Beranda blog Halaman 12

Pantai Galau Sempat Jadi Tempat Mabuk, Lurah: Pengawasannya Sekarang Sudah Diperketat

0
Jalan menuju ke Pantai Galau, di Kelurahan Tanjung Laut Indah, kini diperketat penjagaan. (Ist).

BONTANG – Kawasan Pantai Galau, tepatnya di RT.14, di Kelurahan Tanjung Laut Indah, Kecamatan Bontang Selatan, sempat menjadi lokasi yang kerap digunakan untuk aktivitas minum-minuman beralkohol.

Kondisi tersebut membuat kawasan itu beberapa kali mendapat perhatian dari petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan pihak kepolisian. Patroli dilakukan untuk memantau aktivitas masyarakat, terutama pada waktu malam hari.

Dalam sejumlah patroli, petugas disebut sempat menemukan sampah berupa kemasan minuman beralkohol, serta kemasan komix saset yang ditinggalkan di sekitar lokasi. Bahkan, petugas juga beberapa kali memergoki sejumlah orang berkumpul di kawasan tersebut, untuk mengonsumsi minuman beralkohol.

Lurah Tanjung Laut Indah, Elis Biantoro, mengatakan saat ini pengawasan di daerah menuju Pantai Galau telah diperketat. Salah satunya dengan menerapkan pembatasan jam operasional kawasan tersebut.

“Sekarang di wilayah sekitar arah ke Pantai Galau sudah diawasi lebih ketat. Pukul 19.00 Wita sudah ditutup,” ujar Elis saat ditemui, Senin (7/9/2026).

Menurutnya, pengaturan dan penjagaan di kawasan tersebut juga melibatkan pihak Rukun Tetangga (RT) setempat. Langkah itu dilakukan untuk mencegah kawasan pantai, dimanfaatkan untuk aktivitas negatif.

Elis menambahkan pihak kelurahan bersama unsur terkait, juga telah beberapa kali melakukan patroli. Hasilnya, kondisi di lokasi sejauh ini terpantau lebih aman, dan tidak lagi ditemukan aktivitas seperti sebelumnya.

“Sudah beberapa kali kami patroli, alhamdulillah sejauh ini sudah aman. Sudah tidak ada temuan-temuan di sana lagi,” katanya.

Ia mengatakan, pengawasan kini juga dilakukan secara rutin oleh ketua RT di sekitar kawasan tersebut. Selain memantau aktivitas warga, pengaturan jam buka dan tutup diharapkan dapat mencegah terjadinya gangguan ketertiban.

“Pak RT selalu pantau sekarang di wilayah itu, agar tempat tersebut tidak dipakai untuk hal-hal yang negatif dan merugikan. Makanya untuk jam buka tutupnya dipantau lebih ketat,” jelasnya.

Perlu diketahui, di kawasan Pantai Galau, jam operasional mulai dari pukul 05.00 Wita, hingga pukul 19.00 Wita, dimana sebelumnya wilayah tersebut bebas tanpa batasan jam kunjungan. Harga tiket masuk bagi kendaraan bermotor ditarif Rp 5 ribu, sedangkan untuk kendaraan roda empat sekitar Rp 10 ribu.

Pewarta: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Antisipasi Dampak Karhutla, Hampir 4 Ribu Masker Dibagikan ke Warga Bontang

0
Staf Ahli SDM Bontang, Lukman saat membagikan masker ke masyarakat. (Dwi S).

BONTANG – Pemerintah Kota (Pemkot) bersama sejumlah pihak, khususnya Palang Merah Indonesia (PMI) Bontang membagikan hampir 4 ribu masker kepada masyarakat, sebagai langkah antisipasi gangguan pernapasan akibat kabut asap dan kualitas udara yang tidak sehat, dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Staf Ahli Bidang Pembangunan Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia (SDM) Kota Bontang, Lukman, mengatakan bahwa seluruh masker yang diterima telah selesai didistribusikan kepada masyarakat. Pembagian masker berlangsung di Simpang Empat Lampu Merah Rumah Sakit (RS) Amalia.

“Alhamdulillah kita telah selesai membagikan masker sebanyak hampir 4 ribu. Masker tersebut ada masker medis dan masker kain,” ujar Lukman, Senin (7/9/2026) sore.

