandara. Saya memang sudah menyiapkan kendaraan sewaan sebelumnya agar perjalanan lebih mudah dan tidak perlu mencari transportasi lagi setibanya di sana.
Dari Surabaya, kami lebih dulu menjemput kakak saya di Bangil. Saat itu ia sudah menunggu bersama suaminya.
Di tengah perjalanan, kami mendapat kabar jenazah kakak saya sudah dimakamkan pukul 09.00 pagi. Akhirnya kami langsung menuju makam.
Saya dan keluarga saat berdoa di makam kakak saya, Sudarmono, di Jember. Foto: Istimewa
Saat tiba, istri dan anak kakak saya masih berada di sana. Tanah makamnya masih basah. Bunga tabur juga masih terlihat baru ditebar.
Saya berdiri cukup lama di dekat makam kakak saya. Saya dan keluarga kemudian duduk di dekat pusara sambil membaca doa bersama.
Di situ saya kembali teringat perjalanan keluarga kami dulu.
Kami berasal dari keluarga sederhana. Tahun 1987, keluarga kami hijrah dari Malang ke Balikpapan dibawa kakak tertua kami yang lebih dulu merantau.
Awalnya kami tinggal di kawasan Gunung Belah. Orang tua kami kemudian merintis usaha sepatu custom rumahan yang diberi nama “Borneo Shoes”.
Selama di Balikpapan, usaha “Borneo Shoes” juga beberapa kali berpindah tempat. Setelah dari Gunung Belah, kami pindah ke kawasan Jalan Cemara, lalu berlanjut ke Jalan RE Martadinata, Jalan Gunung Sari, hingga kawasan Markoni.
Di situlah usaha itu mulai berkembang dan menjadi penopang hidup keluarga kami selama bertahun-tahun.
Dalam perjalanan itu pula, kedua orang tua kami meninggal dunia lebih dulu. Usaha keluarga akhirnya diteruskan kakak saya, Heru Sukamto, bersama keluarganya di kawasan Jalan RE Martadinata.
Dua kakak laki-laki saya memang ikut belajar membuat sepatu. Salah satunya Heru Sukamto yang kemudian meneruskan usaha keluarga tersebut. Sedangkan Sudarmono memilih hijrah ke Bali.
Saya sendiri justru satu-satunya anak laki-laki yang tidak pernah bisa membuat sepatu.
Waktu ternyata berjalan terlalu cepat.
Satu per satu kakak saya pergi. Kakak keenam saya Yuli Setiyowati meninggal beberapa tahun lalu. Sebelum Covid, Heru Sukamto menyusul. Saat pandemi, kakak kelima kami Ari Sulistiani juga meninggal dunia.
Dan kini, Sudarmono.
Tidak ada lagi penerus “Borneo Shoes” di keluarga kami.
Usaha yang dulu menjadi penopang hidup keluarga itu kini tinggal cerita.
Dari sepuluh bersaudara, sekarang kami tinggal berempat. Kakak tertua saya Yuli Astuti di Kubar. Kakak perempuan saya Any Sulistyowati di Bangil. Kakak perempuan saya Nani Suliati di Balikpapan. Dan saya sendiri.
Waktu memang berjalan cepat.
Satu per satu kakak saya pergi lebih dulu. Dan sekarang tinggal kami yang meneruskan hidup dengan kenangan yang masih tersisa.
Kini kakak saya, Sudarmono, sudah tenang.
Tulisan yang dulu sempat saya janjikan saat perjalanan ke Bali itu akhirnya saya selesaikan juga. Hanya saja, saya tidak pernah membayangkan akan menuliskannya setelah kakak saya benar-benar pergi.
Selamat jalan, Kakak Sudarmono.
Semoga Allah menerima seluruh amal ibadahmu, mengampuni segala khilafmu, dan menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya. Aamiin. (*)
Kabid Humas Polda Kaltim, Kombes Pol Yuliyanto saat konferensi pers pengungkapan kasus narkotika di Mapolda Kaltim. Foto: Dimas/MKN
SAMARINDA – Komitmen Polda Kalimantan Timur dalam memberantas peredaran narkotika kembali dibuktikan. Tim Opsnal Direktorat Reserse Narkoba resmi menahan seorang oknum anggota Polres Kutai Kartanegara berinisial YBA yang diduga menjadi otak penyelundupan narkotika Golongan II jenis Etomidate.
