Beranda blog Halaman 110

Diciduk di Pinggir Jalan, Pria Ini Kedapatan Simpan 5 Poket Sabu Seberat 4,71 Gram

0
Barang bukti yang berhasil diamankan petugas. (Ist).

BONTANG – Upaya pemberantasan peredaran narkotika di Kota Bontang kembali membuahkan hasil. Seorang pria berinisial SI berhasil diamankan Unit II Satresnarkoba Polres Bontang, setelah kedapatan menyimpan lima poket diduga narkotika jenis sabu, di kawasan Jalan Jenderal Soedirman, Kelurahan Tanjung Laut, Kecamatan Bontang Selatan.

Penangkapan tersebut terjadi, Selasa (23/6/2026), sekitar pukul 12.00 Wita. Tersangka SI (35) berhasil diamankan pihak kepolisian, saat ia sedang berada di pinggir jalan dengan gerak-gerik yang sangat mencurigakan.

Kasat Resnarkoba Polres Bontang, Iptu Larto menyampaikan bahwa pengungkapan kasus ini berawal dari laporan masyarakat yang menginformasikan adanya aktivitas peredaran sabu, di Jalan Jenderal Soedirman.

Menindaklanjuti adanya informasi tersebut, anggota Unit II Satresnarkoba Polres Bontang langsung melakukan penyelidikan di lokasi yang dimaksud. Saat melakukan pemantauan, petugas menemukan seorang pria yang sesuai dengan ciri-ciri hasil penyelidikan dan langsung melakukan pemeriksaan.

“Dari hasil penggeledahan, petugas menemukan sejumlah poket yang diduga berisi sabu yang disimpan di dalam dompet dan kantong celana tersangka,” ungkapnya, Rabu (24/6/2026).

Dalam penggeledahan tersebut, polisi juga menemukan empat bungkus plastik bening berisi kristal putih, yang diduga sabu di dalam sebuah dompet berwarna pink, disimpan di saku celana kanan tersangka. Selain itu, satu paket lainnya ditemukan dibungkus tisu kasa dan disimpan di kantong celana sebelah kiri.

“Total barang bukti yang berhasil diamankan berupa lima bungkus plastik bening, berisi kristal putih dengan berat bruto 4,71 gram,” jelasnya.

Polisi pun turut menyita satu unit handphone merek Vivo warna hijau, uang tunai Rp300 ribu yang diduga hasil transaksi narkotika, sebuah dompet warna pink, serta tisu kasa yang digunakan untuk membungkus barang haram tersebut.

“Saat diinterogasi di lokasi, tersangka mengakui seluruh barang bukti yang ditemukan merupakan miliknya,” tambahnya.

Selanjutnya, tersangka bersama seluruh barang bukti dibawa ke Mapolres Bontang, guna menjalani proses penyidikan dan pengembangan lebih lanjut untuk mengungkap kemungkinan, adanya jaringan peredaran narkotika yang lebih luas.

Atas perbuatannya, tersangka disangkakan melanggar Pasal 114 Ayat (1) juncto ketentuan penyesuaian pidana dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku terkait kepemilikan dan peredaran narkotika.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Hanya 3-4 Persen Anggaran Disdag Disebut Langsung Menyentuh Pedagang

0
Ketua Komisi II DPRD Kota Samarinda, Iswandi, saat menyampaikan pandangannya dalam pembahasan serapan anggaran Dinas Perdagangan. (Abdi/Media Kaltim)

SAMARINDA – Komisi II DPRD Kota Samarinda melontarkan kritik tajam terhadap struktur realisasi anggaran Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Samarinda pada Semester I Tahun Anggaran 2026.

Meski secara administratif tingkat serapan anggaran dinilai cukup baik, DPRD menemukan sebagian besar anggaran justru terserap untuk kebutuhan birokrasi dan operasional internal dibanding program yang langsung menyentuh pedagang maupun pasar rakyat.

Berdasarkan data per 18 Juni 2026 setelah pergeseran anggaran kedua, Disdag Samarinda mencatat realisasi anggaran sebesar Rp17,95 miliar atau 54,25 persen dari total pagu Rp33,77 miliar.

Ketua Komisi II DPRD Samarinda, Iswandi, mengatakan angka tersebut memang terlihat baik dari sisi administratif. Namun, pihaknya menilai perlu ditelusuri lebih jauh apakah tingginya serapan itu benar-benar berasal dari pelaksanaan program atau justru didominasi pembayaran kewajiban dan operasional rutin.

“Memang serapannya lumayan, sudah 54,25 persen di pertengahan tahun setelah pergeseran kedua. Secara administratif ini bagus. Tapi yang terpenting bagi saya, serapan tinggi ini karena program berjalan atau karena pembayaran utang tahun sebelumnya?” ujarnya, Selasa (23/6/2026).

Setelah menelaah laporan anggaran secara rinci, Iswandi mengaku menemukan fakta bahwa lebih dari 95 persen penggunaan anggaran masih berada pada program penunjang birokrasi.

