Beranda blog Halaman 830

Rustam Minta Pemkot Serius Atasi Antrean BBM

0
Rapat dengar pendapat Komisi II dan ATB.

BONTANG – Komisi II DPRD Kota Bontang melaksanakan rapat dengar pendapat bersama dengan Asosiasi Sopir Travel Kota Bontang (ATB) pada Senin, 19 Desember 2022.

Pada kesempatan itu, Asosiasi Sopir Travel Kota Bontang menyampaikan aspirasi mereka mengenai masalah penetapan jadwal yang dikenakan oleh pemerintah.

Menurut salah satu anggota Asosiasi Sopir Travel, yang menjadi masalah utama adalah ketika mereka sampai di Kota Bontang, terkadang ketersediaan solar sudah tidak ada. Hal ini mempengaruhi pekerjaan mereka keesokan harinya.

“Yang menjadi masalah solar itu jam 6 sore sudah tutup. Sedangkan kami itu baru datang jam 7 malam nah otomatis kita ga dapat solar. Jadinya besoknya kami harus cuti kerja hanya untuk antre solar dan itupun kalo dapat,” ujarnya.

Selain itu, asosiasi ini juga meminta adanya jalur khusus untuk keperluan para sopir travel. Hal ini dikarenakan waktu yang diatur terkadang kurang sesuai dengan waktu mereka yang harus mengantar para pengguna jasa mereka ke daerah lain.

Jika sopir travel tidak mendapatkan BBM atau bahkan sangat lama dalam mengantri, hal tersebut terkadang berpengaruh pada tertundanya keberangkatan pelanggan atau bahkan keberangkatan dibatalkan. Yang mana hal tersebut menyebabkan kerugian bagi para supir travel yang ada.

“Kalau bisa kami ini dibuatkan aturan sendiri untuk prioritas khusus untuk travel pak,” ujarnya. Selain masalah waktu pengisian, Asosiasi Sopir Travel juga menyampaikan saran mereka untuk masalah teknis pelayanan di SPBU yang ada di Kota Bontang

“Jika berbicara soal aktualisasi pelayanan. Kalau bisa SPBU yang ada di Kota Bontang jika dua tengki kiri kanan itu aktif mengisi kendaraan. Jangan cuman satu orang yang melayani, itukan ada waktu yang terbuang dalam proses pengisiannya. kenapa tidak dua atau tiga orang yang diadakannya biar lebih cepat,” ujarnya.

Rustam selaku Ketua Komisi II DPRD Kota Bontang menyampaikan bahwa untuk menyelesaikan masalah ini harus ada tanggapan dan arahan dari tim ekonomi dan Pemerintah Kota Bontang.

Hal ini dikarenakan dalam undangan rapat dengan pendapat kali ini, DPRD mengundang Sekertaris Daerah, Asisten Perekonomian dan Pembangunan serta Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil, Menengah dan Perdagangan. Tetapi yang datang memenuhi undangan hanya dari Dinas Koperasi, UMKM dan Perdagangan (Diskop-UKMP) Bontang, Kamilan.

“Saya sudah semangat sekali untuk ketemu dengan teman-teman semua. Tetapi ternyata untuk masalah ini harusnya ada di  tim ekonomi di pemerintahan sana. Tetapi tetap apapun yang akan teman- teman ingin di sampaikan, sampaikan aja di sini. Nanti kita akan dengarkan dan kita tampung untuk kita adakan lagi rapat dengan harapannya nanti lengkap nih. Pemerintah ga mangkir lagi nih,” ujarnya.

Untuk pertemuan kali ini aspirasi para sopir travel akan ditampung dan kembali akan dilaksanakannya pertemuan lanjutan dalam pembahasan masalah ini. (sc)

Fenomena Antrian Panjang BBM, DPRD BONTANG “ini memalukan”

0
Sutarmin, anggota Komisi II DPRD Bontang.

BONTANG – Dalam beberapa minggu terakhir antean BBM di Kota Bontang hampir memenuhi jalanan. Bahkan, antrean di SPBU Kopkar dikabarakan pernah sampai masuk ke daerah Kutim, padahal untuk pengisian di Kota Bontang.

