Beranda blog Halaman 602

Siswi SMK Putra Bangsa Bontang Lolos Paskibraka Nasional 2025, Wakili Kaltim ke Jakarta

0
Putri Nur Azizah, siswi SMK Putra Bangsa Kota Bontang. (ist)

BONTANG — Putri Nur Azizah, siswi SMK Putra Bangsa Kota Bontang, berhasil menorehkan prestasi membanggakan. Gadis berusia 17 tahun asal Kelurahan Berbas Tengah ini terpilih menjadi salah satu Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) tingkat nasional tahun 2025.

Ia akan mewakili Kalimantan Timur dalam upacara kenegaraan di Istana Negara, Jakarta, pada Agustus mendatang.

Seleksi Paskibraka sendiri berlangsung cukup panjang. Dimulai dari seleksi tingkat kota yang digelar sejak 27 Maret hingga 8 Mei 2025. Di tingkat kota, Putri berhasil meraih posisi tiga besar yang menjadi syarat untuk lanjut ke seleksi provinsi.

Di tingkat provinsi, ia kembali lolos ke lima besar, sebelum akhirnya disaring melalui medical check-up (MCU) untuk menentukan siapa yang akan mewakili ke tingkat nasional.

“Seleksi nasional langsung di Jakarta, dari 25 sampai 29 Juni kemarin. Pengumuman hasil seleksi nasional disampaikan pada Rabu sore(2/7/2025) kemarin,” ujar Putri.

Putri menjadi satu-satunya wakil dari Kota Bontang yang lolos ke tingkat nasional. Ia menjelaskan, terdapat lima perwakilan lainnya dari Kalimantan Timur yang turut dalam seleksi nasional. Dua dari Penajam Paser Utara, satu dari Tenggarong, satu dari Samarinda, dan satu dari Balikpapan.

Putri akan menjalani pelatihan intensif di Jakarta menjelang upacara HUT ke-80 Kemerdekaan RI.

Ia mengaku, baru memberi tahu orang tuanya menjelang seleksi tingkat kota. “Pas daftar belum ngomong sama orang tua, pas mendekati seleksi kota baru saya beritahu dan alhamdulillah mereka mendukung,” ungkapnya.

Hingga saat ini, jadwal keberangkatan ke Jakarta masih menunggu informasi resmi dari panitia pusat. Namun, berdasarkan pengalaman para senior sebelumnya, diperkirakan keberangkatan akan dilakukan pada pertengahan Juli 2025.

Putri, yang kini naik ke kelas XI di jurusan Asisten Keperawatan, mengaku bangga sekaligus terharu bisa mewakili Bontang dan Kalimantan Timur di panggung nasional.

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

AKBP Alex Umumkan Berakhir Masa Tugas Sebagai Kapolres Bontang

0
Kapolres Bontang, AKBP Alex Frestian Lumban Tobing (kiri) saat bersalaman dengan Wawali Bontang, Agus Haris di Hari Bhayangkara ke-79. (Ist).

BONTANG – Tepat di peringatan Hari Bhayangkara ke-79, AKBP Alex Frestian Lumban Tobing secara resmi mengumumkan berakhirnya masa tugasnya sebagai Kapolres Bontang.

Diketahui, terhitung sejak 25 Juni 2025 kemarin, dirinya telah mendapatkan amanah baru, sebagai pejabat Inspektorat Polda Metro Jaya. Sehingga AKBP Alex menyatakan, jika di acara formal ini, sekaligus menjadi momentum perpisahan.

“Di dalam acara ini, turut menjadi acara yang formal terakhir, sebelum saya berpindah ke tempat tugas baru,” ucapnya saat peringatan Hari Bhayangkara, Selasa (1/7/2025).

AKBP Alex juga mengapresiasi dan rasa bangganya, kepada seluruh personel Polres Bontang atas dedikasi yang telah ditunjukkan. Sebagaimana menyoroti perjuangan, dan pengorbanan anggotanya selama menjalankan tugas.

“Sudah satu tahun enam bulan lebih saya memimpin di sini. Ini semua tidak lepas dari kerja sama dan pengabdian luar biasa rekan-rekan sekalian,” ungkapnya.

Meski belum berpamitan secara resmi, AKBP Alex turut menitipkan pesan khusus kepada para tokoh adat, dan ketua paguyuban yang hadir. Dirinya sangat berharap, keharmonisan antar suku di Bontang terus tetap terjaga.

“Keharmonisan dan ketertiban di Kota Bontang harus tetap terjaga. Walaupun banyak perbedaan yang ada, harus tetap bersatu,” tutupnya.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

4 Anggota Polres Bontang Terima Penghargaan di Hari Bhayangkara ke-79

0
4 Anggota Polres Bontang Terima Penghargaan di Hari Bhayangkara ke-79
Apel peringatan Hari Bhayangkara ke-79 di Halaman Mako Polres Bontang. (Ist).

