Beranda blog Halaman 932

Wajarkah Harga Kebutuhan Pokok Naik Tiap Jelang Ramadan?

0
Hubungan Kasus TBC Meningkat dengan Kemiskinan
Emirza, M.Pd

Emirza, M.Pd

(Pemerhati Sosial)

Satu minggu terakhir harga telur kembali melonjak, setelah 2 bulan sebelumnya sempat kembali ke harga normal.

Salah satu penjual telur di Pasar Taman Rawa Indah, Murni mengatakan, sulit mendapatkan keuntungan dari penjualan telur.

Untuk telur kecil sebelumnya dibanderol dengan harga Rp 55 ribu, kini menjadi 63 ribu, untuk ukuran sedang dari harga Rp 58 ribu menjadi Rp 65 ribu, dan untuk ukuran sedang dari Rp 60 ribu menjadi 68 ribu. (radarbontang, 22/3/2023)

Harga cabai dan sejumlah kebutuhan pokok juga terus melonjak naik menjelang Ramadan, pada 7 Maret 2023. Berdasarkan data di Pusat Informasi Harga Pangan Strategis atau PIHPS Nasional, harga cabai merah besar, cabai merah keriting, cabai rawit hijau, cabai rawit merah, minyak goreng kemasan bermerk 2, dan gula pasir kualitas premium juga naik.

Makin Tertekan

Gejolak harga pangan menjelang Ramadan menyebabkan kondisi rakyat makin tertekan. Apalagi, lonjakan harga pangan menjelang Ramadan ini terus terjadi berulang setiap tahun.

Kenaikan tidak hanya terjadi pada satu atau dua komoditas pangan, tetapi pada berbagai komoditas pangan. Seharusnya dengan memperhatikan tren peningkatan konsumsi masyarakat menjelang Ramadan dan hari-hari besar keagamaan lainnya, pemerintah sudah melakukan berbagai langkah antisipasi sehingga harga tidak sampai melambung tinggi.

Lonjakan harga tersebut tidak bisa dikatakan sebagai fenomena biasa. Menjaga stabilitas harga pangan sehingga masyarakat mudah mengakses pangan, merupakan tanggung jawab negara untuk menjamin pemenuhan kebutuhan pokok setiap individu rakyat yang berada dalam kekuasaannya.

Pemerintah harusnya juga berempati kepada rakyatnya yang miskin dengan penghasilan yang sangat minim. Tentu kenaikan harga pangan akan menambah penderitaan baru bagi mereka.

Kapitalisme Gagal

Kondisi ketahanan dan kedaulatan pangan yang terus menurun, merupakan cerminan kegagalan tata kelola pangan dalam sistem kapitalisme neoliberal.

Kebobrokan akibat penerapan sistem ini juga terlihat di dunia dengan makin meluasnya krisis pangan dan kelaparan. Jumlah rakyat yang kesulitan mengakses bahan pangan terus bertambah, bahkan tingkat kelaparan makin parah.

Kegagalan sistem ini menjamin pemenuhan pangan karena hilangnya fungsinya politik negara yang sahih sebagai penanggung jawab untuk menyediakan pangan secara berkelanjutan, berkualitas, dan harga yang terjangkau.

Peran negara dibatasi hanya sekadar regulator dan fasilitator. Di sisi lain penguasaan pangan oleh korporasi justru makin menguat. Korporasi diberikan keleluasaan untuk menguasai seluruh rantai pengadaan pangan mulai dari produksi, distribusi, dan konsumsi berada di tangan korporasi yang tentunya berorientasi mencari untung.

Akibat penguasaan negara yang minim tersebut berakibat pada minimnya penguasaan pasokan pangan negara, juga lemahnya pengawasannya pada rantai tata niaga pangan sehingga para mafia tumbuh subur. Begitu juga di aspek konsumsi, negara juga sangat abai terhadap keamanan dan kualitas pangan yang dikonsumsi rakyat.

Dengan penerapan mekanisme pasar bebas telah menyebabkan penguasaan rantai pengadaan pangan berada di segelintir orang yang akhirnya bisa mengendalikan harga. Maka, tidak jarang terjadi anomali harga ketika pasokan pangan surplus, tetapi harga tetap melambung.