“Untuk pengawasan, untuk di Kilometer 6 sampai ke tugu selamat datang. Sekarang sudah ada sistem kuponisasi. Kupon itu diberikan kepada driver-driver yang standby di arah Polsek Barat. Jadi, itu mengurangi penumpukan kendaraan di daerah kota,” ujar AKP Yurizca Musiardhillah, Kasat Intelkem (19/12/2022).

Sistem kupon ini berhasil mengurangi kepadatan di dalam Kota, dimana toko-toko dan warung-warung yang sebelumnya tertutup dikarenakan antrean ini sudah mulai terlihat kembali.

DPRD Kota Bontang pada 2021 sudah pernah mendatangi pemerintah pusat dalam upaya meminta penambahan pasokan BBM di Kota Bontang. Tetapi, usulan ini ditanggapi dengan pernyataan bahwa penyaluran BBM untuk Kota Bontang dirasa sudah cukup.

Walaupun dinyatakan memiliki pasukan BBM yang cukup, aktualisasi di lapangan mengalami antrean yang panjang untuk BBM di seluruh SPBU Kota Bontang dan hal tersebut dinyatakan sebagai hal yang memalukan oleh DPRD.

“Ini hal yang memalukan. Fenomena pengisian bahan bakar ini. Apalagi tadi katanya sampai masuk ke daerah Kutim,” ujar Sutarmin, anggota Komisi II DPRD Bontang yang ditemui di kantornya pada Senin (19/12/2022)

Satlantas Polres Bontang bersama pemerintah kota, dan SPBU Kopkar bekerja sama untuk membuat sistem kupon antrean. Di mana, mekanisme kupon antrean sendiri adalah para driver.

Ketika pengisian SPBU sudah dibuka, persepuluh driver yang mengantre akan masuk. Hal ini dilakukan untuk mengurangi antrean dalam kota maupun di luar kota. (sc)

Antrean BBM ‘Menggila,’ Begini Keluhan Pemilik Toko

0
Plang larangan parkir di depan toko kerap tak diindahkan para pengendara yang mengantre BBM. (Yusva Alam)

BONTANG – Pemilik toko yang berlokasi di sekitar SPBU mengeluhkan antrean Bahan Bakar Minyak (BBM) akhir-akhir ini yang semakin ‘menggila.’

Keluhan muncul karena berakibat pada penurunan penjualan, hingga menyulitkan akses keluar masuk pembeli maupun pemilik toko sendiri.

Isa, Pemilik Toko Peralatan Olahraga Mega Sport mengeluhkan berkurangnya omzet penjualan. Lantaran saat ini tidak hanya truk-truk yang mengantre solar, tapi mobil pun mulai mengantre Pertalite.

Antrean tersebut menyebabkan tertutupnya akses jalan masuk dan keluar toko. Sehingga para konsumen toko menjadi malas membeli di tokonya, lantaran sulitnya parkir dan akses masuk keluar toko. “Truk itu ukurannya besar. Satu saja yang parkir depan toko sudah tidak ada space (ruang) keluar masuk,” keluh Isa saat dihubungi.

Isa mengungkapkan pula, dampak negatif lain dari antrean BBM, yaitu  menimbulkan kemacetan. Karena 2 baris antrean truk dan mobil itu mampu memakan space jalan. Sehingga kendaraan lain yang melintas tidak akan leluasa.

Apalagi seringkali sopir truk ugal-ugalan ketika SPBU sudah dibuka. Para supir ini akan memacu kendaraannya untuk mendapat antrean terdepan. “Rebut-rebutan tempat ini sangat membahayakan pengendara lain yang melintas di jalan,” katanya.

Ditambahkannya, truk-truk tersebut selalu antre jauh sebelum jam buka SPBU. SPBU membuka pengisian solar pukul 14.00 Wita. Tetapi supir truk sudah antre sejak pukul 06.00 Wita.

“Kalau ada antrean Pertalite mereka mulai antre jam 08.30 Wita. Tapi kalau tidak ada antrean Pertalite mulai antre jam 06.00 Wita. Plang larangan parkir yang dipasang pemilik toko itu malah seringkali dipinggirkan oleh sopir, agar mereka bisa tetap parkir,” bebernya.