Pengungkapan kasus tersebut dipaparkan langsung Kabid Humas Polda Kaltim, Yuliyanto, bersama Dirresnarkoba Polda Kaltim, Romylus Tamtelahitu, dalam konferensi pers di Mapolda Kaltim.
“Bapak Kapolda sejak awal sudah menunjukkan komitmen lantang bahwa tidak ada ruang bagi narkotika dan psikotropika di wilayah hukum Polda Kaltim. Pembersihan ini tidak hanya berlaku untuk luar, tapi juga tegas ke dalam institusi,” ujar Romylus.
Kasus ini bermula dari koordinasi antara Ditresnarkoba Polda Kaltim dan Bea Cukai yang mencurigai adanya pengiriman paket dari Medan melalui jasa ekspedisi TIKI.
Mendapat informasi tersebut, Ditresnarkoba langsung membagi tim operasi ke wilayah Tenggarong dan Balikpapan.
Pada 30 April 2026 sekitar pukul 15.00 Wita, petugas mengamankan seorang pria berinisial AB saat mengambil paket di kantor TIKI Tenggarong.
Saat paket dibuka di depan saksi, ditemukan 20 buah narkotika Golongan II jenis Etomidate.
“Kami menginterogasi saudara AB berulang kali. Hasilnya, dia sama sekali tidak tahu-menahu apa isi di dalam paket tersebut. Dia murni hanya diperintah oleh YBA,” jelas Romylus.
Dari hasil pengembangan, polisi kemudian menemukan paket serupa di TIKI Balikpapan sebanyak 50 buah.
Seluruh paket disebut memiliki pola yang sama, dikirim dari Medan oleh seseorang berinisial H yang kini masuk Daftar Pencarian Orang (DPO).
Berdasarkan hasil pemeriksaan manifes pengiriman, total terdapat lima paket besar berisi sekitar 100 buah Etomidate yang dikirim secara bertahap sejak 18 April hingga 30 April 2026.
Polisi juga mengungkap nilai bisnis haram tersebut mencapai ratusan juta rupiah.
Harga beli Etomidate dari Medan disebut sekitar Rp4 juta per buah, sementara harga jual di Kalimantan Timur mencapai Rp4,5 juta hingga Rp5 juta per buah.
“Estimasi keuntungan dari 20 buah paket di Tenggarong saja mencapai Rp270 juta,” paparnya.
Setelah mengumpulkan bukti, Ditresnarkoba bersama Bid Propam Polda Kaltim mengamankan YBA pada 1 Mei 2026 sekitar pukul 04.00 Wita.
Dalam gelar perkara, polisi menetapkan AB sebagai saksi karena dinilai tidak mengetahui isi paket, sementara YBA ditetapkan sebagai tersangka dan resmi ditahan sejak 2 Mei 2026 di Rutan Polda Kaltim.
Atas perbuatannya, YBA dijerat Pasal 119 juncto Pasal 13 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika serta sejumlah ketentuan pidana lainnya.
Polda Kaltim juga masih memburu dua DPO lain berinisial R di Jakarta dan H di Medan yang diduga terlibat dalam jaringan tersebut.
Kabid Humas Polda Kaltim menegaskan proses hukum terhadap YBA berjalan cepat dan bersamaan dengan proses etik di internal kepolisian.
“Karena yang bersangkutan adalah anggota Polri aktif, selain hukuman pidana, YBA saat ini juga sedang menjalani pemeriksaan intensif untuk proses pemecatan di Bid Propam Polda Kaltim,” tegas Yuliyanto. (MK)
Kementerian Agama RI menggelar sidang isbat penetapan awal Zulhijah 1447 Hijriah di Jakarta. Foto: Fajri/MKN
JAKARTA – Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak umat Islam meningkatkan amalan ibadah menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, termasuk menjalankan puasa sunah dan berkurban bagi yang mampu.