“Dari data yang satu lembar ini, kesimpulan saya, 95 persen lebih anggaran Dinas Perdagangan masih terserap pada program penunjang dibanding program langsung yang menyentuh pedagang dan pasar rakyat,” tegasnya.

Menurut Iswandi, kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas penggunaan anggaran pada organisasi perangkat daerah yang seharusnya fokus pada pelayanan publik dan pengembangan sektor perdagangan.

Ia juga menyoroti kemungkinan adanya kecenderungan sejumlah OPD memasukkan berbagai kegiatan ke dalam kategori program penunjang sehingga porsi belanja operasional terlihat lebih besar.

“Mungkin kita belum bisa melihat secara detail. Tetapi sering kali kegiatan-kegiatan tertentu disamarkan melalui program penunjang. Hampir semua OPD saya baca seperti itu, hanya saja kadang tidak kita kritisi,” katanya.

Berdasarkan kalkulasi sementara yang dilakukan Komisi II, sekitar 94,7 persen realisasi anggaran Disdag digunakan untuk kebutuhan birokrasi dan operasional internal.

Sementara program yang langsung berkaitan dengan fungsi utama dinas seperti pembinaan perdagangan, pasar rakyat, dan perlindungan konsumen hanya memperoleh porsi sekitar 3 hingga 4 persen.

“Dari serapan 54 persen tadi, sekitar 94,7 persen digunakan untuk birokrasi dan operasional. Sedangkan hanya 3 sampai 4 persen yang benar-benar digunakan untuk fungsi inti Dinas Perdagangan. Ini menjadi catatan penting,” ujarnya.

Selain itu, DPRD juga menyoroti lambatnya penyelesaian kewajiban utang belanja tahun sebelumnya. Dari total utang yang mencapai sekitar Rp536 juta, realisasi pembayaran pada semester pertama baru sekitar Rp17 juta.

Iswandi menegaskan ke depan DPRD akan meminta penjelasan lebih rinci terkait struktur penggunaan anggaran tersebut agar fungsi pelayanan kepada masyarakat tidak kalah besar dibanding kebutuhan birokrasi internal.

“Yang menjadi pertanyaan, apakah Dinas Perdagangan ini lebih banyak mengurus perdagangan, pasar rakyat, dan perlindungan konsumen, atau justru lebih banyak mengurus operasional birokrasi internalnya sendiri. Pertanyaan itu muncul karena saya menemukan angka 95 persen lebih tadi,” pungkasnya.

Pewarta: Abdi
Editor: Agus S.

KPM Kampung Tondoh Terima Bantuan Tunai Periode April–Juni 2026

0
Petinggi Kampung Tondoh, Rendy Saputra, saat mendampingi penyerahan BLT-DD kepada keluarga penerima manfaat di Kantor Satu Atap Kampung Tondoh. (Dok. Istimewa)

SENDAWAR – Pemerintah Kampung Tondoh, Kecamatan Mook Manaar Bulant, menyalurkan Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT-DD) Triwulan II Tahap II Tahun 2026 di Kantor Satu Atap Kampung Tondoh, Senin (22/6/2026).

Penyaluran bantuan tersebut diberikan kepada 11 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) untuk periode April hingga Juni 2026.

Masing-masing KPM menerima bantuan sebesar Rp900 ribu yang disalurkan secara rapel untuk tiga bulan. Total anggaran yang disalurkan dalam kegiatan tersebut mencapai Rp9,9 juta.

Petinggi Kampung Tondoh, Rendy Saputra, mengatakan program BLT-DD merupakan bentuk perhatian pemerintah dalam membantu masyarakat yang membutuhkan, khususnya dalam memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.

“Kami berharap kepada Keluarga Penerima Manfaat agar bantuan Rp900 ribu ini digunakan sebaik-baiknya untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarga,” ujarnya.

Menurutnya, bantuan tersebut diharapkan dapat membantu meringankan beban ekonomi masyarakat di tengah berbagai kebutuhan rumah tangga yang terus meningkat.

Rendy juga menjelaskan bahwa mekanisme penyaluran BLT-DD dilakukan setiap tiga bulan sekali atau secara rapel sesuai ketentuan yang berlaku.

“Pencairannya dilakukan tunai setiap tiga bulan sekali atau dirapel, sehingga masyarakat dapat langsung memanfaatkannya sesuai kebutuhan,” jelasnya.

Pemerintah Kampung Tondoh memastikan proses penyaluran berjalan tertib dan tepat sasaran sesuai data penerima manfaat yang telah ditetapkan sebelumnya.

Melalui program tersebut, pemerintah kampung berharap bantuan yang diberikan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat serta membantu menjaga ketahanan ekonomi keluarga penerima manfaat.

Pewarta: Ichal
Editor: Agus S.

