Beranda blog Halaman 329

Kemenag Bontang Tegaskan Larangan Nikah Siri, Dinilai Banyak Dampak Merugikan

0

Kementerian Agama Kota Bontang menegaskan larangan praktik nikah siri karena dinilai menimbulkan berbagai dampak sosial dan hukum, terutama bagi perempuan dan anak.

Pembaca Setia Radar Bontang!
Ingin tahu kabar terkini Koran Digital Radar Bontang?
Kunjungi link di bawah ini untuk membaca e-paper lengkapnya:

👉 E-Paper Lengkap
https://koran.radarbontang.com

📱 Versi Mobile
https://digital.radarbontang.com/rb21jan2026/mobile/

Radar Bontang – Aktual & Terpercaya!

Curi Motor demi Judi Sabung Ayam dan Judol, Polisi Ungkap Jaringan Curanmor di 6 TKP

0
Konferensi pers Polres Bontang. (Syakurah)

BONTANG – Polres Bontang mengungkap jaringan pencurian kendaraan bermotor (curanmor), yang beraksi di enam lokasi berbeda di wilayah Kota Bontang. Aksi para pelaku dilatarbelakangi faktor ekonomi dan kecanduan judi, baik judi sabung ayam maupun judi online.

Wakapolres Bontang, Kompol Ropiyani, dalam konferensi pers Rabu (21/1/2026), menyebut dua pelaku utama berinisial HR (27) dan AS (22) beraksi di enam TKP yang tersebar di Kelurahan Belimbing, Gunung Elai, dan Berbas.

Aksi pencurian dilakukan rentang waktu malam hingga dini hari, antara pukul 23.00 Wita hingga 04.00 Wita. Motor hasil curian kemudian dijual atau digadaikan kepada sejumlah penadah, untuk membiayai judi sabung ayam serta kebutuhan sehari-hari.

Selain itu, Polres Bontang juga mengamankan pelaku lain berinisial ANA (42) yang beraksi seorang diri di wilayah Loktuan dan Belimbing pada siang hari. Motif pelaku diketahui karena tidak memiliki pekerjaan, kecanduan judi online, serta penyalahgunaan narkoba.

Dari pengungkapan tersebut, polisi menyita sejumlah barang bukti berupa enam unit sepeda motor, kunci busi modifikasi, jaket, serta satu unit handphone iPhone X. Para pelaku dijerat Pasal 476 KUHP Nasional dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara.

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Wali Kota Tegaskan Akan Potong TPP ASN yang Tak Bekerja Maksimal

0
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni saat memimpin kegiatan rapat. (Ist).

BONTANG – Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni memberikan teguran keras bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot), apabila kinerjanya tidak maksimal. Teguran itu bisa berupa pemotongan Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP).

Menurut Neni, hal ini sangat perlu disampaikan secara terbuka agar seluruh pegawai bisa menjalankan tugasnya dengan maksimal. Sebab TPP bukanlah hak yang diterima pegawai secara otomatis setiap bulannya, melainkan salah satu bentuk apresiasi atas kinerja dengan rasa tanggung jawab.

“Jadi saya ingatkan kalau TPP tidak mau dipotong, bekerjalah dengan maksimal, penuh rasa tanggung jawab jangan setengah-setengah,” ucapnya, Selasa (20/1/2026).

Selain itu, Neni juga turut menjelaskan bahwa penilaian kinerja pada ASN dilakukan secara objektif. Tidak lagi sekedar laporan administrasi saja. Mulai dari kehadiran, bahkan pencapaian kinerja di masing-masing Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

“Jadi ada poin ada koin, kerja sesuai target. Apabila tidak mau ada pemotongan. Walaupun anggaran kita rendah biar wali kota dan DPR yang mencari dananya,” tutupnya.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

1.380 Warga Rentan Miskin di Bontang Terima Bantuan Tunai Rp 300 Ribu per Bulan

0
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni. (Dwi/RadarBontang)

BONTANG – Sebanyak 1.380 warga rentan miskin di wilayah Kota Bontang, akan terima bantuan sosial berupa uang tunai sebesar Rp 300 ribu per bulan. Penyaluran akan dilakukan mulai Januari 2026. Hal ini disampaikan langsung oleh Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni

Ia mengatakan bahwa Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang akan memberikan bantuan tersebut selama satu tahun penuh.

Penyaluran bantuan ini akan menyasar pada warga yang belum tersentuh sama sekali dengan adanya bantuan sosial dari pemerintah. Pemkot Bontang pun telah mengucurkan dana sekitar Rp 4,9 miliar. Sebelumnya, anggaran yang telah disiapkan sekitar Rp 10 miliar, dengan target 10 ribu penerima.

“Ketika data telah terverifikasi, ternyata penerimanya berkurang. Ada beberapa yang sudah mendapatkan bantuan, jadi bantuan yang Rp 300 ribu akan kami berikan ke warga yang belum pernah mendapatkan bantuan sosial sama sekali,” ucapnya, Rabu (21/1/2026).

Bantuan berupa uang tunai tersebut diberikan kepada khusus warga yang kurang mampu, dimana warga belum ada mendapatkan bantuan dari pemerintah, termasuk janda, penyandang disabilitas, serta warga rentan miskin yang masuk dalam kelompok desil 2 hingga desil 4.

“Bantuan ini diberikan per orang bukan per Kepala Keluarga (KK), dalam artian misalkan satu rumah berjumlah lima orang, berarti yang dapat lima orang dengan total Rp 1,5 juta per bulannya,” ungkapnya.

Sehingga, Pemkot Bontang akan memastikan data penerima telah didata secara lengkap. Mulai dari nama beserta alamat rumah tinggal. Semua tercatat dengan sistem by name by address

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Jatah Haji Bontang Menurun Pasca Perubahan Sistem Kuota

0
Najmuddin Tamini, Kepala Seksi Penyelenggara Haji dan Umroh Kementerian Agama, Kota Bontang. (Syakurah)

BONTANG – Jatah kuota jamaah haji Kota Bontang pada tahun 2026 mengalami penurunan signifikan.

Hal ini dikarenakan adanya perubahan sistem kuota yang diambil berdasarkan nomor urut pendaftaran.

Najmuddin Tamini, Kepala Seksi Penyelenggara Haji dan Umroh Kementerian Agama, Kota Bontang menjelaskan jamaah yang akan diberangkatkan disesuaikan dengan nomor urut pendaftaran, bukan lagi berdasarkan jatah kuota. Urutan ini tetap dilihat berdasarkan provinsi.

“Misal, istri daftar dan dapat nomor urut sekian, kemudian suaminya lagi daftar, ternyata dari daerah lain ada orang yang daftar sepersekian detik dari istrinya, maka suaminya bisa jadi tidak dapat nomor antrian yang berurutan karena diisi orang lain itu,” terangnya, Rabu (21/1/2026).

Ia menjelaskan, urutan ini berdasarkan mereka yang telah mendaftar pada tahun 2012. Bontang sendiri hanya terdapat 72 nama yang masuk dalam 3007 kuota Kaltim tahun ini. Untuk itu, mulai tahun ini sudah tidak ada kuota per daerah. Namun pemberangkatan sesuai nomor urut pendaftaran.

“Dari 72, hanya 62 yang dipastikan akan berangkat karena sudah melakukan pelunasan hingga 9 Januari kemarin,” tuturnya.

Beberapa kabupaten/kota juga mengalami penurunan jatah yang signifikan seperti Kutai Timur dan juga Tenggarong, biasanya wilayah tersebut memberangkatkan jamaah sekitar 400 hingga 500 orang namun tahun ini hanya sekitar 160 jamaah.

Sementara itu seperti Balikpapan dan Samarinda mengalami kenaikan. Samarinda sendiri memberangkatkan sekitar 1100 jamaah dan Balikpapan 600 jamaah.

“Di wilayah tersebut banyak yang sudah lama daftar, jadi pemberangkatan ini supaya adil, sesuai dengan mereka yang daftar,” tutupnya.

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Pelajar Kendarai Motor Tabrak Mobil Parkir di Depan SMKN 1, Terpental Satu Meter

0
Terjadi kecelakaan lalu lintas di depan SMKN 1 Bontang. (Ist).

BONTANG – Terjadi kecelakaan lalu lintas di depan SMKN 1 Bontang, Rabu (21/1/2025) pagi. Seorang pelajar yang mengendarai sepeda motor menabrak mobil sedang parkir.

Kapolres Bontang, AKBP Widho Anriano, melalui Kasat Lantas Polres Bontang, AKP Purwo Asmadi menjelaskan, kecelakaan tersebut berlangsung saat kondisi jalanan sedang ramai pengendara berlalu lalang, tiba-tiba saja sepeda motor Honda Scoopy dengan nomor polisi KT 555 XD melaju kencang dari arah kota hendak menuju Loktuan.