Sementara itu Otin, Pemilik Toko Bangunan di Jalan Brigjend Katamso juga mengeluhkan hal serupa. Bedanya, Otin lebih mengeluhkan pengantre Pertalite ketimbang solar.

Menurutnya, para pemilik mobil yang antre Pertalite kerap membandel. Tidak bisa dikasih tahu. Plang tulisan dilarang parkir pun tidak diindahkan. Justru mengancam akan melaporkan pemilik toko ke Dinas Perhubungan. “Saya jawab aja plang itu dibuat sudah persetujuan polisi,” keluh Otin.

Katanya lagi, pemilik mobil antre Pertalite itu ternyata tidak cuma sekali antre. Bahkan bisa berkali-kali. “Mereka itu pagi antre, siang antre, malam antre lagi,” bebernya.

Ditambahkannya, truk-truk pengantre solar itu justru kebanyakan plat luar Bontang. Lebih banyak yang dari Sangatta. Truk plat Bontang bisa dihitung dengan jari. “Kalau truk Sangatta ya sebaiknya antre di Sangatta aja, jangan di Bontang. Kalau Cuma truk Bontang yang antre saya rasa tidak akan sepanjang ini,” pungkasnya. (al)

Peserta Non Muslim Ikut Khitanan Massal, Begini Alasannya

0
Orangtua pendamping tampak sibuk menenangkan anak saat dikhitan. (Yusva Alam)

BONTANG – Jarum jam menunjukkan pukul 09.30 Wita. Ahad (17/12/2022) menjelang siang, sinar matahari tidak terlalu terik. Awan mendung masih menutupi langit.

Masjid Fathul Khoir sudah dipenuhi peserta khitanan massal. Ditemani orangtuanya, rata-rata peserta berusia 6 – 12 tahun. Sebagian berkumpul di dalam masjid menunggu antrean. Sebagian lagi sudah melangsungkan khitan, di ruangan kelas Taman Pendidikan AlQuran (TPA) Masjid Fathul Khoir yang letaknya bersebelahan dengan bangunan masjid.

Di dalam masjid tampak wanita muda memandu games. Trik panitia menghilangkan rasa takut anak terhadap khitan, dan rasa bosan menunggu giliran.

Wanita muda bergamis merah itu sesekali bertanya beberapa pertanyaan terkait Islam. Sesekali mengajak menghapal surat-surat pendek di AlQuran. Memberikan hadiah bagi yang mampu menjawab atau menghapal.

Sementara para orangtua pendamping menunggu di selasar masjid. Baik orangtua laki-laki maupun perempuan tampak memenuhi selasar. Saling bercengkrama dengan para orangtua lainnya sembari menunggu anaknya dipanggil.

“Khitanan massal ini diadakan Yayasan Masjid Fathul Khoir. Peserta sudah datang mengantre sejak pukul 07.00 pagi,” ujar Sobirin, Ketua Dewan Pembina Yayasan Masjid Fathul Khoir.

Di sebelah masjid, teriakan anak-anak yang dikhitan terdengar sahut menyahut. Tak sedikit pula yang menangis. Para orangtua pendamping pun sibuk menenangkan sang buah hati.

Di tengah hilir mudik anak dan orangtua peserta khitan, tampak wanita berpenampilan beda dari kebanyakan yang datang. Wanita paruh baya itu tak mengenakan hijab, atribut wajib bagi seorang wanita muslim. Hanya mengenakan setelan baju panjang sampai di bawah lutut warna biru dan kuning. Dipadukan celana panjang, serta masker berwarna hitam.

“Total peserta kami mencapai 157 anak. Ada 6 anak peserta khitan yang non-muslim,” ucap Sobirin.

Rindang Sitompul nama wanita itu. Terlihat bingung dan sedikit grogi menghadapi pertanyaan awak media. “Bingung saya jawabnya. Jangan lama–lama nanyanya ya,” ujar Rindang sembari tertawa kecil.

Sementara orangtua peserta khitan non-muslim lainnya berusaha menjauh. Tak ingin diwawancara. Rindang mengaku antusias, mengikuti khitan yang diadakan yayasan masjid di dalam Perumahan Bukit Sekatup Damai (BSD) ini. Walaupun dirinya non-muslim, namun sudah memahami tentang manfaat berkhitan bagi anak laki-lakinya yang bernama Brylian.