Kebocoran Pipa Induk Ditemukan, PTMB Percepat Normalisasi Layanan

0
Tim PTMB berdialog dengan warga terdampak gangguan distribusi air bersih di kawasan BDS dan Jalan Manunggal. (Istimewa)

BALIKPAPAN – Perumda Tirta Manuntung Balikpapan (PTMB) terus mempercepat pemulihan layanan air bersih bagi pelanggan di kawasan Balikpapan Damai Sejahtera (BDS), Jalan Manunggal, Kampung Buton, dan wilayah sekitarnya yang terdampak gangguan distribusi dalam beberapa hari terakhir.

Gangguan tersebut terjadi akibat rangkaian persoalan yang berlangsung beruntun pada jaringan distribusi utama sehingga proses normalisasi membutuhkan waktu lebih lama dibanding penanganan gangguan biasa.

Direktur Utama PTMB, Yudhi Saharddin, menjelaskan gangguan awal terdeteksi pada 15 Juni 2026 ketika tekanan distribusi air ke kawasan Jalan Manunggal, BDS 2, dan sekitarnya mulai mengalami penurunan.

Kondisi itu semakin memburuk setelah terjadi kebocoran pada pipa air baku Instalasi Pengolahan Air (IPA) Kampung Damai pada 19 Juni 2026 yang berdampak pada menurunnya pasokan air ke pelanggan.

“Setelah perbaikan dilakukan dan proses normalisasi mulai berjalan, gangguan kembali terjadi pada 21 Juni 2026 akibat insiden eksternal berupa kecelakaan truk di Simpang Tiga BDS. Kendaraan tersebut menabrak jembatan pipa hingga merusak jaringan distribusi. Peristiwa ini membuat proses pemulihan layanan kembali tertunda,” ujar Yudhi, Selasa (23/6/2026).

Sebagai bentuk tanggung jawab kepada pelanggan, Yudhi bersama jajaran manajemen turun langsung ke lapangan pada 21 Juni 2026 untuk berdialog dengan warga terdampak. Dalam pertemuan tersebut, PTMB menjelaskan kondisi teknis yang terjadi sekaligus langkah-langkah yang sedang dilakukan untuk mempercepat pemulihan.

Di tengah proses penanganan, PTMB juga melakukan berbagai metode investigasi jaringan guna memastikan sumber gangguan ditemukan secara tepat. Salah satunya dengan pemasangan gate valve di kawasan Gerbang BDS 2 pada 22 Juni 2026 untuk mempersempit area pencarian gangguan.

Dari hasil evaluasi teknis dan pengukuran debit, tim akhirnya menemukan kebocoran pada pipa induk utama di jalur distribusi Jalan Manunggal yang selama ini menghambat proses normalisasi.

Pada Selasa (23/6/2026), sejumlah warga kembali menyampaikan aspirasi terkait belum normalnya distribusi air di beberapa kawasan. Menanggapi hal tersebut, PTMB kembali membuka ruang komunikasi melalui dialog langsung yang dipimpin Direktur Operasional Ali Rachman, didampingi Manajer Sekretaris Perusahaan Abdul Ramli dan Manajer Distribusi Indra Gunawan.

“Setiap keluhan pelanggan menjadi perhatian serius karena air bersih merupakan kebutuhan dasar masyarakat. Selama proses penanganan berlangsung, tim teknis terus bekerja melakukan penelusuran, penggalian, perbaikan hingga pengujian jaringan distribusi,” katanya.

PTMB menyampaikan bahwa proses perbaikan pada jalur pipa distribusi di Jalan Manunggal telah selesai dilaksanakan pada Selasa (23/6/2026) pukul 16.15 Wita.

Meski demikian, aliran air belum dapat langsung normal karena masih harus melalui tahapan pengisian jaringan pipa, pengaturan tekanan, dan stabilisasi sistem distribusi secara bertahap.

“Masyarakat perlu memahami bahwa proses normalisasi tidak dapat terjadi secara instan setelah perbaikan selesai dilakukan. Air harus terlebih dahulu mengisi jaringan pipa yang kosong, membangun kembali tekanan distribusi, dan memastikan seluruh sistem beroperasi dalam kondisi aman dan stabil,” tegas Yudhi.

Karena itu, pemulihan aliran akan berlangsung secara bertahap menyesuaikan kondisi jaringan dan topografi wilayah pelayanan.

PTMB juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat atas kesabaran dan pengertian selama proses penanganan berlangsung.

“Hingga saat ini seluruh tim masih bekerja di lapangan untuk memastikan proses normalisasi berjalan dengan baik. Kami memahami kebutuhan masyarakat akan layanan air bersih dan akan terus berupaya semaksimal mungkin sampai distribusi kembali normal,” tutupnya.

Penulis: Aprianto
Editor: Agus S.

Pemkot Samarinda Cari Jalan Tengah Atasi Kendala Kelistrikan Pasar Pagi

0
Kepala Dinas Perdagangan Kota Samarinda, Nurrahmani saat menyampaikan keterangan terkait kendala kelistrikan Pasar Pagi. (Abdi/Media Kaltim)

SAMARINDA – Persoalan instalasi kelistrikan di Pasar Pagi Samarinda hingga kini belum menemukan titik terang. Belum adanya jaringan listrik yang mengalir langsung ke lapak para pedagang membuat pengoperasian pasar masih menghadapi kendala serius.

Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Samarinda, Nurrahmani, mengungkapkan bahwa salah satu hambatan utama berasal dari persyaratan yang diajukan pihak PLN. Pemerintah Kota Samarinda diminta membangun gardu listrik sendiri sebelum sambungan dapat diteruskan ke tenant atau lapak pedagang.

“Dari PLN itu mensyaratkan supaya kita harus punya gardu sendiri. Gardu itu sendiri biayanya sekitar Rp2,7 miliar. Baru akan disambungkan ke masing-masing tenant,” ujarnya, Selasa (23/6/2026).

Menurut Nurrahmani, kondisi tersebut menempatkan Pemkot Samarinda pada posisi yang cukup sulit. Di satu sisi, pemerintah berharap sistem penyambungan listrik dapat dilakukan seperti sambungan rumah tangga biasa, namun di sisi lain PLN memiliki standar teknis tersendiri yang harus dipenuhi.

“Diharapkan dari pemerintah kota meminta pembangunannya itu sama dengan listrik rumah biasa, yaitu menyambung dari rumah ke rumah. Makanya ini yang membuat kami berada di posisi sulit,” katanya.

Untuk mencari solusi, Disdag berharap DPRD Samarinda dapat memfasilitasi pertemuan antara pemerintah daerah dan PLN agar diperoleh kesepahaman mengenai standar dan mekanisme penyambungan listrik di Pasar Pagi.

“Bisakah kami mohon kepada dewan untuk memfasilitasi ini supaya SOP PLN dan standar yang diinginkan pemerintah kota bisa menemukan titik temu,” tambahnya.

Di tengah kebuntuan tersebut, Nurrahmani mengungkapkan bahwa para pedagang sebenarnya menunjukkan itikad baik untuk membantu pembiayaan. Hasil komunikasi yang dilakukan Disdag menunjukkan sebagian besar pedagang bersedia ikut menanggung biaya tambahan apabila diperlukan untuk percepatan penyediaan listrik.

“Kami sudah komunikasi dengan pedagang. Pada intinya mereka siap membantu pendanaan itu. Misalnya ada tambahan biaya untuk pembangunan trafo atau gardu, mereka bersedia ikut menanggung,” jelasnya.

Bahkan, menurutnya, para pedagang tidak keberatan jika nantinya terdapat penyesuaian biaya layanan yang dibebankan secara bertahap sebagai bagian dari pengembalian investasi pembangunan fasilitas kelistrikan.

Meski demikian, persoalan ini dinilai mendesak karena Pemkot Samarinda telah menargetkan pengisian lapak yang masih kosong pada Agustus mendatang. Saat ini masih terdapat sekitar 1.500 lapak yang belum ditempati pedagang.

“Agustus ini kami sudah menyampaikan surat kepada pedagang bahwa lapak harus ditempati. Kalau tidak ditempati akan kami tarik dan diberikan kepada pedagang lain yang siap berjualan,” tegas Nurrahmani.

Ia juga mengingatkan bahwa meskipun anggaran pembangunan gardu disetujui sekarang, prosesnya tidak bisa dilakukan secara instan. Mulai dari tahapan administrasi, pengadaan hingga pembangunan fisik diperkirakan memerlukan waktu lebih dari tiga bulan.

“Kalau pun Rp2,7 miliar itu disetujui sekarang, prosesnya tidak seketika. Ada tahapan lelang, administrasi, kemudian pembangunan. Itu bisa memakan waktu lebih dari tiga bulan,” ujarnya.

Karena itu, Disdag berharap persoalan tersebut dapat segera diselesaikan agar aktivitas perdagangan di Pasar Pagi Samarinda dapat berjalan optimal sesuai target yang telah ditetapkan pemerintah kota.

Pewarta: Abdi
Editor: Agus S.

Infrastruktur Tetap Jalan Meski Kaltim Hadapi Tekanan Anggaran

0
Wakil Ketua I DPRD Kaltim, Ekti Imanuel saat diwawancarai di Kompleks DPRD Kaltim, Samarinda. (K. Irul Umam/Media Kaltim)

SAMARINDA – Ancaman defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kalimantan Timur tahun 2026 dipastikan semakin nyata. DPRD Kaltim memperkirakan defisit daerah dapat mencapai sekitar Rp2 triliun akibat target Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang tidak tercapai sesuai proyeksi.

Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua I DPRD Kaltim, Ekti Imanuel, usai mengikuti Rapat Paripurna ke-15 DPRD Kaltim di Gedung B DPRD Kaltim, Jalan Teuku Umar, Samarinda, Senin malam (22/6/2026).

Menurut Ekti, kondisi tersebut sudah sulit dihindari meski berbagai upaya penyesuaian anggaran tengah dilakukan pemerintah daerah.

“Defisit Rp2 triliun itu pasti. Sudah tidak tercapai seperti apa pun, pasti,” tegasnya.