Ajakan tersebut disampaikan Nasaruddin usai sidang isbat penetapan awal Zulhijah di Auditorium H.M. Rasjidi Kementerian Agama RI, Jakarta, Minggu (17/5/2026).
“Kepada seluruh umat Islam untuk memperkuat ibadah-ibadah pra-Idul Adha, terutama puasa-puasa sunah, kemudian juga berkurban bagi yang mampu,” ujar Nasaruddin.
Menurutnya, ibadah kurban memiliki makna penting dalam ajaran Islam sekaligus menjadi bentuk ketakwaan dan kepedulian sosial kepada sesama.
“Berkurban itu sesungguhnya itu banyak haditsnya,” kata Menag.
Selain mengajak masyarakat memperbanyak ibadah, Nasaruddin juga menyampaikan doa bagi jamaah calon haji Indonesia yang saat ini menjalankan ibadah di Tanah Suci agar diberi kelancaran hingga kembali ke tanah air dengan predikat haji mabrur.
“Sekali lagi selamat menjalankan rangkaian ibadah-ibadah menjelang dan sesudah Idul Adha yang akan datang dan juga kepada jamaah calon haji kita semoga pulang nanti dalam keadaan membawa haji mabrur,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia, Amirsyah Tambunan, yang mengimbau umat Islam memperkuat semangat berbagi melalui ibadah kurban.
“Kita menyadari bahwa masyarakat kita saat ini tengah menanti uluran tangan kita semua. Pembagian daging kurban secara bersama-sama adalah sebagai bukti kepedulian kita kepada umat kita dan kita jadikan ini sebagai bagian dari mendekatkan diri kepada Allah SWT,” kata Amirsyah.
Sebelumnya, pemerintah menetapkan 1 Zulhijah 1447 Hijriah jatuh pada Senin, 18 Mei 2026. Dengan demikian, Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah diputuskan berlangsung pada Rabu, 27 Mei 2026. (MK)
Suasana peresmian Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Loa Lepu di Kecamatan Tenggarong Seberang, Kutai Kartanegara. Foto: Istimewa/MKN
TENGGARONG – Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Loa Lepu di Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), masuk dalam agenda peluncuran nasional 1.061 koperasi desa yang diresmikan Presiden Prabowo Subianto, Sabtu (16/5/2026).
Peluncuran dipusatkan di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, dan digelar secara hybrid melalui sambungan virtual ke berbagai daerah di Indonesia.
Di Kukar, peresmian dipusatkan di KDMP Loa Lepu dan ditandai pemotongan pita serta penandatanganan prasasti oleh Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri bersama unsur Forkopimda dan pejabat daerah.
Masuknya KDMP Loa Lepu dalam peluncuran nasional dinilai menjadi sinyal kuat bahwa program koperasi desa kini menjadi bagian dari strategi besar pemerintah pusat dalam membangun ekonomi berbasis desa.
Aulia Rahman Basri mengatakan peluncuran serentak KDMP menjadi momentum penting mendukung program Asta Cita Presiden Prabowo sekaligus selaras dengan visi pembangunan daerah melalui program Kukar Idaman Terbaik.
Menurutnya, konsep KDMP tidak lagi berjalan seperti koperasi konvensional karena pemerintah mendorong koperasi menjadi pusat distribusi sekaligus penggerak ekonomi masyarakat desa.
Ia menyebut model KDMP dibangun dengan konsep ekonomi progresif yang menghubungkan rantai produksi, distribusi hingga pemasaran kebutuhan pokok masyarakat.
“KDMP menganut new economy progresif yang membangun ekosistem perekonomian menjadi penyuplai bahan pokok yang dibutuhkan masyarakat,” ujar Aulia.
Pemkab Kukar berharap keberadaan KDMP Loa Lepu dapat menjadi contoh pengembangan koperasi desa di wilayah lain di Kukar.
