Beranda blog Halaman 10

BGN Perketat Program MBG, 1.999 Dapur Ditutup untuk Diinvestigasi

0
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono memberikan keterangan terkait penutupan sementara dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) yang belum mendaftarkan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi. (ANTARA/HO-BGN)

JAKARTA – Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil tindakan terhadap 1.999 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di seluruh Indonesia. Operasional ribuan dapur tersebut dihentikan sementara karena sama sekali belum mendaftarkan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) ke dinas kesehatan masing-masing.

Penutupan juga mencakup wilayah Kalimantan. Namun, BGN belum merinci berapa SPPG di Kalimantan Timur maupun masing-masing provinsi yang masuk daftar penghentian sementara.

Data BGN menunjukkan sebaran terbesar berada di Jawa dan Banten dengan 1.417 SPPG. Sumatera mencatat 351 SPPG.

Sebanyak 231 lainnya berada di Wilayah 3. Cakupan wilayah ini sangat luas, meliputi Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku hingga Papua.

Karena itu, angka 231 tidak dapat dimaknai sebagai jumlah dapur MBG yang ditutup di Kalimantan. BGN belum memublikasikan rincian per provinsi dalam data tersebut.

Kepala BGN Sudaryono mengatakan tindakan dilakukan setelah BGN bersama Kementerian Kesehatan menyisir kepatuhan dapur MBG terhadap persyaratan higiene dan sanitasi.

“Sebagaimana publik ketahui, syarat SLHS dan sanitasi itu mutlak dalam penyelenggaraan dapur yang menyelenggarakan MBG. BGN terus menyisir dan verifikasi ketat puluhan ribu SPPG,” kata Sudaryono dalam keterangan resmi, Selasa (8/9/2026).

SLHS menjadi penting karena dapur MBG memproduksi makanan dalam jumlah besar yang kemudian didistribusikan kepada penerima manfaat. Standar higiene dan sanitasi menjadi bagian dari pengendalian keamanan pangan.

Penyisiran dilakukan terhadap puluhan ribu SPPG yang telah beroperasi.

Dari data awal sebanyak 27.485 dapur, hasil penyisiran sementara mencatat 27.022 SPPG. Pembaruan per 7 September 2026 pukul 17.00 WIB kemudian menemukan 1.999 SPPG belum mendaftarkan SLHS.

Sudaryono memberikan penekanan terhadap status ribuan dapur tersebut.

Persoalannya bukan karena mereka sudah mengajukan SLHS kemudian dinyatakan gagal memenuhi persyaratan. Sebanyak 1.999 SPPG itu disebut belum melakukan pendaftaran sama sekali.

“Dapur-dapur sebanyak 1.999 ini tidak melakukan pendaftaran SLHS di dinas kesehatan masing-masing. Artinya, bukan mendaftar lalu syaratnya tidak dipenuhi, melainkan tidak mendaftar sama sekali,” tegasnya.

BGN kemudian memilih menghentikan sementara operasional seluruh SPPG tersebut.

“1.999 SPPG ini saya tutup untuk kemudian kami lakukan investigasi,” kata Sudaryono.

Keputusan tersebut sekaligus menunjukkan pendaftaran SLHS tidak lagi diperlakukan sekadar sebagai urusan administratif yang dapat ditunda ketika dapur sudah beroperasi.

BGN menempatkannya sebagai salah satu persyaratan mendasar dalam penyelenggaraan MBG.

Penutupan sementara dilakukan untuk memastikan standar kualitas, higiene, sanitasi dan keamanan pangan dipenuhi sekaligus melindungi penerima manfaat.

Namun, penghentian tersebut tidak berarti dapur otomatis dapat kembali beroperasi hanya setelah mengajukan pendaftaran SLHS.

BGN masih akan melakukan investigasi. Pemenuhan ketentuan higiene dan sanitasi juga menjadi bagian dari proses sebelum status operasional dapur ditentukan kembali.

Khusus Kalimantan Timur, belum tersedia rincian berapa SPPG yang masuk dalam daftar 1.999 dapur tersebut. Data BGN yang diumumkan baru mengelompokkan Kalimantan bersama Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku dan Papua dengan total 231 SPPG.

Dengan penghentian 1.999 SPPG, pengawasan program MBG kini memasuki fase lebih ketat. Dapur yang tidak memenuhi proses dasar sertifikasi higiene dan sanitasi tidak lagi hanya mendapat teguran, tetapi dapat langsung dihentikan sementara untuk menjalani pemeriksaan. (ant/MK)

Editor: Agus S.

Pasokan Air Baku Balikpapan Dipangkas, 38 Ribu Sambungan Pelanggan Terdampak

0
Kondisi Waduk Manggar yang menjadi salah satu sumber utama air baku Balikpapan. Kemarau dan El Nino membuat pengambilan air baku dari Waduk Manggar dan Teritip dikurangi sehingga berdampak pada layanan sekitar 38 ribu pelanggan. (ANTARA/Novi Abdi)

BALIKPAPAN – Dampak kemarau di Balikpapan kini mulai dirasakan langsung masyarakat. Sekitar 38 ribu sambungan pelanggan Perumda Tirta Manuntung Balikpapan (PTMB) mengalami pengurangan jam pelayanan setelah pasokan air baku dari Waduk Manggar dan Waduk Teritip dipangkas total sekitar 360 liter per detik.

Pengurangan pengambilan air baku berlaku sejak 1 September 2026 atas instruksi Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV. Kebijakan dilakukan untuk mempertahankan cadangan air di tengah kemarau dan dampak El Nino.

Direktur Teknik PTMB Mohammad Kohiruddin mengatakan pengambilan air dari Waduk Manggar sebelumnya mencapai sekitar 1.150 liter per detik. Kini jumlahnya diturunkan menjadi 900 liter per detik.

Artinya, pasokan dari waduk utama tersebut berkurang sekitar 250 liter per detik.