Ia menjelaskan, salah satu penyebab utama membengkaknya defisit adalah realisasi PAD yang jauh dari target. Kondisi tersebut diperparah dengan menurunnya sejumlah sumber pendapatan daerah yang sebelumnya menjadi andalan.

Di tengah situasi tersebut, DPRD meminta agar setiap kebijakan pergeseran maupun penyesuaian anggaran dilakukan secara transparan dan melibatkan Badan Anggaran (Banggar).

Menurut Ekti, selama ini informasi terkait pergeseran anggaran justru kerap lebih dulu diketahui publik dibandingkan DPRD yang memiliki fungsi pengawasan terhadap penggunaan APBD.

“Kadang-kadang media yang tahu duluan, Banggar belakangan yang tahu. Jadi kami minta transparansi,” ujarnya.

Meski menghadapi tekanan fiskal, Ekti memastikan pembangunan infrastruktur tetap menjadi prioritas dan tidak akan terdampak signifikan oleh kebijakan efisiensi anggaran.

Ia menegaskan proyek pembangunan jalan yang telah direncanakan tetap berjalan karena masih banyak kebutuhan infrastruktur dasar yang harus diselesaikan, terutama di wilayah pedalaman dan perbatasan.

“Kalau pembangunan jalan tetap berjalan. Yang mungkin dikurangi itu perjalanan dinas, makan minum, dan kegiatan-kegiatan operasional lainnya,” katanya.

Menurutnya, efisiensi lebih tepat diarahkan pada belanja operasional yang tidak bersentuhan langsung dengan pelayanan masyarakat.

Selain itu, DPRD juga menolak wacana pemangkasan Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP). Ekti menilai kebijakan tersebut justru akan berdampak besar terhadap tenaga pelayanan publik seperti guru, perawat, tenaga kesehatan, dan ASN pelaksana lainnya.

Ia menegaskan TPP bukan hanya dinikmati pejabat struktural, melainkan juga menjadi bagian penting dari penghasilan aparatur yang bertugas melayani masyarakat setiap hari.

“Kalau TPP dipangkas, yang kena bukan hanya eselon dua atau eselon satu. Yang paling terasa justru guru dan perawat. Itu yang harus dipikirkan,” tandasnya.

DPRD Kaltim berharap pemerintah daerah dapat segera menyusun langkah penyesuaian anggaran secara terbuka dan terukur agar tekanan defisit tidak mengganggu pelaksanaan program prioritas maupun pelayanan dasar kepada masyarakat.

Penulis: K. Irul Umam
Editor: Agus S.

Puluhan Pamong Administrasi Tiba di IKN Dukung Operasional Sekolah

0
Pamong administrasi SMA Taruna Nusantara Kampus IKN mulai berdatangan untuk mempersiapkan operasional tahun ajaran baru 2026/2027. (Humas Otorita IKN)

NUSANTARA – SMA Taruna Nusantara (TN) Kampus Ibu Kota Nusantara (IKN) semakin siap menyambut tahun ajaran 2026/2027. Puluhan pamong administrasi mulai berdatangan ke Nusantara sebagai bagian dari persiapan operasional sekolah yang dalam waktu dekat akan diisi siswa dari berbagai provinsi di Indonesia.

Di lingkungan SMA Taruna Nusantara, istilah pamong digunakan untuk menyebut tenaga pendidik, pengasuh, serta personel pendukung yang berperan dalam proses pembelajaran, pembinaan karakter, dan operasional sekolah berasrama.

Kepala SMA Taruna Nusantara IKN Brigjen TNI Rudi Setiawan mengatakan kedatangan para pamong menjadi tahapan penting dalam mempersiapkan aktivitas pendidikan di kampus baru yang berada di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN.

“Pamong administrasi sudah tiba di IKN. Sebagian datang melalui jalur udara sejak 21 Juni, sementara yang menggunakan jalur laut bersama material, kendaraan operasional, dan perlengkapan sekolah tiba hari ini. Saat ini seluruh pamong administrasi sudah berada di IKN,” ujarnya, Senin (23/6/2026).

Menurut Rudi, saat ini SMA Taruna Nusantara IKN memiliki 37 pamong pengajar dan pengasuh serta 72 pamong administrasi. Jumlah tersebut akan terus bertambah seiring perkembangan sekolah dan peningkatan jumlah peserta didik pada tahun-tahun mendatang.

Sementara itu, para pamong pengajar dan pengasuh masih menjalani pembekalan di Magelang dan dijadwalkan bergabung ke IKN pada 25 Juni 2026.

Selain mempersiapkan sumber daya manusia, sekolah juga tengah menyambut kedatangan 477 siswa yang akan menempuh pendidikan di kampus tersebut.

Sebanyak 237 siswa yang akan naik ke kelas XI dijadwalkan tiba di IKN pada 9 Juli 2026. Mereka merupakan angkatan pertama SMA Taruna Nusantara IKN yang sebelumnya menjalani pendidikan di Magelang karena kampus IKN masih dalam tahap pembangunan.