Karena itu, pemerintah meminta dukungan masyarakat agar koperasi tersebut berkembang menjadi penggerak ekonomi lokal yang berkelanjutan.
“Kehadiran KDMP bertujuan untuk mensejahterakan masyarakat. Untuk itu mari kita bersatu saling memberikan dukungan pembangunan KDMP ini, semoga KDMP Loa Lepu menjadi pionir bagi KDMP di seluruh kecamatan di Kukar,” harapnya.
Sementara itu, Presiden Prabowo menilai operasional 1.061 koperasi desa dalam waktu singkat menunjukkan keseriusan pemerintah membangun fondasi ekonomi nasional dari tingkat desa.
Menurut Prabowo, koperasi desa bukan hanya wadah usaha masyarakat, tetapi juga instrumen pemerataan ekonomi dan penguatan ketahanan pangan nasional.
Pemerintah ingin koperasi desa mampu memangkas rantai distribusi kebutuhan pokok sehingga keuntungan ekonomi dapat langsung dirasakan masyarakat desa.
“Program Koperasi Desa Merah Putih diharapkan mampu menjadi pusat distribusi hasil pertanian dan kebutuhan pokok masyarakat, sehingga rantai pasok lebih pendek dan keuntungan ekonomi dapat dirasakan langsung oleh warga desa,” jelas Prabowo. (MK)
Kementerian Agama RI menggelar sidang isbat penetapan awal Zulhijah 1447 Hijriah di Jakarta. Foto: Fajri/MKN
JAKARTA – Kementerian Agama Republik Indonesia menetapkan 1 Zulhijah 1447 Hijriah jatuh pada Senin, 18 Mei 2026. Dengan demikian, Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah diputuskan berlangsung pada Rabu, 27 Mei 2026.
Keputusan tersebut diambil dalam sidang isbat yang digelar di Jakarta Pusat, Minggu (17/5/2026).
Menteri Agama, Nasaruddin Umar, mengatakan penetapan awal Zulhijah dilakukan berdasarkan metode hisab dan rukyatul hilal yang telah memenuhi kriteria penentuan awal bulan Kamariah.
“Berdasarkan hasil hisab serta adanya hasil laporan hilal tersebut dapat terlihat disepakati bahwa tanggal 1 Zulhijah 1447 H jatuh pada hari Senin tanggal 18 Mei 2026 Masehi dan dengan demikian Hari Raya Idul Adha tanggal 10 Zulhijah 1447 H jatuh pada hari Rabu tanggal 27 Mei 2026,” ujar Nasaruddin Umar dalam konferensi pers sidang isbat.
Pemerintah menggunakan kriteria baru MABIMS dalam penentuan awal bulan Hijriah, yakni tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat.
Sebelum sidang isbat dimulai, Tim Hisab Rukyat Kemenag terlebih dahulu memaparkan posisi hilal di seluruh wilayah Indonesia yang dinyatakan telah memenuhi syarat astronomis.
“Di wilayah NKRI telah memenuhi kriteria MABIMS awal bulan Kamariah sehingga tanggal 1 Zulhijah 1447 H jatuh pada hari Senin Kliwon, 18 Mei 2026 M. Ini secara hisab,” kata Cecep Nurwendaya.
Hasil hisab tersebut kemudian diperkuat melalui rukyatul hilal yang dilakukan di 88 titik pemantauan di berbagai daerah Indonesia.
“Di Merauke 8,91°. Di Sabang, 10,62°. Padahal minimal saja 6,4 sudah jauh di atas kriteria MABIMS,” jelas Cecep.
Sidang isbat awal Zulhijah turut dihadiri perwakilan Majelis Ulama Indonesia, Komisi VIII DPR RI, pimpinan pondok pesantren, serta para ahli falak dari berbagai organisasi Islam. (MK)
BONTANG – Pengelola villa dan homestay di kawasan pesisir Bontang, diingatkan untuk memperhatikan aturan pemanfaatan ruang laut sebelum melakukan pembangunan usaha.
