Beranda blog Halaman 111

Wisuda Anak, Kenangan Lama, dan Panasnya GOR Unmul

0
Bersama istri dan putri saya, Alfiani Hanifah Salsabila, usai Wisuda Universitas Mulawarman Gelombang I Tahun 2026. Foto: Istimewa

Baru hari ini saya sempat menulis tentang momen ini. Bukan karena lupa, tapi memang satu bulan terakhir aktivitas cukup padat. Dari urusan pekerjaan, agenda luar kota, sampai rutinitas harian yang nyaris sambung terus dari pagi hingga malam.

Padahal, ada satu hari yang sebenarnya sangat membekas tahun ini. Sabtu, 18 April 2026. Hari ketika saya kembali masuk ke GOR 27 September Universitas Mulawarman (Unmul) setelah 24 tahun.

Kalau tahun 2002 saya datang sebagai wisudawan Fakultas Kehutanan Unmul, maka setelah 24 tahun, saya datang sebagai orang tua.

Putri pertama saya, Alfiani Hanifah Salsabila, resmi menyelesaikan pendidikannya di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unmul, Jurusan Ilmu Komputer. Empat tahun menjalani perkuliahan, akhirnya hari wisuda itu tiba juga. Sebagai orang tua, tentu ada rasa bangga yang sulit dijelaskan.

Hari itu dimulai lebih pagi dari biasanya. Pukul 03.00 WITA saya sudah bangun. Subuh-subuh saya mengantar istri dan anak lebih dulu untuk make up di salah satu salon di Jalan DI Panjaitan Samarinda. Setelah itu lanjut sesi foto di Taman Cerdas Samarinda. Putri saya memang sudah mengatur janji dengan fotografer beberapa hari sebelumnya.

Saya tahu momen seperti ini tentu tidak terulang lagi dengan cara yang sama. Apalagi ini wisuda anak pertama, rasanya memang berbeda.

Pagi itu suasana di Taman Cerdas juga sudah ramai. Beberapa wisudawan lain datang lebih dulu untuk foto sebelum berangkat ke kampus. Ada yang masih merapikan toga, ada yang sibuk memegang buket bunga, ada yang tertawa sambil mengatur pose foto. Orang tua juga terlihat sibuk memastikan semuanya sempurna.

Sekitar satu jam foto-foto, kami bergerak menuju GOR 27 September. Jaraknya sebenarnya dekat, tidak sampai lima menit. Tapi arus kendaraan sudah mulai padat. Mobil perlahan merayap menuju area kampus.

Saya sempat berpikir pasti akan sulit parkir. Untungnya, kami masih dapat parkir di area seberang GOR.

Begitu turun dari mobil, suasana langsung terasa berbeda. Ribuan orang memadati kawasan sekitar gedung. Orang tua, keluarga, kerabat, mahasiswa, semua bercampur menjadi satu. Suasana wisuda sekarang terasa jauh lebih ramai dibanding masa saya dulu.

Di sepanjang jalan menuju gedung berdiri banyak lapak suvenir. Buket bunga warna-warni, boneka wisuda, karangan uang, sampai jasa cetak foto instan. Fotografer juga membuka lapak sendiri-sendiri. Ada yang membawa kamera besar lengkap dengan lampu, ada yang menawarkan paket foto keluarga langsung jadi.

Saya sempat memperhatikan suasana di luar gedung. Wisuda ternyata juga membawa berkah bagi banyak orang. Pedagang suvenir ramai, fotografer sibuk melayani antrean foto, sampai penjual makanan ikut dipadati pengunjung.

Begitu masuk ke dalam GOR, suasananya langsung berbeda. Lebih tenang dan formal. Tribun hampir penuh. Para wisudawan duduk rapi mengenakan toga hitam, sementara keluarga mereka sibuk mencari posisi terbaik untuk melihat prosesi wisuda.

Dari atas tribun, pemandangan itu cukup menarik. Ribuan mahasiswa duduk dalam satu arena besar. Sebagian terlihat serius, sebagian lagi masih sibuk selfie sebelum prosesi dimulai.

Tidak lama kemudian, Rektor Universitas Mulawarman, Prof. Dr. Ir. H. Abdunnur, M.Si., IPU., ASEAN Eng., bersama jajaran senat memasuki ruangan. Semua hadirin berdiri.

CATATAN Wisuda Anak1
Saya  dan istri mendampingi putri mereka, Alfiani Hanifah Salsabila, mengabadikan foto di Taman Cerdas Samarinda. Foto: Istimewa

Melihat prosesi itu, saya jadi teringat saat masih duduk sebagai wisudawan dulu.