Pemangkasan lebih besar secara persentase terjadi di Waduk Teritip. Pengambilan air turun 50 persen, dari sekitar 220 liter per detik menjadi 110 liter per detik.

Dari kedua waduk tersebut, PTMB kehilangan sekitar 360 liter per detik pasokan air baku yang sebelumnya dapat diolah dan didistribusikan kepada pelanggan.

“Kondisi per hari ini, dengan berkurangnya 360 liter per detik ini tentu pelayanan akan terganggu. Sekitar 38 ribu pelanggan terganggu,” kata Kohiruddin, Senin (7/9/2026).

Gangguan tersebut bukan berarti distribusi air kepada 38 ribu pelanggan dihentikan seluruhnya. Dampak utama berupa berkurangnya durasi air mengalir.

Pelanggan yang sebelumnya memperoleh pelayanan hingga 24 jam dalam sehari dapat mengalami pengurangan waktu distribusi.

“Pelayanannya berkurang, yang mungkin awalnya bisa 24 jam bisa turun dari kurang dari 24 jam,” ujarnya.

Balikpapan Timur menjadi salah satu wilayah yang mendapat tekanan cukup besar karena suplai dari Waduk Teritip berkurang separuh.

Pengurangan jam alir juga dirasakan di sejumlah kawasan Balikpapan Utara, Tengah, Selatan dan Barat, terutama pada periode pagi dan sore.

PTMB meminta masyarakat mulai menyiapkan penampungan ketika air sedang mengalir. Langkah tersebut diperlukan agar kebutuhan dasar rumah tangga tetap tersedia ketika distribusi berhenti sementara.

“Masyarakat juga jangan panik, ini hanya jam pelayanannya saja berkurang karena memang kuantitas air baku yang diolah menurun,” kata Kohiruddin.

Sebagai langkah mitigasi, PTMB menyiapkan tiga terminal tangki.

Terminal Balikpapan Barat disiapkan untuk menopang wilayah barat. Terminal Balikpapan Selatan melayani kawasan selatan dan timur, sedangkan terminal Balikpapan Utara melayani wilayah utara dan tengah.

Sebanyak 17 truk tangki berkapasitas sekitar 5.000 liter juga disiapkan. Dalam kondisi tertentu, satu armada dapat melakukan hingga lima kali pengiriman dalam sehari.

Ancaman terhadap pelayanan belum selesai karena cadangan Waduk Manggar terus menyusut.

Elevasi waduk telah turun hingga sekitar 9,5 meter dengan volume tampungan sekitar 12,9 juta meter kubik. Dalam kondisi normal, elevasi berada pada kisaran 10,30–12 meter dengan kapasitas tampungan sekitar 16 juta meter kubik.

Muka air saat ini menyusut sekitar 2–3 sentimeter per hari.

Jika tidak ada tambahan signifikan dari hujan, cadangan Waduk Manggar diperkirakan hanya mampu menopang kebutuhan air baku sekitar 2,5 hingga tiga bulan.

Kondisi tersebut membuat penghematan air menjadi penting. Pengurangan pengambilan air baku saat ini merupakan upaya memperpanjang umur cadangan waduk sekaligus menjaga agar pelayanan kepada masyarakat tidak terhenti total.

Kemarau Balikpapan dengan demikian telah bergerak dari ancaman terhadap sumber air menjadi gangguan nyata terhadap pelayanan. Sebanyak 38 ribu pelanggan kini menghadapi jam alir lebih pendek, sementara keberlangsungan pasokan beberapa bulan ke depan sangat bergantung pada kondisi cuaca dan cadangan Waduk Manggar. (ant/MK)

Editor: Agus S.

Pemotor Kerap Terobos Pembatas, Putar Balik Balikpapan Baru Ditutup

0
Kawasan Balikpapan Baru atau Bundaran Monyet yang salah satu akses putar baliknya akan ditutup mulai Jumat (11/9/2026) untuk menekan pelanggaran melawan arus. (Istimewa)

BALIKPAPAN – Kebiasaan pengendara melawan arus di kawasan Balikpapan Baru membuat akses putar balik di kawasan tersebut akhirnya ditutup. Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Balikpapan akan memasang beton blok mulai Jumat (11/9/2026), sementara pengendara diarahkan menggunakan titik putar lain.

Kepala Dishub Kota Balikpapan M Fadli Faturahman mengatakan keputusan tersebut diambil bukan karena tingginya angka kecelakaan. Persoalan utama justru tingginya pelanggaran lalu lintas yang menimbulkan konflik antarkendaraan.

“Angka kecelakaan lalu lintas tidak tinggi, tetapi angka pelanggarannya sangat tinggi. Banyak yang melawan arah dan itu menimbulkan konflik-konflik lalu lintas,” ujar Fadli, Selasa (8/9/2026).

Akses tersebut sebenarnya telah dilengkapi pembatas beton. Namun, masih banyak pengendara, terutama sepeda motor, yang menerobos pembatas kemudian mengambil jalur berlawanan arah untuk menuju kawasan Agung Tunggal.

Manuver tersebut membuat kendaraan dari dua arah berpotensi bertemu pada jalur yang sama.

Risikonya semakin besar karena kawasan Balikpapan Baru juga menjadi jalur aktivitas sekolah. Anak-anak maupun orang tua yang mengantar dan menjemput siswa ikut menggunakan ruas tersebut.

Dishub bersama Forum Lalu Lintas akhirnya memilih menutup akses putar balik agar kendaraan tidak lagi memiliki ruang untuk melakukan manuver melawan arus.

Penutupan dijadwalkan dilakukan Jumat (11/9/2026) menggunakan beton blok.

Setelah akses ditutup, pengendara harus menggunakan titik putar yang telah ditentukan. Salah satunya berada di kawasan Pos 10.