“Kalau kami (non-muslim) yang di kota-kota sudah banyak paham, khitan baik untuk kesehatan. Biasanya yang di desa-desa masih banyak belum paham,” ungkap wanita domisili Kampung Baru itu.

Selain masalah kesehatan, alasannya ikut khitan karena faktor biaya. Lantaran apabila ingin khitan di puskesmas atau dokter, dirinya harus merogoh kocek cukup dalam.

“Saya sudah cari info biaya khitan. Di puskesmas sekitar Rp 600 ribu. Kalau di dokter bisa Rp 1-2 juta. Tak mampu saya,” keluh wanita berstatus single parent tersebut.

Rindang mengaku bersyukur, bisa mengikutkan anaknya yang duduk di kelas 6 SD khitan kali ini. Pasalnya, banyak kendala yang dihadapinya. Seperti tidak ada yang mengantar untuk pergi mendaftar ke masjid, karena tidak bisa mengendarai sepeda motor. Sempat ditolak juga karena kuota sudah penuh.

Sekali lagi dirinya bersyukur karena panitia mengubah kebijakan di masa akhir pendaftaran. Dengan menambah kuota. “Ini berarti rezeki saya,” kata Rindang semringah.

“Kami terima peserta non-muslim sebagai syiar, bahwa Islam itu Rahmatan lil Aalamiin. Islam itu membawa manfaat bagi semua manusia,” ujar Sobirin. (al)

Lomba Gaple Meriahkan Nobar Warga Loktuan

0
Warga Loktuan antusias menyaksikan Final Piala Dunia 2022, Argentina versus Perancis. (Yahya Yabo/ Media Kaltim)

BONTANG – Antusias warga Kelurahan Loktuan menyaksikan laga Final Piala Dunia 2022 antara Argentina versus Perancis cukup tinggi. Warga tampak memadati area parkir Kelurahan Loktuan tempat nonton bareng (nobar) digelar, Minggu (18/12/2022) malam.

Penanggung Jawab Nobar, Bhabinkamtibmas Loktuan, Aipda Ahmad Bajuri menjelaskan, nobar dilaksanakan untuk memfasilitasi warga Loktuan yang antusias dalam menyaksikan pertandingan piala dunia, utamanya partai final antara Argentina melawan Perancis.

“Kami fasilitasi warga agar dapat menonton bersama final piala dunia 2022,” kata Bajuri, saat diwawancara Radarbontang.com.

Lanjut Bajuri, nobar juga dijadikan ajang menjalin silaturahmi antar sesama warga Loktuan.

“Kami ajak warga untuk menonton bareng dengan maksud menjalin keakraban dan silaturahmi,” imbuhnya.

Tak sekedar nobar, guna memeriahkan acara, maka kegiatan kali ini juga diisi dengan lomba domino (gaple).

Perlombaan domino dimulai sejak pukul 20.00 WITA.  Diikuti warga Loktuan dan sekitarnya. Panitia lomba menyediakan hadiah juara 1 sebesar Rp 1 Juta, juara 2 sebesar Rp 750 ribu, juara 3 sebesar Rp 500 ribu dan juara 4 sebesar Rp 300 ribu.

Dirinya mengimbau kepada warga Loktuan untuk menjaga ketertiban dan keamanan menjelang Hari Raya Natal dan tahun baru.

“Imbauan kepada masyarakat agar tetap menjaga ketertiban. Mendukung Kamtibmas menjelang hari raya keagamaan,” pungkasnya. (yah)

Bontang Baru Mampu Ekspor 1 Ton Ikan Kerapu

0
KJA Tanjung Limau merupakan salahsatu anggota Kopnel BEM. (Yusva Alam)

BONTANG – Sampai saat ini, kemampuan Nelayan Bontang untuk mengekspor ikan kerapu hanya maksimal 1 ton.  Hal ini disampaikan Ismail, Pengelola Keramba Jaring Apung (KJA) Tanjung Limau, saat diwawancara Radarbontang.com beberapa waktu lalu.