Dulu saya berdiri di tempat yang sama sebagai wisudawan. Tapi kali ini, saya berdiri sebagai ayah yang menyaksikan putri saya dipanggil menuju panggung.

Unmul pada wisuda Gelombang I Tahun 2026 ini mengukuhkan sebanyak 1.617 lulusan. Terdiri dari 12 Diploma, 1.323 Sarjana, 139 Profesi, 136 Magister, dan 7 Doktor. Sebanyak 244 orang lulus dengan predikat cum laude dan 63 persen wisudawan didominasi perempuan.

Dalam sambutannya, Rektor menyampaikan bahwa capaian para wisudawan bukan sekadar angka. “Angka-angka prestasi ini bukan sekadar statistik, tetapi cerminan dari kerja keras, ketekunan, dan semangat pantang menyerah yang telah mengiringi perjalanan para wisudawan,” ujar Prof. Abdunnur.

Ia juga memaparkan capaian Unmul beberapa tahun terakhir. Mulai dari ribuan publikasi ilmiah nasional dan internasional, penghargaan Gold Winner SINTA dari Diktisaintek selama dua tahun berturut-turut, hingga peningkatan prestasi mahasiswa di level nasional dan internasional.

Tahun 2025 saja, prestasi mahasiswa tingkat nasional mencapai 596 orang, naik jauh dibanding 2022 yang hanya 96 orang. Sementara prestasi internasional meningkat dari hanya satu orang menjadi 247 orang.

Sebagai alumni, tentu saya bangga mendengarnya.

Tapi di tengah suasana khidmat itu, ada satu hal yang menurut saya masih menjadi pekerjaan rumah lama: panasnya gedung ini.

Setelah 24 tahun, persoalan itu ternyata masih terasa sama. Memang ada kipas di beberapa titik. AC juga terlihat dipasang, terutama di area VIP bawah. Tapi untuk ukuran gedung sebesar ini dengan ribuan orang di dalamnya, udara tetap terasa panas dan pengap.

Beberapa orang tua mulai terlihat gelisah. Ada yang berdiri mencari angin, ada yang mengipas-ngipas menggunakan kertas undangan.

Saya dan istri sempat berencana keluar lebih awal karena ada agenda lain. Tapi ternyata tidak bisa. Seluruh pintu keluar terkunci. Petugas menyampaikan kuncinya dipegang panitia. Praktis tidak ada yang bisa keluar sementara waktu.

Di sebelah saya, seorang orang tua berkomentar pelan sambil tersenyum, “Kalau ruangannya dingin mungkin betah lama-lama.”

Saya tidak sedang membandingkan Unmul sekarang dengan masa lalu secara berlebihan. Justru banyak kemajuan yang terlihat. Prestasi naik, jumlah lulusan meningkat, reputasi kampus juga semakin baik.

Namun pengalaman para orang tua dan keluarga di dalam gedung juga penting diperhatikan.

Karena hari wisuda bukan hanya milik kampus atau mahasiswa. Di dalam gedung itu ada banyak orang tua yang ikut berjuang dari awal. Ada yang bertahun-tahun membiayai kuliah anaknya, ada juga keluarga yang datang dari jauh hanya untuk menyaksikan anak mereka dipanggil ke depan.

CATATAN Wisuda Anak2
Momen Alfiani Hanifah Salsabila menerima ucapan selamat usai prosesi wisuda Universitas Mulawarman di GOR 27 September Samarinda, Sabtu (18/4/2026). Foto: Istimewa

Dan hari itu, saya merasakan semuanya.

Saya melihat wajah anak saya saat menerima map kelulusannya. Saya melihat senyum lega setelah empat tahun perjuangan. Dan di momen itu, rasa panas, lelah, dan padatnya suasana tiba-tiba terasa tidak terlalu penting lagi.

Karena sebagai orang tua, ada kebahagiaan tersendiri saat melihat anak menyelesaikan pendidikannya dengan baik.

Di GOR 27 September itu, saya tidak hanya melihat ribuan wisudawan. Saya melihat banyak perjuangan yang akhirnya terbayar di hari itu.

Dan setelah acara selesai, mereka akan kembali menjalani kehidupan masing-masing, dengan cerita dan tantangan yang tentu sudah berbeda.

Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.

Ujung Tombak Kemakmuran Masjid, Insentif Imam dan Marbot Dinaikkan Jadi Rp 2 Juta

0
Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris saat menghadiri kegiatan pembinaan dan pelatihan imam masjid. (Ist).

BONTANG – Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris, menegaskan peran penting imam dan marbot sebagai ujung tombak dalam memakmurkan rumah ibadah.