Jafung Penata Perizinan Ahli Muda DPMPTSP Bontang, Sofyansyah mengatakan, izin dasar ruang laut menjadi tahapan penting untuk memastikan lokasi bangunan tidak berada di jalur kapal, kawasan terumbu karang, maupun area yang dilarang pemerintah provinsi.
“Jangan sampai nanti bangunan ternyata berada di alur kapal atau lokasi yang tidak diperbolehkan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kewenangan pengaturan ruang laut saat ini berada di pemerintah provinsi melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP). Karena itu, pengelola usaha diminta mengikuti prosedur yang berlaku sebelum membangun.
Menurutnya, pengurusan izin sebenarnya tidak rumit dan dapat dilakukan secara kolektif maupun melalui asosiasi usaha.
“Yang penting pelaku usaha mau mengurus legalitasnya. Kami di PTSP siap mendampingi,” katanya.
Sofyansyah juga mengingatkan, bahwa legalitas usaha penting untuk memberikan kepastian hukum sekaligus mendukung penataan kawasan wisata pesisir di Bontang agar lebih tertib dan aman. (sya/adv)
BONTANG – Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Bontang mengimbau pengelola villa dan homestay di kawasan laut, segera melengkapi legalitas usaha agar tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari.
Jafung Penata Perizinan Ahli Muda DPMPTSP Bontang, Sofyansyah mengatakan, saat ini sebagian besar usaha vila laut masih dalam tahap pengurusan izin dasar, khususnya terkait ruang laut yang menjadi kewenangan provinsi.
“Yang baru ada itu izin dasar ruang laut. Belum sampai perizinan usaha secara penuh,” ujarnya.
Ia menjelaskan, legalitas usaha vila tidak hanya cukup dengan izin dasar. Pelaku usaha juga wajib melengkapi rekomendasi teknis, Persetujuan Bangunan Gedung (PBG), hingga perizinan usaha melalui sistem OSS.
Menurutnya, DPMPTSP siap memberikan pendampingan kepada pelaku usaha yang ingin mengurus izin agar seluruh proses berjalan sesuai ketentuan.
“Kalau izin dasar dan rekomendasi teknis sudah lengkap, nanti kami input di sistem dan izin usaha bisa keluar,” katanya.
Sofyansyah berharap, para pemilik vila dan homestay dapat segera mengurus legalitas usahanya demi kepastian dan keamanan investasi.
“Intinya kami mengimbau supaya tertib administrasi dan legalitas usahanya jelas, agar nanti kalau dari provinsi melakukan sidak, tidak bermasalah,” tandasnya. (Adv/sya)
Keluarga besar Media Kaltim Network saat menghadiri pernikahan Direktur RadarPaser.com, Tontong Bhakti Sihombing dan Theresia Anna Fransiska Samosir di Balikpapan, Sabtu (16/5/2026). Foto: Istimewa
Sabtu (16/5) siang itu kawasan Gedung Nommensen Balikpapan terlihat cukup ramai.
Parkiran di depan gedung sudah penuh. Banyak tamu akhirnya memarkir kendaraan di area bawah, lalu berjalan menuju lokasi acara yang berada di samping Gereja Sopo Nommensen HKBP Balikpapan, tidak jauh dari Hotel Sagita.
Saya datang bersama rombongan keluarga besar Media Kaltim Network (MKN). Ada Direktur MediaKaltim.com Rini Ernawati, Direktur Radarmedia.id Adhi Abdian, Direktur RadarKukar.com Muhammad Rafii, Direktur RadarBalikpapan.com Andrie Aprianto, para wartawan, tim multimedia, dan beberapa kru redaksi dari berbagai daerah.
Hari itu, Direktur RadarPaser.com, Tontong Bhakti Sihombing resmi menikahi Theresia Anna Fransiska Samosir.
Sesuai undangan, pemberkatan dijadwalkan pukul 10.00 WITA di Gereja Katolik Santo Martinus Lanud Balikpapan. Setelah itu dilanjutkan resepsi adat Batak mulai pukul 11.30 WITA hingga selesai di Gedung Nommensen. Sementara jamuan makan bersama nasional dijadwalkan pukul 13.00 sampai 15.00 WITA.