Diduga akibat kurang konsentrasi, pelajar tersebut langsung menabrak bagian sisi belakang mobil Honda Brio dengan nomor polisi KT 1428 YE yang sedang parkir. Sang pengemudi mobil saat itu memarkir mobilnya sementara, lantaran mampir berbelanja.

“Benturan tidak terhindarkan. Bagian kanan belakang mobil mengalami kerusakan, sementara sepeda motor ringsek pada bagian depan. Pengendara motor pun terpental sekitar satu meter, dan terjatuh di badan jalan,” ucapnya saat dikonfirmasi.

Korban pun mengalami luka robek di bagian atas hidung, dan saat itu juga korban langsung dilarikan ke Rumah Sakit (RS) agar cepat mendapatkan penanganan medis.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Sudah Langka Harga Meroket, Subsidi Gas Melon Sudah Tak Berarti

0
Gas Elpiji 3 kilogram kembali langka. (Ramlah/Radar Bontang)

SANGATTA – Gas elpiji 3 kilogram kembali langka. Selain langka, harganya pun meroket tajam mencapai Rp45 ribu hingga Rp50 ribu per tabung. Harga ini tak lagi mencerminkan subsidi.

Ria, warga Gang Taruna, Sangatta Utara mengaku terpaksa membeli gas seharga Rp50 ribu setelah stok di beberapa titik kosong. “Sudah cari sejak pagi. Daripada tidak bisa masak, ya dibeli meski mahal,” ujarnya Ria kepada Media Kaltim, Selasa (20/1/2025).

Keluhan serupa disampaikan Emi Rosarini. Menurutnya, kelangkaan gas melon selalu berulang tanpa kejelasan solusi. “Kalau begini terus, di mana letak subsidi itu? Harganya sudah seperti gas biasa,” keluhnya.

Di tingkat pengecer, pasokan disebut tidak datang seperti jadwal. Distribusi tersendat, sementara kebutuhan warga tetap tinggi. Kondisi ini membuka celah kenaikan harga di tingkat bawah, tanpa pengawasan yang memadai.

Ironinya, gas elpiji 3 kilogram yang dirancang untuk melindungi daya beli masyarakat berpenghasilan rendah kini justru menjadi beban. Subsidi yang dikucurkan negara seolah berhenti di atas kertas, sementara warga dipaksa menanggung mahalnya harga di lapangan.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan resmi terkait penyebab kelangkaan maupun langkah pengendalian harga. Warga berharap pemerintah tak sekadar menjanjikan distribusi normal, tetapi hadir dengan pengawasan nyata agar subsidi benar-benar sampai ke sasaran.

Penulis: Ramlah
Editor: Yusva Alam

Dampak Nikah Siri Disorot, Kemenag Ungkap Negara Sediakan Layanan Nikah Resmi dan Gratis

0
Kepala Kemenag Kutim, Agmad Barkati saat diwawancara awak media. (Ramlah/ Radar Bontang)

SANGATTA – Kepala Kemenag Kutim, Ahmad Barkati, menegaskan bahwa negara telah menyediakan layanan pernikahan resmi yang mudah dan gratis. Selain melalui program nikah massal, masyarakat juga bisa melangsungkan pernikahan secara individual di Kantor Urusan Agama (KUA) dengan mekanisme dan persyaratan yang sama, tanpa dipungut biaya selama akad dilaksanakan di kantor KUA.

“Selalu kami sampaikan ke masyarakat, menikah itu mudah dan gratis. Jadi jangan lakukan pernikahan siri karena dampaknya sangat besar bagi kemaslahatan keluarga,” ujar Barkati saat ditemui, Selasa (20/1/2026).

Barkati menjelaskan, salah satu dampak paling serius dari pernikahan yang tidak tercatat adalah tekanan psikologis yang dialami perempuan, terutama ketika menghadapi kehamilan tanpa status hukum pernikahan yang jelas.

“Kondisi ini bisa mengganggu kesehatan mental ibu. Dampaknya juga ke anak yang dilahirkan, termasuk risiko stunting,” sebutnya.

Selain aspek kesehatan, persoalan administratif anak juga menjadi perhatian. Secara hukum, anak yang lahir dari pernikahan tidak tercatat tidak dapat disambungkan nasabnya kepada ayah, melainkan hanya kepada ibu.

“Ketika administrasi hanya ke ibu, asumsi negatif masyarakat bisa berkembang. Anak bisa menjadi korban stigma, bahkan perundungan,” ucap Barkati.