Evaluasi Mendasar

Dibutuhkan evaluasi secara mendasar dan komprehensif dalam tata kelola pangan kita, yaitu dengan penerapan sistem pengelolaan pangan Islam.

Tata kelola ini berpijak pada dua konsep mendasar, yaitu secara politik, Islam yang mengharuskan kehadiran negara secara penuh sebagai penanggung jawab semua kebutuhan rakyat sekaligus menjadi pelindung mereka.

Pemerintahlah yang wajib mengatur semua rantai pangan, yaitu produksi, distribusi, sampai konsumsi rakyat. Negara harus menjamin semua individu rakyat mampu memenuhi kebutuhan pangan dengan layak, berkualitas, dan harga yang terjangkau.

Secara ekonomi, sistem Islam akan menerapkan sistem ekonomi yang adil dan menyejahterakan seluruh rakyat. Di dalamnya diatur dengan rinci tentang hak kepemilikan harta dan cara mendistribusikan kekayaan yang benar sehingga akan terwujud pemerataan ekonomi.

Sistem sanksi dalam islam juga memiliki konsep pengawasan yang ketat dengan adanya kadi muhtasib. Kadi akan mengawasi dan menegakkan hukum secara tegas bagi para pelanggar aturan, seperti mafia, kartel, dan sebagainya.

Wallahualam.

Bulan Puasa Pria Tua Ini Malah Ditangkap Jual Togel

0
Bulan Puasa Pria Tua Ini Malah Ditangkap Jual Togel
Ilustrasi togel. (ist)

BONTANG – Seorang warga Gunung Elai berinisial WK (63) ditangkap Tim Rajawali Polres Bontang bersama Unit Opsnal Polsek Bontang Utara.

Dia ditangkap di Jalan Brigjen Katamso pada Jumat 24 Maret 2023 pukul 22.00 Wita. Penangkapan dilakukan usai polisi mendapat laporan dari masyarakat yang resah dengan keberadaan judi togel.

“Ada informasi, TKP sering digunakan judi togel,” ungkap Kapolres Bontang AKBP Yusep Dwi Prastiya melalui Humas Polres Bontang, Iptu Mandiyono.

Tersangka ditangkap saat sedang asyik merekap nomor togel. Dia diamankan bersama barang bukti uang tunai hasil penjualan Rp 300 ribu, satu lembar kupon penjualan, lima lembar tabel sio, tiga lemar patio, satu buah buku tafsir mimpi, satu buah rekapan nomor, satu bendel kupon penjualan, dan tiga buah pulpen.

“Atas perbuatannya, WK harus menjalani hukuman selama empat tahun penjara, setelah dijerat pasal 303 KUHPidana tentang perjudian,” pungkasnya. (Humas Polres Bontang).

Kok Bisa Korban dan Pelaku Sama-Sama Jadi Tersangka?

0
Kok Bisa Korban dan Pelaku Sama-Sama Jadi Tersangka?
Ilustrasi penusukan. (ist)

BONTANG – Ditemukan fakta baru dari kasus penikaman di Marangkayu pada Sabtu 18 Maret 2023, yang kini dalam penanganan polisi. Korban yang mendapat tusukan di bagian punggung, justru ikut ditetapkan sebagai tersangka.

AF (19) warga Marangkayu ditetapkan tersangka dan ditangkap pada Jumat 24 Maret 2023 pukul 17.00 Wita. Dia masuk dalam pengungkapan Operasi Pekat yang digelar hingga 10 April 2023 mendatang.

Dikatakan Kapolres Bontang AKBP Yusep Dwi Prastiya melalui Kapolsek Marangkayu AKP Slamet Riyadi, penangkapan dilakukan karena tersangka mengeroyok dan melukai korban dengan sajam hingga menyebabkan luka di bagian paha.

“Mabuk bersama, sama-sama menggunakan sajam,” ucapnya.

Diceritakan kronologis kejadian. Sabtu (18/3/2023) pukul 20.00 wita, GU (40) bersama tiga rekannya, salah satunya AF, tengah duduk bersantai sambil mabuk tuak. Teman-teman AF sebanyak 7 orang juga ikut bergabung.

Namun, saat hendak mengantar rekannya pulang, GU berteriak sambil berkata kasar. Hal ini justru menimbulkan emosi AF dan teman-temannya. Hingga akhirnya mengeroyok GU.