Dishub juga tengah menyiapkan dua jalur baru yang masih dalam tahap pengerjaan. Jalur tersebut diperkirakan dapat digunakan sekitar dua pekan lagi.

“Jadi putarannya nanti di Pos 10 atau di dua jalur baru yang sudah kita buat. Kemungkinan sekitar dua minggu lagi sudah bisa digunakan,” jelas Fadli.

Menurutnya, rekayasa lalu lintas tersebut bukan keputusan Dishub secara sepihak maupun semata-mata menindaklanjuti keluhan masyarakat.

Kebijakan telah dibahas dalam Forum Lalu Lintas yang melibatkan sejumlah pemangku kepentingan.

“Ini kebijakan dari Forum Lalu Lintas antara seluruh stakeholder terkait,” tambahnya.

Setelah diterapkan, pola baru akan dievaluasi untuk melihat pengaruhnya terhadap jumlah pelanggaran, konflik kendaraan dan kelancaran lalu lintas.

Jika efektif, penataan akan dilanjutkan ke lokasi lain yang menghadapi persoalan serupa.

Salah satu titik berikutnya yang masuk rencana adalah kawasan Simpang Wika. Namun, rekayasa di kawasan tersebut akan dilakukan bertahap setelah penataan Balikpapan Baru berjalan.

Dishub berharap penutupan fisik membuat pengendara tidak lagi menerobos rambu atau mengambil jalur berlawanan arah hanya untuk mempersingkat perjalanan.

“Ini untuk membatasi pelanggar-pelanggar rambu lalu lintas, terutama motor yang langsung melintas bukan pada jalurnya,” tutup Fadli.

Dengan penutupan mulai 11 September, pengendara yang biasa menggunakan putar balik tersebut perlu menyesuaikan rute dan menggunakan titik putar resmi di Pos 10 maupun jalur baru setelah dibuka. (MK)

Pewarta: Aprianto
Editor: Agus S.

Akses Murid Usia 15 Tahun Capai 90 Persen, Skor PISA Indonesia Tetap Menguat

0
Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) Kemendikdasmen Prof. Dr. Toni Toharudin memaparkan hasil PISA 2025 di Gedung Kemendikdasmen, Jakarta, Selasa (8/9/2026). (Nicha/Media Kaltim)

JAKARTA – Hasil PISA 2025 mencatat dua perbaikan pada kemampuan murid Indonesia. Skor sains naik enam poin menjadi 389 dan membaca meningkat enam poin menjadi 365 dibandingkan PISA 2022. Kenaikan terjadi ketika akses pendidikan bagi anak usia 15 tahun juga telah meluas hampir dua kali lipat dalam dua dekade.

Skor sains Indonesia sebelumnya berada di angka 383 pada PISA 2022, sementara membaca 359. Adapun skor matematika pada PISA 2025 tercatat 364.

Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) Kemendikdasmen Prof. Dr. Toni Toharudin mengatakan hasil tersebut perlu dibaca bersama perkembangan akses pendidikan, bukan hanya berdasarkan perubahan skor.

“Di tengah tren skor sains, membaca, dan matematika negara-negara OECD yang menurun selama 25 tahun terakhir, performa pendidikan Indonesia relatif stabil, bahkan Indonesia naik di literasi dan sains,” ujar Toni dalam konferensi pers Perilisan dan Tindak Lanjut Hasil PISA 2025 di Gedung Kemendikdasmen, Jakarta, Selasa (8/9/2026).

Salah satu indikator yang menjadi perhatian adalah Coverage Index, yakni proporsi populasi murid usia 15 tahun yang tercakup dalam sistem pendidikan formal dan populasi sasaran PISA.

Ketika Indonesia mengikuti PISA pada 2003, Coverage Index tercatat 0,46. Pada PISA 2025, angkanya telah mencapai 0,90.

Artinya, cakupan tersebut meningkat 0,44 poin dalam 22 tahun. Secara relatif, nilainya hampir dua kali lipat dibandingkan 2003.

Kemendikdasmen melihat kondisi itu penting karena semakin luas akses pendidikan, semakin beragam pula latar belakang sosial ekonomi, geografis dan kemampuan siswa yang masuk dalam populasi asesmen.

Namun, perluasan tersebut tidak disertai kemerosotan besar capaian Indonesia. Bahkan pada 2025, sains dan membaca menunjukkan kenaikan.

Direktur Pendidikan dan Keterampilan OECD Andreas Schleicher turut menyoroti kemampuan Indonesia memperluas akses pendidikan sambil menjaga capaian pembelajaran relatif stabil.

Di luar skor tiga kompetensi utama, PISA 2025 juga menangkap sejumlah karakteristik siswa Indonesia.

Tingkat curiosity atau rasa ingin tahu murid usia 15 tahun Indonesia tergolong tinggi. Temuan tersebut menjadi modal penting karena rasa ingin tahu berkaitan dengan keinginan mengeksplorasi, bertanya dan mencari pemahaman baru.

PISA juga menemukan siswa Indonesia memiliki performa relatif lebih baik dalam pemecahan masalah komputasional dibandingkan sejumlah mata pelajaran konvensional.

Temuan lain berkaitan dengan kecerdasan artifisial atau AI.

Siswa Indonesia disebut relatif lebih sering mendapatkan pembelajaran untuk menilai kredibilitas konten yang dihasilkan AI dibandingkan siswa di banyak negara lainnya.

Kemendikdasmen menilai perkembangan tersebut perlu diarahkan agar teknologi tidak sekadar digunakan untuk mendapatkan jawaban, tetapi membantu siswa meningkatkan kemampuan bernalar dan mengevaluasi informasi.

Hasil PISA 2025 kemudian akan ditindaklanjuti melalui empat pilar strategi.

Pilar pertama adalah penguatan kompetensi guru. Pemerintah mendorong pemenuhan kualifikasi akademik, Pendidikan Profesi Guru (PPG), serta peningkatan kompetensi pedagogik dan digital, termasuk kemampuan terkait koding dan kecerdasan artifisial.

