Beranda blog Halaman 102

Pupuk Organik hingga Biopori, Pertamina Bekali KWT Tingkatkan Produktivitas

0
Penyerahan bantuan peralatan pengolahan kompos dan sarana pendukung biopori dari PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan kepada Kelompok Wanita Tani (KWT) Domsuk Ceria di Balikpapan. (Istimewa)

BALIKPAPAN – Upaya memperkuat ketahanan pangan nasional dapat dimulai dari lingkungan rumah. Hal itu menjadi semangat PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan melalui Integrated Terminal (IT) Balikpapan yang menggelar pelatihan pengolahan pupuk organik dan pemanfaatan lahan pekarangan bagi Kelompok Wanita Tani (KWT) di Balikpapan.

Kegiatan yang berlangsung bekerja sama dengan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kota Balikpapan pada Selasa (30/6/2026) tersebut diikuti lima Kelompok Wanita Tani yang berada di sekitar wilayah operasional perusahaan. Pelatihan mencakup pembuatan pupuk organik cair (POC), kompos, hingga penerapan lubang biopori sebagai bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).

Fuel Terminal Manager Pertamina Patra Niaga Kalimantan, Rudi Mahendra, mengatakan program tersebut merupakan bentuk dukungan perusahaan terhadap ketahanan pangan sekaligus pemberdayaan masyarakat di sekitar terminal.

“Lahan pekarangan yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal memiliki potensi untuk menghasilkan kebutuhan pangan keluarga apabila dikelola dengan baik. Melalui pelatihan ini, Pertamina ingin membekali para anggota KWT dengan keterampilan yang dapat diterapkan secara langsung,” ujarnya.

Selain menghadirkan penyuluh pertanian sebagai narasumber, Pertamina juga menyerahkan bantuan berupa peralatan pengolahan kompos dan sarana pendukung biopori agar peserta dapat langsung mempraktikkan materi yang telah diberikan.

Rudi berharap program tersebut tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga, tetapi juga mampu membuka peluang ekonomi apabila hasil panen yang diperoleh dapat dipasarkan.

“Pendampingan kepada kelompok tani akan terus dilakukan agar program berjalan secara berkelanjutan,” katanya.

Dukungan serupa disampaikan Ketua Tim Penyuluhan Pertanian Kota Balikpapan dari Kementerian Pertanian, Roy Hatikorat Siombing. Menurutnya, keterlibatan dunia usaha menjadi salah satu faktor penting dalam mempercepat terwujudnya ketahanan pangan nasional.

“Ketahanan pangan tidak selalu identik dengan produksi beras dalam skala besar. Pemenuhan kebutuhan sayuran, cabai, tomat, maupun tanaman pangan lainnya dari pekarangan rumah juga merupakan kontribusi nyata dalam memperkuat ketahanan pangan keluarga,” ujarnya.

Roy menilai Kelompok Wanita Tani memiliki peran strategis karena terlibat langsung dalam memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga. Dengan keterampilan yang memadai, para anggota KWT dapat mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar sekaligus menekan pengeluaran keluarga.

Dalam pelatihan tersebut, peserta diajarkan mengolah limbah rumah tangga seperti air cucian beras, kulit pisang, daun-daunan, dan sisa sayuran menjadi pupuk organik.

“Metode ini lebih ramah lingkungan sekaligus dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua KWT Domsuk Ceria, Sanati, menyambut baik pelatihan tersebut. Ia mengaku ilmu yang diperoleh menjadi bekal bagi kelompoknya untuk mulai memanfaatkan pupuk organik berbahan sederhana yang mudah ditemukan di sekitar rumah.

“Selama ini kami masih mengandalkan pupuk kimia dan pupuk kandang. Dengan adanya pelatihan ini, para anggota terdorong beralih ke pupuk organik yang lebih ekonomis dan ramah lingkungan,” ujarnya.

Sanati juga mengapresiasi bantuan peralatan yang diberikan Pertamina karena dapat langsung dimanfaatkan oleh para anggota. Saat ini KWT Domsuk Ceria memiliki sekitar 30 anggota dengan 15 anggota aktif yang membudidayakan berbagai tanaman hortikultura, termasuk buah naga sebagai salah satu komoditas unggulan.