“Dia baru sadar kena tusuk di paha pas di jalan pulang,” katanya.

Tak terima dianiaya, korban kemudian kembali ke lokasi membawa sajam jenis mandau dan menusuk AF di bagian punggung.

“Atas dasar itu, mereka sama-sama ditetapkan tersangka,” tandasnya. (Humas Polres Bontang)

Mau Kasih Makan Ayam, Warga Malah Temukan Tetangganya Meninggal di Atas Kasur

0
Mau Kasih Makan Ayam, Warga Malah Temukan Tetangganya Meninggal di Atas Kasur
Ilustrasi mayat. (ist)

BONTANG – Mayat pria paruh baya ditemukan di Jalan Lumba-Lumba, Tanjung Laut Indah, Bontang Selatan, Jumat (24/3/2023) pukul 16.30

Pria berinisial AH (54) ditemukan dalam keadaan meninggal dunia di tempat tidurnya.

Dikatakan Kapolsek Bontang Selatan AKP Abdul Khoiri, dari informasi keluarga pria yang bekerja sebagai kuli bangunan itu memiliki riwayat penyakit maag.

“Dari informasi keluarga memang punya penyakit lambung,” ucapnya.

Kematiannya pertama kali diketahui oleh warga sekitar yang datang hendak memberi makan ayam miliknya, kebetulan berdekatan dengan tempat tinggal korban.

“Tidak ditemukan tanda kekerasan di tubuhnya. Atas permintaan Keluarga tidak dilakukan visum Pihak keluarga mengikhlaskan dan malam ini dimakamkan di TPU Pisangan,” pungkasnya. (Humas Polres Bontang)

Ketahuan Mencuri, ART di Komplek PT Badak NGL Dipolisikan

0
Ketahuan Mencuri, ART di Komplek PT Badak NGL Dipolisikan
Ilustrasi pencurian. (ist)

BONTANG – Seorang Asisten Rumah Tangga (ART) di Komplek PT Badak NGL, ditangkap usai dilaporkan majikannya karena mencuri.

SM (27) ditangkap di Jalan Bhayangkara, Sabtu 25 Maret 2023 pukul 06.00 wita. Dia diamankan berdasarkan serah terima dari Security PT Badak NGL.

Kapolres Bontang AKBP Yusep Dwi Prastiya melalui Kasat Reskrim, Iptu Yohanes Bonar Adiguna menjelaskan, tersangka baru sebulan bekerja. Alasan dia mencuri karena memiliki banyak utang.

Diceritakan Bonar, kejadian pencurian diketahui saat korban yang merupakan majikan dari SM pulang dari cuti kerja. Tepatnya pada Rabu 22 Maret 2023 pukul 09.00 Wita.

Korban kaget saat memeriksa lemari, barang-barang berharganya yakni kalung 10 gram, plakat emas 10 gram, gelang total 14 gram, cincin 1,7 gram, cincin nikah korban 5 gram, emas batangan 6 gram, 7 lembar uang dolar Singapura, chooper, hingga bed cover raib dari tempatnya.

“Korban mengalami kerugian hingga Rp 40 juta. Melapor ke Polres Bontang,” ucapnya.

Tersangka kini harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Dia dikenakan pasal 363 KUHPidana tentang pencurian.

“Ancaman lima tahun penjara,” tutupnya. (Humas Polres Bontang)

Kompak Jadi Mualaf, Ini Kisah Rentetan Hidayah 3 Kakak Beradik di Bontang

0
Kompak Jadi Mualaf, Ini Kisah Rentetan Hidayah 3 Kakak Beradik di Bontang
Tiga kakak beradik yang memilih masuk Islam. (Nugrah)

BONTANG – Febi (22) tidak menyangka sejak enam tahun terakhir dirinya bakal memeluk Agama Islam. Bahkan kedua adiknya pun memilih untuk menjadi mualaf mengikuti jejaknya.

Terlahir dalam keluarga yang taat menjalankan Agama membentuk kepribadiannya yang cukup keras. Tak ada kompromi. Saban hari ia melihat adik kecilnya pulang mengenakan kopiah dan sarung. Kontan saja ia langsung membuangnya.

“Itu agama yang nggak benar,” kenang Febi saat memarahi adik kecilnya yang cuman ikut-ikutan salat bersama temannya.