Saat kami tiba sekitar pukul 13.00 WITA, suasana di lokasi acara masih cukup padat. Tamu undangan resepsi nasional mulai berdatangan dan diarahkan menuju meja prasmanan di luar gedung. Dari dalam aula, musik gondang Batak masih terdengar karena prosesi adat masih berlangsung.
Di tengah suasana itu, kami melihat Bhakti dan istrinya berada di depan pintu masuk gedung sebelum kembali masuk ke dalam aula. Akhirnya kami sempat “menculik” Bhakti untuk foto bersama lebih dulu.
Begitu bertemu, suasananya langsung akrab. Rombongan kami yang tadi sebagian sedang makan dan berbincang kemudian berkumpul menyapa Bhakti. Semua langsung ikut bergabung untuk foto bersama. Bhakti dan istrinya juga terlihat santai melayani satu per satu.
Karena sudah cukup lama mengenal Bhakti, suasana siang itu memang terasa berbeda.
Bhakti menjadi bagian dari perjalanan Media Kaltim sampai tumbuh seperti sekarang. Saya masih ingat saat dia pertama kali bergabung. Waktu itu masih berstatus wartawan biasa, lalu pelan-pelan ikut berkembang bersama perjalanan media ini.
Dia termasuk orang yang lebih banyak bekerja daripada banyak bicara. Pelan-pelan ritme kerjanya mulai terlihat. Dari liputan biasa, ikut memahami ritme redaksi, membangun relasi, sampai akhirnya saya percaya memimpin media RadarPaser.com.
Saya bersama Direktur RadarPaser.com, Tontong Bhakti Sihombing sebelum prosesi resepsi adat dimulai.
Media itu memang kami siapkan untuk menyasar segmen pembaca di Kabupaten Paser dengan pendekatan media digital yang lebih dekat dengan masyarakat daerah.
Dan Bhakti ikut tumbuh bersama proses itu. Karena itu, saat melihat dia berdiri sebagai pengantin, rasanya memang berbeda.
Begitu masuk ke dalam aula Gedung Nommensen, suasana adat Batak langsung terasa. Musik gondang terus mengiringi jalannya acara. Keluarga besar kedua mempelai dipanggil satu per satu sesuai posisi adat dan marganya.
Ada prosesi mangulosi atau pemberian ulos sebagai simbol restu keluarga. Setelah itu dilanjutkan manortor atau tarian adat Batak yang diikuti keluarga besar secara bergantian.
Bhakti tampil mengenakan jas abu-abu gelap lengkap dengan penutup kepala adat Batak. Sementara Theresia mengenakan kebaya adat bernuansa cokelat keemasan.
Prosesi adat berlangsung cukup panjang, tapi suasananya tetap terasa akrab. Banyak keluarga besar yang saling menyapa dan berbincang di sela-sela acara.
Keluarga besar Media Kaltim Network saat menghadiri pernikahan Direktur RadarPaser.com, Tontong Bhakti Sihombing dan Theresia Anna Fransiska Samosir di Balikpapan, Sabtu (16/5/2026). Foto: Istimewa
Setelah doa penutup prosesi adat selesai, keluarga besar Media Kaltim mendapat kesempatan pertama naik ke atas panggung untuk memberikan ucapan selamat sekaligus foto bersama pengantin.
Tim redaksi dan direktur media jaringan langsung naik ke atas panggung. Sebagian masih sempat bercanda sambil mengatur posisi foto.
Begitu berkumpul, suasananya terasa seperti reuni kecil. Banyak cerita lama keluar lagi. Ada yang mengenang masa-masa awal Media Kaltim berkembang. Ada juga yang sekadar meledek Bhakti karena akhirnya resmi melepas lajang.
Tontong Bhakti Sihombing bukan sekadar direktur media jaringan. Dia sudah menjadi bagian dari perjalanan panjang Media Kaltim sampai sekarang.
Dari wartawan biasa, kini berdiri sebagai pemimpin media daerah sekaligus kepala keluarga baru. Dan saya senang bisa melihat proses itu dari awal. (*)