Menurutnya, dedikasi dan keikhlasan para pegiat agama menjadi kunci dalam menjadikan masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat pendidikan dan pembinaan karakter umat.

Hal tersebut disampaikannya dalam kegiatan pembinaan dan pelatihan bagi imam dan marbot masjid. Agus Haris menilai, keberadaan mereka sangat strategis dalam menjaga kualitas kehidupan keagamaan di tengah masyarakat.

“Para imam dan marbot memiliki peran vital. Dedikasi dan keikhlasan mereka adalah fondasi, dalam menjadikan masjid sebagai pusat pendidikan dan pembinaan karakter umat,” ucapnya, Sabtu (2/5/2026).

Sebagai bentuk dukungan, Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang telah mengambil langkah strategis dengan meningkatkan nilai insentif bagi para pegiat agama. Kebijakan ini diharapkan, mampu meningkatkan kesejahteraan sekaligus mendorong optimalisasi peran mereka di masyarakat.

“Alhamdulillah, insentif yang sebelumnya Rp1,1 juta kini telah dinaikkan menjadi Rp2 juta per bulan, bagi marbot dan pemuka agama lainnya. Kenaikan ini adalah amanah agar dapat menjalankan tugas dengan lebih tenang dan fokus,” tambahnya.

Meski demikian, Agus Haris menekankan bahwa peningkatan kesejahteraan harus diiringi dengan peningkatan tanggung jawab dan kapasitas diri. Ia berharap pelatihan yang diberikan mampu melahirkan imam yang tidak hanya fasih dalam bacaan, tetapi juga mampu menjadi figur pemersatu jemaah.

Begitu pula dengan marbot, mereka diharapkan dapat mengelola rumah ibadah secara profesional, sehingga menciptakan kenyamanan bagi jemaah dalam beribadah.

“Dengan peningkatan kapasitas ini, kita berharap masjid dapat benar-benar menjadi pusat pembinaan umat yang membawa dampak positif bagi masyarakat luas,” tutupnya.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Bontang Kekurangan 127 Guru, Dewan Dorong Koordinasi dengan Kementerian

0
Ilustrasi kekurangan guru di Kota Bontang. (AI)

BONTANG – Ketersediaan tenaga pengajar di dunia pendidikan di wilayah Kota Bontang, saat ini menjadi perhatian serius.

DPRD Bontang mengungkapkan, Bontang mengalami kekurangan sekitar 127 tenaga guru, di tengah kebijakan baru yang membatasi perekrutan tenaga non-ASN di sektor pendidikan.

Kondisi ini dinilai berpotensi mengganggu proses belajar mengajar di sekolah. Pasalnya, selama ini kebutuhan guru turut ditopang oleh tenaga non-ASN, maupun skema outsourcing yang kini tidak lagi diperbolehkan sesuai regulasi dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

“Iya, kita hari ini kekurangan sekitar 120-an tenaga pengajar. Apalagi di regulasi tidak boleh lagi selain ASN. Ini adalah kebijakan dari kementerian,” ucap Ketua DPRD Bontang, Andi Faizal Sofyan Hasdam, Minggu (3/5/2026).

Menyikapi hal tersebut, DPRD bersama Dinas Pendidikan Kota Bontang berencana melakukan audiensi untuk mencari solusi, atas persoalan kekurangan guru tersebut.

Koordinasi juga akan dilakukan, guna menindaklanjuti surat edaran atau kebijakan resmi dari kementerian, agar penerapannya di daerah tidak berdampak besar terhadap layanan pendidikan.

“Kepala Dinas Pendidikan bersama Komisi I DPRD akan mengadakan audiensi. Karena kalau kita terapkan langsung di Bontang, tentu akan semakin terasa kekurangan guru, untuk mengajar anak-anak di sekolah,” lanjutnya.

Ia menegaskan, dengan kondisi saat ini saja, jumlah tenaga pengajar sudah tidak mencukupi. Pembatasan perekrutan non-ASN dinilai akan semakin memperparah kekurangan tersebut.

“Kalau kita melihat jumlah yang sekarang pun memang sudah kurang, apalagi sampai dibatasi. Tidak boleh lagi outsourcing, padahal sebelumnya itu menjadi solusi untuk menutup kekurangan guru,” jelasnya.

DPRD menilai penting untuk menyampaikan kondisi riil di lapangan kepada pemerintah pusat. Harapannya, ada kebijakan yang lebih fleksibel atau solusi konkret, agar kebutuhan tenaga pengajar di daerah khususnya di Bontang tetap terpenuhi.