Pilar kedua menyasar kualitas pembelajaran melalui pendekatan pembelajaran mendalam, digitalisasi, penguatan literasi-numerasi serta karakter murid.

Pilar ketiga adalah harmonisasi kerangka Asesmen Nasional (AN) dan Tes Kemampuan Akademik (TKA) dengan kompetensi bernalar yang digunakan dalam PISA.

Sementara pilar keempat menyasar lingkungan di luar sekolah dengan memperkuat keterlibatan keluarga melalui Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7KAIH) dan kemitraan orang tua dalam pembelajaran.

Kemendikdasmen juga menyediakan perangkat pembelajaran dan asesmen yang dapat digunakan guru maupun murid secara mandiri, antara lain Perangkat Ajar Ruang GTK, Ruang Murid serta portal simulasi dan latihan asesmen Pusmendik.

Dengan demikian, kenaikan enam poin pada sains dan membaca tidak menjadi satu-satunya catatan PISA 2025. Perluasan akses dari Coverage Index 0,46 menjadi 0,90 menunjukkan jumlah anak usia 15 tahun yang terjangkau sistem pendidikan telah berkembang signifikan.

Tantangan berikutnya adalah memastikan perluasan akses tersebut diikuti peningkatan kualitas pembelajaran, kemampuan bernalar, literasi-numerasi dan kesiapan siswa menghadapi perubahan teknologi. (MK)

Pewarta/Editor: Nicha R

Hanya 1 dari 6 Siswa Indonesia Capai Kompetensi Minimum Matematika PISA

0
Kepala Pusat Asesmen Pendidikan (Pusmendik) Kemendikdasmen Dr. Rahmawati, S.T., M.Ed. memaparkan hasil PISA 2025 di Jakarta, Selasa (8/9/2026). (Nicha/Media Kaltim)

JAKARTA – Hanya 16,93 persen siswa Indonesia yang mencapai kompetensi minimum literasi matematika dalam PISA 2025. Artinya, sekitar 83,07 persen belum mencapai level minimum yang menjadi acuan asesmen internasional tersebut.

Namun, persoalan yang ditemukan bukan sekadar ketidakmampuan melakukan perhitungan. Kemendikdasmen melihat siswa Indonesia relatif mampu menyelesaikan soal ketika persamaan atau formula matematika sudah tersedia, tetapi menghadapi kesulitan ketika harus menerjemahkan persoalan kehidupan sehari-hari menjadi model matematika.

Data hasil PISA 2025 yang dipaparkan Kemendikdasmen dalam konferensi pers Perilisan dan Tindak Lanjut Hasil PISA 2025. (Nicha/Media Kaltim)

Kepala Pusat Asesmen Pendidikan (Pusmendik) Kemendikdasmen Dr. Rahmawati, S.T., M.Ed. mengatakan kompetensi minimum PISA menuntut kemampuan yang lebih luas daripada sekadar menguasai operasi hitung.

Siswa harus mampu membaca informasi dalam bentuk teks, tabel maupun grafik, memilah informasi yang relevan, memahami persoalan, kemudian menerjemahkannya menjadi representasi matematika sebelum mencari solusi.

“Pemecahan masalah sehari-hari itu ada informasi, baik dalam bentuk teks, grafik, maupun tabel. Informasinya bisa jadi ada yang relevan, ada yang tidak relevan. Kemudian kita diminta untuk memecahkan solusi. Tapi sebelum memecahkan solusi, kita harus bisa menerjemahkan apa formula matematika dari masalah tersebut,” jelas Rahmawati dalam konferensi pers Perilisan dan Tindak Lanjut Hasil PISA 2025 di Gedung Kemendikdasmen, Jakarta, Selasa (8/9/2026).

Salah satu contoh terlihat dari soal PISA yang menggunakan grafik penjualan.

Grafik tersebut menampilkan banyak titik data sekaligus garis linear atau best fitting line yang menggambarkan kecenderungan data. Siswa tidak cukup hanya membaca angka yang terlihat.

Mereka harus memahami posisi tahun, menemukan pola, memilah informasi yang diperlukan dan menerjemahkan hubungan tersebut ke dalam model matematika.

Di titik inilah kelemahan siswa Indonesia terlihat.

“Kita sangat unggul kalau sudah diketahui persamaan matematikanya, tinggal menghitung, tinggal mencari jawabannya. Tapi kalau ditanyakan seperti ini, diperlukan kemampuan yang lain, bukan sekadar mengomputasi,” kata Rahmawati.

Menurutnya, kemampuan yang perlu diperkuat adalah membahasakan persoalan kehidupan nyata ke dalam formula atau representasi matematika.

Temuan tersebut membuat tantangan pembelajaran matematika bergeser. Persoalannya tidak cukup dijawab dengan menambah latihan berhitung atau menghafalkan lebih banyak rumus.

Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) Kemendikdasmen Prof. Dr. Toni Toharudin mengatakan pembelajaran perlu lebih diarahkan pada pemahaman konsep, penerapan dan pemecahan masalah.

“Pembelajaran ini tentunya akan lebih diarahkan kepada pemahaman konsep, kemudian penerapan di dalam kehidupan yang nyata dan juga pemecahan masalah. Bukan sekadar menghafal rumus,” ujar Toni.

Penguatan kompetensi guru menjadi salah satu kunci. Guru diharapkan mampu membawa persoalan matematika lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga siswa terbiasa memahami konteks, membangun model dan menentukan strategi penyelesaian.

Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) juga akan dimanfaatkan sebagai instrumen diagnostik. Data tersebut dapat digunakan untuk memetakan kemampuan siswa sekaligus mengidentifikasi sekolah yang membutuhkan intervensi maupun pendampingan.

Kemendikdasmen menyiapkan dukungan melalui buku pembelajaran, peningkatan kompetensi guru, asesmen serta pendampingan sekolah.