Ismail mengungkapkan, 1 ton ikan kerapu ekspor yang dihasilkan Nelayan Bontang tersebut, merupakan gabungan hasil nelayan budidaya kerapu yang tergabung dalam Koperasi Nelayan Bontang Ekonomi Pariwisata dan Maritim (Kopnel BEM).

“Apabila hasil panen dari seluruh nelayan anggota Kopnel BEM mencapai 1 ton, baru kapal dari Berau datang untuk mengambil hasil panen itu,” ujar Ismail di sela-sela kunjungan media ini mengikuti Paket Fun Trip Bontang Baru (Boba) beberapa waktu lalu.

Saat ini Bontang belum tercatat sebagai daerah pengekspor kerapu. Lantaran nelayan Bontang belum mampu memenuhi permintaan minimal dari Hongkong, sebagai negara penerima hasil ekspor, yaitu 12 ton rutin setiap 2 bulan sekali.

Sehingga nelayan Bontang masih menginduk kepada Berau yang sudah tercatat sebagai daerah pengekspor ikan kerapu. Ketika nelayan Bontang berhasil panen 1 ton kerapu, maka kapal dari Berau yang akan mengambil hasil panen tersebut.

“Kalau hasil panen di bawah 1 ton, kapal Berau tidak mau ambil. Nantinya hasil panen kerapu Bontang ini dikumpulkan di Berau bersama hasil panen daerah lain. Lalu dipisah-pisah sesuai permintaan negara penerima ekspor,” beber pria yang sudah menjadi nelayan budidaya kerapu selama 20 tahun ini.

Ditambahkannya, saat ini kendala yang dialami nelayan budidaya kerapu Bontang adalah soal bibit. Di Bontang ataupun Kaltim belum ada pembibitan ikan kerapu. Sehingga nelayan Bontang harus membeli dari Situbondo.

Permasalahannya apabila membeli bibit dari Situbondo harga jadi lebih mahal. “Di luar bibit ukuran 1 centimeter harga seribu, sampai sini kalau misal ukuran 10 centimeter bisa capai harga 19 ribu. Kami tidak bisa untung karena mahal di ongkos kirim,” keluhnya.

Padahal katanya di Bontang sudah ada pembibitan di balai bibit milik pemerintah. Namun sayangnya sudah 5 tahun terakhir tidak akfif beroperasi. Menurut Ismail, apabila balai pembibitan itu aktif, Nelayan Bontang akan terbantu untuk meningkatkan nilai ekspor hingga 12 ton.

“Tidak usah di Bontang, di daerah Kaltim saja. Apabila ada pembibitan ikan kerapu, kami akan terbantu meningkatkan ekspor ikan kerapu,” pungkasnya. (al)

Peningkatan Kapasitas Ekspor Kerapu Terkendala Pembibitan

0
Selain Ikan Kerapu, KJA Tanjung Limau juga membudidayakan lobster untuk diekspor. (Yusva Alam).

BONTANG – Tidak tersedianya bibit ikan kerapu, jadi kendala Nelayan Bontang meningkatkan kapasitas ekspor hingga mencapai 12 ton. Hal ini disampaikan Pengelola Keramba Jaring Apung (KJA) Tanjung Limau, Ismail.

Sampai saat ini Bontang belum tercatat sebagai daerah pengeskpor ikan kerapu. Lantaran kemampuan ekspor Nelayan Bontang hanya 1 ton. Sedangkan kapasitas yang diinginkan negara pengimpor kerapu adalah 12 ton rutin 2 bulan sekali.

Sehingga Nelayan Bontang harus menginduk kepada Berau, yang saat ini tercatat sebagai daerah pengekspor ikan kerapu. Setiap panen 1 ton, kapal dari Berau yang akan datang mengambil hasil panen itu. Untuk kemudian diekspor ke negara-negara luar.

“Kapsitas 1 ton itu merupakan gabungan hasil panen dari seluruh nelayan anggota Koperasi Nelayan Bontang Ekonomi Pariwisata dan Maritim Kopnel (BEM). Hasil panen 1 ton waktunya bervariasi,” ujar pria yang sudah budidaya kerapu selama 20 tahun ini.

Katanya, untuk dapat meningkatkan kapasitas ekspor sesuai yang diinginkan Hongkong sebagai negara pengimpor ikan kerapu, solusinya adalah pembibitan ikan kerapu.