BONTANG – 4 anggota Polres Bontang menerima anugerah Tanda Kehormatan Bintang Bhayangkara Narariya. Penghargaan tersebut diberikan secara langsung tepat di peringatan Hari Bhayangkara ke-79.

Anggota yang menerima anugerah bintang kehormatan di antaranya, AKP Widodo, Kasat Samapta Polres Bontang. AKP Mohammad Slamet, Kabag SDM Polres Bontang. AKP I Gede Eka Wardana, Kasi Propam Polres Bontang, serta Kapolsek Bontang Barat, Iptu Hadi Esmoyo.

Penyematan tanda jasa Bintang Bhayangkara Nararya dilakukan secara langsung oleh Kapolres Bontang, AKBP Alex Frestian Lumban Tobing, sebagai puncak acara dalam apel peringati Hari Bhayangkara ke-79.

Saat sambutan, AKBP Alex menekankan pentingnya transformasi Polri menjadi institusi yang modern, profesional, dan terpercaya di tengah dinamika masyarakat yang semakin kompleks dan tantangan global yang terus berkembang.

“Pada momentum yang berharga ini, saya mengajak seluruh anggota Polres Bontang, untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat dengan mengedepankan prinsip humanis, responsif, dan berkeadilan,” ungkapnya, Selasa (1/7/2025).

Kapolres Bontang juga menegaskan, bahwa Polri tidak dapat berjalan sendiri. Sinergi dan kolaborasi dengan seluruh elemen masyarakat, pemerintah daerah, TNI, serta unsur lainnya, merupakan kunci dalam menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban yang kondusif, sebagai pondasi bagi pembangunan menuju Indonesia Maju.

“Mari kita jadikan Hari Bhayangkara ke-79 ini sebagai titik tolak untuk memperkuat dedikasi dan integritas, menjaga netralitas, serta membangun kepercayaan masyarakat terhadap institusi Polri,” ucapnya.

Dalam peringatan Hari Bhayangkara di tahun ini mengusung tema ‘Polri untuk Masyarakat Guna Menuju Indonesia Maju’, sebuah refleksi mendalam atas komitmen Polri untuk senantiasa menjadi pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat.

Kegiatan tersebut turut dihadiri langsung oleh, Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris yang didampingi Sekretaris Daerah (Sekda) Bontang, Aji Erlinawati.

Keduanya dengan bangga menerima potongan kue ulang tahun Bhayangkara langsung dari Kapolres, menandai kebersamaan dan sinergi antara Polri dan pemerintah daerah.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Peringati HUT Kodam VI/Mulawarman ke-67, Kodim 0908/Bontang Tanam Ribuan Bibit Mangrove di Tanjung Laut

0
Sekda Bontang saat menghadiri kegiatan penanaman mangrove, di Tanjung Laut Indah, Kota Bontang. (Ist).

BONTANG – Memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-67 Komando Daerah Militer (Kodam) VI/Mulawarman, Kodim 0908/Bontang menanam ribuan bibit mangrove di pesisir Tanjung Laut Indah, Bontang Selatan, Rabu (2/7/2025).

Tidak hanya semata-mata sebagai bentuk penghormatan dalam perjalanan panjang Kodam VI/Mulawarman saja, akan tetapi kegiatan ini digelar sebagai cerminan dari komitmen TNI terhadap pelestarian lingkungan hidup.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bontang, Aji Erlynawati menyampaikan ucapan selamat ulang tahun kepada Kodam VI/Mulawarman. Dirinya mengapresiasi setiap langkah konkret yang dilakukan jajaran TNI, dalam memperingati HUT dengan kegiatan yang berdampak langsung bagi lingkungan.

“Dirgahayu Kodam VI/Mulawarman. Semoga di usia ke-67 ini, Kodam semakin profesional, semakin jaya, dan semakin manunggal dengan rakyat,” ucapnya saat sambutan berlangsung.

Tak hanya itu, Aji pun menegaskan, penanaman mangrove bukan hanya sebagai tindakan simbolis saja, akan tetapi juga merupakan langkah nyata dan bermakna dalam menjaga keberlanjutan lingkungan hidup.

Kegiatan penanaman mangrove ini adalah langkah yang sangat tepat dan penuh makna, sehingga menunjukkan bahwa semangat pengabdian TNI tidak hanya terwujud dalam bidang pertahanan dan keamanan.

“Jadi bukan hanya sekedar itu saja, tetapi untuk kepedulian terhadap pelestarian lingkungan hidup sangat turut diperhatikan,” jelasnya.