Kurikulum nasional sebenarnya telah menyediakan ruang untuk penguatan literasi, numerasi dan kemampuan bernalar melalui pendekatan pembelajaran mendalam. Tantangannya adalah memastikan pendekatan tersebut benar-benar berjalan di ruang kelas.

Di tengah persoalan rendahnya kemampuan bernalar, penggunaan kecerdasan artifisial atau AI oleh siswa juga mendapat perhatian.

Kemendikdasmen tidak melihat AI sebagai teknologi yang harus dihindari. Namun, teknologi tersebut tidak boleh menjadi jalan pintas yang membuat siswa melewati proses berpikir dan langsung memperoleh jawaban.

“AI ini harus sejalan dengan penguatan literasi, numerasi dan juga bernalar. Jadi bukan AI ini untuk melemahkan, tetapi memperkuat,” tegas Toni.

Pembelajaran coding dan kecerdasan artifisial yang mulai diperkenalkan dalam kurikulum juga diarahkan untuk membentuk siswa sebagai pengguna teknologi yang kritis, kreatif dan bertanggung jawab.

Hasil PISA 2025 dengan demikian memberikan alarm yang lebih spesifik. Tantangan matematika Indonesia bukan hanya meningkatkan kemampuan menghitung, tetapi membangun kemampuan memahami informasi, memilah data, memformulasikan masalah dan menggunakan matematika untuk mencari solusi terhadap persoalan nyata.

Dengan baru 16,93 persen siswa mencapai kompetensi minimum, perubahan pembelajaran dari hafalan rumus menuju pemahaman dan penalaran menjadi pekerjaan besar berikutnya. (MK)

Pewarta/Editor: Nicha R

THB Belum Terbit, Cabor Paser Kesulitan Tentukan Atlet untuk Porprov

0
Rapat persiapan Kontingen Paser menuju Porprov Kaltim 2026 di Gedung KONI Paser, Selasa (8/9/2026). (Nash/MK)

PASER – Persiapan Kontingen Paser menuju Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kalimantan Timur 2026 mulai dikejar waktu. Sekitar 1.200 atlet, pelatih dan ofisial telah masuk pendataan, tetapi komposisi final kontingen belum dapat ditetapkan karena Technical Handbook (THB) sejumlah cabang olahraga belum terbit.

Kondisi tersebut ikut menghambat persiapan Training Center (TC). Padahal, Disporapar Paser menilai pemusatan latihan idealnya berlangsung efektif selama 40 hari dan harus mulai dipersiapkan dalam dua bulan ke depan.

Persoalan itu menjadi salah satu pembahasan utama dalam rapat persiapan kontingen di Gedung KONI Paser, Selasa (8/9/2026).

Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Paser Kurniawan mengatakan waktu persiapan semakin terbatas sehingga TC harus segera mendapatkan kepastian.

“TC itu efektifnya dilaksanakan 40 hari, jadi harus memang secepatnya kita laksanakan,” kata Kurniawan.

Masalahnya, sejumlah cabang olahraga belum dapat memfinalisasi jumlah atlet, pelatih maupun ofisial.

THB menjadi dokumen penting karena memuat petunjuk teknis, nomor pertandingan, aturan serta berbagai ketentuan yang menjadi dasar setiap cabor menentukan komposisi kontingen.

“Jumlah atlet dalam satu cabor itu kan mestinya dilihat di dalam THB, sementara THB tersebut sampai sekarang belum keluar,” ujarnya.

Cabor selam menjadi salah satu contoh. Hingga kini, menurut Kurniawan, belum ada kepastian mengenai nomor pertandingan yang akan dipertandingkan. Tanpa informasi tersebut, pengurus cabor kesulitan menentukan atlet yang harus dipersiapkan dan dimasukkan ke dalam TC.

Persoalan itu juga berpengaruh terhadap penyusunan anggaran.

Disporapar Paser tidak menyediakan satu pos khusus dengan nilai tetap untuk seluruh pelaksanaan TC. Perhitungan kebutuhan mengacu pada pengajuan dan jumlah peserta dari masing-masing cabor.

Menurut Kurniawan, setiap atlet dalam TC direncanakan memperoleh alokasi Rp150 ribu per hari. Nilai tersebut sudah mencakup kebutuhan transportasi, konsumsi, uang saku dan kebutuhan terkait lainnya.

“Masing-masing atlet itu nanti akan memperoleh Rp150 ribu per hari, itu sudah include semua, baik masalah transport, konsumsi, uang saku dan lain sebagainya,” jelasnya.

Hingga 8 September 2026, jumlah kontingen yang masuk pendataan Disporapar mencapai sekitar 1.200 orang. Angka tersebut terdiri dari atlet, pelatih dan ofisial.

Jika seluruh 1.200 orang masuk dalam skema TC dengan asumsi Rp150 ribu per orang per hari selama 40 hari, kebutuhan anggaran secara matematis mencapai sekitar Rp7,2 miliar.

Namun, angka Rp7,2 miliar tersebut masih berupa proyeksi kasar. Nilai akhirnya bergantung pada jumlah peserta yang benar-benar mengikuti TC, komposisi setiap cabor, serta pengajuan kebutuhan setelah THB diterbitkan.

Karena itu, penerbitan THB menjadi penting bukan hanya untuk menentukan siapa yang akan bertanding. Dokumen tersebut juga menjadi dasar finalisasi jumlah kontingen dan kebutuhan anggaran TC.

Disporapar kini berpacu dengan waktu. Dengan TC yang dinilai membutuhkan masa efektif 40 hari, kepastian nomor pertandingan dan kuota atlet setiap cabor dibutuhkan agar program latihan dapat segera berjalan dan anggaran tidak disusun berdasarkan data sementara. (MK)

Pewarta: Nash
Editor: Agus S.