“Harus ada pembibitan ikan kerapu di Bontang. Setidaknya di daerah di Kaltim,” tegasnya.

Menurutnya, mahalnya ongkos kirim jadi kendala saat membeli bibit dari Situbondo sebagai daerah penghasil bibit ikan kerapu. Dicontohkannya, bibit ukuran 1 centimeter harga seribu, sampai Bontang apabila ukuran 10 centimeter bisa mencapai harga 19 ribu.

“Tidak bisa untung karena mahal ongkos kirimnya daripada harga bibitnya,” ungkapnya.

Saat ini di Bontang memiliki pembibitan di balai bibit milih pemerintah. Namun dirinya menyayangkan sudah tidak aktif selama 5 tahun terakhir. Jikalau pembibitan ikan kerapu itu akfif, maka Nelayan Bontang akan mendapatkan harga bibit ikan kerapu murah.

“Kalau harga bibit murah kami bisa untung lebih banyak dan cepat dalam meningkatkan kapasitas ekspor,” pungkasnya. (al)

KJA Tanjung Limau Pelihara Ikan Napoleon

0
Ikan Napolen merupakan ikan yang dilindungi oleh KKP. Pemanfaatannya terbatas sesuai syarat yang telah ditetapkan KKP. (Yusva Alam)

BONTANG – Kelompok nelayan Keramba Jaring Apung (KJA) Tanjung Limau memelihara Ikan Napoleon, salahsatu ikan yang dilindungi oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Ismail, Pengelola KJA Tanjung Limau menjelaskan, ikan napoleon merupakan salahsatu jenis ikan yang dimiliki kelompoknya, selain membudidayakan ikan kerapu, ikan putih, dan lobster untuk keperluan ekspor dan kebutuhan lokal. Terdapat 11 ekor napolen yang dimiliki, mulai dari ukuran terkecil sampai besar.

Namun Ismail menegaskan, ikan napoleon tersebut tidak diperjual belikan oleh kelompoknya. Ikan tersebut dipelihara hanya untuk menjadi pajangan saja. Untuk mengenalkan ke masyarakat dan Nelayan Bontang khususnya, tentang bentuk ikan napolen sebagai ikan yang dilindungi.

“Masih banyak nelayan yang tidak tahu kalau ikan napoleon itu dilindungi,” kata Ismail, saat diwawancara Radarbontang.com beberapa waktu lalu.

Di Bontang sulit untuk menemukan ikan napoleon. Ikan napoleon hanya ada di habitat tertentu, seperti Laut Natuna. “Di Bontang ada tapi sudah sedikit sekali. Satu tahun belum tentu bisa dapat 1 ekor,” bebernya.

Berdasarkan informasi yang kami rangkum dari berbagai sumber, ikan napoleon termasuk jenis ikan yang dilindungi. Bukan tidak boleh diperjual belikan, tetapi ada syarat-syarat tertentu agar dapat diperjual belikan.

Hal ini lantaran harga ikan napoleon di pasar global cukup tinggi. Harga per 1 kilogram dapat mencapai Rp 1 juta. Hal ini yang membuat keberadaan ikan napolen jadi terbatas, karena banyak diburu.

KKP mengeluarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 37 Tahun 2013 tentang Penetapan Status Perlindungan Terbatas Ikan Napoleon.

Melalui keputusan ini tidak semua ukuran ikan napoleon dilarang untuk dimanfaatkan. Perlindungan ikan napoleon dengan status terbatas untuk ukuran tertentu.

Syarat perlindungan terbatas untuk ukuran tertentu, yaitu, pertama, ikan napoleon berukuran dari 100 (seratus) gram sampai dengan 1000 (seribu) gram, dan kedua, ikan napoleon lebih dari 3000 (tiga ribu) gram.

Dengan demikian, ukuran ikan napoleon yang dilarang dimanfaatkan 100 gram – 1000 gram dan ukuran di atas 3000 gram. Terdapat pula pengecualian, diperbolehkan untuk kegiatan penelitian dan pengembangan.

