Beranda blog Halaman 135

Pria Diduga Pengedar Sabu Diamankan di Rumah Kos

0
Sejumlah barang bukti yang berhasil diamankan. (Ist).

BONTANG – Unit II Sat Resnarkoba Polres Bontang telah berhasil mengamankan seorang pria. Ia diduga memiliki dan mengedarkan narkotika jenis sabu, Jumat (17/4/2026) sekitar pukul 20.00 Wita. Terduga diketahui berinisial ML (24), salah satu warga di Kelurahan Tanjung Laut, Kecamatan Bontang Selatan.

Terduga merupakan seorang karyawan swasta, dan aksi penangkapan dilakukan di sebuah rumah sewa atau kos yang berlokasi di Kelurahan Berbas Tengah, Kecamatan Bontang Selatan, setelah polisi menerima laporan masyarakat terkait dugaan aktivitas transaksi narkotika di lokasi tersebut.

Kasat Resnarkoba Polres Bontang, AKP Larto menyebutkan bahwa petugas sebelumnya melakukan penyelidikan dan pemantauan terlebih dahulu di lokasi yang dimaksud. Saat dilakukan penggerebekan, petugas mendapati pelaku berada di dalam kamar kos.

“Dari hasil penggeledahan awal, kami langsung menemukan satu bungkus plastik klip yang berisi dua paket plastik bening berisi kristal putih diduga sabu dengan berat 1,05 gram, serta uang tunai Rp250 ribu,” ungkapnya, Minggu (19/4/2026).

Selain itu, polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti lainnya berupa satu unit handphone dan satu unit mobil, yang diduga berkaitan dengan aktivitas tersangka.

Penggeledahan kemudian dilanjutkan di tempat tinggal tersangka, dimana petugas kembali menemukan barang bukti lainnya seperti plastik klip, timbangan digital, dua sedotan berujung runcing, serta alat hisap (bong).

“Hasil interogasi awal, tersangka mengakui bahwa seluruh barang bukti yang telah kami temukan tersebut merupakan miliknya,” bebernya.

Saat ini, tersangka beserta seluruh barang bukti telah diamankan petugas saat ini langsung dibawa ke Polres Bontang, guna proses penyidikan dan pengembangan lebih lanjut.

Atas perbuatannya, tersangka disangkakan melanggar Pasal 114 ayat (1) junto ketentuan dalam Undang-Undang terkait narkotika dan KUHP terbaru, dengan ancaman pidana sesuai peraturan yang berlaku.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Komitmen Pemkot pada Pendidikan dan SDM: Luncurkan Beasiswa UKT dan Wajibkan Perusahaan Rekrut 75 Persen Tenaga Kerja Lokal

0
Wali Kota Neni saat menghadiri wisuda STTIB. (Dok Pemkot Bontang)

BONTANG – Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni menegaskan bahwa salah satu wujud nyata komitmen Pemerintah Kota Bontang dalam bidang pendidikan adalah melalui program beasiswa Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang telah diberikan kepada 1.269 mahasiswa asal Kota Bontang.

Hal itu disampaikan saat menghadiri Wisuda Sarjana Teknik Kimia dan Mesin ke-IX Semester Ganjil Tahun Akademik 2025/2026 Sekolah Tinggi Teknologi Industri Bontang (STTIB), Kamis (16/04/2026) pagi di Auditorium 3 Dimensi.

Dijelaskannya, program ini dirancang untuk memastikan bahwa keterbatasan ekonomi tidak menjadi penghambat bagi putra-putri daerah dalam menggapai prestasi akademik dan meraih masa depan yang lebih baik.

Selain itu, keberpihakan Pemerintah Kota Bontang terhadap pengembangan sumber daya manusia lokal juga tercermin dalam kebijakan Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2018, yang mewajibkan perusahaan di Kota Bontang untuk merekrut minimal 75 persen tenaga kerja lokal.