Masalah lain muncul ketika terjadi perceraian. Tanpa bukti pernikahan yang sah, tidak ada dasar hukum untuk pembagian harta bersama maupun perlindungan hak-hak perempuan dan anak.

Kemenag Kutim pun kembali mengimbau masyarakat untuk memastikan setiap pernikahan dilakukan secara resmi dan tercatat. Menurut Barkati, pencatatan pernikahan bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk perlindungan negara terhadap masa depan keluarga.

Penulis: Ramlah
Editor: Yusva Alam

Wagub Kaltim Apresiasi Veteran, Program Gratispol Buka Akses Kuliah bagi Anak-Cucu Keluarga Veteran

0
Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji bersama Sekretaris Jenderal DPP Legiun Veteran Republik Indonesia, Laksamana Madya TNI (Purn.) Djoko Sumaryono dan jajaran pengurus saat pembukaan Musda Konsolidasi LVRI di Samarinda, Selasa (20/1/2026). (Hanafi)

SAMARINDA — Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menegaskan komitmennya memberi perhatian nyata kepada para veteran dan keluarganya. Melalui program Gratispol, Pemprov Kaltim membuka akses pendidikan tinggi bagi anak dan cucu keluarga veteran sebagai bentuk penghargaan atas jasa mereka dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Penegasan itu disampaikan Wakil Gubernur Kalimantan Timur Seno Aji saat menghadiri Musyawarah Daerah (Musda) Konsolidasi Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Provinsi Kalimantan Timur di Ruang Bina Bangsa, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kaltim, Selasa (20/1/2026).

“Anak cucu veteran ini orang tuanya telah berjuang mempertahankan wilayah Kalimantan Timur dan Indonesia. Sudah sepantasnya kita memberikan apresiasi. Saat ini sudah berjalan, beberapa anak veteran telah kita kuliahkan, terutama di bidang pendidikan dan kesehatan,” ujar Seno Aji.

Selain Gratispol, Pemprov Kaltim juga menyiapkan skema pembiayaan pendidikan ke luar daerah. Seno Aji menekankan, setelah menyelesaikan studi, para penerima manfaat diharapkan kembali ke Kalimantan Timur untuk berkarya dan berkontribusi bagi pembangunan daerah.

Dalam kesempatan tersebut, Wagub menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada para veteran. Menurutnya, nilai perjuangan, nasionalisme, dan patriotisme yang diwariskan para veteran merupakan modal penting bagi generasi muda.

“Semangat juang, nasionalisme, serta nilai-nilai patriotisme para veteran harus terus diwariskan kepada generasi penerus bangsa agar tidak luntur oleh perkembangan zaman,” tegasnya.

Ia menilai Musda Konsolidasi LVRI memiliki peran strategis untuk memperkuat soliditas organisasi, menyamakan visi dan misi, serta merumuskan langkah konkret menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), khususnya di Kalimantan Timur. Seno Aji juga berharap LVRI terus bersinergi dengan Pemprov Kaltim dalam merawat persatuan dan menjadi teladan penanaman nilai kebangsaan di tengah masyarakat.

“Kami berharap Musda ini berjalan lancar dan menghasilkan keputusan terbaik, sehingga semakin memperkokoh persatuan serta semangat juang keluarga besar LVRI,” harapnya.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat (DPP) LVRI Djoko Sumaryono mengapresiasi kebijakan Pemprov Kaltim yang dinilainya tidak dimiliki semua daerah.

“Tidak semua daerah itu. Hari ini saya bangga Pak Wagub meneruskan itu. Tentulah ini peluang, tetapi anak-anak juga harus berprestasi. Sama seperti sekolah rakyat, Pak Prabowo ingin mengetaskan kesenjangan, sehingga anak-anak dari orang tua yang mungkin tidak sempat atau tidak mampu sekolah bisa belajar di sistem boarding. Nanti mereka jadi orang dan mengangkat derajat orang tuanya,” pungkas Djoko. (MK)

Editor: Agus S

Akses Sawah Terlupakan Hampir Satu Dekade, DPRD Kukar Turun Tangan di Bukit Biru

0
Suasana peninjauan lapangan Anggota Komisi I DPRD Kukar di kawasan pertanian Bukit Biru. (Ady/MKN)

TENGGARONG — Di tengah dorongan kuat pemerintah menuju swasembada pangan, petani di Kelurahan Bukit Biru, Kecamatan Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar), justru masih berkutat dengan persoalan mendasar: akses menuju lahan pertanian yang tak kunjung dibenahi. Jembatan rapuh, jalan usaha tani rusak, hingga hasil panen yang harus dipikul bergotong royong menjadi gambaran keseharian petani selama hampir sepuluh tahun terakhir.