Selain itu, Sekda juga menambahkan, manfaat hutan mangrove sangatlah besar, dan dapat mencakup berbagai aspek kehidupan. Terlebih lagi, mangrove mampu menjadi benteng alami dari ancaman abrasi dan erosi pantai, serta melindungi garis pantai dari terjangan gelombang besar.

“Mangrove menjadi rumah dan tempat berkembang biak bagi berbagai jenis ikan, kepiting, udang, dan biota laut lainnya. Lebih dari itu, mangrove juga berfungsi sebagai paru-paru dunia karena kemampuannya menyerap emisi karbon dioksida yang jauh lebih efektif dibandingkan hutan daratan tropis,” terangnya.

Di kesempatan yang sama, Dandim 0908/Bontang, Letkol Inf Aryo Bagus Daryanto turut menuturkan, kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan HUT Kodam VI/Mulawarman yang ke-67, sekaligus sebagai bentuk kontribusi TNI dalam menjaga ekosistem pesisir yang mulai terancam oleh abrasi dan aktivitas manusia.

“Setiap bibit mangrove yang tadinya kita tanam di hari ini, adalah harapan baru bagi masa depan ekosistem laut dan daratan. Ini adalah warisan yang kita tinggalkan bagi generasi mendatang,” paparnya.

Kegiatan penanaman mangrove ini mencerminkan sinergi antara TNI, pemerintah daerah, masyarakat, dan dunia usaha dalam menjaga kelestarian alam.

Melalui kegiatan ini, sangat diharapkan akan tumbuhnya kesadaran bersama, tentang pentingnya menjaga ekosistem pesisir sebagai bagian dari upaya mitigasi perubahan iklim global.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Viral! Bukit Kebo Ala Bontang, Spot Buruan para Penikmat Senja

0
Viral! Bukit Kebo Ala Bontang, Spot Buruan para Penikmat Senja
Warga Bontang sedang menikmati sunset di Bukit Kebo ala Bontang. (Dwi/RadarBontang).

BONTANG – Warga Bontang punya spot baru menikmati senja. Lokasinya viral beberapa waktu terakhir di sosial media (sosmed)

Lokasi ini mirip dengan Bukit Kebo di Balikpapan. Destinasi wisata yang juga sedang ramai dikunjungi oleh warga Kota Minyak.

Lokasi tersebut tepat berada di dekat Tugu Selamat Datang Bontang, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Bila ingin menuju ke lokasi tersebut, kondisi jalannya terbilang cukup terjal, ditambah dengan jalanan yang berpasir.

Bila cuaca sedang bagus, dari lokasi tersebut menampakkan pemandangan dengan rerumputan hijau yang cukup luas, serta diiringi dengan cahaya matahari terbenam. Terdapat juga sapi peliharaan warga di lokasi tersebut.

“Saya tidak tahu kalau kandang sapi saya menjadi tempat kunjungan banyak orang, awalnya mereka datang sampai manjat pagar. Semakin kesini semakin banyak orang datang, jadi saya buka saja pagarnya,” ucap Jamal, pemilik lahan.

Dari informasi yang didapat oleh wartawan Radar Bontang, masyarakat yang mengetahui lokasi tersebut rata-rata tahu dari sosial media (sosmed), lantaran lokasi tersebut menunjukkan rasa penasaran bagi setiap orang.

“Awalnya hanya 20 orang saja yang datang, semakin kesini semakin ramai, dan ini sudah di hari keempat kami menarik tarif masuknya Rp 5 ribu per orang. Sebagai jasa kebersihan,” ungkapnya.

Wati, salah satu pengunjung mengatakan bahwa dengan adanya penarikan seharga Rp 5 ribu per kepala, menurutnya masih terbilang hal yang wajar. Sebab, untuk lokasi dan tempatnya pun sangat bagus dan nyaman, sehingga banyak pengunjung yang berdatangan dengan rasa penasaran.

“Saya juga warga Bontang, tapi baru tahu ada tempat seperti ini. Kalaupun ada penarikan dengan harga segitu, bagi saya masih menjadi hal yang wajar,” tutupnya.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Atlet Binaraga Tanya Dana Pembinaan, Pengurus Sebut KONI Lempar Bola ke Cabor

0
Atlet Binaraga Tanya Dana Pembinaan, Pengurus Sebut KONI Lempar Bola ke Cabor
Logo PBFI. (Ist).

BONTANG – Salahsatu pengurus Persatuan Binaraga dan Fitnes Indonesia (PBFI) Bontang, Syamsul angkat bicara, terkait pernyataan 2 atlet binaraga Bontang yang menyatakan tidak pernah mendapatkan bantuan pemerintah, selama mengikuti berbagai event kejuaraan.

Menurutnya, semua pernyataan itu tidak bisa dibenarkan 100 persen. Lantaran ada uang pembinaan untuk para atlet, yang dimana sistem bantuannya adalah atlet mengeluarkan dana terlebih dahulu, lalu nantinya uang itu diganti sebagai uang latihan serta dana suplemen.