PISA 2025: Siswa Indonesia Penasaran, tapi Keyakinan untuk Berkembang Masih Rendah

0
Konferensi pers Perilisan dan Tindak Lanjut Hasil PISA 2025 di Gedung Kemendikdasmen, Jakarta, Selasa (8/9/2026). (Nicha/Media Kaltim)

JAKARTA – Hasil PISA 2025 memperlihatkan paradoks pendidikan Indonesia. Skor sains dan membaca sama-sama naik enam poin dibandingkan 2022, sementara matematika turun tipis dua poin. Di luar angka akademik, muncul temuan menarik: rasa ingin tahu siswa Indonesia tergolong tinggi, tetapi keyakinan bahwa kemampuan mereka dapat terus berkembang atau growth mindset masih rendah.

Pada PISA 2025, skor sains Indonesia mencapai 389, naik dari 383 pada 2022. Skor membaca meningkat menjadi 365 dari sebelumnya 359. Sementara matematika turun dari 366 menjadi 364.

Paparan hasil PISA 2025 menunjukkan tren capaian Indonesia relatif stabil dalam dua dekade di tengah perluasan akses pendidikan dari sisi geografis, sosial ekonomi, budaya, dan teknologi. (Nicha/Media Kaltim)

Kepala Pusat Asesmen Pendidikan (Pusmendik) Kemendikdasmen Dr. Rahmawati, S.T., M.Ed. mengatakan hasil tersebut tidak semestinya hanya dibaca berdasarkan naik-turunnya skor maupun posisi Indonesia dalam pemeringkatan.

Menurutnya, ada konteks penting yang harus diperhitungkan, yakni terus meluasnya akses pendidikan di Indonesia.

Kelompok siswa yang belakangan masuk ke sistem pendidikan antara lain berasal dari wilayah terpencil maupun kelompok sosial ekonomi yang sebelumnya memiliki keterbatasan akses. Dalam banyak kasus, perluasan partisipasi tersebut dapat menekan rata-rata capaian.

Namun, tren Indonesia dalam dua dekade relatif mampu bertahan.

“Ketika mereka masuk ke sistem pendidikan, pada umumnya nilai itu akan breakdown, akan menurun. Tetapi untuk hasil Indonesia di PISA ini dalam beberapa kategori bisa dikatakan stabil,” ujar Rahmawati saat pemaparan hasil PISA 2025 di Gedung Kemendikdasmen, Jakarta, Selasa (8/9/2026).

Rahmawati juga mengingatkan perbandingan antarperiode PISA harus dilakukan secara hati-hati.

Indonesia mengalami perubahan moda asesmen dari Paper Based Test (PBT) menuju Computer Based Test (CBT) mulai 2018. Periode berikutnya juga berhadapan dengan dampak pandemi Covid-19 terhadap proses pembelajaran.

Namun, salah satu temuan PISA 2025 yang menarik justru berada di luar tiga skor utama.

Hasil kuesioner terhadap siswa dan kepala sekolah memperlihatkan tingkat curiosity atau rasa ingin tahu siswa Indonesia tergolong tinggi dibandingkan banyak negara, bahkan berada di atas rata-rata negara OECD.

Temuan tersebut menunjukkan siswa Indonesia memiliki modal berupa keingintahuan dan ketertarikan untuk mengeksplorasi sesuatu.

Persoalannya muncul ketika PISA melihat growth mindset.

Keyakinan bahwa kecerdasan dan kemampuan bukan sesuatu yang tetap, melainkan dapat berkembang melalui proses belajar, latihan dan pengalaman, masih menjadi titik lemah siswa Indonesia.

“Bahwa rasa kita bisa bertumbuh, kita bisa, dari tadinya tidak bisa menjadi bisa, dari bodoh menjadi pintar. Rasa growing mindset ini masih menjadi catatan,” kata Rahmawati.

Artinya, tingginya rasa ingin tahu belum sepenuhnya diikuti keyakinan siswa terhadap kemampuan dirinya untuk terus berkembang.

PISA 2025 juga memperlihatkan capaian pendidikan Indonesia tidak merata antarwilayah.

Hasil oversample menunjukkan adanya rentang skor yang cukup lebar. Rahmawati mencontohkan rata-rata skor sains DKI Jakarta dalam oversample berada pada angka 427, sementara Daerah Istimewa Yogyakarta mencapai 522.

“Di sini kita juga perlu mengakui bahwa ada disparitas antarwilayah yang ada di Indonesia,” ujarnya.

Perbedaan tersebut menunjukkan angka nasional menyimpan variasi capaian yang cukup besar di tingkat daerah. Kondisi geografis, sosial ekonomi, akses pendidikan hingga kualitas pembelajaran menjadi konteks yang perlu dibaca lebih jauh dalam menindaklanjuti hasil PISA.

Temuan lainnya berkaitan dengan lingkungan belajar siswa.

Dukungan guru terhadap proses pembelajaran dinilai relatif baik. Namun, dukungan keluarga masih relatif rendah apabila dibandingkan dengan hasil global.

Kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah karena proses pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Keterlibatan orang tua dan keluarga turut menentukan lingkungan yang mendukung anak untuk belajar dan berkembang.

Dengan demikian, PISA 2025 tidak hanya memberikan gambaran mengenai kemampuan siswa Indonesia dalam sains, membaca dan matematika.

Di balik kenaikan enam poin pada sains dan membaca, terdapat persoalan yang lebih mendasar: bagaimana rasa ingin tahu yang sudah tinggi dapat diterjemahkan menjadi keberanian belajar, ketekunan menghadapi kesulitan dan keyakinan bahwa kemampuan dapat terus berkembang.

