SAMARINDA – Perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kalimantan Timur akan berlangsung berbeda. Dinas Pariwisata (Dispar) Kaltim berencana mengibarkan Merah Putih di bawah laut Pulau Miang, Kecamatan Sangkulirang, Kabupaten Kutai Timur, pada 17 Agustus 2026.
Bendera akan dibentangkan pada kedalaman sekitar 5 hingga 10 meter. Pengibaran tersebut direncanakan berlangsung bersamaan dengan kemunculan hiu paus (Rhincodon typus) yang hidup di perairan Pulau Miang.

Kepala Dispar Kaltim Muhammad Faisal mengatakan kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi bagian dari perayaan kemerdekaan. Pengibaran Merah Putih di bawah laut sekaligus digunakan untuk memperkenalkan potensi wisata bahari Pulau Miang ke tingkat nasional.
“Ya, kami memang ada rencana melaksanakan pengibaran bendera di bawah laut. Bukan gaya-gayaan, tapi ini berhubungan dengan pariwisata dan untuk promosi-promosi pariwisata,” ujar Faisal, Selasa (11/8/2026).
Pulau Miang dipilih karena memiliki potensi wisata bahari, termasuk keberadaan hiu paus. Dispar Kaltim ingin destinasi tersebut semakin dikenal wisatawan dari dalam maupun luar Kaltim.
“Kita rencana mengadakan kenaikan bendera di bawah laut di Pulau Miang. Tapi nanti yang spesialnya adalah menaikkan bendera bersama hiu tutul, hiu paus istilahnya di sana,” katanya.
Selama ini, kemunculan hiu paus di Kaltim lebih dikenal berada di kawasan Talisayan, Kabupaten Berau. Namun, mamalia laut berukuran besar tersebut juga ditemukan di perairan Pulau Miang.
“Kami ingin promosikan Kaltim, kedua promosi Pulau Miang sebagai salah satu destinasi wisata. Pulau Miang juga ada hiu tutul yang bagus. Bahkan informasi di sana ada enam sampai tujuh, selain yang kita punya di Talisayan,” jelas Faisal.
Pengibaran Merah Putih akan melibatkan sekitar 12 penyelam. Mereka akan turun hingga kedalaman 5–10 meter.
Dispar Kaltim berharap hiu paus muncul ketika prosesi berlangsung sehingga dapat menjadi bagian dari momentum peringatan kemerdekaan.
“Saat kenaikan bendera atau pengibaran bendera itu kami akan coba panggil hiu tutul untuk bersama-sama merayakan kemerdekaan kita,” ungkap Faisal.
Namun, pelaksanaan kegiatan sangat bergantung pada kondisi alam. Gelombang, cuaca, hingga kemunculan hiu paus menjadi faktor yang tidak dapat dipastikan.
“Tantangannya pasti alam. Mudah-mudahan tidak ada gelombang besar, mudah-mudahan tidak ada badai dan yang terakhir mudah-mudahan hiunya ada,” ujarnya.
Dispar Kaltim telah menyiapkan skenario alternatif apabila kondisi laut tidak memungkinkan atau hiu paus tidak muncul. Pengibaran tetap dilaksanakan di titik lain yang memiliki kekayaan biota laut.
“Kami siapkan juga plan B. Mudah-mudahan nanti ketika ini gagal kami siapkan satu titik spot yang memang ikannya beranekaragam dan banyak, sehingga kami menaikkan bendera bersama ikan-ikan. Ini untuk alternatif, sehingga kami yang sudah datang ke sana tidak sia-sia,” kata Faisal.
Keberadaan hiu paus di Pulau Miang juga mulai membuka peluang ekonomi untuk masyarakat pesisir. Warga dapat terlibat dalam kegiatan wisata sebagai pemandu, operator perahu, hingga penyedia homestay, kuliner, dan suvenir.
Perahu nelayan yang sebelumnya digunakan untuk aktivitas perikanan juga berpeluang menjadi sumber pendapatan tambahan dengan melayani wisatawan yang ingin menikmati wisata bahari Pulau Miang.
Dispar Kaltim berharap promosi melalui momentum 17 Agustus dapat meningkatkan perhatian wisatawan terhadap Pulau Miang sekaligus memperluas manfaat ekonomi yang diterima masyarakat setempat.
“Bukan gaya-gayaan. Ini bentuk promosi wisata ke kancah nasional, dan juga menghidupkan kembali peluang ekonomi kreatif masyarakat Desa Pulau Miang,” tutup Faisal.
Penulis: Hadi Winata
Editor: Agus S.