“Ada pastinya mbak, tidak mungkin tidak ada itu dana pembinaan. Dana untuk makan, minum, dan suplemen atlet. Bohong kalau tidak ada. Saya pun tahu kalau ada anggarannya, tapi tidak tahu pasti berapa. Tetapi kalau untuk apresiasi, memang dari pemerintah kurang,” jelasnya saat dikonfirmasi, Rabu (2/72025).

Selain itu Syamsul menilai kepengurusan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Bontang, sangat kurang baik. Menurutnya, KONI seperti melempar bola ke pengurus cabang olahraga (cabor) jika ditanyai mengenai dana pembinaan tersebut.

“Saya beranggapan KONI ini seperti ngelempar bola, kenapa harus cabor yang konfirmasi jika ditanyai. Padahal cabor sudah berharap ke KONI untuk diperhatikan dan sebagai macam. Tapi ini seperti angkat tangan, bukan binaraga aja yang dibeginikan, banyak dari cabor lain,” katanya.

Ditambahkan Syamsul, di pertandingan umum, atlet Binaraga Bontang dipastikan dapat sponsor dari berbagai pihak, tidak dengan dana mandiri secara keseluruhan.

“Contohnya Kejurnas Bali kemarin, pastinya kita modali carikan sponsor untuk atletnya. Tidak dilepas begitu saja. Jadi sebenarnya dana pembinaan atlet dari pemerintah ada, tapi kecil. Untuk Binaraga sendiri, mau di kasih 10-20 juta pun pastinya kurang, untuk program pembentukan badan,” tambahnya.

Sebelumnya, Redaksi Radar Bontang telah mencoba konfirmasi ke pihak KONI Bontang, mengenai dana pembinaan atlet khususnya di Cabor Binaraga, akan tetapi sampai saat ini pun Ketua KONI, Jamaludin belum juga memberikan respon.

Maka redaksi terus berupaya untuk mendapatkan jawaban, dan mencoba untuk konfirmasi kembali ke pihak Bendahara KONI Bontang, Abdul Kadir.

“Mengenai dana pembinaan bisa tanyakan langsung ke pengurus Cabor-nya, biar mereka yang memberikan jawaban. Serta terima kasih atas infonya, nanti kami panggil pengurus Cabor-nya, biar kami tahu masalah yang sebenarnya, dan Pak Jamal mungkin saat ini masih di Samarinda mengikuti Raker KONI KALTIM,” terangnya dalam pesan singkat.

Sebelumnya diberitakan, 2 atlet Binaraga Bontang, Doni Gunawan dan Darhamsah mengaku selama ini mengikuti pertandingan dan membawa nama Bontang, tidak pernah mendapatkan dana pembinaan atlet dari pemerintah.

Mereka mengungkap bahwa, setiap mengikuti pertandingan seperti Kejuaraan Provinsi (Kejurprov), Pekan Olahraga Provinsi (Porprov), hingga Pekan Olahraga Nasional (PON), mereka selalu menggunakan dana mandiri untuk bisa ikut bertanding.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

DLH Akui Pelanggaran Jam Buang Sampah Masih Terjadi, Tapi Masih Fokus Pengurangan Sampah

0
Salah satu lokasi yang masih digunakan sebagai tempat pembuangan sampah. (Syakurah/Radarbontang)

BONTANG – Masalah sampah kembali menjadi perhatian. Seperti di kawasan RT 01 Kelurahan Bontang Baru. Ketua RT setempat menyampaikan keluhan terkait maraknya warga dari luar wilayahnya, yang membuang sampah di luar waktu yang telah ditentukan dan bukan pada tempatnya.

Petugas kebersihan maupun masyarakat di sekitar wilayah tersebut telah menegur orang-orang itu, bahkan oleh Ketua RT secara langsung. Sayangnya, praktik pembuangan sampah sembarangan terus terjadi hingga hari ini, Rabu (2/7/2025). Padahal peringatan pembuangan di TPS mobile telah dipasang sesuai lokasi dan waktu yang ditentukan.

Warga setempat juga cukup aktif dalam mengawas di wilayah mereka. Namun, pengawasan tersebut tidaklah maksimal lantaran masyarakat tidak memiliki wewenang untuk mengambil tindakan tegas terhadap pelanggar, hanya bisa sebatas teguran.

Menanggapi hal ini, Kepala DLH Bontang, melalui Kabid Pengelolaan Sampah, Syakhruddin menyatakan, TPS Mobile memang bukan diperuntukkan untuk satu RT, tapi masyarakat umum juga bisa mengakses.

“Kami memang tidak menyediakan TPS mobile per RT,” jelasnya.

Meski masih ada pelanggaran, DLH menilai secara umum tingkat kepatuhan warga Bontang dalam membuang sampah sudah cukup tinggi. Hampir seluruh jalan di Bontang relatif bersih. Sampah tidak dibuang sembarangan.

“Yang melanggar hanya segelintir oknum, dan kami berharap mereka bisa segera sadar, hal seperti ini memang membutuhkan waktu yang lama,” ujarnya.

Terkait usulan sanksi tegas seperti denda kepada pelanggar seperti yang diterapkan di Balikpapan, DLH menyebut saat ini belum menerapkannya. DLH masih memilih jalur edukatif berupa sosialisasi dan himbauan kepada masyarakat.

Sementara itu, penggunaan CCTV di titik rawan juga diakui dapat menjadi solusi, meski belum menjadi fokus utama DLH saat ini. “CCTV kadang diperlukan di titik-titik tertentu. Tapi kami akan lebih konsentrasi membangun TPS3R untuk bisa mengurangi timbunan sampah,” tutupnya.

DLH menekankan, bahwa fokus Pemerintah Kota Bontang saat ini adalah pada penanganan sampah yang menumpuk dan pengurangan produksi sampah dari sumbernya. Dengan pengelolaan yang lebih terstruktur, seperti pembangunan TPS3R, diharapkan persoalan sampah dapat ditangani secara berkelanjutan dan tidak hanya bergantung pada kesadaran individu semata.

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Sambut Program Wajib Belajar 13 Tahun, Disdikbud Siapkan Skema Biaya PAUD

0
Ilustrasi. (ist)

BONTANG – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) mulai menyusun skema pembiayaan untuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), sebagai langkah awal menyambut kebijakan Wajib Belajar 13 Tahun yang akan diberlakukan mulai tahun ajaran 2025/2026.

Kebijakan nasional ini bagian dari program super prioritas dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029. Pemerintah pusat menetapkan penambahan masa wajib belajar dari 12 menjadi 13 tahun, sebagai upaya mewujudkan Indonesia Emas 2045.

Plt Kepala Disdikbud Bontang, Saparudin, menjelaskan pihaknya sedang menyiapkan berbagai teknis pelaksanaan, termasuk aspek pendanaan, khususnya bagi satuan pendidikan anak usia dini.

“Kami sedang mengkaji model pembiayaan agar jenjang PAUD juga bisa diakses secara gratis, baik untuk TK negeri juga swasta,” ujarnya, Selasa (1/7/2025).

Kebijakan wajib belajar ini mencakup pendidikan mulai dari PAUD usia 5–6 tahun hingga SMA sederajat. Nantinya, pemerintah daerah tinggal menyesuaikan kebijakan tersebut, berdasarkan pedoman dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

Upaya ini diharapkan, bisa memudahkan orang tua dalam memasukkan anaknya ke jenjang pendidikan sejak dini tanpa beban biaya.

Ditambahkan, pembiayaan program ini akan mulai diakomodasi pada perubahan APBD tahun 2025. “Kami masih menghitung berapa kebutuhan anggarannya bersama tim,” ungkapnya.

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Berjuang Mandiri Raup Segudang Prestasi, Atlet Binaraga Tak Pernah Didukung Pemerintah

0
2 atlet PBFI Bontang, Doni Gunawan (kiri), dan Darhamsah, memamerkan medali juara. (Dwi/RadarBontang).

BONTANG – Atlet dari Persatuan Binaraga Fitnes Indonesia (PBFI) Bontang mengaku selalu menggunakan dana mandiri setiap mengikuti kejuaraan. Tak pernah mendapatkan sponsor maupun dana bantuan dari pemerintah.

Padahal di Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Berau 2022 lalu, untuk atlet kategori binaraga berhasil memperoleh medali emas, dan juga menyabet medali perunggu. Sehingga mengharumkan nama Bontang di antara persaingan 10 kabupaten/kota se-Kalimantan Timur (Kaltim).

“Kalau kami mau mengikuti Porprov, kami langsung daftar tanpa seleksi. Sebab kami sendiri tidak ada seleksi seperti di daerah lain, sangking tidak adanya atlet Bontang. Tetapi begitu, tetap saja kami gunakan dana mandiri. Tidak pernah dapat sponsor dari pemerintah, padahal atletnya hanya kami-kami aja terus,” jelas Doni Gunawan, atlet kategori men sport Bontang saat diwawancarai, Selasa (1/6/2025).

Dijelaskannya, untuk persiapan kejuaraan membutuhkan dana yang tidak sedikit. Di dalam program latihan dan asupan nutrisi pada cabang olahraga (Cabor) binaragawan, membutuhkan asupan yang mencukupi. Seperti asupan makan serta suplemen yang sangat dibutuhkan tubuh, bagi setiap atletnya.