“Pastinya kita akan sampaikan kondisi sebenarnya. Kalau memang tidak boleh lagi non-ASN, tentu kita akan kekurangan tenaga pengajar. Dampaknya pasti ke anak-anak di Bontang yang akan kekurangan guru,” tutupnya.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Rumah Susun untuk Hakim dan Staf MA Ditarget Rampung 2029

0
Rumah susun BIN-Polri yang telah berdiri di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN. Ke depan, hunian untuk Mahkamah Agung juga akan disiapkan. (Atmaja Riski/Media Kaltim)

NUSANTARA — Pemerintah mulai merancang pembangunan rumah susun negara untuk staf hingga pejabat Mahkamah Agung Republik Indonesia di kawasan Ibu Kota Nusantara.

Tim Naskah Urgensi Mahkamah Agung pun datang langsung ke IKN guna melihat desain kawasan dan fasilitas hunian yang akan dibangun.

Direktur Sarana Prasarana Dasar Otorita IKN, Cakra Nagara, menjelaskan kawasan rumah susun negara untuk Mahkamah Agung akan berada sekitar 1,2 kilometer dari gedung kantor MA di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP).

Konsep tersebut dirancang agar para penghuni dapat berjalan kaki menuju kantor sehingga mengurangi penggunaan kendaraan.

“Sehingga diharapkan seluruh staf MA nantinya dapat berjalan kaki menuju gedung kantor MA, sehingga mengurangi penggunaan kendaraan,” jelas Cakra saat memberikan paparan kepada Tim Naskah Urgensi MA di IKN, Rabu (29/4/2026).

Dalam pemaparannya, rumah susun negara untuk Mahkamah Agung direncanakan terdiri dari tiga tipe hunian.

Rinciannya, tipe 65 sebanyak empat tower, tipe 45 sebanyak enam tower, dan tipe 390 sebanyak lima tower.

Pembangunan hunian tersebut ditargetkan selesai paling lambat Januari 2029.

“Pembangunan rumah susun negara untuk MA direncanakan selesai maksimal pada Januari 2029,” ujarnya.

Sementara itu, anggota Tim Naskah Urgensi MA, Fikri Habibi, mengatakan kunjungan tersebut bertujuan melihat langsung konsep hunian negara yang telah dibangun di IKN.

“Kami Tim Naskah Urgensi MA mendapat kesempatan untuk mengunjungi rumah susun negara di IKN. Melihat secara langsung bentuk dan fasilitas-fasilitas yang tersedia di lingkungan rumah susun negara tersebut,” ujarnya.

Tim Penyusunan Naskah Urgensi Perubahan Kelima atas Keputusan Ketua Mahkamah Agung Nomor 143/KMA/SK/VIII/2007 tersebut terdiri dari gabungan Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat MA serta Pusat Strategi Kebijakan Hukum dan Peradilan MA.

Kunjungan ke IKN dilakukan untuk memperoleh data dan masukan riil dalam penyusunan standar rumah dinas hakim, kendaraan fungsional, serta bangunan kantor berbasis beban perkara guna meningkatkan efektivitas pelayanan peradilan.

Dalam kunjungan itu, Tim Naskah Urgensi MA juga disambut Deputi Bidang Sarana dan Prasarana OIKN, Aswin Grandiarto Sukahar bersama jajaran pejabat Otorita IKN di Gedung Kemenko 3 Tower 1, IKN. (MK)

Penulis: Atmaja Riski
Editor: Agus S

Peserta DA8 Diminta Tampil Maksimal Menuju Panggung Nasional

0
Fildan Rahayu dan Valen DA7 saat menyapa peserta audisi. (Istimewa)

BALIKPAPAN — Ajang pencarian bakat dangdut D’Academy kembali hadir menyapa masyarakat melalui audisi offline “D’Academy 8 (DA8)” yang digelar di Kota Balikpapan, Sabtu (2/5/2026).

Audisi berlangsung di Hotel Horison Sagita dan disambut antusias peserta dari berbagai daerah di Kalimantan Timur.

Kehadiran dua nama besar jebolan D’Academy turut menambah semarak suasana, yakni Fildan Rahayu sebagai juri dan Valen DA7 sebagai bintang tamu.

Kesuksesan musim sebelumnya yang melahirkan sejumlah penyanyi dangdut muda seperti Tasya DA7, April DA7, Arbil DA7, dan Mila DA7 menjadi modal kuat penyelenggara untuk kembali mencari talenta baru.

Direktur Emtek Media, Harsiwi Achmad, mengatakan pihaknya sangat mengapresiasi antusiasme masyarakat terhadap ajang tersebut.