Kebijakan ini menjadi jembatan antara dunia pendidikan dan dunia kerja, sehingga prestasi dan kompetensi lulusan lokal dapat terserap secara optimal, serta berkontribusi langsung terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat Bontang. (Rls)

Editor: Yusva Alam 

Iwan Purnomo Nahkodai NPCI Bontang 2026–2031, Neni Dorong Kemajuan Olahraga Disabilitas di Daerah

0

BONTANG – Iwan Purnomo dikukuhkan sebagai Ketua NPCI Kota Bontang. Kepengurusan National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Kota Bontang masa bakti 2026–2031 resmi dilantik di Graha Pemuda Kantor Dispopar, Sabtu (18/4).

Dalam sambutannya usai penandatanganan berita acara pelantikan, Neni Moerniaeni menegaskan pentingnya peran dan tanggung jawab pengurus NPCI, dalam mendorong kemajuan olahraga disabilitas di daerah.

Ia menekankan bahwa dedikasi dan integritas menjadi kunci dalam mencetak prestasi atlet.

Wali Kota juga menyampaikan apresiasi kepada jajaran pengurus NPCI Kota Bontang periode 2021–2026 atas komitmen dalam membina atlet disabilitas, hingga mampu meraih berbagai prestasi di tingkat regional maupun nasional.

Menurutnya, NPCI memiliki peran strategis tidak hanya sebagai organisasi olahraga, tetapi juga sebagai wadah pembinaan, pengembangan potensi, serta ruang aktualisasi bagi penyandang disabilitas.

Keberhasilan kontingen Indonesia pada ajang ASEAN Para Games 2025 dengan raihan ratusan medali, disebut sebagai bukti nyata kemajuan pembinaan atlet disabilitas di tanah air.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pengembangan olahraga disabilitas sejalan dengan komitmen global melalui Convention on the Rights of Persons with Disabilities (CRPD), serta regulasi nasional seperti Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2011 dan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas yang menjamin kesetaraan hak, termasuk dalam bidang olahraga.

“Hal ini juga sejalan dengan arah pembangunan Kota Bontang 2025–2029 yang menitikberatkan pada transformasi sosial menuju sumber daya manusia yang inklusif, berkualitas, dan berdaya saing,” ujarnya.

Di akhir sambutannya, Wali Kota mengajak seluruh pihak, mulai dari pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas hingga masyarakat, untuk bersama-sama memperkuat dukungan terhadap pengembangan olahraga disabilitas.

Ia juga mengucapkan selamat kepada pengurus NPCI Kota Bontang yang baru dilantik, seraya berharap kepengurusan ini mampu menciptakan ekosistem olahraga yang inklusif dan memberikan ruang luas bagi atlet disabilitas untuk terus berkembang dan berprestasi. (rls)

Editor: Yusva Alam

Harga Kakao di Pangadan Anjlok, Harga dan Akses Pasar Masih Jadi Kendala Utama

0
Ilustrasi yang menggambarkan kondisi petani kakao di Pangadan Baru. (AI)

SANGATTA – Potensi kakao di Desa Pangadan Baru, Kecamatan Kaubun, Kutai Timur (Kutim), terbilang besar. Namun, besarnya produksi belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kesejahteraan petani. Persoalan harga dan akses pasar masih menjadi kendala utama.

Salah seorang petani kakao, Didi, mengungkapkan, luas kebun kakao produktif di desanya mencapai sekitar 150 hektare. Jika ditambah tanaman yang belum menghasilkan, totalnya diperkirakan mencapai 300 hingga 400 hektare.

“Potensinya besar, tapi tantangan kami juga tidak kecil,” ujarnya kepada media, Sabtu (18/4/2026).

Menurut dia, saat panen melimpah, petani justru dihadapkan pada situasi sulit. Keterbatasan daya serap Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) membuat petani harus segera menjual hasil panen.

Akibatnya, petani kerap bergantung pada pembeli luar atau tengkulak yang datang langsung ke desa.