Ia menjelaskan, total masker yang dibagikan, ada sebanyak 3.500 masker medis dan 350 masker kain. Menurutnya, pembagian masker tersebut merupakan bentuk antisipasi pemerintah untuk membantu masyarakat dalam mengurangi risiko gangguan pernapasan, terutama di tengah kondisi kemarau dan potensi karhutla.

“Pastinya dari kegiatan pembagian masker ke masyarakat ini, untuk menghindari gangguan pernapasan akibat karhutla, dimana kita selalu untuk bisa antisipasi,” katanya.

Lukman menyebut, kondisi karhutla di Bontang sejauh ini tidak sebanding dengan luasan hutan yang terbakar, di sejumlah daerah lainnya. Meski demikian, langkah pencegahan tetap dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan masyarakat.

“Walaupun sebenarnya di Bontang tidak sebanding dengan luasan hutan yang terbakar, pada intinya kita bisa membantu masyarakat lewat pembagian masker ini,” jelasnya.

Lukman menambahkan, masker tersebut merupakan bantuan dari Palang Merah Indonesia (PMI) Pusat yang dikirimkan melalui tingkat provinsi hingga kemudian disalurkan ke kabupaten/kota.

“Ini semua sudah kita distribusi. Semoga bisa membantu masyarakat, khususnya menghindari udara yang kotor dan tidak sehat untuk menghindari gangguan pernapasan,” pungkasnya.

Pewarta: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Warga dan Wisatawan Diimbau Waspada, Ada Laporan Buaya Muncul di Pantai Galau

0
Pantai Galau yang berada di wilayah Kelurahan Tanjung Laut Indah. (Dwi S).

BONTANG – Kelurahan Tanjung Laut Indah mengimbau masyarakat dan wisatawan yang berkunjung ke Pantai Galau, agar meningkatkan kewaspadaan. Imbauan tersebut menyusul adanya laporan dari warga, terkait penampakan buaya di sekitar kawasan pantai, khususnya pada malam hari.

Lurah Tanjung Laut Indah, Elis Biantoro, mengatakan bahwa imbauan tersebut disampaikan sebagai langkah pencegahan, demi menjaga keamanan dan kenyamanan para pengunjung di Pantai Galau.

“Yang paling utama adalah keselamatan pengunjung. Maka dari itu, kami sangat mengimbau ke masyarakat untuk tetap waspada dan memperhatikan kondisi sekitar, saat beraktivitas atau sedang berada di Pantai Galau,” ujarnya saat ditemui usai Rapat Paripurna, Senin (7/9/2026).

Elis menyebutkan berdasarkan informasi yang telah diterima dari warga sekitar, sesekali terdapat laporan penampakan buaya pada malam hari di area sekitar pantai.

Meski demikian, masyarakat diminta tidak panik, namun tetap meningkatkan kewaspadaan.
Pengunjung juga turut diimbau, untuk tidak bermain atau beraktivitas di air pada malam hari, terutama ketika kondisi sekitar mulai gelap dan jarak pandang terbatas.

Selain itu, orang tua diminta untuk selalu mengawasi anak-anaknya ketika berada di tepi pantai. Sehingga bagi para pengunjung diharapkan memperhatikan kondisi lingkungan sekitar, selama melakukan aktivitas.

“Kalau melihat satwa liar, segera laporkan kepada pihak yang berwenang. Jangan mencoba mendekati atau menangkap sendiri,” pesannya.

Kelurahan Tanjung Laut Indah menegaskan, imbauan tersebut bukan untuk mengurangi daya tarik Pantai Galau sebagai salah satu destinasi wisata di wilayah Bontang, melainkan sebagai upaya menjaga keselamatan pengunjung.

“Mari bersama-sama menjaga keamanan, kenyamanan dan kelestarian Pantai Galau. Untuk tindakan lebih lanjut, sesegera mungkin kami, atau ketua RT setempat akan memasang plang peringatan buaya di sekitaran pantai,” pungkasnya.

Pewarta: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Bontang Masih Belum Turun Hujan

0

Pembaca Setia Radar Bontang!

Ingin tahu kabar terkini Koran Digital Radar Bontang? Kunjungi link di bawah ini untuk membaca e-paper lengkapnya:

👉 E-Paper Lengkap
https://koran.radarbontang.com

👉 Versi Mobile
https://digital.radarbontang.com/rb7sept2026/mobile/

700 Prajurit TNI Tinggalkan Bontang, Emban Tugas Jaga Perbatasan RI-Malaysia

0
Para prajurit yang diberangkatkan menuju perbatasan RI-Malaysia. (Syakurah)

BONTANG – Ratusan prajurit TNI diberangkatkan dari Kota Bontang untuk menjalankan misi pengamanan wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia. Sebanyak 700 personel dilepas dari Pelabuhan Loktuan, Senin (7/9/2026).