“Sistem latihan kita tidak hanya gym untuk pembentukan badan saja, pastinya ada asupan dan nutrisinya juga yang harus seimbang,” katanya.

Sama halnya dengan Darhamsah. Dirinya juga seringkali mengikuti pertandingan binaraga antar wilayah maupun di tingkat nasional. Namun begitu, sejauh ini dirinya tetap tidak pernah mendapatkan apresiasi sama sekali dari Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang.

Darhamsah mengaku pernah dijanjikan bantuan untuk pertandingan, tetapi hasilnya nihil, baginya semua hanya omong kosong. Sebab, sampai saat ini pun janji yang pernah dilontarkan oleh Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Bontang, tidak kunjung direalisasikan.

“Sudah sering saya dijanjikan ini itu, akan dibantu saat nanti pertandingan dan segala macam, tapi nyatanya apa. Sampai sekarang pun tidak ada wujudnya. Jadinya semua kejuaraan yang saya ikuti, asli dari dana mandiri. Padahal bawa nama Bontang,” keluhnya.

Karenanya, keduanya pun menilai, walaupun ada permasalahan terkait tidak cairnya dana hibah untuk pembinaan atlet, dan dengan wacana Bontang akan gagal mengikuti Porprov 2026, tidak akan mempengaruhi langkah keduanya untuk mengejar prestasi.

Sebab, selama ini dengan waktu bertahun-tahun lamanya selama mereka mengikuti pertandingan, mereka menggunakan dana mandiri tanpa adanya bantuan dan sponsor dari siapapun.

“Jadi kalau ada daerah yang nantinya menawarkan kami untuk bermain membawa nama daerahnya, kami bisa memberikan pertimbangan. Selagi kami di pedulikan, kenapa tidak. Sebab selama ini kami juga tidak ada dapat kepedulian dari kota kami sendiri, padahal kami bertanding membawa nama baik Kota Bontang,” tutupnya.

Sementara itu, Redaksi Radarbontang.com mencoba konfirmasi ke pihak terkait, yaitu KONI Bontang maupun Dinas Pemuda Olahraga Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Dispoparekraf), namun tidak mendapatkam respon.

Saat dikonfirmasi terkait hal ini, Kabid Olahraga Dispoparekraf, Andi Parenrengi mengarahkan redaksi untuk menghubungi pihak KONI Bontang.

“Konfirmasi langsung saja ke KONI ya mbak,” ucapnya saat dihubungi via WhataApp.

Begitu pun upaya menghubungi Ketua KONI Bontang, belum juga mendapatkan respon hingga berita ini ditayangkan. Wartawan berusaha menghubungi via chat WA hingga telpon namun belum ada balasan.

Wakili Kaltim di Kejurnas Terbuka 2025 Bali, Raih Juara 3 dan 4

Berjuang Mandiri Raup Segudang Prestasi, Atlet Binaraga Tak Pernah Didukung PemerintahDoni Gunawan, atlet Binaraga Bontang saat mengikuti Kejurnas di Bali (Ist).

Walaupun tanpa dukungan dana dari pemerintah, 2 atlet binaraga Bontang ini rutin mendulang prestasi. Sederet prestasi pun berhasil mereka raup.

Terbaru, Doni dan Darhamsah mengikuti Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Terbuka Binaraga dan Fitness 2025, yang berlangsung di Bali beberapa waktu lalu.

Keduanya kembali merebut juara. Doni berhasil mendapatkan juara 3 di kategori men sport, sedangkan Darhamsah meraih juara 4 di kelas 75 kilogram, binaraga.

“Binaraga dengan men sport itu berbeda, kalau binaraga menggunakan berat badan saja, tetapi untuk men sport menggunakan sistem berat badan serta tinggi badan juga,” ucap Doni.

Keduanya terpilih untuk mengikuti Kejurnas di Bali mewakili kontingen Kalimantan Timur (Kaltim). Dimana untuk perwakilan Kaltim memberangkatkan 9 atlet.

“Kami dapat panggilan dari provinsi untuk mengikuti Kejurnas di Bali kemarin, jadi untuk atlet yang berangkat dari Bontang hanya kami dua orang saja yang ikut dan terpilih,” paparnya.

Perlu diketahui, Doni dan Darhamsah telah menekuni binaraga lebih dari 10 tahun lamanya, mereka pun tergabung dalam Perkumpulan Binaraga dan Fitnes Indonesia (PBFI) Bontang.

Gas Persiapan Porprov 2026 di Paser, Lagi-lagi dengan Dana Mandiri

Usai turun di Kejurnas Terbuka Binaraga dan Fitness 2025, di Bali keduanya langsung tancap gas persiapan mengikuti Kejuaraan Provinsi (Kejurprov), yang nantinya akan berlanjut di Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) 2026 mendatang, di Kabupaten Paser.