“Karena kebutuhan ekonomi, kami tidak bisa menahan lama. Akhirnya dijual ke tengkulak,” jelasnya.

Fluktuasi harga menjadi persoalan paling krusial. Didi menyebut, harga kakao sempat mencapai Rp150 ribu per kilogram. Namun kini turun drastis menjadi sekitar Rp45 ribu per kilogram.

Penurunan tersebut berdampak langsung pada pendapatan petani. Bahkan, keuntungan yang diperoleh nyaris tidak sebanding dengan biaya produksi.

Di tengah kondisi itu, upaya peningkatan kapasitas petani mulai dilakukan. Melalui program CSR dari PT Ganda Alam Makmur, petani mendapatkan pendampingan, mulai dari teknik budidaya hingga pengolahan kakao.

Program tersebut juga mendorong lahirnya produk olahan lokal bertajuk “Kakao Mantan”. Produk ini menjadi langkah awal hilirisasi kakao di tingkat desa.

Meski demikian, tantangan belum sepenuhnya teratasi. Produk olahan kakao masih menghadapi kendala dalam hal pemasaran, sehingga belum mampu memberikan nilai tambah maksimal bagi petani.

Didi berharap pemerintah dan pemangku kepentingan dapat memperkuat stabilitas harga serta membuka akses pasar yang lebih luas.

“Kalau harga stabil dan pemasaran dibantu, kami optimistis kakao bisa jadi andalan ke depan,” tandasnya.

Penulis: Ramlah
Editor: Yusva Alam

Si Jago Merah Hanguskan Tiga Rumah di Bengalon

0
Kebakaran di Bengalon sisakan puing-puing. (Istimewa)

SANGATTA – Si jago merah mengamuk di Jalan M. Yusuf RT 004, Desa Sepaso, Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Sabtu (18/4/2026). Tiga rumah warga hangus terbakar dalam kejadian yang berlangsung sekitar pukul 14.15 Wita.

Meski tak menelan korban jiwa, kebakaran ini meninggalkan kerugian yang ditaksir mencapai Rp200 juta.

Kapolsek Bengalon, AKP Asriadi, mengungkapkan kebakaran pertama kali diketahui oleh seorang saksi, Hernando. Saat itu, ia tengah berada di kamar kos milik salah satu korban, sebelum mendengar teriakan warga yang panik melihat api mulai membesar.

Tanpa pikir panjang, Hernando langsung keluar dan mendapati kobaran api sudah melahap lantai dua rumah milik Muhayyang.

“Dia langsung menghubungi pemilik rumah dan meminta bantuan warga untuk menghubungi pemadam kebakaran,” jelas Asriadi saat dikonfirmasi.

Kondisi bangunan yang mayoritas berbahan kayu membuat api cepat merambat. Warga pun tak tinggal diam. Mereka bahu-membahu melakukan pemadaman seadanya sembari menunggu bantuan datang.

Tak berselang lama, armada pemadam tiba di lokasi. Empat unit dari Kecamatan Bengalon diperkuat dua unit dari PT Darma Henwa dan satu unit dari PT PIK/AMM. Tim gabungan bersama warga berjibaku melawan api hingga akhirnya berhasil dijinakkan sekitar pukul 16.00 Wita.

Tiga rumah yang terdampak diketahui milik Muhayyang (59), Mukransyah (55), dan Fitriani (33). Seluruh penghuni berhasil menyelamatkan diri tepat waktu.

Dari hasil penyelidikan awal, kebakaran diduga dipicu korsleting listrik di lantai dua rumah milik Muhayyang. Namun, polisi masih mendalami penyebab pastinya.

“Kami sudah lakukan olah TKP dan mengumpulkan keterangan saksi. Dugaan sementara memang dari arus pendek listrik,” tambahnya.

Pihak kepolisian juga mengingatkan warga agar lebih waspada, khususnya terkait instalasi listrik di rumah.

“Pastikan instalasi aman dan sesuai standar. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang,” pesannya.