Ukuran panjang ikan Napoleon mempunyai korelasi dengan ukuran berat. Ikan napoleon dengan berat 1000 gram mempunyai panjang total sekitar 38 centimeter. Napoleon dengan berat sekitar 3000 gram mempunyai panjang sekitar 55 centimeter.

Perlindungan terbatas ikan napoleon ini, untuk menjaga, menjamin keberadaan, dan ketersediaan ikan napoleon yang telah mengalami penurunan populasi. (al)

Salimah Bontang Berbagi Cinta untuk Ibu Pejuang

0

BONTANG – Pengurus Daerah (PD) Salimah Kota Bontang bekerjasama dengan Baitul Mall Barokatul Ummah (BMBU) menggelar pemberian penghargaan dan berbagi bingkisan untuk ibu-ibu pejuang (janda dan duafa), Minggu 18 Desember 2022 di PC Salimah Bontang Selatan.

Ketua PD Salimah Bontang Mutmainah mengatakan ada sebanyak 30 orang yang terdiri dari ibu-ibu janda dan duafa sebagai penerima bantuan.

“Salimah sebagai organisasi masyarakat yang peduli perempuan, anak dan keluarga Indonesia menghargai dan mengapresiasi perjuangan ibu-ibu yang karena beberapa sebab harus berjuang sendiri dalam memenuhi kebutuhan keluarga,” bebernya.

Dijelaskannya, selain kegiatan berbagi bingkisan, dalam rangka meningkatkan kualitas kehidupan ibu, anak dan  keluarga Indonesia, Salimah juga memiliki beberapa program. Di antaranya adalah Komunitas Orang Tua Bijak, Pendampingan dan Pembinaan anak Yatim dan Duafa (P2AYD), Baitul Quran Salimah (BQS), Sekolah Pra Nikah Salimah Indonesia (Serasi), dan Kajian Rutin Salimah (Kanyin Salimah). (mk)

Khitanan Massal Yayasan Masjid Fathul Khoir Diikuti 157 Peserta

0

BONTANG – Yayasan Masjid Fathul Khoir Bontang mengadakan khitanan massal, Minggu (18/12/22) pagi. Khitanan berlangsung di Masjid Fathul Khoir, Perumahan Bukit Sekatup Damai (BSD) dan ruangan Taman Pendidikan AlQuran (TPA) Fathul Khoir yang bersebelahan dengan masjid.

Panitia khitanan massal, Yose Yasman menjelaskan, kegiatan ini diperuntukkan seluruh masyarakat Bontang.  Bahkan ada pula yang berasal dari luar Bontang.

“Tidak hanya dari Bontang, ada juga beberapa dari Marangkayu,” Jelas Yose saat diwawancara wartawan Radarbontang.com.

Informasi dan pendaftaran telah disebar dan dibuka  sejak awal Desember. Alhasil di kegiatan ini terkumpul sebanyak 157 peserta khitan.

“Saat pendaftaran selama dua hari saja, sudah tembus seratus pendaftar. Rencana awal kuotanya hanya 100, tapi akhirnya kami tambah jadi 150, karena pendaftar cukup banyak. Kami cadangkan lagi 10, sampai saat ini yang terdaftar sebanyak 175,” Jelas Yose yang juga menjabat Sekretaris Yayasan Masjid Fathul Khoir.

Menggelar kegiatan ini Yayasan Masjid Fathul Khoir bekerjasama dengan Rumah Sakit Pupuk Kaltim. RS Pupuk Kaltim menurunkan 45 tenaga medis.

“Sebelum dikhitan anak-anak kami beri sarapan dan sarung. Selesai khitan kami beri bingkisan dan tas yang di dalamnya sudah ada buku tulis,” lanjutnya.

Sumiyati, salah satu orang tua peserta khitan cukup senang dengan adanya khitanan massal ini.

“Saya rasa ini (khitanan massal) baru ada lagi setelah covid kemarin, alhamdulillah anak saya sudah bisa melaksanakan khitan,” ucap Sumiyati.

Rayhan, peserta khitan berterima kasih karena bisa mengikuti khitan tersebut. “Awalnya agak takut, tapi tidak apa-apa. Terima kasih untuk bingkisan dan hadiah karena saya sudah selesai disunat,” ucap Rayhan senang. (sya)