Kemendikdasmen menjadikan temuan tersebut sebagai bahan untuk memperkuat kualitas pembelajaran, kompetensi guru, mengurangi kesenjangan antarwilayah serta membangun kemitraan yang lebih kuat antara sekolah dan keluarga. (MK)

Pewarta/Editor: Nicha R

Rekan Kerja Temukan Pria Meninggal di Mess Tambang, Polisi Selidiki Rangkaian Kejadian

0
Petugas melakukan penanganan setelah seorang pria berinisial GPK (43) ditemukan meninggal dunia di kamar mandi mess perusahaan tambang di Kabupaten Berau. (Istimewa)

BERAU – Seorang pekerja perusahaan tambang berinisial GPK (43) ditemukan meninggal dunia di kamar mandi mess di kawasan Tanjung Redeb, Kabupaten Berau, Senin (7/9/2026) sekitar pukul 14.00 WITA. Polisi masih melakukan penanganan untuk memastikan rangkaian kejadian dan penyebab kematiannya.

Pria asal Salatiga, Jawa Tengah, tersebut pertama kali ditemukan oleh rekan kerjanya bersama tunangan korban.

Peristiwa bermula ketika rekan korban berinisial FA (34) sedang beristirahat di mess. Sekitar pukul 13.00 WITA, FA terbangun setelah mendengar suara pintu mess dibuka.

Tak lama kemudian, dia mendengar suara tangisan seorang perempuan yang diketahui merupakan tunangan GPK.

Perempuan tersebut kemudian meminta bantuan FA untuk membuka kamar GPK yang dalam kondisi terkunci. Pintu kamar lalu dibuka paksa, tetapi GPK tidak ditemukan di dalam ruangan.

Keduanya kemudian memeriksa bagian lain di sekitar kamar. Saat menuju kamar mandi, GPK ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa.

FA kemudian melaporkan kejadian tersebut kepada Polsek Tanjung Redeb. Petugas mendatangi lokasi untuk melakukan pemeriksaan awal dan olah tempat kejadian perkara.

Kasi Humas Polres Berau AKP Suradi membenarkan peristiwa tersebut. Jenazah selanjutnya dibawa ke RSUD dr Abdul Rivai.

“Jenazah sementara di RSUD dr Abdul Rivai sambil menunggu keluarga korban datang,” kata Suradi.

Kepolisian belum menyimpulkan penyebab kematian GPK. Informasi awal yang diperoleh petugas menyebut korban memiliki riwayat penyakit ginjal, tetapi keterangan tersebut masih berasal dari tunangan korban dan belum dapat digunakan untuk memastikan penyebab kematian.

Pihak perusahaan juga menunggu kedatangan keluarga untuk menyelesaikan proses administrasi dan menentukan langkah selanjutnya, termasuk keputusan mengenai pemeriksaan autopsi.

Keluarga korban dijadwalkan tiba di Berau pada Selasa (8/9/2026). Berdasarkan informasi sementara, jenazah direncanakan dimakamkan di Kabupaten Berau setelah keluarga tiba.

“Kami masih melakukan penanganan untuk memastikan rangkaian kejadian yang menyebabkan korban meninggal dunia,” pungkas Suradi.

Hingga penanganan berlangsung, kepolisian belum menyampaikan kesimpulan mengenai penyebab maupun latar belakang kematian. Karena itu, dugaan mengenai penyebab kejadian masih menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut. (MK)

Pewarta: Sahruddin
Editor: Agus S.

Armada Luar Daerah Ikut Serap BBM Berau, DPRD Desak Tambahan Kuota

0
Antrean kendaraan di salah satu SPBU di Kabupaten Berau. Persoalan kuota dan keterlambatan distribusi BBM kembali menjadi sorotan DPRD Berau. (Istimewa)

BERAU – Antrean panjang BBM yang berulang di Kabupaten Berau dinilai bukan lagi persoalan sesaat. DPRD Berau mendesak dua pembenahan sekaligus: penambahan kuota yang disesuaikan dengan kebutuhan riil daerah serta jaminan distribusi agar keterlambatan pasokan tidak terus terulang.

Wakil Ketua Komisi II DPRD Berau Arman Nofriansyah mengatakan kuota BBM yang tersedia saat ini dinilai belum mampu mengimbangi kebutuhan. Penambahan alokasi dari Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) menjadi salah satu solusi yang harus dikejar pemerintah daerah.

“Bagaimana kita bisa mendongkrak kuota dari BPH Migas, karena hanya itu solusinya. Kenaikan kuota kemarin itu pertama hanya untuk menutupi kekurangan kuota dari Pertiwi yang ada,” ujar Arman dalam rapat dengar pendapat bersama pihak terkait.

Menurutnya, Pemkab Berau tidak cukup hanya mengirimkan surat permohonan penambahan kuota. Usulan tersebut harus dikawal langsung hingga BPH Migas, termasuk dengan membangun koordinasi bersama DPR RI.

Salah satu persoalan yang menurut Arman perlu masuk dalam perhitungan adalah karakteristik distribusi barang menuju Berau.

Kebutuhan BBM di daerah tersebut tidak hanya berasal dari kendaraan masyarakat setempat. Setiap hari, kendaraan logistik dari luar daerah masuk membawa kebutuhan pokok dan berbagai komoditas untuk masyarakat Berau.

Armada dengan pelat nomor dari luar Berau tersebut ikut melakukan pengisian BBM di wilayah Berau sehingga menambah konsumsi terhadap kuota yang dialokasikan untuk daerah.

“Ada pelat luar daerah, seperti KT luar Berau hingga pelat B, yang ikut mengantre dan memakan kuota BBM kita di Berau. Namun kita tidak bisa menyalahkan mereka sepenuhnya, karena armada tersebut membawa kebutuhan pokok warga Berau,” katanya.

Menurut Arman, kendaraan tersebut membawa berbagai kebutuhan masyarakat, mulai sayuran dari Sulawesi, beras dari Jawa hingga suku cadang dan barang lainnya.

Karena itu, aktivitas kendaraan logistik antardaerah tidak dapat semata-mata dianggap sebagai beban terhadap konsumsi BBM Berau. Keberadaannya merupakan bagian dari rantai pasok kebutuhan masyarakat.