Pengenalannya tentang Islam banyak dipengaruhi lingkungan pertemanan. Kala itu dia masih duduk di bangku kelas satu SMA Negeri 2 Bontang sekitar 2017.

Febi remaja cukup aktif di sekolah. Ia juga tergolong siswa pintar. Seperti gadis remaja pada umumnya, ia juga memiliki pacar yang kini sudah mempersuntingnya belum lama ini.

“Kebetulan suami yang pas waktu itu masih pacaran, kami sering belajar kelompok. Dari situ kami sering diskusi soal agama,” ujarnya.

Perdebatan soal agama selalu jadi ujung dari obrolan Febi dan sahabat-sahabat karibnya. Sampai suatu ketika ia kesulitan menjawab seputar pertanyaan yang diberikan kepadanya.

Berawal dari situ, Febi kemudian mencari informasi seputar Islam. Berbagai literatur ia pelajari. Mulai dari buku, dan berselancar di internet.

Perlahan Febi malah terpikir. Begitu banyak pertanyaan muncul seputar agama yang ia imani. Akhirnya ia memberanikan diri untuk bertanya ke seorang agamawan di agama yang dulu diimaninya.

Namun jawaban yang ia dapatkan tak sesuai harapan. Malah memunculkan segudang pertanyaan lain.

Singkat cerita Febi mulai gamang dengan apa yang dia percaya selama ini. “Banyak bertanya-tanya lah saya. Sampai saya malah kepengin tahu tentang Islam. Saya cari-cari tahu terus. Kebetulan sahabat-sahabat saya juga banyak mendukung,” ujarnya.

Diskusi Febi tentang agama sampai ke telinga para guru di sekolah saat itu. Beruntung, beberapa guru pun banyak mengajarkan dirinya.

Singkat cerita, Febi makin tertarik melihat ajaran Islam. Rupanya tak seperti yang dia pikirkan selama ini. Malah banyak mengajarkan tentang kedisiplinan beribadah, dan mengajarkan kedamaian. Sehingga alasan itu membuatnya makin mantap mau menjadi mualaf.

“Akhirnya saya coba beranikan diri ngomong ke mama. Sampai kami berdebat keras. Mama menentang. Bahkan saya sempat diusir,” ungkapnya.

Pertentangan itu sempat membuat hubungannya sedikit renggang dengan sang ibu. Pasalnya, Febi yang dulu getol mengajak ibunya menjadi aktivis dan pelayan di rumah ibadah malah berbalik arah.

Restu untuk menjadi mualaf tak diterima. Sang ibu menutup rapat-rapat keinginan anaknya. Namun, Febi tetap bersikukuh dengan pendiriannya. Akhirnya, tepat di hari pertama ramadhan pada saat itu, ia ditemani beberapa guru di sekolah dan kerabatnya mendatangi Badan Pembinaan Mualaf Yayasan Baiturrahman Pupuk Kaltim.

Febi pun bersyahadat. Seketika air mata mengalir deras. Begitu juga dengan para guru, dan teman-teman yang menemaninya. Mereka saling merangkul.

Setibanya pulang ke rumah, tensi hubungannya masih dingin dengan sang ibu. Tak ada percakapan. “Diam-diaman lah kami. Waktu itu mama nggak tahu kalau saya sudah jadi Islam,” katanya.

Bahkan Febi harus mencuri-curi waktu mengenakan hijab. “Kalau di rumah saya nggak pakai. Pas mau keluar rumah agak jauh saya pakai hijabnya,” ujarnya

“Sampai suatu ketika mama lagi masak. Terus mama bilang itu daging B2, jangan dimakan yah. Di situ saya mulai kepikiran mama akhirnya perlahan mulai menerima pilihan saya,” ujar Febi.

Sejak menjadi mualaf Febi merubah namanya menjadi Anisa Febi Azzahra.

Mualaf Sang Adik, Sindi

Cerita lainnya datang dari sang adik, Sindi. Hidayah itu ia terima sekitar setahun lalu. Tepatnya pada Februari 2022. Berbeda dengan sang kakak Febi, Sindi memang tidak begitu fanatik. Namun tiap Minggu wajib ikut ibadah.