Saat ini, kondisi di lokasi sudah kondusif. Petugas juga telah melakukan pendinginan untuk memastikan tidak ada lagi titik api yang tersisa.

Penulis: Ramlah
Editor: Yusva Alam

Genangan Awang Long Belum Teratasi, PUPRK Bontang Siapkan Solusi

0
Genangan air yang berada di tikungan Jalan Awang Long. (ist)

BONTANG – Permasalahan genangan air di Jalan Awang Long, masih menjadi pekerjaan rumah bagi Pemerintah Kota Bontang.

Meski perbaikan drainase telah dilakukan sebelumnya, kondisi di lapangan menunjukkan air masih kerap menggenang saat hujan deras, khususnya di wilayah tikungan.

Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota (PUPRK) Bontang mengakui, bahwa penanganan di kawasan tersebut belum sepenuhnya rampung. Hal ini disebabkan sistem drainase yang belum terhubung secara menyeluruh di kedua sisi jalan.

Kepala Bidang Sanitasi, Air Minum, dan Sumber Daya Air PUPRK Bontang, Edi Suprapto, menjelaskan bahwa keterbatasan anggaran menjadi salah satu kendala belum dilakukannya perbaikan di sisi drainase lainnya.

“Perbaikan belum menyeluruh. Masih ada saluran di seberang jalan yang belum tersambung karena anggaran belum mencukupi,” ungkapnya, Sabtu (18/4/2026).

Upaya sementara sekaligus solusi jangka pendek yang dilakukan, PUPRK berencana membangun lubang resapan permanen di area trotoar. Lubang tersebut akan difungsikan untuk mempercepat aliran air menuju parit saat hujan turun.

Sebelumnya pihaknya juga telah membuat lubang resapan sementara, namun tidak bertahan lama karena kembali tertutup. Oleh karena itu, pembangunan lubang permanen dijadwalkan dilakukan pada Mei mendatang.

“Lubang resapan ini diharapkan bisa membantu mengurangi genangan, terutama saat debit air tinggi dan belum seluruh drainase berfungsi optimal,” jelasnya.

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Bontang Belum Terdampak Penghentian PBI BPJS Kesehatan, Pemkot Sudah Skemakan Pembiayaan Mandiri

0
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni. (Syakurah)

BONTANG – Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni sudah menyiapkan skema pembiayaan, jika kepesertaan Penerima Bantuan Iuran (PBI) BPJS Kesehatan di Bontang disetop oleh pemerintah provinsi.

Diketahui, Provinsi Kalimantan Timur telah mengeluarkan keputusan menyetop kepesertaan BPJS Kesehatan PBI beberapa daerah yang ditanggung oleh provinsi.

Terdapat 4 daerah yang terdampak yakni Samarinda, Kukar, Kutim dan Berau.

Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni menjelaskan hingga saat ini Kota Bontang belum terkena pemotongan BPJS Kesehatan PBI, karena jumlah peserta yang tidak sebesar daerah lain.

“Peserta BPJS kita hanya sekitar 3000 tidak sebanyak daerah lain,” pungkasnya.

Adapun hingga saat ini, provinsi belum menyatakan adanya pemberhentian BPJS PBI untuk wilayah Bontang. Pihak provinsi juga belum menyatakan adanya penerapan pemberhentian tersebut .

Namun, Neni menyatakan telah membuat skema pembiayaan melalui daerah jika provinsi menghentikan iuran BPJS kesehatan PBI Kota Bontang.

Diketahui sebanyak 2.753 peserta akan tercoret dari layanan tersebut. Namun dengan anggaran daerah Neni memastikan layanan tersebut tidak akan terhenti.

“Selama dia warga Bontang, cukup dengan KTP, tetap harus kita layani,” tuturnya.

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Suspek Campak Capai 169 Kasus, Mayoritas Anak Belum Imunisasi Lengkap

0

Pembaca Setia Radar Bontang!