“Hasil panen tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi anggota, tetapi juga dipasarkan sebagai tambahan pendapatan kelompok,” jelasnya.

Ia berharap sinergi dan pendampingan dari Pertamina dapat terus berlanjut sehingga semakin banyak Kelompok Wanita Tani yang berkembang dan mandiri.

Kolaborasi antara Pertamina Patra Niaga, Balai Penyuluhan Pertanian, dan Kelompok Wanita Tani diharapkan menjadi contoh sinergi antara dunia usaha, pemerintah, dan masyarakat dalam membangun ketahanan pangan berbasis rumah tangga melalui pemanfaatan pekarangan serta penggunaan pupuk organik.

Penulis: Aprianto
Editor: Agus S.

Stunting Tak Kunjung Tuntas: Benarkah Solusi Kapitalistik Gagal Menjawab Akar Masalah?

0
Dewi Yuliana. (Dok pribadi)

Oleh:
Dewi Yuliana
Pengusaha Kuliner Sangatta

Pemerintah Kota Bontang melaksanakan Operasi Timbang Serentak Tahun 2026 pada 9–13 Juni lalu di 125 Posyandu yang tersebar di seluruh wilayah kota. Kegiatan ini menargetkan 9.840 balita untuk memperoleh data status gizi yang akurat sebagai dasar percepatan penurunan stunting.

Operasi timbang serentak bertujuan memperbarui data status gizi balita, mendeteksi secara dini kasus stunting, gizi kurang, gizi buruk, maupun gangguan pertumbuhan lainnya.

Data yang diperoleh akan menjadi dasar bagi pemerintah dalam menyusun program intervensi yang lebih tepat sasaran sehingga bantuan dan pendampingan dapat diberikan kepada balita dan keluarga yang benar-benar membutuhkan.

Melalui data yang akurat, pemerintah diharapkan dapat menghindari pendekatan yang bersifat umum dan mengarahkan program penanganan sesuai kondisi serta kebutuhan masing-masing wilayah. Dengan demikian, intervensi yang dilakukan akan lebih efektif dalam menekan angka stunting.

Kegiatan tersebut secara resmi dibuka oleh Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, bersama Wakil Wali Kota Agus Haris di Ruang Rapat Lantai II Kantor DPMPTSP Kota Bontang.

Dalam sambutannya, Wali Kota menegaskan bahwa penanganan stunting memerlukan sinergi dari hulu hingga hilir. Upaya tersebut tidak cukup hanya berfokus pada balita, tetapi harus dimulai sejak masa remaja melalui pemberian tablet tambah darah, peningkatan kesehatan calon ibu, perbaikan sanitasi lingkungan, hingga pemenuhan gizi ibu hamil.

Pernyataan yang disampaikan oleh wali kota menunjukkan bahwa stunting bukan sekadar persoalan kurangnya asupan makanan pada anak. Stunting merupakan persoalan multidimensi yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kesehatan ibu, pola asuh, pendidikan, sanitasi, hingga kondisi sosial ekonomi masyarakat.

Berdasarkan data e-PPGBM, prevalensi stunting Kota Bontang pada tahun 2023 berada pada angka 19,6 persen, menurun dibandingkan tahun 2022 yang mencapai 22,8 persen. Namun berdasarkan data SSGI dan SKI, prevalensi stunting di Kota Bontang justru tercatat meningkat dari 21 persen pada tahun 2022 menjadi 27,4 persen pada tahun 2023. Perbedaan angka tersebut menunjukkan adanya perbedaan metode pengukuran dan cakupan data yang digunakan.

Pada tahun 2023 tercatat sebanyak 1.786 anak mengalami stunting di Kota Bontang, dengan jumlah tertinggi berada di Kelurahan Loktuan sebanyak 253 anak. Adapun wilayah yang menjadi fokus utama penanganan stunting meliputi Berebas Pantai, Guntung, Bontang Kuala, dan Tanjung Laut Indah.

Di tingkat nasional, persoalan stunting juga belum sepenuhnya terselesaikan. Hasil SSGI 2024 menunjukkan prevalensi stunting nasional berada pada angka 19,8 persen. Sementara itu, pemerintah menargetkan prevalensi stunting turun menjadi 18,8 persen pada tahun 2025 dan 14,2 persen pada tahun 2029. Artinya, masih diperlukan upaya yang lebih besar untuk mencapai target tersebut.

Penurunan angka stunting yang terjadi di berbagai daerah sebenarnya telah berlangsung sebelum Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diterapkan secara luas. Hal ini menunjukkan bahwa capaian tersebut merupakan hasil dari berbagai program percepatan penurunan stunting, yang telah dijalankan pemerintah selama beberapa tahun terakhir.

Selain itu, hingga saat ini belum terdapat data nasional yang dapat membuktikan secara pasti dampak MBG terhadap penurunan stunting. Program tersebut baru mulai berjalan pada tahun 2025 dan diperluas secara bertahap sepanjang 2025–2026. Karena itu, efektivitasnya terhadap penurunan prevalensi stunting masih memerlukan evaluasi dalam jangka waktu yang lebih panjang.

Kemajuan industri yang menjadi kebanggaan Kota Bontang juga belum sepenuhnya mampu menghapus persoalan stunting. Fakta ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas gizi, kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan keluarga agar manfaat pembangunan dapat dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat.

Di tengah geliat industri dan tingginya aktivitas ekonomi, masih ditemukannya kasus stunting menjadi pengingat bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kualitas hidup dan kesehatan generasi penerus bangsa.

Data stunting di Indonesia menunjukkan bahwa persoalan ini belum terselesaikan secara tuntas meskipun berbagai program telah dijalankan. Di Kalimantan Timur maupun Kota Bontang yang dikenal sebagai daerah dengan aktivitas ekonomi yang cukup baik, kasus stunting masih ditemukan. Kondisi ini menunjukkan bahwa stunting bukan sekadar persoalan kurangnya makanan, melainkan persoalan yang bersifat sistemik dan dipengaruhi oleh banyak faktor.

Tingginya angka dispensasi perkawinan yang dalam banyak kasus dipicu oleh kehamilan usia muda turut meningkatkan risiko stunting. Kehamilan pada usia yang belum matang sering kali berkaitan dengan rendahnya kesiapan fisik, mental, dan ekonomi dalam menjalankan peran sebagai orang tua.

Selain itu, faktor ekonomi juga memegang peranan penting. Dalam sistem ekonomi yang berorientasi pada pertumbuhan dan keuntungan, tidak semua keluarga memiliki akses yang sama terhadap pangan bergizi, layanan kesehatan, pendidikan, dan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak. Akibatnya, meskipun berbagai intervensi dilakukan melalui lintas sektor, akar persoalan stunting belum sepenuhnya terselesaikan.

Stunting Tak Akan Tuntas Tanpa Perubahan Sistemik

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu upaya yang diharapkan dapat mendukung percepatan penurunan stunting. Namun, stunting merupakan persoalan multidimensi yang tidak dapat diselesaikan hanya melalui penyediaan makanan bergizi. Selain asupan gizi, terdapat faktor lain yang turut memengaruhi, seperti kesehatan ibu dan anak, pola pengasuhan, pendidikan, sanitasi, kondisi ekonomi keluarga, hingga lingkungan sosial tempat anak tumbuh dan berkembang.

Karena itu, keberhasilan penanganan stunting memerlukan pendekatan yang menyeluruh dan berkelanjutan. Upaya tersebut tidak cukup hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan pangan, tetapi juga harus menyentuh aspek keluarga, pendidikan, kesehatan, moral sosial, serta kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.

Di tengah melimpahnya sumber daya alam dan berbagai program yang telah dijalankan, persoalan stunting masih menjadi tantangan di banyak daerah. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah persoalan stunting semata-mata disebabkan oleh kurangnya intervensi, atau justru berkaitan dengan sistem yang mengatur kehidupan masyarakat?

Dalam pandangan penulis, sistem kehidupan yang berlandaskan kapitalisme cenderung menempatkan pertumbuhan ekonomi dan keuntungan sebagai orientasi utama. Akibatnya, akses terhadap kebutuhan dasar seperti pangan bergizi, layanan kesehatan, pendidikan berkualitas, dan lingkungan yang layak tidak selalu dapat dinikmati secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat. Berbagai program yang dijalankan sering kali hanya menyentuh dampak yang tampak di permukaan, sementara persoalan mendasar seperti kesenjangan sosial, kemiskinan, dan rapuhnya ketahanan keluarga belum terselesaikan secara menyeluruh.

Selama akar persoalan tidak disentuh, stunting akan terus menjadi pekerjaan rumah yang berulang. Diperlukan perubahan yang tidak hanya berfokus pada bantuan dan intervensi teknis, tetapi juga pada pembenahan sistem yang mampu menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat, menjaga ketahanan keluarga, serta mewujudkan kesejahteraan yang dapat dirasakan oleh seluruh rakyat.

Stunting hanyalah salah satu potret dari persoalan yang lebih besar. Karena itu, sudah saatnya kita tidak hanya bertanya bagaimana mengatasi stunting, tetapi juga menelaah sistem seperti apa yang mampu melahirkan generasi yang sehat, kuat, sejahtera, dan berkualitas. Masihkah kita akan mempertahankan sistem yang belum mampu menyelesaikan persoalan hingga ke akarnya, atau mulai mencari solusi yang lebih mendasar dan menyeluruh?

Islam dan Solusi Mewujudkan Generasi Berkualitas

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa dalam Islam, negara bertanggung jawab mengurus dan menjamin terpenuhinya kebutuhan rakyat. Karena itu, Khalifah berkewajiban memastikan setiap individu memperoleh kebutuhan dasar seperti pangan, kesehatan, dan pendidikan yang layak.

Islam tidak sekadar menawarkan program untuk mengatasi stunting, tetapi menghadirkan sistem yang membangun generasi unggul dari akarnya. Melalui sistem ekonomi yang menyejahterakan, pendidikan yang membentuk kepribadian, layanan kesehatan yang mudah diakses, serta aturan pergaulan yang menjaga kehormatan dan ketahanan keluarga, Islam berupaya melahirkan generasi yang sehat fisiknya, cerdas akalnya, dan kokoh keimanannya.

Sejarah mencatat, pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, kesejahteraan rakyat meningkat pesat hingga petugas zakat dikisahkan kesulitan menemukan penerima zakat. Hal ini menunjukkan bagaimana pengelolaan negara yang berorientasi pada kesejahteraan rakyat mampu melahirkan masyarakat yang kuat dan berkualitas.

Tidakkah kita merindukan hadirnya sebuah sistem yang mampu menjamin kesejahteraan rakyat dan melahirkan generasi yang sehat, cerdas, serta berakhlak mulia sebagaimana yang pernah tercatat dalam sejarah Islam?

Wallāhu a’lam bish-shawāb.

DPRD Bontang: Dongkrak PAD Harus Dimulai dari Kesadaran Warga

0
Ketua DPRD Bontang, Andi Faizal Sofyan Hasdam. (Ist)

BONTANG – Ketua DPRD Kota Bontang Andi Faizal Sofyan Hasdam menilai upaya peningkatan pajak dan retribusi daerah sudah berada di jalur yang benar. Namun ia menegaskan, target Pendapatan Asli Daerah (PAD) tidak akan tercapai hanya dengan penegakan aturan.

Menurutnya, kinerja Badan Pendapatan Daerah, Dinas Perhubungan, dan OPD lain sudah cukup baik. Tantangan terbesar saat ini adalah mengubah perilaku masyarakat agar taat membayar pajak dan retribusi.

“Mengubah perilaku masyarakat itu tidak instan, perlu proses. Edukasi dan pembenahan sistem pelayanan harus terus jalan agar kepatuhan meningkat,” ujar Andi Faizal.

Ia berharap pemerintah daerah bisa bergerak lebih cepat dalam menggali potensi pendapatan. Kolaborasi antara pemerintah, DPRD, dan masyarakat dinilai menjadi kunci.

DPRD menyatakan akan terus mendukung langkah pemerintah daerah, dengan catatan kebijakan yang diterapkan mengedepankan transparansi, kemudahan pelayanan, dan manfaat langsung bagi masyarakat.

“Bayar pajak itu wajib. Ini kesadaran kita bersama untuk meningkatkan PAD,” pungkasnya.(sya/adv)

Editor: Yusva Alam

Sinergi OPD dan Pemberdayaan Warga Jadi Kunci Dongkrak PAD Bontang

0
Ilustrasi PAD. (MetaAI)

BONTANG – Ketua DPRD Kota Bontang Andi Faizal Sofyan Hasdam menilai peningkatan Pendapatan Asli Daerah tidak bisa hanya mengandalkan satu sektor. Kolaborasi antar Organisasi Perangkat Daerah dan pelibatan masyarakat disebutnya menjadi kunci.

Hal itu disampaikannya saat mengapresiasi kinerja Badan Pendapatan Daerah beberapa waktu lalu. Menurutnya, Bapenda sudah menunjukkan kerja positif dalam mengoptimalkan kepatuhan wajib pajak, khususnya dari perusahaan yang menjadi penyumbang utama PAD.

Selain pajak, Andi Faizal juga menyoroti inovasi Dinas Perhubungan melalui program penataan parkir. Program itu dinilai tidak hanya menambah retribusi daerah, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi warga.

“Optimalisasi berbagai sektor potensi PAD penting agar pembiayaan pembangunan dan pelayanan publik tidak sepenuhnya bergantung pada dana transfer pusat,” ujarnya.

Ia menegaskan DPRD berkomitmen mendukung kebijakan pemerintah daerah yang transparan, akuntabel, dan berdampak langsung bagi masyarakat. (Sya/adv)

Editor: Yusva Alam

Andi Faiz: Stop Bangun Vila Baru Jika Belum Berizin

0
Villa yang dibangun di atas laut Bontang. (Ist)

BONTANG – Ketua DPRD Kota Bontang Andi Faizal Sofyan Hasdam meminta pemilik vila menghentikan pembangunan baru jika belum mengantongi izin. Ia menekankan legalitas harus diselesaikan dulu, baik untuk bangunan lama maupun rencana baru.

“Kalau belum ada izinnya, jangan dulu dibangun. Pastikan izin lokasi dan izin membangun dari provinsi sudah sesuai, baru lanjut pekerjaan fisik,” tegasnya, Jumat (3/7/2026).

Untuk vila yang sudah terlanjur berdiri tanpa izin, Andi Faizal mendorong segera diurus administrasinya. Ia menyebut kelurahan sudah beberapa kali menggelar pertemuan dengan pemilik untuk mencari jalan legalisasi.

“Yang sudah ada tidak bisa dibongkar begitu saja. Maka ajukan izinnya agar punya kepastian hukum,” ujarnya.

DPRD berharap proses legalisasi berjalan sesuai aturan agar tidak muncul persoalan serupa ke depan. (Sya/adv)

Editor: Yusva Alam

Pelabuhan Loktuan Jadi Pusat Logistik, Buka Rute Pelayaran Bontang – Sulbar

0

Pembaca Setia Radar Bontang!

Ingin tahu kabar terkini Koran Digital Radar Bontang? Kunjungi link di bawah ini untuk membaca e-paper lengkapnya:

👉 E-Paper Lengkap
https://koran.radarbontang.com

👉 Versi Mobile
https://digital.radarbontang.com/rb1juli2026/mobile/

Penyegaran Birokrasi, Pemkot Bontang Lantik 12 Pejabat dan Kukuhkan Tiga Kepala Satuan Pendidikan

0
Ilustrasi pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan di lingkungan Pemkot Bontang. (AI).

BONTANG – Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang kembali melakukan penyegaran organisasi dengan melantik dan mengambil sumpah/janji jabatan bagi pejabat administrator, pengawas, dan fungsional, serta mengukuhkan kepala sekolah dan kepala Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) di lingkungan Pemkot Bontang.

Dalam kegiatan pelantikan tersebut, sebanyak 12 pejabat resmi dilantik. Mereka terdiri atas tujuh pejabat administrator (eselon III), dua pejabat pengawas (eselon IV), dan tiga pejabat fungsional. Selain itu, tiga pejabat juga dikukuhkan, yakni dua kepala TK Negeri dan satu Kepala Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Bontang.

Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Bontang, Sudi Priyanto menjelaskan, pelantikan ini merupakan bagian dari upaya Pemkot Bontang dalam memperkuat tata kelola pemerintahan, meningkatkan kualitas pelayanan publik.

“Ini cara mengoptimalkan kinerja perangkat daerah melalui penempatan aparatur, sesuai kompetensi dan kebutuhan organisasi,” ucapnya, Rabu (1/7/2026).

Untuk pejabat administrator yang dilantik di antaranya:
1. Muhtar sebagai Inspektur Pembantu I Inspektorat Daerah.
2. Sarkani sebagai Sekretaris Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkartan).
3. Nurbaena sebagai Sekretaris Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat (Dinsos-PM).
4. Partiwi sebagai Sekretaris Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Bontang.
5. Pujianto dipercaya menjabat Kepala Bidang Pengendalian Operasional Disdamkartan.
6. Johan Nindya Putranto menjabat Kepala Bidang (Kabid) Statistik dan Persandian Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo).
7. Agus Salim Umar yang kini menjabat Kepala Bidang (Kabid) Pelayanan dan Pencatatan Sipil di Disdukcapil Bontang.

Pada jabatan pengawas, meliputi:
1. Abdul Rasyid dilantik sebagai Kepala Seksi (Kasi) Penanggulangan dan Pengawasan Disdamkartan.
2. Adri Kusuma Atmaja dipercaya menjabat Kasi Pemberdayaan Masyarakat (PM) di Kelurahan Berbas Tengah.

Untuk jabatan fungsional, diisi oleh:
1. Ade Sisca Suardi dilantik sebagai Mediator Hubungan Industrial Ahli Pertama pada Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker).
2. Destin Pricilia Gokmauli sebagai Perencana Ahli Pertama di Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida),
3. Riyadi Sugeng Kuncoro mengemban di Bagian Keuangan di RSUD Taman Husada.

Pada kesempatan yang sama, Pemkot Bontang juga mengukuhkan:
1. Nisfatul Alifah sebagai Kepala TK Negeri 1 Bontang.
2. Andriyani sebagai Kepala TK Negeri 2 Bontang,
3. Hairul Saleh sebagai Kepala Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Bontang.

Pelantikan dan pengukuhan tersebut diharapkan mampu memperkuat kapasitas organisasi perangkat daerah, sekaligus meningkatkan profesionalisme aparatur sipil negara dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Maka dengan formasi kepemimpinan yang baru, Pemkot Bontang menargetkan kinerja birokrasi yang semakin efektif, adaptif, dan responsif terhadap kebutuhan pembangunan daerah.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Bontang Utara Jadi Wilayah Pertama yang Penuhi Kuota Waralaba, Dua Segera Beroperasi

0
Salah satu waralaba yang ada di Kota Bontang. (Syakurah)

BONTANG – Kecamatan Bontang Utara menjadi wilayah pertama di Kota Bontang, yang telah memenuhi kuota pendirian toko modern berjaringan atau waralaba. Dengan kondisi tersebut, tidak ada lagi ruang penambahan gerai baru di wilayah tersebut, hingga adanya evaluasi kebijakan dari pemerintah.

Jabatan Fungsional (Jafung) Penata Perizinan Ahli Muda Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Bontang, Idrus, mengatakan seluruh kuota waralaba di Bontang Utara kini telah terisi. Beberapa gerai bahkan telah beroperasi, sementara gerai terbaru tengah menyelesaikan tahapan administrasi sebelum resmi dibuka.

Menurutnya, setiap pendirian toko modern harus melalui tahapan perizinan yang cukup panjang. Mulai dari pemenuhan kesesuaian tata ruang, Persetujuan Bangunan Gedung (PBG), hingga rekomendasi teknis dari perangkat daerah terkai

“Kalau sudah masuk tahap sidang, itu berarti dokumen administrasi dan persyaratannya pada dasarnya sudah lengkap. Tinggal menunggu berita acara rekomendasi dari PUPR sebelum proses selanjutnya diselesaikan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pengaturan kuota dilakukan pemerintah agar persebaran toko modern tidak hanya terpusat di satu kawasan. Kebijakan tersebut juga menjadi upaya menjaga keseimbangan antara perkembangan investasi dengan keberlangsungan usaha mikro dan perdagangan lokal.

“Untuk Bontang Utara saat ini yang akan segera dibuka ada di Tanjung Limau. Yang masih proses di KS Tubun sana,” tuturnya.

Karena itu, DPMPTSP memastikan setiap permohonan izin akan mengacu pada kuota yang telah ditetapkan di masing-masing kecamatan. Selama kuota di suatu wilayah telah terpenuhi, pengajuan baru tidak dapat diproses hingga ada perubahan kebijakan dari pemerintah daerah. (Sya/adv)

Editor: Yusva Alam

Bontang Barat Masih Miliki Lima Kuota Waralaba, DPMPTSP Buka Peluang Investasi

0
Jafung Penata Perizinan Ahli Muda DPMPTSP Kota Bontang, Idrus. (Syakurah)

BONTANG – Berbeda dengan Kecamatan Bontang Utara yang kuotanya telah penuh dan Bontang Selatan yang sedang diproses penambahan satu gerai, Kecamatan Bontang Barat hingga kini masih menjadi wilayah yang paling terbuka bagi pengembangan toko modern berjaringan.

Jafung Penata Perizinan Ahli Muda DPMPTSP Kota Bontang, Idrus, mengatakan Bontang Barat masih memiliki lima kuota waralaba yang dapat dimanfaatkan oleh investor. Hingga saat ini belum ada kuota yang terisi di wilayah tersebut.

Ia menjelaskan, pemerintah memang membagi kuota waralaba berdasarkan wilayah kecamatan, agar perkembangan investasi lebih merata. Dengan demikian, masyarakat di setiap kawasan dapat memperoleh akses layanan perdagangan modern tanpa menimbulkan penumpukan gerai di satu lokasi.

Ia menjelaskan, investor yang berminat membuka toko modern di Bontang Barat tetap harus mengikuti seluruh mekanisme perizinan yang berlaku. Mulai dari pemenuhan kesesuaian tata ruang, Persetujuan Bangunan Gedung (PBG), hingga rekomendasi teknis dari instansi terkait sebelum izin usaha dapat diterbitkan.

“Kami tetap memproses seluruh permohonan sesuai prosedur. Selama kuota masih tersedia dan seluruh persyaratan dipenuhi, permohonan dapat diproses,” katanya.

DPMPTSP berharap, peluang yang masih tersedia di Bontang Barat dapat dimanfaatkan pelaku usaha untuk mendorong pemerataan investasi di Kota Bontang. (Sya/adv)

Editor: Yusva Alam

Satu Waralaba di Bontang Lestari Masuki Tahap Sidang PBG, Kuota Bontang Selatan Segera Berkurang

0
Jafung Penata Perizinan Ahli Muda DPMPTSP Kota Bontang, Idrus. (Syakurah)

BONTANG – Penambahan toko modern berjaringan di Kecamatan Bontang Selatan terus berproses. Saat ini, satu gerai yang direncanakan berdiri di Kelurahan Bontang Lestari, telah memasuki tahapan sidang kelengkapan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG).

Jafung Penata Perizinan Ahli Muda DPMPTSP Kota Bontang, Idrus, menjelaskan proses tersebut merupakan salah satu tahapan akhir sebelum penerbitan izin. Setelah sidang dinyatakan memenuhi persyaratan, pemohon tinggal menunggu berita acara rekomendasi dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), sebelum menyelesaikan kewajiban pembayaran retribusi.

“Kalau sudah sidang berarti persyaratan administrasinya sudah lengkap. Tinggal menunggu berita acara rekomendasi dari PUPR, setelah itu proses penerbitan izin dapat dilanjutkan,” jelasnya.

Ia mengatakan, gerai tersebut nantinya akan menambah jumlah waralaba di Kecamatan Bontang Selatan. Dengan adanya pengajuan yang sedang diproses itu, kuota waralaba di wilayah tersebut otomatis akan semakin berkurang setelah izin diterbitkan.

Idrus menegaskan, seluruh proses perizinan dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku. Tidak ada izin yang diterbitkan apabila persyaratan administrasi maupun teknis belum dipenuhi oleh pemohon.

“Jadi sisa satu kuota ya untuk Bontang Selatan,” tegasnya.

Menurutnya, pengaturan kuota tetap menjadi acuan pemerintah dalam mengendalikan pertumbuhan toko modern, agar persebarannya merata dan tidak terkonsentrasi pada satu kawasan saja. (Sya/adv)

Editor: Yusva Alam