“Saya dulu suka pakai jilbab masih kecil. Ikut-ikut buka puasa juga sama teman-teman kecil. Tapi kakak marahin saya,” ujarnya.

Sindi menuturkan, dirinya mulai gamang soal agama yang dianut juga semasa duduk di bangku sekolah. Pasalnya di identitas ia Muslim namun hari-hari ia tidak mengikuti ajaran Islam. “Karena mama kan non-muslim jadi kami semua ikut agama mama,” ujarnya.

Status agama yang menurutnya tak jelas ini harus ia perjelas. “Jadi bapak itu muslim, kebetulan saya sama kakak beda bapak. Tapi saya ikut agama mama meskipun identitas saya Islam,” ujarnya.

Beruntungnya, lingkungan pergaulan Sindi mendukung penuh dirinya untuk belajar Agama Islam. Itu ditambah guru-gurunya yang membimbing dirinya tentang ajaran Islam.

Sampai suatu ketika, Sindi kebetulan sedang menggunakan aplikasi di media sosial. Saat itu ia melihat video tentang Surat Al-Ikhlas.

“Ada ayat di surat ini kan yang bilang Tuhan cuman satu. Nah ini yang buat saya makin penasaran memperdalam ilmu Agama. Untungnya teman-teman dan guru di sekolah ikut membantu,” ujarnya.

Beberapa bulan belajar tentang Akidah Islam, Sindi mengikuti jejak sang kakak, Febi. Ia juga ingin mengucap dua kalimat syahadat. Lagi-lagi ia juga mendapat pertentangan dari sang ibu.

“Mama bilang kalau saya pindah agama. Sudah nggak mau lagi biayain saya,” ujarnya.

Sama seperti sang kakak, Febi juga berkeras dirinya sudah dewasa, dan berhak memilih apa yang dia putuskan.

“Mama sempat nangis pas saya keluar kamar pakai jilbab. Saya sebenarnya sedih juga. Tapi ini pilihan saya,” terangnya.

Kerasnya hati sang ibu pun diluluhkan oleh keinginan putrinya itu. Restu itu ia dapatkan kala sang kakak, Febi berangkat salat tarawih. “Mama terus bilang, kamu nda ikut sama kakakmu. Di situ saya lihat akhirnya terima pilihan saya,” ujarnya.

Kini setelah setahun memeluk Islam Sindi yang baru saja lulus SMA itu merubah namanya menjadi Alisya Zoya Sindi Azzahra.

“Sekarang lagi banyak belajat tentang rukun Islam, rukun Iman. Yang masih dasar-dasar,” ucapnya.

Adik Bungsu Ikut Mualaf

Hidayah terakhir datang dari sang bungsu, Bram Larossa (16) berbeda dari kedua kakak perempuannya itu. Bram kecil memang lebih berani. Ia bahkan sering ikut salat bareng teman-teman kecilnya. “Saya yang pulang-pulang bawa kopiah sama sarung terus dibuang sama Kak Febi,” kenang remaja yang masih sekolah itu.

Bram menuturkan, usai kakaknya Sindi memutuskan menjadi mualaf. Sang ibu sudah lebih dulu mewanti-wantinya agar tak mengikuti kedua kakaknya.

“Mama bilang awas yah kamu ikut-ikutan sama kakakmu. Saya diam aja. Nggak jawab sama sekali,” ujarnya.

Namun, di balik diamnya itu Bram lebih penasaran lagi dengan ajaran Islam. Terlebih dia banyak bergaul dengan pemuka agama Islam di lingkungan tempat tinggalnya.

“Saya sering nongkrong. Di situ saya banyak nanya. Kebetulan ada Ustadz yang sering ikut ngumpul sama kami. Saya belajar dari Pak Ustadz jadinya,” terangnya.

Hasi diskusi Bram dengan sang ustadz ia bawa diskusi dengan ibunya. Bahkan si bungsu ini banyak mendebat sang ibu.

“Saya nanya-nanya terus ke mama. Mungkin mama sudah ada feeling kalau saya ini saya tertarik dengan Islam,” ujarnya.

Bram mengaku, saat mengutarakan kemauammya untuk masuk Islam sang ibu tak banyak menentang. “Dibanding kakak saya yang paling mudah dapat restu,” ujarnya.