Dari total personel tersebut, 350 prajurit berasal dari Batalyon Arhanud 7/ABC Bontang, sementara 350 lainnya merupakan prajurit Batalyon Kavaleri 8/Kostrad Narasinga Wiratama Malang.

Para personel tersebut akan menuju wilayah perbatasan menggunakan KRI Tanjung Kambani-971, untuk menjalankan tugas sebagai Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) RI-Malaysia.

Komandan Den Arhanud 7/ABC, Letkol Arhanud Bayu Adiwisuda, menegaskan bahwa tugas yang diemban para prajurit tidak hanya berkaitan dengan menjaga batas wilayah negara.

Menurutnya, keberadaan Satgas Pamtas juga menjadi bagian dari upaya mencegah berbagai potensi ancaman dan aktivitas ilegal di kawasan perbatasan, termasuk aksi penyelundupan.

“Tidak sekadar menjaga batas teritorial, penugasan ini sekaligus menjaga keselamatan seluruh rakyat Indonesia dari berbagai potensi ancaman ilegal seperti penyelundupan,” ujarnya.

Pelepasan pasukan turut disaksikan Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni. Pemerintah Kota Bontang menyampaikan dukungan penuh terhadap para prajurit yang akan menjalankan tugas di kawasan perbatasan.

Neni berharap keberangkatan ratusan personel tersebut dapat semakin memperkuat sistem pengamanan, sekaligus menjaga kedaulatan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Ia juga mengajak masyarakat Bontang untuk turut mendoakan para prajurit agar selalu sehat, “Kami juga sudah memberikan pengarahan kepada para istri yang ditinggal bertugas untuk menjaga diri, kita bantu menjaga mental health mereka,” tuturnya.

Pewarta: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Status Lahan Jadi Kendala, Pemkot Bontang Ajukan Hibah untuk Jembatan SMPN 5

0
Saat Pemkot Bontang Melakukan kunjungan ke jembatan SMPN 5. (Syakurah)

BONTANG – Pemkot Bontang menargetkan pengajuan hibah sebagian lahan perusahaan, untuk pembangunan jembatan menuju SMP Negeri 5 Bontang mulai diproses dalam waktu satu bulan.

Wakil Wali Kota Bontang Agus Haris mengatakan, pihaknya akan turun langsung mengawal proses tersebut dengan mendatangi PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT), yang menaungi PT Kaltim Industrial Estate (KIE) dan PT Kaltim Nitrate Indonesia (KNI) sebagai pemilik lahan.

Langkah ini dinilai penting, karena status lahan menjadi salah satu kendala dalam penanganan jembatan yang telah berusia sekitar 21 tahun tersebut. Pemerintah membutuhkan kepastian lahan agar pembangunan atau perbaikan jembatan dapat dilakukan secara permanen.

Pemkot tidak hanya mengandalkan pengajuan administratif, tetapi akan ikut mengawal pembahasannya bersama Dinas PUPRK Bontang, Disdikbud serta Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Bontang.

Ia menilai permintaan hibah sebagian lahan tersebut semestinya dapat dipertimbangkan perusahaan, karena diperuntukkan bagi fasilitas yang digunakan masyarakat, khususnya akses menuju SMP Negeri 5 Bontang.

“Kami sudah menyiapkan desain dan kajiannya. Jadi, harapannya persoalan lahan ini bisa diselesaikan agar pembangunan jembatan dapat segera direalisasikan,” pungkasnya.

Ia menegaskan, pemerintah akan menyampaikan permohonan tersebut secara langsung kepada pihak perusahaan.

Agus Haris mengatakan, percepatan diperlukan mengingat jembatan tersebut menjadi jalur utama yang setiap hari digunakan pelajar, guru dan orang tua murid. Kondisinya yang mulai mengalami penurunan juga membuat pemerintah perlu segera memastikan solusi jangka panjang.