Ingin tahu kabar terkini Koran Digital Radar Bontang? Kunjungi link di bawah ini untuk membaca e-paper lengkapnya:

👉 E-Paper Lengkap
https://koran.radarbontang.com

👉 Versi Mobile
https://digital.radarbontang.com/rb18apr2026/mobile/

Islam Solutif Menjaga Kesehatan Mental Generasi

0
Rahmi Surainah, M.Pd. (dok pribadi)

Oleh:
Rahmi Surainah, M.Pd
Alumni Pascasarjana Unlam Banjarmasin

Hasil Survei Perilaku Remaja Kota Bontang Tahun 2025 mengungkap kondisi yang perlu menjadi perhatian serius masyarakat, khususnya terkait kesehatan mental generasi muda. Hal ini dipaparkan dalam analisis permasalahan remaja yang paling mengkhawatirkan di Pendopo Rumah Jabatan Wali Kota, Rabu (8/4/2026).

Dalam paparannya, terungkap bahwa banyak remaja di Bontang mengalami kecemasan dan ketakutan berlebih. Tidak hanya itu, sejumlah perilaku berisiko juga mulai muncul di kalangan pelajar yang berpotensi memengaruhi masa depan mereka jika tidak segera ditangani. Pemerintah Kota Bontang pun mendorong langkah konkret, seperti penguatan edukasi kesehatan mental dan reproduksi, serta peningkatan literasi digital untuk mengantisipasi dampak negatif media sosial (medsos).

Kesehatan mental remaja akibat penggunaan medsos sebenarnya juga disorot secara nasional bahkan global sehingga wacana pembatasan pun mulai digaungkan pemerintah pusat. Di provinsi Kaltim sendiri melalui Kementerian Agama RI (Kemenag) berencana memberlakukan pembatasan penggunaan medsos bagi pelajar di bawah usia 16 tahun. Namun, implementasi kebijakan tersebut di wilayah kabupaten/kota belum sepenuhnya jelas.

Secara global, negara lain sudah memberlakukan pembatasan gadget/hp, game online dan medsos. Beberapa negara yang memberlakukan pelarangan atau pembatasan ketat pada game online tertentu di antaranya China, Turki, Rusia, India, Irak, dan Korea Utara. Sedangkan medsos salah satunya Australia. Lantas bagaimana Indonesia? Sepertinya sudah disorot dan mulai ada wacana pembatasan usia, namun solutifkah itu?

Medsos Senjata Perang Pemikiran

Tidak dapat dipungkiri fenomena gangguan kesehatan mental ini buah dari kebebasan anak dalam mengakses medsos sehingga berpengaruh ke perilaku. Penggunaan medsos bukan hanya sekedar selingan, tapi sudah menjadi lifestyle di kalangan anak muda. Dunia maya atau digitalisasi ini sudah jadi kebutuhan tak lagi kesenangan.

Dari gadget alias medsos ada yang menghasilkan uang sebagai konten kreator atau influencer, gamers, e-sport, dan sarana dakwah. Artinya pembatasan akses sosmed tidaklah solutif karena dari sana perang pemikiran kebaikan dan kebatilan terjadi.

Di sinilah generasi muda di era digital dan media sosial memiliki posisi unik. Bayangkan dia bisa berperan sebagai subjek sekaligus objek digitalisasi.

Sebagai subjek, generasi muda mampu menciptakan konten berupa video, tulisan, atau karya kreatif lainnya. Mereka juga bisa menjadi penggerak dalam tren digital, serta aktivis di ruang digital yang menyuarakan isu sosial, politik, ekonomi, pendidikan, dan sebagainya. Mereka pun bisa berinovasi mengembangkan teknologi.

Selanjutnya sebagai objek digital, generasi muda kerap menjadi sasaran atau target pasar industri digital. Misalnya iklan, produk, dan layanan. Mereka juga menjadi konsumen informasi yang sangat besar, baik positif maupun negatif. Dengan dua peran ganda tersebut membuat generasi muda berdaya sekaligus rentan.