Tepat di pengujung tahun lalu Bram akhirnya bersyahadat. Namanya yang semula Bram Larossa, kini berubah menjadi lebih Islami, Muhammad Azril Bram Malik.

Kini ketiganya saling mendukung belajar Agama Islam.

Rhadiyah, Pelaksana Harian Yayasan Baiturrahman Pupuk Kaltim mengatakan, melalui pembinaan yang dilakukan Badan Pembinaan Mualaf ini para mualaf akan dibekali pendidikan agama. Tak sekadar dapat sertifikat saja.

Mualaf akan diikutkan program pengenalan akidah dan belajar mengaji. “Jadwalnya ada satu minggu sekali ada yang dua minggu sekali,” ujarnya.

Dia mengatakan, setiap tahunnya jumlah mualaf terus bertambah. “Rata-rata 30-50 setiap tahun,” ungkapnya.

Sampai saat ini jumlah mualaf yang terdata dari Yayasan Baiturrahman mencapai 300-an orang.

Penulis: Ahmad Nugraha

Pergantian Ketua MUI Bontang Masih Diplenokan

0
Pergantian Ketua MUI Bontang Masih Diplenokan
Ilustrasi pelaksanaan rapat-rapat MUI Bontang yang dilakukan sebelumnya. (ist)

BONTANG – Proses pergantian Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bontang saat ini sedang dilakukan. Namun sebelum pergantian berlangsung, akan dilakukan rapat pleno oleh rapat pengurus.

Staf Pengurus MUI Bontang, Jumadil mengatakan, proses pergantian Ketua MUI akan dilakukan secara bersama oleh pengurus dengan melaksanakan rapat harian. Dengan begitu, ketua akan dijabat oleh pelaksana tugas.

“Sementara ini posisi Ketua MUI digantikan oleh ketua satu. Saat itu ketua sebelumnya masih dalam keadaan sakit, maka jabatan ketua diserahkan kepada ketua satu sebagai pelaksana tugas,” kata Jumadil saat dihubungi Mediakaltim.com, Sabtu (25/3/2023).

Lanjut Jumadil, nantinya akan dilaksanakan rapat pengurus harian dan rapat pleno dalam menetapkan secara resmi sebagai pelaksana tugas dan hasilnya akan dikirimkan ke MUI Provinsi.

“Hasilnya akan diserahkan ke provinsi dan akan dibuatkan surat keputusan (SK) ketua pelaksana untuk masa periode 2019-2024,” kata Jumadil.

Sebelumnya, selama Ketua MUI sedang dalam kondisi sakit, ketua pelaksana diserahkan ke Ustaz Misbahul Munir hingga akan melaksanakan rapat pleno.

Diinformasikan sebelumnya, Ketua MUI Kota Bontang periode 2019-2024, K.H Imam Hambali meninggal dunia pada Kamis, (16/3/2023) di Ponpes Tumpuk Selopuro, Blitar, Jawa Timur. Ia meninggal di usia 68 tahun dengan penyakit stroke yang sudah dideritanya sejak satu tahun belakangan. Almarhum sudah menjabat Ketua MUI Kota Bontang selama 3 periode. (yah)

Kampung Malahing Posisi 75 Desa Wisata Terbaik di Indonesia

0
Kampung Malahing Posisi 75 Desa Wisata Terbaik di Indonesia
Kampung Malahing (ist)

BONTANG – Kampung Malahing, salah satu desa wisata di Bontang, Kalimantan Timur menjadi salah satu desa wisata yang masuk dalam 75 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia Tahun 2023.

Nurfaidah, Lurah Tanjung Laut Indah mengatakan, hal ini tentu tidak lepas dari peran serta masyarakat dan instansi-instansi yang membantu pengembangan Malahing.

“Kami akan terus kembangkan hingga masuk nominasi 50 besar,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Kampung Malahing akan lebih dikembangkan lagi, sehingga Malahing sebagai desa wisata akan segera naik peringkat pada penilaian yang akan datang.

“Bulan depan akan ada penilaian, hanya saja belum ada tanggal pastinya,” lanjut Nurfaidah.

Terdapat 7.275 desa wisata yang mendaftar. Dari jumah tersebut, desa wisata akan diseleksi, kemudian dikerucutkan menjadi 4.573 desa wisata. Malahing terpilih berada di urutan ke-75 se-Indonesia.