Pewarta: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Kondisi Makin Mengkhawatirkan, Muhiddin Harap Lahan Jembatan SMPN 5 Segera Temui Titik Terang

0
Jembatan SMP Negeri 5 Bontang yang diharapkan dapat segera diperbaiki. (Syakurah)

BONTANG – Jembatan SMP Negeri 5 kembali menjadi perhatian lantaran kondisi yang mengkhawatirkan. Sekitar 21 tahun jembatan tersebut belum dilakukan peremajaan.

Hal itu membuat beberapa bagian jembatan telah mengalami penurunan. Apalagi kondisi jembatan selalu lebih rendah dari jalanan, sehingga beberapa waktu lalu sempat tak bisa di akses karena kondisi air yang menutupi jembatan.

Wakil Wali Kota Bontang Agus Haris bersama sejumlah dinas terkait serta perusahaan pun kembali meninjau kondisi jembatan tersebut, Senin (7/9/2026).

Kepala SMP Negeri 5 Bontang, Muhiddin menjelaskan jembatan tersebut tidak dapat di perbaiki lantaran statusnya yakni pinjam pakai, sehingga pihak sekolah maupun Pemkot tidak dapat melakukan perbaikan

“Jembatan ini belum pernah mendapatkan perbaikan sejak digunakan sebagai akses SMPN 5. Kendalanya karena status lahan berupa pinjam pakai oleh perusahaan,” terangnya.

Kondisi jembatan seringkali mengkhawatirkan jika hujan deras berlangsung, selain itu pengaman pagar pembatas yang sudah keropos dinilai tidak aman jika siswa melintasi jalan tersebut.

“Motor dan mobil, semua lewat jembatan itu, makanya perlu sekali perbaikan,” tambahnya.

Jembatan tersebut berdiri di dua lahan perusahaan yakni PT Kaltim Industrial Estate (KIE) dan PT Kaltim Nitrate Indonesia (KNE).

Untuk itu, ia berharap perbaikan jembatan dapat direalisasikan setelah menyelesaikan persoalan izin. Dengan adanya hibah lahan ini tentu mempermudah proses perbaikan jembatan.

“Kami harap perusahaan dapat menghibahkan sedikit lahannya, dengan begitu jembatan bisa diperbaiki, jadi siswa dan guru tidak lagi khawatir melintas,” tutupnya

Pewarta: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Bontang Masih Belum Turun Hujan, BPBD: Warga Diminta Waspadai Cuaca Panas

0
Ilustrasi kekeringan akibat kemarau. (istimewa)

BONTANG – Kondisi cuaca panas dan minim hujan masih melanda Kota Bontang. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bontang mencatat, hujan diperkirakan belum turun dalam beberapa hari ke depan.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Bontang, Usman melalui Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Ismail Abdullah, mengatakan berdasarkan pembaruan prakiraan cuaca dari BMKG Kalimantan Timur, potensi hujan di Bontang masih rendah hingga Selasa (8/9/2026).

“Dari perkiraan yang kami terima, sampai Selasa nanti juga belum ada kemungkinan turun hujan,” ujarnya.

Menurut Ismail, kondisi kering tersebut sudah berlangsung cukup lama. Bahkan, Bontang disebut telah mengalami minim hujan selama sekitar tiga bulan.

“Total tiga bulan sudah kita nggak ada hujan” katanya.

Sebelumnya, BMKG sempat memperkirakan hujan turun di wilayah Bontang pada Sabtu (5/9/2026) sekitar pukul 14.00 WITA. Namun, hingga waktu tersebut hujan tidak terjadi.

Di tengah kondisi cuaca yang panas dan kering, BPBD mengingatkan masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran, termasuk akibat aktivitas pembakaran sampah.

Pewarta: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Menggantang Asap Karhutla

0
Hafsah. (Dok pribadi)

Oleh:
Hafsah
Aktivis dan Penulis

Tiga kejadian kebakaran hutan lahan (karhutla) terjadi dalam waktu sehari di wilayah Kota Bontang, Selasa (25/8/2026). Kondisi cuaca panas dan lahan yang kering, menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko terjadinya kebakaran.

Kebakaran pertama terjadi di wilayah Bontang Lestari, tepatnya di Pagung, sekitar pukul 13.07 Wita. Penanganan dilakukan dengan dukungan Pos Bonles. Selanjutnya, kebakaran lahan yang kedua sekitar pukul 14.10 Wita, dimana petugas kembali dikerahkan ke wilayah Kusnodo dengan dukungan dari Mako Damkar.