DPRD mendorong aktivitas tersebut ikut diperhitungkan ketika pemerintah mengusulkan kebutuhan kuota BBM. Dengan demikian, penetapan alokasi tidak hanya mengacu pada kendaraan lokal, tetapi juga mempertimbangkan posisi Berau sebagai tujuan distribusi barang.

Namun, Arman menilai penambahan kuota saja belum menyelesaikan persoalan.

Keterlambatan pengiriman BBM dari terminal atau Jobber juga disebut menjadi penyebab antrean panjang. Dia mencontohkan antrean dari SPBU Rawa Indah yang pernah mengular hingga kawasan Hotel Bumi Segah.

“Antrean dari SPBU Rawa Indah pernah tembus sampai Hotel Bumi Segah. Ini bukan kasus pertama, saya lahir dan besar di Berau. Harus ada jaminan dari Jobber bahwa keterlambatan pengiriman seperti ini tidak akan terulang lagi,” tegasnya.

Keterlambatan pasokan berdampak langsung terhadap masyarakat, operasional SPBU hingga aktivitas ekonomi. Karena itu, Pertamina diminta memastikan kesiapan armada pengangkut dan kontinuitas pengiriman.

Arman juga mempersoalkan prioritas distribusi ketika terjadi keterbatasan armada. Menurutnya, keberadaan fasilitas Jobber di Berau semestinya memberikan jaminan terhadap ketahanan pasokan di daerah tersebut.

“Jobber itu berdirinya di Berau, bukan di Bulungan. Kalau armada bermasalah, jangan malah mendahulukan daerah lain. Utamakan Berau,” ujarnya.

Ia bahkan meminta persoalan tersebut menjadi bahan evaluasi serius.

“Kalau mau mendahulukan Bulungan, ya bangun saja Jobber di Bulungan,” pungkasnya.

DPRD kini mendorong Pemkab Berau mengawal penambahan kuota sekaligus meminta kepastian dari Pertamina mengenai pola distribusi. Dua persoalan tersebut dinilai harus dibenahi bersamaan agar antrean panjang BBM tidak terus menjadi kejadian berulang di Berau. (MK)

Pewarta: Sahruddin
Editor: Agus S.

Akses Jembatan Lembak Dibatasi, Kendaraan di Atas 8 Ton Harus Cari Jalur Lain

0
Kondisi Jembatan Lembak di Kecamatan Bengalon, Kutai Timur, yang kini dibatasi untuk kendaraan berat demi mencegah kerusakan konstruksi semakin parah. (Istimewa)

KUTAI TIMUR – Kendaraan berat di atas 8 ton kini dilarang melintasi Jembatan Lembak di Kecamatan Bengalon, Kutai Timur (Kutim). Pembatasan dilakukan karena kondisi fisik jembatan dinilai membutuhkan penanganan menyeluruh, sementara perbaikan permanen baru direncanakan masuk Tahun Anggaran 2027.

Polsek Bengalon menerapkan pembatasan untuk mencegah kerusakan konstruksi semakin parah sekaligus mengurangi risiko kecelakaan.

Kapolsek Bengalon AKP Helmi Septi Saputro mengatakan kendaraan dengan beban melebihi batas tidak diperbolehkan menggunakan jembatan selama kondisi konstruksi belum ditangani secara menyeluruh.

“Penggunaan jembatan tidak diperbolehkan bagi kendaraan yang bermuatan lebih dari 8 ton karena berisiko terhadap konstruksi jembatan dan keselamatan pengguna jalan,” ujar Helmi saat dihubungi, Selasa (8/9/2026).

Pembatasan menjadi perhatian terutama untuk kendaraan angkutan berat yang beroperasi di kawasan Bengalon. Polisi meminta perusahaan pemilik armada mematuhi ketentuan tersebut dan tidak memaksakan kendaraan melintas.

Menurut kepolisian, kendaraan berat yang terus melewati jembatan berpotensi menambah beban terhadap struktur yang kondisinya membutuhkan perbaikan.

Pembatasan tersebut dikaitkan dengan ketentuan kelas jalan dan Muatan Sumbu Terberat (MST). Pasal 19 ayat (2) huruf c Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan mengatur jalan kelas III dapat dilalui kendaraan dengan MST maksimal 8 ton.

Ketentuan mengenai kelas jalan juga diatur lebih lanjut melalui regulasi Kementerian PUPR.

Sementara itu, berdasarkan koordinasi dengan pihak terkait, penanganan menyeluruh terhadap Jembatan Lembak direncanakan masuk Tahun Anggaran 2027.

Artinya, pembatasan menjadi langkah pengamanan selama menunggu perbaikan permanen. Namun, belum dijelaskan lebih rinci jadwal dimulainya pekerjaan, nilai anggaran maupun bentuk konstruksi yang akan ditangani.

Polsek Bengalon akan meningkatkan pengawasan untuk memastikan kendaraan berat mematuhi pembatasan. Koordinasi dengan instansi terkait juga dilakukan agar arus lalu lintas di kawasan tersebut tetap aman.

“Kami mengimbau seluruh masyarakat Kecamatan Bengalon untuk bersabar dan bersama-sama menjaga keselamatan, agar tidak melintasi jembatan sampai dilakukan perbaikan secara menyeluruh,” kata Helmi.

Imbauan tersebut terutama ditujukan kepada perusahaan yang mengoperasikan armada bertonase berat. Kepolisian meminta aktivitas angkutan tidak mengorbankan keselamatan pengguna jalan maupun mempercepat kerusakan jembatan.

Dengan perbaikan permanen baru direncanakan pada 2027, pengawasan terhadap beban kendaraan menjadi langkah sementara untuk mempertahankan fungsi Jembatan Lembak dan mencegah kondisi konstruksi memburuk. (MK)

Pewarta: Ramlah
Editor: Agus S.