Nurfaidah belum mengetahui persis indikator dalam penilaiannya, sehingga mulai dari pengembangan Kampung Malahing akan dipersiapkan dengan matang.

“Kami harus optimistis masuk 50 besar, karena Malahing ini sangat diperhatikan sekali. Banyak juga orang-orang dari luar datang untuk berkunjung,” ucapnya.

Karena mata pencaharian warga Malahing adalah nelayan, Pemkot Bontang sudah mempersiapkan berbagai macam pelatihan, mulai dari pengolahan makanan, pembuatan batik, atau perahu untuk berkeliling.

“Jadi kami inginnya di sana banyak macam hiburannya, jadi orang mau balik lagi, ” tutupnya. (sya)

Hoaks! Video Truk Sawit Terperosok di Jembatan Kilo 5

0
Hoaks! Video Truk Sawit Terperosok di Jembatan Kilo 5
Screenshoot video hokas truk sawit terperosok di Jembatan Kilometer 5. (ist)

BONTANG – Beredar video di media sosial yang merekam kejadian truk pengangkut sawit terperosok di  Jembatan Kilometer 5 Jalan Poros Bontang – Samarinda, Sabtu (25/3/2023) dini hari tadi.

Namun dipastikan oleh Anggota Satlantas Polsek Teluk Pandan, Puryoso video itu tidak benar alias hoaks. “Tidak benar itu hoaks videonya,” ujarnya saat dihubungi Mediakaltim.com

Dikatakan hoaks lantaran video itu adalah kejadian beberapa minggu sebelumnya. Dimana pernah pula kejadian yang sama di Jembatan Kilo 5, yaitu terperosoknya truk bermuatan sawit. Sehingga menyebabkan antrian panjang karena kendaraan lain tidak bisa melintas.

“Sudah saya cocokkan dengan video yang kejadian sebelumnya ternyata memang sama persis kejadiannya,” pungkasnya. (al)

Kenapa Truk Besar Dilarang Isi Solar di Dalam Kota, Ini Penyebabnya!

0
Kenapa Truk Besar Dilarang Isi Solar di Dalam Kota, Ini Penyebabnya!
Ilustrasi truk besar long chasis. (ist)

BONTANG – Tidak ada aturan yang melarang kendaraan jenis tertentu untuk bisa mengisi Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar subsidi di SPBU, termasuk kendaraan truk besar kategori long chasis atau 6 roda ke atas.

Hal itu diungkapkan Robi Kurniawan, Sales Branch Manager Rayon 3 Kalimantan Timur dan Utara (Kaltimut) PT Pertamina, saat mengikut Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Anggota DPRD Bontang beberapa waktu lalu.

Dikatakan Robi, kendaraan besar kategori long chasis tetap boleh mengisi solar di SPBU manapun. Tak ada larangan dalam Undang Undang yang menyebutkan truk besar 6 roda ke atas dilarang mengisi solar di SPBU.

“Di dalam UU tidak dijelaskan ada kendaraan tertentu yang dilarang mengisi solar di SPBU. Kecuali kendaraan pengangkut sawit,” ujarnya.

Namun begitu dirinya menjelaskan, aturan terkait boleh atau tidaknya truk besar mengisi solar subsidi di SPBU dalam kota ada pada kemewangan pemda setempat. Lantaran kuota solar subsidi yang punya pemda setempat, sehingga pemda setempat lah yang punya kewenangan untuk mengatur siapa yang boleh dan tidak mengisi solar subsidi.

“Mau dibikin cuma mobil pribadi yang mengisi solar saja juga boleh,” katanya.

Intinya dijelaskan, pengaturan truk besar long chasis dilarang mengisi solar subsidi di SPBU dalam kota adalah demi ketertiban lalu lintas. Ditambah juga pemda setempat mengutamakan faktor keselamatan pengguna jalan. Karena itu di Bontang kendaraan besar hanya diperbolehkan mengisi solar subsidi di SPBU luar kota.

“Sekarang antrian solar sudah dirubah mekasnismenya. Ada yang sistem online, ada juga sistem parkiran di tempat lain. Sudah lumayan mengurangi antrian. pengaturan Ini jadi salahsatu kontribusi Bontang dapat Piala Adipura. Ada dampak positifnya,” pungkasnya. (al)