Sementara itu, untuk kasus kejadian kebakaran lahan yang ketiga berlangsung di wilayah yang sama, di daerah Bonles, tepatnya di Nyerakat Kampung, dan proses pemadaman mendapat dukungan dari tim Damkar di Pos Bonles.
(https://radarbontang.com)

Tak hanya di Kota Bontang, karhutla di sejumlah wilayah Indonesia pun terus terjadi, dan mulai memicu munculnya kabut asap hingga lintas negara, serta memperburuk kualitas udara. Hingga 9 Agustus 2026, luas lahan terbakar di di Sumatera dan Kalimantan tercatat sekitar 48.889,69 hektar.

Hingga akhir pekan lalu setidaknya tercatat 430 kejadian karhutla dengan luas terdampak mencapai 1.260,92 hektare, dan mayoritas merupakan lahan milik perusahaan.

Berdasarkan rekapitulasi BPBD Kaltim, dari total luas terdampak, sebanyak 1.197,37 hektare merupakan lahan, kemudian hutan 32,84 hektare, dan kebun 30,71 hektare.
https://www.cnnindonesia.com/nasional

Petugas menemukan indikasi pembakaran itu sengaja dilakukan untuk menuntaskan pembukaan lahan perkebunan.

Sebanyak 72 orang telah ditetapkan sebagai tersangka kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia. Para tersangka bertanggung jawab atas karhutla yang terjadi di Kalimantan.

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kaltim menilai penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kaltim masih belum menyentuh persoalan tanggung jawab korporasi secara optimal. Penegakan hukum dinilai lebih banyak menyasar pelaku individu, sementara kebakaran yang terjadi di kawasan konsesi perusahaan belum mendapat tindakan sebanding. (Kaltimpost, 24/8/2026) Kasus Berulang,

Karhutla Berulang, Migitasi Dipertanyakan

Kebakaran hutan dan lahan kerap terjadi terutama pada musim kemarau. Walau disinyalir terjadinya ada unsur kesengajaan dengan tertangkapnya beberapa oknum, namun publik tidak puas sebab korporasi yang membukan lahan besar-besaran justru tidak ditindak tegas.

Membuka lahan dengan membakar memang dianggap lebih mudah dan murah, namun dampak dari pembakaran tersebut berimbas pada kesehatan masyarakat serta merusak ekosistem alam.

Semua bermula dari keserakahan kaum kapitalis yang mengubah fungsi hutan menjadi lahan bisnis. Hutan yang luas tak luput dikuasai dan dimanfaatkan demi keuntungan. Diluar dugaan sebab bertepatan dengan musim kemarau sehingga api dengan mudah menyebar.

Yang lebih membuat geram masyarakat adalah lambannya penanganan karhutla akibat minim sarana. Negeri jiran pun turut menikmati pekatnya asap pembakaran. Tim dari BNPB, Damkar dan tim relawan telah terlebih dahulu terjun ke medan kebakaran, namun api cepat membesar dan membuat mereka kewalahan.

Ditengah kepungan kabut asap, masyarakat hanya bisa bersabar sambil menanti hilangnya kabut asap. Kondisi diperparah dengan minimnya sarana dalam migitasi bencana, pemerintah seolah gagap dalam bertindak.

Kepulan asap tak mampu ditangani apalagi menuntaskan akar masalahnya yakni kebebasan kepemilikan umum, dalam hal ini, hutan. Hutan bebas dimiliki dan dijadikan lahan kebun sawit yang sudah sekian lama dimonopoli oleh oligarki. Selama konsep kepemilikan diatur oleh para kapitalis, jangan berharap Karhutla akan berakhir.

Dampak lain dari pembakaran hutan adalah kerugian ekologis (kabut asap lintas negara, kualitas udara) ditanggung publik, termasuk kerugian ekonomi karena aktifitas terhambat bahkan sebagian terhenti. Sementara pelaku karhutla demi mendapatkan keuntungan tidak pernah ditindak tegas. Lucunya, RI 1 malah menyerahkan penanganan karhutla pada pengusaha tambang batubara dari Kaltim. Publik tentu bertanya mengapa bencana kebakaran diserahkan pada pebisnis.