Sementara 240 siswa baru kelas X terlebih dahulu mengikuti Pendidikan Dasar Kedisiplinan (PDK) selama tiga bulan di Magelang sebelum bergabung ke kampus IKN pada awal Oktober 2026.

“Ketika sekolah ini mulai menerima siswa, bangunannya masih dalam proses pembangunan sehingga para siswa menjalani pendidikan terlebih dahulu di Magelang. Tahun ini mereka akan naik ke kelas XI dan mulai menempati kampus di IKN,” jelas Rudi.

Sebagai sekolah berasrama dengan sistem beasiswa penuh, SMA Taruna Nusantara terus menjadi salah satu sekolah unggulan yang diminati pelajar dari seluruh Indonesia. Seluruh siswa yang diterima memperoleh fasilitas pendidikan dan pembinaan tanpa biaya sehingga proses seleksi dilakukan secara ketat.

Rudi menjelaskan pembangunan kampus dilakukan dalam tiga tahap. Tahap pertama yang telah selesai 100 persen mencakup ruang kelas, laboratorium, Main Hall, serta asrama putra dan putri.

Tahap kedua yang saat ini masih berlangsung meliputi pembangunan rumah dinas kepala sekolah dan pamong, tambahan asrama, lapangan upacara, poliklinik, laundry, garasi kendaraan, hingga fasilitas pengelolaan sampah.

“Pembangunan tahap kedua kami targetkan selesai sekitar Oktober atau November tahun ini,” katanya.

Selanjutnya, tahap ketiga akan difokuskan pada pembangunan fasilitas penunjang seperti Balairung Pancasila, Sport Center, lapangan sepak bola dan atletik, kolam renang, lapangan tenis, lapangan voli, fasilitas olahraga indoor, masjid, serta gereja.

“Kami mengupayakan seluruh pembangunan SMA Taruna Nusantara IKN dapat selesai pada tahun 2027,” ujarnya.

SMA Taruna Nusantara IKN merupakan satu dari tiga kampus baru yang dibangun di luar Pulau Jawa. Selain di IKN, kampus serupa juga dibangun di Langowan, Sulawesi Utara, dan Pagar Alam, Sumatera Selatan.

Menurut Rudi, seluruh kampus menerapkan standar pendidikan, kurikulum, dan sistem pembinaan yang sama dengan SMA Taruna Nusantara Magelang.

“Tujuan jangka panjang SMA Taruna Nusantara adalah mencetak calon-calon pemimpin bangsa dalam menghadapi Indonesia Emas 2045. Karena itu kami menjaring siswa terbaik dari seluruh provinsi untuk dididik bersama,” katanya.

Terkait peluang bagi pelajar Kalimantan Timur, ia menegaskan tidak ada jalur khusus maupun kuota daerah. Namun keberadaan sekolah di IKN diharapkan memudahkan pelajar Kaltim memperoleh informasi dan pembinaan untuk mempersiapkan diri menghadapi seleksi.

Sementara itu, Staf Khusus Kepala Otorita IKN Bidang Komunikasi Publik sekaligus Juru Bicara Otorita IKN, Troy Pantouw, menilai kehadiran SMA Taruna Nusantara semakin melengkapi ekosistem pendidikan di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan IKN.

Menurutnya, pembangunan kampus tersebut menjadi bukti tingginya kepercayaan institusi pendidikan nasional terhadap masa depan Nusantara.

“Keberadaan SMA Taruna Nusantara sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menegaskan pentingnya sekolah unggulan dalam menyiapkan kader-kader bangsa yang berkarakter kuat, berintegritas, dan berjiwa patriotik,” ujar Troy.

Ia menambahkan, kehadiran SMA Taruna Nusantara juga diharapkan membuka peluang kolaborasi lebih luas antara pemerintah, dunia pendidikan, dan dunia usaha sehingga semakin memperkuat posisi IKN sebagai kota masa depan yang unggul dalam bidang pendidikan.

Penulis: Humas Otorita IKN
Editor: Agus S.

Disdag Pastikan Layanan Uji Kendaraan Tetap Berjalan Meski Gedung Metro Dikembalikan

0
Kepala Dinas Perdagangan Kota Samarinda, Nurrahmani, saat diwawancarai. (Abdi/Media Kaltim)

SAMARINDA – Fasilitas pengujian kendaraan bermotor (Uji KIR) Kota Samarinda dipastikan akan segera berpindah tempat. Hal ini menyusul adanya permintaan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) yang ingin mengambil kembali aset lahan dan bangunan Gedung Metro yang selama ini dipinjam pakai oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda.

Kepala Dinas Perdagangan (Kadisdag) Kota Samarinda, Nurrahmani, membenarkan kabar penarikan aset tersebut. Menurutnya, langkah yang diambil Pemprov Kaltim tidak dilakukan secara mendadak, melainkan sudah dikoordinasikan sejak tahun lalu.