“Kami berharap kehadiran para alumni D’Academy dan LIDA dalam audisi offline ini dapat menginspirasi peserta untuk tampil maksimal dan siap melangkah ke panggung besar di Jakarta,” ujarnya.

Sebelumnya, audisi offline DA8 telah digelar di sejumlah daerah seperti Musi Banyuasin, Medan, Sidenreng Rappang, dan Makassar.

Setelah Balikpapan, audisi akan berlanjut ke Kabupaten Cirebon pada 3 Mei, Surabaya 9 Mei, dan Jakarta 10 Mei 2026.

Audisi ini terbuka bagi masyarakat umum berusia 14 hingga 23 tahun dengan syarat merupakan warga negara Indonesia, tidak terikat kontrak dengan label atau manajemen artis, serta memiliki kemampuan menyanyikan lagu dangdut atau melayu.

Pihak penyelenggara juga menegaskan seluruh proses audisi tidak dipungut biaya dan mengimbau masyarakat waspada terhadap segala bentuk penipuan yang mengatasnamakan Indosiar.

Salah satu peserta asal Samarinda, Zahra, mengaku langsung mempersiapkan diri begitu mengetahui audisi digelar di Balikpapan.

“Tau akan ada audisi di Balikpapan ini aku langsung menyiapkan diri pastinya. Aku belajar nyanyi biar nggak gerogi aja. Dan sekarang aku siap sih sudah,” ujarnya.

Sementara itu, Fildan Rahayu mengaku sangat antusias bertemu langsung dengan para peserta audisi di Balikpapan.

“Tadi bagus-bagus ya, beragam punya ciri khas masing-masing,” katanya.

Ia berharap Kalimantan Timur kembali melahirkan penyanyi dangdut berbakat yang mampu menembus panggung nasional hingga internasional, seperti Putri DA.

“Kan sudah pernah ada Putri DA ya, dengan audisi ini pastinya kami berharap akan ada Putri-putri lainnya lagi yang bisa nasional atau internasional. Karena dangdut saat ini sudah mendunia,” tutupnya. (MK)

Penulis: Aprianto
Editor: Agus S

Komika Kaltim Ajak Penonton Rayakan Perjuangan Anak Rantau

0
Flyer event “Peran(G)tau”. (Istimewa)

PENAJAM PASER UTARA — Sebuah koper penuh harapan, tiket pesawat satu kali jalan, dan doa orang tua yang tertinggal di kampung halaman menjadi simbol perjalanan banyak anak muda Kalimantan Timur yang memilih merantau demi pendidikan dan masa depan.

Realita itu kini diangkat menjadi sebuah pertunjukan stand up comedy bertajuk “Peran(G)tau”, yang menghadirkan kisah getir, lucu, sekaligus penuh perjuangan kehidupan anak rantau.

Pertunjukan ini digagas dua putra daerah Kalimantan Timur, Adam Aliansyah dan Rama Indrawan, yang membawa pengalaman pribadi mereka ke atas panggung.

Melalui materi komedi, keduanya mengangkat berbagai realita kehidupan perantau, mulai dari culture shock, perjuangan bertahan hidup di kota orang, hingga rasa rindu rumah yang sering dipendam sendiri.

“Merantau bukan sekadar pindah alamat. Kadang kita harus pura-pura kuat saat keadaan sebenarnya tidak baik-baik saja,” ungkap penyelenggara dalam keterangan promosinya.

Dalam pertunjukan tersebut, berbagai pengalaman khas anak rantau dikemas menjadi komedi yang hangat dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Mulai dari perjuangan menghadapi tanggal tua, hidup serba pas-pasan, menahan lapar, hingga tekanan untuk sukses demi membanggakan keluarga di kampung halaman.

Namun di balik semua itu, “Peran(G)tau” tidak hanya ingin menghadirkan tawa, tetapi juga menjadi ruang refleksi dan perayaan bagi mereka yang sedang bertahan mengejar mimpi.

“Kami ingin membawa perspektif perantau Kaltim ke panggung. Mulai dari culture shock, cara bertahan hidup, sampai keresahan yang sering tidak terlihat di media sosial. Ini juga jadi ajang reuni bagi mereka yang merasa senasib,” ujar penyelenggara.

Pertunjukan “Peran(G)tau” dijadwalkan berlangsung di dua daerah, yakni Kabupaten Penajam Paser Utara pada 11 Juli 2026 dan Kabupaten Paser pada 18 Juli 2026.

Panitia menargetkan sekitar 100 hingga 150 penonton di setiap pertunjukan.

Tiket dibanderol seharga Rp50 ribu dengan promo early bird yang telah dibuka untuk penonton yang ingin mendapatkan harga khusus lebih awal.

Selain pertunjukan, panitia juga membuka peluang kerja sama bagi sponsor yang ingin mendukung perkembangan dunia stand up comedy di Kalimantan Timur, khususnya di wilayah Benuo Taka dan Daya Taka.

Melalui “Peran(G)tau”, penonton diajak tidak sekadar menikmati komedi, tetapi juga menertawakan berbagai drama kehidupan di tanah rantau yang selama ini sering dirasakan banyak orang namun jarang diceritakan secara terbuka. (MK)

Penulis: Aprianto
Editor: Agus S

Prabowo Tegaskan Pekerja Rumah Tangga Kini Punya Payung Hukum

0
Presiden Prabowo Subianto saat memberikan pidato dalam peringatan May Day di Monas, Jakarta Pusat. (Dok. BPMI Setpres)

JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto mengumumkan bahwa Indonesia kini resmi memiliki Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (UU PPRT), regulasi yang telah diperjuangkan selama lebih dari dua dekade.

Pengumuman tersebut disampaikan dalam peringatan May Day 2026 di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Jumat (1/5/2026).

Dalam pidatonya, Prabowo menegaskan pengesahan UU PPRT menjadi tonggak sejarah baru bagi perlindungan pekerja rumah tangga di Indonesia.

“Hari ini saya bisa melaporkan kepada saudara-saudara bahwa kita telah mengesahkan Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga. Kalau tidak salah, ini adalah perjuangan lama. Perjuangan 22 tahun,” ujarnya.

Menurut Prabowo, sejak Republik Indonesia berdiri, belum pernah ada regulasi khusus yang mengatur perlindungan pekerja rumah tangga secara menyeluruh.

Karena itu, kehadiran UU PPRT dinilai menjadi langkah penting untuk memastikan pekerja domestik mendapatkan hak dan perlindungan yang layak.

“Bahkan selama republik berdiri, belum pernah ada undang-undang perlindungan pembantu rumah tangga. Undang-undang perlindungan pekerja rumah tangga, belum pernah ada,” tegasnya.

Ia menjelaskan selama ini banyak pekerja rumah tangga berada dalam posisi rentan karena tidak memiliki kepastian mengenai upah, jam kerja, maupun jaminan perlindungan sosial.

“Selama ini pekerja-pekerja rumah tangga kita entah dibayar upah berapa, tidak jelas. Sekarang, pertama kali dalam sejarah NKRI, kita sahkan undang-undang perlindungan pekerja rumah tangga,” katanya.

UU PPRT diharapkan mampu menghadirkan kepastian hukum bagi jutaan pekerja rumah tangga di Indonesia yang selama ini bekerja di sektor informal tanpa perlindungan memadai.

Dari sisi historis, perjalanan pembentukan regulasi ini memang cukup panjang.

Rancangan Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga pertama kali diusulkan oleh Jaringan Advokasi Nasional Pekerja Rumah Tangga sejak tahun 2004.

Namun pembahasannya berulang kali tertunda di parlemen hingga akhirnya resmi disahkan DPR dalam rapat paripurna pada Selasa, 21 April 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Kartini.

Pengesahan UU PPRT dinilai menjadi bagian penting reformasi sektor ketenagakerjaan, khususnya bagi kelompok pekerja domestik yang selama ini sering luput dari perhatian kebijakan publik.

Pemerintah berharap melalui undang-undang ini tidak ada lagi praktik kerja tanpa standar, sekaligus memastikan pekerja rumah tangga mendapatkan perlakuan yang adil, layak, dan manusiawi. (MK)

Penulis: Fajri
Editor: Agus S

PLN Bangun Jalur Alternatif Kelistrikan Baru dari Grogot ke Sei Durian

0
Aktivitas pekerjaan erection dan instalasi terus dipacu di area GI 150 kV Grogot guna memperkuat keandalan interkoneksi kelistrikan Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. (Istimewa)

PASER — Aktivitas pembangunan Gardu Induk (GI) 150 kV Grogot di Kabupaten Paser terus dikebut PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Kalimantan Bagian Timur (PLN UIP KLT).

Proyek tersebut menjadi bagian penting dalam memperkuat sistem interkoneksi kelistrikan antara Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan.

Melalui Unit Pelaksana Proyek Kalimantan Bagian Timur 1 (UPP KLT 1), PLN saat ini fokus mempercepat pembangunan Extension 2 Line Bay arah GI Sei Durian sebagai jalur alternatif sistem transmisi antarwilayah.

Tahapan pekerjaan kini memasuki fase erection dan installation atau pemasangan berbagai peralatan utama gardu induk.

Ratusan komponen vital mulai dipasang secara bertahap, di antaranya Disconnecting Switch (DS), Circuit Breaker (CB), Current Transformer (CT), Capacitive Voltage Transformer (CVT), hingga Lightning Arrester (LA).

Selain itu, pemasangan konduktor busbar juga terus dilakukan sebagai bagian dari jalur distribusi utama daya listrik antarwilayah di Kalimantan.

General Manager PLN UIP KLT, Basuki Widodo, mengatakan proyek tersebut merupakan jawaban atas kebutuhan sistem kelistrikan yang terus meningkat di Kalimantan.

Menurutnya, selama ini sistem transmisi dari Kalimantan Selatan menuju Kalimantan Timur masih bertumpu pada satu jalur utama, yakni GI Tanjung menuju GI Kuaro.

“Kami sedang membangun jalur alternatif yang kuat. Dengan hadirnya koneksi dari GI Grogot menuju GI Sei Durian ini, sistem kelistrikan kita memiliki fleksibilitas tinggi. Jika terjadi gangguan di satu jalur, jalur ini siap menyokong, sehingga risiko padam di masyarakat bisa kita minimalisir sedini mungkin,” tegas Basuki.

Dengan hadirnya jalur baru tersebut, PLN berharap keandalan sistem interkoneksi antarprovinsi semakin meningkat sekaligus meminimalisir potensi gangguan pasokan listrik.

Sementara itu, Manager PLN UPP KLT 1, I Made Gita Prawira, menjelaskan seluruh proses pekerjaan dilakukan dengan standar keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang ketat.

Menurutnya, pemasangan peralatan gardu induk merupakan pekerjaan dengan tingkat presisi tinggi sehingga setiap tahapan harus melalui pengawasan dan pengujian detail.

“Ini adalah pekerjaan presisi tinggi. Mulai dari mendirikan struktur baja hingga menempatkan peralatan sensitif seperti CB dan CT, semua ada hitungannya. Tim di lapangan bekerja dengan koordinasi yang solid, memastikan setiap pengujian awal dilakukan tanpa cela sebelum tiba waktunya energize,” jelasnya.

Proyek yang dikerjakan oleh KSO Usaha Bakti Perkasa – PT Mahameru Energi Semesta tersebut telah menunjukkan progres positif sejak dimulai pada pertengahan April 2026.

PLN menegaskan pembangunan Extension 2 Line Bay GI Grogot bukan sekadar penambahan aset infrastruktur, tetapi bagian dari komitmen menghadirkan pasokan listrik yang stabil dan andal bagi pertumbuhan ekonomi serta aktivitas masyarakat di Kalimantan. (MK)

Penulis: Aprianto
Editor: Agus S

Albertina Ho Kagum dengan Pembangunan dan Lingkungan IKN

0
Rombongan ketua pengadilan tinggi di Indonesia saat mengunjungi IKN, melihat lokasi pembangunan gedung Mahkamah Agung dan melakukan penanaman pohon. (Dok. Otorita)

NUSANTARA — Sejumlah Ketua Pengadilan Tinggi dari berbagai daerah di Indonesia mengunjungi Ibu Kota Nusantara (IKN), Jumat (1/5/2026).

Rombongan tersebut berasal dari berbagai wilayah, mulai dari Bangka Belitung, Kalimantan Timur, hingga Daerah Khusus Jakarta.

Dalam kunjungan tersebut, Ketua Pengadilan Tinggi Kalimantan Timur, Albertina Ho, mengaku kagum setelah melihat langsung perkembangan kawasan inti IKN, khususnya Plaza Yudikatif.

Menurutnya, kondisi IKN jauh melampaui bayangan dan ekspektasi yang selama ini berkembang.

“Satu hal yang sangat luar biasa, yang kami saksikan di sini. Betul-betul di luar ekspektasi kami, tidak bisa kami bayangkan IKN ini sebelumnya. Baik dari bangunannya, lingkungannya, ternyata memang betul-betul dijaga,” ungkap Albertina Ho.

Selama berada di kawasan Nusantara, rombongan mengikuti berbagai rangkaian kegiatan, mulai dari penanaman pohon di Plaza Yudikatif hingga meninjau langsung lokasi pembangunan gedung Mahkamah Agung (MA).

Rombongan ketua pengadilan tinggi di Indonesia saat mengunjungi IKN, melihat lokasi pembangunan gedung Mahkamah Agung dan melakukan penanaman pohon. (Dok. Otorita)

Selain itu, rombongan juga diajak melihat sejumlah ikon kawasan IKN seperti Taman Kusuma Bangsa, Masjid Negara, dan Gereja Katolik Santo Fransiskus Xaverius.