Langkah pemerintah pusat dengan menyerahkan penanganan karhutla pada warga setempat mengundang tanya. Idealnya, pemimpin yang harus turun tangan langsung menangani sebagai bentuk tanggung jawab. Pemimpin tugasnya perngurus rakyat, namun kepemimpinan dalam sistem kapitalis sekuler selain berlepas tangan, mereka menafikkan nilai ruhiyah, tidak menghubungkan adanya sebab dan akibat dari perbuatannya, apalagi dosanya.

Hutan adalah Milik Umum

Dalam Islam, hutan dipandang sebagai kepemilikan umum yang dikelola langsung oleh negara untuk kemaslahatan rakyat.
Hutan tidak boleh dikuasai oleh individu maupun kelompok, termasuk mengambil keuntungan pribadi. Hutan dikembalikan pada saat fungsinya sebagai paru-paru bumi, berfungsi sebagai ekosistem dan tempat bernaung para satwa liar.

Rakyat boleh memanfaatkan hutan secara langsung untuk kehidupan sesuai kemampuannya dalam mengelola tanpa menghalangi pihak lain mengambil manfaat yang sama, dan bukan pada kawasan lindung yang ditetapkan negara.

Dalam sebuah riwayat hadist, Rasulullah Saw bersabda: “Manusia berserikat dalam tiga hal yaitu air, padang rumput dan api”. (HR Ahmad & Abu Dawud).

Hutan termasuk dalam kategori padang rumput
Ketiga unsur ini merupakan kebutuhan vital hajat hidup orang banyak.Tidak boleh dikuasai secara pribadi atau perorangan yang merugikan masyarakat. Negara atau penguasa wajib mengelolanya untuk kemaslahatan bersama.

Jika terjadi pengrusakan atau pembakaran hutan dengan sengaja, maka Negara memberi sanksi tegas bagi pelaku sesuai tingkat kerugian yang ditimbulkan. Negara juga berperan menjaga kelestarian hutan dan mengantisipasi kebakaran dengan migitasi bencana alam yang memadai.

Untuk merealisasikan semuanya maka dibutuhkan seorang pemimpin yang berfungsi sebagai junnah (pelindung) dimana rakyat akan merasa aman dalam penjagaan jiwa, darah, harta, kehormatan dan akidahnya. Dalam konteks bencana, keselamatan rakyat lebih diutamakan dengan tindakan preventif sehingga rakyat merasa tenang karena haknya terpenuhi. Namun pemimpin yang ideal harus dibarengi dengan support sistem yang baik, yaitu sistem Islam dimana aturan hidup bersumber dari Al-Qur’an dan As Sunnah

Wallau a’lam biasshowab

4.759 Pelamar di Job Fair Bontang, Lowongan Kerja Bertambah Jadi 289

0
Kegiatan Job Fair Disnaker Bontang tahun 2026. (Syakurah)

BONTANG – Sebanyak 4.759 orang tercatat melamar dalam pelaksanaan Job Fair Kota Bontang yang berlangsung pada 1-4 September 2026 kemarin di Gedung serba guna Koperasi PKT.

Jumlah tersebut terdiri dari pelamar lowongan kerja, pelatihan, pemagangan, hingga sertifikasi.

Berdasarkan rekapitulasi Disnaker Bontang, Kepala Bidang Penempatan dan Pelatihan Disnaker Bontang, Takdir Mannang menjelaskan, dari total tersebut sebanyak 3.130 orang melamar lowongan kerja, 1.461 orang melamar program pemagangan, 110 orang pelatihan kerja, dan 58 orang sertifikasi.

Di sisi lain, jumlah kebutuhan tenaga kerja yang tersedia juga mengalami penambahan. Lowongan kerja yang sebelumnya tercatat 278 posisi bertambah menjadi 289 posisi, sementara kebutuhan pemagangan meningkat dari 108 menjadi 117 orang.

“Lowongan kerja yang tadinya 278 bertambah menjadi 289. Pemagangan dari 108 bertambah menjadi 117,” ujar Takdir, Minggu (6/9/2026).

Secara keseluruhan, terdapat 437 kebutuhan dalam Job Fair tersebut, meliputi 289 lowongan kerja, 16 pelatihan kerja, 117 pemagangan, dan 15 sertifikasi.

“Selanjutnya kami minta perusahaan atau lembaga yang telah melakukan penyerapan, untuk dapat melaporkan ke Disnaker agar data pelamar dapat kami catat,” tutupnya

Pewarta: Syakurah
Editor: Yusva Alam