“Jadi memang Gedung Metro itu lahan dan gedungnya milik provinsi. Mereka tidak mendadak, karena sejak tahun kemarin sudah menyampaikan bahwa aset tersebut harus dikembalikan. Penggunaannya juga melibatkan beberapa pihak lain, termasuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK),” ujarnya, Selasa (23/6/2026).

Selama ini, Gedung Metro menjadi fasilitas vital bagi Dinas Perdagangan dalam melakukan pengujian kelaikan kendaraan bermotor, khususnya kendaraan angkutan berat. Di dalam area tersebut terdapat berbagai infrastruktur teknis yang mendukung proses pengujian kendaraan.

“Ketika ada pengujian mobil, kendaraan masuk ke sana. Di bawahnya ada bak kontrol dan fasilitas lainnya. Truk-truk besar masuk ke situ untuk pengujian. Kami juga memiliki layanan pengujian keliling yang mendatangi SPBU maupun pasar,” jelas Nurrahmani.

Meski layanan pengujian masih berjalan aktif, ia mengungkapkan fasilitas tersebut sudah tidak lagi memberikan kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui retribusi sejak dua tahun terakhir akibat perubahan regulasi dari pemerintah pusat.

Menurutnya, saat ini pihak legislatif tengah mengkaji kemungkinan adanya celah regulasi agar fungsi retribusi dapat kembali diterapkan dalam bentuk lain yang sesuai aturan.

“Dulu memang ada retribusi. Namun setelah ada perubahan aturan dari pemerintah pusat, retribusi itu tidak lagi diperbolehkan. Nanti akan dikaji kembali bersama DPRD untuk melihat kemungkinan pengaturannya melalui perda,” katanya.

Nurrahmani menegaskan fasilitas pengujian kendaraan merupakan kebutuhan wajib yang harus dimiliki setiap daerah karena memiliki standar teknis tersendiri.

“Bangunan ini bukan sekadar gedung biasa. Ada bak kontrol, fasilitas pengujian, indikator teknis, dan berbagai sarana pendukung yang memang harus tersedia,” paparnya.

Untuk itu, Disdag Samarinda telah mengusulkan pembangunan fasilitas baru kepada Pemerintah Kota Samarinda. Berdasarkan hasil koordinasi dengan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), pembangunan fisik nantinya akan ditangani Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR).

“Kami sudah mengusulkan ke pemerintah kota. Karena urusan pembangunan gedung tentu lebih tepat ditangani PUPR. Kami sudah berkoordinasi dengan Bappeda terkait hal tersebut,” ujarnya.

Terkait lokasi, Pemkot Samarinda telah menyiapkan lahan di kawasan Samarinda Seberang yang dinilai layak berdasarkan hasil kajian teknis dan kontur tanah.

“Kami sudah menyiapkan lokasi di wilayah Samarinda Seberang, tepatnya kawasan Mangkupalas atau Seko. Sudah dilakukan pembahasan bersama BPKAD dan pihak terkait. Lahan tersebut merupakan aset milik Pemkot Samarinda,” jelasnya.

Hingga kini, besaran anggaran pembangunan gedung baru masih menunggu penyusunan Detail Engineering Design (DED). Sementara itu, Pemprov Kaltim belum memberikan batas waktu khusus, namun meminta agar proses persiapan pengembalian aset dapat segera dilakukan.

Pewarta: Abdi
Editor: Agus S.

Lamborghini Aventador Jadi Barang Bukti Kasus Korupsi Tambang Bauksi

0
Kejaksaan Agung menyita Lamborghini Aventador milik tersangka kasus korupsi IUP bauksit di Kalimantan Barat. (Dok. Kejagung)

JAKARTA – Kejaksaan Agung (Kejagung) menyita sejumlah aset milik Sudianto alias Aseng, tersangka dalam perkara dugaan korupsi tata kelola Izin Usaha Pertambangan (IUP) bauksit PT Quality Success Sejahtera (QSS) di Kalimantan Barat. Penyitaan dilakukan sebagai bagian dari upaya pemulihan kerugian negara dalam kasus tersebut.

Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung, Anang Supriatna, mengatakan penyidik telah melakukan serangkaian penggeledahan, penyitaan, dan penyegelan aset sejak 11 hingga 16 Juni 2026.

“Pada tanggal 11 Juni sampai 16 Juni tim gabungan sudah melakukan penggeledahan dan penyitaan dan penyegelan terhadap beberapa barang bukti dalam perkara tata kelola IUP PT QSS atas nama tersangka SDT alias Aseng,” kata Anang, Selasa (23/6/2026).

Barang yang diamankan meliputi sejumlah kendaraan, alat berat, serta aset berupa tanah dan bangunan. Di antara aset yang disita terdapat Lamborghini Aventador, Toyota Fortuner, Toyota Camry, ekskavator, dump truck, hingga sejumlah bidang tanah dan kantor.

“Ada beberapa di antaranya mobil berupa Lamborghini Aventador, Fortuner, Camry, kemudian alat berat seperti ekskavator dan dump truck. Ada juga beberapa kapling, kantor, dan tanah,” ujarnya.