“Ini kami masih terus berlanjut untuk latihan, sekalian buat persiapan Porprov. Tidak ada jeda untuk istirahat, kalaupun badan mulai ngedrop, ambil sehari untuk istirahat baru digenjot lagi latihan. Pintar-pintarnya kita jaga kondisi badan,” bebernya.

Walaupun dengan dana mandiri, keduanya tetap berupaya untuk bisa mengikuti Porprov di Kabupaten Paser. Setidaknya, kejuaraan yang digelar empat tahunan itu tetap dapat mereka ikuti.

“Kami sudah mulai latihan setiap hari, sehari 2-3 jam di waktu pagi dan sore,” ucap Doni.

Darhamsah pun menambahkan, dirinya berusaha keras untuk mempertahankan prestasi di Porprov sebelumnya, bahkan kalau dapat lolos di Pekan Olahraga Nasional (PON) mendatang.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Ngopi Bareng Wartawan di Hutan Mahoni, Bupati dan Wabup Kukar Pilih Mendengar Sebelum Memerintah

0
Ngopi Bareng Wartawan di Hutan Mahoni, Bupati dan Wabup Kukar Pilih Mendengar Sebelum Memerintah
Bupati Kukar Aulia Rahman Basri dan Wabup Rendi Solihin berdialog santai bersama insan pers dalam forum “Kopi Malam Pak Bupati” di Bukit Mahoni L3, Tenggarong Seberang.

Selasa pagi, 1 Juli 2025, saya masih berada di Bontang. Sekitar pukul 11.00 WITA, masuk undangan yang tak biasa ke ponsel saya. Disampaikan Muhammad Rafi’i, Direktur Radar Kukar. Isinya: undangan dari Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) dr. Aulia Rahman Basri dan Wakil Bupati H. Rendi Solihin untuk menghadiri diskusi santai bertajuk “Kopi Malam Pak Bupati” bersama para pimpinan media, di Bukit Mahoni L3, Tenggarong Seberang, pukul 19.00.

Bagi saya, ini bukan undangan biasa. Selama lebih dari dua dekade menjadi wartawan, baru kali ini saya menyaksikan seorang bupati dan wakilnya memilih duduk bersama insan pers sebagai agenda publik pertamanya usai dilantik.

Tanpa seremoni Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Tanpa protokoler rumit. Mereka justru memilih ngopi bareng media. Dan bukan di hotel atau ruang pertemuan resmi, tapi di tengah hutan mahoni yang sejuk dan terbuka.

Saya langsung memutuskan berangkat dari Bontang pukul 14.00. Bukit Mahoni L3 menyambut dengan suasana alam yang khas. Pohon-pohon mahoni tua menjulang tinggi, lampu-lampu gantung menciptakan kesan hangat di pelataran tanah berbatu. Beberapa stan jajanan pasar tersaji. Tempe mendoan, cenil, getuk lindri, garang asem ayam kampung, kopi gula aren, hingga wedang jahe hangat.

Saya tiba pukul 19.30. Acara belum dimulai. Suasananya santai dan akrab diiringi music electone. Sempat turun gerimis, tapi reda dengan cepat.

Dalam momen menunggu itu, saya justru merasa seperti pulang ke rumah lama. Banyak wajah familiar yang saya temui malam itu. Para pimpinan redaksi dan pemimpin media yang dulu pernah bekerja satu atap bersama saya di grup Kaltim Post. Sebagian besar dari mereka pernah saya dampingi saat saya menjabat Kepala Biro Kukar di tahun 2019, dan kini memimpin media masing-masing.

Saya menyapa Abdurrahman Amin, yang kini menjabat Pemimpin Redaksi Samarinda Pos sekaligus Ketua PWI Kaltim. Hadir pula Felanans Mustari, Pemred Kaltimkece.id, yang saya kenal sejak lama sebagai wartawan tangguh saat kami sama-sama bertugas di Kukar. Saya masih ingat, setelah Felanans ditarik dari Kukar, posisinya digantikan oleh Chrisna Endrawijaya. Sudah cukup lama saya tidak berkomunikasi dengan Chrisna, terlebih sejak ia tak lagi menjabat sebagai Direktur Utama Disway Kaltim.

Malam itu juga hadir Ibrahim Yusuf (Pemred Kaltimtoday.co), Achmad Ridwan (Pemred Selasar), serta Devi Alamsyah, Direktur Umum Disway Kaltim. Di antara mereka, saya memang lebih dulu menekuni dunia pers. Saya sendiri hanya sekitar setahun bertugas di Kukar, sebelum pada 2010 diminta membangun Bontang Post dari awal. Dan pada 2020, saya memutuskan mundur dari Kaltim Post, di tengah badai pandemi Covid-19 yang mulai menghantam stabilitas perusahaan media, untuk kemudian mendirikan Mediakaltim.com.