Kondisi itu mendorong DPRD Kutai Kartanegara turun langsung ke lapangan. Komisi I DPRD Kukar melakukan peninjauan infrastruktur pertanian Bukit Biru, Senin (19/1/2026), dengan menyusuri area persawahan dan menyeberangi jembatan darurat yang selama ini menjadi satu-satunya akses petani.

Peninjauan diikuti anggota Komisi I DPRD Kukar Desman Minang Endianto, Sugeng Hariyadi, Mohammad Jamhari, dan M Hidayat, bersama perwakilan Dinas Pekerjaan Umum, kecamatan, kelurahan, Gapoktan Bukit Biru, serta Forum RT.

Di sejumlah titik, kondisi jembatan tampak memprihatinkan—miring, lapuk, bahkan hanya berupa susunan batang pohon tanpa pengaman. Padahal, jalur tersebut menjadi urat nadi pengangkutan hasil panen.

“Ini tindak lanjut dari dialog kami dengan masyarakat Bukit Biru. Di lapangan terlihat jelas, ada beberapa titik akses pertanian yang memang sudah sangat membutuhkan perhatian,” ujar Desman Minang Endianto di sela peninjauan.

Ia menegaskan, Bukit Biru merupakan kawasan pertanian produktif yang seharusnya mendapat dukungan infrastruktur memadai agar produktivitas petani meningkat.

“Mengingat ini kawasan pertanian, akses utama sangat menentukan. Tanpa infrastruktur yang layak, sulit berbicara soal peningkatan hasil panen,” katanya.

Selain infrastruktur pertanian, Komisi I juga menemukan persoalan lain di wilayah tersebut. Di RT 17 Bukit Biru, sebuah makam warga mengalami pergeseran tanah akibat longsor kecil dan dinilai membutuhkan penanganan lintas sektor.

“Tadi kami juga melihat makam yang tanahnya bergeser. Ini menyangkut kebutuhan masyarakat dan harus segera ditindaklanjuti oleh dinas terkait,” tambah Desman.

Sementara itu, Sugeng Hariyadi menyebut kerusakan infrastruktur pertanian di Bukit Biru bukan persoalan baru. Usulan perbaikan, menurutnya, telah diajukan sejak bertahun-tahun lalu, namun belum pernah direalisasikan.

“Ada jalan usaha tani dan jembatan yang kondisinya sangat memprihatinkan. Bahkan ada yang lima tahun, ada juga sampai sepuluh tahun tidak tersentuh pembangunan,” ujarnya.

Kondisi tersebut, lanjut Sugeng, berbanding terbalik dengan target pemerintah dalam mendorong ketahanan dan swasembada pangan.

“Kalau akses petani seperti ini, tentu sulit bicara swasembada pangan. Kami berharap ini segera direalisasikan,” tegasnya.

Sugeng memastikan Komisi I DPRD Kukar akan mengawal proses penganggaran agar perbaikan infrastruktur pertanian Bukit Biru bisa segera masuk prioritas.

Dari sisi petani, harapan besar disampaikan Ketua Gapoktan Bukit Biru Hasim Adnan. Ia menilai kehadiran DPRD di lapangan menjadi angin segar setelah bertahun-tahun aspirasi tak kunjung mendapat respons.

“Alhamdulillah, kami sangat mengapresiasi kehadiran anggota dewan. Sudah lama sekali kami menunggu perhatian seperti ini,” ucapnya.

Hasim mengungkapkan, kerusakan jembatan utama sudah terjadi sejak sekitar sepuluh tahun lalu. Meski proposal perbaikan telah berulang kali diajukan, belum satu pun terealisasi.

“Kerusakan itu mulai sekitar 10 tahun lalu. Proposal sudah kami ajukan berkali-kali, tapi belum ada realisasi,” katanya.

Akibatnya, sekitar 90 persen akses tidak dapat dilalui kendaraan bermuatan padi. Petani terpaksa mengangkut hasil panen secara manual.

“Hampir 90 persen tidak bisa dilewati kendaraan. Selama ini kami gotong royong, pakai arko, dipikul, atau kalau memungkinkan lewat roda dua,” tutup Hasim. (MK)

Editor: Agus S