Saat ini seluruh barang bukti tersebut tengah dipindahkan dari Kalimantan Barat menuju Jakarta. Salah satu aset yang sedang dalam perjalanan adalah Lamborghini Aventador milik tersangka.

“Dalam perjalanan ya. Yang Lamborghini iya, dalam pengiriman. Disitanya di sana di Kalimantan, di Pontianak,” kata Anang.

Kejagung menyebut nilai total aset yang telah disita masih dalam proses perhitungan dan penilaian oleh penyidik.

Kasus ini bermula dari dugaan penyalahgunaan dokumen perizinan tambang oleh PT QSS. Meski memiliki izin usaha pertambangan yang sah, perusahaan diduga melakukan aktivitas penambangan bauksit di luar wilayah konsesinya. Hasil tambang tersebut kemudian dijual dan diekspor menggunakan dokumen resmi milik perusahaan.

Penyidik juga menemukan indikasi praktik suap dalam proses penerbitan sejumlah dokumen perizinan. Dugaan tersebut berkaitan dengan penerbitan izin yang tetap keluar meski persyaratan administrasi dinilai tidak terpenuhi.

Dalam perkara ini, Kejagung telah menetapkan lima tersangka, yakni Sudianto alias Aseng selaku beneficial owner PT QSS, YA selaku Komisaris PT QSS, IA selaku konsultan perizinan sekaligus Direktur PT BMU, HSFD selaku analis pertambangan Kementerian ESDM, dan AP selaku Direktur PT QSS.

Penyidik masih terus mendalami perkara serta menelusuri aset-aset lain yang diduga berasal dari hasil tindak pidana korupsi di sektor pertambangan bauksit tersebut.

Penulis: Fajri
Editor: Agus S.

Penyidik Pelajari Dugaan Penyimpangan Proyek Teknologi Program MBG

0
Eks Wakil Kepala BGN, Sony Sonjaya. (Fajri/Media Kaltim)

JAKARTA – Kejaksaan Agung (Kejagung) mulai menelusuri dugaan penyimpangan dalam pengadaan kamera pengawas (CCTV) di lingkungan Badan Gizi Nasional (BGN) yang sebelumnya diungkap mantan Wakil Kepala BGN, Sony Sonjaya.

Direktur Penyidikan Jampidsus Kejagung, Syarief Sulaeman Nahdi, mengatakan penyidik saat ini masih melakukan pendalaman terhadap informasi tersebut untuk memastikan ada atau tidaknya unsur tindak pidana.

“Untuk pengadaan CCTV memang sedang kami cek ya, sedang kami cek,” kata Syarief dalam konferensi pers, Selasa (23/6/2026).

Selain menelusuri dugaan pengadaan CCTV, Kejagung juga masih mempelajari daftar 41 nama yang diserahkan Sony kepada penyidik. Nama-nama tersebut disebut berkaitan dengan dugaan penyimpangan dalam tata kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Nama-nama itu sedang kami pelajari apakah merupakan suatu tindak pidana atau penyimpangan lain, atau sesuatu lain yang lebih besar. Itu yang sedang kami dalami dalam penyidikan ini,” ujar Syarief.

Sebelumnya, melalui kuasa hukumnya Krisna Murti, Sony Sonjaya mengungkap dugaan proyek fiktif berupa pengadaan CCTV dan alat pemindai sidik jari untuk program MBG. Informasi tersebut disampaikan kepada penyidik sebagai bagian dari upaya pengajuan status justice collaborator.

Krisna menjelaskan proyek tersebut mencakup pemasangan sekitar 5.000 unit CCTV di berbagai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) serta pengadaan perangkat sidik jari yang digunakan untuk verifikasi penerima manfaat program.

“Satu SPPG itu ada 5 CCTV. Jadi semuanya itu yang harus dipasang 5.000 CCTV dan alat sidik jari. Jadi penerima manfaatnya harus melakukan verifikasi sidik jari agar bisa dicocokkan dengan data SPPG,” kata Krisna.

Menurutnya, pengadaan tersebut sudah berjalan sebelum Sony menjabat sebagai Wakil Kepala BGN. Saat melakukan pengecekan, Sony disebut memanggil pihak vendor untuk menunjukkan lokasi pemasangan CCTV. Namun vendor tersebut tidak dapat membuktikan keberadaan perangkat yang diklaim telah dipasang di sejumlah titik SPPG.

Temuan itu kini menjadi salah satu materi yang sedang didalami Kejagung dalam pengembangan penyidikan kasus dugaan korupsi tata kelola Program Makan Bergizi Gratis yang hingga kini telah menjerat sejumlah mantan pejabat BGN dan pihak swasta sebagai tersangka.

Penyidik juga terus mengembangkan perkara untuk mengungkap kemungkinan adanya pihak lain yang terlibat dalam dugaan penyimpangan program yang menjadi salah satu program prioritas nasional tersebut.

Penulis: Fajri
Editor: Agus S.