Saya bersama Direktur Umum Disway Kaltim, Devi Alamsyah dalam suasana santai di sela kegiatan Meet The Press.

Kami sempat bercengkerama panjang—mengenang liputan masa lalu. Berbagi cerita soal tantangan media hari ini, dan membahas nasib jurnalisme lokal di tengah perubahan ekosistem digital. Ada tawa, ada refleksi, dan tentu saja, ada kopi.

Acara dibuka pukul 20.30. Dedi Nala Arung, salah satu founder Koran Kaltim, menjadi moderator. Bupati Aulia tampil kasual dengan kaus putih berlogo CK. Sementara Wakil Bupati Rendi mengenakan kemeja putih polos. Tanpa podium, tanpa sekat protokoler, mereka duduk di kursi lipat yang sama, satu level.

Aulia membuka diskusi dengan pernyataan kuat:

“Malam ini, kawan-kawan media adalah komunitas pertama yang kami temui usai dilantik. Biasanya pejabat baru langsung marah-marah ke dinas. Kami tidak. Kami ke pasar, dan malam ini ke kalian.”

Ia menegaskan pentingnya kritik dan peran media sebagai cermin.

“Kalau kita tidak bercermin, semua orang bisa bilang kita tampan, padahal wajah kita sudah berantakan. Media adalah cermin terbaik kami.”

Wabup Rendi menimpali dengan gaya lugas. Ia menyoroti tantangan membangun daerah sekaligus harapan terhadap media.

“Saya tahu, banyak media di Kukar selama ini bergantung pada kerja sama pemerintahan. Tapi ke depan, kita harus dorong media yang sehat dan kredibel,” ujarnya.

Ia lalu mengaitkan tantangan infrastruktur dengan perlunya pemberitaan yang objektif.

“Kalau kita mau selesaikan seluruh jalan rusak, butuh Rp40 triliun. Padahal APBD kita hanya Rp4 triliun. Artinya, kita harus berpikir realistis dan butuh media yang bisa memahami mana yang prioritas, bukan sekadar memviralkan.”

Diskusi malam itu tidak hanya berbicara soal relasi media dan pemerintahan. Beberapa topik serius juga mengemuka, seperti kekhawatiran terhadap potensi regulasi pembatasan media di tingkat provinsi, inisiatif program perumahan wartawan lewat skema subsidi Kementerian PUPR, hingga gagasan soal peningkatan kompetensi dan kesejahteraan jurnalis.

Aulia bahkan menyinggung pentingnya standar minimal penggajian jurnalis oleh pemilik media. Ia juga mengusulkan agar PWI Kukar dapat memanfaatkan ruang bersama di Gedung Ekraf yang akan diresmikan akhir tahun sebagai rumah bersama komunitas media.

Jalannya diskusi lebih banyak diisi tanggapan langsung dari Bupati Aulia, disambung dengan penegasan dari Wabup Rendi. Gaya mereka saling melengkapi. Aulia menyampaikan dengan reflektif, Rendi menajamkan dengan angka dan narasi teknis.

Di akhir sesi, sebelum moderator menutup forum, saya angkat tangan. Moderator terlihat terkejut, begitu pula Bupati dan Wabup. Waktu memang sudah larut. Maka saya tidak menyampaikan pertanyaan atau pernyataan panjang. Saya hanya minta waktu sebentar untuk menyerahkan dua poster persembahan Media Kaltim dan Radar Kukar.

Saya berdiri, maju ke depan, dan memberikan poster itu langsung ke tangan Bupati dan Wabup. Poster pertama bertuliskan “Cerdas dan Berintegritas”, dan poster kedua bertuliskan “Sinergi Muda untuk Kukar Maju.”

Saya menyerahkan poster “Cerdas dan Berintegritas” kepada Bupati Kukar Aulia Rahman Basri, disaksikan Wakil Bupati Rendi Solihin.
Direktur Radar Kukar, Muhmmad Rafi’i menyerahkan poster “Sinergi Muda untuk Kukar Maju” kepada Wakil Bupati Kukar Rendi Solihin, disaksikan Bupati Aulia Rahman Basri.

Suasana langsung cair. Tawa pecah. Beberapa hadirin mengabadikan momen itu dengan ponsel. Tak ada yang kaku. Malam itu benar-benar terasa hangat.

Saya menggambarkan Aulia dan Rendi sebagai duet muda yang berpikir strategis, namun tetap terbuka terhadap kritik dan suara akar rumput.

Dan malam itu saya pulang dengan satu pelajaran penting:
Kekuasaan bisa lahir dari ruang rapat ber-AC, tapi kepercayaan justru tumbuh dari balik hutan mahoni—ditemani kopi hangat dan tempe mendoan.

Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H
Pemimpin Redaksi Radarbontang.com