Mereka berdaya jika diarahkan pada paradigma yang benar dan bermanfaat bagi masyarakat luas. Namun, rentan jika terpengaruh paradigma ideologi kapitalisme sekuler yang jelas memberi dampak buruk bagi generasi muda.

Demikianlah tanpa literasi digital yang benar, generasi muda sangat mudah terjebak dalam informasi yang menyesatkan. Tanpa paradigma Islam, generasi muda akan menjadi target dan sasaran ideologi sekuler yang menjauhkan mereka dari pemahaman Islam yang sahih.

Jadi, siapa pun terutama generasi yang masuk ke ruang digital harus memiliki fondasi ideologis yang kuat yakni Islam agar tak tergerus di era digital dan sistem kehidupan kapitalis sekuler.

Generasi Terjaga dengan Islam

Generasi yang memiliki kesadaran Islam yang kuat tidak mudah dikendalikan oleh platform digital korporasi besar. Generasi pelopor perubahan, yakni penerus risalah Islam didapat dari pembinaan pemikiran dan kepribadian Islam di dunia nyata. Tidak hanya berdakwah di dunia nyata, mereka pun tetap istiqomah menyuarakan kebenaran di ruang digital.

Tegaknya peradaban Islam tidak lepas dari peran besar generasi muda. Mereka menjadi pilar kebangkitan, penggerakan perubahan, dan motor perjuangan, sejak masa Rasulullah Saw hingga generasi setelahnya. Keimanan yang kukuh, semangat juang yang tinggi, keberanian, dan pengorbanan menjadikan Islam tersebar luas ke berbagai penjuru dunia.

Generasi muda dalam Islam bukan sekadar penonton sejarah, tetapi pelaku utama yang kembali menulis lembaran kejayaan umat. Masa muda bukan waktu untuk bersenang-senang, melainkan masa perjuangan dan pembuktian iman.

Demikianlah ketika Islam jadi pola pikir dan sikap maka solutif menjaga kesehatan mental generasi, apalagi jika diterapkan dalam sistem kehidupan.

Digitalisasi sudah tidak bisa dipisahkan dari kehidupan saat ini. Mari menjadi generasi pelopor perubahan penerus risalah Islam di dunia nyata mampu ruang digital.

Wallahu’alam.

Perusahaan Diingatkan Penyerapan Tenaga Kerja Lokal dan Sinergi TJSL

0
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni. (Ist).

BONTANG – Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, menegaskan akan pentingnya komitmen perusahaan dalam menyerap tenaga kerja lokal, sebagai bagian dari kontribusi terhadap pembangunan daerah.

Hal tersebut merujuk pada Peraturan Daerah Kota Bontang, Nomor 10 Tahun 2018, yang mengatur rekrutmen dan penempatan tenaga kerja. Dalam aturan tersebut, perusahaan diharapkan mampu menyerap hingga 75 persen tenaga kerja dari masyarakat lokal.

“Komitmen seperti ini sangat penting, agar manfaat investasi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat Bontang,” ucapnya, Sabtu (18/4/2026).

Neni sangat berharap, agar perusahaan memberikan ruang yang lebih luas bagi lulusan perguruan tinggi lokal, seperti STITEK dan STTIB, agar dapat terserap di dunia kerja sesuai dengan kompetensi yang dimiliki.

Selain dari aspek ketenagakerjaan, Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang turut menekankan pentingnya penguatan sinergi antara pemerintah, perusahaan, dan lapisan masyarakat.

Kolaborasi tersebut diharapkan dapat diwujudkan melalui penyelarasan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) perusahaan dengan visi pembangunan daerah.

Menurut Neni, keselarasan program TJSL akan memberikan dampak yang lebih terarah dan berkelanjutan, sehingga mampu mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat, serta pembangunan kota secara menyeluruh.

“Sinergi yang baik akan menciptakan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan bagi Kota Bontang,” tutupnya.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam