Beranda blog Halaman 631

KKSS Bontang Cup 2025, Ajangnya Silaturahmi Antar Paguyuban di Kota Taman

0
Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris bersama tim Paguyuban Sragen. (Dwi/RadarBontang).

BONTANG – Ajang KKSS Bontang Cup 2025, menjadi salah satu ajang dalam menjalin tali silaturahmi antar paguyuban di wilayah Kota Bontang. Hal tersebut dikatakan secara langsung oleh Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris.

Dirinya pun turut terlibat dalam pertandingan sepak bola di ajang KKSS Bontang Cup 2025, dimana Agus Haris masuk di tim SulBar FC.

“Saya pikir dengan adanya kegiatan seperti ini merupakan kegiatan yang positif, yang digagas langsung oleh tim KKSS dengan ketua yang baru, yakni Andi Faizal Sofyan Hasdam,” ucapnya saat ditemui, Sabtu (27/9/2025).

Terlebih lagi, untuk peserta yang mengikuti ajang KKSS tersebut adalah masyarakat dari para paguyuban-paguyuban yang sudah ada di Bontang sejak lama.

Sehingga lewat ajang KKSS ini, masyarakat yang telah terbentuk di dalam paguyuban masing-masing, bertemu dalam suatu kegiatan pertandingan lewat olahraga dan lapangan.

“Dengan adanya kegiatan seperti ini juga, kita bisa membangun kebersamaan antar paguyuban di Bontang. Saling rukun satu dengan yang lain, serta selalu bersatu dengan keberagaman kita semua,” tambahnya.

Bukan hanya pertandingan saja, lewat kegiatan KKSS Bontang Cup 2025 ini juga meningkatkan ekonomi bagi pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di wilayah Bontang.

“Pastinya selalu mendukung kegiatan seperti ini, saya pun ikut terlibat serta memeriahkan kegiatan KKSS, dimana kepala daerah atau wakilnya harus terus ada bersama masyarakat dimanapun berada,” tutupnya.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Target Baru IKN, 9.500 ASN Siap Pindah ke Nusantara 2029

0
Kepala OIKN Basuki Hadimuljono meninjau progres peningkatan jalan di kawasan IKN Nusantara bersama tim teknis. Foto: Istimewa

JAKARTA – Pemerintah resmi menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 79 Tahun 2025 tentang Pemutakhiran Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2025. Regulasi yang diteken pada Senin (30/7/2025) itu menegaskan percepatan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), sekaligus memastikan target menjadikan Nusantara sebagai Ibu Kota Politik pada tahun 2028.

Perpres tersebut mengatur pemindahan aparatur sipil negara (ASN) secara bertahap. Antara 1.700 hingga 4.100 ASN dijadwalkan mulai bertugas di IKN, dan jumlah itu diproyeksikan terus bertambah hingga mencapai 9.500 ASN pada 2029. Untuk mendukung kebutuhan hunian, hingga September 2025 telah tersedia 44 tower siap huni. Tiga tower lainnya dalam tahap penyelesaian, dan empat tower baru masih dalam pembangunan.

Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, menyebut Perpres ini memberi kepastian hukum sekaligus sinyal kuat bagi semua pemangku kepentingan. “Perpres 79 Tahun 2025 diharapkan memberikan kepastian bagi masyarakat, pelaku usaha, maupun investor, untuk tidak meragukan kelanjutan pembangunan IKN yang hingga saat ini terus berjalan,” ujarnya.

Tahap pertama pembangunan IKN (2022–2024) telah menghasilkan sejumlah infrastruktur utama, antara lain Istana Garuda, kantor pemerintahan, hunian menteri dan ASN, rumah sakit, hotel, hingga bandara VVIP. Pembangunan ini juga memperkenalkan standar Bangunan Gedung Hijau (BGH) dan Bangunan Gedung Cerdas (BGC), serta dilengkapi command center berbasis CCTV, drone, dan IoT untuk memantau progres secara real-time.

Sejumlah proyek multiyears dari Tahap I masih berjalan hingga 2025, seperti Istana Wakil Presiden, Masjid Negara, hunian ASN, dan Jalan Tol Balikpapan–IKN, yang ditargetkan rampung akhir tahun. Sementara Tahap II (2025–2028) difokuskan pada pemindahan ASN, pembangunan gedung legislatif dan yudikatif, penguatan infrastruktur konektivitas, penataan kawasan Sepaku, ruang terbuka hijau, serta investasi di sektor pendidikan.

Selain mengandalkan APBN, investasi swasta berperan besar dalam mendukung pembangunan IKN. Hingga September 2025, realisasi investasi non-APBN telah mencapai Rp65,3 triliun yang berasal dari 49 pelaku usaha dengan total 52 perjanjian kerja sama.

Melalui regulasi ini, pemerintah menegaskan pembangunan IKN bukan sekadar pemindahan ibu kota, melainkan transformasi menuju tata kelola pemerintahan modern, kolaboratif, dan berdaya saing global.

Pewarta: Nasrul
Editor: Agus S

Pemprov Kaltim Gelar Gala Dinner Business Cooperation, Harum Ajak Investor Tanam Modal di Sektor Strategis

0
Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud (kiri) bersalaman dengan perwakilan tamu undangan pada Gala Dinner Business Cooperation 2025 di Jakarta. Foto: Adpimprovkaltim.

JAKARTA – Pemprov Kaltim menggelar Gala Dinner Business Cooperation 2025 di Hotel Kempinski, Jakarta Pusat, Kamis (25/9/2025) malam. Acara yang dihadiri para duta besar negara sahabat, pimpinan Kamar Dagang Internasional, investor, dan pelaku usaha ini menjadi ajang promosi sekaligus membuka ruang kerja sama investasi.

Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud (Harum) menegaskan daerahnya siap menampung investasi di berbagai sektor strategis, mulai dari energi, pertanian, perkebunan, perikanan, hingga pariwisata. “Kaltim memiliki potensi yang sangat besar. Dengan luas wilayah 127 ribu kilometer persegi, posisi strategis di jalur ALKI II, serta dukungan infrastruktur dan stabilitas sosial, Kaltim siap menjadi motor pertumbuhan ekonomi baru Indonesia,” ujarnya.

Menurut Harum, keberadaan Ibu Kota Nusantara (IKN) semakin memperkuat posisi Kaltim sebagai pusat investasi masa depan. Ia mengajak investor untuk datang langsung melihat peluang yang tersedia. “Investasi di Kaltim bukan hanya soal keuntungan ekonomi, tapi juga kontribusi nyata bagi pembangunan berkelanjutan bangsa,” tegasnya.

Turut hadir Kepala Dinas Penanaman Modal dan PTSP Kaltim Fahmi Prima Laksana, Kepala Badan Penghubung Kaltim Andrie Lesmana Saturninus, serta sejumlah kepala perangkat daerah.

Selain promosi peluang investasi, Gala Dinner juga menjadi momentum untuk mengundang para investor menghadiri Mahakam Investment Forum (MIF) di Balikpapan pada 9 Oktober 2025. Forum tersebut akan mempertemukan calon investor dengan pengelola proyek Investment Project Ready to Offer (IPRO) yang ditawarkan Pemprov Kaltim. (rls/MK)

Editor: Agus S

APBD Perubahan 2025 Kaltim Naik Jadi Rp21,74 Triliun, DPRD Ketok Palu

0
Wagub Kaltim, Sekda, Ketua DPRD, dan jajaran pimpinan DPRD Kaltim usai Rapat Paripurna ke-39. Foto: Istimewa.

SAMARINDA – DPRD Kaltim resmi mengesahkan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2025. Keputusan itu diambil dalam Rapat Paripurna ke-39 yang digelar di Gedung B DPRD Kaltim, Jumat (26/9/2025) malam.

Rapat dipimpin Ketua DPRD Kaltim Hasanuddin Mas’ud bersama jajaran wakil ketua dan diikuti 42 anggota dewan. Hadir pula Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji, jajaran asisten, staf ahli, serta sejumlah kepala perangkat daerah. Agenda utama paripurna adalah mendengarkan laporan akhir Badan Anggaran (Banggar) sekaligus penandatanganan persetujuan bersama dengan Gubernur Kaltim.

Pendapat akhir Gubernur Kaltim dibacakan oleh Sekretaris Daerah Sri Wahyuni. Ia menegaskan, pembahasan yang berjalan alot namun tetap kondusif mencerminkan kedewasaan politik di Kaltim. “Perubahan APBD ini adalah wujud sinergi pemerintah daerah, DPRD, dan masyarakat. Terima kasih kepada semua pihak yang menjaga komitmen pembangunan daerah,” ucapnya.

Dalam APBD Perubahan 2025, struktur anggaran mengalami pergeseran signifikan. Total anggaran naik Rp746,85 miliar dari Rp21 triliun menjadi Rp21,74 triliun. Pendapatan daerah justru disesuaikan turun, dari Rp20,10 triliun menjadi Rp19,14 triliun. Sementara belanja daerah meningkat dari Rp20,95 triliun menjadi Rp21,69 triliun. Kenaikan paling tajam terlihat pada pos pembiayaan, melonjak dari Rp900 miliar menjadi Rp2,59 triliun, terutama berasal dari Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) tahun sebelumnya.

Sri menjelaskan tambahan anggaran itu diarahkan untuk memperkuat pendanaan program prioritas. “Kita harapkan tambahan ini bisa mengoptimalkan program yang langsung menyentuh kepentingan masyarakat,” jelasnya.

Ia menambahkan, sinergi eksekutif dan legislatif harus terus dijaga agar pembangunan berjalan berkesinambungan. “APBD ini harus menjadi instrumen nyata untuk menciptakan kondisi lebih baik dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kaltim,” tegasnya.

Setelah disetujui DPRD, Ranperda Perubahan APBD 2025 akan dikirim ke Kementerian Dalam Negeri untuk dievaluasi sebelum ditetapkan menjadi Peraturan Daerah.

Penulis: Umam
Editor: Agus S

Banjir Bontang: Proyek Tanggul Belum Rampung, Warga Jadi Korban Lagi

0

BONTANG – Hujan deras yang mengguyur Kota Bontang yang terjadi pada pekan lalu, membuat sejumlah kawasan kembali terendam banjir. Perumahan Bontang Permai menjadi titik terparah. Air setinggi paha orang dewasa memaksa ratusan warga mengungsi ke lokasi lebih aman.

BPBD Bontang mencatat sekitar 900 jiwa terdampak banjir di kawasan itu. Anak-anak, lansia, hingga warga yang sakit dievakuasi ke masjid yang dijadikan tempat pengungsian sementara. “Kami khawatir kalau hujan di hulu terus turun, air bisa makin tinggi. Karena itu evakuasi dilakukan lebih cepat,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Bontang, Eko Mashudi.

Warga mengaku banjir datang tiba-tiba. “Semalam jam 9 hujan deras, air langsung naik. Paling dalam di titik dekat tanggul. Tanggul yang diperbaiki itu jebol lagi,” ujar Supri, warga RT 07 Api-Api. Barang-barang di rumah banyak yang tidak sempat diselamatkan karena air meninggi dengan cepat.

Banjir di Jalan Ahmad Yani, Gunung Sari, Kota Bontang. (Dwi/Radarbontang).

Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, turun langsung ke lokasi. Ia menilai banjir terjadi karena proyek turap di kawasan itu belum rampung. “Progresnya baru sekitar 70 persen. Jadi genangan air belum bisa teratasi dengan baik. Kami minta warga bersabar,” ucapnya. Neni juga meminta camat segera berkoordinasi dengan Baznas untuk menyalurkan bantuan makanan bagi korban banjir.

Selain Bontang Permai, enam kelurahan lain juga terdampak. Di Api-Api, sebanyak 29 RT terendam, melibatkan lebih dari 3 ribu jiwa. Genangan juga terjadi di Guntung, Satimpo, Telihan, Gunung Elai, dan Kanaan. Di Jalan Ahmad Yani, Gunung Sari, banjir membuat warga menutup sebagian akses jalan karena banyak kendaraan yang mogok. Jalan Imam Bonjol pun lumpuh, sementara di Brokoli Raya air meluber hingga depan sekolah dasar. Bahkan longsor terjadi di jalan tembusan Perumahan Bukit Sintuk menuju RT 41 Belimbing.

Di sisi lain, hujan deras Kamis sore (25/9) juga membuat sebuah pohon tumbang di Jalan Arif Rahman Hakim, Kilometer 3, tepat di depan SPBU Kilo 3 yang berhadapan dengan SMAN 3. Pohon besar itu menutup jalan hingga menyebabkan kemacetan. Beruntung tidak ada korban, meski kabel listrik di jalur itu ikut tertimpa.

Banjir yang terus berulang di Bontang memperlihatkan dua hal: lambannya pembangunan infrastruktur pengendali banjir dan kurangnya kesadaran warga menjaga lingkungan. Hujan deras hanya menjadi pemicu, sementara persoalan utamanya ada pada sistem yang tak kunjung tuntas. Seperti biasa, warga kecil kembali jadi pihak paling menderita setiap kali air meluap.

Reporter: Dwi/Syahkura
Editor: Agus S

Generasi Muda Dukung Pembangunan IKN Lewat Pemberdayaan dan Produk Lokal

0
Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono saat menerima kunjungan delegasi AYS Indonesia. Foto: Humas OIKN. Foto: Istimewa

NUSANTARA – Kolaborasi generasi muda dalam pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) semakin nyata. Association of Youth for Sustainability (AYS) Indonesia melakukan silaturahmi dengan Otorita IKN, ditandai kunjungan 13 delegasi yang disambut langsung Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, di Balai Kota Otorita IKN, Jumat (26/9/2025). Pertemuan ini bertujuan mengintegrasikan program pemberdayaan masyarakat dengan visi IKN sebagai “Ibu Kota untuk Semua.”

Sebagai komunitas pemberdayaan pemuda dan gerakan inovasi sosial yang diakui Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), AYS Indonesia menegaskan komitmennya untuk mendukung pembangunan berkelanjutan di IKN. Salah satu langkah ke depan adalah penguatan produk lokal Kalimantan Timur, khususnya kopi liberika, sebagai simbol peran aktif pemuda dalam menggerakkan ekonomi daerah.

Komitmen itu juga terlihat dari rangkaian kegiatan sosial AYS Indonesia yang bersamaan dengan agenda Kaltimtara Beraksi #1. Mereka menyalurkan hibah buku untuk SDN 020 Sepaku dan menggelar kegiatan lingkungan bersama Karang Taruna Desa Bumi Harapan. AYS mengusung semangat low budget, big impact, di mana partisipasi sederhana bisa memberi manfaat nyata bagi masyarakat sekitar IKN.

Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, menyambut baik inisiatif tersebut. Ia menekankan bahwa kopi liberika sedang dikembangkan sebagai produk unggulan daerah. “Kalau AYS Indonesia ingin memberikan support, itu lebih konkret dilakukan sebagai penguatan produk lokal Kalimantan Timur,” ujarnya.

Founder AYS Indonesia, Muhammad Abrar Putra Siregar, memastikan pihaknya siap berkontribusi. “Kami akan terus melakukan pengabdian melalui program pemberdayaan, termasuk mempromosikan kopi liberika sebagai produk Kalimantan Timur lewat jaringan influencer media sosial yang kami miliki,” ungkapnya.

Kolaborasi ini menegaskan bahwa pembangunan IKN bukan hanya soal infrastruktur, melainkan juga ruang partisipasi generasi muda. Dengan dukungan pada pemberdayaan masyarakat dan penguatan produk lokal, IKN diharapkan tumbuh sebagai pusat pemerintahan baru yang menumbuhkan inovasi sekaligus semangat kolaborasi untuk Indonesia berkelanjutan.

Pewarta: Nasrul
Editor: Agus S

KPK Siap Hadirkan Bobby Nasution di Sidang Korupsi Jalan Jika Diminta Hakim

0
Gedung Merah Putih KPK di Jakarta, pusat penegakan hukum tindak pidana korupsi. Foto: Fajri/MKN

JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) merespons permintaan majelis hakim Pengadilan Negeri Medan yang meminta jaksa KPK menghadirkan Gubernur Sumatra Utara, Bobby Nasution, sebagai saksi dalam sidang kasus korupsi proyek jalan.

Plt Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu, menyebut hal itu wajar karena berkaitan dengan pergeseran anggaran yang relevan dengan pokok perkara. “Terkait hakim yang meminta jaksa KPK menghadirkan Gubernur Sumatera Utara, karena ada pergeseran anggaran, itu hal yang lumrah,” ujar Asep, Jumat (26/9/2025).

Menurutnya, jaksa penuntut umum (JPU) akan melaporkan hasil persidangan lebih dulu sebelum KPK mengambil langkah. Jika ada permintaan resmi, KPK memastikan akan menindaklanjutinya sesuai prosedur. “Jaksa setelah sidang ini akan membuat laporan. Kalau ada permintaan, kita tindaklanjuti. Setelah itu akan dibicarakan juga dengan pimpinan untuk persidangan berikutnya,” jelasnya.

Asep menegaskan, apabila permintaan hakim dipenuhi, Bobby akan langsung dihadirkan di ruang sidang tanpa perlu diperiksa lebih dulu di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta. “Apabila akan dipenuhi, itu langsung di persidangan. Karena tahapnya sudah di pengadilan, saksi-saksi yang diminta hakim langsung dihadirkan di ruang sidang,” tegasnya.

Kasus korupsi proyek jalan di Sumatra Utara ini bermula dari operasi tangkap tangan (OTT) KPK. Dari hasil penyelidikan, KPK menetapkan lima orang tersangka, yakni Topan Ginting (Kadis PUPR Sumut), Rasuli Efendi Siregar (Kepala UPTD Gunung Tua), Heliyanto (PPK Satker PJN Wilayah I), M. Akhirun Piliang (Dirut PT DNG), dan M. Rayhan Dulasmi Piliang (Direktur PT RN).

KPK menduga Topan Ginting mengatur pemenang lelang untuk menguntungkan pihak tertentu. Ia bahkan disebut dijanjikan fee Rp8 miliar terkait proyek jalan senilai Rp231,8 miliar. Sementara Akhirun dan Rayhan diduga sudah menarik Rp2 miliar untuk dibagikan kepada pejabat yang membantu mengatur proyek.

Saat ini, JPU KPK masih menjalani proses persidangan dengan terdakwa Muhammad Akhirun Piliang dan Muhammad Rayhan Dulasmi Piliang di Pengadilan Tipikor Medan.

Reporter: Fajri/MKN
Editor: Agus Susanto

Kutim Fokus Efisiensi dan 50 Program Prioritas di Perubahan APBD 2025

0
Sekda Kutim bersama jajaran saat mengikuti rapat paripurna pembahasan Perubahan APBD 2025. Foto: Ramlah/Radarbontang.com

SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menegaskan komitmennya menindaklanjuti seluruh masukan fraksi DPRD dalam pembahasan Rancangan Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD-P) Tahun 2025. Fokus diarahkan pada efisiensi belanja daerah sekaligus menjamin terlaksananya 50 program prioritas.

Dalam rapat paripurna, Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman mengapresiasi pandangan fraksi PKS, Golkar, Nasdem, Demokrat, PPP, Gelora Amanat Perjuangan (GAP), dan Persatuan Indonesia Raya (PIR). Menurutnya, catatan yang disampaikan dewan sangat substantif dan menjadi masukan penting bagi perbaikan tata kelola anggaran. “Masukan fraksi DPRD sangat berharga. Pemerintah siap menindaklanjutinya dengan tetap berpegang pada prinsip efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas,” tegasnya, Jumat (26/9/2025).

Pemkab Kutim mengakui adanya penurunan pendapatan daerah hingga Rp1,256 triliun akibat berkurangnya transfer dari pemerintah pusat. Namun PAD menunjukkan tren positif dengan kenaikan 23 persen, sementara transfer dari pemerintah provinsi juga meningkat 26 persen. “Kami akan terus menggali potensi dari pariwisata, perikanan, hingga UMKM agar Kutim tidak bergantung pada satu sumber,” jelas Ardiansyah.

Sejumlah fraksi menyoroti rendahnya serapan anggaran yang baru mencapai 43,98 persen per Agustus 2025. PKS dan Golkar meminta percepatan realisasi agar manfaat anggaran segera dirasakan masyarakat. Golkar juga menekankan pentingnya prinsip Value for Money dan digitalisasi pengelolaan anggaran. PKS mengapresiasi kenaikan PAD Rp82,7 miliar, namun meminta fokus anggaran pada pendidikan, kesehatan, infrastruktur dasar, dan UMKM.

Fraksi Demokrat menekankan agar belanja daerah tidak hanya terkonsentrasi pada belanja pegawai. Fraksi PIR mendesak percepatan pembangunan infrastruktur, sedangkan Nasdem menegaskan perubahan APBD harus sesuai PP No. 12/2019, memperhatikan mandatory spending, dan tetap mengawal realisasi 50 program prioritas.

Menjawab hal itu, Pemkab Kutim memastikan langkah strategis akan ditempuh. Antara lain optimalisasi PAD melalui diversifikasi ekonomi, percepatan belanja infrastruktur dasar, evaluasi program unggulan secara transparan, serta fokus pada pendidikan, kesehatan, UMKM, dan layanan dasar masyarakat. Pemerintah juga mengoptimalkan pemanfaatan DAK, DBH, dan BLUD dengan menjaga komitmen mandatory spending. “Pemerintah bersama DPRD dan seluruh elemen masyarakat harus bergotong-royong memastikan anggaran benar-benar memberi manfaat nyata. Amanat rakyat adalah prioritas utama kita,” pungkas Ardiansyah.

Penulis: Ramlah
Editor: Agus S

Kendala Teknis MBG: Buah Cepat Basi, Menu Monoton, Pengantaran Molor

0

Edisi Sabtu, 27 September 2025, Koran Digital Radar Bontang menyoroti persoalan layanan katering MBG. Sejumlah kendala teknis muncul, mulai dari buah yang cepat basi, pilihan menu yang dianggap kurang variatif, hingga pengantaran yang sering terlambat.

Ingin tahu ulasan lengkapnya? Baca Koran Digital Radar Bontang edisi terbaru melalui tautan berikut:

👉 Koran Radar Bontang
👉 E-Paper Edisi 27 September 2025

Kahar Kalam Sulap 100 Hektare Hutan di Bontang Jadi Sentra Pangan

0
Kahar Kalam Sulap 100 Hektare Hutan di Bontang Jadi Sentra Pangan
Gerbang bertuliskan HKm KTH Graha Mandala Lestari dan kondisi pertanian milik Kahar Kalam. (ist)

Sudah cukup lama saya tidak berkomunikasi dengan Bapak Kahar Kalam. Sosok pengusaha yang tak asing lagi di Bontang, apalagi jika bicara kontribusi sektor swasta dalam pembangunan daerah.

Ia adalah Direktur PT Graha Mandala Sakti (GMS), penggagas kawasan wisata mangrove di belakang Perumahan Bukit Sekatup Damai (BSD) Bontang. Kawasan itu sempat viral di awal pembangunannya. Sayangnya, kini terbengkalai. Padahal, Pak Kahar telah menggelontorkan dana hingga Rp12 miliar dari kantong pribadinya. Tapi kali ini, saya tidak akan membahas mangrove. Itu akan saya ulas dalam tulisan terpisah.

Dua hari lalu, melalui sambungan telepon saat ia berada di Singapura dalam perjalanan ke Kuala Lumpur, justru terbuka cerita lain—lebih besar dan lebih strategis. Tentang kebun pertanian dan peternakan yang ia bangun di kawasan Bontang Lestari. Luasnya mencapai 100 hektare. Legal, aktif, dan produktif. Tapi nyaris tanpa dukungan dari pemerintah kota.

Beberapa waktu lalu saya melintas di kawasan itu. Gerbang bertuliskan HKm KTH Graha Mandala Lestari berdiri kokoh. Saat itu saya urungkan niat mampir karena Pak Kahar sedang tidak di tempat. Tapi saya tahu betul isi di dalamnya.

Lahan itu kini menjadi pusat pertanian aktif. Ada kebun cabai, semangka, kelapa, dan peternakan. Pendopo, kandang sapi, tandon air, mesin pencacah kompos, dan alat kultivator tertata rapi. Semuanya bukan proyek dadakan. Itu hasil kerja sama yang ia bangun dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) serta Pemprov Kalimantan Timur.

“Sawit tidak dibolehkan, saya babat semua. Saya ikuti regulasi,” kata Pak Kahar. Ia tahu betul aturan kawasan hutan. Tidak boleh sawit, tidak boleh tambang. Maka ia alihkan seluruh areal menjadi pertanian dan edukasi. Kelapa sawit yang sempat tumbuh ia tebang sendiri agar izin kehutanan bisa dikeluarkan.

Panen semangka ratusan ton saat bulan Ramadan menjadi bukti bahwa lahan ini bukan sebatas klaim. “Pasar lokal cukup. Warga sekitar tidak perlu beli dari luar kota,” ujarnya. Tapi siapa yang tahu?

Semua kegiatan di kebun ini legal. Izin resmi dikeluarkan KLHK. Setelah mempresentasikan konsep ketahanan pangan yang ia rintis, bantuan dari pusat mulai mengalir.
“Bahwa hidup itu harus mempunyai karya. Saya ingin memberikan satu karya di Kota Bontang,” katanya.

“Saya diberi bantuan 50 ekor sapi, gazebo, paving 1.000 meter persegi, tandon, mesin pencacah, alat kultivator. Dan tahun depan, saya dijanjikan dua unit traktor John Deere. Satu unitnya saja Rp750 juta,” sambungnya.

Bantuan memang datang dari provinsi dan kementerian. Tapi yang terasa ganjil justru ketidakhadiran Pemkot. “Sepeser pun tidak. Bahkan datang pun tidak,” ujarnya. Dinas pertanian? Dinas ketahanan pangan? Tak pernah terlihat. Padahal dulu, saat lokasi mangrove masih ramai, mereka kerap mondar-mandir ke sana.

Satu-satunya yang konsisten sejak awal adalah Ibu Endang dari UPTD KPHP Santan. “Beliau datang pertama kali naik motor bersama anak-istri saya. Lihat langsung kondisi awal. Dari situlah semuanya mulai bergerak.”

Yang membuat kawasan ini makin hidup adalah kegiatan yang berlangsung pada 9 Juli lalu. Lokasi ini menjadi tempat pelatihan yang digelar Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Timur. Temanya jelas dan relevan: Pelatihan Pengembangan Kewirausahaan melalui Perencanaan Bisnis dan Pengembangan Akses Pemasaran Produk Kelompok Perhutanan Sosial Wilayah Bontang dan Kutai Timur. Graha Mandala Lestari bukan lagi sekadar kebun pribadi. Ia berkembang menjadi ruang pembelajaran dan pemberdayaan.

Langkah Kahar ini bukan tanpa pembanding. Di berbagai wilayah lain, model serupa telah lebih dulu terbukti. Seperti Hutan Kemasyarakatan di Gunung Kidul, Yogyakarta, dan Hutan Desa di Jambi dan Bengkulu. Keduanya menjadi contoh bagaimana lahan kawasan kehutanan bisa dikelola masyarakat untuk pangan, agroforestri, hingga hasil hutan non kayu.

Di Jawa Tengah, ada kawasan hutan rakyat di Wonosobo dan Temanggung yang berhasil mengembangkan kopi, sayuran, dan kayu rakyat dalam pola agroforestri. Semua itu menopang ekonomi desa, menjaga tutupan hutan, dan disokong Dinas Kehutanan serta LSM lokal.

Apa yang dilakukan Kahar Kalam di Bontang sebenarnya sejalan. Hanya saja, ia memulai lebih dulu—sendirian, tanpa bendera koperasi, tanpa sorotan.

Mengapa ini penting?

Karena Bontang hingga kini masih bergantung pada pasokan pangan dari luar. Samarinda, Tenggarong, Sangatta, bahkan dari Jawa. Ketika ada pengusaha lokal yang membuka 100 hektare lahan, mempekerjakan petani, mengurus legalitas mereka, hingga menyediakan tempat tinggal dan KTP, mestinya itu tidak sekadar diberi ucapan terima kasih. Tapi dicatat sebagai langkah konkret yang layak ditiru.

“Saya urus semua. Petani dari luar saya datangkan, saya carikan tempat tinggal, saya buatkan legalitas. Mereka kerja di sini, hidup di sini, bantu kota ini,” ujar Pak Kahar. Ia tidak sedang bicara bisnis. “Kalau soal balik modal, jangan ditanya. Jauh. Tapi saya bukan kejar untung. Saya cuma ingin berbuat.”

Nada kecewa terdengar jelas. Tapi tekadnya lebih tebal. “Kalau saya bukan orang Bontang, mungkin saya sudah pergi dari dulu,” katanya. “Tapi ini kota saya. Saya ingin Bontang berdiri di kaki sendiri. Tidak terus bergantung pada luar.”

Kahar tak butuh panggung. Ia hanya ingin pemerintah melihat—bahwa ada yang sudah lebih dulu berbuat. Bukan untuk dirinya. Tapi untuk Bontang.

Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.
Pemimpin Redaksi Radarbontang.com