Kunjungan tersebut turut didampingi langsung Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, bersama jajaran Otorita Nusantara.

Deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Otorita IKN, Myrna Asnawati Safitri, mengatakan penanaman pohon yang dilakukan bersama rombongan menjadi simbol komitmen menjaga keseimbangan pembangunan dan kelestarian lingkungan.

“Mohon izin sebelum bapak ibu berkantor di sini, kami izin untuk menghijaukan dulu kawasan ini. Penanaman ini adalah komitmen kita untuk keadilan terhadap lingkungan, itulah spirit dari pembangunan Ibu Kota Nusantara,” ujarnya.

Sedikitnya terdapat tiga jenis pohon yang ditanam, yakni Bungur, Nyamplung, dan Tanjung yang diharapkan menjadi bagian dari penguatan ekosistem hijau di kawasan IKN.

Kunjungan para pimpinan lembaga peradilan tersebut dinilai semakin mempertegas sinergi antarlembaga negara dalam mendukung pembangunan Ibu Kota Nusantara sebagai pusat pemerintahan masa depan Indonesia. (MK)

Penulis: Atmaja Riski
Editor: Agus S

Andi Harun Nilai Klarifikasi Rudy Mas’ud Masih Terlalu Umum

0
Andi Harun sebagai kader Partai Gerindra saat diwawancarai. (Dimas/Media Kaltim)

SAMARINDA — Wali Kota Samarinda sekaligus kader senior Partai Gerindra, Andi Harun, turut angkat bicara terkait polemik pernyataan Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, yang belakangan menjadi sorotan publik dan kader partai.

Andi Harun menyarankan agar Rudy Mas’ud menyampaikan permintaan maaf secara langsung dan personal kepada Presiden RI Prabowo Subianto dan Hashim Djojohadikusumo guna meredam polemik yang berkembang di internal Partai Gerindra.

Persoalan tersebut bermula saat Rudy Mas’ud membela pengangkatan saudaranya, Hijrah, sebagai tim ahli gubernur dengan membandingkannya dengan penunjukan Hashim Djojohadikusumo sebagai utusan kepresidenan.

Ditemui di Anjungan Karangmumus, Balai Kota Samarinda, Jumat (1/5/2026), Andi Harun mengaku mengikuti perkembangan persoalan itu melalui berbagai respons kader Gerindra di media sosial.

Ia mengapresiasi langkah Rudy Mas’ud yang telah menyampaikan klarifikasi dan permintaan maaf, namun menilai masih ada persoalan pada diksi yang digunakan dalam pernyataan tersebut.

“Saya menghormati pernyataan maaf dari Pak Gubernur. Namun, dalam pernyataan awal beliau menyebut nama Pak Hashim dan Pak Prabowo secara eksplisit, sementara dalam klarifikasinya permintaan maaf disampaikan secara umum kepada pemimpin nasional,” ujar Andi Harun.

Menurutnya, penggunaan kalimat yang terlalu umum membuat sebagian kader merasa permintaan maaf tersebut belum sepenuhnya bersifat personal dan tulus.

Untuk menjaga situasi tetap kondusif, Andi Harun menyarankan beberapa langkah yang dinilai penting dilakukan oleh Rudy Mas’ud.

Salah satunya adalah menyampaikan permohonan maaf secara spesifik dan langsung kepada Hashim Djojohadikusumo serta Presiden Prabowo Subianto.

Ia menilai langkah tersebut akan menunjukkan sikap ksatria sekaligus kedewasaan politik dalam menyikapi polemik yang telah menjadi perhatian publik nasional.

Selain itu, permintaan maaf secara langsung juga dinilai dapat meredam gejolak di akar rumput Partai Gerindra, baik di Kalimantan Timur maupun tingkat pusat.

Meski demikian, Andi Harun menegaskan dirinya meyakini Rudy Mas’ud tidak memiliki niat buruk saat menyampaikan pernyataan tersebut.

Namun menurutnya, dalam ruang publik, masyarakat tidak hanya melihat niat, melainkan juga bentuk tanggung jawab dan ketulusan dalam menyelesaikan persoalan.

“Publik tidak hanya melihat unsur niat, tetapi juga bagaimana bentuk tanggung jawab dan ketulusan dalam menyelesaikan persoalan yang muncul,” tambahnya.

Ia berharap polemik tersebut segera berakhir agar dinamika politik di Kalimantan Timur kembali kondusif dan tidak memicu perpecahan berkepanjangan di ruang publik. (MK)

Penulis: Dimas
Editor: Agus S